Archive for September, 2005

Markas Kodim Serang “In Memoriam”

September 26, 2005

Suasana mencekam terasa di salah satu sudut Kompleks Hegar Alam, Ciloang, Serang, Provinsi Banten, Sabtu (10/9) malam lalu. Belasan orang duduk terdiam menyimak tayangan pada layar lebar yang terpampang di hadapan mereka.

Semalam, menjelang peletakan batu pertama Mal Serang, Rumah Dunia memutar sebuah film dokumenter berjudul A Story of Makodim. Film itu mengingatkan kembali perjuangan masyarakat Serang dalam menggagalkan rencana pembongkaran bangunan Markas Komando Distrik Militer (Kodim) 0602 Serang.

Berbagai upaya penggagalan pembongkaran Markas Kodim tergambar jelas dalam film karya Jaya itu. Dari unjuk rasa, aksi melukis, hingga berbagai upaya negosiasi dengan para pejabat Pemerintah Kabupaten Serang.

Macam-macam reaksi mereka saat menonton. Ada yang mengernyitkan dahi, ada yang memegang kepala, ada juga yang duduk bertopang dagu, atau sekadar menggeleng-gelengkan kepala. Sesekali terdengar suara orang mengembuskan napas panjang, lalu berdecak dan bergumam, tidak jelas apa yang dikatakan.

”Ini bentuk perlawanan kami,” kata Gola Gong, pendiri Rumah Dunia, sebuah sanggar baca sekaligus sekolah menulis dan komunitas diskusi di Serang.

Film itu sengaja diputar sebagai wujud keprihatinan atas pembongkaran Gedung Markas Kodim Serang yang tergolong benda cagar budaya. Selain usianya yang sudah lebih dari 100 tahun, gedung itu juga pernah menjadi markas Barisan Keamanan Rakyat yang menjadi cikal bakal Tentara Nasional Indonesia.

Bahkan, di gedung yang dibangun sekitar tahun 1880 itu pula bendera Merah Putih pertama kali dikibarkan. Budayawan Iwan Nit Net juga pernah bercerita bahwa Gedung Markas Kodim Serang pernah digunakan sebagai Kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Bisa dikatakan, gedung eks Markas Kodim itu merupakan salah satu simbol sejarah perjuangan rakyat Banten, khususnya Serang. Karena itu, sangat disayangkan kalau Pemerintah Kabupaten Serang akhirnya justru mengizinkan bangunan cagar budaya itu dibongkar.

Sejak satu pekan lalu seluruh bangunan di eks kompleks Markas Kodim rata dengan tanah. Patung harimau, tembok bertuliskan ”Markas Komando Distrik Militer 0602 Serang”, dan pilar penyangga bangunan turut dihancurkan pula.

Padahal, menurut Kepala Subbagian Tata Usaha Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang Zakaria Kasimin, pilar-pilar Gedung Markas Kodim tidak boleh dihancurkan. Pasalnya, setelah diteliti, hanya pilar-pilar gedung inti yang masih asli, sementara bangunan lain, seperti lantai, tembok, dan atap sudah pernah direnovasi sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai benda cagar budaya.

Obrolan soal pembongkaran eks Gedung Markas Kodim itu berlanjut hingga pukul 22.15 akhir pekan lalu. Semua yang datang menyesalkan pembongkaran cagar budaya dengan dalih pengembangan investasi itu.

Kini eks Gedung Markas Kodim hanya tinggal kenangan. Gedung bersejarah itu sudah rata dengan tanah. Bahkan, Minggu (11/9) lalu, batu pertama pembangunan Mal Serang sudah dipasang. Pembangunan mal seakan tidak bisa dihentikan. Namun, perlu diingat, perlawanan belum usai. (NTA)

Sumber: Kompas, Senin, 26 September 2005

Kembangkan Wisata Heritage

September 23, 2005

Oleh: Teguh Amor Patria

BANDUNG selama ini dikenal sebagai kota wisata belanja. Tapi sadarkah kita, kota ini juga memiliki potensi sebagai kota wisata pusaka (heritage tourism)?

