Archive for April, 2003

Pusaka Indonesia: Suatu Perjuangan atau Impian ?

April 27, 2003

Oleh Pauline van Roosmalen

SEBAGAI seorang sejarawan ilmu bangunan, kunjungan pertama ke Indonesia pada tahun 1992 membuka mata saya pada jumlah, ragam, dan kekayaan yang menakjubkan dari bangunan serta tata ruang kota di seluruh Pulau Jawa, Sumatera, dan Bali yang berasal dari masa penjajahan dan sesudahnya.

TERUTAMA saya terpesona oleh arsitektur dan perencanaan kota yang telah dicapai sepanjang awal pertengahan abad ke-20: pengukuran luas dan perencanaan pengaturan yang menonjol dari gedung-gedung umum; jajaran-jajaran yang tidak ada ujungnya dari rumah indah, toko, dan kantor dengan atau tanpa atap merah/coklat; pembangunan rumah-rumah yang sistematis di dalam dan di luar kampung; dan rencana pengembangan secara besar-besaran untuk berbagai kota.

Bersamaan dengan rasa kagum, seketika juga saya terpukul sewaktu melihat bahwa banyak obyek telah hilang atau terancam, baik oleh pengabaian maupun spekulasi. Ini sebagian besar merupakan dampak dari kemajuan ekonomi yang telah memacu aneka ragam perkembangan baru. Pada awal tahun 1990-an, bangunan-bangunan berkembang pesat. Bermacam-macam gedung dan rencana kota yang anonim serta tanpa ciri khas itu telah dirancang dan dilaksanakan dengan terburu-buru, sering tanpa pertimbangan dimensi dan dampak sosial-budaya.

Jelaslah, jika Indonesia tidak ingin menghapus setiap kenangan sejarah, khususnya pada periode terakhir dari zaman kolonial, diperlukan suatu tindakan konkret untuk mempertahankan pusaka yang unik.

Kemudian saya diperkenalkan dengan para profesional Indonesia dan asing yang selama bertahun-tahun mengakui pentingnya benda-benda kuno. Mereka membela pemeliharaan/pelestarian obyek-objek pusaka serta menyebarkan kesadaran pada masyarakat untuk mengerti arti dan pentingnya masalah ini.

Diceritakan oleh para profesional bahwa mereka baru berhasil dalam melaksanakannya setelah suatu peristiwa yang mengejutkan dan tidak diduga menjadi berita utama di tahun 1980-an, sambil mempersatukan para profesional dan masyarakat umum untuk memperjuangkan pelestarian pusaka. Peristiwa ini adalah pembongkaran gedung ’De Harmonie’ di tahun 1985-suatu klab yang dibangun untuk orang Belanda pada awal abad ke-19 di Batavia-dalam rangka melebarkan suatu jalan.

Kenyataan bahwa bangunan ini berasal dari zaman kolonial tampaknya tidak relevan terhadap kebingungan yang secara umum dialami penduduk Jakarta. Yang dipermasalahkan waktu itu hanyalah kejadian yang menekankan kerentanan pusaka. Orang menanyakan diri: apabila obyek padat yang ternama dan nyata, bisa dihilangkan dari muka Bumi begitu saja, kemudian apa yang bisa diharapkan untuk obyek yang rapuh, tidak kelihatan, tidak nyata, dan kurang menonjol?

Tidak lama setelah peristiwa bersejarah ini kemudian dikembangkan beraneka ragam organisasi lokal, regional, dan nasional serta garis-garis petunjuk. Yang pertama, antara lain, yaitu Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung (1987), Yayasan Pelestari Budaya Bangsa (Jakarta, 1989), dan Yogya Heritage Society (1989). Yang terakhir adalah Badan Warisan Sumatra di Medan, dan Badan Warisan Sumatra Barat di Padang. Sasaran utama dari kelompok pusaka ini adalah untuk menciptakan kesadaran, keterlibatan, dan dukungan untuk berbagai macam dan isu pusaka, terentang dari arsitektur dan perencanaan kota hingga sejarah lisan, pakaian tradisional, cerita-cerita, dan nyanyian-nyanyian.

Hampir selalu semuanya ini dikelola oleh para sukarelawan yang mendukung dengan penuh semangat maksud pelestarian pusaka. Dari tahun ke tahun masing-masing kelompok mendapat dorongan-kadang-kadang berupa dana dan keahlian-dari badan-badan internasional (utusan asing, kedutaan, dll) di Jakarta. Walaupun kelompok-kelompok tersebut bersemangat dan berusaha sangat keras, namun seringkali tujuan mereka sulit tercapai.

Kombinasi kecilnya nilai ekonomis dari banyak obyek pusa- ka dan suatu iklim politis yang bersifat ogah-ogahan, menciptakan suasana yang tidak kondusif terhadap pelestarian pusaka Indonesia. Pembongkaran liar yang baru-baru ini dari Wisma Siliwangi di Bandung serta gedung Mega Eltra di Medan, dan ketidakpastian masa depan Sobokarti Teater di Semarang hanya merupakan sedikit contoh yang menggambarkan ancaman yang mengintai bagi arsitektur abad ke-20.

Seiring dengan perjuangan yang tak seimbang dan kesadaran bahwa konsolidasi dari berbagai usaha akan lebih mempunyai kekuatan, para kelompok pusaka dan para simpatisannya telah mendirikan Jaringan Pelestarian Pusaka Indonesia (JPPI) pada tahun 2000. Bertempat di Center for Heritage Conservation (Jurusan Arsitektur) dari Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta, JPPI menyatukan semua organisasi pusaka dan para penggemarnya di Indonesia.

Untuk menyoroti isu pusaka secara lebih giat dan mengingat hari ulang tahun ke-90 dari aktivitas-aktivitas purbakala di Indonesia, JPPI menjadikan tahun 2003 sebagai Tahun Pusaka Indonesia. Tujuannya adalah untuk merayakan tahun pusaka setiap sepuluh tahun.

