Archive for the ‘Kebudayaan Indis’ Category

Mengembalikan Pasar Senen sebagai Ratu dari Timur

Oktober 20, 2006

Oleh: Pingkan Elita Dundu

Bau busuk, pesing, dan kotoran ayam menyengat tercium ketika kaki melangkah memasuki Blok III, Pasar Senen, Jakarta Pusat. Di pasar basah itu, para pedagang memotong ternak ayam untuk dijual kepada konsumen. Kotoran, kulit, dan bulu ayam terserak di mana-mana di pasar daging itu.

Tumpukan sampah, genangan air kotor dan berbau, serta lalat yang beterbangan mengerubuti hampir setiap tempat di seputar lokasi itu.

Kesan kumuh, bau, kotor, sumpek, panas, tidak terurus, atau tidak terawat bukan hanya di Blok III. Kondisi semua blok, mulai dari I sampai VI, tidak berbeda jauh. Bahkan sewaktu mendekati tangga di Blok V ke arah pasar onderdil, tercium pula bau pesing. Begitulah kondisi Pasar Senen di Jakarta Pusat saat ini.

Kejahatan dan premanisme

Kondisi seperti itu sangatlah jauh berbeda dengan kawasan Senen saat zaman penjajahan. Pada awal abad lalu Pasar Senen sangat terkenal, malah sempat pula dijuluki Queen of the East (Ratu dari Timur) yang jauh lebih tersohor dari Singapura.

Tidak hanya vila indah menghiasi kawasan tersebut, tetapi juga banyak pertokoan Tionghoa dan tangsi tentara. Kawasan itu menjadi tempat wandelen alias “makan angin”.

Sampai dengan zaman Ali Sadikin memimpin Jakarta, kawasan Senen masih tertib dan menjadi tempat elite berbelanja. Setelah itu, lambat laun mulai terjadi pergeseran, baik itu tata guna, tata ruang, maupun tata kuasa. Berbagai kepentingan masuk sehingga kawasan itu tidak terpelihara dan menjadi kumuh.

Pedagang kaki lima tumbuh seperti jamur. Kawasan yang dulunya tertata dengan baik menjadi semrawut. Tidak salah kalau kemudian orang selalu mengidentikkan Pasar Senen dengan kesemrawutan, kejahatan, dan premanisme. Citra itu terus melekat dan sulit dihapus.

“Saya baru sekali datang ke Pasar Senen, tetapi tidak mau lagi ke sana. Kayak ’Sodom dan Gomora’ (istilah untuk sarang berbagai kejahatan),” kata Yoan, mahasiswi S-2 Universitas Indonesia, Jakarta.

Kondisi Pasar Senen sangat memprihatinkan. Tidak memberikan rasa aman dan jauh dari rasa nyaman.

Perusahaan Daerah (PD) Pasar Jaya mencatat, kondisi eksisting Blok I sampai VI memiliki 4.982 pedagang (resmi) dengan jenis dagangan lebih dominan arloji, emas, perlengkapan TNI, tekstil, dan garmen. Selain itu, juga elektronik, toko buku, alat tulis kantor, pasar tradisional, dan pasar kue subuh.

Para pedagang menempati 6.677 kios (artinya ada satu pedagang memiliki lebih dari satu kios) dengan luasan 41.922 meter persegi.

Direktur Utama PD Pasar Jaya Prabowo Soenirman selaku pengelola Pasar Senen mengatakan, kondisi yang tidak aman dan nyaman itulah yang mengharuskan kawasan itu harus ditata kembali.

Ke depan, katanya, Pasar Senen akan menjadi pasar modern yang bersatu dengan stasiun kereta api dan terminal bus kota serta pusat perbelanjaan Atrium Senen.

“Pembangunannya dengan konsep transit oriented development, yakni memanfaatkan sistem dan sirkulasi transportasi umum (kereta api, busway, dan angkutan umum lainnya),” ujar Prabowo. Kawasan itu nantinya tidak hanya difungsikan untuk pusat belanja semata, tetapi juga ada hunian (apartemen). Harapannya, aktivitas di kawasan itu akan hidup sepanjang hari.

