Archive for the ‘Kota Lama’ Category

Kota Tua Bakal Jadi Muda Kembali

Februari 27, 2008

Menteri Negara BUMN akhirnya mengizinkan penggunaan gedung-gedung milik BUMN untuk menghidupkan kembali Kota Tua Jakarta

Oleh: Abdul Wahid Fauzie

JAKARTA. Rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta merevitalisasi Kota Tua agaknya bisa segera terwujud. Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sudah mengizinkan penggunaan bangunan tua milik BUMN untuk menghidupkan kembali Kota Tua.

Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil mengatakan, pemerintah pusat mendukung kebijakan Pemprov DKI untuk menyelamatkan Kota Tua. Makanya, agar rencana itu bisa terwujud, Sofyan memberi izin kepada Pemprov DKI untuk memakai bangunan milik negara sebagai bagian dari upaya revitalisasi Kota Tua. “Sebagian besar gedung di Kota Tua memang milik BUMN,” katanya, Selasa (26/2).

Menurutnya, banyak gedung-gedung milik BUMN yang sudah tidak terurus lantaran perusahaannya kesulitan keuangan. Nantinya, Kementerian BUMN dan Pemprov DKI akan merenovasi dan memperbaiki gedung-gedung tersebut, sehingga bisa dimanfaatkan lagi.

Investornya sudah ada

Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta, Aurora Tambunan gembira dengan dukungan pemerintah pusat. Soalnya, boleh tidaknya menggunakan gedung milik BUMN selama ini menjadi ganjalan upaya menghidupkan kembali Kota Tua. “Sekarang, pemiliknya sudah membolehkan,” katanya, usai pertemuan dengan Menneg BUMN dan Gubernur DKI Jakarta. Gedung milik Pemprov DKI yang berada di Kota Tua tidaklah sebanyak gedung milik BUMN. Misalnya, Museum Sejarah, Museum Wayang, Museum Keramik, dan Museum Bahari.

Berikutnya, Pemprov DKI akan bekerjasama dengan Kementerian BUMN untuk menginventarisasi gedung-gedung BUMN mana saja yang sudah layak dan gedung mana yang memerlukan perbaikan terlebih dahulu. “Nanti kami akan membentuk tim,” ujar Aurora.

Berdasarkan inventarisasi sementara Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI, tercatat sudah ada 12 gedung milik BUMN di Kota Tua yang bisa menjadi ikon baru di sana. Misalnya, gedung Kertaniaga dan gedung Ciptaniaga. “Kami berharap kawasan itu nantinya menjadi kawasan perkantoran,” katanya. Untuk tahap awal, revitalisasi ini akan mencakup perbaikan taman, sistem lalu lintas, pembuatan jembatan penyeberangan orang hingga penertiban pedagang kaki lima.

Pemprov DKI berharap, setelah revitalisasi, bangunan-bangunan tua tersebut justru bisa nilai ekonomi yang lebih tinggi dan menjadi salah satu pusat kegiatan ekonomi di Jakarta. Ia menyadari semua itu tidak akan tercapai tanpa dukungan para investor.

Makanya, Pemprov DKI akan mencari calon investor yang tertarik menggunakan Kota Tua sebagai pusat bisnis. Aurora optimistis program ini berhasil. Hingga kini sudah banyak pengusaha yang menyatakan berminat untuk membuka usaha di sana. “Namun, mereka tidak tahu harus menghubungi siapa,” ujarnya.

Sebagai salah satu langkah awal untuk menghidupkan Kota Tua, pada 20 Februari lalu Pemprov DKI sudah meresmikan pencahayaan di 2.041 titik Kota Tua. Di antaranya, Museum Wayang, Museum Keramik dan halaman Stasiun Beos.

Sumber: Kontan, 27 Februari 2008

Iklan

Kawasan Kota Tua

Februari 18, 2008

Setelah menjalani beberapa tahap renovasi, menurut rencana, Rabu (20/2) mendatang, Gubernur DKI Fauzi Bowo akan resmi meluncurkan Kota Tua sebagai kawasan wisata sejarah. Sebelumnya, dana Rp 20 miliar dikucurkan untuk peremajaan Kota zaman Belanda di Barat Jakarta ini diharapkan bisa menjadi tempat bersejarah kebanggaan DKI.