Selain keikutsertaan berbagai kelompok pusaka lokal, yang mengambil bagian dalam program ini adalah yayasan, seperti Yayasan Gedung Arsip Nasional, Ikatan Arsitek Indonesia, Bali Foundation, Pusat Dokumentasi Arsitektur, dan berbagai universitas, serta Aspac Mitra Konsultindo.

Di bawah naungan Tahun Pusaka Indonesia 2003, empat jenis aktivitas akan digelar: seminar internasional dan lokakarya mengenai mengelola lingkungan pusaka di Asia; pelaksanaan piagam Indonesia atas pelestarian; pameran keliling; dan penerbitan yang menyertai pameran ini. Di samping aktivitas gabungan, masing-masing organisasi akan melanjutkan aktivitas rutin mereka sendiri: minggu pusaka, perjalanan keliling, ceramah, penerbitan, laporan berkala, dan lain-lain.

Tanpa mengecilkan perlunya menciptakan kesadaran di antara masyarakat umum dan profesional-sambil menggarisbawahi pentingnya pelestarian, memperkuat aspek-aspek hukum dan kelembagaan, serta meningkatkan keahlian-perlu ditekankan bahwa semua ini adalah kondisi-kondisi yang tidak dapat dielakkan. Artinya, mereka dengan sendirinya tidak menjamin dijalankannya salah satu perumusan, penerapan, dan lanjutan dari kebijakan yang tegas. Mereka menyokong tetapi tidak serta-merta mewujudkan suatu pelestarian pusaka yang aktif.

Mengingat penerapan kebijakan pelestarian pusaka yang lemah dan pembongkaran pusaka yang berkesinambungan di seluruh kepulauan, banyak pekerjaan masih harus dilakukan. Semua pusaka dan para pendu- kungnya masih menghadapi banyak tantangan. Saya berdoa agar Tahun Pusaka Indonesia 2003 akan betul-betul bisa memukul drum cukup keras untuk mencegah siapa saja yang berpura-pura tidak mendengar gemanya dan membuat gerakan- gerakan maju yang diperlukan.
Silakan hubungi Jaringan Pelestarian Pusaka Indonesia untuk informasi mengenai aneka ragam kegiatan, organisasi, dan individu yang terlibat di dalam Tahun Pusaka Indonesia 2003: http://www.indonesiapusaka.org.

Pauline van Roosmalen sejarawan dan arsitek, sedang studi doktoral di Universitas Teknologi Delft, Belanda

Sumber: Kompas, Minggu, 27 April 2003

Iklan

Didata Ulang Bangunan Bersejarah Banten

April 16, 2003

Serang, Kompas – Pemerintah Provinsi Banten mulai Mei 2003 akan mendata ulang situs dan bangunan bersejarah di wilayahnya. Pendataan tersebut dimaksudkan untuk mengetahui berapa banyak sebenarnya situs maupun benda cagar budaya yang ada di wilayah itu dan di mana saja lokasinya.

Selain itu, dengan data yang pasti pemerintah bisa memantau sekaligus membatalkan keinginan pengguna untuk mengubah peninggalan purbakala tersebut.

Demikian Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemprov Banten Sulaiman Affandi ketika menerima wartawan peserta wisata budaya ke Serang, Banten, Selasa (15/4).

Menurut Sulaiman, hasil pendataan ulang akan menjadi dasar pembuatan surat keputusan Gubernur Banten mengenai apa saja bangunan cagar budaya di Banten. Upaya pelestarian selanjutnya membuat ketentuan legal formal dengan membuat peraturan daerah.

Dengan demikian para penghuni atau pemakai bangunan cagar budaya tidak bisa lagi seenaknya mengubah bangunan yang dilindungi.

Benda-benda cagar budaya di Banten saat ini belum terdata semuanya. Untuk sementara terdapat 87 situs yang merupakan bangunan bersejarah dan sisanya menjadi obyek wisata.

“Itu masih angka sementara dan bisa bertambah,” kata Sulaiman. Kenyataan bahwa sebagian bangunan bersejarah itu masih digunakan oleh organisasi maupun kantor pemerintah, sipil maupun militer kadang-kadang juga menyulitkan pendataan.

Tidak keberatan

Kepala Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Banten Endjat Djaenuderadjat secara terpisah mengusulkan supaya pendataan nanti benar-benar dilakukan secara detail. “Tidak hanya lokasi, luas kawasan serta jenis bangunan dan tahun berapa dibangun,” katanya.

Detail bangunan misalnya bentuk jendela, ukuran dan motif hiasan perlu dibuat gambar agar data itu memberi kejelasan mengenai situs dan bangunan bersejarah yang dimaksud.

Soal kemungkinan markasnya diperiksa oleh petugas dari kantor Suaka Purbakala, Komandan Korem 064 Maulana Yusuf Banten Kolonel (Inf) Bambang Sukrisna menyatakan tidak keberatan, sepanjang tak menyangkut rahasia militer.

Markas tentara itu menempati bekas tangsi marsose Belanda yang dibangun pada abad 19. Kondisi bangunan tampak rapi dan terpelihara, belum ada kerusakan. Akan tetapi, Bambang mengakui pihaknya menambah beberapa bangunan di dalam kawasan benda purbakala itu untuk kantor maupun sarana lain bagi prajurit.

“Kami tidak mengubah bentuk bangunan ini sama sekali, sebab perubahan bentuk harus lebih dulu dilaporkan untuk mendapat izin dari Panglima Kodam dan Mabes TNI AD. Dan, sulit mendapatkan izinnya,” jelas Bambang.

