Archive for the ‘Plesiran’ Category

Plesiran Sahabat Museum

Maret 3, 2008

SAHABAT MUSEUM dengan hati seneng presenteren:

PLESIRAN TEMPO DOELOE
MIDDEN JAVA

KOTA LAMA SEMARANG
KERETA DJADOEL AMBARAWA
CANDI BOROBUDUR MAGELANG
KAMPUNG BATIK LAWEYAN SOLO
MUSEUM ULEN SENTALU* JOGJA

*masih menunggu konfirmasi, semoga bisa dan lancar yah, kalo yang kereta djadoel di Ambarawa udah confirmed!

perginya naik kereta api Argo Sindoro (dari Jakarta ke Semarang, Kamis Pagi) pulangnya naik pesawat terbang Lion Air (dari Jogjakarta ke Jakarta, Minggu Sore) menginapnya di Hotel Grasia Semarang, Hotel Sriti Magelang, Hotel Agas Solo (semuanya hotel berbintang tiga lho..)

Kamis-Jumat-Sabtu-Minggu, 20-21-22-23 Maret 2008
Rp.2.600.000/orang (dua juta enam ratus)

kalo pada mau ngedaftar, hub: adep@cbn.net.id
yuk mari, mari…

dan langsung DP 1 juta dulu yah.. yuk, lekas, lekas! tetapi jikalau mau langsung transfer 2,6 juta, makasih banget nih, duh…

Iklan

Jalan-Jalan Ke Kawasan Pecinan Pancoran Glodok – DARI GEDUNG TUA SAMPAI MAKANAN LANGKA

November 28, 2005

Kawasan Pancoran di Jakarta Barat adalah kawasan pecinan terbesar di Jakarta yang menyimpan aneka pesona belanja nan unik dan khas. Bagi yang doyan jalan-jalan sekaligus belanja, layak menyambangi kawasan chinatown ini. Rasakan sensasinya.

Degup kehidupan di kawasan Pancoran dan sekitarnya sudah dimulai sejak pagi. Dari gang-gang kecil yang terdapat di sebelah kiri sepanjang jalan Pancoran ke arah kawasan Petak Sembilan, menguar aroma sedap makanan dari gerobak serta warung-warung serta gerobak makanan.

Gang Kalimati adalah salah satu gang yang paling padat dipenuhi penjual aneka makanan yang mengundang selera. Dari makanan ringan yang sedap untuk mengganjal perut di pagi hari macam combro hangat, getuk, atau aneka bubur manis, sampai makanan berat seperti mi serta nasi, lengkap dengan bermacam lauk pauknya.

Suasana gang-gang ini sangat kental nuansa pecinannya. Terdengar beberapa penduduk sepuh berkomunikasi dalam bahasa leluhur. Selain itu, arsitektur bangunannya pun sangat mencerminkan nuansa melayu cina. Di beberapa kedai kopi khas Cina, berkumpul kaum bapak yang asyik ngobrol dan bercanda sambil yam cha. Yam cha adalah tradisi minum teh yang berasal dari Guangdong, Cina, dan masih bertahan sampai sekarang.

Hampir seluruh bangunan di sepanjang gang yang lebarnya tak lebih dari dua meter ini merupakan bangunan tua yang masih dipertahankan bentuknya sampai sekarang. Berjalan menyusuri gang ini, dapat ditemukan pula pedagang yang menjual buah-buahan yang sudah jarang ditemukan di kota besar. Yaitu buah delima dan buah duwet yang bila dimakan, membuat lidah berwarna ungu kehitaman itu.

Khusus buah delima, rupanya ada konsumen khusus. Ibu hamil yang akan menyelenggarakan upacara tujuh bulanan, akan mencari buah delima sebagai salah satu kelengkapan syarat upacara. “Saya sudah 30 tahun berjualan delima di sini. Tiap hari, ada saja pelanggan yang membeli. Malah banyak yang datang dari luar kota,” ujar Suwandi, lelaki asal Kudus ini dengan mata berbinar.

JUAL KURA-KURA
Kawasan Pancoran memang bukan tempat belanja mentereng seperti pusat-pusat perbelanjaan yang tersebar di seluruh penjuru Jakarta. Berjalan-jalan di kawasan ini pun kita harus siap dengan pakaian dan sepatu yang nyaman, karena harus berjalan kaki menempuh jarak yang lumayan jauh. Namun demikian, kawasan ini menyimpan banyak keistimewaan.

Coba saja mampir di Pasar Petak Sembilan. Di Gang Kalimati, banyak dagangan yang jarang ditemui di tempat lain. Mau tahu salah satunya? Kura-kura! Ya, kura-kura kembang dan parit berukuran lumayan besar ini banyak dicari oleh warga keturunan Tionghoa untuk upacara sembahyangan.

“Menurut kepercayaan, melepaskan kura-kura yang telah diberi nama di batok tempurungnya, bisa membuang sial,” kata Pak Jangkung, seorang juragan kura-kura yang pada bulan-bulan tertentu bisa menjual kura-kura sampai 100 ekor. “Bulan kemarin (Oktober, Red.), saya bawa 150 ekor, dan semua terjual habis.”

