Archive for April, 2005

ZIARAH ARCHITECTOUR CIREBON DAN SEKITARNYA

April 16, 2005

IAI DKI Jakarta merencanakan

ZIARAH ARCHITECTOUR CIREBON DAN SEKITARNYA

pada Kamis 5 Mei – Sabtu 7 Mei 2005 dengan tujuan:

Linggarjati, Cibulan, Cigugur (situs purbakala, kampung masyarakat Madrais, gereja), Masjid Agung (abad ke-15, masjid tertua di Jawa Barat), Bank Indonesia, Pabrik BAT (Fermont-Cuypers), Pabrik Gula Sindang Laoet,
bangunan-bangunan kolonial lain di kota Cirebon, Keraton Kasepuhan (1529), Keraton Kanoman (1510), Keraton Kacirebonan (1800), Kampung pengrajin batik Trusmi, Balagi Rattan, toko oleh-oleh Shinta, dan lain-lain.

Hotel:
Tirta Sanita Spa Resort, Kuningan
Bentani, Cirebon

Biaya:
Anggota IAI: Rp 700.000
Anggota keluarga IAI/ mitra Rp 800.000

Pendaftaran dan pembayaran:
selambat-lambatnya tanggal 28 April 2005 di Sekretariat IAI
JDC, Lantai 7, Jl. Gatot Subroto, no.53, Jakarta 10260,

atau melalui:
tel: 530 4719
fax.: 530 4711
sms: 0851 424 3711
email: diskusi_iai@telkom.net

Keterangan lebih lanjut: Nuri, Rika di tel 530 4719.

Tempat terbatas.

No. rekening:
Bank Mandiri, Cabang JDC, Rek. No. 117-0006925 a/n IAI DKI Jakarta
BCA, Cabang Batavia Rek.no. 546-0301531 a/n Bambang Eryudhawan dan Ani I. Gunawan

Bukti slip transfer di-faks ke no. 530 4711

Nilai Kumulatif untuk anggota IAI: 10,5*
* akan dikonfirmasikan

Iklan

Telah diluncurkan buku “The Ministry of Finance Building-The White House of Weltevreden”

April 15, 2005

Telah diluncurkan buku “The Ministry of Finance Building-The White House of Weltevreden”.

Berisi tentang sejarah dan arsitektur bangunan bersejarah Gedung Departemen Keuangan (ex Daendels Palace), Jl.Lapangan Banteng Timur no.2-4, Jakarta Pusat, serta mengenai kawasan bersejarah Weltevreden (sekarang Lapangan Banteng). Di dalamnya terdapat kumpulan foto-foto kuno serta dokumen gambar-gambar teknis (bestek) tua dari koleksi dokumen Arsip Nasional RI. Selain itu juga menceritakan tentang proses kegiatan dokumentasi bangunan ini oleh tim Pusat Dokumentasi Arsitektur, yang dilakukan pada Oktober 2004-April 2005. Semua teks/narasi dalam bahasa Inggris.

Editor buku: Dr. Ir. Danang Priatmodjo, Penulis: Ir. Nadia Purwestri, Ir. Devina S.Raditya Msc. Up., Ir. Febriyanti S. & Ir. Mireille van Reenen. Translator: Chandra Mualim, Fotografer: Charles.

Ukuran buku 19x22cm cover berwarna 230gr laminating doft, 64 halaman berwarna kertas art paper.
Harga: Rp. 70.000,- (umum) dan Rp. 50.000,- (mahasiswa), harga tidak termasuk ongkos kirim untuk dalam dan luar kota.

Selain itu juga dijual 1 set postcard ukuran 10x15cm, 6 lembar, kertas cover 230gr laminating doft, hitam putih. Harga Rp.10.000,- (tidak termasuk ongkos kirim).

Pemesanan dapat dilakukan ke: Pusat Dokumentasi Arsitekur, jl. Ridwan II/21 Patal Senayan, Jakarta 12210, Tel/fax (021) 57992602 atau e-mail ke: pdai_2005@cbn.net.id dengan sdri. Esti pada jam kerja.

Menteng dan Kebayoran Baru, Nostalgia Kota Taman Tropis

April 12, 2005

Pada tahun 2004, untuk kesekian kalinya, Kota Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan meraih penghargaan Bangun Praja kategori Kota Terbersih dan Terindah di Indonesia (dulu populer dengan sebutan Adipura). Tak dapat dimungkiri, salah satu faktor penentu keberhasilan kedua kota itu meraih predikat tersebut adalah keberadaan kawasan Menteng di Jakarta Pusat dan Kebayoran Baru di Jakarta Selatan.

Menteng merupakan kota taman tropis pertama di Indonesia, yang dirancang arsitek Belanda, PAJ Mooejen dan FJ Kubatz (1913), (Adolf Heuken dan Grace Pamungkas, 2001). Sedangkan, Kebayoran Baru adalah kota taman tropis pertama di Indonesia karya arsitek lokal, Moh Soesilo (1948).