Organisasi Bandung Heritage mencatat, lebih dari 400 bangunan pusaka di kota yang pernah dijuluki Laboratorium Arsitektur di Indonesia ini (data inventaris 1997). Mayoritas merupakan arsitektur warisan kolonial Belanda, mulai dari gaya Indische Empire (1860-90-an), Neo-Klasik (1890-1910-an), hingga Art Deco (1920-30-an). Bahkan dengan jumlah bangunan Art Deco yang cukup signifikan, Bandung berada di peringkat 9 dari 10 kota berarsitektur Art Deco terbanyak di dunia – hanya satu tingkat di atas kota kelahiran Art Deco sendiri, yaitu Paris (GlobeTrotter, 2001).

Tentu saja selain arsitektur Indo-Eropa, Bandung juga mewarisi sejumlah bangunan khas nusantara (seperti pendopo di selatan Alun-alun) dan Cina (kelenteng-kelenteng di kawasan Pecinan).

Yang lebih menarik, banyak bangunan lama di Bandung yang memiliki nilai sejarah, mulai skala lokal hingga internasional. Sebut saja pendopo (bangunan pemerintahan pertama dari tahun 1810), Gedung Sate (calon pusat pemerintahan Hindia Belanda dari tahun 1920), dan Gedung Merdeka (tempat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika tahun 1955).

Di Eropa, banyak bangunan berusia ratusan tahun yang dipertahankan dan dirawat sedemikian rupa sehingga menarik kunjungan wisatawan. Beberapa negara berada pada posisi atas negara tujuan wisata dunia (World Tourism Organization, 2004), dengan masing-masing jumlah wisatawan 75,1 juta dan pendapatan 37,038 juta dolar AS untuk Prancis, 53,6 juta dan 41,770 juta dolar AS untuk Spanyol, 37,1 juta, dan 31,222 juta dolar AS untuk Italia.

Memang tidak semua pendapatan dari sektor pariwisata tersebut berasal dari pariwisata pusaka. Namun kenyatannya, kota-kota di Prancis, Spanyol, dan Italia kaya akan bangunan tua namun mampu menyedot jutaan wisatawan mancanegara setiap tahunnya, seperti gereja Notre Dame di Paris, arena gladiator kuno Colosseum di Roma, dan bangunan-bangunan unik karya arsitek terkenal Gaudi di Barcelona.

Sebaliknya di Bandung, tidak sedikit wisatawan yang menyayangkan kondisi bangunan-bangunan pusaka di kota ini. Dengan kondisi sebagian besar yang kurang terawat dan terancam penghancuran, telah mengundang keprihatinan bukan saja wisatawan asal Belanda, namun juga mereka yang tidak memiliki hubungan sejarah kolonial sekalipun seperti turis asal Afrika Selatan.

Yang menarik, dalam beberapa tahun terakhir ini adalah fenomena kemunculan kelompok-kelompok penggemar bangunan-bangunan tua di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung. Yang tidak disangka-sangka, sebagian besar peminatnya adalah orang-orang muda yang rela mengorbankan waktu dan uangnya untuk melakukan kegiatan wisata berkunjung ke bangunan-bangunan tua, tanpa melihat apakah itu warisan kolonial atau bukan. Yang menjadi tujuan kebanyakan adalah menambah wawasan dan pengetahuan tentang sejarah dan budaya sendiri.

Keprihatinan wisatawan mancanegara dan fenomena munculnya grup peminat bangunan pusaka ini, menunjukkan adanya peluang bagi pengembangan pariwisata pusaka bagi pasar ceruk (niche market) atau yang dalam dunia kepariwisataan dikenal sebagai wisata minat khusus.