Menurut rencana Foke-sapaan akrab Fauzi Bowo, secara simbolik akan meresmikan Jembatan Kota Intan sebagai maskot kota kebanggaan semasa zaman penjajahan Belanda. Bersamaan dengan ini Foke direncanakan juga sekaligus meresmikan pengoperasian Terowongan Penyeberangan Orang (TPO) Beos yang sedang tahap pengerjaan akhir. “Biar nggak dua kali kerja peresmian sekalian akan digabung,” kata Kepala Subdit Lalu Lintas Jalan Dinas Perhubungan M Akbar.

Namun, dikonfirmasi terpisah terkait rencana ini, Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta Aurora Tambunan meluruskan, bahwa rencana kedatangan gubernur ke dua lokasi di Kota tua tersebut hanyalah kunjungan kerja biasa. Menurutnya Rabu besok gubernur berkeinginan melihat secara langsung perubahan penampilan Kota tua pasca peremajaan. “Rencana beliau melihat-lihat pukul 17.00,” paparnya.

Dari pantauan Indo Pos, beberapa fisik gedung tua di areal seluas 846 hektar itu memang sudah terlihat lebih cantik dari sebelumnya. Selain nuansa cat tembok baru, sebagian gedung yang dulunya terkesan angker karena tidak dihuni, kemarin juga sudah nampak ramai dengan aktifitas.

Lebih lagi dengan jembatan tua di sisi barat kawasan Kota tua yang lebih dikenal Jembatan kota Intan. Kemarin setidaknya nampak lebih muda dengan hiasan lampu penerang disisi kiri-kanannya.

Namun, secara umum, penataan areal publik seperti pedestrian, taman bermain, dan foodcourt, nampaknya masih belum benar-benar rapi. Jalan arteri Museum Sejarah Jakarta yang sudah disulap menjadi pedestrian khusus pejalan kaki misalnya, kemarin masih nampak lalu lalang dilewati pengendara kendaraan roda dua. Belum teraturnya areal perparkiran menyebabkan rasa sedikit kurang nyaman kebanyakan pengunjung. Beberapa pejalan kaki yang kebetulan melenggang di pedestrian Kota tua setidaknya mengakui hal ini.

Pemandangan lain yang kurang sedap dilihat adalah banyaknya pedagang kaki lima yang menjual barang dagangan semaunya. Tempat parkir untuk kendaraan roda empat dan kendaraan roda dua juga belum dikelola secara rapi. Akibatnya, beberapa pemilik mobil juga memilih memarkir kendaraan mereka sekenanya.

Aurora mengatakan, sebagai petanda peluncuran Kota Tua sebagai pusat wisata sejarah, Rabu malam, gubernur Foke juga akan melakukan penyalaan lampu kawasan taman Fatahillah. Menurutnya, Setelah ini Kota Tua akan di kelola oleh sebuah lembaga di bawah Dinas Kebudayaan dan Permuseuman bernama Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kota Tua.

Sebagaimana diberitakan, renovasi yang digelar di Kota Tua merupakan bentuk kelanjutan renovasi yang pernah digelar sebelumnya. Disamping alasan wisata, renovasi juga sebagai upaya menanggulangi banjir beberapa waktu lalu yang sempat memakan sejumlah kayu penyangga gedung-gedung tua. Akibat banjir tersebut selain kayu yang keropos beberapa dinding juga terjadi kerusakan.

Selama perbaikan, selain dana dari unit terkait, seperti Dinas Pekerjaan Umum, Penerangan Jalan Umum serta Tata Kota, dana anggaran juga telah dialokasikan dalam RAPBD 2008 sejumlah Rp 4,1 miliar.

Untuk perbaikan secara total tersebut, studi hidrologi juga dilakukan. Sehingga, pendataan serta detail analisis penanganan bisa dilakukan secara menyeluruh. Hal ini mengingat struktur tanah di Kota Tua sangat rentan terhadap air. Bahkan, jika dilakukan penggalian sedalam 50 cm, tanah di Kota Tua sudah mengeluarkan air. Tak heran, jika dinding-dinding bangunan di Kota Tua basah oleh rembesan air tanah. (did)

Sumber: Indo Pos, 18 Februari 2008

Kho Haw Haw, Pelestari Budaya Banten

September 2, 2007

Liputan6.com, Banten: Muhammad Iwan Nitnet alias Kho Haw Haw mencoba melestarikan budaya Banten dengan caranya sendiri. Sejak 2000, dia bekeras mengumpulkan ribuan koleksi foto kegiatan budaya di Banten. Iwan kerap jalan sendirian untuk memotret benda cagar budaya atau kegiatan masyarakat. Mulai dari pedalaman Suku Badui hingga daerah pesisir di Pontang, Serang.

