Archive for November, 2005

Jalan-Jalan Ke Kawasan Pecinan Pancoran Glodok – DARI GEDUNG TUA SAMPAI MAKANAN LANGKA

November 28, 2005

Kawasan Pancoran di Jakarta Barat adalah kawasan pecinan terbesar di Jakarta yang menyimpan aneka pesona belanja nan unik dan khas. Bagi yang doyan jalan-jalan sekaligus belanja, layak menyambangi kawasan chinatown ini. Rasakan sensasinya.

Degup kehidupan di kawasan Pancoran dan sekitarnya sudah dimulai sejak pagi. Dari gang-gang kecil yang terdapat di sebelah kiri sepanjang jalan Pancoran ke arah kawasan Petak Sembilan, menguar aroma sedap makanan dari gerobak serta warung-warung serta gerobak makanan.

Gang Kalimati adalah salah satu gang yang paling padat dipenuhi penjual aneka makanan yang mengundang selera. Dari makanan ringan yang sedap untuk mengganjal perut di pagi hari macam combro hangat, getuk, atau aneka bubur manis, sampai makanan berat seperti mi serta nasi, lengkap dengan bermacam lauk pauknya.

Suasana gang-gang ini sangat kental nuansa pecinannya. Terdengar beberapa penduduk sepuh berkomunikasi dalam bahasa leluhur. Selain itu, arsitektur bangunannya pun sangat mencerminkan nuansa melayu cina. Di beberapa kedai kopi khas Cina, berkumpul kaum bapak yang asyik ngobrol dan bercanda sambil yam cha. Yam cha adalah tradisi minum teh yang berasal dari Guangdong, Cina, dan masih bertahan sampai sekarang.

Hampir seluruh bangunan di sepanjang gang yang lebarnya tak lebih dari dua meter ini merupakan bangunan tua yang masih dipertahankan bentuknya sampai sekarang. Berjalan menyusuri gang ini, dapat ditemukan pula pedagang yang menjual buah-buahan yang sudah jarang ditemukan di kota besar. Yaitu buah delima dan buah duwet yang bila dimakan, membuat lidah berwarna ungu kehitaman itu.

Khusus buah delima, rupanya ada konsumen khusus. Ibu hamil yang akan menyelenggarakan upacara tujuh bulanan, akan mencari buah delima sebagai salah satu kelengkapan syarat upacara. “Saya sudah 30 tahun berjualan delima di sini. Tiap hari, ada saja pelanggan yang membeli. Malah banyak yang datang dari luar kota,” ujar Suwandi, lelaki asal Kudus ini dengan mata berbinar.

JUAL KURA-KURA
Kawasan Pancoran memang bukan tempat belanja mentereng seperti pusat-pusat perbelanjaan yang tersebar di seluruh penjuru Jakarta. Berjalan-jalan di kawasan ini pun kita harus siap dengan pakaian dan sepatu yang nyaman, karena harus berjalan kaki menempuh jarak yang lumayan jauh. Namun demikian, kawasan ini menyimpan banyak keistimewaan.

Coba saja mampir di Pasar Petak Sembilan. Di Gang Kalimati, banyak dagangan yang jarang ditemui di tempat lain. Mau tahu salah satunya? Kura-kura! Ya, kura-kura kembang dan parit berukuran lumayan besar ini banyak dicari oleh warga keturunan Tionghoa untuk upacara sembahyangan.

“Menurut kepercayaan, melepaskan kura-kura yang telah diberi nama di batok tempurungnya, bisa membuang sial,” kata Pak Jangkung, seorang juragan kura-kura yang pada bulan-bulan tertentu bisa menjual kura-kura sampai 100 ekor. “Bulan kemarin (Oktober, Red.), saya bawa 150 ekor, dan semua terjual habis.”

