Archive for Juli, 2004

Pemanfaatan Bangunan Cagar Budaya demi Asas Manfaat

Juli 27, 2004

Bandung, Kompas – Pembongkaran bangunan cagar budaya yang diganti dengan bangunan komersial dilakukan atas dasar manfaat. Namun, para pemerhati dan ahli bangunan bersejarah menilai pemanfaatan bangunan cagar budaya seharusnya dilakukan dengan tetap memerhatikan keaslian bentuk bangunan asal.

Menurut Ketua Panitia Khusus Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Bandung yang menangani penataan dan pengembangan Kawasan Jatayu, Husni Muttaqin, Senin (26/7), pengalihan fungsi bekas Kantor Dinas Pertanian Kota Bandung di Jalan Arjuna menjadi pusat perbelanjaan dilakukan atas dasar manfaat bangunan tersebut bagi kepentingan publik.

Selain itu, mahalnya biaya perawatan gedung membuat pengalihan fungsi bangunan mendesak untuk segera dilakukan.

“Lebih penting mana penggunaan bangunan cagar budaya untuk kepentingan publik dibandingkan dengan untuk melestarikan sebuah cagar budaya?” kata Husni.

Ketua Bandung Heritage Harastoeti mengatakan, bangunan bersejarah dapat dimanfaatkan dengan fungsi yang berbeda, tetapi tetap menjaga seutuh mungkin keaslian bangunan.

“Pemanfaatan bangunan bersejarah tidak bisa disamaratakan, tetapi harus dilihat kasus per kasus,” kata Harastoeti.

Menurut ahli Studi Arsitektur dan Lingkungan Kota Bandung Heritage Dibyo Hartono, bekas Kantor Dinas Pertanian dan bekas Kantor PD Kebersihan di Jalan Jenderal Ahmad Yani merupakan bangunan cagar budaya kategori A.

Bangunan yang termasuk kategori A adalah bangunan langka, memiliki keunikan dalam model arsitektur, serta memiliki nilai sejarah yang penting.

Adapun keunggulan bekas Kantor PD Kebersihan adalah memiliki ciri art deco yang kental meskipun hanya bagian depannya saja. (K11)

Sumber: Harian Kompas Selasa, 27 Juli 2004

Depkimpraswil: Jembatan Tua Akan Diremajakan

Juli 25, 2004

Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah (Depkimpraswil) akan menurunkan tim peneliti untuk meremajakan beberapa jembatan yang umurnya sudah tua menyusul ambruknya jembatan Cipunagara di Kabupaten Subang, Jawa Barat pada Jumat (23/7) tengah malam.

“Depkimpraswil telah menyiapkan program untuk meneliti jembatan yang umurnya sudah tua untuk nantinya akan diremajakan,” kata Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah (Menkimpraswil) Soenarno setelah mengunjungi lokasi jembatan yang ambruk, Sabtu (24/7).

Menurut Soenarno, untuk membangun kembali jembatan Cipunagara yang ambruk pada sisi kanan dari arah Jakarta (pada jalur yang berlawanan) dibutuhkan dana Rp2 miliar yang akan diambil dari sisa tender proyek peningkatan jalan pantura pada tahun anggaran 2004.

Jembatan yang membentang di sungai Cipunagara memang ada dua. Satu untuk kendaraan yang datang dari arah Jakarta menuju Cirebon, sedangkan satunya lagi untuk arah sebaliknya. Jembatan yang dibangun pada tahun 80-an itu panjangnya 30 meteran dan dengan lebar delapan meter dengan dua bentang, sedangkan yang ambruk ke sungai hanya satu bentang.

Pekerjaan perbaikan jembatan diperkirakan dapat diselesaikan dalam waktu 1,5 bulan. Perkiraan sementara jembatan tersebut ambruk akibat usianya sudah tua (24 tahun), di samping itu karena kendaraan yang lewat di atasnya melebihi tonase yang diperkenankan. Saat ini telah dikerahkan dua unit alat berat untuk mengangkat kendaraan yang terperosok beserta muatannya dari dalam sungai berupa kayu dan semen. Proses pengangkatannya diperkirakan butuh waktu tiga hari.

Untuk memulai pekerjaan fisik jembatan masih menunggu proses penyidikan dari Kapolwil Subang, sedangkan rangka baja jembatan tersebut nantinya akan didatangkan dari Bakri Brothers Surabaya sebagai pengganti rangka baja buatan Inggris yang ambrol tersebut.

Jembatan tersebut ambruk bersama dengan delapan kendaraan roda empat dan satu sepeda motor ke dalam sungai Cipunagara. Tidak ada korban tewas dalam insiden tersebut, tetapi satu orang luka parah.

Dalam kesempatan terpisah Ditlantas Provinsi Jawa Barat, Sulistiyono, mengatakan akibat ambrolnya jembatan tersebut, arus lalu-lintas dari arah Jakarta – Cirebon dan sebaliknya macet.

Untuk mengantisipasi kemacetan lebih parah, sejak Sabtu pagi (24/7), seluruh kendaraan yang datang dari Cirebon menuju Jakarta dialihkan ke jalur alternatif Tomo – Cikamurang selanjutnya masuk ke Subang dan ke Jakarta lewat pintu tol Sadang – Purwakarta.

Menurut Sulistiyono, saat jembatan ambrol ada delapan kendaraan roda empat dan satu sepeda motor yang sedang antre, dan seketika itu juga terperosok dan masuk sungai. Kedelapan kendaraan roda empat yang terperosok kebanyak jenis truk tronton bermuatan semen, ternak sapi, kayu dan pasir. Satu korban yang luka parah yakni Wayan (57), sopir truk Fuso harus dirawat secara intensif di Rumah Sakit Umum Ciereng, Kabupaten Subang. (Ant/Ima)

Sumber: Kompas, Minggu, 25 Juli 2004

Sisa-sisa Peninggalan Hindia Belanda di Wonosobo

Juli 23, 2004

KENANGAN masa kanak-kanak hingga remaja di kota kecil bernama Wonosobo kembali muncul saat membaca buku Cilacap (1830-1942), Bangkit dan Runtuhnya Suatu Pelabuhan karya Susanto Zuhdi (2002). Meski sebagian besar buku itu membahas soal pelabuhan di Kota Cilacap, di beberapa bagian banyak pula membahas Wonosobo, sebuah kabupaten di Jawa Tengah.

MELALUI buku Susanto Zuhdi itu diketahui betapa pentingnya bangunan-bangunan peninggalan zaman Hindia Belanda sebagai bukti bahwa Wonosobo pada masa Hindia Belanda dikenal sebagai daerah yang kaya dengan hasil pertanian dan perkebunan.

Pada tahun 1980-an Wonosobo masih memiliki banyak fasilitas dan bangunan yang didirikan semasa pemerintahan Hindia Belanda. Mulai dari rumah penduduk, bekas stasiun kereta api, bekas rumah sakit, gedung pemerintahan, hingga gereja dan biara. Saat itu tidak terpikir kalau bangunan-bangunan tersebut banyak menyimpan jejak keberadaan wong Londo. Keberadaan bangunan itu dipastikan terkait dengan kepentingan perdagangan hasil pertanian dari Wonosobo.

Dulu Kantor Departemen Penerangan setempat kerap kali menyosialisasikan bangunan-bangunan tua yang harus dilestarikan. Saat itu, penulis tidak mengetahui secara persis makna keberadaan bangunan-bangunan tersebut.

Sewaktu kanak-kanak hanya terpikir bangunan-bangunan tersebut angker, menakutkan, dan tanpa manfaat. Bahkan, ada penduduk yang memaku tulang hewan di atas pintu bangunan-bangunan tua karena diyakini bisa mengusir roh halus dari bangunan itu.