Kunjungan Iwan ke suatu objek bisa berkali-kali. Ini untuk melihat perubahan dari situs atau cagar yang dia amati. Iwan prihatin dengan kerusakan atau pengrusakan cagar budaya di Banten. Sejumlah cagar budaya sudah berubah bentuk atau fungsi.

Seperti Benteng Speelwijk di kawasan Banten Lama, Serang. Tempat itu kerap dipakai pementasan hiburan. Sementara di bagian dinding Benteng banyak terdapat paku. Karena itu, Iwan menentang komersialisasi benda cagar budaya atau situs Banten Lama.

Iwan melihat, kesadaran menjaga cagar budaya oleh pemerintahan masih setengah hati. Ini bisa jadi karena pemerintah daerah menghadapi dilema. Di satu sisi harus menjaga cagar budaya, sedangkan di sisi lainnya dana terbatas. Karena itu, Iwan mengajak masyarakat sekitar untuk peduli terhadap pelestarian.

Selain memotret dan menulis, Iwan juga melukis serta membuat suvenir yang terkait dengan budaya Banten. Lukisan orang-orang Badui, misalnya, Iwan ambil dari koleksi fotonya. Bagi Iwan, melukis merupakan kegiatan lain dari pelestarian budaya.

Untuk membiayai seluruh kegiatannya, Iwan merogoh koceknya sendiri. Dia menyisihkan keuntungan dari usaha sanggar lukis yang dikelolanya bersama sejumlah seniman jalanan. Ini dilakukan demi menggali budaya Banten, terutama sejarahnya. Sebab, sampai saat ini ungkap Iwan, masih terjadi simpang siur tentang budaya serta sejarah Banten. “Karena itu, kita ingin cari jalan tengahnya sebagai klarifikasi sehingga bisa menjadi satu paparan yang jelas,” kata Iwan, belum lama ini.

Saat ini, Iwan menjalani hidup bersama Lia Muliasih, sang istri, dan putri semata wayang mereka, Imosa Budika. Bagi Iwan, keluarga menjadi pendorong hidup serta penyemangat kerja sehingga dapat bermanfaat untuk orang lain. Sebagai warga keturunan Tionghoa, Iwan berprinsip, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. “Di mana saya berada, di situ saya akan membela mati-matian tanah yang saya pijak,” tegas Iwan.

Bagi Iwan, budaya adalah akar dari segalanya. Dia menjadi kolektor benda-benda kuno peninggalan zaman kesultanan Banten, seperti uang koin, keramik, dan keris. Dia sengaja membeli benda-benda kuno tersebut agar tidak hilang atau diburu oleh kolektor dari luar Banten.

Jika suatu saat Provinsi Banten memiliki museum sendiri, Iwan akan menyerahkan seluruh koleksinya agar dapat disaksikan dan dipelajari oleh masyarakat. Melalui budaya, Iwan akan tunjukkan dirinya bangga menjadi warga Banten.(BOG/Agus Faisal dan Ariel Maranoes)

Sumber: Liputan6, 2 September 2007

Bersepeda, Menyusuri Kota Tua di Jakarta

Maret 6, 2007

Liputan6.com, Jakarta: Bosan berwisata ke luar kota? Bila Anda penduduk Jakarta, mungkin jalan bareng dengan suatu komunitas dapat menjadi pilihan. Tim Melancong Yuk bersama Komunitas Jelajah Budaya, belum lama ini menyusuri keindahan kawasan tua di Ibu Kota. Serunya, perjalanan wisata sejarah ini hanya mengandalkan sepeda. Asyik memang, terlebih bila sepeda model kuno atau Onthel yang dipakai.

Rute favorit adalah menuju kawasan Kota Tua. Kawasan ini seluas sekitar 139 hektare. Wilayah yang banyak terdapat bangunan tua bernilai historis ini sebagian terletak di Jakarta Barat, yakni seluas 88 hektare. Bagian lainnya ada di Jakarta Utara dengan luas kira-kira 51 hektare.

Kini, para pencinta bangunan bersejarah maupun wisatawan dimanjakan dengan adanya jalur pedestrian. Jalur khusus bagi pejalan kaki maupun pengayuh sepeda itu berada di sepanjang Jalan Pintu Besar Utara, Jakarta Barat.