Pak Jangkung yang sehari-hari dibantu adiknya, Oib, serta beberapa saudaranya, menjual kura-kura seharga Rp 35.000 untuk ukuran kecil, serta Rp 50.000 yang besar. “Setahu saya, sih, ini jenis kura-kura yang tidak dilindungi. Saya juga enggak berani menjual kura-kura yang dilindungi, nanti bisa berurusan dengan yang berwajib,” tandas lelaki yang rajin memberi makan kura-kuranya dengan kangkung dan bayam ini mantap.

Di sepanjang Pasar Petak Sembilan juga akan ditemui bahan makanan yang susah ditemui di tempat lain. Sebut saja misalnya ikan halibut beku alias ikan salju.

PUSAT KEMBANG GULA
Menyeberang dari Pasar Pagi, ada Toko Gloria yang sudah berdiri sejak lebih dari 30 tahun lalu. Di toko ini bisa ditemukan makanan-makanan unik lain, semisal aneka jajanan Cina seperti kue bulan dan moci. Di lantai satu ada Toko Evergreen yang menjual sirip ikan hiu, sarang burung walet, serta perut ikan. Ketiga makanan ini tergolong makanan mahal dan sering dicari untuk dibuat sup.

Menurut A Kiat, pemilik Toko Evergreen, bahan makanan di tokonya tetap ramai oleh pembeli, meskipun harganya sama sekali tak bisa dibilang murah. Coba tengok sarang burung walet super yang dihargai Rp 5,250 juta untuk 1 onsnya, dan Rp 2,4 juta untuk yang biasa. Sirip ikan hiu yang masih berbentuk sirip utuh dibanderol Rp 6 juta/kilogram, sedangkan yang sudah dalam bentuk suwiran besar Rp 650-750 ribu/ons.

Jika ingin mencari makanan murah meriah, ada seorang penjual opak ketan khas Tangerang yang sangat gurih. Pedagang ini biasa menggelar dagangannya di samping Toko P&D Jap Heng Lay, yang menjual bebek asin yang diimpor langsung dari Hongkong.

Tak jauh dari sana ada pusat kembang gula impor. Sebelum dibongkar awal November lalu, pasar permen ini terletak tak jauh dari Pasar Pagi Lama. Sekarang para pedagang terpaksa mencar. Yang terbanyak ada di lantai bawah bagian belakang Chandra Building. Sjin Lin, pedagang aneka manisan dan permen dari Kios Manisan mengatakan, permen-permennya banyak dicari orang untuk dijual lagi maupun dikonsumsi sendiri. “Saya enggak bisa menghitung ada berapa jenis permen di kios saya ini, karena jumlahnya banyak sekali,” ujarnya.

Di sekelililing Sjin Lin memang terlihat aneka gundukan permen. Biasanya, kios-kios permen ini juga menjual “permen susu” yang akrab di lidah anak-anak sejak zaman dulu.

LEBIH MURAH
Kawasan pecinan juga akrab dengan toko-toko obatnya. Deretan toko-toko obat yang menjual aneka herbal kering khas Cina menjadi pemandangan menarik tersendiri di sepanjang Jalan Pancoran ke arah Jalan Pintu Kecil.

Tak jauh dari deretan toko obat itu bisa ditemui sebuah toko buku khusus berbahasa Cina. Toko buku bernama Mandarin Bookstore ini menjual buku-buku sejarah, sastra, manajemen, serta buku cerita anak-anak berbahasa Mandarin. Banyak mahasiswa Sastra Cina datang ke sini untuk mencari buku-buku yang susah dicari di tempat lain. “Biasanya sih mereka mencari kamus, karena kamus di sini lebih bervariasi,” papar Nur Rahman, koordinator supervisor toko buku yang juga memasok buku-buku ke toko buku besar di Jakarta ini.

Jika Anda penggemar aksesoris, jangan lewatkan untuk mampir ke Pasar Pagi Asemka. Di lantai dasar, deretan penjual beragam aksesoris impor siap dibeli dalam bentuk lusinan maupun eceran. Syarifah, seorang ibu yang didampingi oleh dua putrinya, Ella dan Eka, datang langsung dari Aceh khusus untuk berbelanja aksesoris di sini. Menurut Syarifah yang sudah berbisnis baju muslim dan jilbab di Banda Aceh sejak tahun 1980-an ini, belanja di Pasar Pagi Asemka lebih murah dibandingkan beberapa pasar lain. “Selain itu barangnya juga lebih bervariasi dengan mutu yang bagus.”

