Archive for Agustus, 2005

Revitalisasi Kota Tua Melalui Festival Budaya

Agustus 27, 2005

JAKARTA–MIOL: Berbagai wacana tentang pelestarian bangunan-bangunan tua di kawasan Jakarta Kota terus bermunculan yang salah satunya adalah melalui upaya revitalisasi kota tua sehingga sejumlah bangunan dapat dimanfaatkan tanpa menghilangkan nilai historis dan wujud aslinya.

Beberapa cara untuk mendukung revitalisasi tersebut antara lain melalui peningkatan volume kegiatan yang memiliki kaitan dengan kota tua, salah satunya melalui penyelenggaraan festival budaya.

“Salah satu cara menuju revitalisasi adalah dengan penyelenggaraan festival budaya dengan harapan dapat mendorong kepedulian dan perhatian masyarakat terhadap keberadaan Kota Tua,” kata Wali Kota Jakarta Barat (Jakbar) Fajar A Pandjaitan saat menghadiri Festival Kesenian Kota Tua dan Pecinan di pelataran Museum Jakarta, Sabtu.

Lebih lanjut ia mengatakan, bila festival semacam itu dapat menjadi agenda tetap pariwisata maka menjadi satu cara untuk mendukung revitalisasi kota tua sehingga keberadaannya sebagai sebuah bangunan yang memiliki nilai sejarah dapat dipertahankan.

Festival Kesenian Kota Tua dan Pecinan berlangsung selama satu hari penuh yaitu sejak pukul 09.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB.

Serupa dengan penyelenggaraan tahun yang lalu, festival dibuka dengan pawai budaya yang melibatkan 19 kelompok kesenian yang menampilkan sejumlah atraksi.

Pawai dilepas oleh Wali Kota Jakbar pada pukul 09.30 WIB dengan start di depan Museum Keramik di Jalan Pos Jakarta Barat.

“Dengan pawai ini diharapkan masyarakat semakin tertarik dan mau melestarikan keberadaan Kota Tua ini,” ujar Fajar sebelum melepas peserta pawai.

Selain kelompok Marawis dari Kecamatan Taman Sari, Qasidah dari Kecamatan Tambora dan Tanjidor dari kelompok seni Mayangsari, pawai juga diramaikan dengan penampilan marching band siswa Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN).

Pawai Budaya mengambil rute Jalan Pos kemudian melewati Jalan Jembatan Batu memutari taman di depan Stasiun Beos, masuk ke Jalan Pintu Besar Selatan melintasi Glodok.

Dari Jalan Pintu Besar Selatan kemudian menuju Jalan Hayam Wuruk berputar di depan pompa bensin Hayam Wuruk dan menuju Jalan Pintu Besar Utara dan kembali di depan Museum sejarah Jakarta yang dikenal dengan Museum Fatahillah.

Tak hanya diisi dengan pawai, sekitar 40 stan juga didirikan di pelataran Museum yang dahulu menjadi pusat pemerintah Belanda di jaman VOC.

Di stan tersebut dipamerkan sejumlah barang kerajinan dari pengurus PKK di beberapa kecamatan yang termasuk ke dalam wilayah Jakbar.

Ada pula stan-stan yang menampilkan ahli feng shui, kartunis, cendera mata khas China, dan obat-obatan dari China.

Dalam acara tersebut hadir juga beberapa pejabat di lingkungan Pemda DKI Jakarta dan Jakbar antara lain Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta Aurora Tambunan dan Kepala Suku Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Wilayah Jakbar Drs Baharuddin Z. (Ant/OL-1)

Sumber: Media Indonesia, 27 Agustus 2005.

Iklan

“Festival Kesenian Kota Tua dan Pecinan” Tebar Semangat Pelestarian Bangunan Tua

Agustus 27, 2005

Berbagai wacana tentang pelestarian bangunan tua di kawasan Jakarta Kota terus bermunculan. Salah satunya adalah melalui revitalisasi kota tua sehingga bangunan tua dapat dimanfaatkan tanpa menghilangkan nilai sejarah dan wujud aslinya.

Beberapa cara untuk mendukung revitalisasi tersebut antara lain adalah melalui peningkatan frekuensi kegiatan yang memiliki kaitan dengan kota tua, misalnya lewat festival budaya.

“Salah satu cara menuju revitalisasi adalah menyelenggarakan festival budaya, dengan harapan dapat mendorong kepedulian dan perhatian masyarakat terhadap keberadaan kota tua,” kata Wali Kota Jakarta Barat Fajar A Pandjaitan ketika menghadiri Festival Kesenian Kota Tua dan Pecinan di pelataran Museum Fatahilah, Sabtu (27/8).

Lanjutnya, jika menjadi kegiataan tetap bidang pariwisata, festival itu dapat mendukung revitalisasi kota tua, sehingga bangunan tua yang memiliki nilai sejarah bisa dipertahankan.