Kota Jakarta sebenarnya identik dengan pohon, sunda kelapa (Cocos nucifera). Kemudian dikenal kawasan Cempaka Putih (Michelia alba) dan Karet (Ficus elastica) di Jakarta Pusat, Kemang (Mangifera caecea) di Jakarta Selatan, Kelapa Gading (Cocos capitata) dan Kapuk (Ceiba petandra) di Jakarta Utara, Kayu Putih (Eucalyptus alba), Kebon Pala (Myristica fragrans) di Jakarta Timur, dan Kosambi (Schleichera oleosa) di Jakarta Barat. Begitu pula dengan kawasan Menteng (Baccaurea recemosa dan Baccaurea dulciss Muell) dan Kebayoran atau Kebayuran (bayur = Pterospermum javanicum).

Hingga kini eksistensi pohon telah menjadi identik dengan nama kawasan- kawasan itu. Namun ironisnya, penebangan pohon kota yang semena-mena memusnahkan pohon sebagai identitas karakter lanskap kawasan yang memakai nama-nama pohon tersebut.

Berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, Pasal 1 (1) disebutkan, benda cagar budaya adalah benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak yang berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya atau sisa-sisanya, yang berumur sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, atau mewakili masa gaya yang khas dan mewakili masa gaya sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.

Kota taman tropis Menteng (87 tahun) dan Kebayoran Baru (57 tahun) dapat dikategorikan sebagai kawasan lanskap cagar budaya yang harus dilindungi, dilestarikan, dan dikembangkan secara hati-hati. Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta secara berurutan Nomor D.IV-6098/d/33/1975 untuk Menteng dan Nomor D.IV-6099/d/33/1975 untuk Kebayoran Baru telah menetapkan sebagai kawasan pemugaran. Hal itu diperkuat dalam Perda No 6/1999 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Jakarta 2000-2010 yang juga menetapkan sebagian besar kawasan Menteng dan Kebayoran Baru sebagai kawasan perumahan/hunian serta didukung Perda No 9/1999 tentang Pelestarian dan Pemanfaatan Lingkungan Bangunan Benda Cagar Budaya.

Artinya, segala macam kegiatan preservasi, konservasi, restorasi, rehabilitasi, rekonstruksi, renovasi, dan atau revitalisasi, apalagi untuk kegiatan komersial di kawasan Menteng dan Kebayoran Baru, harus didahului kajian analisis mengenai dampak lingkungan dan sosial, serta studi kelayakan konservasi dan pengembangan kota yang mendalam dan independen.

Menteng dan Kebayoran Baru merupakan adaptasi kota taman bergaya Eropa (Belanda) dalam iklim tropis sehingga sering disebut sebagai kota taman tropis yang banyak dikembangkan oleh Thomas Karsten di Kota Bogor, Bandung, Malang, Semarang, Palembang, Padang, Medan, hingga Banjarmasin. Arsitek Moh Soesilo, yang merancang Kebayoran Baru, adalah salah satu muridnya. Menteng dan Kebayoran Baru seharusnya dilindungi dan dilestarikan sebagai contoh warisan budaya kota taman tropis di Indonesia.

Kota taman tropis memiliki konsistensi hierarki jalan dan peruntukan lahan yang jelas serta didominasi ruang terbuka hijau (RTH) lebih dari 30 persen dari total luas kota. Sistem jaringan RTH kota sudah memiliki struktur dan fungsi sendiri-sendiri, taman/kebun rumah, taman lingkungan, taman kota, lapangan olahraga, taman makam, hutan kota, dan daerah tangkapan air (situ/waduk/danau) yang dihubungkan oleh koridor pepohonan besar jalur hijau jalan, bantaran rel kereta api, saluran tegangan tinggi (sutet), dan jalur biru bantaran kali yang saling menyambung tak terputus. Fasilitas ruang publik dengan konsep taman-taman penghubung (connector park) tersebar sistematis, terencana, dan saling berhubungan.

Kota taman Menteng terdiri atas rumah induk di tengah kapling dengan dikelilingi taman/kebun luas, 23 taman lingkungan (Taman Kudus, Taman Panarukan, Taman Kodok, dan seterusnya), taman kota (Taman Suropati, Taman Tugu Tani), situ (Situ Lembang) dan lapangan olah raga (Lapangan Bola Persija), yang dihubungkan oleh koridor pepohonan besar, jalur hijau jalan dengan median dan/atau pedestrian lebar (Jalan Imam Bonjol, Jalan Diponegoro, Jalan Teuku Umar, Jalan Kebon Sirih), serta jalur biru bantaran kali (sungai ) yang saling menyambung tak terputus.

Menteng sangat kaya dengan arsitektur bangunan yang serasi dengan lingkungan dan unsur tropical deco-nya. Sayang perusakan bangunan merambah di berbagai lokasi seolah tak terkendali, seperti di daerah Sam Ratulangi-Wahid Hasyim-HOS Cokroaminoto.