Dalam konsep itu, akan dilakukan pemisahan antara akses pejalan kaki dan jaringan lalu lintas yang ada. Caranya, dengan membangun ruang pejalan kaki seperti area pedestrian dan jalan layang (skywalk) pada posisi level 2-3 bangunan.

Kepala Humas PD Pasar Jaya Nurman Adhi mengatakan, kawasan itu akan diberi nama Senen Jaya. Pembangunannya akan melibatkan PD Pasar Jaya sendiri, PT Pembangunan Jaya, dan PT Real Propertindo.

Gagasan menata kembali kawasan Senen mulai mengemuka pada Mei 2004, berkaitan dengan rencana PD Pasar Jaya menata kembali pasar-pasar tradisionalnya. Rencana itu diawali dengan sayembara oleh Pemerintah Kota Jakarta Pusat, dan pembangunannya dilakukan tahun 2005. Namun, sayang, selain pelaksanaannya mundur, hasil sayembara ternyata juga tidak teradopsi.

Rampung dalam 18 bulan

Setelah tertunda hampir satu tahun, proyek tersebut akhirnya mendapat titik terang. Prabowo mengatakan, bulan November 2006 renovasi akan segera dimulai, dan diperkirakan selesai dalam 18 bulan atau tahun 2008 dengan nilai proyek Rp 3 triliun.

“Renovasi akan tetap jalan meskipun pembangunan lokasi binaan bagi pedagang kaki lima tertunda,” kata Prabowo.

Selama pelaksanaan pembangunan kembali Blok I, II, dan III, para pedagang akan ditempatkan sementara di Blok IV, V, dan VI. Setelah selesai tahap I, lanjutan proyek itu untuk membangun tahap II, yaitu Blok IV, V, dan VI.

Menelaah konsep penataan Pasar Senen, terbayang kawasan itu akan hidup kembali dan menjadi Queen of the East. Keseriusan membenahi kawasan itu harus sejalan dengan pengawasan dan penertiban dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan pengelola pasar. Jangan sampai setelah ditata, kawasan itu akan kembali kumuh dan penuh preman.

Sumber: Kompas, 20 Oktober 2006

Bioskop Bandung, Riwayatmu Kini…

April 21, 2006

Bagi sebagian orang, gedung bioskop merupakan tempat alternatif untuk melepas kepenatan setelah lelah beraktivitas seharian. Namun, sebagian lagi menggangap gedung bioskop sebagai tempat untuk menyalurkan hobi menontonnya. Bahkan, di bioskop orang bisa memperoleh pengetahuan baru dari film yang ditontonnya.

Beribu alasan orang datang menonton di gedung bioskop. Lebih lebar layarnya dibandingkan layar televisi, lebih fokus menontonnya, lebih mantap suaranya, atau juga lebih nyaman rasanya.”Tidak jarang, banyak juga yang datang hanya untuk berpacaran selain untuk menikmati hiburan,” tutur Aming D Racman, Ketua Forum Dokumentasi Budaya Kota Bandung, Kamis (20/4).

Gedung bioskop di Bandung sudah dikenal sejak masa kolonial Belanda. Sebut saja gedung Bioskop Elita yang terletak di Jalan Alun-Alun dan Bioskop Majestic di Jalan Braga yang sudah tersohor di tahun 1920- an.

Dari tahun ke tahun, hingga tahun 1970, jumlah bioskop di Kota Bandung mencapai 30 gedung dengan berbagai kelas dan kualitas. Salah satu gedung bioskop yang paling top pada masanya, menurut Subakti, seorang pengusaha bioskop dari tahun 1970, adalah Nusantara dan Paramount. Kedua gedung itu punya kelebihan masing-masing. “Awal tahun 1980-an, Nusantara menawarkan gedung gaya Belanda dengan daya tampung 1.200 kursi, sedangkan Paramount berkapasitas 1.006 kursi, hadir dengan gedung baru yang modern pada masa itu,” ujarnya.