Mungkin pandangan-pandangan seperti itulah yang menyebabkan berbagai jenis bangunan lama di Tanah Air banyak dibongkar. Padahal, kalau kita berkunjung ke Eropa, ketika acara makan malam (dinner), para tamu malah diajak ke tempat-tempat yang sangat kuno dan bersejarah, bukan di restoran yang mewah. Menunya pun menu kuno.

WAKTU masuk dan menetapnya orang-orang Belanda di Wonosobo tidak diketahui secara persis. Akan tetapi, masuknya mereka kemungkinan sangat terkait dengan sistem tanam paksa yang diterapkan oleh Gubernur Jenderal Johanes van Den Bosch di Hindia Belanda tahun 1832.

Kegiatan tanam paksa antara lain dilakukan di daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat bagian selatan. Dari kegiatan itu, berbagai hasil bumi, seperti kopi, nila, teh, gula, dan lainnya, dikirim ke berbagai pasar di Eropa melalui Pelabuhan Cilacap. Berbagai hasil bumi itu dipasok dari Purworejo, Kebumen, hingga dari daerah pedalaman yaitu Wonosobo.

Pada tahun 1885 di Wonosobo mulai terdapat perkebunan teh yang sekarang milik PT Tambi. Pada awalnya perusahaan ini bernama Bagelen Thee & Kina Maatschappij yang dikelola oleh NV Jhon Peet yang berkedudukan di Batavia (Jakarta).

Kegiatan ini terus berkembang hingga pengangkutan yang semula menggunakan gerobak sapi dan perahu sungai beralih dengan menggunakan kereta api. Jaringan kereta api Yogyakarta-Cilacap dibangun pada tahun 1879 dengan panjang 187,283 kilometer. Salah satu alasan pembukaan jalur kereta api ini adalah guna memudahkan transportasi gula dari pabrik-pabrik yang berada di daerah Yogyakarta.

Kegiatan perdagangan hasil bumi ini terus berkembang hingga jalur kereta api terus dibangun. Pembangunan berikutnya dilakukan untuk jalur tengah yang berada di pinggir Sungai Serayu. Pada 5 Maret 1884 dibangun Serayudal Stoomrammaatschappij (SDS) atau Trem Uap Lembah Serayu. Pembangunan SDS ini bertahap mulai dari Maos-Purwokerto, kemudian Purwokerto-Sokaraja. Dari Sokaraja kemudian diteruskan ke utara hingga Wonosobo. Ruas terakhir Selokromo-Wonosobo diselesaikan pada 7 Juni 1917.

Sejak saat itu perdagangan hasil pertanian dari Wonosobo yang semula dikirim ke pantai utara Jawa pindah ke selatan. Perdagangan hasil bumi semula ada yang dibawa ke utara melalui Dieng menuju Pekalongan. Dengan adanya jalur kereta api, pengiriman hasil bumi seperti kopi, tembakau, dan teh melalui selatan.

Peranan Wonosobo dalam perdagangan hasil pertanian tidaklah kecil hingga menjadikan Pelabuhan Cilacap sebagai pelabuhan yang tergolong ramai di Jawa antara tahun 1909 sampai 1930.

AKTIVITAS orang-orang Belanda yang menetap di Wonosobo bisa dilihat dari sejumlah tempat tinggal yang kini telah berumur lebih dari 90 tahun. Salah satunya adalah rumah yang bagian depannya bertuliskan Mon Desir di Jalan Mangli. Sekarang rumah itu menjadi bagian biara bagi para suster yang tergabung dalam tarekat Putri Maria dan Yosef (PMY).

Mencari bukti dari kisah-kisah keberadaan Hindia Belanda di Wonsosobo makin sulit dicari saat ini. Sejumlah bangunan telah rusak. Bahkan, Gereja Katolik yang dibangun pada masa Hindia Belanda sudah dibongkar pada pertengahan tahun 1980-an. Bila tetap didiamkan, gereja itu sebenarnya sudah berumur 72 tahun.

Stasiun kereta api yang menjadi bukti kuat bahwa Wonosobo merupakan pemasok berbagai hasil bumi sudah sejak tahun 1975 tidak terpakai lagi. Bila masih dijalankan, stasiun itu sudah berumur 87 tahun.

Menurut Sugito, seorang pensiunan pegawai PT Kereta Api Indonesia, pengoperasian kereta api itu berakhir sekitar tahun 1975. Pada awal tahun 1980-an jalur kereta api itu pernah digunakan untuk mengangkut pipa-pipa besar untuk proyek pembangkit listrik tenaga air di Kecamatan Garung.

Setelah itu pernah ada rencana PT Dieng Djaya sebuah perusahaan pengalengan jamur di Wonosobo untuk menggunakan kereta api sebagai pengangkut ampas tebu untuk media penanaman jamur. Pada masa Menteri Perhubungan Haryanto Danutirto juga pernah ada rencana untuk menghidupkan kembali jalur kereta api Wonosobo-Purwokerto itu.

Akan tetapi, rencana itu tidak pernah terlaksana hingga sekarang beberapa bagian stasiun kereta api itu sudah berubah menjadi permukiman. Di bagian depan masih tampak bangunan utama stasiun, tetapi sudah menjadi bengkel dan sebagian digunakan untuk gudang pupuk.

Beberapa bagian lajur rel kereta api, di atasnya sudah didirikan bangunan rumah. Peralatan-peralatan di stasiun sudah banyak yang hilang. Akan tetapi, perumahan pegawai masih banyak yang utuh.

Bangunan lainnya adalah beberapa bangunan besar di Jalan Sindoro. Beberapa di antaranya adalah yang saat ini digunakan sebagai gedung DPRD dan rumah penduduk. Gedung DPRD masih terawat baik demikian pula sebuah rumah yang berada di depannya. Rumah penduduk ini dulu berantakan, tetapi setelah dimiliki oleh mantan bupati setempat, rumah itu kembali menjadi elok.

Sebuah rumah penduduk lainnya berada tidak jauh dari tempat itu kini kondisinya mengenaskan. Banyak orang mengatakan bangunan besar itu sebetulnya dulunya adalah sebuah rumah sakit. Beberapa bagian rumah sakit itu, yaitu bangsal, sudah tidak ada lagi.

Beberapa bangunan yang masih ada antara lain kantor pos, sejumlah rumah penduduk, Gereja Kristen Indonesia, Gereja Kristen Jawa, dan biara suster. Bangunan ini masih terawat dengan baik meski ada di antaranya yang dirombak.

Di samping itu, perkebunan tembakau rakyat dan perkebunan teh milik PT Tambi merupakan bukti “hidup” peninggalan semasa Hindia Belanda. Hingga sekarang, perkebunan itu masih ada di lereng Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.

Bila melihat makin berkurangnya jejak-jejak masa Hindia Belanda di Wonosobo, penyelamatan sisa-sisa peninggalan yang masih ada sangatlah penting. Apalagi sejak lama Wonosobo dikenal sebagai tujuan wisata. Pelestarian bangunan-bangunan tersebut pasti dapat menambah daya tarik pariwisata. (ANDREAS MARYOTO)

Sumber: Harian Kompas, Jumat, 23 Juli 2004

Menggosok ”Permata Kota” yang Pudar

Juli 19, 2004

BRAGA adalah nama sebuah jalan di Kota Bandung yang sudah sangat populer baik di Indonesia maupun di masyarakat internasional. Kawasan itu juga merupakan kawasan bersejarah yang menjadi simbol dari kejayaan dan keindahan masa lalu Kota Bandung. Braga sebelumnya disebut Jalan Pedati, yang menghubungkan Jalan Pos dengan “Koffie Pakhuis” (Gedung Kopi milik Tuan Andries de Wilde). Dan, baru pada tahun 1810, jalan ini untuk pertama kali disebut Jalan Braga.