Kota taman Kebayoran Baru juga memiliki taman/kebun juga cukup luas, taman kota (Taman Puring, Taman Patung Tumbuh Kembang, Taman Langsat, Taman Leuser, Taman Barito, Taman Christina Marta-Tiahahu, Taman PKK), taman makam (TPU Blok P yang sudah digusur, TPU Kramat Pela, TPU Tanah Sebrang), lapangan olahraga (Blok S, Al Azhar), jalur hijau jalan dengan median dan/atau pedestrian (Jalan Senopati, Jalan Sriwijaya, Jalan Brawijaya), dan jalur biru bantaran kali (Sungai Grogol di Barat, Sungai Krukut di Timur) saling menyatu dengan didominasi deretan pohon besar berusia puluhan tahun yang harus dilindungi.

Konsep kota taman tropis seperti inilah yang secara konsisten dikembangkan Kota Singapura, Kuala Lumpur, London, atau Melbourne, tetapi justru ditinggalkan pengelola Kota Jakarta, Bandung, Bogor, Malang, dan hampir semua kota besar di Indonesia. Maka, tak heran jika kini berbagai kota besar mengalami degradasi kualitas lingkungan. Krisis air bersih, krisis udara bersih, intrusi air laut, abrasi pantai, amblasan tanah, banjir, dan kebakaran datang silih berganti mendera kota.

Menteng dan Kebayoran Baru memiliki kekayaan warisan budaya arsitektur bangunan sederhana, modern, dan tropis yang semestinya harus dilindungi. Berbagai tipe bangunan hunian dengan berbagai ukuran dan gaya berbeda melatarbelakangi sejarah panjang kota taman ini.

Perubahan peruntukan lahan diperparah dengan perubahan fungsi bangunan rumah menjadi tempat usaha secara tak terkendali dan telah merusak pembagian kapling (blok-blok) dan arsitektur bangunan khas yang telah direncanakan sebelumnya. Bangunan-bangunan baru tumbuh menggusur bangunan lama dengan arsitektur yang tidak selaras dengan bangunan lama di sekitarnya.

NIRWONO JOGA Ketua Kelompok Studi Arsitektur Lansekap Indonesia (KeSALI)

Sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0504/12/metro/1676614.htm

Bangunan Kuno Akan Dijadikan Objek Wisata

April 11, 2005

PADA 11 April 2005, Kota Magelang sudah berusia 1099 tahun. Apa program Pemkot Magelang di usia yang sudah lanjut itu? Sesuai dengan predikat kota tersebut sebagai kota jasa, maka faktor pelayanan kepada masyarakat termasuk warga luar kota yang hanya singgah sebentar untuk belanja, berwisata, dan lain-lain tetap diutamakan.

Setelah jasa rumah makan, hotel, objek wisata sudah berkembang meski belum maksimal, Pemkot mulai tahun ini membidik bangunan-bangunan kuno sebagai salah satu objek untuk dikunjungi wisatawan. Harapannya, sebagian dari pengunjung objek wisata Taman Kiai Langgeng yang berjumlah 800.000 per tahun, bisa mampir melihat bangunan-bangunan kuno tersebut.

Ketua PHRI Firman Hidayat menuturkan, jumlah hotel bintang di Kota Magelang hanya empat buah, sedangkan hotel melati 11 buah. Tingkat hunian rata-rata pada kuartal pertama 2005 (Januari-Maret) 50-60%.

Meski Kota Magelang dekat dengan Candi Borobudur, ternyata wisatawan asing yang menginap masih rendah. Kebanyakan mereka menginap di Yogyakarta.

Dari empat hotel bintang masing-masing Hotel Puri Asri bintang 4, Hotel Sriti bintang 3, Hotel Trio dan Hotel Borobudur masing-masing bintang 2, wisatawan mancanegara yang menginap hanya delapan persen.

Dimulai Abad XIX

Kepala Kantor Informasi dan Kehumasan Pemkot Magelang Lukman Zakaria SH CN menuturkan, perkembangan kota tersebut dimulai abad XIX dengan dibangunannya pusat Kota Magelang di sekitar kawasan alun-alun. Antara lain Masjid Agung, gereja, kantor bupati, sekolah pamongpraja Mosvia (sekarang dipakai Kantor Polresta).

Tahun 1817 dibangun rumah tinggal untuk Residen Kedu (sekarang Kantor Bakorlin II). Hal itu memacu tumbuhnya sarana lain seperti jalan raya, rel kereta api, Hotel Lotze, kompleks tangsi militer Belanda, rumah sakit (sekarang RS Dr Sudjono).

Kawasan permukiman yang berciri arsitektur Indis adalah kawasan permukiman Kwarasan, dengan arsitek Ir Herman Thomas Karsten. Dia juga merancang bangunan water tower (menara air) di alun-alun, serta merancang kawasan permukiman di Semarang, Malang, dan kota-kota lain.