Kompleks bioskop

Dulu, Alun-alun Kota Bandung merupakan kompleks gedung bioskop. Setidaknya ada lima gedung bioskop yang tumbuh di kawasan itu, seperti Elita (Puspita), Aneka (Oriental), Nusantara (Varia), Dian (Radio City), Majestic (Dewi). Ada pula Bioskop Preanger di Jalan Kebon Jati yang berganti nama sampai tiga kali, yaitu menjadi Orion, Luxor, dan Nirmala. Kebanyakan bioskop di zaman kolonial itu milik Boosje, warga Belanda yang mempunyai perkebunan di sekitar Bandung.

Ada yang tumbang dan ada pula yang tumbuh. Sayangnya, nasib gedung-gedung yang menampung puluhan, ratusan, bahkan ribuan penikmat film di Bandung ini harus terseok tak berdaya. Perkembangan teknologi, selera pasar, juga manajemen pelayanan yang kurang memuaskan membuat gedung ini terus ditinggalkan, beralih fungsi, dan tidak terawat.

Tak akan ada lagi proyektor yang berputar, karcis yang disobek, layar putih berukuran 100 kali televisi 20 inci yang menampilkan gambar hidup, hingga serangga di kursi penonton yang membuat kaki dan tangan gatal. Yang tersisa hanya gedung tua yang menantikan padamnya lampu bioskop untuk selamanya.

Saat ini, bisa dihitung jumlah gedung bioskop tua yang masih bertahan dan berfungsi sebagai tempat menonton film-film baru. Satu di antaranya adalah Bioskop Taman Hiburan di daerah Cicadas.

“Tetapi banyak juga yang sudah berubah fungsi, seperti Bioskop Dian yang menjadi tempat futsal,” kata Iwan, petugas di PT Kharisma Jabar Film. (THT)

Sumber: Kompas, Jumat, 21 April 2006

Menteng dan Kebayoran Baru, Nostalgia Kota Taman Tropis

April 12, 2005

Pada tahun 2004, untuk kesekian kalinya, Kota Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan meraih penghargaan Bangun Praja kategori Kota Terbersih dan Terindah di Indonesia (dulu populer dengan sebutan Adipura). Tak dapat dimungkiri, salah satu faktor penentu keberhasilan kedua kota itu meraih predikat tersebut adalah keberadaan kawasan Menteng di Jakarta Pusat dan Kebayoran Baru di Jakarta Selatan.

Menteng merupakan kota taman tropis pertama di Indonesia, yang dirancang arsitek Belanda, PAJ Mooejen dan FJ Kubatz (1913), (Adolf Heuken dan Grace Pamungkas, 2001). Sedangkan, Kebayoran Baru adalah kota taman tropis pertama di Indonesia karya arsitek lokal, Moh Soesilo (1948).

Kota Jakarta sebenarnya identik dengan pohon, sunda kelapa (Cocos nucifera). Kemudian dikenal kawasan Cempaka Putih (Michelia alba) dan Karet (Ficus elastica) di Jakarta Pusat, Kemang (Mangifera caecea) di Jakarta Selatan, Kelapa Gading (Cocos capitata) dan Kapuk (Ceiba petandra) di Jakarta Utara, Kayu Putih (Eucalyptus alba), Kebon Pala (Myristica fragrans) di Jakarta Timur, dan Kosambi (Schleichera oleosa) di Jakarta Barat. Begitu pula dengan kawasan Menteng (Baccaurea recemosa dan Baccaurea dulciss Muell) dan Kebayoran atau Kebayuran (bayur = Pterospermum javanicum).

Hingga kini eksistensi pohon telah menjadi identik dengan nama kawasan- kawasan itu. Namun ironisnya, penebangan pohon kota yang semena-mena memusnahkan pohon sebagai identitas karakter lanskap kawasan yang memakai nama-nama pohon tersebut.

Berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, Pasal 1 (1) disebutkan, benda cagar budaya adalah benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak yang berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya atau sisa-sisanya, yang berumur sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, atau mewakili masa gaya yang khas dan mewakili masa gaya sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.