Mulai tahun 1856, sewaktu Bandung menjadi ibu kota Priangan, beberapa hunian bangsa Eropa dibangun di Jalan Braga, yang saat itu masih berupa tanah liat, rumah-rumah masih beratapkan ijuk, rumbia dan ilalang, yang tidak lama kemudian diganti dengan genting dan bahan tembok.

Tahun 1882, ketika Tonil Braga didirikan, bisa dianggap sebagai tahun lahirnya Braga. Saat itu jalan mulai diperkeras dengan batu kali dan digunakannya lentera minyak tanah. Dengan selesainya pembangunan jalur kereta api pada tahun 1884 dari Batavia ke Bandung, banyak pengunjung datang ke Bandung. Ketika itu ujung selatan Jalan Braga sudah ramai (dekat pusat kota), namun penggal utara masih sepi (masih berupa kebun karet). Dan, sejak 1893 Jalan Braga mulai menjadi daerah pertokoan yang paling terkemuka di Hindia Belanda.

Sejarah modern Jalan Braga yang kemudian begitu populer terutama keasriannya, dimulai 1920-1930 ketika kawasan itu menjadi pertokoan eksklusif. 1937-1939 Braga semakin ramai dan padat lalu lintas, kondisi pertokoan mengalami kemajuan pesat. Kejayaan Braga mulai suram sejak tahun 1980-an hingga kini. Citra Braga yang begitu dipuja keindahannya, hingga memunculkan julukan Parisj van Java, kini tinggal kenangan. Permata yang sangat indah di Kota Bandung tersebut seakan sirna. Jalan Braga yang dulunya menjadi pusat kehidupan budaya Kota Bandung, kini menjadi kawasan yang tidak berprospek, terkucilkan dan tak terperhatikan.

**

KEPRIHATINAN ini sempat mengundang pakar dari Singapura yaitu Prof. Mr. Richard K.F. Ho, Adjunct Associate Professor Departement of Architectur, National University of Singapore (NUS), yang sengaja berkunjung ke Bandung untuk melakukan penelitian bersama 10 mahasiswanya pada tahun 2003 bersama Bandung Heritage.

“Saya melihat langsung bagaimana kondisi Jalan Braga dan kawasan di belakangnya yang sangat menyedihkan. Braga sudah sangat dikenal di masyarakat internasional sebagai kawasan terindah yang dimiliki Kota Bandung. Namun, kondisi sekarang yang hanya dijadikan tempat hiburan, telah menghilangkan aura kecantikannya. Ini sangat memprihatinkan kami. Sudah saatnya pemerintah maupun masyarakat Kota Bandung kembali peduli untuk mengembalikan Braga sebagai wajah dan karakter Kota Bandung,” kata Richard.

Richard Ho merasakan dan melihat langsung kondisi Braga yang merupakan pusat kehidupan budaya Kota Bandung, kini tidak tampak lagi. Padahal, semua orang tahu, Braga merupakan simbol atau ikon Kota Bandung yang sangat bersejarah. Kini Braga tidak lagi memperlihatkan karakternya sebagai pusat kota, tidak sebanding dengan nilai-nilai yang telah menjadi image masyarakat internasional.

“Sudah saatnya masyarakat dan pemerintah Kota Bandung untuk kembali menggosok permata kota agar kembali berkilau. Ini merupakan langkah untuk kembali mengangkat martabat Kota Bandung serta nilai-nilai sejarah yang dikandungnya. Apalagi pada 2005 akan diselenggarakan Peringatan 50 Tahun Konferensi Asia Afrika. Maka saatnya komponen yang peduli terhadap heritage dan arsitektur yang indah di Jln. Braga kembali ditata keindahannya serta dihidupkan perekonomiannya,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan seorang warga Braga, David B. Soediono. “Selama ini, berbagai gagasan dalam menata kembali Jalan Braga telah diajukan. Namun, pelaksanaan konkretnya selalu saja terabaikan, sehingga Braga kini menjadi kawasan yang sama sekali terpinggirkan dari berbagai maraknya pembangunan Kota Bandung.” katanya.

Disebutkan pula, harga nilai bangunan Jalan Braga tidak sebanding dengan usaha yang berjalan di sana. Sangat timpang, sehingga prospek ekonominya sangat rendah. Coba bayangkan, di Braga yang bergengsi itu, air PAM-nya saja sudah tidak lagi berfungsi. Braga kini hanya menjadi kawasan hiburan, judi, dan prostitusi. Menyedihkan sekali. Saatnya kini masyarakat dan pemerintah peduli untuk mengembalikan Jalan Braga sebagai pusat Kota Bandung,” ujarnya.

Demikian pula yang dikatakan Francis Affandi dari Bandung Heritage. Ia menilai, apa yang dilakukan mahasiswa dari Singapura itu merupakan pelajaran untuk pemerintah dan masyarakat yang kini sudah melupakan Jalan Braga sebagai wajah Kota Bandung. “Banyak gedung bersejarah yang harus kembali ditata dengan baik, dikembalikan fungsinya. Di jalan itu ada Gedung Kimia Farma yang kini hanya menjadi gudang, demikian pula Gedung Hotel Braga yang kehilangan fungsi utamanya,” ujarnya.

**

DI tengah persoalan Braga yang begitu kompleks, kini seolah ada angin segar untuk mengembalikan Braga pada masa kejayaannya, yaitu rencana pembangunan Braga City Walk (BCW) yang akan merevitalisasi Braga dengan membangun hotel, apartemen, fasiltas komersial, fasilitas parkir dan open plaza, dengan tetap menjaga aspek lingkungan di seputar Braga.

Seperti dikatakan Ketua Bandung Heritage (Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung), Tuty Harastoety DH, apa pun yang dilakukan pihak pengembang merupakan sesuatu yang baik, terutama untuk kembali menghidupkan Braga yang memang sudah mati. Gagasan pembangunan ini tentunya tidak begitu saja dilakukan, tetap harus memperhitungkan aspek lingkungan sosial di wilayah Braga tersebut, seperti kondisi masyarakat di bagian belakang Braga yang berdekatan dengan Sungai Cikapundung, juga kondisi pertokoan maupun kondisi jalan di Braga tersebut.

“Dibangunnya mal, plaza, hotel atau apartemen tidak masalah asal tetap harus memperhitungkan juga kondisi Braga secara menyeluruh. Artinya, pembangunan BCW ini bisa berdampak lain. Misalnya, pengunjung hanya tersedot di tempat itu, sementara pertokoan lainnya tidak ada perubahan apa-apa. Demikian pula kondisi masyarakat di belakang Braga, harus dipertimbangkan aspek sosialnya,” kata Tuty.

Hal senada juga pernah dikatakan K.H. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym). Dibangunnya BCW di kawasan Braga ini tidak ada masalah, yang penting apa yang dilakukan pengembang harus membangun citra Kota bandung itu sediri sebagai kota yang bermartabat. Pembangunan harus benar-benar bersih dari segala macam kotoran, baik itu korupsi maupun macam-macam maksiat. Sehingga pembangunan ini dapat mengajak masyarakat untuk berbuat bersih.

“Apa yang akan dilakukan pengembang ini merupakan hal yang baik. Artinya, tidak sekadar membangun, tetapi bagaimana pembangunan tersebut dapat mengangkat citra Braga yang sudah terkenal itu. Di samping membawa kebersihan, juga harus mampu membawa kemaslahatan bagi masyarakat di kawasan Braga ini. Jangan sekadar mencari untung, tapi harus menguntungkan banyak orang, menguntungkan masyarakat tentunya,” paparnya.

**

KEPALA Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Bandung, Tjetje Subrata, yang pernah diwawancarai “PR” mengenai Braga mengatakan, dari aspek tata ruang, konsep BCW sudah bagus. Program tersebut tidak bertentangan dengan RTRW karena daerah depan Jalan Braga memang dibuat untuk daerah perdagangan dan di belakangnya untuk perumahan.