Untuk kepentingan itu, Pemkot secepatnya akan membuat perda untuk melindungi bangunan-bangunan kuno sekaligus melakukan identifikasi. Jangan sampai tambah tahun bangunan kuno yang hilang makin bertambah. Hilangnya Hotel Lotze yang sekarang berdiri Matahari Departmen Store ataupun bangunan kuno lain seperti rumah tinggal, jangan sampai terulang lagi. (Doddy Ardjono-76s)

Sumber: Suara Merdeka, 11 April 2005

Ella Ubaidi: 30 Tahun Revitalisasi Kota Tua Cuma Sebatas Konsep

April 11, 2005

INDONESIA tampaknya negara yang seakan hanya memiliki sejarah politik. Di luar itu, misalnya sejarah sosial, lingkungan, dan budaya, seolah tidak pernah ada. Tidak heran kalau berbagai public space (ruang publik), historic distric (kota bersejarah) yang di dalamnya ada Kota Tua, tak terperhatikan.

KAWASAN Kota Tua Jakarta alias Oud Batavia (Batavia Lama) yang membentang seluas 139 hektar, dari Pelabuhan Sunda Kelapa, Kampung Luarbatang di ujung utara, Jalan Petakbaru dan Jembatanbatu di selatan, hingga Olimo. Keberadaannya sampai saat ini diibaratkan lampu yang sudah padam. Kumuh dan tak terurus, menjadi tempat tinggal para pengemis dan gelandangan.

Kawasan yang pernah menjadi pusat perdagangan dan pergudangan itu seolah tidak ada lagi. Lebih dari 30 tahun, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mencanangkan program revitalisasi, tetapi sayang pelaksanaannya hanya berupa konsep di atas kertas saja.

Seiring berganti-gantinya gubernur, revitalisasi tidak pernah berujung. Sekarang muncul kembali ide menata kawasan Kota Tua yang direncanakan bersatu dalam revisi Rencana Tata Ruang Wilayah pada tahun 2005. Apakah revitalisasi itu akan berhasil kalau ternyata pandangan tentang Kota Tua tidak pernah berubah dari sebatas fisik bangunan dan pelestariannya dan bukan penataan lingkungan dan sosialnya?

Berkaitan dengan hal itu, seorang aktivis yang menggeluti masalah Kota Tua sekaligus memiliki sebuah bangunan tua di Kali Besar, Jakarta Barat, Ella Ubaidi, angkat bicara. Wanita kelahiran Jakarta itu memang tak memiliki latar belakang pendidikan khusus pelestarian kota tua maupun studi tentang sejarah dan arsitektur.

Ia adalah sarjana di bidang bisnis administrasi lulusan sebuah universitas di Kansas City, master marketing (pemasaran) dari Kansas City, dan sekarang sedang mengambil program doktor marketing bidang pertanian di Oregon State University. Berikut petikan wawancaranya:

Apa sebenarnya yang disebut kawasan Kota Tua Jakarta?

Dalam hitungan sejarah, Kota Tua mewakili wajah Jakarta pada masa awal bercokolnya VOC, masa awal pembangunannya sebagai kota kolonial bernama Batavia. Kota yang mulai dibangun pada tahun 1619 oleh Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Jenderal VOC pertama. Kawasan ini sekarang terletak di dua kotamadya, Jakarta Barat dan Jakarta Utara. Selain itu, berada di tiga kecamatan, yaitu Penjaringan, Tamansari, dan Tambora, serta meliputi 11 kelurahan.

Bagaimana perkembangan yang terjadi saat ini?

Kawasan itu ibarat orang yang sudah sakit parah, tetapi tak pernah diobati. Kalaupun diobati, hanyalah oleh diri sendiri.

Kenapa itu bisa terjadi?

Selama ini orang salah menafsirkan Kota Tua. Yang dilihat selama ini, Kota Tua hanya dari fisik bangunannya. Padahal sebenarnya, Kota Tua itu merupakan kawasan kota bersejarah dan merupakan sebuah lingkungan hidup yang memiliki sebuah sumber daya alam dalam bentuk culture heritage. Di dalamnya menyangkut persoalan sosial, ekonomi, dan budaya. Selama kita hanya melihat dari kacamata konservasi bangunan, itu tak mungkin berhasil.

Yang sudah dilakukan Pemprov DKI dalam melindungi kawasan bersejarah itu?

Sewaktu Ali Sadikin, telah dikeluarkan surat keputusan mengenai program revitalisasi kawasan itu. Namun, hingga kini belum berjalan seperti yang diharapkan. Selama lebih dari 30 tahun program itu dicanangkan, tetapi tidak menghasilkan apa-apa. Program yang dibuat hanyalah sebatas konsep di atas kertas. Bisa dikatakan, Pemprov DKI gagal dan tidak mampu berbuat apa-apa untuk melindungi dan melestarikan kawasan Kota Tua.