Nah, bagaimana, tertarik dan sudah memutuskan untuk menyusuri kawasan Pancoran dan sekitarnya? Ambillah waktu yang agak senggang, dan jangan lupa kenakan pakaian yang menyerap keringat serta sepatu yang nyaman untuk berjalan kaki.

Sumber: Tabloid Nova, No. 927 Thn. XVIII. 28 November 2005

Iklan

Pengrusakan atau Renovasi ?

November 25, 2005

Wajah gedung daerah
Hilangnya bagian belakang Gedung Daerah Tanjungpinang, akibat proses renovasi yang dilakukan sekarang sangat disayangkan oleh sejarahwan, Aswandi.

TG PINANG – Padahal bagian belakang itu merupakan sisa bagian yang asli, paska renovasi sekitar tahun 1970 yang menghilangkan keaslian bentuk depan bangunan kediaman residen kolonial Belanda, yang dibangun di awal tahun 1.800-an. Sebab, renovasi yang dilakukan tidak sesuai dengan bentuk aslinya. Karenanya, tanpa ragu dia mengatakan, proses renovasi yang dilakukan sekarang sebagai proses pengrusakan.

‘’Ini proses pengrusakan yang kedua kalinya, setelah renovasi serupa tahun 1970 yang menghilangkan keaslian bagian depan Gedung Daerah. Namun, masih menyisakan keasliannya di bagian belakang, yang sekarang juga dirusak. Ini sangat kita sayangkan,” kata Aswandi menjawab Batam Pos, Kamis (23/11).

Menurutnya, dia sangat mendukung proses renovasi bangunan bersejarah, yang disebut penulis Eropa sebagai Pride of Riow atau kebanggaan Riau. Dengan catatan, tidak menghilangkan bentuk aslinya. Sebab, bangunan ini dirancang dengan arsitektur bergaya asli romandonic atau campuran gaya Romawi, dan Yunani.

Selain kekhasan arsitekturnya, yang sama sekali tidak dapat ditepikan, adalah nilai sejarah bangunan ini yang menyertai sejarah Tanjungpinang, Riau, dan Indonesia. Karenanya, renovasi seharusnya dilakukan dengan sangat hati-hati. Bahkan, jika perlu dengan mencantumkan foto asli bangunan. Sehingga, hasilnya bisa nyaris serupa dengan aslinya.

Senada dengannya aktivis pemuda di Tanjungpinang, M Nur, yang juga Ketua LSM Forum Peduli Masyarakat Kota Tanjungpinang juga sangat menyayangkan proses renovasi yang terkesan serampangan itu. Menurutnya, bangunan ini harus dijaga kelestariannya.

Sepatutnya, ujarnya, kalau memang diperlukan ruangan yang lebih luas, jangan merusak bangunan asli. Karena, di sisi kanan, dan di sisi kiri bangunan Gedung Daerah masih ada bangunan lain yang bisa dikorbankan.

Termasuk, lapangan tenis yang dinilainya sudah tidak patut lagi berada di area Gedung Daerah tersebut.
‘’Kita bisa lihat renovasi Candi Borobudur yang dilakukan dengan sangat hati-hati, dan hasilnya nyaris serupa dengan aslinya. Renovasi yang dibantu dengan dana internasional itu menggambarkan, pentingnya pelestarian jejak sejarah yang ada,” tegas M Nur. (git)

Sumber: Batam Pos, Jumat, 25 November-2005

Benteng Portugis – Simbol Keperkasaan dan Kelembutan

November 22, 2005

SEORANG bocah berusia kurang dari 10 tahun berkacak pinggang di sebuah reruntuhan batu. Tak sekecap pun kata terucap dari mulutnya. Sejenak ia mengangkat dan menginjakkan kaki kanannya ke atas batu-batu tua.