“Konsep itu masih dalam konteks menghidupkan kembali Braga. Jadi bukan menghentikan, tapi menata, karena di sana daerah pengembangan. Jadi bagian depan untuk perdagangan segala macam dengan konsep Braga, dan di belakangnya hotel,” jelasnya.

Menurut dia, kawasan perdagangan yang terdiri dari 78 toko di Braga nyaris mati. Dengan konsep BCW, Pemkot Bandung berupaya menghidupkan kembali perdagangan di Braga.

Sedang masyarakat Braga, baik masyarakat RW 08 di belakang Jalan Braga maupun masyarakat pengusaha yang memiliki pertokoan di Braga, menanggapi positif rencana pembangunan BCW. Namun, meraka tetap menuntut sosialisasi dan kompensasi yang jelas.

Salah seorang tokoh masyarakat Braga di RW 08, Imam Sadikin, kepada “PR” menyatakan, BCW harus benar-benar menghidupkan kembali Braga yang sudah mati sekaligus memberi kesempatan kepada masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraannya.

“Masayarakat di sini sama sekali tidak keberatan. Namun, yang harus diperhatikan pengembang adalah bagaimana mereka dapat memahami keinginan masyarakat, seperti memberdayakannya dan mampu menghidupkan suasana yang lebih baik. Hal ini perlu agar tidak terjadi kontradiksi antara pihak pengusaha dengan masyarakat, terlebih di areal itu akan ada apartemen, di mana ada masyarakat baru yang akan tinggal di tempat tersebut,” ungkapnya. (d’Art/Noe/”PR”)***

Sumber: Pikiran Rakyat, Senin, 19 Juli 2004

Gaya dalam Arsitektur Rumah Tinggal

Juli 16, 2004

SETELAH memandang rumah yang kita huni beberapa lama pasti timbul pertanyaan, masuk golongan manakah style arsitektur rumah tinggal kita itu? Bahkan, bukan hanya diri kita yang mempertanyakannya, tetapi kebanyakan orang juga akan mengajukan pertanyaan yang sama.

Kalau rumah kita memang dirancang dengan style yang jelas, maka pertanyaan tersebut tentu tidak akan sulit dijawab. Akan tetapi, bagaimana kalau rancangannya tidak masuk dalam kategori style yang mudah dikenali, atau apabila dirancang dengan bermacam style? Bagaimana pula bila si perancang sama sekali menolak untuk membicarakannya?

Style dalam arsitektur memang menjadi isu yang tak henti-hentinya dibicarakan, baik dalam pemasaran para pengembang, dunia akademi, dan di kalangan arsitek.

Menentukan suatu gaya membutuhkan berbagai parameter yang rumit karena saling tumpang tindih. Kalau ditinjau dari sejarah style-style arsitektur yang pernah ada, mungkin bisa disebut bahwa style dalam arsitektur itu merupakan suatu subperadaban. Namun, untuk mudahnya barangkali dapat dikatakan bahwa style lebih kurang adalah suatu karakteristik umum yang ditampilkan sejumlah bangunan gedung sebagai pengkristalan suatu gagasan atau alam pemikiran. Dengan perkataan lain, style adalah suatu kategorisasi sinergis dari berbagai gagasan yang mempunyai sejumlah kesamaan, misalnya dalam pendekatan atau pemecahan suatu persoalan perancangan bangunan gedung.

Style, menurut Budi Adelar Sukada, pakar sejarah arsitektur, penting dipahami terutama karena sering kali merupakan salah satu cara untuk mengekspresikan aspirasi dan cita rasa pemilik rumah, baik secara perorangan maupun berkelompok. Juga merepresentasikan selera umum yang berlaku dalam suatu periode. Dengan mengenali style bangunan gedung yang mendominasi suatu lingkungan, misalnya, kita akan lebih mudah menduga periode pembangunannya. Selain itu, kita juga akan dapat dengan pasti menyatakan apakah bangunan gedung tersebut orisinal atau tidak apabila style-nya kita kenali.

Seiring dengan bermunculannya kompleks perumahan baru yang bertebaran di dalam dan di sekitar kota-kota besar, timbul pula berbagai gaya yang diadopsi dari berbagai belahan dunia. Ada yang melakukannya dengan sepenuh hati, ada pula yang sekadarnya dan hanya di penampilan kulitnya. Ada pula yang mencampuradukkan berbagai style dengan aturan yang dibuat sendiri. Selebihnya mengaku tak bermaksud mengikuti style apa pun karena berdasarkan kebutuhan serta fungsi semata.

Contoh rumah

Gedung Arsip Nasional, sebuah bangunan yang aslinya adalah sebuah rumah tinggal yang terletak di Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat, tampaknya mempunyai karakter yang dapat dijadikan contoh mengenai apa yang dimaksud dengan style rumah tinggal. Bangunan ini didirikan dengan style yang oleh sementara kalangan disebut Indische Woonhuizen atau “rumah tinggal gaya Indis atau Hindia Timur”. Style tersebut dikenali dari cara membangunnya, yang lazim dipraktikkan di Eropa yang mempunyai empat musim, yaitu berdinding bata dan berdiri langsung di atas tanah. Tidak seperti rumah-rumah di Indonesia yang umumnya didirikan dengan konstruksi panggung. Gaya ini sempat bertahan lama karena selain dirasa cocok, juga tidak terlalu sulit dilaksanakan.

Bangunan ini didirikan tahun 1760 ketika lokasi tapaknya masih terletak dipedesaan, di luar tembok Kota Batavia waktu itu. Meskipun telah mengalami perubahan-perubahan, style aslinya tampak tak banyak berubah. Dengan sendirinya nuansa Eropa sangat terlihat dalam penataan denah yang dimaksudkan untuk mengakomodasi gaya hidup Eropa penghuninya.

Penataan denah bangunan utama Gedung Arsip Nasional amat pragmatis. Lantainya dibagi-bagi menjadi beberapa ruangan tanpa selasar, namun diadaptasikan terhadap lingkungan Batavia ketika itu dengan menambahkan serambi depan dan serambi belakang untuk melindungi bangunan dari panasnya sinar matahari langsung dan pantulannya, sekaligus menyediakan suatu tempat angin mengalir dengan bebas. Di rumah ini serambi depannya berupa semacam portico sebagai bagian dari entrance sehingga bangunan ini lebih tepat disebut Closed Indies Style atau Indische Woonhuizen yang tertutup karena telah kehilangan serambi depannya. Dengan demikian, tampak luarnya menjadi lebih menonjol karena segenap detailnya, baik yang bersifat teknis maupun ornamental, tampil dengan sepenuhnya. Bangunan dua lantai adalah tipe bangunan yang sangat populer ketika itu sehingga Gedung Arsip Nasional RI ini pantas dijadikan contoh.

Lalu, bagaimana sebaiknya kita menyikapi soal style ini dalam perancangan rumah tinggal kita? Kita sebenarnya bisa mengadopsi desain tradisional yang ada di negeri kita karena rumah tinggal di setiap daerah di Indonesia telah mapan dengan style-nya sendiri-sendiri. Pengembangan berbagai style tersebut terjadi seiring dengan iklim, tata budaya, bahan bangunan, keterampilan, dan teknologi yang tersedia.

Kalau kita pergi ke pelosok Nusantara, pasti akan menemukan bangunan gedung, baik rumah tinggal atau bangunan ibadah, dengan karakternya masing-masing. Kita tinggal menyesuaikan setiap langgam dari arsitektur tradisional tersebut dengan kebutuhan nyata kita. Akan tetapi, memang kita harus mempelajari dulu hingga menguasai dan mengerti latar belakang konsep rancangan dan arti dari setiap detail yang ada dalam khazanah suatu gaya arsitektur yang ingin kita adopsi. Cara yang paling mudah adalah mengamati suatu contoh obyek gaya kita, kemudian kita bisa minta bantuan seseorang yang menguasai gaya dalam arsitektur tersebut untuk mengakomodasikannya ke dalam rancangan rumah kita.