Artinya, Pemprov DKI gagal merevitalisasi Kota Tua?

Birokrasi yang terlalu panjang dan berbelit-belit. Terlalu banyak tangan mengaturnya. Belum lagi pejabat yang selalu berganti-ganti. Setiap ganti pejabat, ganti pula programnya. Malah lebih parah lagi, peraturan yang dibuat tak bertahan lama dan mengikuti keinginan pejabat yang menjabat. Itu karena tidak konsistennya pemerintah pada aturan yang dibuatnya sendiri.

Di mana letak permasalahan sehingga Pemprov DKI gagal merevitalisasi Kota Tua?

Seribu satu macam persoalan yang tak kunjung terpecahkan dalam menangani Kota Tua. Entah itu soal kebersihan dan polusi kota. Siapa yang mau datang untuk melihat sesuatu yang kotor? Belum lagi masalah “segitiga setan” yang belum terpecahkan, yakni pedagang kaki lima (PKL), parkir, dan lalu lintas.

Persoalan itu telah bertahun- tahun dan tidak pernah tuntas karena tidak ada kesungguhan dan kemauan keras dari pemerintah. Selama itu belum terselesaikan, saya yakin revitalisasi dan penataan kawasan Kota Tua tak pernah akan berhasil.

Selain masalah di atas, apa lagi yang harus dilakukan agar bisa menghidupkan Kota Tua itu?

Penanganan Kota Tua merupakan masalah krusial. Permasalahan Kota Tua harus disikapi bukan sekadar demen (suka). Saya juga bingung kok revitalisasi tak pernah berhasil. Setelah menelitinya sampai bertahun-tahun dan melakukan investigasi serta bertemu dengan sejumlah pakar, akhirnya ditemukan jawabannya: Pemerintah harus memperbaiki kualitas lingkungan, termasuk di dalamnya sosial dan budaya, bukan sekadar arsitektur bangunan.

Lantas, apa yang bisa dilakukan oleh pengusaha dan pemilik gedung atas “tidak diperhatikannya penataan kawasan itu?

Yang sudah terbentuk adalah “Jakarta Old Town-Kotaku”. Tetapi, komunitas pemilik dan pengusaha juga membentuk paguyuban warga pemilik atau pengusaha Kota Tua. Karena komunitas inilah merupakan orang pertama yang beraktivitas dan bertanggung jawab atas kawasan itu.

Apa yang sudah dilakukan Jakarta Old Town-Kotaku dan paguyuban warga pemilik atau pengusaha Kota Tua?

Membuat program-program yang mem-pressure Pemprov DKI agar melakukan perbaikan lingkungan. Contohnya, meminta penataan PKL, terutama di kawasan Glodok. Meminta penataan parkir dan pengaturan lalu lintas.

Hasilnya?

Sudah enam bulan sejak kami usulkan, tak ada tindakan yang signifikan. Memang ada penertiban PKL, tetapi setengah hati. Penertiban tidak serius sehingga PKL balik lagi, begitu seterusnya. Parkir juga masih semrawut dan arus lalu lintas tetap macet parah.

Melihat kenyataan itu, apa tindakan selanjutnya dari paguyuban sendiri?

Didukung atau tidak, program revitalisasi akan jalan terus, antara lain peningkatan kualitas lingkungan dan masalah sosial. Yang perlu kita konservasi atau revitalisasi dari kawasan itu adalah lingkungannya, dengan melihat dari histori distrik itu. Yang harus diingat, Kota Tua memiliki nilai culture heritage yang tidak tergantikan. Jadi, bukan fisik bangunan.

Konservasi lingkungan yang seperti apa?

Mengangkat kembali nilai historis kawan itu. Bukan cuma bangunan, tetapi kultur budaya etnis. Harus diakui, di kawasan itu terdapat peninggalan bangunan tua. Namun, harus diingat juga di sini exsist komunitas China pertama, Portugis, Arab, dan Belanda.

Maksudnya?

Banyak orang datang ke sini hanya untuk bernostalgia. Melihat komunitas budaya etnisnya masing-masing. Etnis China datang ke Glodok, Pinangsia, Petak Sembilan. Sementara etnis lainnya lebih tertarik menikmati bangunan tua peninggalan Belanda dan Portugis. Seperti orang datang ke Gedung Fatahillah hanya untuk duduk serta minum kopi dan teh. Sekarang itu sudah tidak ada lagi. Semuanya hilang.

Apa yang diharapkan pemilik gedung?

Kalau pemerintah tidak lagi sanggup menata kawasan Kota Tua, serahkan saja kepada pengusaha dan komunitasnya. Pemprov DKI tinggal menyewakan asetnya berupa infrastruktur.

Solusinya?