Kota taman tropis Menteng (87 tahun) dan Kebayoran Baru (57 tahun) dapat dikategorikan sebagai kawasan lanskap cagar budaya yang harus dilindungi, dilestarikan, dan dikembangkan secara hati-hati. Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta secara berurutan Nomor D.IV-6098/d/33/1975 untuk Menteng dan Nomor D.IV-6099/d/33/1975 untuk Kebayoran Baru telah menetapkan sebagai kawasan pemugaran. Hal itu diperkuat dalam Perda No 6/1999 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Jakarta 2000-2010 yang juga menetapkan sebagian besar kawasan Menteng dan Kebayoran Baru sebagai kawasan perumahan/hunian serta didukung Perda No 9/1999 tentang Pelestarian dan Pemanfaatan Lingkungan Bangunan Benda Cagar Budaya.

Artinya, segala macam kegiatan preservasi, konservasi, restorasi, rehabilitasi, rekonstruksi, renovasi, dan atau revitalisasi, apalagi untuk kegiatan komersial di kawasan Menteng dan Kebayoran Baru, harus didahului kajian analisis mengenai dampak lingkungan dan sosial, serta studi kelayakan konservasi dan pengembangan kota yang mendalam dan independen.

Menteng dan Kebayoran Baru merupakan adaptasi kota taman bergaya Eropa (Belanda) dalam iklim tropis sehingga sering disebut sebagai kota taman tropis yang banyak dikembangkan oleh Thomas Karsten di Kota Bogor, Bandung, Malang, Semarang, Palembang, Padang, Medan, hingga Banjarmasin. Arsitek Moh Soesilo, yang merancang Kebayoran Baru, adalah salah satu muridnya. Menteng dan Kebayoran Baru seharusnya dilindungi dan dilestarikan sebagai contoh warisan budaya kota taman tropis di Indonesia.

Kota taman tropis memiliki konsistensi hierarki jalan dan peruntukan lahan yang jelas serta didominasi ruang terbuka hijau (RTH) lebih dari 30 persen dari total luas kota. Sistem jaringan RTH kota sudah memiliki struktur dan fungsi sendiri-sendiri, taman/kebun rumah, taman lingkungan, taman kota, lapangan olahraga, taman makam, hutan kota, dan daerah tangkapan air (situ/waduk/danau) yang dihubungkan oleh koridor pepohonan besar jalur hijau jalan, bantaran rel kereta api, saluran tegangan tinggi (sutet), dan jalur biru bantaran kali yang saling menyambung tak terputus. Fasilitas ruang publik dengan konsep taman-taman penghubung (connector park) tersebar sistematis, terencana, dan saling berhubungan.

Kota taman Menteng terdiri atas rumah induk di tengah kapling dengan dikelilingi taman/kebun luas, 23 taman lingkungan (Taman Kudus, Taman Panarukan, Taman Kodok, dan seterusnya), taman kota (Taman Suropati, Taman Tugu Tani), situ (Situ Lembang) dan lapangan olah raga (Lapangan Bola Persija), yang dihubungkan oleh koridor pepohonan besar, jalur hijau jalan dengan median dan/atau pedestrian lebar (Jalan Imam Bonjol, Jalan Diponegoro, Jalan Teuku Umar, Jalan Kebon Sirih), serta jalur biru bantaran kali (sungai ) yang saling menyambung tak terputus.

Menteng sangat kaya dengan arsitektur bangunan yang serasi dengan lingkungan dan unsur tropical deco-nya. Sayang perusakan bangunan merambah di berbagai lokasi seolah tak terkendali, seperti di daerah Sam Ratulangi-Wahid Hasyim-HOS Cokroaminoto.

Kota taman Kebayoran Baru juga memiliki taman/kebun juga cukup luas, taman kota (Taman Puring, Taman Patung Tumbuh Kembang, Taman Langsat, Taman Leuser, Taman Barito, Taman Christina Marta-Tiahahu, Taman PKK), taman makam (TPU Blok P yang sudah digusur, TPU Kramat Pela, TPU Tanah Sebrang), lapangan olahraga (Blok S, Al Azhar), jalur hijau jalan dengan median dan/atau pedestrian (Jalan Senopati, Jalan Sriwijaya, Jalan Brawijaya), dan jalur biru bantaran kali (Sungai Grogol di Barat, Sungai Krukut di Timur) saling menyatu dengan didominasi deretan pohon besar berusia puluhan tahun yang harus dilindungi.