Itulah sebabnya kita sebaiknya mengerti apa yang dimaksud dengan style itu agar dapat menentukan style seperti apa yang kita inginkan atau dambakan itu.

Saptono Istiawan IAI

Sumber: Kompas, Jumat, 16 Juli 2004

Bangunan Bersejarah di Kota Jambi Makin Banyak yang Rusak

Juli 7, 2004

JAMBI – Bangunan bersejarah di Kota Jambi kian banyak yang rusak akibat maraknya pembangunan rumah toko (ruko) dan bangunan rumah tembok di kota itu. Kerusakan bangunan bersejarah itu sangat disesalkan karena sebagian bangunan itu sudah dijadikan sebagai cagar budaya.

Hal itu diungkapkan Gubernur Jambi Drs Zulkifli Nurdin kepada wartawan ketika mengunjungi TPS di Kelurahan Mudunglaut, Jambi Kota Seberang, Senin (5/7).

Menurut Gubernur Jambi, kehancuran bangunan-bangunan bersejarah itu harus segera dihindari dengan mengendalikan pembangunan ruko, rumah tembok dan gedung bertingkat. Untuk itu, Pemerintah Kota Jambi, khususnya para camat di kota itu diminta tidak terlalu mudah memberikan izin pembangunan ruko, rumah tembok dan gedung di tempat-tempat bangunan bersejarah.

“Saya minta camat (Camat Jambi Selatan, John Eka Powa, Red) tidak sembarangan memberikan izin pembangunan ruko dengan membongkar rumah-rumah bersejarah di Jambi Kota seberang ini. Negara modern saja menghargai bangunan bersejarah, kok kita tidak. Jangan hanya demi uang kita rusak peninggalan sejarah,” katanya.

Menurut Gubernur Jambi, Kota Jambi, khususnya Jambi Kota Seberang (seberang Sungai Batanghari), merupakan daerah cagar budaya yang sudah lama dikukuhkan pemerintah. Di wilayah itu terdapat bangunan rumah dan mesjid bersejarah dengan arsitektur unik. Rumah dan mesjid tersebut berupa bangunan rumah panggung dan arsitekturnya pun khas Jambi.

“Bangunan bersejarah tersebut harus dilestarikan sebagai salah satu ciri khas Kota Jambi. Bangunan-bangunan bersejarah tersebut juga dapat dijadikan menjadi salah satu daya tarik wisata di kota ini,” katanya.

Disebutkan, selain karena adanya bangunan bersejarah, Jambi Kota Seberang juga memiliki daya tarik dan keunikan lain seperti adanya sentra kerajinan batik, yakni di Desa Mudung Laut. Sentra kerajinan batik tersebut juga harus dilestarikan dan dikembangkan sebagai salah satu kebanggaan masyarakat Jambi sekaligus daya tarik wisata.

Karena itu Pemkot Jambi diminta membuat program-program pembinaan terhadap para perajin batik di kota tersebut. (141)

Sumber: Suara Pembaharuan, 7 Juli 2004

Kunjungan ke Kampung-kampung Bersejarah

Juli 1, 2004

Bagi Anda yang senang mengenang masa lalu bersama-sama.
MUSEUM SEJARAH JAKARTA mengadakan aktivitas kunjungan ke kampung-kampung Bersejarah. Anda bisa ikut aktif dengan hadir pada acara yang telah dijadwalkan untuk tahun 2004 ini.

Jadwal kunjungan diselenggarakan pada pagi hari jam 08.00 – 12.00 WIB dan malam hari jam 19.00 – 21.00 WIB dengan demikian Anda dapat memilih jadwal sesuai dengan keinginan Anda.

Berikut jadwal kunjungan kampung bersejarah pada siang hari tahun 2004 :

Tanggal, Tempat serta Tempat Keberangkatan
8 Februari, Jien De Juan (Pancoran), Museum Sejarah Jakarta
21 Maret, Setu Babakan, Museum Sejarah Jakarta
18 April, Gereja Tugu, Museum Sejarah Jakarta
16 Mei, Kampung Arab (Pekojan), Museum Sejarah Jakarta
23 Mei, Gereja Immanuel, Museum Taman Prasasti
18 Juli, Kampung Bandan, Museum Sejarah Jakarta
15 Agustus, Menteng, Museum Taman Prasasti
19 September, Monas, Museum Taman Prasasti
26 September, Lautze, Museum Sejarah Jakarta
10 Oktober, Luar Batang, Museum Sejarah Jakarta
28 November , Masjid Bandengan, Museum Sejarah Jakarta
19 Desember , Gereja Sion, Museum Sejarah Jakarta

* Catatan: 28 November 2004 (Bulan Ramadhan) Jam : 15.00 – 18.00

Kunjungan ke kampung-kampung tidak diadakan pada malam hari tetapi hanya pada siang hari. Pada malam hari akan diadakan kegiatan lain misalnya pertunjukan slideshow.

Dengan uang Rp. 20.000,- (Rp. 10.000,- untuk mahasiswa/i) Anda dapat keliling kampung disertai dengan kisah sejarahnya. Biaya masuk sudah termasuk snack dan transportasi.

Jika Anda menginginkan informasi lebih lanjut, silakan menghubungi alamat di bawah ini.

Museum Sejarah Jakarta
Jl. Taman Fatahillah No. 1 Jakarta Barat
Telp. : (021) 6929101 – 6901483
Fax. : (021) 6902387
Email : musejak@indosat.net.id

Silakan bergabung dan selamat menikmati !

Museum Sejarah Jakarta

Juli 1, 2004

Sejarah Museum

Pada tahun 1937 Yayasan Oud Batavia mengajukan rencana untuk mendirikan sebuah museum mengenai sejarah Batavia, yayasan tersebut kemudian membeli gudang perusahaan Geo Wehry & Co yang terletak di sebelah timur Kali Besar tepatnya di Jl. Pintu Besar Utara No. 27 (kini museum Wayang) dan membangunnya kembali sebagai Museum Oud Batavia. Museum Batavia Lama ini dibuka untuk umum pada tahun 1939.

Pada masa kemerdekaan museum ini berubah menjadi ”Museum Djakarta Lama” di bawah naungan LKI (Lembaga Kebudayaan Indonesia) dan selanjutnya pada tahun 1968 ”Museum Djakarta Lama” diserahkan kepada PEMDA DKI Jakarta. Gubernur DKI Jakarta pada saat itu -Ali Sadikin- kemudian meresmikan gedung ini menjadi Museum Sejarah Jakarta pada tanggal 30 Maret 1974.

Untuk meningkatkan kinerja dan penampilannya, Museum Sejarah Jakarta sejak tahun 1999 bertekad menjadikan museum ini bukan sekedar tempat untuk merawat, memamerkan benda yang berasal dari periode Batavia, tetapi juga harus bisa menjadi tempat bagi semua orang baik bangsa Indonesia maupun asing, anak-anak, orang dewasa bahkan bagi penyandang cacat untuk menambah pengetahuan dan pengalaman serta dapat dinikmati sebagai tempat rekreasi. Untuk itu Museum Sejarah Jakarta berusaha menyediakan informasi mengenai perjalanan panjang sejarah kota Jakarta, sejak masa prasejarah hingga masa kini dalam bentuk yang lebih rekreatif. Selain itu, melalui tata pamernya Museum Sejarah Jakarta berusaha menggambarkan “Jakarta Sebagai Pusat Pertemuan Budaya” dari berbagai kelompok suku baik dari dalam maupun dari luar Indonesia dan sejarah kota Jakarta seutuhnya. Museum Sejarah Jakarta juga selalu berusaha menyelenggarakan kegiatan yang rekreatif sehingga dapat merangasang pengunjung untuk tertarik kepada Jakarta dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya warisan budaya.