Banyak memang pilihan bangunan atau peninggalan bersejarah era Kolonial Hindia Belanda atau penjajahan bangsa asing di Jakarta yang tentunya sayang bila dilewatkan. Satu di antaranya adalah Jembatan Kota Intan. Jembatan kayu berwarna cokelat kemerahan ini dibangun pada tahun 1628. Keistimewaan jembatan tersebut adalah dilengkapi dengan semacam pengungkit untuk menaikkan sisi bawah jembatan bila ada kapal yang akan melewati jembatan menuju kota. Sayangnya, saat ini, jembatan itu tak bisa dinaik-turunkan lagi.

Dari Jembatan Kota Intan, para wisatawan dapat mengunjungi Museum Bahari di Jalan Pasar Ikan Nomor 1, Jakarta Barat. Dahulu kala, gedung tersebut adalah gudang rempah-rempah milik Verenigde Oostindische Compagnie (VOC) alias Kompeni. Tak tertinggal, tentunya, Museum Fatahillah di Jalan Taman Fatahillah No. 2, Jakarta Barat dengan luas lebih dari 1.300 meter persegi. Gedung tersebut dulu adalah Stadhuis atau Balai Kota, yang dibangun pada tahun 1707-1710.

Dan masih banyak lagi bangunan maupun tempat yang bisa dikunjungi atau tepatnya ditelusuri. Baik berjalan kaki maupun bersepeda. Bila tertarik, Anda dapat mencobanya, bersama keluarga, teman maupun komunitas.(ANS/Tim Melancong Yuk)

Sumber: Liputan6, 6 Maret 2007

Revitalisasi Kota Tua Akan Selesai Pertengahan 2007

Februari 1, 2007

JAKARTA–MIOL: Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Provinsi DKI Jakarta memperkirakan revitalisasi Kota Tua, Jakarta Pusat, yang saat ini masih digarap diperkirakan baru akan selesai pada pertengahan 2007.

“Rencananya ‘launching’ Kota Tua baru akan dilaksanakan pertengahan tahun, sekitar bulan Juni 2007,” kata Kepala Subdinas Pengawasan Cagar Budaya Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Provinsi DKI Jakarta, Candrian Attahiyyat, setelah pembukaan Pameran 1.000 Foto di Museum Bank Mandiri, Jakarta, Selasa.

Dia mengatakan ada lima tempat di daerah Kota yang menjadi fokus utama dalam revitalisasi Kota Tua saat ini. Lima tempat tersebut adalah Taman Fatahillah, Jalan Kunir, Pintu Besar Utara, Jalan Pos Kota, dan Kali Besar.

Menurut Candrian, ke depan pelestarian daerah Kota Tua akan mengikutsertakan masyarakat dan pihak swasta. Keikutsertaan pihak swasta untuk pelestarian Kota Tua ini tidak dilakukan dalam bentuk uang, tetapi dalam bentuk barang seperti menyumbang tanaman atau lampu hias. “Pihak swasta dapat melakukan investasi di daerah Kota Tua ini,” ujar Candrian.

Mengenai dana revitalisasi Kota Tua untuk 2007, dia mengatakan, hingga saat ini belum diketahui besaran anggaran yang akan dikeluarkan oleh Pemprov DKI Jakarta. Selain itu, Candrian juga mengatakan, saat ini sudah ada “Green Map” Kota Tua. Namun, menurut dia, belum ada “Herittage Map” yang menggambarkan warisan bersejarah secara lengkap yang ada di Kota Tua.

“Sudah ada rencana untuk membuat ‘Herittage Map’ dalam waktu dekat ini.Namun, masih menunggu hasil dari ‘scanning’ lokasi yang dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa asing bekerjasama dengan mahasiswa Indonesia.

Dia mengatakan “scanning” itu akan memperlihatkan bangunan atau benda mana saja di daerah Kota Tua ini yang memiliki nilai sejarah, dan mana yang tidak, sehingga dapat diketahui peninggalan mana saja harus segera direvitalisasi. (ANT/OL-03)

Sumber: Media Indonesia, 1 Februari 2007

Bangunan Bersejarah Jadi Andalan Menggaet Wisatawan

September 3, 2006

JAKARTA (Suara Karya): Pemanfaatan secara optimal bangunan bersejarah dapat menjadi andalan dalam menggaet wisatawan. DKI Jakarta memiliki banyak sekali bangunan bersejarah, dan ini bisa menarik minat wisatawan mancanegara. Terkait dengan hal itu, pembinaan kawasan budaya bersejarah menjadi sangat mutlak dilakukan.