Festival Kesenian Kota Tua dan Pecinan berlangsung sehari saja, dari pukul 09.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB.

Serupa dengan yang tahun lalu, festival tersebut tahun ini dibuka dengan pawai budaya yang melibatkan 19 kelompok kesenian yang setiapnya menampilkan atraksi.

Pawai itu dilepas oleh Wali Kota Jakarta Barat pada pukul 09.30 WIB di depan Museum Keramik, Jl Pos, Jakarta Barat.

“Dengan pawai ini diharapkan masyarakat semakin tertarik dan mau melestarikan keberadaan Kota Tua ini,” ujar Fajar sebelum melepas para peserta pawai.

Selain oleh marawis dari Kecamatan Taman Sari, kasidah dari Kecamatan Tambora, dan tanjidor dari kelompok seni Mayangsari, pawai juga diramaikan dengan penampilan Marching Band Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN).

Pawai tersebut mengambil rute Jl Pos, Jl Jembatan Batu memutari taman di depan Stasiun Beos, Jl Pintu Besar Selatan melintasi Glodok, Jl Hayam Wuruk berputar di depan pompa bensin Hayam Wuruk, Jl Pintu Besar Utara, dan kembali ke depan Museum Fatahilah.

Tak hanya pawai itu, ada pula sekitar 40 kios didirikan di pelataran Museum Fatahilah. Di kios-kios tersebut dipamerkan barang kerajinan dari para pengurus PKK di beberapa kecamatan yang termasuk dalam wilayah Jakarta Barat, cinderamata dan obat-obatan Cina serta ditampilkan ahli feng shui dan kartunis.

Dalam acara tersebut hadir juga beberapa pejabat di lingkungan Pemerintah Daerah DKI Jakarta dan Jakarta Barat, antara lain Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta Aurora Tambunan dan Kepala Suku Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Wilayah Jakarta Barat drs Baharuddin Z.

Sumber: Ant
Penulis: Ati

Sumber: Kompas, Sabtu, 27 Agustus 2005.

“Festival Kesenian Kota Tua dan Pecinan” Tebar Semangat Pelestarian Bangunan Tua

Agustus 27, 2005

Jakarta, Sabtu

Berbagai wacana tentang pelestarian bangunan tua di kawasan Jakarta Kota terus bermunculan. Salah satunya adalah melalui revitalisasi kota tua sehingga bangunan tua dapat dimanfaatkan tanpa menghilangkan nilai sejarah dan wujud aslinya.

Beberapa cara untuk mendukung revitalisasi tersebut antara lain adalah melalui peningkatan frekuensi kegiatan yang memiliki kaitan dengan kota tua, misalnya lewat festival budaya.

“Salah satu cara menuju revitalisasi adalah menyelenggarakan festival budaya, dengan harapan dapat mendorong kepedulian dan perhatian masyarakat terhadap keberadaan kota tua,” kata Wali Kota Jakarta Barat Fajar A Pandjaitan ketika menghadiri Festival Kesenian Kota Tua dan Pecinan di pelataran Museum Fatahilah, Sabtu (27/8).

Lanjutnya, jika menjadi kegiataan tetap bidang pariwisata, festival itu dapat mendukung revitalisasi kota tua, sehingga bangunan tua yang memiliki nilai sejarah bisa dipertahankan.

Festival Kesenian Kota Tua dan Pecinan berlangsung sehari saja, dari pukul 09.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB.

Serupa dengan yang tahun lalu, festival tersebut tahun ini dibuka dengan pawai budaya yang melibatkan 19 kelompok kesenian yang setiapnya menampilkan atraksi.

Pawai itu dilepas oleh Wali Kota Jakarta Barat pada pukul 09.30 WIB di depan Museum Keramik, Jl Pos, Jakarta Barat.

“Dengan pawai ini diharapkan masyarakat semakin tertarik dan mau melestarikan keberadaan Kota Tua ini,” ujar Fajar sebelum melepas para peserta pawai.

Selain oleh marawis dari Kecamatan Taman Sari, kasidah dari Kecamatan Tambora, dan tanjidor dari kelompok seni Mayangsari, pawai juga diramaikan dengan penampilan Marching Band Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN).

Pawai tersebut mengambil rute Jl Pos, Jl Jembatan Batu memutari taman di depan Stasiun Beos, Jl Pintu Besar Selatan melintasi Glodok, Jl Hayam Wuruk berputar di depan pompa bensin Hayam Wuruk, Jl Pintu Besar Utara, dan kembali ke depan Museum Fatahilah.

Tak hanya pawai itu, ada pula sekitar 40 kios didirikan di pelataran Museum Fatahilah. Di kios-kios tersebut dipamerkan barang kerajinan dari para pengurus PKK di beberapa kecamatan yang termasuk dalam wilayah Jakarta Barat, cinderamata dan obat-obatan Cina serta ditampilkan ahli feng shui dan kartunis.