Jawaban senada dikemukakan Kepala Kepolisian Resor Serang Ajun Komisaris Besar Arydono yang ditemui terpisah. Kantor Polres Serang sejak awal memakai bekas sekolah pada zaman Belanda di dalam kawasan yang luasnya sekitar tiga hektar. (TRI)

Sumber: Kompas, Rabu, 16 April 2003

Wisata Arkeologis Banten Lama , Situs-situs yang Tak Terurus

April 15, 2003

Serang – Banten Lama banyak menarik perhatian. Pesonanya dipicu cerita kejayaan dan kemakmuran rakyat Banten pada masa lalu. Apalagi sisa kemajuan tadi masih bisa dijumpai di beberapa tempat. Alih-alih membangkitkan nostalgia, situs-situs itu justru menuai kritik dari sana-sini. Ini terjadi akibat benda-benda cagar budaya itu tampak dibiarkan kumuh dan tak terurus. Padahal, bila digarap serius situs Banten Lama berpotensi sebagai daerah tujuan wisata arkeologis.

Cuaca siang itu (15/04) terlihat begitu cerah. Hawa panas yang ada sudah cukup membuat keringat bercucuran. Tapi itu tak menyurutkan langkah Endjat Djaenuderadjat. Dengan semangat menggebu Kepala Dinas Suaka Purbakala Banten ini asyik menerangkan sejarah kejayaan Banten kepada rombongan wartawan. Datang dari Jakarta, para kuli disket itu sengaja diajak keliling beberapa situs oleh Direktorat Purbakala dan Permuseuman dan Balai Pelestarian dan Peninggalan Purbakala Serang.

Kali ini, lokasi yang dipilih reruntuhan Istana Surosowan. Istana ini dibangun ketika pasukan gabungan di bawah pimpinan Maulana Hasanuddin dan Pangeran Fatahillah berhasil mengalahkan Kerajaan Pajajaran dan merebut ibukota mereka, Banten Girang.

Di sekitar istana dibangun tembok atau benteng keliling. Areal benteng ini sekitar tiga hektar. Berbeda dengan benteng-benteng Eropa, di atas benteng tidak ada kupel atau bastion. Tetapi justru dibuat tiang-tiang tinggi tempat prajurit mengamati keadaan di luar benteng.

Pada masa Sultan Maulana Yusuf, putera Maulana Hasanuddin, benteng diperkuat dengan batu karang dan batu merah. Di sekeliling benteng digali parit-parit. Di dalam istana dibangun kolam mandi. ”Kolam ini disebut pemandian Loro Denok,” sebut Endjat. Sisa bangunan ini masih bisa terlihat. Hanya saja bukan lagi jadi tempat mandi para sultan tetapi jadi arena bermain gratis bagi anak-anak.

Sultan Ageng Tirtayasa mempercantik istana Surosowan dengan menyewa tenaga ahli dari Portugal dan Belanda, di antaranya Hendrik Lucasz Cardeel. Benteng istana diperkuat dan dipojok-pojoknya dibangun bastion, bangunan setengah lingkaran dengan lubang-lubang tembak prajurit mengintai dan menembak musuh. Endjat pun menunjukkan kepada kami ciri bangunan hasil rehabilitasi oleh Sultan Ageng Tirtayasa dengan pembangunan pada masa Sultan Maulana Yusuf.

Endjat juga menunjukkan karya seni dekor tinggi pada masa itu. Bukti ini masih bisa dijumpai pada sisa ubin merah yang dipasang dengan komposisi belah ketupat. Belum lagi sistem parit dan saluran air bawah tanah ke dalam kompleks istana.
Menurut Paulus Van Solt, pada 1605 dan 1607 benteng istana sempat mengalami kebakaran. Namun nasib istana Surosowan luluh lantak setelah Daendels memimpin pasukan Kompeni untuk menghancurkannya pada 21 November 1808.

Walau hanya tersisa reruntuhan, situs Surosowan sebetulnya masih cukup menarik sebagai salah satu obyek wisata arkeologis. Namun bila melihat kondisi sekarang ini, kami hanya bisa mengelus dada. Di sekeliling kompleks situs dipenubi pedagang kaki lima. Para pedagang ini membuka kios-kios sempit, menjajakan aneka barang bagi pengunjung Masjid Agung Banten Lama. Sampah pun berceceran di mana-mana.

Situs Istana Surosowan juga tak mendapat penjagaan yang layak, walau di sekelilingnya telah dipagari. Setiap orang bisa bebas berkeliaran ke dalam dengan beragam tujuan. Dari sekadar melihat-lihat, berwisata sampai bertapa di salah satu sudut. Lebih miris lagi, pada halaman depan dan bagian dalam istana kawanan ternak ikut ambil bagian. Kerbau, domba dan kambing asyik menikmati rumput yang manis. Melihat semua kenyataan tadi, Endjat hanya tersenyum getir. (SH/bayu dwi mardana)

Sumber: Harian Sinar Harapan 2003

Kota Lama Semarang

April 13, 2003

Kota Lama Semarang – Pudarnya Sebuah Citra Visual Arsitektur

Oleh: Parmonangan

KETIKA dihadapkan pada sebuah kawasan kota lama, maka akan hadir di hadapan kita suatu citra visual yang menyajikan berbagai pengalaman masa lampau. Suatu masa, di mana pernah hadir sebuah kota dengan citra arsitektur yang unik, spesifik, serta mampu memberi- kan suatu identitas yang kuat, yang mampu membeda- kannya dengan kawasan lain. Demikian pula halnya de- ngan kawasan Kota Lama Semarang, sebuah kawasan dengan citra Eropa masa lampau.