Pak Jangkung yang sehari-hari dibantu adiknya, Oib, serta beberapa saudaranya, menjual kura-kura seharga Rp 35.000 untuk ukuran kecil, serta Rp 50.000 yang besar. “Setahu saya, sih, ini jenis kura-kura yang tidak dilindungi. Saya juga enggak berani menjual kura-kura yang dilindungi, nanti bisa berurusan dengan yang berwajib,” tandas lelaki yang rajin memberi makan kura-kuranya dengan kangkung dan bayam ini mantap.

Di sepanjang Pasar Petak Sembilan juga akan ditemui bahan makanan yang susah ditemui di tempat lain. Sebut saja misalnya ikan halibut beku alias ikan salju.

PUSAT KEMBANG GULA
Menyeberang dari Pasar Pagi, ada Toko Gloria yang sudah berdiri sejak lebih dari 30 tahun lalu. Di toko ini bisa ditemukan makanan-makanan unik lain, semisal aneka jajanan Cina seperti kue bulan dan moci. Di lantai satu ada Toko Evergreen yang menjual sirip ikan hiu, sarang burung walet, serta perut ikan. Ketiga makanan ini tergolong makanan mahal dan sering dicari untuk dibuat sup.

Menurut A Kiat, pemilik Toko Evergreen, bahan makanan di tokonya tetap ramai oleh pembeli, meskipun harganya sama sekali tak bisa dibilang murah. Coba tengok sarang burung walet super yang dihargai Rp 5,250 juta untuk 1 onsnya, dan Rp 2,4 juta untuk yang biasa. Sirip ikan hiu yang masih berbentuk sirip utuh dibanderol Rp 6 juta/kilogram, sedangkan yang sudah dalam bentuk suwiran besar Rp 650-750 ribu/ons.

Jika ingin mencari makanan murah meriah, ada seorang penjual opak ketan khas Tangerang yang sangat gurih. Pedagang ini biasa menggelar dagangannya di samping Toko P&D Jap Heng Lay, yang menjual bebek asin yang diimpor langsung dari Hongkong.

Tak jauh dari sana ada pusat kembang gula impor. Sebelum dibongkar awal November lalu, pasar permen ini terletak tak jauh dari Pasar Pagi Lama. Sekarang para pedagang terpaksa mencar. Yang terbanyak ada di lantai bawah bagian belakang Chandra Building. Sjin Lin, pedagang aneka manisan dan permen dari Kios Manisan mengatakan, permen-permennya banyak dicari orang untuk dijual lagi maupun dikonsumsi sendiri. “Saya enggak bisa menghitung ada berapa jenis permen di kios saya ini, karena jumlahnya banyak sekali,” ujarnya.

Di sekelililing Sjin Lin memang terlihat aneka gundukan permen. Biasanya, kios-kios permen ini juga menjual “permen susu” yang akrab di lidah anak-anak sejak zaman dulu.

LEBIH MURAH
Kawasan pecinan juga akrab dengan toko-toko obatnya. Deretan toko-toko obat yang menjual aneka herbal kering khas Cina menjadi pemandangan menarik tersendiri di sepanjang Jalan Pancoran ke arah Jalan Pintu Kecil.

Tak jauh dari deretan toko obat itu bisa ditemui sebuah toko buku khusus berbahasa Cina. Toko buku bernama Mandarin Bookstore ini menjual buku-buku sejarah, sastra, manajemen, serta buku cerita anak-anak berbahasa Mandarin. Banyak mahasiswa Sastra Cina datang ke sini untuk mencari buku-buku yang susah dicari di tempat lain. “Biasanya sih mereka mencari kamus, karena kamus di sini lebih bervariasi,” papar Nur Rahman, koordinator supervisor toko buku yang juga memasok buku-buku ke toko buku besar di Jakarta ini.

Jika Anda penggemar aksesoris, jangan lewatkan untuk mampir ke Pasar Pagi Asemka. Di lantai dasar, deretan penjual beragam aksesoris impor siap dibeli dalam bentuk lusinan maupun eceran. Syarifah, seorang ibu yang didampingi oleh dua putrinya, Ella dan Eka, datang langsung dari Aceh khusus untuk berbelanja aksesoris di sini. Menurut Syarifah yang sudah berbisnis baju muslim dan jilbab di Banda Aceh sejak tahun 1980-an ini, belanja di Pasar Pagi Asemka lebih murah dibandingkan beberapa pasar lain. “Selain itu barangnya juga lebih bervariasi dengan mutu yang bagus.”

Nah, bagaimana, tertarik dan sudah memutuskan untuk menyusuri kawasan Pancoran dan sekitarnya? Ambillah waktu yang agak senggang, dan jangan lupa kenakan pakaian yang menyerap keringat serta sepatu yang nyaman untuk berjalan kaki.

Sumber: Tabloid Nova, No. 927 Thn. XVIII. 28 November 2005

Kembangkan Wisata Heritage

September 23, 2005

Oleh: Teguh Amor Patria

BANDUNG selama ini dikenal sebagai kota wisata belanja. Tapi sadarkah kita, kota ini juga memiliki potensi sebagai kota wisata pusaka (heritage tourism)?

Organisasi Bandung Heritage mencatat, lebih dari 400 bangunan pusaka di kota yang pernah dijuluki Laboratorium Arsitektur di Indonesia ini (data inventaris 1997). Mayoritas merupakan arsitektur warisan kolonial Belanda, mulai dari gaya Indische Empire (1860-90-an), Neo-Klasik (1890-1910-an), hingga Art Deco (1920-30-an). Bahkan dengan jumlah bangunan Art Deco yang cukup signifikan, Bandung berada di peringkat 9 dari 10 kota berarsitektur Art Deco terbanyak di dunia – hanya satu tingkat di atas kota kelahiran Art Deco sendiri, yaitu Paris (GlobeTrotter, 2001).