Dalam acara tersebut hadir juga beberapa pejabat di lingkungan Pemerintah Daerah DKI Jakarta dan Jakarta Barat, antara lain Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta Aurora Tambunan dan Kepala Suku Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Wilayah Jakarta Barat drs Baharuddin Z.

Sumber: Ant
Penulis: Ati

Sumber: Kompas, 27 Agustus 2005

Menggali Kembali Histori Kawasan Senen

Agustus 12, 2005

DALAM waktu yang tak lama lagi, akan ada perubahan besar-besaran di kawasan Senen. Pemkot Jakarta Pusat secara khusus menyelenggarakan sayembara untuk menemukan konsep yang terbaik mengembangkan kawasan itu. Pemenangnya sudah ada, dengan inti konsep mengembangkan kawasan Senen lebih modern tanpa melupakan aspek histrorisnya. Konsep itu baik, tetapi sangat meresahkan para pedagang kecil dan pedagang kaki lima di sana. Adakah tempat bagi mereka kelak?

Kawasan Senen dari Masa ke Masa

Tahun 1793
Justinus Cornellis Vincke mendirikan pasar disekitar istana Weltevreden (lokasinya kini menjadi Rumah Sakit Angkatan Darat), disamping juga Pasar Tanah Abang. Pada saat itu pasar yang dekat istana ini hanya dibuka pada hari Senin dan karena itu masyarakat menyebutnya Pasar Senen. Pada masa ini ada juga catatan lain yang menyebutkan pasar ini dengan Vincke Passer.

Tahun 1735
Vincke membangun sebuah jalan yang menghubungkan kedua pasar miliknya (pasar Senen dan Pasar Tanah Abang). Jalan yang membujur dari timur ke barai ini dikenal dengan nama jalan Prapatan.

Tahun 1900-an
Di sekeliling Pasar Senen s udah menggantikan kota sebagai pusat militer dan pemerintahan.

Tahun 1945
Setelah Indonesia merdeka, kawasan Senen tampak semakin padat karena arus migrasi besar-besaran.

Tahun 1960-1970
Pemerintah Jakarta Raya mendirikan Gedung Pasar Senen, Pasar Inpres, dan Terminal Bus.

Tahun 1987-1992
Dibangun Superblock modern, Atrium Senen, yang menyediakan fasilitas perkantoran, hotel, rumah toko, dan juga shopping center.

Tahun 1998-2005
Sejak terjadinya krisis moneter di Indonesia, berkembang sector informal dan pasar Senen kehilangan daya tariknya. (RS/N-6)

Sumber: Suara Pembaruan, 12 Agustus 2005

Vincke Passer, Riwayatmu Kini

Agustus 12, 2005

Oleh: Risharada Simorangkir

Usia Pasar Senen saat ini sekitar 270 tahun. Bukan usia muda lagi. Namun, bukan jaminan Pasar Senen menjadi pasar yang kondusif bagi penjual dan pembeli. Pasar dengan nama asli Vincke Passer yang dibangun pada masa Hindia Belanda, sekitar tahun 1735, oleh Justinus Cornellis Vincke itu, kini sarat beban. Banyak kemajuan, tetapi juga sangat banyak masalah.

MUNGKIN, Justinus Cornellis Vincke, yang juga membangun Pasar Tanah Abang, tidak bisa menduga sebelumnya bahwa kawasan Pasar Senen menjadi lokasi yang sangat potensial untuk perputaran bisnis. Bahkan kawasan itu dijuluki kawasan “segi tiga emas” yang nilai ekonominya terus melambung dari tahun ke tahun.

Namun kawasan Senen tempo “doeloe” pun sesungguhnya sudah diarahkan menjadi kawasan yang penting untuk sebuah kota.

Tahun 1735, Vincke mantan pejabat VOC membangun sendiri jalan Jl Prapatan sebagai poros Timur-Barat yang menghubungkan Pasar Tanah Abang dengan Pasar Senen, yang kemudian berkembang sebagai poros perekonomian pada saat itu. Apalagi Weltevreden kemudian menjadi kedudukan resmi gubernur jenderal dan pemerintahannya.

Menurut data dari Kawasan Pengembangan Kota Jakarta (Batavia) di Zaman Belanda (1908), pada awal abad ke-19, di sekitar Istana Weltevreden (di sekeliling Pasar Senen dan Lapangan Banteng, yang lokasinya kini menjadi Rumah Sakit Angkatan Darat), sudah menggantikan kawasan Kota sebagai pusat militer dan pemerintahan. Ini langkah penting dalam pengembangan Kota Jakarta selanjutnya.

Karena itu, makin banyak orang yang tinggal di sekitar kawasan. Apalagi dengan masuknya teknologi mesin uap, kereta api, dan juga kendaraan bermotor.

Disebut Pasar Senen karena pada awalnya pasar itu hanya buka setiap hari Senin. Namun kini, perputaran bisnis di kawasan itu berlangsung setiap hari dan hampir 24 jam sehari.