Pendapat itu disampaikan Ir Yusuf Pohan MPA, Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta, pada Sarasehan Pemanfaatan Bangunan Bersejarah di Kota Tua sebagai Tujuan Wisata, di Hotel Borobudur, Jumat (1/9). Kegiatan kepariwisataan tidak cukup hanya difokuskan pada penyediaan akomodasi bagi para wisatawan.

Objek-objek alami memang memiliki nilai sangat tinggi dalam menggaet pelancong dari mancanegara di tengah ketatnya persaingan industri pariwisata. “Di negara-negara maju, wilayah dan kawasan yang dibangun sedemikian rupa bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk datang dan berkunjung. Hal itu bersifat universal.

Sarasehan itu, selain untuk menggali masukan-masukan dan saran serta ide-ide segar untuk perumusan pengembangan Kota Tua sebagai destinasi wisata budaya, juga untuk merumuskan program-program pengembangan Kota Tua untuk jangka pendek, menengah, dan panjang.

Sementara dari hasil sarasehan yang diikuti unsur instansi terkait (Dinas Kebudayaan dan Permuseuman, Dinas Tata Kota, Dinas Pengawasan Bangunan, Badan Pelestarian Pusaka Indonesia, Jakarta Ald Town Kotaku, Pecinta Kota Tua, Konsultan dan Profesional) itu berhasil dirumuskan materi pengembangan Kota Tua.

Dalam penataan kawasan Kota Tua seluas sekitar 846 hektare di Kotamadya Jakarta Utara dan Jakarta Barat, Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso telah mengeluarkan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 34 Tahun 2006 tertanggal 27 Maret 2006. Dinas Pekerjaan Umum (PU) ditugaskan untuk menata kawasan Kota Tua, meliputi Jalan Pancoran dengan menambah jalur pedestrian dengan batu alam.

Sasaran penataan kawasan Kota Tua antara lain perlu dibuat pentahapan. Prioritas penanganannya dilakukan sinergi dengan unit kerja lain. Diperlukan penataan kembali utilitas yang berada di kawasan itu. Perlunya sekretariat untuk program penataan Kota Tua. (Yon P)

Sumber: Suara Karya, 3 September 2006

Revitalisasi Kota Tua Diresmikan Desember

Agustus 26, 2006

Oleh: Andreas Piatu

Jakarta – Revitalisasi Kota Tua seluas 800 hektare akan diresmikan Desember 2006. Saat ini setiap unit yang terlibat dalam penataan kembali Kota Tua mulai melaksanakan pekerjaan masing-masing.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman, Aurora Tambunan, menegaskan hal ini kepada SH, Jumat (25/8), seusai pemaparan penataan Kota Tua kepada Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso.
Menurut Aurora, pihaknya hanya sebagai perencana penataan Kota Tua, sedangkan pelaksanaannya dilakukan unit-unit terkait. Saat ini, unit-unit mulai melaksanakan pekerjaan dan Desember 2006 akan diresmikan walaupun baru tahap pertama selesai.

Pada saat itu, mulai dari Pintu Besar Utara sampai Cafe Batavia sudah selesai dikerjakan. Di kawasan ini, lanjut Lola, tidak ada lagi kabel listrik bergelantungan. Semua kabel di jalur ini berada dalam tanah. Lola menambahkan, bila revitalisasi sudah selesai, tidak ada lagi kendaraan umum beroperasi di kawasan itu. Orang yang turun dari busway bila masuk ke kawasan Kota Tua akan disediakan angkutan khusus.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta, Nurachman kepada SH mengatakan, akan disediakan bus feeder untuk masuk areal Kota Tua. Selain itu, bagi kendaraan pribadi boleh masuk hanya akan diatur sehingga Kota Tua tetap nyaman bagi masyarakat pengunjung.