Tentu saja selain arsitektur Indo-Eropa, Bandung juga mewarisi sejumlah bangunan khas nusantara (seperti pendopo di selatan Alun-alun) dan Cina (kelenteng-kelenteng di kawasan Pecinan).

Yang lebih menarik, banyak bangunan lama di Bandung yang memiliki nilai sejarah, mulai skala lokal hingga internasional. Sebut saja pendopo (bangunan pemerintahan pertama dari tahun 1810), Gedung Sate (calon pusat pemerintahan Hindia Belanda dari tahun 1920), dan Gedung Merdeka (tempat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika tahun 1955).

Di Eropa, banyak bangunan berusia ratusan tahun yang dipertahankan dan dirawat sedemikian rupa sehingga menarik kunjungan wisatawan. Beberapa negara berada pada posisi atas negara tujuan wisata dunia (World Tourism Organization, 2004), dengan masing-masing jumlah wisatawan 75,1 juta dan pendapatan 37,038 juta dolar AS untuk Prancis, 53,6 juta dan 41,770 juta dolar AS untuk Spanyol, 37,1 juta, dan 31,222 juta dolar AS untuk Italia.

Memang tidak semua pendapatan dari sektor pariwisata tersebut berasal dari pariwisata pusaka. Namun kenyatannya, kota-kota di Prancis, Spanyol, dan Italia kaya akan bangunan tua namun mampu menyedot jutaan wisatawan mancanegara setiap tahunnya, seperti gereja Notre Dame di Paris, arena gladiator kuno Colosseum di Roma, dan bangunan-bangunan unik karya arsitek terkenal Gaudi di Barcelona.

Sebaliknya di Bandung, tidak sedikit wisatawan yang menyayangkan kondisi bangunan-bangunan pusaka di kota ini. Dengan kondisi sebagian besar yang kurang terawat dan terancam penghancuran, telah mengundang keprihatinan bukan saja wisatawan asal Belanda, namun juga mereka yang tidak memiliki hubungan sejarah kolonial sekalipun seperti turis asal Afrika Selatan.

Yang menarik, dalam beberapa tahun terakhir ini adalah fenomena kemunculan kelompok-kelompok penggemar bangunan-bangunan tua di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung. Yang tidak disangka-sangka, sebagian besar peminatnya adalah orang-orang muda yang rela mengorbankan waktu dan uangnya untuk melakukan kegiatan wisata berkunjung ke bangunan-bangunan tua, tanpa melihat apakah itu warisan kolonial atau bukan. Yang menjadi tujuan kebanyakan adalah menambah wawasan dan pengetahuan tentang sejarah dan budaya sendiri.

Keprihatinan wisatawan mancanegara dan fenomena munculnya grup peminat bangunan pusaka ini, menunjukkan adanya peluang bagi pengembangan pariwisata pusaka bagi pasar ceruk (niche market) atau yang dalam dunia kepariwisataan dikenal sebagai wisata minat khusus.

Pertanyaannya sekarang adalah apakah dengan aset bangunan pusaka yang dimiliki, Bandung juga bisa mengembangkan pariwisata pusaka seperti kota-kota di Eropa?

Kendala di Bandung
Kendala yang dihadapi Bandung dalam pengembangan pariwisata pusaka tidak berbeda dengan kebanyakan kota di Indonesia. Dalam hal ini dihasilkan 3 asumsi peneybab (berdasarkan wawancara dengan publik), yaitu:

1. Lemahnya law enforcement
Di Kota Venice, Italia, terdapat peraturan pemerintah setempat yang mewajibkan para pemilik bangunan tua (yaitu publik) untuk mempertahankan dan merawat tampilan luar bangunan. Selebihnya, untuk interior, mereka bebas mengubah dan mendekorasi. Dengan kata lain, tampilan luar bangunan ‘dimiliki’ oleh publik dan negara, sedangkan bagian dalam dimiliki sepenuhnya oleh si empunya bangunan.

Dengan peraturan tersebut, tidak lantas membuat Kota Florence menjadi kota kuno dan ketinggalan zaman, namun justru menjadikannya lebih menarik bagi wisatawan karena keunikannya.

Di Bandung dan Indonesia, pada umumnya, dengan adanya UU No. 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, tidak menjamin upaya pelestarian bangunan-bangunan pusaka, terutama yang memiliki nilai sejarah dan budaya serta arsitektur yang khas. Sering karena dalih pembangunan, suatu bangunan atau kawasan pusaka berubah fugnsi dan rupa, bahkan dihancurkan. Padahal pembangunan tetap dapat dilaksanakan tanpa harus mengorbankan nilai-nilai pusaka suatu bangunan atau kawasan.

2. Ekonomi
Isu ini memang seakan menjadi dilema, terlebih bagi negara berkembang seperti Indonesia. Di satu sisi, kita dihadapkan pada kenyataan harus membangun, di sisi lain juga memiliki kewajiban moral untuk melestarikan aset pusaka kota dan negara.