Pada masa Gubernur Ali Sadikin, guna menampung seniman-seniman yang banyak berkerumun waktu itu di Pasar Senen, Bang Ali membangun Gelanggang Remaja Planet Senen (GRPS). Menyusul kemudian pembangunan Gedung Pasar Senen, Gedung Parkir, Pasar Inpres, dan terminal bus.

Pada masa kepemimpinan Wiyogo Atmodarminto (1987-1992), dibangunlah sebuah superblok modern, Atrium Senen. Ini jadi pemantik gengsi kawasan Senen. Apalagi sejumlah tenant internasional berani investasi di sana, seperti Yaohan, Mark&Sepncer, dan lainnya.

Hanya sayangnya, kegemilangan kawasan Senen tak berlangsung lama. Gerai Yaohan dan Mark&Sepncer kemudian menarik diri dari kawasan itu bahkan dari negeri ini. Banyak alasan yang melatari kepergian mereka. Mulai dari meluruhnya perekonomian Ibukota hingga aneka kerawanan yang hadir bersamaan dengan munculnya pedagang dan penjaja informal yang sejak krisis ekonomi 1998, jumlahnya terus berlipat.

Sebenarnya, banyak kisah yang melingkupi pasar itu sejak dikembangkan oleh Pemerintah Indonesia. Sejak Pasar Senen dibangun tahun 1960-1970, telah mengalami dua kali kebakaran besar, yaitu tanggal 23 November 1996 dan 26 Januari 2003. Namun, hal itu tak membuat pasar yang dikelola oleh PT Pembangunan Jaya dan PD Pasar Jaya itu surut beraktivitas.

Bagaikan gula dikerubuti semut, Pasar Senen sangat diminati para pedagang legal maupun ilegal. Sejak krisis moneter pada tahun 1998, Pasar Senen makin dipadati oleh pedagang informal atau biasa disebut dengan pedagang kaki lima (PKL).

Para PKL ini memanfaatkan trotoar yang memang sempit, bahkan mengambil setengah badan jalan sehingga menimbulkan kesemrawutan, kemacetan, dan kriminalitas yang tidak dapat dibendung lagi. Keadaan ini menurunkan secara drastis nilai ekonomi kawasan Senen.

Inilah salah satu masalah besar yang dihadapi Pemkot Jakarta Pusat dalam menata kawasan tersebut. Meskipun letaknya strategis, kawasan ini sering dihindari pengunjung.

Lebih baik berbelanja ke pusat-pusat perbelanjaan yang bertebaran di seantero Jakarta, yang kondisinya lebih nyaman, aman dan harganya tidak terlalu mahal.

Kondisi ini yang menjadi alasan Pemprov DKI menata dan merekstrukturisasi tata ruang kawasan Senen agar dapat memberikan prospek yang lebih baik bagi masyarakat pada masa-masa mendatang.

CBD
Menurut Kepala Badan Pembangunan Kota (Bapeko) Jakarta Pusat, Saptasari Edinigtyas, kawasan Senen akan dikembangkan menjadi Kawasan Bisnis Terpadu atau Central Business District (CBD) yang berwawasan lingkungan dan memiliki keunggulan kompetitif di tingkat global.

“Dengan demikian, kawasan itu kelak dapat menjadi salah satu magnitude pertumbuhan ekonomi Jakarta dalam jasa perdagangan dan keuangan, yang mempunyai keunggulan kompetitif, sehingga dapat bersaing dengan kawasan bisnis ibukota lainnya,” kata Saptasari Edinigtyas dalam percakapan dengan Pembaruan belum lama ini.

Ragam fasilitas yang diharapkan dapat disediakan di CBD ini, antara lain hunian, perkantoran, sopping mall, dan sebagainya. Semuanya didukung dengan sejumlah fasilitas publik, seperti terminal bus, terminal kereta api, gelanggang remaja, taman, dan lain-lain.

Misi pengembangan kawasan, jelas untuk meningkatkan nilai tambah kawasan Senen dengan menjadikannya sebagai pusat perdagangan, perkantoran, dan hunian menengah atas. “Akan disediakan fasilitas pendukung bagi perwujudan Jakarta sebagai services city yang memiliki competitiveadvantage berskala global,” katanya.

Jadi, erbagai fasilitas itu akan diintegrasikan, baik perdagangan, perkantoran, dan hunian yang didukung fasilitas transportasi kota yang terintegrasi pula.

“Dengan sendirinya, berbagai upaya itu bisa mereduksi jumlah kawasan rawan kemacetan lalu lintas dan kriminalitas. Sekaligus juga mereduksi populasi pedagang kaki lima dan usaha informal lainnya, melaluio peningkatan keberdayaan mereka,” ujar Saptasari.

Berangkat dari tujuan itu, diadakan sayembara dengan sasaran “Konsep Perencanaan dan Perancangan/Design Penataan Kawasan Senen”. Sayembara itu dimenangkan oleh Maryanti Kusuma Asmara dengan tajuk “Life in Tomorrow Senen”.