Sejarah Gedung

Gedung Museum Sejarah Jakarta mulai dibangun pada tahun 1620 oleh ”’Gubernur Jendral Jan Pieterszoon Coen”’ sebagai gedung balaikota ke dua pada tahun 1626 (balaikota pertama dibangun pada tahun 1620 di dekat Kalibesar Timur). Menurut catatan sejarah, gedung ini hanya bertingkat satu dan pembangunan tingkat kedua dibangun kemudian hari. Tahun 1648 kondisi gedung sangat buruk. Tanah Jakarta yang sangat labil dan beratnya gedung menyebabkan bangunan ini turun dari permukaan tanah. Solusi mudah yang dilakukan oleh pemerintah Belanda adalah tidak mengubah pondasi yang sudah ada, tetapi lantai dinaikkan sekitar 2 kaki, yaitu 56 cm. Menurut suatu laporan 5 buah sel yang berada di bawah gedung dibangun pada tahun 1649. Tahun 1665 gedung utama diperlebar dengan menambah masing-masing satu ruangan di bagian Barat dan Timur. Setelah itu beberapa perbaikan dan perubahan di gedung stadhuis dan penjara-penjaranya terus dilakukan hingga bentuk yang kita lihat sekarang ini.

Gedung ini selain digunakan sebagai stadhuis juga digunakan sebagai ”Raad van Justitie” (dewan pengadilan) yang kemudian pada tahun 1925-1942 gedung ini dimanfaatkan sebagai Kantor Pemerintah Propinsi Jawa Barat dan pada tahun 1942-1945 dipakai untuk kantor pengumpulan logistik Dai Nippon. Tahun 1952 markas Komando Militer Kota (KMK) I, yang kemudian menjadi KODIM 0503 Jakarta Barat. Tahun 1968 diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta, lalu diresmikan menjadi Museum Sejarah Jakartapada tanggal 30 Maret 1974.

Seperti umumnya di Eropa, gedung balaikota dilengkapi dengan lapangan yang dinamakan ”stadhuisplein”. Menurut sebuah lukisan uang dibuat oleh pegawai VOC ”’Johannes Rach”’ yang berasal dari ”’Denmark”’, di tengah lapangan tersebut terdapat sebuah air mancur yang merupakan satu-satunya sumber air bagi masyarakat setempat. Air itu berasal dari Pancoran Glodok yang dihubungakan dengan pipa menuju stadhuiplein. Pada tahun 1972, diadakan penggalian terhadap lapangan tersebut dan ditemukan pondasi air mancur lengkap dengan pipa-pipanya. Maka dengan bukti sejarah itu dapat dibangun kembali sesuai gambar Johannes Rach, lalu terciptalah air mancur di tengah Taman Fatahillah. Pada tahun 1973 Pemda DKI Jakarta memfungsikan kembali taman tersebut dengan memberi nama baru yaitu ”’Taman Fatahillah”’ untuk mengenang panglima Fatahillah pendiri kota Jakarta.

Sejarah Kota Jakarta

Berdasarkan penggalian arkeologi, terdapat bukti bahwa pemukiman pertama di Jakarta terdapat di tepi sungai Ciliwung. Pemukiman ini di duga berasal dari 2500 SM (Masa Neolothicum). Bukti tertulis pertama yang diketemukan adalah prasasti Tugu yang dikeluarkan oleh Raja Tarumanegara pada abad ke-5. Prasasti merupakan bukti adanya kegiatan keagamaan pada masa itu. Pada masa berikutnya sekitar abad ke-12 daerah ini berada di bawah kekuasaan kerajaan Sunda dengan pelabuhannya yang terkenal pelabuhan Sunda Kelapa.

Pada masa inilah diadakan perjanjian perdagangan antara pihak Portugis dengan raja Sunda. Pada abad ke-17 perdagangan dengan pihak-pihak asing makin meluas, pelabuhan Sunda Kelapa berubah menjadi Jayakarta (1527) dan kemudian menjadi Batavia (1619). Tahun 1942 bangsa Jepang merebut kekuasaan dari tangan Belanda dan berkuasa di Indonesia sampai tahun 1945.

Koleksi

Perbendaharaannya mencapai jumlah 23.500 buah berasal dari warisan Museum Jakarta Lama (Oud Batavia Museum), hasil upaya pengadaan Pemerintah DKI Jakarta dan sumbangan perorangan maupun institusi. Terdiri atas ragam bahan material baik yang sejenis maupun campuran, meliputi logam, batu, kayu, kaca, kristal, gerabah, keramik, porselen, kain, kulit, kertas dan tulang. Diantara koleksi yang patut diketahui masyarakat adalam Meriam si Jagur, sketsel, patung Hermes, pedang eksekusi, lemari arsip, lukisan Gubernur Jendral VOC Hindia Belanda tahun 1602-1942, meja bulat berdiameter 2,25 meter tanpa sambungan, peralatan masyarakat prasejarah, prasasti dan senjata.

Koleksi yang dipamerkan berjumlah lebih dari 500 buah, yang lainnya disimpan di storage (ruang penyimpanan). Umur koleksi ada yang mencapai lebih 1.500 tahun khususnya koleksi peralatan hidup masyarakat prasejarah seperti kapak batu, beliung persegi, kendi gerabah. Koleksi warisan Museum Jakarta Lama berasal dari abad ke-18 dan 19 seperti kursi, meja, lemari arsip, tempat tidur dan senjata. Secara berkala dilakukan rotasi sehingga semua koleksi dapat dinikmati pengunjung. Untuk memperkaya perbendaharaan koleksi museum membuka kesempatan kepada masyarakat perorangan maupun institusi meminjamkan atau menyumbangkan koleksinya kepada Museum Sejarah Jakarta.

Tata Pamer Tetap

Dengan mengikuti perkembangan dinamika masyarakat yang menghendaki perubahan agar tidak tenggelam dalam suasana yang statis dan membosankan, serta ditunjang dengan kebijakan yang tertuang dalam visi dan misi museum, mengenai penyelenggaraan museum yang berorientasi kepada kepentingan pelayanan masyarakat, maka tata pamer tetap Museum Sejarah Jakarta dilakukan berdasarkan kronologis sejarah Jakarta, dan Jakarta sebagi pusat pertemuan budaya dari berbagai kelompok suku bangsa baik dari dalam maupun dari luar Indonesia, Untuk menampilkan cerita berdasarkan kronologis sejarah Jakarta dalam bentuk display, diperlukan koleksi-koleksi yang berkaitan dengan sejarah dan ditunjang secara grafis dengan menggunakan foto-foto,gambar-gambar dan sketsa, peta dan label penjelasan agar mudah dipahami dalam kaitannya dengan faktor sejarah dan latar belakang sejarah Jakarta.

Sedangkan penyajian yang bernuansa budaya juga dikemas secara artistik dimana terlihat terjadinya proses interaksi budaya antar suku bangsa. Penataannya disesuaikan dencan cara yang seefektif mungkin untuk menghayati budaya-budaya yang ada sehingga dapat mengundang partisipasi masyarakat. Penataan tata pamer tetap Museum Sejarah Jakarta dilakukan secara terencama, bertahap, skematis dan artistik. Sehinga menimbulkan kenyamanan serta menambah wawasan bagi pengunjungnya.

Kegiatan

Sejak tahun 2001 sampai dengan 2002 Museum Sejarah Jakarta menyelenggarakan Program Kesenian Nusantara setiap minggu ke-II dan ke-IV untuk tahun 2003 Museum Sejarah Jakarta memfokuskan kegiatan ini pada kesenian yang bernuansa Betawi yang dikaitkan dengan kegiatan wisata kampung tua setian minggu ke III setiap bulannya.