Dari perbukitan itu, ia menyaksikan sebuah pulau, berikut selat samudera yang terlihat di antara semak dan pohon. Kalau melihat ke arah Laut Jawa, lokasi itu memang paling tinggi. Di situ, dia juga cukup jelas melihat perahu yang melintas dari arah mana pun.

Setelah merasa cukup dalam melihat situasi, bocah itu beranjak dari tempatnya dan menuruni satu demi satu undakan di hamparan pantai berbatu. Sangat artistik guratan yang ada di batu-batu itu. Karena gerusan air laut selama bertahun-tahun, bongkahan batu-batu besar itu layaknya diukir rapi. Hanya ada keindahan duduk di atas batu-batu dengan relief natural, sambil menikmati kelembutan ombak laut.

Di Benteng Portugis, bocah itu menikmati pemandangan. Sejarah mencatat tempat tersebut sebagai benteng pertahanan. Pada 1632, Sultan Agung, Raja Mataram bekerja sama dengan Portugis, penjajah pemula bumi nusantara, berencana membentengi wilayah dari ancaman Belanda. Setelah menaklukkan Jayakarta pada 1619, imperalis Belanda dianggap menjadi ancaman serius bagi Mataram. Dua kali, tepatnya pada 1628 dan 1629 Mataram menuai kekalahan dalam peperangan dari Belanda.

Ada satu strategi Sultan Agung yang tercatat dalam sejarah, bahwa kekuatan Belanda akan patah jika diserang lewat darat dan laut secara bersamaan. Sultan mencoba menggandeng Portugis untuk berlindung sekaligus menyerang kekuatan penjajah baru itu. Pada 1632 dibangunlah benteng, yang saat ini dikenal dengan Benteng Portugis, terletak di Desa Banyumanis Kecamatan Keling Jepara, sekitar 45 km arah utara pusat kota. Selain untuk markas, benteng itu cukup strategis untuk menjaga lalu lintas pelayaran ke kota Jepara yang kala itu menjadi bandar utama Mataram untuk kegiatan ekspor impor. Apalagi terdapat pulau Mandalika, sekitar 3 km arah utara benteng.

Hanya, Portugis akhirnya angkat kaki dari benteng dan memupus kerjasama dengan Mataram setelah pada 1642 Belanda berhasil mengambil alih Malaka, markas utama Portugis.

Sisa-sisa sejarah itu bisa dikenang dengan anda menjejakkan kaki di lokasi itu. Masih benteng dari susunan batu-batu yang melingkar di bukit itu. Sepintas, kesan sebagai lokasi kehidupan militer terasa. Puing benteng itu menjadi tempat yang menyejukkan dan terasa begitu lembut dengan panoramanya. Lihatlah anak-anak yang sedang liburan di tempat itu. Nyaman benar tempat itu untuk bermain layang-layang, berburu binatang-binatang laut yang berkelindan di antara bebatuan.

“Dari pagi sampai sore sangat indah menikmati obyek wisata disini. Suasana perbukitan dan pantai menjadi satu,”tutur Zuhdi, seorang pengunjung dari luar kota.

Harus Dibenahi

Pengunjung lain pun berkata masih banyak yang harus dibenahi untuk menyajikan kawasan wisata di daerah pedalaman itu. Jalan reguler cukup memadai, namun fasilitas di dalam kawasan masih perlu ditambah.

Bayangkan, di obyek wisata bersejarah itu hanya ada satu dua mainan untuk anak dan beberapa gazebo pelindung dari terik dan hujan.

Beberapa warung tampak menjajakan menu-menu ala kadarnya, dan belum ada yang khas dari sajian menu yang ditawarkan.

Gapura pintu masuk memang telah dibangun, namun beberapa ratus meter kanan kiri jalan menuju lokasi masih belum terawat dengan baik. Akan menjadi indah jika dekat pintu masuk itu bisa tampil memikat. Kelompok sadar wisata (pokdarwis) yang ada di dua desa penyangga, Desa Banyumanis dan Desa Ujungwatu bisa lebih diberdayakan untuk membuat kultur Benteng Portugis menjadi wisata andalan.