Masalah Kota Tua harus jadi pilihan semua pihak. Selanjutnya, menyikapi penting tidaknya pelestarian itu sendiri. Jika dinilai penting, apa yang harus kita bikin. Mulai dari nol juga tak apa-apa. Namun, kalau dianggap itu tak penting, kita sewa, kelola. Sayang kalau kawasan itu hilang. Tak ada gantinya.

Jadi, apa yang harus dilakukan agar Kota Tua menggeliat lagi?

Pemerintah harus menangkap bahwa jika menghadapi Kota Tua harus melihat masalah konservasi budaya, ekonomi, dan sosial. Selanjutnya ini sebagai suatu lingkungan hidup yang perlu diberdayakan. Kota Tua harus menjadi masalah sosial yang ditinjau dari lingkungan hidup dan kesejahteraan sosial. Harus masuk dalam program Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Ke depan, mereka mau apakan kawasan seluas 139 hektar itu. Jika tidak, sampai kapan pun revitalisasi Kota Tua tidak akan terjadi. Ini Ibu Kota, metropolitan lagi! Tidak mungkin cuma menjadi pekerjaan rumah bagi Pemprov DKI. Tetapi harus menjadi masalah nasional. Makanya, lingkungan dan sosial harus jadi program Bappenas.

Pemerintah mau mengembangkan kawasan itu menjadi apa? Menjadi kota sejarah atau apa? Kalau mau jadi kota bersejarah, seharusnya bisa memacu konservasi atau revitalisasi seperti halnya hutan, terumbu karang. Mengonservasi Kota Tua itu sama halnya dengan hutan dan terumbu karang. Haknya sama harus dikonservasi. Kota Tua kalau hilang pasti tak akan balik lagi. Sama dengan terumbu karang, kalau hilang tidak akan tumbuh lagi.

Solusinya?

Harus ada rencana satu kawasan. Jangan lagi terkotak- kotak. Kenapa? Supaya mengelolanya menjadi lebih gampang. Apakah dikelola wilayah Jakarta Barat atau Utara, yang terpenting harus bisa dikelola dalam satu manajemen. (Pingkan Elita Dundu)

Sumber: Kompas, Senin, 11 April 2005

Bangunan Cagar Budaya Dibongkar untuk Mal

April 10, 2005

TEMPO Interaktif, Jakarta: Balai Peninggalan Purbakala Serang memastikan dibongkarnya benda cagar budaya berupa Markas Kodim 0506 Serang. Lembaga itu melaporkannya kepada Asdep Urusan Purbakala dan Permuseuman di Jakarta.

“Kami harus menyelamatkan benda cagar budaya itu. Paling tidak, sesuai dengan rekomendasi kami, bagian depan seluas 110 meter persegi gedung tersebut tidak boleh dibongkar,” kata Zakaria Kasmin, pejabat di BPPS Serang, Minggu (10/4).

Pembongkaran gedung itu dipastikan setelah Pemerintah Kabupaten Serang mengeluarkan surat izin mendirikan bangunan untuk PT Mandiri Maju Sejahtera. Perusahaan itu akan membangun mal di lokasi bangunan tersebut. IMB bernomor 644/SK.668/SIMB/DTRB tertanggal 31 Maret 2005 itu dikeluarkan oleh Kepala Dinas Tata Ruang dan Bangunan Kabupaten Serang, Muis Anwar.

Menurut Zakaria, PT MMS dipastikan tidak akan mematuhi rekomendasi dari BPPS yang meminta bagian depan seluas 110 meter persegi di Markas Kodim dilestarikan. Soalnya, dalam rencana pembangunan yang sudah disetujui Dinas Tata Ruang dan Bangunan Serang, semua bangunan itu diratakan.

Sementara itu, Kepala DTRB Serang, Muis Anwar yang dihubungi melalui telepon tidak mau berkomentar soal IMB yang diterbitkannya. “Maaf saya sedang sakit, jangan ganggu saya,” katanya.

Menurut Zakaria, markas Kodim 0602 merupakan sebagian dari arsitektur kota lama dan salah satu bangunan bersejarah lainnya yang mengelilingi alun- alun Serang. Catatan dari BBPS Serang menyebutkan, gedung itu dibangun pada 1800, ketika Banten dijajah Belanda.

Saat itu, Belanda memindahkan pusat pemerintahan dari Banten (sekarang menjadi nama desa) ke Kota Serang. Bangunan itu merupakan bagian dari konsep kota dengan titik pusat kota berupa alun-alun. Gedung itu digunakan oleh para pejabat Belanda. Dalam perjalanan waktu, gedung itu beralih fungsi menjadi Hotel Voos.