“Saat ini, Pemkot Jakarta Pusat sedang menyusun Urban Design Gate Line (UDGL) yang merupakan panduan penataan Kawasan Senen. sejalan dengan penyusunan UDGL ini, juga sedang disusun tim yang akan bekerja dalam proyek ini,” kata Saptasari.

Sekalipun sudah ada pemenangnya, namun proyek ini tidak dapat langsung dikerjakan karena masih harus mematangkan dan memadukan konsep penataan hasil sayembara dengan konsep penataan yang dimiliki oleh pemegang saham Pasar Senen.

Proyek ini akan dikerjakan oleh tim yang terdiri dari orang-orang yang memiliki saham di Pasar Senen, antara lain, PD Pasar Jaya, PT Pembangunan Jaya, PT KA, dan Departemen Perhubungan.

“Mengenai dana, belum dapat dipastikan. Dana ini bukan hanya berasal dari Pemkot Jakpus, tetapi juga dari stakeholder atau pemegang saham,” kata Saptasari.

Jika UDGL selesai, tidak tertutup kemungkinan adanya investor yang akan berinvestasi pada proyek ini. “Sekarang saja sudah banyak yang tertarik dan menanyakan proyek ini. Menurut rencana proyek ini akan mulai dikerjakan pada awal tahun 2006,” katanya.

Kampiun Asing
Kepentingan menata kawasan Senen, tentu saja bukan melihat kepentingan lokal sesaat saja. Tapi, bagaimana Kota Metropolitan Jakarta bisa bersaing dengan kota-kota lain di berbagai negara yang berpacu memajukan diri dan menarik investor.

Apalagi saat ini, sebagai konsekwensi berbagai kemajuan, terjadi semacam penyeragaman bentuk kota-kota metropolitan di dunia karena globalisasi dan pasar bebas, yang relatif hanya dikendalikan oleh beberapa perusahaan multinasional saja.

Bagi Jakarta, ini sebuah ancaman serius. “Diferensiasi Jakarta di hadapan kota-kota metropolitan lainnya di dunia, masih sangat lemah, bahkan kurang menguntungkan bagi banyak investor,” kata Saptasari.

Akibatnya, Kota Jakarta hanya menjadi tempat banjiran produk-produk mancanegara. Pasar potensialnya dikelola dengan baik oleh para kampiun asing itu, sementara investasi mereka masih ditempatkan di negara jiran karena tariff barrier antarnegara, terutama di Asia Tenggara pasca-AFTA hanya berkisar antara 0-5 persen saja.

Konsekwensinya, deretan pengangguran di Ibukota ini dan juga pelimpahan sektor informal dari waktu ke waktu, semakin menjadi-jadi. *

Sumber: Suara Pembaruan, 12 Agustus 2005

Keakraban Arab-Tionghoa Kampung Pekojan di Jakarta Barat Menjadi Contoh

Agustus 10, 2005

Oleh: IWAN SANTOSA

Bila ingin menyaksikan komunitas Tionghoa yang bersopan-santun gaya Islam, datanglah ke Kampung Pekojan di sisi kawasan Glodok, Jakarta Barat. Masyarakat Tionghoa asli kampung Pekojan memiliki tradisi bersalaman ala Muslim sebagai dampak budaya yang dibawa warga Arab dan India selama berabad-abad.

Siang itu di warung mi ayam milik Ah Lim di sebelah Masjid Annawier Pekojan, orang yang datang Tionghoa, Arab atau Melayu silih berganti dan selalu memberi salam sebelum duduk. Ah Sen dan beberapa orang Tionghoa yang datang belakangan, selalu berjabatan kemudian menyentuhkan ujung jemari ke dada mereka bak seorang Muslim.

Cuma di kampung sini Anda ketemu orang Tionghoa yang meski bukan Muslim, tetapi selalu bersalaman setiap kali bertemu. Semua rukun di sini sejak zaman dulu. Kalau Anda melihat di sekitar sini ada rumah Tionghoa dengan pagar tinggi dan tertutup rapat pasti bukan Tionghoa Pekojan. Kalau Tionghoa asli sini sudah biasa, susah senang bersama-sama. Saya waktu kecil biasa tidur di rumah Ah Lim dan kami main bola sama-sama, kata Faisal Al Amrie warga asli Pekojan keturunan ke-19 Arab Hadramaut (Yaman Selatan).

Dia pun mengaku mengenal percakapan sederhana dalam bahasa Arab Suwayau-suwayau katanya sambil tertawa yang artinya, sedikit-sedikit paham berbahasa Arab. Sebaliknya, Faisal juga mengaku sedikit mengerti Mandarin untuk percakapan sederhana. Sehari-hari pun mereka terbiasa menggunakan kata ana (untuk menyebut dirinya) atau ente (untuk lawan bicaranya).