Bagi kebanyakan pemerintah dan sektor industri, isunya adalah apakah pelestarian bangunan pusaka menjadi hal yang penting, bila kenyataannya bangunan-bangunan tersebut tidak menghasilkan keuntungan secara ekonomis? Daripada memelihara bangunan lama yang tidak produktif (ditambah pemikiran bahwa merawat bangunan lama lebih mahal dibanding membangun yang baru), lebih baik membangun yang baru dan bisa memberi keuntungan ekonomis (baca: mal, trade center, ruko, dan lain sebagainya).

Ironisnya, sering keputusan ini diambil secara instan, bersifat spekulatif, dan untuk jangka waktu pendek. Sering tanpa berpikir panjang, bangunan-bangunan lama, termasuk yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan arsitektur unik, dikorbankan untuk bangunan-bangunan baru. Yang penting adalah lokasi, lokasi dan lokasi (walaupun kawasan itu sudah macet sekalipun).

Untuk hal ini, kita harus belajar pada pengalaman Singapura, yang sama-sama merupakan negara berkembang namun kini menjadi salah satu negara maju di Asia. Pembangunan dan perkembangan ekonominya yang pesat tidak lantas mengabaikan bangunan-bangunan serta kawasan pusaka di negara pulau itu, namun tetap bisa berjalan seiring. Contohnya adalah kawasan Kolonial, Pecinan, Kampung Melayu, Little India, dan Arab Village.

3. Pendidikan
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh National Trust, sebuah lembaga pelestarian bangunan dan kawasan bersejarah di Amerika Serikat, terdapat hubungan antara latar belakang pendidikan dan motivasi pelaku wisata pusaka (2001). Mayoritas pelaku wisata pusaka di negeri itu adalah para baby boomer (generasi yang lahir akhir 1940-an hingga 1950-an), yang tumbuh pada saat ekonomi AS membaik. Akibatnya, banyak dari generasi ini yang mengenyam pendidikan lebih baik dan lebih tinggi, dan sukses secara karier ketika memasuki usia produktif.

Hasilnya pada saat generasi ini memasuki usia mapan (tahun 1990-an), mereka menginginkan suatu pengalaman wisata yang tidak lagi bersifat rekreatif semata, namun juga bermuatan pendidikan dan budaya, seperti pariwisata pusaka. Jadi pada dekade 1990-an lah pariwisata pusaka mulai menjadi tren di negeri Paman Sam tersebut, walaupun isu pelestarian sudah muncul beberapa dekade sebelumnya.

Yang menarik, kondisi serupa juga terjadi di Bandung. Berdasarkan data Bandung Trails, organisasi nirlaba yang menyelenggarakan wisata pusaka untuk publik secara berkala, 87% pesertanya berusia 19 – 30 tahun dan hampir 90% bertujuan menambah wawasan dan pengetahuan (2004-2005). Dengan berkunjung dan mendengar cerita tentang bangunan-bangunan lama serta orang-orang di balik sejarah, museum, dan pusat-pusat kebudayaan, rasa ingin tahu mereka dapat terpenuhi.

Memang belum semua orang di Bandung dan Indonesia umumnya memilih kegiatan wisata pusaka saat ini, terlebih hal ini menyangkut minat dan preferensi individual. Namun, dengan semakin baiknya mutu dan tingkat pendidikan seseorang umumnya akan lebih merangsang keingintahuannya

“Festival Kesenian Kota Tua dan Pecinan” Tebar Semangat Pelestarian Bangunan Tua

Agustus 27, 2005

Jakarta, Sabtu

Berbagai wacana tentang pelestarian bangunan tua di kawasan Jakarta Kota terus bermunculan. Salah satunya adalah melalui revitalisasi kota tua sehingga bangunan tua dapat dimanfaatkan tanpa menghilangkan nilai sejarah dan wujud aslinya.

Beberapa cara untuk mendukung revitalisasi tersebut antara lain adalah melalui peningkatan frekuensi kegiatan yang memiliki kaitan dengan kota tua, misalnya lewat festival budaya.

“Salah satu cara menuju revitalisasi adalah menyelenggarakan festival budaya, dengan harapan dapat mendorong kepedulian dan perhatian masyarakat terhadap keberadaan kota tua,” kata Wali Kota Jakarta Barat Fajar A Pandjaitan ketika menghadiri Festival Kesenian Kota Tua dan Pecinan di pelataran Museum Fatahilah, Sabtu (27/8).

Lanjutnya, jika menjadi kegiataan tetap bidang pariwisata, festival itu dapat mendukung revitalisasi kota tua, sehingga bangunan tua yang memiliki nilai sejarah bisa dipertahankan.

Festival Kesenian Kota Tua dan Pecinan berlangsung sehari saja, dari pukul 09.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB.

Serupa dengan yang tahun lalu, festival tersebut tahun ini dibuka dengan pawai budaya yang melibatkan 19 kelompok kesenian yang setiapnya menampilkan atraksi.

Pawai itu dilepas oleh Wali Kota Jakarta Barat pada pukul 09.30 WIB di depan Museum Keramik, Jl Pos, Jakarta Barat.

“Dengan pawai ini diharapkan masyarakat semakin tertarik dan mau melestarikan keberadaan Kota Tua ini,” ujar Fajar sebelum melepas para peserta pawai.

Selain oleh marawis dari Kecamatan Taman Sari, kasidah dari Kecamatan Tambora, dan tanjidor dari kelompok seni Mayangsari, pawai juga diramaikan dengan penampilan Marching Band Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN).