Konsep kota taman tropis seperti inilah yang secara konsisten dikembangkan Kota Singapura, Kuala Lumpur, London, atau Melbourne, tetapi justru ditinggalkan pengelola Kota Jakarta, Bandung, Bogor, Malang, dan hampir semua kota besar di Indonesia. Maka, tak heran jika kini berbagai kota besar mengalami degradasi kualitas lingkungan. Krisis air bersih, krisis udara bersih, intrusi air laut, abrasi pantai, amblasan tanah, banjir, dan kebakaran datang silih berganti mendera kota.

Menteng dan Kebayoran Baru memiliki kekayaan warisan budaya arsitektur bangunan sederhana, modern, dan tropis yang semestinya harus dilindungi. Berbagai tipe bangunan hunian dengan berbagai ukuran dan gaya berbeda melatarbelakangi sejarah panjang kota taman ini.

Perubahan peruntukan lahan diperparah dengan perubahan fungsi bangunan rumah menjadi tempat usaha secara tak terkendali dan telah merusak pembagian kapling (blok-blok) dan arsitektur bangunan khas yang telah direncanakan sebelumnya. Bangunan-bangunan baru tumbuh menggusur bangunan lama dengan arsitektur yang tidak selaras dengan bangunan lama di sekitarnya.

NIRWONO JOGA Ketua Kelompok Studi Arsitektur Lansekap Indonesia (KeSALI)

Sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0504/12/metro/1676614.htm

The Netherlands – Indonesia: A Hybrid of Cultures ?

Januari 7, 2005

By Siswa Santoso
Political scientist at the University of Amsterdam

The editor’s introductory remarks state that the aim of this bilingual publication (Dutch- Indonesian) is to trace the influence of the past Dutch endeavour upon the present work of younger generations. The book presents a collection of twenty-nine articles and interviews expressing both concern and expectations, as well as reflecting on the current scenes in terms of cultural transfer of language and literature; music, dance and theatre; photo- graphy and film; fine art; design and applied arts; architecture; and last but not least, trade and (government) administration.

The general mood of the writing is very positive and the atmosphere is a mixture of personal, political, critical, and cosmopolitan elements, with nationalist and sometimes colonial sentiments thrown in too. One important aspect of this work is the interviewee’s or writer’s strident voice indicating an intermingling of professional and national interests being inserted into family and personal backgrounds. This is not surprising since one prominent sponsor for the joint endeavour was W. Deetman, the former Minister of Education and Sciences, now chairman of the Dutch Parliament. He stated that the government wishes to emphasize the personal and individual dimension in educational and cultural cooperation (p. 16/17). Hence we find in this book three ethnological museum curators who expect the younger generation of Indonesians in Indonesia to undertake a systematic study of Dutch and other West European archaeological and ethnological museum collections. They believe this urgent task could serve to restore the fading traditional values induced by the sudden force of modernity and the rapid growth of today’s economy. This partly underlines the comment by Tuty Herati Nurhadi, the (only) Indonesian interviewee in this chapter on cultural transfer, on the problem faced by the younger generation of Indonesian artists: an insufficient depth of understanding both of traditional/ethnic values and modern ideas. Apart from such a stimulus in academic archaeological training, art history, and history in general, it is not made clear what values may be conveyed by modern Dutch culture. Probably this stems from the personal experiences of certain contributors whose stories reflect (much) regret about their pro-Dutch attitude during the era of Dutch military aggression in 1947-1949. In their new country of Holland, however, their Indonesian background makes it impossible to avoid the continuous recall of a past spent in the Netherlands-Indies which extends far beyond their eating habits, accent and so forth. Culturally speaking, they are still at the cross-roads. It seems that a serious study is needed to identify the problem: is it a matter of choice (within the Dutch- Indonesian relationship) or of acceptance (by the Dutch public at large) ? Is it a problem of (dis)integration or cultural politics ?