Kepala Dinas Penerangan Jalan Umum (PJU) DKI Jakarta, Pinontang Simanjuntak secara terpisah kepada SH mengatakan, dalam tahun 2006, pihaknya akan menyelesaikan pencahayaan di Gedung Fatahillah dengan anggaran yang tersedia Rp 2 miliar. Tahun 2007, lanjut Pinontang, akan dilanjutkan dengan pencahayaan di Gedung Museum Bahari, Museum Keramik, serta lampu-lampu pedestrian, antara lain sepanjang Pancoran Glodok dan Jembatan Kota Intan.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) DKI Jakarta, Wishnu Soebagio mengemukakan, pekerjaan DPU sudah dimulai, baik menyangkut jalan di kawasan Kota Tua maupun trotoar dan drainase dengan dana Rp 14,7 miliar. Kepala Dinas Pertamanan DKI Jakarta, Sarwo Handayani mengatakan, dengan anggaran Rp 800 juta, pihaknya akan menata pertamanan di areal Kota Tua.

“Tugas kami menata taman agar sejuk dan nyaman bagi pengunjung. Karena urusan taman biasanya menyusul belakangan setelah proyek fisik lainnya selesai,” ujar Sarwo Handayani.
Revitalisasi Kota Tua merupakan upaya meningkatkan wisata budaya sekaligus melestarikan wisata budaya yang memiliki manfaat ekonomi yang tinggi.

Sumber: Sinar Harapan, 26 Agustus 2006

Mendorong Kereta Bayi di Sisi Timur

Juli 31, 2006

Sesuai karakter ketinggian permukaan tanah dan suhu udara Kota Bandung, Pemerintah Hindia Belanda mengembangkan usaha perkebunan teh di utara dan selatan Bandung. Hal itu disebut sebagai salah satu alasan semakin berkembangnya kawasan Dago.

BERDASARKAN informasi yang diperoleh dari beberapa literatur, Ir. Herman Thomas Karsten dinobatkan sebagai perancang Kota Bandung. Dalam Karsten Plan, kawasan utara Bandung, termasuk Dago, Cipaganti, Ciumbuleuit, ditetapkan sebagai kawasan pemukiman masyarakat Eropa.

Karsten Plan dicetuskan setelah Pemerintah Hindia Belanda berencana menjadikan Kota Bandung sebagai ibu kota dan pusat komando militer pada awal abad ke-20. Dalam tulisan Ir. Dibyo Hartono di http://www.arsitekturindis.com, pemerintah memindahkan Departemen Peperangan (Departement van Oorlog) dari Weltevreeden (Jakarta Pusat) ke Bandung dengan membangun Pusat Komando Militer yang oleh masyarakat Sunda disebut Gedong Sabau, karya VL Slors tahun 1913. Persiapan menjadi ibu kota ditandai pula dengan pemindahan kantor pusat Perusahaan Jawatan Kereta Api pada tahun 1916.

Jauh sebelum itu, sesuai karakter ketinggian permukaan tanah dan suhu udara Kota Bandung, Pemerintah Hindia Belanda mengembangkan usaha perkebunan teh di utara dan selatan Bandung. Hal itu disebut sebagai salah satu alasan semakin berkembangnya kawasan Dago.

Yang kita sebut sebagai Jalan Dago saat ini, awalnya bernama Dagostraat. Berubah nama menjadi Dago pada tahun 1950 dan menjadi Jln. Ir. H. Djuanda pada awal tahun 1970-an. Sesuai peruntukannya, sepanjang Jln. Dago dipadati hunian berarsitektur Eropa, karena memang diperuntukkan bagi masyarakat Eropa. Bisa jadi, julukan kawasan elite yang ditujukan ke kawasan Dago, bermula pada saat itu.

Konsep garden city coba diterapkan Karsten dalam perencanaannya. Konsep ini lahir sebagai jawaban atas revolusi industri yang melahirkan praktek kolonialisme di negara-negara penghasil bahan mentah. Konsekuensi selanjutnya, kebutuhan menata kota-kota administratur yang diharapkan bisa menjadi jalan keluar bagi masalah perkotaan yang ditimbulkan, seperti kepadatan penduduk, sanitasi lingkungan yang makin buruk, dan ketersediaan air minum.

**

Karsten Plan sangat memperhitungkan keseimbangan alam dengan ditanamnya pohon berakar kuat sepanjang Jln. Dago. Badan jalan sebelah timur dari ruas persimpangan Pasar Simpang hingga persimpangan Cikapayang hanya diperuntukkan bagi pejalan kaki. Badan jalan sebelah barat diperuntukkan bagi kendaraan yang saat itu masih didominasi kereta kuda dan sepeda.