Pawai tersebut mengambil rute Jl Pos, Jl Jembatan Batu memutari taman di depan Stasiun Beos, Jl Pintu Besar Selatan melintasi Glodok, Jl Hayam Wuruk berputar di depan pompa bensin Hayam Wuruk, Jl Pintu Besar Utara, dan kembali ke depan Museum Fatahilah.

Tak hanya pawai itu, ada pula sekitar 40 kios didirikan di pelataran Museum Fatahilah. Di kios-kios tersebut dipamerkan barang kerajinan dari para pengurus PKK di beberapa kecamatan yang termasuk dalam wilayah Jakarta Barat, cinderamata dan obat-obatan Cina serta ditampilkan ahli feng shui dan kartunis.

Dalam acara tersebut hadir juga beberapa pejabat di lingkungan Pemerintah Daerah DKI Jakarta dan Jakarta Barat, antara lain Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta Aurora Tambunan dan Kepala Suku Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Wilayah Jakarta Barat drs Baharuddin Z.

Sumber: Ant
Penulis: Ati

Sumber: Kompas, 27 Agustus 2005

Het Paleis van Gouvernuur Generaal

April 5, 2005

Rp.150.000/persoon soeda dapetin bangkoe autobus ac, makan siang, makanan ketjil, kaartjis masoep kebon besar, assurantie. maaf hanya ada (sedikit) bangku kosong yang tersisa (dari 200)

Istana Cipanas dan Istana Bogor + Kebun Raya Bogor
SELASA 3 MEI 2005 djam poekoel 07.30 pagi hari

07.30 : Kumpul di Parkir Timur Senayan
08.00 : Berangkat dari Jakarta (Senayan)
10.00 : Sampai Istana Cipanas en koeliling
12.00 : Cabut ke Buitenzorg (Bogor)
13.00 : Makan Siang di Kota Bogor
14.00 : Masuk Istana Bogor en koeliling
16.00 : (Kebon Besar) Kebun Raya Bogor
17.00 : Belanja Oleh-Oleh Bogor
17.30 : Pulang ke Jakarta
18.30 : Sampai Jakarta

silahkan transfer ke rekening Bank BCA: 2371425693 BCA cab Pondok Indah atas nama ADE HARDIKA PURNAMA toeloeng dikonfirmasikan via email atawa sms ke 0818 94 96 82 atau fax (021) 7696273 setelah transfer berhasil dilakukan. [transfer sesuai no.urut, misal no.88 = Meity meity@bakrie.co.id = Rp.150.088]

toeloeng dikirim paling laat hari djoemahat tanggal 8 April djam poekoel 2 siang.

——————————————————————————–

Ketentuan Dalam Ijin Kunjungan Yang Wajib Dipatuhi Pengunjung:

1. Berpakaian sopan dan rapih
Pria : kemeja, celana panjang lengkap (bukan jeans) dilengkapi dengan ikat pinggang dan bersepatu.
Wanita : gaun/rok (bukan jeans) paling pendek sebatas bawah lutut, blus berlengan, setelan celana panjang atau busana muslim bersepatu.

2. Pengunjung di luar daftar nama yang sudah diajukan, tidak diperkenankan masuk

3. Tidak diperkenankan:
a. membawa senjata api, senjata tajam, obat-obatan terlarang.
b. membawa tas dan atau pembungkus lain.
c. membawa makanan dan minuman selama berkunjung di dalam istana.
d. makan di areal istana.
e. membawa anak-anak di bawah usia 10 tahun.
f. membawa/menggunakan kamera video atau telepon genggam dengan fasilitas kamera.
g. menyentuh/memegang benda-benda koleksi atau lukisan-lukisan.
h. membawa binatang peliharaan.

4. Dalam setiap rombongan hanya satu juru foto yang diperkenankan membawa kamera dan berfoto di tempat yang telah ditentukan.

5. Mengikuti petunjuk-petunjuk petugas.

6. Tidak dipungut biaya apapun.

7. Surat ijin dapat dibatalkan sewaktu-waktu apabila ada acara Presiden/Wakil Presiden di lingkungan Istana Presiden yang bersangkutan.

PLESIRAN TEMPO DOELOE: SEMARANG – AMBARAWA

April 4, 2005

Saptoe Minggoe Senen – 21 22 23 Mei 2005 – koeliling Semarang Tempo Doeloe en naek kereta api djadoel dari Stasiun Ambarawa sampe Stasiun Bedono p.p

Plesiran akan dilakukan dengan menggunakan kereta api Argo dari Jakarta ke Semarang (5,5 jam) dan keesokan harinya naek Bus AC ke Ambarawa (1 jam), kemudian kembali lagi ke Jakarta naek kereta api Argo. Tak ketinggalan pula kita orang akan maem di “Toko Oen” dan “Pesta Keboen” en di Restoran “Semarang”-nya Jongkie Tio, lantas poesing-poesing koeliling Lawang Sewu en bilangan Petjinan goena tjobain Loenpia Gang Lombok dan es cao jang seger itoe lho…

biaya ke Semarang – Ambarawa : Rp. 1.250.000 sudah termasuk semua-muanya, (tiket kereta argo, tiket museum kereta api ambarawa, tiket kereta djadoel, bus ac, penginapan, makan, snacks, plesiran semarang tempo doeloe, masoep ke dalemnja gedong lawang sewu, dll, plus asuransi, kaos dan kagoembirahan jang tiada terkira..)