Pergerakan perjuangan kemerdekaan menyebabkan pemilik dan fungsi bangunan berubah-ubah. Akhirnya BKR (Badan Keamanan Rakyat) RI menggunakan gedung itu untuk markas perjuangan. Setelah Indonesia meredeka, gedung itu tetap digunakan TNI untuk Markas Kodim 0506 Serang. Faidil Akbar

Sumber: Tempo Interaktif Minggu, 10 April 2005

UNDANGAN NGERUMPI PELESTARIAN

April 6, 2005

Dalam rangka melanjutkan diskusi bulanan BPPI mengenai pelestarian, kami mengundang anda untuk hadir dan berdiskusi interaktif secara langsung antar peserta & pembicara pada acara diskusi pelestarian mengenai ” Persiapan Anugerah Kebudayaan”, dengan pembicara Bp. Dr. Ark. Djauhari Sumintaradja. Dipl.Bldg.Sc dari Pusat Dokumentasi Arsitektur (PDA),Jakarta dan “Beberapa Masalah Pelestarian di Indonesia” oleh Corr Passchier dari PAC Netherland.

Acara ini akan diselenggarakan pada :

Hari/Tanggal : Rabu, 13 April 2005
Waktu : Pukul 16.00 – 18.00 WIB
Tempat : Ruang Rapat Asisten Deputi Kepurbakalaan & Permuseuman Lt.11
Blok E Komp. Diknas (sebelah Ratu Plaza)
Jl. Jend. Sudirman, Jakarta

Peserta diskusi terdiri dari instansi pemerintah, institusi kampus, mahasiswa, para peminat pelestari dan siapa saja yang peduli terhadap pelestarian di Indonesia.

Mengingat tempat yang terbatas,kami mohon kepada anda yang berminat hadir agar segera melakukan konfirmasi ulang kepada sdri Woro Hapsari di 0815-9811524 atau melalui email woro_hapsari2000@yahoo.com. Acara ini tidak dipungut biaya (free charge!)

Best Regards,

Badan Pelestarian Pusaka Indonesia

Daftar Buku

April 5, 2005

Daftar buku yang patut dibaca bagi penggemar bangunan bersejarah:

The Ministry of Finance Building-The White House of Weltevreden
Pusat Dokumentasi Arsitektur – Jakarta 2005

Historical Sites of Jakarta
Adolf Heuken SJ – Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta 2000

Menteng ‘Kota Taman’ Pertama di Indonesia
Adolf Heuken SJ dan Grace Pamungkas ST – Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta 2001

Galangan Kapal Batavia Selama Tiga Ratus Tahun
Adolf Heuken SJ dan Grace Pamungkas – Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta 2000

Sumber-sumber Asli Sejarah Jakarta Jilid I
Adolf Heuken SJ – Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta 1999

Sumber-sumber Asli Sejarah Jakarta Jilid II
Adolf Heuken SJ – Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta 2000

Sumber-sumber Asli Sejarah Jakarta Jilid III
Adolf Heuken SJ – Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta 2001

Klenteng-klenteng dan Masyarakat Tionghoa di Jakarta
Cl. Salmon dan D. Lombard – Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta 2003

Mesjid-mesjid Tua di Jakarta
Adolf Heuken SJ – Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta 2003

Gereja-gereja Tua di Jakarta
Adolf Heuken SJ – Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta 2003

Het Paleis van Gouvernuur Generaal

April 5, 2005

Rp.150.000/persoon soeda dapetin bangkoe autobus ac, makan siang, makanan ketjil, kaartjis masoep kebon besar, assurantie. maaf hanya ada (sedikit) bangku kosong yang tersisa (dari 200)

Istana Cipanas dan Istana Bogor + Kebun Raya Bogor
SELASA 3 MEI 2005 djam poekoel 07.30 pagi hari

07.30 : Kumpul di Parkir Timur Senayan
08.00 : Berangkat dari Jakarta (Senayan)
10.00 : Sampai Istana Cipanas en koeliling
12.00 : Cabut ke Buitenzorg (Bogor)
13.00 : Makan Siang di Kota Bogor
14.00 : Masuk Istana Bogor en koeliling
16.00 : (Kebon Besar) Kebun Raya Bogor
17.00 : Belanja Oleh-Oleh Bogor
17.30 : Pulang ke Jakarta
18.30 : Sampai Jakarta

silahkan transfer ke rekening Bank BCA: 2371425693 BCA cab Pondok Indah atas nama ADE HARDIKA PURNAMA toeloeng dikonfirmasikan via email atawa sms ke 0818 94 96 82 atau fax (021) 7696273 setelah transfer berhasil dilakukan. [transfer sesuai no.urut, misal no.88 = Meity meity@bakrie.co.id = Rp.150.088]

toeloeng dikirim paling laat hari djoemahat tanggal 8 April djam poekoel 2 siang.

——————————————————————————–

Ketentuan Dalam Ijin Kunjungan Yang Wajib Dipatuhi Pengunjung:

1. Berpakaian sopan dan rapih
Pria : kemeja, celana panjang lengkap (bukan jeans) dilengkapi dengan ikat pinggang dan bersepatu.
Wanita : gaun/rok (bukan jeans) paling pendek sebatas bawah lutut, blus berlengan, setelan celana panjang atau busana muslim bersepatu.