Pertanyaannya sekarang adalah apakah dengan aset bangunan pusaka yang dimiliki, Bandung juga bisa mengembangkan pariwisata pusaka seperti kota-kota di Eropa?

Kendala di Bandung
Kendala yang dihadapi Bandung dalam pengembangan pariwisata pusaka tidak berbeda dengan kebanyakan kota di Indonesia. Dalam hal ini dihasilkan 3 asumsi peneybab (berdasarkan wawancara dengan publik), yaitu:

1. Lemahnya law enforcement
Di Kota Venice, Italia, terdapat peraturan pemerintah setempat yang mewajibkan para pemilik bangunan tua (yaitu publik) untuk mempertahankan dan merawat tampilan luar bangunan. Selebihnya, untuk interior, mereka bebas mengubah dan mendekorasi. Dengan kata lain, tampilan luar bangunan ‘dimiliki’ oleh publik dan negara, sedangkan bagian dalam dimiliki sepenuhnya oleh si empunya bangunan.

Dengan peraturan tersebut, tidak lantas membuat Kota Florence menjadi kota kuno dan ketinggalan zaman, namun justru menjadikannya lebih menarik bagi wisatawan karena keunikannya.

Di Bandung dan Indonesia, pada umumnya, dengan adanya UU No. 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, tidak menjamin upaya pelestarian bangunan-bangunan pusaka, terutama yang memiliki nilai sejarah dan budaya serta arsitektur yang khas. Sering karena dalih pembangunan, suatu bangunan atau kawasan pusaka berubah fugnsi dan rupa, bahkan dihancurkan. Padahal pembangunan tetap dapat dilaksanakan tanpa harus mengorbankan nilai-nilai pusaka suatu bangunan atau kawasan.

2. Ekonomi
Isu ini memang seakan menjadi dilema, terlebih bagi negara berkembang seperti Indonesia. Di satu sisi, kita dihadapkan pada kenyataan harus membangun, di sisi lain juga memiliki kewajiban moral untuk melestarikan aset pusaka kota dan negara.

Bagi kebanyakan pemerintah dan sektor industri, isunya adalah apakah pelestarian bangunan pusaka menjadi hal yang penting, bila kenyataannya bangunan-bangunan tersebut tidak menghasilkan keuntungan secara ekonomis? Daripada memelihara bangunan lama yang tidak produktif (ditambah pemikiran bahwa merawat bangunan lama lebih mahal dibanding membangun yang baru), lebih baik membangun yang baru dan bisa memberi keuntungan ekonomis (baca: mal, trade center, ruko, dan lain sebagainya).

Ironisnya, sering keputusan ini diambil secara instan, bersifat spekulatif, dan untuk jangka waktu pendek. Sering tanpa berpikir panjang, bangunan-bangunan lama, termasuk yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan arsitektur unik, dikorbankan untuk bangunan-bangunan baru. Yang penting adalah lokasi, lokasi dan lokasi (walaupun kawasan itu sudah macet sekalipun).

Untuk hal ini, kita harus belajar pada pengalaman Singapura, yang sama-sama merupakan negara berkembang namun kini menjadi salah satu negara maju di Asia. Pembangunan dan perkembangan ekonominya yang pesat tidak lantas mengabaikan bangunan-bangunan serta kawasan pusaka di negara pulau itu, namun tetap bisa berjalan seiring. Contohnya adalah kawasan Kolonial, Pecinan, Kampung Melayu, Little India, dan Arab Village.

3. Pendidikan
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh National Trust, sebuah lembaga pelestarian bangunan dan kawasan bersejarah di Amerika Serikat, terdapat hubungan antara latar belakang pendidikan dan motivasi pelaku wisata pusaka (2001). Mayoritas pelaku wisata pusaka di negeri itu adalah para baby boomer (generasi yang lahir akhir 1940-an hingga 1950-an), yang tumbuh pada saat ekonomi AS membaik. Akibatnya, banyak dari generasi ini yang mengenyam pendidikan lebih baik dan lebih tinggi, dan sukses secara karier ketika memasuki usia produktif.