Demikian pula pada saat Lebaran, Faisal menjelaskan, para tetangga Tionghoa biasa bersilaturahmi ke rumahnya. Sedangkan waktu Sinjia (Tahun Baru Tionghoa dalam dialek Hokkian Red), Faisal menyampaikan Kiong Hie (Gong Xi) sebagai ucapan selamat kepada teman-teman Tionghoa.

Perkawinan

Masyarakat Kampung Pekojan tidak tahu apa itu pluralisme atau radikalisme. Yang jelas selama ini tidak pernah ada keributan atau berprasangka di antara mereka sebagai sesama manusia biasa ciptaan Sang Khalik. Di tengah perkampungan dan bangunan tua yang tercatat berasal dari abad ke-17 masih tertinggal tradisi saling menghargai yang tak lenyap di telan zaman.

Tradisi lain yang terpelihara baik adalah soal perkawinan dan kematian. Faisal mengatakan, kalau ada warga yang meninggal, semua berkumpul. Yang bertakziah tidak pandang bulu. Arab, Tionghoa, Melayu semua kumpul, kata Faisal.

Hukumnya wajib untuk membantu tetangga yang kesusahan di Kampung Pekojan. Lebih unik lagi, kalau urusan perkawinan, semua saling urun modal perkawinan.

Faisal menjelaskan, kalau ada calon mempelai pria yang kesulitan uang untuk modal perkawinan, biasanya yang bersangkutan akan bercerita kepada sahabatnya entah sesama Arab atau Tionghoa. Selanjutnya, kawan tersebut bertindak sebagai perantara dan mengutarakan kesulitan si calon mempelai seraya mengumpulkan dana dari kawan-kawannya yang lain.

Dari aksi solidaritas tersebut sesama warga Pekojan mengupayakan bagaimanapun caranya si calon mempelai pria harus bisa punya modal yang dibutuhkan untuk menikah, kata Faisal.

Berbagi hidup juga dilakukan di saat musim kemarau. Biasanya jika warga kesulitan air, mereka mengambil air di Musola Azzawiyah, Pekojan. Arab, Tionghoa, Muslim ataupun bukan Muslim antre mengambil air di tempat itu.

Petang pun beranjak malam. Suara azan terdengar dan warga Arab Pekojan pun menunaikan ibadah Shalat Magrib. Kesibukan suasana perdagangan di Pekojan pun terhenti dan hari esok akan kembali menjalin keakraban penghuninya.

Kampung Pekojan bukan hanya situs dan komunitas peninggalan sejarah. Pesan kerukunan di tengah kepastian merupakan hal nyata bagi komunitas Kampung Pekojan.

Sumber: Kompas, Rabu, 10 Agustus 2005

Komunitas Kaum Koja

Agustus 10, 2005

Di tengah hiruk-pikuk kawasan Glodok-Pancoran sebagai jantung Pecinan Jakarta, terdapat sebuah perkampungan Arab-India Muslim, yakni kampung Pekojan. Masjid berusia empat abad lebih dengan arsitektur khas, rumah tua berarsitektur Moor dengan nuansa Arab atau India, rumah beratap lengkung khas Tionghoa hingga toko-toko penjual bibit minyak wangi adalah suasana khas Kampung Pekojan.

Di salah satu sudut Pekojan di dekat Jalan Bandengan Selatan terdapat rumah bergaya Moor berwarna putih dengan aksen warna merah dan berpagar rendah milik keluarga besar Alatas yang terhitung kerabat dekat Mantan Menteri Luar Negeri Ali Alatas. Rumah tersebut tampak kontras bersebelahan dengan rumah-rumah berarsitektur Tionghoa.

Bangunan itu merupakan salah satu situs sejarah Pekojan yang tersisa. Sedangkan di beberapa bangunan lain di dekat Masjid Langgar Tinggi terdapat rumah-rumah Moor dengan arsitektur atap bersusun. Di bagian dalam beberapa rumah terdapat hiasan keramik Belanda.

Sejarawan Adolf Heuken dalam buku Historical Sites of Jakarta menyebutkan, kawasan tersebut merupakan pusat komunitas kaum Koja dari India pada abad 17-18 Masehi sehingga dinamakan Pekojan.

Selanjutnya warga Arab dari Hadramaut bermigrasi ke Jakarta juga bermukim di situ. Nama-nama besar keluarga Alaydrus, Alhabsyie, Aljufrie, Attamimi, Assegaf, Alkadrie dan para habib adalah legenda hidup yang keturunannya beranak-pinak di Indonesia.

Sedangkan kaum Moor sebutan Eropa untuk India Muslim sebagian besar berasal dari pantai Koromandel India.