KAWASAN Kota Lama Semarang dibentuk sesuai dengan konsep perancangan kota-kota di Eropa, baik secara struktur kawasan maupun citra estetis arsitekturalnya. Kota Lama Semarang yang pada awalnya lebih dike- nal sebagai Kota Benteng, seca- ra struktural, kawasan ini memiliki pola yang memusat dengan bangunan pemerintahan dan Gereja Blenduk sebagai pusatnya. Pola perancangan kota tersebut sama seperti perancangan kota- kota di Eropa. Sementara pada karakter arsitektur bangunan, kekhasan arsitektur bangunan di kawasan ini ditunjukkan melalui penampilan detail bangunan, ornamen-ornamen, serta unsur-unsur dekoratif pada elemen-elemen arsitekturalnya. Dengan keberadaan Kota Lama Semarang, citra arsitektur Eropa telah hadir dan menambah nuansa keberagaman arsitektur di Jawa Tengah dan daerah-daerah sekitarnya, dan pada gilirannya memperkaya khazanah arsitektur di neger ini.

Pudarnya sebuah citra visual arsitektur

Seiring dengan perkembangan Kota Semarang dari waktu ke waktu, telah terjadi pergeseran fungsi pada Kota Lama Semarang. Kawasan Kota Lama Semarang yang pada masa lalu merupakan pusat kota dan struktur utama kawasan, kini tidak lebih sebagai sebuah kota mati yang memprihatinkan.

Bangunan-bangunan berarsitektur kolonial yang dulunya memiliki fungsi vital sebagai bangunan pemerintahan dan komersial, sekarang telah banyak beralih fungsi sebagai gudang, rumah dan kantor. Penurunan (declining) tidak hanya terjadi pada fungsi bangunan semata, kondisi fisik bangunan juga mengalami kerusakan di sana-sini.

Menurunnya kualitas fisik kawasan Kota Lama menyebabkan penurunan aktivitas, terutama pada malam hari. Fungsi bangunan yang hanya hidup pada siang hari (gudang, perumahan, dan perkantoran) menyebabkan ’kematian’ kawasan pada malam hari. Selain disebabkan karena pergeseran fungsi, kematian kawasan Kota Lama Semarang juga disebabkan karena kurangnya elemen pencahayaan pada malam hari. Kondisi ini menyebabkan keunikan bangunan-bangunan lama dengan unsur dekoratif pada elemen fasade, detail, orna- men, tekstur, dan warnanya akan hilang di dalam kegelapan. Kondisi visual yang tidak mendukung di malam hari menyebabkan hilangnya orientasi terhadap kawasan juga tenggelamnya karakter historis kawasan Kota Lama Semarang, yang pada gilirannya akan kehilangan identitasnya.

Meningkatkan citra visual melalui pencahayaan

Elemen cahaya memainkan peranan yang sangat penting bagi manusia karena cahaya memungkinkan kita untuk mengetahui apa yang terjadi di se- kitar kita, dan sebagian besar informasi yang kita dapatkan adalah melalui indera penglihatan kita. Pada siang hari, cahaya Matahari memegang peranan pencahayaan sehingga kita mampu melihat berbagai elemen visual yang ada di sekitar kita. Namun, ketika malam hari tiba, maka hampir semua peranan itu dipegang oleh caha- ya buatan, dengan demikian kekhasan karakter visual Kota Lama Semarang di malam hari akan dapat dinikmati kembali melalui instalasi pencahayaan yang tepat.

Kurangnya elemen pencahayaan menyebabkan terciptanya kondisi visual yang tidak mampu menyediakan informasi visu- al yang dibutuhkan bagi orien- tasi, estetika, dan pergerakan pada suatu lingkungan binaan, di samping itu juga mencipta- kan kurangnya rasa aman untuk melalui kawasan tersebut. Pencahayaan memainkan peranan yang sangat penting di dalam suatu perancangan kota (urban design), pencahayaan eksterior (exterior lighting) yang baik dapat memainkan peran yang luar biasa dalam menciptakan perasaan masyarakat terhadap lingkungannya, karena memiliki suatu orientasi yang jelas terhadap lingkungannya. Suatu sistem pencahaya- an yang baik mampu meningkatkan kualitas estetika suatu bangunan maupun kawasan yang pada gilirannya akan memberikan suatu identitas yang jelas dan menciptakan rasa aman bagi orang yang melaluinya.

Melalui suatu instalasi sistem pencahayaan, karakteristik Kota Lama Semarang pada malam hari dapat ditonjolkan kembali. Elemen-elemen bangunan seperti bentuk fasade, detail-detail, ornamen-ornamen bangunan dan karakteristik bangunan lainnya dapat menjadi dominan di dalam konteksnya dengan peran serta suatu sistem pencahayaan.

Pencahayaan pada suatu kawasan kota lama tidak cukup hanya pada instalasi pencahayaan jalan semata. Elemen pencahayaan jalan yang bersifat linear hanya mampu menampilkan kondisi visual jalan terse- but, sementara bangunan bersejarah yang ada di belakangnya akan semakin tertutup oleh bayangan serta tingkat kesilauan (glare) yang tinggi.

Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan untuk mengangkat karakter historis kawasan dan menghidupkan kawasan kota lama pada malam hari adalah dengan menciptakan kondisi visual melalui sistem pencahayaan, terutama pada bangunan-bangunan lama berarsitektur kolonial yang unik. Sistem pencahayaan pada fasa- de bangunan (facade floodlighting) tersebut diharapkan dapat menonjolkan kekhasan bangunan, baik melalui elemen fasade, detail, ornamen, tekstur, dan warna pada masing-masing bangunan sehingga menciptakan identitas kawasan pada malam hari. Pencahayaan dapat digunakan pada masing-masing bangunan secara individu, serta dapat digunakan untuk memperkuat konsep perancangan kota pada suatu kelompok bangunan di dalam kawasan dengan memperhatikan hierarkhi bangunan.