“Masyarakat desa penyangga memiliki potensi untuk berkembang. Seni dan budaya lokal Jepara mestinya bisa terjual di tempat bersejarah itu. Mereka saat ini sudah mulai sadar, dan akan terbuka untuk diajak maju,”kata Sukamto, pengelola Benteng Portugis.

Meski demikian, dia tak tahu apakah potensi itu akan benar-benar menjadi kenyataan, jika Benteng Portugis masih dianggap sebagai obyek wisata nomor sekian.

Monumen bidak catur mirip sebuah benteng di dekat pintu masuk itu harus menjadi inspirasi bagi dinas pariwisata untuk menyusun strategi untuk mengembangkan kawasan wisata tersebut. Namun demikian, ada banyak keterbatasan untuk pengembangan kawasan itu. “Yang bisa dilakukan sekarang harus segera dilakukan,”imbuh Sukamto. (Muhammadun Sanomae-61).

Sumber: Suara Merdeka, Selasa, 22 Nopember 2005

Bangunan Tua Merana

November 19, 2005

Padang, Kompas – Berbagai bangunan tua di Kota Padang, Sumatera Barat, saat ini tampak merana tanpa upaya mengoptimalkan fungsinya sebagai bangunan tua yang bernilai historis. Bangunan-bangunan tua berusia ratusan tahun itu tersebar di kawasan Kota Tua Padang.

Pengamatan Kompas, Rabu (16/11), puluhan bangunan tua di Kota Padang itu sebagian masih dibiarkan seperti aslinya, misalnya pertokoan di kawasan Kota Tua Padang di Pasar Mudik, Palinggam, dan sekitar Muaro Padang. Deretan pertokoan dengan konstruksi asli berusia ratusan tahun itu berdiri kokoh di tengah bangunan-bangunan modern.

Meski bangunan kuno itu masih berdiri kokoh, wajah asli pertokoan tampak makin kusam karena sama sekali tak ada pemeliharaan. Pertokoan tua di Pasar Mudik dan Palinggam misalnya, dibiarkan apa adanya tanpa perawatan.

Tidak dioptimalkannya fungsi bangunan tua di Padang, dikhawatirkan menghilangkan nilai-nilai historis bangunan tua itu sebagai salah satu warisan sejarah masa lalu Sumatera Barat.

Apalagi, bangunan tua di Kota Padang ini sebagian besar kini berfungsi sebagai gudang rempah-rempah, gudang cokelat, tempat penyimpanan gambir dan juga pertokoan. Keaslian bangunan tua di Padang terusik oleh adanya beberapa bangunan tambahan. (ZUL/NAL/AIK/BIL)

Sumber: Kompas, Sabtu, 19 November 2005

Revitalisasi Kawasan Pusaka di Berbagai Belahan Bumi

November 13, 2005

Penulis: Laretna T. Adishakti

Pembangunan kota tidak jarang meninggalkan kawasan tertentu yang justru mati tanpa sinar kegiatan. Meskipun tanda kehidupan yang pernah berkibar dan mengukir sejarah masih tersisa. Bangunan-bangunan pusaka kumuh tak terurus menjadi penanda.

Ketika ada upaya untuk revitalisasi—membangkitkan kembali vitalitas—banyak benturan dihadapi. Umumnya bermuara pada konsep yang tidak tepat.

Di antaranya: (a) sekadar pemolesan fisik belaka; (b) tidak menyentuh properti individu masyarakat dan roh kawasan; (c) terjebak paradigma bahwa pelestarian pusaka bertentangan dengan pengembangan ekonomi.

Persoalan menghidupkan kembali kawasan pusaka melalui kaidah pelestarian justru harus terpadu dengan pengembangan ekonomi. Di samping partisipasi penghuni yang mutlak perlu.

Konsekuensinya pasti membutuhkan waktu panjang. Karena, revitalisasi harus ditumbuhkan dengan akar yang kuat agar mampu berkembang secara berkelanjutan, sepanjang masa.