Hasilnya pada saat generasi ini memasuki usia mapan (tahun 1990-an), mereka menginginkan suatu pengalaman wisata yang tidak lagi bersifat rekreatif semata, namun juga bermuatan pendidikan dan budaya, seperti pariwisata pusaka. Jadi pada dekade 1990-an lah pariwisata pusaka mulai menjadi tren di negeri Paman Sam tersebut, walaupun isu pelestarian sudah muncul beberapa dekade sebelumnya.

Yang menarik, kondisi serupa juga terjadi di Bandung. Berdasarkan data Bandung Trails, organisasi nirlaba yang menyelenggarakan wisata pusaka untuk publik secara berkala, 87% pesertanya berusia 19 – 30 tahun dan hampir 90% bertujuan menambah wawasan dan pengetahuan (2004-2005). Dengan berkunjung dan mendengar cerita tentang bangunan-bangunan lama serta orang-orang di balik sejarah, museum, dan pusat-pusat kebudayaan, rasa ingin tahu mereka dapat terpenuhi.

Memang belum semua orang di Bandung dan Indonesia umumnya memilih kegiatan wisata pusaka saat ini, terlebih hal ini menyangkut minat dan preferensi individual. Namun, dengan semakin baiknya mutu dan tingkat pendidikan seseorang umumnya akan lebih merangsang keingintahuannya

Bangunan Kolonial di Kota Bandung

September 20, 2005

Oleh: Dadan Nugraha

Bandung, yang dikenal sebagai ibu kota Priangan, mempunyai sejarah dan asal-usul yang panjang. Nama Priangan apabila ditilik dari toponomi–asal-usul nama suatu tempat–dapat berarti kediaman para Hyang: dewa dewi yang harus dihormati dan diyakini oleh masyarakat Tatar Sunda pada waktu itu.

Awal mula berdirinya Kota Bandung tidak lepas dari jasa dan kiprah Wiranatakusumah II, yang menjadi Bupati Kabupaten Bandung (1794-1829). Pada saat itu, ibu kota kabupaten terletak di Karapyak (sekarang Dayeuhkolot).

Bandung pun sempat dipersiapkan sebagai ibu kota Hindia Belanda, dengan rencana memindahkan Batavia ke Bandung. Maka, langkah persiapan itu direncanakan. Salah satunya dengan membangun bangunan-bangunan pemerintahan dan pemukiman dengan rencana tata ruang yang baik.

Tak heran apabila kita banyak melihat bangunan-bangunan kolonial di Kota Bandung dengan arsitekturnya yang menarik perhatian. Namun sejalan dengan perkembangan Kota Bandung, banyak sekali bangunan-bangunan bersejarah peninggalan kolonial yang dirobohkan dan diganti dengan bangunan-bangunan modern yang angkuh.

Apabila kita amati dengan baik, peninggalan-peninggalan bangunan kolonial yang ada di Bandung tidak dibuat dengan sembarangan, namun sudah direncanakan dengan perancangan yang baik.

Menurut buku “Ciri Perancangan Kota Bandung”, faktor ruang merupakan salah satu hal yang tidak boleh diabaikan dalam upaya mendapatkan kesan tertentu bagi penampilan suatu bangunan. Untuk memberikan penampilan visual yang terbaik bagi pengamat, penampilan suatu bangunan harus diperhatikan, dari segi bentuk maupun perletakannya dan disesuaikan dengan fungsi dari bangunan tersebut.