2. Pengunjung di luar daftar nama yang sudah diajukan, tidak diperkenankan masuk

3. Tidak diperkenankan:
a. membawa senjata api, senjata tajam, obat-obatan terlarang.
b. membawa tas dan atau pembungkus lain.
c. membawa makanan dan minuman selama berkunjung di dalam istana.
d. makan di areal istana.
e. membawa anak-anak di bawah usia 10 tahun.
f. membawa/menggunakan kamera video atau telepon genggam dengan fasilitas kamera.
g. menyentuh/memegang benda-benda koleksi atau lukisan-lukisan.
h. membawa binatang peliharaan.

4. Dalam setiap rombongan hanya satu juru foto yang diperkenankan membawa kamera dan berfoto di tempat yang telah ditentukan.

5. Mengikuti petunjuk-petunjuk petugas.

6. Tidak dipungut biaya apapun.

7. Surat ijin dapat dibatalkan sewaktu-waktu apabila ada acara Presiden/Wakil Presiden di lingkungan Istana Presiden yang bersangkutan.

PLESIRAN TEMPO DOELOE: SEMARANG – AMBARAWA

April 4, 2005

Saptoe Minggoe Senen – 21 22 23 Mei 2005 – koeliling Semarang Tempo Doeloe en naek kereta api djadoel dari Stasiun Ambarawa sampe Stasiun Bedono p.p

Plesiran akan dilakukan dengan menggunakan kereta api Argo dari Jakarta ke Semarang (5,5 jam) dan keesokan harinya naek Bus AC ke Ambarawa (1 jam), kemudian kembali lagi ke Jakarta naek kereta api Argo. Tak ketinggalan pula kita orang akan maem di “Toko Oen” dan “Pesta Keboen” en di Restoran “Semarang”-nya Jongkie Tio, lantas poesing-poesing koeliling Lawang Sewu en bilangan Petjinan goena tjobain Loenpia Gang Lombok dan es cao jang seger itoe lho…

biaya ke Semarang – Ambarawa : Rp. 1.250.000 sudah termasuk semua-muanya, (tiket kereta argo, tiket museum kereta api ambarawa, tiket kereta djadoel, bus ac, penginapan, makan, snacks, plesiran semarang tempo doeloe, masoep ke dalemnja gedong lawang sewu, dll, plus asuransi, kaos dan kagoembirahan jang tiada terkira..)

djikaloe kepengen banget ikoetan, silahken daftar langsung ke adep@cbn.net.id en lekas lantas sigra setor itoe doeit DP sadjoemblah Rp. 250.000, kamoedian bole kirim lagi boelan brikoetnja (minggoe kesatoe Mei) sebesar Rp.1.000.000

silahkan transfer ke rekening Bank BCA: 2371425693 BCA cab Pondok Indah atas nama ADE HARDIKA PURNAMA toeloeng dikonfirmasikan via email atawa sms ke 0818 94 96 82 atau fax (021) 7696273 setelah transfer berhasil dilakukan.

ingat peserta terbatas !!! pendaftaran terakhir ditunggu sampai: JUMAT 8 April

menantiken kehadiran para tjalon penoempang spoor djadoel dengen hormat,
Ade Purnama (Adep)
SAHABAT MUSEUM
0818 94 96 82

——————————————————————————–

PLESIRAN TEMPO DOELOE
SEMARANG – AMBARAWA
dengan kereta api

Hari I SABTU 21 MEI 2005
07:30 Kumpul di Stasiun Gambir Jakarta
09:00 Berangkat ke Semarang
14:30 Stasiun Tawang Semarang
14:45 Gereja Blenduk
15:15 Kelenteng Sam Poo Kong
16:00 Berangkat ke hotel
16:30 Check-In hotel
19:00 Makan Malam di Restoran “Toko Oen”
21:30 Kembali ke hotel

Hari II MINGGU 22 MEI 2005
07:30 Berangkat ke Ambarawa
09:00 Naek Kereta Api djadoel Ambarawa
11:00 Makan Siang di Stasiun Ambarawa
12:30 Monumen Palagan Ambarawa
13:00 Berangkat ke Semarang
14:00 Tour Gedong Lawang Sewu
16:30 Kembali ke hotel
19:00 Makan Malam di Restoran “Pesta Keboen”
21:30 Kembali ke hotel

Hari III SENIN 23 MEI 2005

07:30 Berangkat ke Kota Lama Semarang
09:00 ke Pecinan (ke Gang Lombok juga lho…)
11:00 Kembali ke hotel
12:00 Makan Siang di Restoran “Semarang”
13:30 Menuju ke Jl. Pandanaran belanja oleh-oleh
15:00 ke Stasiun Tawang Semarang
16:00 Kereta berangkat menuju Jakarta
21:30 Sampai di Stasiun Gambir Jakarta