Selain itu, sejak tahun 2001 Museum Sejarah Jakarta setiap tahunnya menyelenggarakan seminar mengenai keberadaan Museum Sejarah Jakarta baik berskala nasional maupun internasional, Seminar yang telah diselenggarakan antara lain adalah seminar tentang keberadaan museum ditinjau dari berbagai aspek dan seminar internasional mengenai arsitektur gedung museum.

Untuk merekonstruksi sejarah masa lampau khususnya peristiwa pengadilan atas masyarakat yang dinyatakan bersalah, ditampilkan teater pengadilan dimana masyarakat dapat berimporvisasi tentang pelaksanaan pengadilan sekaligus memahami jiwa zaman pada abad ke-17.

Fasilitas

* Perpustakaan
Perpustakaan Museum Sejarah Jakarta mempunyai koleksi buku 1200 judul. Bagi para pengunjung dapat memanfaatkan perpustakaan tersebut pada jam dan hari kerja Museum. Buku-buku tersebut sebagian besar peninggalan masa kolonial, dalam berbagai bahasa diantaranya bahasa Belanda, Melayu, Inggris dan Arab. Yang tertua adalah Alkitab/Bible tahun 1702.

* Kafe Museum
Kafe Museum dengan suasana nyaman bernuansa Jakarta ”tempo doeloe”, menawarkan makanan dan minuman yang akrab dengan selera anda.

* Souvenir Shop
Museum menyediakan cinderamata untuk kenang-kenangan para pengunjung yand dapat diperoleh di souvenir shop dengan harga terjangkau.

* Musholla
Anda tidak perlu khawatir kehilangan waktu sholat, karena kami menyediakan musholla dengan perlengkapannya.

* Ruang Pertemuan dan Pameran
Menyediakan ruangan yang representatif untuk kegiatan pertemuan, diskusi, seminar dan pameran dengan daya tampung lebih dari 150 orang.

* Taman Dalam
Taman yang asri dengan luas 1000 meter lebih, serta dapat dimanfaatkan untuk resepsi pernikahan.

Waktu Buka
Selasa sampai Minggu jam 09.00 – 15.00 WIB
Hari Senin dan Hari Besar Tutup

Harga Tanda Masuk
Dewasa Rp. 2000
Mahasiswa Rp. 1000
Pelajar/Anak Rp. 600
Rombongan Dewasa Rp. 1500
Rombongan Mahasiswa Rp. 750
Rombongan Pelajar/Anak Rp. 500

Rombongan minimal 20 orang.

Alamat Museum Sejarah Jakarta
Jl. Taman Fatahillah No. 1 Jakarta Barat
Telp (62-21) 6929101, 6901483
Fax. (62-21) 6902387
email: musejak@indosat.net.id

Sumber: Brosur Museum Sejarah Jakarta

Arsitektur Jengki

Juli 1, 2004

Sampai saat Majalah Arsindo ini sampai ditangan pembacanya. Berapa banyak langgam Arsitektur yang telah hadir dihadapan kita? Pasti susah untuk menghitungnya. Tetapi kalau kepada setiap arsitek Indonesia ditanya mengenai langgam-langgam tadi, dengan lancer mereka akan menjelaskannya. Terutama langgam mancanegara. Misalnya, Post Medern, Modern, Art Deco dan lain sebagainya. Tapi jika mereka ditanya apakah mereka tahu bahwa khasanah arsitektur Indonesia pernah punya langgam yang mencerminkan semangat kemerdekaan. Rasanya tidak banyak yang tahu. Melalui hasil wawancara dengan Ir. Joseph Priyotomo. M.Arch mengenai arsitektur Jengki ini diharapkan akan menambah wawasan para arsitek Indonesia mengenai langgam arsitekturnya sendiri.

Kelahiran Arsitektur Jengki

Pada tahun-tahun awal setelah kemerdekaan sekitar tahun 1950-1960-an. Sebagai hasil dari kemerdekaan. Timbul semangat pembebasan diri dari segala hal yang berbau kolonialisme. “Dilain sisi, kemerdekaan itu terjadi pada saat kita tidak memiliki tenaga ahli asing”, jelas Ir. Joseph. Tenaga ahli asing yang ada sebagian besar orang Belanda. Karena adanya pertikaian antara Indonesia dengan Belanda mengenai Irian Jaya, mereka harus meninggalkan Indonesia. Pembangunan tidak boleh berhenti. “Sementara itu timbul keinginan kuat untuk menampilkan jati diri bangsa yang merdeka”, tutur arsitek yang akrab dipanggil pak Joseph ini. Dalam keadaan yang serba sulit ini, pemerintah Indonesia memanfaatkan siapa saja yang mampu bekerja dibidang konstruksi. Kebetulan kemampuan bekerja ini dimiliki oleh mereka yang pernah bekerja di perusahaan konstruksi pada masa pendudukan. Misalnya kantor Pekerjaan Umum, Biro Arsitek atau Kontraktor Belanda. Kebanyak dari mereka hanya lulusan STM. Sebab lembaga pendidikan yang dimiliki untuk mendidik ahli bangunan pada masa itu hanya sampai tingkat STM. Mereka inilah yang dipaksa melakukan pembangunan. Karena hanya lulusan STM, tentu saja ilmu arsitektur mereka tidak seperti yang sarjana. Tetapi keuntungan yang mereka peroleh pada masa itu, STM pada masa itu juga diajarkan dasar-dasar ilmu arsitektur. “Inilah yang menjadi pegangan para lulusan STM pada masa itu” tambah pak Joseph.

Para tenaga ahli dadakan ini punya kesempatan untuk menunjukkan skil ke Indonesia-annya. Namun didalam hati, mereka juga mempertanyakan ilmu arsitektur yang dimiliki. Usaha mempertanyakan ini tidak sempat mereka renungkan. Tetapi harus segera ditunjukkan dengan jawabannya. Karena mereka harus langsung bekerja. Pada waktu itu, semangat nasionalisme yang kuat sedang tumbuh disetiap hati rakyat Indonesia, termasuk para ahli dadakan ini. Dengan landasan nasionalisme yang kuat, timbul usaha untuk tidak membuat apa yang telah dibuat Belanda. Dengan kata lain tidak boleh seperti itu. “Nah, itulah yang mendasari lahirnya Arsitektur Jengki” kata pak Joseph.

Ciri-ciri Arsitektur Jengki

Langgam arsitektur Kolonial pada waktu itu banyak didominasi oleh bidang-bidang vertikal dan horisontal. Langgam Arsitektur Jengki justru berlawanan. Arsitektur Jengki bermain dengan garis lengkung dan lingkaran. Misalnya, jendela yang tidak simetris, overstek yang meliuk-liuk, garis dinding yang dimiringkan. Bentuk-bentuk yang tidak semestinya pada masa itu. “Arsitektur Jengki hanya mengolah perwajahan bangunan, baik itu luar maupun dalam”, jelas pak Joseph lagi. Selain wajah bangunan, juga perabot rumah. Misalnya meja tamu dan kursinya. Bentuk tata ruangnya masih mengikuti tata ruang bangunan Kolonial. Hal ini terjadi karena keterbatasan ilmu arsitektur tadi.

Arsitektur Jengki juga mempergunakan bahan-bahan bangunan asli Indonesia. Bahan yang dipergunakan harus bahan jadi, tidak boleh mentah maksudnya dari perancangannya ketika itu. Untuk menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mampu mengolah sendiri bahan bangunan yang diperlukan. Hasilnya adalah permukaan bangunan yang dikasarkan, misalnya. Dikasarkan bukan kerikil, karena kerikil yang diolah semacam itu buatan Belanda. Permukaan kasar dibuat dari semen yang disemprotkan ke dinding dan pemakaian roster. Pada bagian penutup atap juga diolah sedemikian rupa. Kalau pada waktu itu bangunan Jengki dibuat seperti jambul. “Sepertinya sengaja menghilangkan yang berbau Belanda. Sehingga saya dapat mengambil kesimpulan bahwa Arsitektur Jengki murni hasil pemikiran bangsa Indonesia. Saya juga mencoba melihat literatur luar negeri kalau mungkin ada satu langgam yang dipakai untuk Arsitektur Jengki. Ternyata tidak ada”, tambahnya. Melihat hal ini pak Joseph mengambil kesimpulan bahwa Arsitektur Jengki adalah murni karya bangsa Indonesia. Tidak berkiblat kepada aliran arsitektur manapun di dunia termasuk juga Arsitektur Nusantara (kata Indonesia ada setelah 17 Agustus 1945).