Berbagai revitalisasi yang telah sukses diupayakan lebih dari 30 tahun di banyak negeri bisa dipelajari. Ada enam pendekatan yang tersarikan menjadi tulang punggung upaya ini.

Pertama, adanya organisasi yang mengelola langsung revitalisasi. Melalui organisasi ini dibangun kesepakatan dan kerja sama antarkelompok dan perseorangan yang berperan serta tahapan pelaksanaan kegiatan di masa depan.

Bentuk organisasi beragam. Di Amerika Serikat, banyak yang langsung ditangani pemerintah setempat. Misalnya Kota Savannah, Georgia; kawasan Society Hill, Philadelphia; kawasan Dupont Circles, Washington, DC, dan lain-lain. Meskipun bermitra juga dengan LSM setempat dan pihak swasta.

Di pihak lain, sejak tahun 1977 Amerika Serikat memulai upaya revitalisasi kawasan komersial yang kemudian dikenal dengan istilah Main Street Program (MSP). Berawal dengan pilot projects di tiga lokasi, kini diaplikasikan lebih dari 1.600 komunitas, tersebar di berbagai negara bagian. Masing-masing komunitas memiliki organisasi pengelola yang independen dan profesional.

Di Jepang, revitalisasi kawasan pusaka umumnya langsung dikelola organisasi penghuni sendiri. Bahkan organisasi yang mengandalkan partisipasi masyarakat (machizukuri) ini telah memiliki jaringan secara nasional dan rutin mengadakan seminar tahunan. Dalam seminar, diadakan pula kunjungan dan dialog langsung dengan penghuni kawasan pusaka setempat.

Sementara revitalisasi Kota Lama Fez, Maroko, sebuah proyek nasional yang melibatkan banyak lembaga, nasional dan internasional, dipimpin oleh Kementerian Kebudayaan Maroko. Tetapi pengelolaan serta pelaksanaan teknis diserahkan kepada sebuah lembaga independen yang khusus dibentuk, yaitu Ader Fez.

Kedua, dokumentasi dan presentasi yang selalu terbarui. Adalah mutlak dilakukan inventarisasi secara menyeluruh potensi dan masalah kawasan. Termasuk fisik dan nonfisik, baik pusaka atau tidak.

Hasil inventarisasi disusun dalam dokumentasi yang terus diperbarui dan mudah diakses oleh publik. Dokumentasi menjadi dasar pertimbangan aksi revitalisasi. Termasuk memanfaatkan pula sebagai materi promosi. Seperti peta jelajah pusaka, web-site, pameran sepanjang tahun, dan lain-lain.

Di Fez, Maroko, lembaga independen Ader Fez menangani semua dokumentasi dan pembaruannya dengan menggunakan GIS. Di banyak negara, proses inventarisasi dan dokumentasi bisa mencapai waktu dua tahun lebih, bahkan program revitalisasi belum dilaksanakan.

Untuk promosi data kepada publik, American Express Foundation, New York, memberikan hibah pembuatan Peta Jelajah Pusaka (Heritage Trail Map). Penerima hibah antara lain kawasan lama Malaka; kawasan George Town-Penang; kawasan pusaka nJeron Beteng Kraton, Yogyakarta.

Ketiga, promosi. Pendekatan ini perlu dimulai sebelum revitalisasi. Awalnya ditujukan pada masyarakat lokal, pemerintah, dan berbagai pihak terkait. Promosi dan pemasaran selanjutnya kepada pembeli, pengembang potensial, pelaku bisnis baru, dan wisatawan.

Seperti promosi dalam revitalisasi Kota Lama Fez, Maroko. Salah satunya melalui Festival Musik Sakral Dunia yang rutin diselenggarakan di sana setiap tahun. Dihadirkan kelompok musik sakral dari berbagai negara. Dan tak pelak, banyak wisatawan berdatangan pula.