”Di jalan sebelah timur itu, biasanya orang ngasuh bayinya menggunakan kereta dorong,” ujar Iwan Darma Setiawan, warga asli Jln. Dago yang telah menghuni rumahnya lebih dari 40 tahun.

Begitulah, kawasan Dago telah dirancang senyaman mungkin untuk menjadi tempat hunian masyarakat Eropa yang menduduki strata ekonomi tertinggi pada saat itu.

Salah satu cirinya dari segi bangunan, atap dibuat curam untuk menyesuaikan dengan curah hujan yang tinggi. Halaman rumah terbentang luas dan dipenuhi rerumputan tertata rapi. Antara satu halaman rumah dengan halaman rumah lainnya hampir tidak diberi batas. ”Paling tinggi cuma tiga puluh sentimeter saja untuk batas, tidak ada pagar-pagar tinggi seperti sekarang,” ujar Iwan.

Tinggi bangunan rumah dirancang agar tidak melebihi dua tingkat. Hal ini, lanjut Iwan, untuk memastikan cahaya udara bisa leluasa masuk ke rumah. Masing-masing warga Dago tidak saling menghalangi dengan mendirikan tembok pembatas yang tinggi.

Pada pertengahan dasawarsa 1950-an, aset-aset Pemerintah Belanda dinasionalisasi Pemerintah Indonesia. Rumah-rumah di sepanjang Jln. Dago yang semula dihuni para administratur Belanda, perlahan-lahan ditinggalkan. Sebagian besar penghuni baru pascapemilik lama membeli atau mendapat hibah dari Pemerintah Indonesia karena urusan dinas.

Muda-mudi penghuni Jln. Dago umumnya kalangan terpelajar. Gengsi kawasan tetap melekat, terlebih masih di sekitar Jln. Dago, berdiri dua perguruan tinggi ternama, yaitu Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Padjadjaran (Unpad).

Perubahan kawasan Dago mulai terasa sejak pelebaran jalan dilakukan pada tahun 1970-an. Pohon rambat pembatas jalan dihancurkan. Akibatnya, jalan lebar itu sering digunakan kaum muda untuk arena balapan.

Selanjutnya Jln. Dago menjadi kawasan asal-muasal segala tren di Kota Bandung. Misalnya, pengaruh generasi bunga (flower generation) di Amerika Serikat direspons cepat oleh muda-mudi Jln. Dago. Kampanye antiperang Vietnam menjadi titik tolak lahirnya filosofi antikemapanan yang diprakarsai kaum muda kelas menengah.

Setidaknya, di Bandung, tepatnya di salah satu rumah Jln. Dago menjadi tempat berkumpulnya muda-mudi kaum hippies (sebutan bagi penganut flower generation). Tidak hanya muda-mudi yang tinggal di Jln. Dago. Kali ini, lebih plural. Mereka biasa menggunakan baju bermotif bunga, celana jeans, kalung manik-manik, jaket yang disulam sendiri. Intinya, dari segi fashion, ini untuk membedakan dengan kaum berdasi.

Tidak ketinggalan, moto kaum hippies, sex, drugs, and love juga turut diadaptasi. Iwan mengisahkan, pada waktu pertengahan tahun 1960-an itu, banyak kaum muda yang terobsesi dengan gaya hidup kaum hippies.

Tak lama setelah itu, pembangunan pesat dilakukan. Terlebih setelah Indonesia dimanjakan oil boom di era 1980-an. Kawasan yang tadinya diproyeksikan berwarna hijau (kawasan hunian-red.) dalam perencanaan tata ruang kota, perlahan bercampur warna kuning (perkantoran-red.). ”Belakangan, setelah krisis ekonomi malah menjadi kawasan merah (perdagangan-red.),” ujar Iwan yang berprofesi sebagai arsitek ini.