Dalam buku yang ditulis oleh Djefry W. Dana tahun 1990 tersebut, di Kota Bandung ini terdapat bangunan-bangunan yang sudah dirancang sedemikian rupa sehingga mempercantik wajah kota. Antara lain, bangunan dengan perletakan mundur. Salah satu cara yang dapat dipakai mendukung penampilan bangunan adalah dengan perletakan lebih mundur dari garis sempadan (set-back). Cara ini dimaksudkan untuk memberikan jarak pandang antara pengamat dan objek, sehingga diharapkan pengamat mempunyai keleluasaan pandangan saat menikmati bangunan tersebut dan menciptakan kesan agung, megah dan berwibawa pada persepsi pengamat.

Di Bandung, ada beberapa bangunan yang mempunyai perletakan lebih mundur dari garis sempadan yang ada, yaitu antara lain: Gedung Sate, Gedung Dwi Warna, Gedung Pasteur, Rumah Sakit Hasan Sadikin, Gedung Balai Kota Bandung, Stasiun Kereta Api, dan kantor Powiltabes Bandung di jalan Merdeka.

Kemudian adalah bangunan sudut dan persimpangan jalan seperti kita ketahui, merupakan daerah tempat manusia dan kendaraan berjalan perlahan-lahan, memperlambat pergerakannya, atau berhenti sejenak untuk mengamati keadaan atau situasi di sekelilingnya.

Kota Bandung memiliki beberapa bangunan sudut dengan penyelesaian rancangan yang baik dan menarik sehingga mempunyai peranan yang cukup penting bagi lingkungan kota, misalnya sebagai ciri lingkungan maupun local point–apabila keberadaannya pada lingkungan tersebut demikian menonjol.

Beberapa bangunan sudut di Kota Bandung menggunakan penyelesaian kurva linier, contohnya adalah Bank Jabar yang terletak di Jalan Naripan.

Kemudian, bangunan sudut dengan menggunakan menara tunggal maupun ganda, contoh Bank Mandiri (dulu dikenal dengan nama Escampto Bank) yang terletak di persimpangan Jalan Asia Afrika dan Jalan Banceuy. Juga gedung Balai Keselamatan yang terletak di persimpangan Jalan Sumatera dan Jalan Jawa, bangunan sudut yang terletak di simpang lima, bangunan sudut yang terletak di persimpangan Jalan Bungsu dan Jalan Sunda, gedung SMPN 5 dengan menara gandanya yang menghadap ke arah persimpangan Jalan Jawa-Jalan Sumatera.

Selain bangunan sudut dengan rancangan yang menggunakan kurva linier, menara tunggal dan ganda, ada pula rancangan bentuk lengkung pada sudut jalan.

Beberapa bangunan bersejarah di Kota Bandung, ada yang sudah dirobohkan dan diganti dengan bangunan baru. Salah satunya adalah gedung Singer yang terletak di simpang lima. Gedung Singer adalah satu contoh pengalaman pahit. Tapi dari situ, kita dapat berkaca kembali. Masih ada kesempatan untuk belajar dari pengalaman yang lalu untuk kemudian bertindak, mempertahankan milik kita yang tersisa. Kalau kita mau…***

Sumber: Pikiran Rakyat, Selasa, 20 September 2005

“Mengusik” Ke-(tidak)-pedulian Warga pada Pesona “Kota Tua”

September 13, 2005

Oleh: FX Triyas Hadi Prihantoro

Kegiatan festival kesenian kota tua dan pecinan yang diselenggarakan Pemerintah Kota Jakarta Barat bulan Agustus 2005 perlu dilestarikan dan diberdayakan. Pemberdayaan, pengoptimalan, penggalian, dan restorasi kawasan kota tua (Batavia) Jakarta perlu dilakukan guna ”mengusik” ke-(tidak)-pedulian stakeholders kota dengan ”menggelitik” mereka untuk selalu terlibat di dalamnya.

Kegiatan itu bertujuan untuk menumbuhkan empati dan menjaga peninggalan sejarah sebagai nilai budaya dan pengetahuan terbentuknya kawasan kota tua.

Menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, Pasal 1 Ayat (1), disebutkan, benda cagar budaya adalah benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak, yang berupa kesatuan atau kelompok atau bagian-bagian atau sisa-sisanya yang berumur sekurang-kurangnya 50 tahun dan mewakili masa gaya yang khas serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.

Bagaimana upaya ”memoles” kawasan kuno ini agar tidak seram? Bagaimana dapat menarik untuk dinikmati hingga banyak orang sudi berlama-lama di sana? Upaya pengadaan festival, berkesenian, pameran/kegiatan saja belumlah cukup. Yang dibutuhkan adalah hati semua warga Kota Jakarta untuk terusik sehingga merasa memiliki peninggalan sejarah ini.

Rasa memiliki tumbuh, niat mempertahankan ada, upaya mengembangkan sudah masuk rencana kemudian tinggal optimalisasi pemberdayaan dengan berbagai program.

Ketidakpedulian warga kota terhadap bangunan kota tua terlihat dari banyaknya bangunan yang tak terawat. Kondisi bangunan memprihatinkan; tembok mengelupas, berlubang, kayunya lapuk, dan genting bocor.

Belum lagi digusurnya beberapa bangunan tua (gedung Harmonie) hanya untuk ”memoles” pembangunan ”masa depan” demi kepentingan ekonomi/komersial semata. Bila demikian, tidak malukah kita dengan bangsa lain yang ”berani” bersatu padu melawan untuk mempertahankan bangunan kuno (heritage building) sebagai salah satu bentuk lahirnya heritage society yang memiliki bobot nilai budaya sejarah bangsa tersendiri.

Ratusan bangunan kawasan tua di Kota Jakarta butuh sikap peduli warga. Wisatawan asing datang ke Jakarta perlu untuk melihat sajian bangunan gaya art nouvo (Museum Fatahillah dan Museum Wayang) abad ke-18, art deco (Bank Exim Jakarta Kota, Museum Seni Rupa Jakarta, Stasiun Kota) awal abad ke-19 serta tembok kasar dari abad ke-16 sisa warisan kejayaan VOC (Vereenidge Oostindische Compagnie).

Sekarang bagaimana sikap peduli warga kota terhadap perjalanan sejarah budaya di pesona kawasan kota tua Jakarta? Meski banyak bangunan kota tua yang sebagian besar milik perseorangan yang berkekuatan hukum, tidak ada salahnya pihak Pemprov DKI membuat peraturan daerah tentang pelestarian dan pemberdayaan bangunan tua bersejarah berdasarkan pengkajian dari banyak segi, antara lain arsitektur, sosial, sejarah, budaya, tata kota, lingkungan, dan kepentingan.

Ruilslag bangunan dan pemberian penghargaan kepada pemilik bangunan bersejarah yang mampu mempertahankan keasliannya perlu diberikan. Juga perlu hukuman bila pemilik atau siapa pun melakukan perusakan, corat-coret, dan penelantaran terhadap bangunan tua yang bernilai sejarah budaya.

Sejalan dengan visi Jakarta dalam upaya mengoptimalkan kunjungan wisata, langkah-langkah kepedulian terhadap pesona ”kota tua” merupakan impian semua pihak. Pengembangan wisata budaya dengan ”menjual” pesona ”kota tua” menjadikan aset sejarah itu sebagai aset wisata yang potensial untuk menambah pendapatan asli daerah.

Misalnya saja, optimalisasi Gedung Arsip Nasional dengan banyaknya mata acara (pameran, konser musik, pembuatan film, dan hajatan) menjadikan segala ”kebutuhan” untuk tetap menjaga keasrian dan keasliannya bukanlah hal yang sulit. Bagaimanakah dengan bangunan lainnya? Mampukah disetting seperti Gedung Arsip Nasional?

Semua tergantung kepedulian stakeholders kota. Semoga.

Fx Triyas Hadi Prihantoro, Pemerhati Budaya dan Bangunan Tua

Sumber: Kompas, Selasa, 13 September 2005