Pada bangunan, detail-detail dan elemen-elemen arsitektural yang spesifik dapat ditonjolkan dengan menggunakan lampu sorot (floodlight), baik yang me- ngarah ke atas (uplight) maupun yang mengarah ke bawah (downlight). Dengan penggunaan uplight dan downlight, maka objek-objek tersebut akan menjadi dominan dan menciptakan bayangan pada bagian lainnya. Hal ini tidak dapat kita temui pada siang hari, karena cahaya Matahari memiliki kecenderungan menghasilkan cahaya yang datar dan merata. Sementara untuk menghasilkan caha- ya yang datar dan merata pada malam hari, kita dapat menggunakan lampu dengan distribusi cahaya yang menyebar (diffuse), baik dengan lampu fluorescent maupun dengan menggunakan lampu pijar. Untuk menonjolkan suatu bangunan pada kawasan, dapat dilakukan penambahan filter warna (color filter) pada lampu sehingga mampu membuat bangunan menjadi dominan di dalam konteksnya. Di dalam suatu kawas- an, penambahan filter warna biasanya digunakan pada bangunan yang menjadi landmark pada kawasan tersebut sehingga menciptakan suatu hierarki di dalam kawasan.

Dengan konsep pencahayaan yang jelas, diharapkan bangunan-bangunan bersejarah peninggalan kolonial yang memiliki nilai arsitektural yang tinggi tersebut dapat lebih dominan pada malam hari dan dapat menunjang penampilan kawasan secara keseluruhan. Serta dapat menjadi suatu kawasan yang lebih ’hidup’ dan mampu menjadi magnet bagi perkembangan kawasan lebih lanjut.

Parmonangan Manurung ST MT alumnus pascasarjana teknik arsitektur/desain urban, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Sumber: Kompas, Minggu, 13 April 2003

Potensi ”Walking Tour” di Bandung

April 5, 2003

WALKING tour di Bandung akan menelusuri kawasan dan bangunan bersejarah yang terkonsentrasi di kawasan inti Bandung. Ada tiga contoh potensi walking tour, yaitu Tur Bandung Awal, Tur Kota Taman, dan Tur Zaman Keemasan.

Tur pertama adalah Tur Bandung Awal (Early Bandung Tour) yang akan menelusuri tempat-tempat bersejarah di pusat kota, tempat Bandung untuk pertama kalinya didirikan. Feature utama tur ini mencakup kawasan dan arsitektur lama dari abad ke-19, dengan nilai superlatif (”paling”, contoh paling pertama, paling eksotik, dan sebagainya).

Point of interest tur ini dimulai di kilometer 0 (yang ditentukan oleh Deandels pada 1810). Jalan Asia Afrika (1810; jalan paling pertama di Bandung, sebagai bagian dari De Groote Postweg yang terbentang antara Anyer dan Pana-rukan), Grand Hotel Preanger (1889; berpredikat hotel paling eksotik yang dibangun pada masa kolonial), Hotel Savoy Homann (1880; hotel paling pertama), dan Gedung Merdeka dengan Museum Asia Afrika (1895; tempat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika).

Selanjutnya menuju Alun-alun (1810; taman pertama di Bandung), Masjid Agung (1812; masjid pertama), Rumah Pendopo (1810; awalnya sebagai kantor The Fo-unding Father of Bandung, Bupati Wiranatakusumah II), Makam Para Bupati dan Dewi Sartika, kawasan Pasar Baru (1906; pasar ‘modern’ pertama untuk zamannya, dikenal juga sebagai Chinatown-nya Ban-dung), Hotel Surabaya (1884; hotel unik yang dibangun bersamaan dengan kedatangan jalur kereta api dari Batavia), Gedung Selatan Stasiun Kereta Api (1884; stasiun pertama), Gedung Pakuan (1864; awalnya kediaman resmi Bupati Priangan, Van der Moore), dan diakhiri di Taman dan Gedung Balai Kota (1864; bangunan pemerintahan pertama ketika ibukota Priangan dipindahkan dari Cianjur ke Bandung).

Tur kedua adalah Tur Kota Taman (The Garden City Tour), yang akan menelusuri taman-taman hijau dan jalan-jalan rindang serta beberapa bangunan bersejarah penting di sepanjang rute ini.

Tur Kota Taman dimulai di Taman Balaikota kemudian menuju Taman Lalu Lintas (1910-an), Gedung SMA 3 dan 5 (bekas HBS/sekolah menengah atas semasa kolonial), Gedung Sabau (1916; bekas markas Kementerian Peperangan Belanda), Kodam III Siliwangi (1918), Taman Maluku, Gedung Kologdam (1920; bekas Gedung Jaarbeurs atau pameran tahunan), dan bangunan The Heritage (awal 1900-an; bekas vila pemilik perkebunan kaya).

Tur akan berlanjut ke Taman Cilaki, Gedung Dwi Warna (dulu Indische Pensioenfondsen), Museum Geologi (1926; konon museum geologi terbesar di Asia Tenggara), Museum Pos Nasional (1931), Monumen Perjuangan (1995), dan berakhir di Gedung Sate (1892).

Gedung Sate pada awalnya akan digunakan sebagai gedung pemerintahan menyusul rencana pemerintah kolonial untuk memindahkan lokasi ibu kota nusantara dari Jakarta ke Bandung. Kini Gedung Sate digunakan sebagai Kantor Gubernur Jawa Barat dan menjadi landmark kebanggaan Kota Bandung.

Tur ketiga adalah Tur Zaman Keemasan, yang akan menelusuri tempat-tempat bersejarah yang elegan dan menjadi highlight selama Zaman Keemasan (The Golden Age, 1920-30-an). Pada zaman inilah Bandung mendapat julukan ”Parijs van Java”. Feature utama Tur Zaman Keemasan mencakup 3 jalan pertama di Bandung, yaitu Jln. Asia Afrika, Jln. Braga, dan Jln. Merdeka.