Crossroads in literature
Such an unremitting hesitation and uneasiness arises from the hybridization process. However, if we move to what is happening in the field of literature, some writers in the second chapter of the book would suggest differently, certainly in the case of language. Van Zonneveld, for example, after treating some prominent writers from the corpus of Indies belles lettres, such as Robinson/Maheu, Dermout, Haasse, and Springer, suggests that their stories reflect their bondage to Indonesia. They profess a deep empathy for the Indonesian people. Even the writer Du Perron expresses his sympathy with the nationalist movement and had close contact with prominent Indonesian nationalist leaders. As Indonesia became independent, somehow it produced a world-acknowledged writer such as Pramoedya Antana Toer, whose work is admired for its colourful imagery which moves readers to reflect upon Dutch colonialism in Indonesia. In his contribution Teeuw illustrates that, above all other writers, Toer has become familiar to the Dutch public as the representative of modern Indonesian literature. By contrast, the Indonesian public recognize the internationally-known Dutch writer Multatuli for his work in which he took a critical stance towards colonialism in Java. It seems that only Petjo can prove how Dutch/Indies and Indonesian could really get on well together in a language used by ordinary people (with Indies background) in the street. Research by Van Rheeden shows that Petjo is neither Dutch nor Indonesian, despite 83% of the vocabulary being derived or borrowed from Dutch. The moribund Petjo has already achieved linguistic variant in shaping its own form, a mixed-system of Dutch vocabulary and Malay/Indonesian morphology, sound, and structure. The use of Petjo indicated the social position of the speakers. Van Rheeden suggests that Petjo was a product of complex social relations in a (colonial) multi-racial society with its hierarchical structure based on skin colour.

Eclecticism in architecture
The world of architecture provides phenomenal examples of eclecticism. The Dutch architect Maclaine Pont, followed by Karsten, combined traditional and Western systems into a modern outlook with a strong local identity. The 1920 ITB complex in Bandung is a classic example of his work. He, as observed by both Akihary and Gill in their contributions, applied a schematic approach to the design of buildings. Here the local climate presented an important factor in the shaping of the roof, ventilation, and other structural and spatial facets of the construction. Such a design method, since adopted with success only by the American architect Rudolph, was also employed in a post-modern office complex in Jakarta. This is a noticeable contrast, as Gill suggests, to local authorities throughout Indonesia which have adopted a policy of accentuating local traditions in (government) office building projects.

Plural influences
A different pattern of East-West relationships exists when we talk about performing arts in colonial and post-colonial Indonesia. In a survey of the subject, Ernst Heins and Marleen Indro Nugroho-Heins generally put the influence from the West to the fore. They detect some influence from Portuguese Tandjidor theatre, also Portuguese, Dutch and other influences are found in Kerontjong music. Some of today’s theatre scripts are adaptations of classical works (Oedipus Rex, Hamlet), whereas the modern classics such as Samuel Becket’s Waiting for Godot and works by Ibsen and Ionesco have already become common themes among today’s Indonesian dramatists. This development was initiated partly by the introduction of the proscenium during the Netherlands-Indies era. As Ernst Heins and Marleen Nugroho-Heins state, the use of the separated stage made an important change to the traditional relationship between players and audience on the one hand and between the players (dancers, musicians etc.) on the other hand. Nevertheless, the development of the modern stage goes hand in hand with the commercialization of both traditional and modern performances, which has led to the opening up of classical/court dance-drama to a broader audience. As shown by Helena Spanjaard, such a plural influence also applies to fine art. Despite the pioneering work in establishing a Western-orientated art academy in Indonesia, the Dutch had only a limited influence on the first generation of post-war Indonesian artists. During the first part of its development, the academy in Bandung was labelled a colonial and Western laboratory. Spanjaard mentions some prominent figures from the Bandung Western art academy such as Pirous, Sudjoko, Srihadi, Sadali, and Sidharta, who have become more aware of their Indonesian origins and traditions after pursuing further studies of Western art in France and USA. In their later, mature works we find sophisticated calligraphic paintings by Pirous and Sadali. Traditional motifs and rituals became the dominant representations in Sidharta’s sculptures. These results were quite unexpected from the new themes of art academies which had been established on the initiative of the government. The ASRI of Yogyakarta or a similar art academy in Bali were supposed to be anti-colonial and devote themselves to serving the traditional arts. The difference between the Bandung academy and the Yogyakarta and Bali academies was not to be found in their educational programmes or in the traditional sources utilized, in fact the contrary was the case as far as Yogyakarta and Bali were concerned. Spanjaard suggests that the principal difference lies in the attitude taken towards their work. Unlike the art students in Yogyakarta and Bali, Bandung students were instructed more as artists than artisans. The latter reflected the typical colonial attitude to traditionalism in art, but Yogya was able to define its own course towards traditionalism owing to its extremely nationalist and anti-Western origins. This remained so until 1965. Later, in line with the political orientation of the country no longer being hostile towards the West, Yogya’s contribution to modern art in Indonesia also became, as Spanjaard states, technically speaking, international. Like those who are concerned about the identity of today’s Indonesian modern art, after presenting some of the joint Dutch-Indonesian project Cultural Transmission Spanjaard too suggests a return to their own roots. She says: “Dutch artists who have spent some time in Indonesia attempt to deal with their environment by harking back to traditional values and norms. But what about the Indonesian artists? The ones who have spent time abroad (Holland, USA, Japan, Australi- a), attempt to shed their traditions which their Western counterparts seek so desperately.” (p. 150)