Langgar Tinggi

Selain berniaga, mereka juga melakukan syiar agama Islam dan membangun masjid-masjid yang berarsitektur unik. Rahim Bekend, warga asli Pekojan yang tinggal di Jalan Pengukiran 2, menjelaskan, warga India mendirikan Masjid Jami Kampung Baru di Jalan Bandengan Selatan 34 dan Masjid Jami Al Ansor di sebuah gang di Jalan Pengukiran 2, sedangkan warga Arab mendirikan Langgar Tinggi dan Masjid Annawier di Jalan Pekojan yang masih berdiri megah. Masjid Jami’ Kampung Baru, yang menurut Heuken, didirikan tahun 1748 masih menyisakan suasana kemegahan masa lalu dengan kubah masjid berarsitektur khas, seperti Masjid India yang kita dapati di Malaysia dan Singapura.

Kurang lebih seperti Masjid Kapten Keling di Penang, Malaysia yang juga berada di tengah-tengah Chinatown kota lama George Town.

Mimbar asli Masjid Jami Kampung Baru yang berukir indah kini disimpan di Museum Sejarah Jakarta. Sedangkan interior asli yang tersisa adalah pilar utama, beberapa jendela dan ukiran Anggur.

Sayang di Masjid Jami Al Ansor tidak banyak jejak bangunan asli yang tersisa. Solihin, warga di sebelah masjid, mengakui sudah banyak renovasi yang dilakukan sehingga bentuk asli tidak tersisa.

Heuken mencatat, masjid itu didirikan warga asal Malabar, wilayah pantai timur India. Tetapi setahun sekali, keturunan komunitas India tersebut pasti datang sewaktu Lebaran ke masjid tersebut.

Lain lagi masjid warga Arab, salah satu keturunan Nabi Muhammad SAW dari pasangan Ali dan Fatimah, yakni keluarga Said yang bernama Abdullah bin Hussein Alaydrus, membangun Masjid Annawier yang megah di tahun 1760.

Tiap tahun tanggal 27 Ramadhan, seluruh keturunan Arab di Jabotabek dan daerah lain pasti berkumpul di masjid ini. (ong)

Sumber; Kompas, Rabu, 10 Agustus 2005

Benteng Portugis di Jepara

Agustus 5, 2005

Oleh: Suprapto

Salah satu di antara sekian banyak tempat wisata di Kabupaten Jepara yang banyak dikunjungi dan tergolong perpaduan daerah wisata sejarah dan pemandangan laut adalah benteng Portugis, yang terletak di tepi pantai Desa Ujung Watu, Kecamatan Keling. Benteng ini dibangun Portugis pada 1632, semasa Sultan Agung memerintah Kerajaan Mataram.

Meski benteng itu sekarang telah berusia 374 tahun, tetapi secara umum bangunannya terkesan masih tetap kokoh. Dan yang menarik, bangunan bersejarah ini belum banyak direnovasi sehingga cukup mengundang para wisatawan nusantara (wisnu) maupun wisatawan mancanegara (wisman) untuk menyaksikan dari dekat, terutama bagi pemerhati benteng-benteng peninggalan pemerintahan kolonial.

Meski kesan sebagai tempat berekreasi sejarah sangat kuat, ternyata bagian dalam benteng ini memang masih memiliki pesona keindahan alam. Tepatnya di sudut utara benteng, di mana terdapat tempat istirahat yang mampu menampung puluhan wisatawan untuk menikmati keindahan alam seputarnya.

Keindahan yang ditawarkan antara lain berupa pemandangan perairan laut. Di perairan ini terdapat sebuah pulau yang dikenal dengan nama Pulau Mondoliko, yang memiliki sebuah bangunan mercusuar.

Jarak antara benteng Portugis dan Pulau Mondoliko sebenarnya tidak begitu jauh, hanya sekitar 2-3 mil laut. Namun, sering dengan terpaan gelombang pasang dan di seputar perairan Mondoliko, terdapat pusaran air laut yang cukup berbahaya sehingga jarang sekali wisatawan yang meneruskan perjalanannya ke Pulau Mondoliko.

Selain memang tidak semua orang bisa masuk tanpa izin lebih dahulu. Di pulau kecil ini cukup sepi, hanya dihuni oleh enam petugas mercusuar.

Menurut penuturan sejumlah penduduk Desa Ujung Watu, di dalam benteng pada awalnya terdapat bangunan induk. Namun, bangunan itu telah roboh dan rata dengan tanah akibat ”dimakan” akar pohon besar yang tumbuh di dekatnya.

Di dalam benteng juga dijumpai sejumlah pintu yang menuju ke ”jendela-jendela” yang terbuat dari batu dan dilengkapi dengan meriam kuno. Terutama pintu yang mengarah ke arah Laut Jawa. Tetapi pintu dan jendela tersebut sejak sekitar tahun 1950 sudah dalam kondisi tertutup bebatuan.

Jika pintu dan jendela ini dibuka dan diperbaiki kembali seperti aslinya, dipastikan bisa menambah daya tarik tersendiri. Paling tidak bisa menyuguhkan pemandangan birunya laut.