Tur diawali di Grand Hotel Preanger atau alternatif lain di Simpang Lima, ujung timur Kota Bandung pada Zaman Keemasan, melalui kawasan keuangan (financial district) sepanjang Jln. Asia Afrika, kemudian berbelok ke Jln. Braga yang pada masa itu dikenal sebagai ”The Most Fashionable Street in the East Indies”. Tur akan melalui Teater Majestik (1920-an; kini AACC), Bank Pembangunan Daerah (1915), Jln. Braga (dengan bangunan-bangunan bekas pertokoan yang menjual berbagai produk terakhir Eropa pada Zaman Keemasan), Bank Indonesia (1930-an), Gereja Protestan Bethel (1926), Gereja Santo Petrus (1922), dan berakhir di Jln. Merdeka (kini kawasan perbelanjaan populer bagi kalangan muda Bandung dan pengunjung luar kota).

Sebetulnya masih banyak bangunan lama maupun baru yang unik dan berada dalam jalur tur, seperti BRI Tower (yang hingga kini berpredikat sebagai gedung tertinggi di Bandung), gedung Wahana Bakti Pos, dan gedung Bank Indonesia yang baru.

**

AGAR lebih menarik, walking tour sebaiknya dikombinasikan dengan wisata jenis lain yang dikemas sedemikian rupa menjadi paket tur. Misalnya, walking tour dilakukan pagi hari ketika belum terlalu panas. Makan siang akan dilakukan di kafe-kafe terbuka, yang cukup banyak terdapat di Bandung dewasa ini.

Sore hari akan digunakan untuk shopping tour, seperti berbelanja di Cihampelas, Dago, Merdeka, Alun-alun, Buah Batu, atau Cibaduyut, atau menikmati seni dan budaya khas Bandung, seperti Saung Angklung Pak Udjo atau galeri-galeri di Bandung.

Hari yang menyenangkan akan diakhiri dengan makan malam di salah satu restoran di perbukitan sekitar Bandung, sambil menikmati panorama Kota Bandung di waktu malam.

Bila wisatawan masih memiliki waktu lebih, hari kedua dapat digunakan untuk berkunjung ke dataran tinggi sekitar Bandung, seperti Gunung Tangkuban Parahu, atau melakukan agrowisata ke perkebunan bunga, buah dan sayur-mayur di Lembang, perkebunan teh Pengalengan, atau Ciwidey.

Walking tour mengisyaratkan ketersediaan infrastruktur penunjang, seperti trotoar dan interpretasi pada setiap point of interest. Penyediaan trotoar berkualitas prima, utamanya di jalur-jalur tadi, tidak saja bermanfaat bagi wisatawan, namun juga warga kota. Keberdaan PKL dewasa ini, yang banyak memanfaatkan trotoar bahkan badan jalan, sebetulnya bisa memberi warna tersendiri asalkan ditata dengan rapi. Sebagai bahan cerita, bukannya PKL tidak ada di Singapura, negara tetangga yang terkenal sebagai fine city (kota denda).

Di kawasan Bugis Junction ada lorong jalan khusus yang disediakan bagi para PKL, namun kondisinya jauh lebih teratur dan bersih. Demikian juga di Bali, yang peraturan adatnya sangat ketat terhadap keberadaan PKL.

Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah kondisi dan aksesibilitas pengunjung menuju bagunan-bangunan bersejarah. Kepemilikan bangunan di tangan pribadi bisa menjadi hambatan bagi aksesibilitas wisatawan untuk menikmati atau mempelajarinya. Selain itu, kondisi bangunan bersejarah di Bandung banyak yang tidak dioptimalkan, sehingga terkesan kusam dan kurang menarik.

Mudah-mudahan kelayakan pengembangan potensi wisata walking tour di Bandung bisa mulai dipelajari oleh pihak-pihak yang lebih berkompeten, seperti pemerintah kota dan pengusaha industri pariwisata, serta ahli sejarah, arsitektur, budaya, dan pariwisata, dengan mengacu pada kebutuhan warga. (Teguh Amor Patria)***

Sumber: Pikiran Rakyat, Minggu, 27 April 2003.

Spektrum Art Deco

April 1, 2003

Oleh Tanti Johana

Art Deco adalah gaya hias yang lahir setelah Perang Dunia I dan berakhir sebelum Perang Dunia II yang banyak diterapkan dalam berbagai bidang, misalnya eksterior, interior, mebel, patung, poster, pakaian, perhiasan dan lain-lain. Dalam perjalanannya Art Deco dipengaruhi oleh berbagai macam aliran modern, antara lain Kubisme, Futurisme dan Konstruktivisme serta juga mengambil ide-ide desain kuno misalnya dari Mesir, Siria dan Persia. Seniman Art Deco banyak bereksperimen dengan memakai teknik baru dan material baru, misalnya metal, kaca, bakelit serta plastik dan menggabungkannya dengan penemuan-penemuan baru saat itu, lampu misalnya, karya-karya mereka memakai warna-warna yang kuat serta bentuk-bentuk abstrak dan geometris misalnya bentuk tangga, segitiga dan lingkaran terbuka, tetapi mereka kadang masih menggunakan motif-motif tumbuhan dan figur, tetapi motif-motif tersebut cenderung mempunyai bentuk yang geometris. Komposisi elemen-elemennya mayoritas dalam format yang sederhana.