Minat pihak luar terhadap pusaka Fez akan mendorong rasa memiliki bagi warganya. Karena sebelumnya banyak penduduk tidak menyadari akan nilai budaya yang terkandung di kotanya. Mengingat sepertiga dari 150.000 keluarga yang bermukim di Kota Lama ini merupakan golongan berpenghasilan rendah. Kekumuhan ada di sana-sini. Padahal, tahun 1976 kota ini telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Kota Pusaka Dunia.

Keempat, mewujudkan roh/kegiatan kawasan pusaka yang akan membuat vitalitas kawasan tumbuh kembali. Bahkan, bila perlu mencangkokkan roh baru. Ini merupakan hakiki upaya revitalisasi yang justru sering terabaikan.

Salah satu contoh revitalisasi kawasan pusaka pusat kota Nagahama, Jepang. Kerajinan gelas yang sebelumnya tidak ada di kawasan ini justru dihadirkan dan digelorakan sebagai citra industri kota yang baru. Sebuah komoditas yang bernilai seni dan jual tinggi serta, tanpa merusak, mampu mengisi bangunan dan kawasan pusaka yang sebelumnya terbengkalai. Kerajinan ini sekarang menjadi sumber utama pendapatan masyarakat.

Singapura sangat gigih dalam mewujudkan kembali roh kawasan-kawasan revitalisasinya. Meskipun banyak kegiatan baru yang berlebihan dicangkokkan.

Kelima, meningkatkan rancangan fisik kawasan. Dilaksanakan melalui rehabilitasi bangunan pusaka dan membangun desain pengisi (infill design) yang tepat. Juga memformulasikan arahan desain (design guidelines) tanpa merusak kualitas tatanan yang ada. Justru meningkatkan serta mewadahi kebutuhan kontemporer.

Umumnya, revitalisasi kawasan didukung adanya lembaga struktural yang mengelola penampilan fisik kawasan. Di antaranya dalam bentuk Komisi Pertimbangan untuk Kawasan Pusaka (Historic District Commission) dan unit pelaksana teknik pelestarian di bawah Dinas Tata Kota dan Bangunan.

Keenam, mengembangkan dan menciptakan ekonomi kawasan setempat melalui berbagai terobosan dan kesempatan baru tanpa merusak tatanan kehidupan lokal.

Umumnya, revitalisasi yang dikendalikan secara benar dalam waktu panjang kini merupakan daerah bernilai ekonomi tinggi. Padahal, rata-rata 30-40 tahun lalu merupakan daerah kumuh yang dihindari orang.

Menanggulangi kemiskinan

Revitalisasi, salah satu tujuannya, adalah juga untuk menanggulangi kemiskinan, seperti di Kota Lama Fez. Untuk itu, sumber daya manusia harus ditingkatkan pula. Sejalan dengan revitalisasi Kota Pusaka di Maroko ini dibuka Community Colleage (tiga tahun) bidang teknik pelestarian pusaka arsitektur. Dan, perguruan tinggi bidang arkeologi, arsitektur, dan ekonomi yang sudah ada di Maroko membuka pelajaran khusus pengelolaan pusaka budaya.

Pelajaran lain dari MSP di Amerika Serikat yang hampir 30 tahun dijalankan. Kini, secara kumulatif rerata komunitas akan menerima 39 dollar AS dari setiap 1 dollar AS ditanamkan. Memberikan 226.900 lapangan kerja baru dan 56.300 bisnis baru diciptakan. MSP menjadi salah satu strategi pengembangan ekonomi yang sangat berhasil di AS.

Mencermati berbagai revitalisasi kawasan pusaka tersebut, keenam pendekatan di atas perlu dijalankan secara simultan dan berkelanjutan. Meskipun perlu dipahami bahwa setiap kasus memiliki keunikan dan permasalahan masing-masing yang solusinya akan berbeda-beda.

Laretna T Adishakti Pengajar Jurusan Arsitektur dan Perencanaan FT UGM dan Penggiat Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (Indonesian Heritage Trust)

Sumber: Kompas, Minggu, 13 November 2005.