djikaloe kepengen banget ikoetan, silahken daftar langsung ke adep@cbn.net.id en lekas lantas sigra setor itoe doeit DP sadjoemblah Rp. 250.000, kamoedian bole kirim lagi boelan brikoetnja (minggoe kesatoe Mei) sebesar Rp.1.000.000

silahkan transfer ke rekening Bank BCA: 2371425693 BCA cab Pondok Indah atas nama ADE HARDIKA PURNAMA toeloeng dikonfirmasikan via email atawa sms ke 0818 94 96 82 atau fax (021) 7696273 setelah transfer berhasil dilakukan.

ingat peserta terbatas !!! pendaftaran terakhir ditunggu sampai: JUMAT 8 April

menantiken kehadiran para tjalon penoempang spoor djadoel dengen hormat,
Ade Purnama (Adep)
SAHABAT MUSEUM
0818 94 96 82

——————————————————————————–

PLESIRAN TEMPO DOELOE
SEMARANG – AMBARAWA
dengan kereta api

Hari I SABTU 21 MEI 2005
07:30 Kumpul di Stasiun Gambir Jakarta
09:00 Berangkat ke Semarang
14:30 Stasiun Tawang Semarang
14:45 Gereja Blenduk
15:15 Kelenteng Sam Poo Kong
16:00 Berangkat ke hotel
16:30 Check-In hotel
19:00 Makan Malam di Restoran “Toko Oen”
21:30 Kembali ke hotel

Hari II MINGGU 22 MEI 2005
07:30 Berangkat ke Ambarawa
09:00 Naek Kereta Api djadoel Ambarawa
11:00 Makan Siang di Stasiun Ambarawa
12:30 Monumen Palagan Ambarawa
13:00 Berangkat ke Semarang
14:00 Tour Gedong Lawang Sewu
16:30 Kembali ke hotel
19:00 Makan Malam di Restoran “Pesta Keboen”
21:30 Kembali ke hotel

Hari III SENIN 23 MEI 2005

07:30 Berangkat ke Kota Lama Semarang
09:00 ke Pecinan (ke Gang Lombok juga lho…)
11:00 Kembali ke hotel
12:00 Makan Siang di Restoran “Semarang”
13:30 Menuju ke Jl. Pandanaran belanja oleh-oleh
15:00 ke Stasiun Tawang Semarang
16:00 Kereta berangkat menuju Jakarta
21:30 Sampai di Stasiun Gambir Jakarta

Wisata Tempo Doeloe di Kawasan Kota

April 4, 2005

Liputan6.com, Jakarta: Jalan-jalan sore sambil berkeliling museum boleh juga dilakukan sesekali. Kita bisa mengikuti wisata museum peninggalan Belanda seperti yang diikuti 100 peserta, Ahad (3/4). Salah satu lokasi bersejarah yang dikunjungi adalah Museum Bank Mandiri di Jalan Pintu Besar Utara, Jakarta Pusat. Gedung itu tepat di depan Stasiun Kereta Api Beos atau Stasiun Jakarta Kota.

Museum Bank Mandiri dahulu dikenal sebagai Gedung Nederlandsche Handel Maatschappij (N.H.M) atau kantor pengelola uang milik Belanda. Gedung itu dibangun pada 1927 dengan arsitektur gaya Eropa. Hingga kini, kondisi bangunan masih bagus dan keasliannya masih dipertahankan. Ruang direksi dan ruang rapat masih tertata seperti ketika masih digunakan. Begitu juga ruangan arsip dan brankas.

Acara tur dimulai dengan rekonstruksi kegiatan perbankan tempo doeloe seperti yang dilakukan saudagar Cina pada abad 20. Selanjutnya pemutaran film dokumenter tentang Kota Batavia. Puas menyaksikan drama dan film, peserta diajak mengelilingi museum berlantai lima itu. Pemandu wisata getol memberi penjelasan dari setiap ruangan yang dimasuki. Peserta juga diajak naik ke atap untuk memandang suasana kawasan di Stasiun Beos.

Komunitas Peduli Sejarah dan Budaya Indonesia selaku penyelenggara tur berharap, masyarakat dan Pemerintah DKI Jakarta tetap memelihara bangunan bersejarah. Di kawasan Kota misalnya, banyak bangunan peninggalan Belanda terancam punah karena tak terawat.(KEN/Dewi Puspita dan Gatot Setiawan)

Sumber: Liputan 6, 04 April 2005

Menengok Kampung Arab – WISATA KAMPUNG TUA

Maret 15, 2005

Kampung Arab bagaimana dan dimana riwayatmu kini?
Mo tahu….??? Telusuri jejaknya dalam ….

Menengok Kampung Arab
WISATA KAMPUNG TUA
Minggu, 17 April 2005, Pkl. 07.30-12.30 WIB

MUSEUM SEJARAH JAKARTA dan Komunitas Peduli Sejarah dan Budaya Indonesia (KPSBI-HISTORIA) terus berupaya menggelar acara untuk membangkitkan kesadaran sejarah dan budaya masyarakat Indonesia, khususnya Jakarta, dalam upaya mengenali dan melestarikan Kota Tua-nya. Acara ini merupakan paduan kegiatan yang rekreatif-edukatif dan menghibur bagi masyarakat dengan semurah dan meriah mungkin sesuai harapan masyarakat agar mereka mengenali hingga kemudian mencintai kotanya. Dikemas melalui walking tour menyusuri kawasan Kota Tua Jakarta Tempo Dulu.