Asal usul Nama Art Deco

Ungkapan Art Deco diperkenalkan pertama kali pada tahun 1966 dalam katalog yang diterbitkan oleh Musée des Arts Décoratifs di Paris yang pada saat itu sedang mengadakan pameran dengan tema „Les Années 25“ yang bertujuan untuk meninjau kembali pameran internasional „Exposition Internationale des Arts Décoratifs et Industriels Modernes“ yang diselenggarakan pada tahun 1925 di Paris. Sejak saat itu nama Art Deco menjadi dikenal dan semakin populer dengan munculnya beberapa artikel dalam media cetak. Pada tanggal 2 November 1966 artikel yang berjudul „Art Deco“ dimuat di The Times, setahun kemudian artikel „Les Arts Déco“ dari Van Dongen, Chanel dan André Groult furniture dimuat dalam majalah Elle. Ungkapan Art Deco semakin mendapat tempat dalam dunia seni dengan dipublikasikannya buku „Art Deco“ karangan Bevis Hillier di Amerika pada tahun 1969. Jadi sebelum tahun 1966, masyarakat belum mengenal nama Art Deco dan menamai seni yang populer di antara kedua perang dunia itu sebagai seni „modern“.

Latar Belakang Munculnya Art Deco

Revolusi Industri
Pada akhir abad ke-19 sampai awal abad ke-20, adalah kurun waktu di saat masyarakat dunia diliputi oleh berbagai macam konflik. Konflik-konflik ini muncul sebagai akibat dari Revolusi Industri yang menciptakan pergeseran sosial, berbagai macam pengetahuan dan teknologi baru membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Keadaan sosial masyarakat berubah, dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industrial. Kekuatan mesin menggantikan tenaga manusia yang sangat terbatas. Apa yang masyarakat lihat dan dengar berubah secara cepat. Barang-barang untuk keperluan hidup sehari-hari mulai banyak diproduksi oleh mesin dan secara massal. Meskipun demikian tidak semua masyarakat menerima dan menyukai barang-barang yang diproduksi oleh mesin, banyak yang masih menyukai hasil kerajinan tangan dengan seni tradisional. Barang-barang produksi mesin tidak seindah hasil kerajinan tangan meskipun harganya tidak mahal tapi tidak banyak peminatnya, sebaliknya barang-barang kerajinan tangan sangat tinggi mutunya, indah dan personal tapi mahal harganya. Revolusi Industri juga membawa perubahan pada Arsitektur. Selama berabad-abad arsitek hanya mengkonsentrasikan karyanya pada bangunan-bangunan ibadah, kastil, istana dan rumah para bangsawan. Setelah adanya Revolusi Industri diperlukan suatu tipologi bangunan yang berbeda dari abad sebelumnya, misalnya, pabrik, stasiun, bangunan perdagangan, bangunan perkantoran, perumahan dan lain lain. Seiring dengan meningkatnya jumlah produksi meningkat pula jumlah pabrik, agar distribusi menjadi lancar, dibuat jalan-jalan raya penghubung antarkota dan negara, diciptakan pula alat transportasi modern, misalnya mobil, kereta, kapal dan pesawat. Sehingga pada jaman itu muncul konsepsi-konsepsi baru tentang iklan, fotografi, produksi massal dan kecepatan/laju.

Perang Dunia I
Perang Dunia I yang berlangsung di Eropa pada tahun 1914-1918 menyebabkan kerugian jiwa dan materi yang besar. Setelah perang berakhir, masyarakat sibuk menata kembali lingkungannya, membangun kembali tempat tinggalnya dan mereka memerlukan berbagai macam peralatan rumah tangga, perhiasan, pakaian, keramik dan lain-lain, hal ini memberikan kesempatan kepada para seniman untuk bereksperimen dan memberikan semangat kepada mereka untuk menghasilkan inovasi-inovasi baru. Barang-barang yang diperlukan masyarakat adalah yang modern dan fungsional. Art Nouveau suatu gerakan seni yang popular pada tahun 1894-1914 tidak lagi bisa bertahan lama karena hasil karya mereka kurang fungsional, penuh dekorasi dan harganya sangat mahal.

Usaha-usaha Mencari Solusi Permasalahan
Seni modern yang muncul pada awal abad ke 20 ini merefleksikan sensasi yang dialami pada waktu itu. Para seniman mencari pemecahan atas konflik yang timbul dengan menciptakan suatu gaya yang dapat merangkul selera semua lapisan masyarakat. Sekolah-sekolah seni dan pameran pameran seni adalah tempat yang dipakai oleh para seniman untuk bertukar pikiran dan menciptakan ide-ide baru. Pengenalan terhadap material baru seperti plastik, bakelit, kaca dan krom mengharuskan para seniman mencari cara dan gaya sehingga material tersebut dapat diolah dan diproduksi secara massal. Adapula yang meniru rancangan-rancangan lama yang disukai dan terbilang mewah karena berasal dari material yang langka dan biasanya dikerjakan oleh pengrajin, tujuan meniru tersebut agar hasil karya itu bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat. Pengertian bahwa dengan desain yang bagus dapat menaikkan omset penjualan sudah dikenal oleh para seniman dan pengusaha, hal ini membuat mereka berpikir bagaimana menghasilkan barang dengan desain yang bagus, artinya sesuai dengan selera pasar dan dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat. Usaha-usaha pencarian desain yang sesuai dengan selera masyarakat dapat dilihat dalam keragaman hasil rancangan para seniman tersebut.