Di dalam areal benteng, selain dijumpai sejumlah warung makan, juga terdapat penginapan sederhana dengan tarif hanya Rp 30.000 per malam. Tempat parkir yang luas dan cukup redup berada di antara kerindangan pohon besar serta puluhan pohon kelapa.

Untuk memasuki area tempat wisata benteng Portugis tersebut, setiap pengunjung dikenai retribusi hanya sebesar Rp 1.000 dan biaya parkir mobil juga Rp 1.000 per kendaraan.

Menuju benteng

Untuk mencapai tempat wisata sejarah ini, terutama bagi mereka yang berdomisili di luar Jepara, bisa ditempuh lewat dua arah. Dari arah Kudus dengan lebih dahulu menuju kota Jepara baru kemudian dilanjutkan ke arah Bangsri dan Keling.

Setibanya di seputar jembatan panjang, yang dikenal dengan sebutan Sambung Oyot, berbelok ke kiri. Kira-kira setelah menempuh perjalanan sekitar 10-15 kilometer kemudian tiba ditempat tujuan.

Sepanjang Kudus-Jepara, jalan relatif mulus tanpa kelokan dan tanjakan tajam. Selepas kota Jepara menuju Bangsri, banyak ditemukan tikungan dan bahu jalan agak sempit. Setelah itu di kanan kiri dijumpai hutan jati, hutan karet, ladang, persawahan, tikungan, jalan naik turun. Pada musim hujan sering ditemukan tanah longsor.

Bila melewati kawasan Pati, bisa ditempuh dengan rute Wedarijaksa, Trangkil, Margoyoso, Tayu, Cluwak, Sambung Oyot, benteng Portugis. Jalan memang lumayan mulus, namun memasuki wilayah Kecamatan Cluwak hingga Sambung Oyot, banyak tikungan dan jalan naik turun. Sedangkan di kiri maupun kanan jalan dapat dilihat tanaman kapuk randu, cengkeh, petai, dan jering.

Rute lain dari Pati, selepas Tayu, lalu menyusuri wilayah Kecamatan Dukuhseti dengan kondisi jalan bopeng-bopeng, lalu memasuki perbatasan dengan wilayah Kabupaten Jepara. Bila datang hujan, dipastikan sebagian besar jalan raya itu akan tergenang air setinggi ban mobil, dengan arus lumayan deras.

Sejak sepanjang perbatasan Pati-Jepara, hingga benteng Portugis bisa menikmati keindahan alam yang masih asri. Terutama bagi yang merindukan suasana pedesaan, terlihat sawah dengan latar belakang pegunungan Rengas.

Pegunungan Rengas ini banyak mengandung bahan pokok untuk memproduksi keramik. Sementara juga terlihat Stasiun Pemantau Gempa milik Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) dan selintas terlihat Laut Jawa. Khusus jalan menuju Rengas kondisi jalannya awal Juli ini rusak berat.

Sedangkan jarak rute Kudus-Jepara-Sambung Oyot-benteng Portugis sekitar 80 kilometer. Lalu untuk rute Pati-Tayu-Cluwak-Sambung Oyot-benteng Portugis berjarak sekitar 60 kilometer dan rute Pati-Tayu- Dukuhseti-benteng Portugis kurang dari 60 kilometer.

Benteng Portugis, menurut Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Jepara Suliyono, menempati areal seluas 857, 2 meter persegi. Wilayah benteng dipenuhi berbagai jenis pohon, seperti pohon asem jawa, kesambi, wali kukun, krinyo, ketapang, laban, pule, waru, karet alam, beringin, dan jrakah lo.

Bawah benteng

Sementara di bagian bawah benteng telah dibangun jalan berpaving melingkar rata-rata selebar 1,5 meter. Jalan ini hampir sejajar dengan tepian pantai Laut Jawa, sehingga bila muncul ombak besar jalan ini basah terkena deburan air laut.

Sedangkan untuk mencapai benteng yang berada di wilayah mirip dengan sebuah perbukitan ini, bisa ditempuh dengan kendaraan bermotor, selain tentu bagi yang ingin berolahraga bisa dengan berjalan kaki.

Karena tempatnya terbatas, hanya beberapa mobil yang diperbolehkan naik hingga ke lokasi, itu pun bila dalam kondisi jumlah pengunjung meluap. Jika toh terpaksa jalan kaki tidak akan melelahkan.

Berdasarkan catatan Dinas Pariwisata Jepara, panjang benteng sisi timur 33,50 meter, sisi barat 37 meter. Lebar sisi selatan 28,50 meter, sisi utara 20,30 meter.

Tinggi sisi timur dan barat masing-masing 0,70 meter, tinggi sisi selatan 2,10 meter dan tinggi sisi utara 0,70 meter. Lalu pada awalnya dijumpai jalan setapak dari arah benteng, turun ke bawah menuju jalan berpaving. Namun, jalan setapak tersebut akhirnya dilebarkan dan dibangun permanen dengan semen cor.

Sumber: Kompas, Jumat, 05 Agustus 2005