Semangat dekoratif yang dimiliki oleh para arsitek pada saat itu cukup kuat dan bagus. Unsur dekoratif inilah yang oleh pak Joseph dianggap mewakili arsitektur Nusantara. Kalau kita perhatikan, pada setiap arsitektur tersebut? Dekoratifnya. Jadi Arsitektur Jengki menghadirkan Arsitektur Nusantara lewat unsur ini. Bukan lewat bentuk. “Semangat Bhineka Tunggal Ika hadir melalui arsitektur Jengki. Oleh sebab itu saya dapat mengatakan bahwa Arsitektur Jengki adalah arsitektur Indonesia yang pertama”, tegas arsitek alumni ITS tahun 1976 ini.

Contoh bangunan dengan arsitektur Jengki ini dapat kita lihat pada rumah-rumah dikawasan Kebayoran Baru untuk Jakarta. Di Surabaya misalnya Stadion Gelora Pancasila, Pabrik Coklad di Jl. Kalisari dan rumah tinggal di Jl. Embong Ploso 12 (saat tulisan ini dibuat sudah dirobohkan). Biasanya unsur Jengki lebih banyak hadir pada bangunan rumah tinggal. Mengenai hal ini pak Joseph menambahkan, “tidak adanya dana untuk membangun menyebabkan lebih banyak rumah tinggal”. Hal ini juga diakui oleh Van Lier Dame ketika berjumpa dengan beliau. Van Lier Dame pada sekitar tahun 1950 bekerja di Indonesia sebagai arsitek. Dia mengakui bahwa kendala utama yang dihadapi oleh Indonesia ketika itu adalah kelangkaan bahan dan kemiskinan uang. Sehingga merekapun dituntut bekerja secara efisien.

Mengapa Disebut Jengki?

Ada beberapa pendapat mengapa langgam ini disebut Jengki. Misalnya dari kata Yangkee, sebutan untuk tentara Amerika dalam arti yang negatif. Namun arsitek Malang 48 tahun silam ini mengambil dari sebuah metode pakaian pada waktu itu, seperti misalnya celana Jengki, baju jengki, mode yang sedang trend sekitar tahun 50-an.

Saat ini di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya banyak sekali hadir bangunan dengan langgam yang mirip dengan Jengki. Menjawab pertanyaan ini, Pak Joseph menjelaskan bahwa tidak bisa disamakan. Mengapa? karena arsitektur Jengki ketika itu merupakan pembongkaran terhadap arsitektur Belanda. Kalaupun ingin disebut sebagai dekonstruksi, maka yang kita lihat sekarang ini adalah dekonstruksi babak II. Langgam yang hadir melalui tangan-tangan arsitek muda ini oleh pak Joseph dikatakan beraliran Lead Modern. Arsitektur Jengki hadir pada masa itu karena semangat ingin bebas dari pengaruh kolonial, sedang bentuk-bentuk yang hadir sekarang ini tentu hadir dengan semangatnya sendiri.

Arsitektur Jengki pernah hadir menambahkan khasanah arsitektur Indonesia. Lahir oleh karena keadaan yang memaksa. Kalau sampai saat ini kita masih disibukkan dengan mencari bentuk arsitektur Indonesia (yang ke-2?) dan belum menemukannya, mungkinkah karena semangat, tujuan dan keadaan yang mendasarinya berbeda? Jawabannya terletak pada jati diri kita masing-masing yang sekarang ini mengaku dirinya sebagai Arsitek Indonesia.

Sumber: Majalah Komunikasi Arsitek Indonesia.

Lawang Sewu – Gedung Kuno yang Megah dan Kokoh

Juli 1, 2004

Sebagai ibukota propinsi Jawa Tengah, Kota Semarang merupakan salah satu kota besar di Indonesia dan keberadaannya telah ada sejak jaman penjajahan Belanda. Semarang sejak dulu adalah kota pelabuhan yang cukup ramai dan diperhitungkan sebagai salah satu tempat perdagangan antar pulau maupun negeri. Buktinya sampai saat ini masih memiliki banyak bangunan-bangunan bergaya arsitektur masa kolonial yaitu di kawasan Kota Lama Semarang seluas lebih 70 hektar yang diberi julukan “Oude Staad – Belanda Kecil”. Atau adanya situs klenteng Gedong Batu di Simongan, sebagaimana fakta sejarah mengatakan sebagai tempat singgah Laksamana Cheng Ho utusan Negeri Tiongkok saat berlabuh ke Jawa.

Sejak jaman pemerintahan penjajah Belanda Semarang sebagai kota besar salah satu buktinya sebuah perusahaan kereta api (trem) milik Belanda menempatkan kantor pusatnya. Kantor pusat Nederlandsch Indishe Spoorweg Naatschappij atau dikenal NIS ini menempati sebuah gedung megah bergaya art deco yang bercirikan ekslusif dan berkembang pada era 1850-1940 di benua Eropa. Bangunan ini salah satu karya dua arsitek Belanda ternama saat itu, yaitu: Prof. Jacob F. Klinkhamer dan B.J Queendag.

Gedung ini oleh warga Semarang lebih dikenal dengan sebutan Gedung Lawang Sewu. Mengapa bangunan tua tersebut oleh masyarakat Semarang dikenal dengan julukan Lawang Sewu ? Karena ciri khas bangunan megah yang merupakan sebuah perkantoran ini memiliki pintu atau ‘lawang’ dalam bahasa Jawa, sedang ‘sewu’ artinya seribu sebagai arti kiasan dari banyak karena memang jumlah pintunya tidak atau seribu atau lebih. Atau arti dalam bahasa Indonesia adalah si “pintu seribu”, kira-kira ingin menunjukan bahwa gedung kantor pusat kereta api Belanda ini punya pintu banyak sekali.

Tidaklah sulit untuk mencapai lokasi gedung tua ini karena letaknya berdekatan dengan monumen Tugu Muda dan sebagai salah satu sudut kota Semarang. Bangunan monumental dan indah ini di desain mengikuti kaidah arsitektur morfologi bangunan sudut yaitu dengan menara kembar model gotik di sisi kanan dan kiri pintu gerbang utama ini dan bangunan gedung memanjang ke belakang yang mengesankan kokoh, besar dan indah. Gedung kuno ini menurut catatan sejarah dibangun pada tahun 1903, dan selesai atau diresmikan penggunaannya pada tanggal 1 Juli 1907.

Bangunan kuno dan megah berlantai dua ini setelah kemerdekaan dipakai sebagai kantor Jawatan Kereta Api Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia. Selain itu pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam) IV/Diponegoro dan Kantor Wilayah (Kanwil) Departemen Perhubungan Jawa Tengah. Pada masa perjuangan gedung ini memiliki catatan sejarah tersendiri yaitu ketika berlangsung peristiwa pertempuran lima hari di Semarang, di gedung tua ini menjadi lokasi pertempuran yang hebat antara pemuda AMKA atau Angkatan Muda Kereta Api melawan kompetai dan Kido Buati Jepang. Maka dari itu Pemerintah Kota Semarang dengan SK Wali Kota 650/50/1992, memasukan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan kuno atau bersejarah di Kota Semarang yang patut dilindungi.

Sumber: http://www.freshwell.com/nsh.php?nsh=0063