Spektrum Art Deco, Sekilas Kapal Normandie
Pengaruh Art Deco meresap ke segala bidang, hal ini dapat dilihat pada karya kapal Normandie. Dengan adanya penelitian dan pengembangan teknologi dalam bidang perkapalan, transportasi laut pada saat itu maju dengan pesat, terbukti dengan selesai dirakitnya kapal layar Normandie pada tahun 1935, yang mempunyai panjang 313 M. Kapal layar Normandie yang pada saat itu adalah kapal terbesar dan tercepat dengan interiornya yang mewah merupakan lambang kebanggaan rakyat Perancis, karena data-data teknis yang dipunyai, kapal layar tersebut berhak memakai tanda “Blue Band” yaitu sebuah simbol yang melambangkan kapal layar tercepat di Atlantik utara. Dalam interior kapal layar Normandie banyak dijumpai karya-karya seniman Art Deco Perancis, seperti misalnya Perusahaan Daum (di kota Nancy), Sabino dan René Lalique yang merancang barang-barang dengan bahan dari kaca, mereka merancang cawan sampanye, pemanas ruangan, lampu di ruang makan sampai kolam kaca dengan air terjunnya. Perusahaan Jules Leleu, Ala-voine dan perusahaan interior Dominique merancang tata letak dan mebelnya. Christofle merancang semua barang-barang yang dibuat dari bahan dasar emas dan perak, Roger dan Gallet merancang parfum, Raymond Subes merancang barang-barang dari logam, Jean Puiforcat merancang peralatan makan, sedangkan hiasan-hiasan tambahan seperti patung, relief-relief dirancang oleh Léon Drivier, Pierre Poisson, Saupique, Pommier, Delamarre, Bouchard, Baudry dan Dejean. Meskipun banyak ahli interior dan dekorator yang ikut berperan dalam penataan ruang dan dekorasinya, misalnya Leleu, Montagnac, Dominique, Follot, Simon, Laprade, Pascaud, Süe, Prou, Domin, hasilnya tidak bertabrakan satu sama lain karena semuanya sudah direncanakan dengan seksama. Oleh karena itu tidak berlebihan bila kapal layar Normandie dinamai dengan pameran berjalan, karena banyaknya seniman Art Deco yang ikut andil serta beragamnya barang-barang yang dirancang. Dari gambaran ini terlihat bahwa spektrum Art Deco mencapai berbagai macam bidang.

Para Seniman Art Deco
Telah kita ketahui bahwa Art Deco berkembang dengan baik pada tahun-tahun setelah terjadinya perang dunia pertama dan sebelum meletusnya perang dunia kedua. Tetapi dapat dikatakan bahwa Art Deco yang orisinal lahir pada awal tahun-tahun setelah berakhirnya perang dunia pertama, saat para seniman sedang bereksperimen mencari perspektif baru dengan menolak menggunakan ornamen yang identik dengan Art Nouveau, mereka seolah-olah ingin memutuskan diri dengan gaya Art Nouveau. Di samping menggunakan lagi ornamen-ornamen historis, mereka saling bertukar pikiran untuk berbagi inspirasi. Untuk menggabungkan kesemuanya itu, mereka menggunakan pendekatan eklektik. Para seniman dari berbagai media dengan cepat mengadopsi gaya yang spektakuler ini. Poster, perhiasan, mebel, keramik, patung, lukisan, pekerjaan dari metal bahkan pakaian ikut memeriahkan seni modern yang sedang populer pada saat itu.

Beberapa desainer sangat identik dengan Art Deco, misalnya Jaques-Emile Ruhlmann yang dikenal sebagai master Art Deco melalui karya mebelnya yang hampir selalu memakai material mahal. Desainer mebel lain misalnya Paul Follot, Pierre Chareau, Clement Rousseau, tim desain Süe et Mare (Louis Süe and André Mare) serta Eileen Gray. Rene Lalique dikenal dengan hiasan dari kaca dan desain perhiasannya, Susie Cooper dan Clarice Cliff terkenal dengan keramiknya, Jean Puiforcat dengan perak dan pekerjaan metalnya, Paul Poiret terkenal dengan motif tekstilnya, dan A.M Cassandre dikenal dengan poster-posternya.

Desainer Art Deco terbagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama adalah desainer yang mengkonsentrasikan diri pada desain yang individual dan dikerjakan dengan kemampuan pekerjaan tangan yang tinggi, rancangan tersebut hanya dapat dibeli oleh kalangan atas, sedangkan kelompok lainnya adalah kelompok desainer yang mengutamakan desain berbentuk geometri dengan berdasarkan pada pertimbangan fungsional.

Beberapa desainer Art Deco yang menciptakan barang-barang untuk masyarakat banyak misalnya Susie (Susan Vera) Cooper (1902-1995) yang terkenal tidak saja sebagai desainer tetapi juga sebagai produser keramik. Ketertarikannya pada keramik ditekuninya sejak tahun 1922. Pada awalnya ia bekerja pada A. E. Gray & Co. Tujuh tahun kemudian ia mendirikan studio serta pabriknya yang memproduksi peralatan makan dan peralatan minum teh untuk masyarakat kelas menengah. Desainer Art Deco lainnya yang berusaha memproduksi barang-barang untuk masyarakat luas adalah René Lalique (1860-1945). René Lalique selain dikenal sebagai desainer perhiasan dikenal juga sebagai desainer glass/kaca. Ia mengawali karirnya sebagai desainer perhiasan Art Nouveau yang sangat inovatif. Pada awal abad ke 20 ia mengalihkan perhatiannya pada material glass/kaca, ia merintis teknik-teknik memproduksi glass/kaca secara massal dalam pabriknya. Ia mendesain berbagai macam jenis barang, misalnya botol parfum, lampu, vas, peralatan makan, patung dan perhiasan dari kaca.

Dari pakaian, perhiasan, poster sampai perabot dan peralatan rumah tangga, semua karya-karya ini memeriahkan dunia Art Deco, para seniman yang menghasilkannya berasal dari berbagai latar belakang. Mereka mencoba menghadirkan karya-karya yang dapat memenuhi kebutuhan manusia saat itu ditengah perubahan jaman. Partisipasi masyarakat luaslah yang membuat seni ini menjadi spektakuler.

Tanti Johana, Arsitek, sedang menempuh studi lanjut di Fakultas Arsitektur Bergische Universität-Gesamthochschule Wuppertal – NRW, Jerman.
01 April 2003.