Minggu, 17 April 2005 mendatang, kita akan mengunjungi masa lampau Jakarta ke Kampung Arab, yaitu Pekojan. Kampung ini bermula, jauh sebelum orang-orang Eropa datang, ketika orang-orang Gujarat, Arab, Persia, Hadramaut, dll mengunjungi Nusantara. Dalam perkembangan berikutnya, HAL YANG MENARIK, kampung Pekojan ini sekarang bukan kampungnya orang-orang Arab lagi melainkan Kampung Cina. (ingat, bukan Glodok). Kalau dulu disekitar kampung ini tiap malam bau Gaharu (sejenis kayu yang dibakar mengeluarkan wewangian), sekarang sehari-harinya bau hio. 😉

Mau tahu keadaan sekarang Kampung Arab Pekojan itu?
Ikutilah acara Wisata Kampung Tua ini dengan …

ROUTE:
– Stadhuis (Museum Sejarah Jakarta) +
– Stadhuis Plein (kini Taman Fatahillah) +
– The Groote Kanaal (Kali Besar) +
– Gedung Kota Bawah * +
– Pasar Pagi Mangga Dua –
– Mesjid Al Anshor +
– Rumah Betawi Abdulah Alatas –
– Mesjid Jamiatul Khair +
– Mesjid An Nawier Pekojan +
– Jembatan Kambing +
– Mesjid Langgar Tinggi +
Kett:
* dalam konfirmasi
+ memasuki lokasi
– hanya melwati

BIAYA:
Rp. 20.000 (umum)
Rp. 10.000 (pelajar)

FASILITAS:
– Refreshment/ Snack
– Lunch (makan siang)
– ID Card
– Hand Out/ Sinopsis
– Tour Guide
– Tiket Museum

NARA SUMBER:
Asep Kambali

INFORMASIN DAN PENDAFTARAN:
KPSBI HISTORIA
Caring Community for Indonesian History and Culture
Ujo: 0818-0807-3636, 0813-1550-1669
(Jam kerja, No. SMS)

PLESIRAN TEMPO DOELOE: Koningsplein – Gedong Gadjah 27 Februari 2005

Februari 21, 2005

Kumpul di Museum Nasional (Museum Gajah) Jl. Medan Merdeka Barat
Minggu 27 Februari 2005 jam 07.30 pagi
Rp 30 ribu/per orang sudah termasuk:
(Naek Deelman Koeliling Monas)
(tiket Tugu Monumen Nasional)
(tiket Museum Sejarah Nasional)
(guide berbahasa Indonesia)
(guide berbahasa Inggris)
(tiket Museum Nasional)
(nonton film djadoel)
(sinopsis plesiran)
(roti anak buaya)
(makanan ringan)
(air mineral)

(pendaftaran dapat dilakukan via email adep@cbn.net.id -ingat kuda terbatas!)
(pembayaran dapat dilakukan langsung di tempat pada tgl 27 feb)
(parkir motor & mobil luas dan aman di basement Museum Gajah)
(bila turun hujan, acara akan dilaksanakan setelah hujan berhenti)

——————————————————————————–

Orang Djakarta tapi tida pernah dateng ka Monas? Aih..aih.. Soenggoe kasihan! Marilah berdoejoen-doejoen datengin ini tempat jang paling tersohor saäntero Djakarta, liwat programma Sahabat Museum jang bikin seneng hati toean-toean dan njonja-njonja tijap-tijap boelannja, jakni:

PLESIRAN TEMPO DOELOE naar KONINGSPLEIN en GEDONG GADJAH
Minggoe, 27 Februari 2005, djam poekoel 07.30 pagi

Oentoek ini boelan, kitaorang aken moelain ini plesiran dari Gedong Gadjah, jaitoelah Museum Nasional jang doeloenja diberdiriken oleh Bataviaasche Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Lembaga Seni dan Sains Batavia). Ini museum diboeka pertama kalinja pada tahon 1868. Itoe nama Gedong Gadjah diseboet demikian sebab-sebab di depannja ini gedong ada satoe patoeng gadjah ketjil jang meroepaken soewatoe hadiah jang dibriken oleh Radja Chulalongkorn dari Siam (Thailand). Sebagi balesannja, pemerentah Nederlandsch-Indie toeroet kasi tanda mata jang roepa-roepa matjemnja seperti: angklung en djoega artja-artja peninggalan dari bebrapa tjandi di Java, dengan totaal semoeanja sebanjak 8 grootbak (gerobak, euy!)

Dari ini museum, kitaorang aken sebrangin djalan besar en masoep ka dalemnja Koningsplein (Lapangan Radja). Sablonnja dinamaken Koningsplein, ini tana lapang ada bekend orang seboet dengen nama Buffelsveld (Lapangan Kerbau). Sehari-harinja ini tempat dipakei para soldadoe Olanda boeat latihan militair, dan bisa djoega dipakei boeat maen voetbal (sepak bola) jang seroe! Di djeman kamerdekaan, ini tempat sempet poenjai nama Lapangan Ikada (Ikatan Atletik Djakarta) kerna doeloenja lapangan ini sering dipake orang goena lakoeken berbagi matjem sport. Di tengah ini lapangan sekarang berdiri Tugu Monas.