Rantai masalah yang timbul sebagai konsekuensi ditetapkannya kawasan itu sebagai hunian, perkantoran, atau perdagangan inilah yang tidak diperhitungkan oleh pemerintah. Munculnya pedagang kaki lima (PKL) dinilai sebagai konsekuensi pemerintah menetapkan kawasan Dago sebagai kawasan perdagangan. Menurut Iwan, PKL itu ada karena ada pasarnya (pembeli-red.), yaitu karyawan toko atau FO yang tidak mungkin membeli makanan di FO atau toko,” katanya. (Lina Nursanty/”PR”)***

Sumber: Pikiran Rakyat, 31 Juli 2006

Jalur Pedestrian Kota Dibangun Juli

Juni 24, 2006

Pembangunan jalur pedesterian (pejalan kaki) di sekitar Taman Fatahillah di depan Museum Sejarah, Jakarta Barat, akan mulai dilaksanakan Juli.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta, Aurora Frida Tambunan menyatakan walaupun perencanaan sudah mulai dilakukan sejak Desember 2005 namun karena anggaran APBD 2006 baru dapat dicairkan baru-baru ini maka pengerjaan program itu baru dapat dilaksanakan pada Juli, termasuk penyelenggaraan lelang pekerjaan. “Anggaran terbesar ada di Dinas Pekerjaan Umum (DPU). Mulai Juli 2006 ini baru kita akan mulai karena memang menunggu APBD cair. Dalam pengerjaan pedesterian itu juga melibatkan Dinas Penerangan Jalan Umum (PJU),” kata Aurora dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat.

Jalur pedesterian akan pelewati sepanjang Museum Wayang, belakang Cafe Batavia dan depan Museum Keramik. Konsep dari Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI adalah pembuatan tempat bagi pedesterian secara penuh sehingga kendaraan tidak lagi diperbolehkan melewati seputar Taman Fatahillah. Namun setelah adanya masukan dari berbagai pihak maka pada tahap awal konsepnya menjadi semi pedesterian.

Dengan demikian kendaraan masih dapat tetap melewati lingkungan itu namun dengan kecematan maksimal 12 hingga 15 kilometer per jam. “Kami menargetkan program itu dapat selesai pada 2006. Pembuatan pedesterian merupakan tahapan pertama dari tiga tahap revitalisasi Kota Tua,” kata Aurora.

Ia menjelaskan, tahap kedua adalah pembenahan kawasan Kali Besar dan tahap ketiga adalah pembangunan kembali replika Gerbang Amsterdam yang terletak tak jauh dari rel kereta api dan berada di antara jalur Museum Wayang ke arah Museum Bahari. “Tahap ketiga nanti setelah pembangunan kembali Gerbang Amsterdam, kita akan buat Historical Trail,” ujarnya.

“Tujuan dari pedesterian itu, bukan hanya pembangunan fisiknya, namun lebih kepada memberikan dorongan pada masyarakat maupun swasta bahwa Pemprov telah mengawali usaha revitalisasi sehingga kawasan itu menjanjikan sebagai kawasan komersial dan untuk investasi,” tambahnya.

Sumber: Ant
Penulis: Egi

Sumber: Kompas, 24 Juni 2006

Jalanan Kota Tua Dirombak

Juni 13, 2006

TEMPO Interaktif, Jakarta: Pemerintah DKI Jakarta akan mengurangi jatah jalan umum untuk kendaraan di seputar kawasan Kota Tua, yang berlokasi di Jakarta Barat dan Jakarta Utara.

Jalan yang semula dua lajur akan dikurangi menjadi satu lajur. “Selebihnya itu akan diuruk dengan batu kali (andhesit) untuk pedestrian,” jelas Kepala Dinas Permuseuman dan Kebudayaan DKI Jakarta Aurora Frida Tambunan, di Balai Kota, kemarin.

Pembangunan itu merupakan bagian dari penataan kawasan Kota Tua. Aurora menjelaskan, tujuannya adalah menyaring pengguna jalan, sehingga orang yang melintas adalah yang benar-benar menikmati suasana seputar kawasan itu. “Kendaraan yang melintas pelan, ruang jalan kaki juga luas,” ujarnya.

Namun tahun ini belum semua jalanan Kota Tua akan diperlakukan seperti itu. Sementara baru akan diterapkan pada jalan melingkari Museum Fatahillah. Pengguna jalan umum yang tidak berniat menikmati suasan kawasan, kata Aurora, diharap berbelok melalui Kali Besar.

Tahun ini pembangunannya menggunakan anggaran khusus, sedangkan tahun depan lebih luas lagi karena penataan Kota Tua akan dimasukkan dalam program dedicated (strategis).

Penataan jalan tersebut, Aurora menambahkan, juga bertujuan menciptakan iklim yang kondusif untuk memancing partisipasi pemilik bangunan-bangunan seputar kawasan itu. (Harun Mahbub)

Sumber: Tempo Interaktif, 13 Juni 2006