Kita orang aken koendjoengken Museum Sejarah Nasional jang adanja precies di dalem Tugu Monas. Tugu Monas moelai diberdiriken sedari tahon 1961 dan diresmiken pada tahon 1964 oleh Presiden Soekarno. Kitaorang bisa liat diorama perihal hal ichwal moelanja Noesantara, perdjalanan idoep en djoega riwajatnja perdjoangan bangsa Indonesia di djeman pendjadjahan hingga djeman sasoedahnja kamerdekaan. Kamoedian dilandjoetken dengen mendengerken soeara aselinja Bung Karno jang dengen khidmat batjai teks proclamatie. Inilah teks jang tiada sebrapa pandjangnja, jang menjataken kamerdekaan sekaligoes berdirinja negara Republik Indonesia!

Sasoedahnja liat baek-baek dan koerilingin dalem peroetnja Tugu Monas, kitaorang aken landjoetken djalan-djalan. Tjoeatja panas? Kaki pegel linoe? Troesah goendah goelana! goena segerken badan en fikiran di hari minggoe ini, kitaorang aken naik deelman istimewa. Toeroet Ajah ke kota? Ach, lebih baek kitaorang poeter-poeter di Monas sahadja sabelonnja kembali ka Gedong Gadjah di Koningsplein West!

Sambil ademkan kepala jang habis kena panas mentjorong, kitaorang bisa liat roepa-roepa barang antiek. Ada riboe-riboe barang etnografie, keramik, pra-sedjarah, poerbakala, mas inten dan permata. Ini barang-barang soenggoe tiada ternilai harganja en pantes sahadja menarik hati para pelantjong dan djoega pentjoleng! Tahon 1963, saorang pendjahat jang bekend dengen nama Kusni Kasdut berhasil rampok colectie berharga dari ini museum! Soenggoe koerang adjar!

Poeas liat Gedong Gadjah, kitaorang aken poeterken film jang soenggoe seroe, jaitoe tjeritera tentang kadatengan saorang ambtenaar Olanda ka Gedong Gadjah di tahon 1915. Kamoedian, kerna ini tempoh belom sabrapa lamanja dari Tahon Baroe Imlek, kitaorang djoega aken poeterken film jang kassie liet perajaan Tjap-Goh-Meh di tahon 1928.

Djadi djangan sampe tida ikoet ini programma. Semoea kariaan ini di-reken pantes dengan onkost tjoema Rp. 30.000 per persoon, toean-toean dan njonja-njonja sekalian djoega bakalan dapetin roti anak boeaja khas Sahabat Museum. Lekas daftarken diri toean dan njonjah sekalian via email adep@cbn.net.id soepaia tida keabisan koedanja. Kalo-kalo kapengen nanja ini-itoe perkara plesiran boeat ini boelan, silahken contact ka nummer telefoon di bawah ini:

Ninta: 0816 480 91 22
Adep: 0818 94 96 82

Djikaloe toean-toean dan njonja-njonja ada hasrat boeat bawa auto (mobil) atawa motorfietsen (sepeda motor), silahken sahadja, djangan chawatir, ada tjoekoep banjak parkir di ondergrond (basement) Gedong Gadjah. Djangan loepa boewat bawa handdoek ketjil dan djoega pajoeng plus katja-mata item. Kitaorang harep toean-toean dan njonja-njonja sekalian tida loepa boewat bawa makanan siang masing-masing goena tangsel peroet tempo makan siang tiba. Djikaloe nantinja hoedjan achirnja toeroen, ini plesiran aken kita moelain sasoedahnja itoe hoedjan brenti menggoejoer Djakarta.

“…Palinglah enak si mangga oedang
Pohonnja tinggi boeahnja djarang
Djikaloe sampe toewan tak datang
Sedihlah hati boekan kepalang….”

Memoedjiken dengen hormat,
Ade Purnama (Adep)
SAHABAT MUSEUM
adep@cbn.net.id
0818 94 96 82

Wisata Kampung Tua ke GLODOK

Februari 19, 2005

Kembali dengan seneng hati Museum Sejarah Jakarta dan KPSBI-HISTORIA mempersembahkan:

WISATA KAMPUNG TUA KE Kampung Cina GLODOK
Minggu, 27 Februari 2005, Pkl. 08.00-12.00 WIB

ROUTE:
– Stadhuis (Museum Sejarah Jakarta)
– The Groote Kanaal (Kali Besar)
– Pasar Pagi
– Gd. Keluarga Shouw
– Gdg. Tionghoa Hoa Hoe Koan (SMU 19)
– Gereja Maria Santa De Fatima
– Kelenteng Toa Sei Bio
– Kelenteng Jin De Juan
– Pantjoran
– Eks. Penjara (Glodok Plaza) *

BIAYA:
Rp. 20.000 (umum)
Rp. 10.000 (pelajar)

FASILITAS:
– Refreshment/ Snack
– Lunch (makan siang)
– ID Card
– Hand Out/ Sinopsis
– Tour Guide
– Tiket Museum

NARA SUMBER:
Asep Kambali

INFORMASIN DAN PENDAFTARAN:

KPSBI HISTORIA
Caring Community for Indonesian History and Culture
Ujo: 0818-0807-3636, 0813-1550-1669
Jaja: 0517-692-6840