Yet such Dutch-Indonesian activities in the field of culture were and are driven by strong economic interests. In his contribution, Meijer describes Haakma, a diplomat who, at present, is very active in business affairs, as a disciple of Jan Pieterszoon Coen in the most positive sense. Haakma is also active in the introduction and facilitating of cultural activities within Indonesia. A combination of trade and cultural activities implies, Haakma argues, an increase of trade and export quotas. On the subject of cultural and student exchanges, he says: “In the future they will tend to place orders with the country in which they studied, since they know the country well and have personal empathy for it. in this case the Ne- therlands is threatened with being left behind.” (p. 210/213)

A Broken Mirror?
I find many narratives in this book akin to testaments by those who think about the long road of progress towards the finding of their origin and cultural identity. Certainly such a contribution may be taken as a reflection upon their identity, which is being consumed by a major process under the impending impact of globalization. It is also important to make a link between these historical accounts, today’s crises, and strategy for the future. Yet between the Netherlands and Indonesia, owing to past relationships, an association of intercourse between these two countries seems to persist which is more complex than is justified by today’s trans-national setting. It stems partly from the undigested past (from the Dutch point of view) but also from the capability of manipulation and exploitation of the same past by the Indonesians. It follows that Indonesia has not been able to distinguish its real inherited weakness and strengths. With regards to the cultural aspect, this book can be a good point of departure for such a topic of discussion. The intermingling of refinements begins with exchanges between two or more cultural variants. When the exchange process is initiated from below, one might expect only a minimal identity crisis if, and only if, the participants in the process have the opportunity to define their own role. Descriptions and discussions on the matters found in this book express complex identity crises: a dual cultural world of the Dutch? Indonesian and the diminishing traditional values in a plastic global environment are now experienced by the younger generation of Indonesians. In this context, there is no better illustration of ambivalence than the tension between the conservative and dynamic way of regarding traditionalism.

Without profound studies of the social significance of the traditional values, the adoption of the suggestions found in either ethos will not provide much help, especially for those at the cross-roads, since being accepted in international art has more allure than embarking upon an endless discussion about the authenticity of one’s work in terms of cultural roots. Secondly, the positions of both the dynamic and conservative approaches towards raditionalism share a similar tendency to welcome the newcomers in the world culture provided, of course, that they observe normative and instructive constraints. This leads to the third aspect of my remarks. The discourse on colonialism does not really help one to understand the actual form and mechanism of colonial practices. The contemporary use of nationalist discourse on colonialism and vice versa suggests a practice in which economic power plays an instrumental role. Thus I cannot isolate these contested appro- aches from their discursive context and the real process to which this refers, namely that cultural factors are instrumental in maintaining politico-economic dominance. This, together with the approach adopted and expressed in this book, reminds me that Ashis Nandy said that colonialism is not merely a politico-economic process, but also a psychological one which treats culture as a state of affairs.

References
Ashis Nandy: The Intimate Enemy, New Delhi, Oxford University Press. 1983
Pramoedya Antana Toer: Maaf, Atas Nama Pengalaman, in Arena vol 7, 1990-1992 (p.4- 29).

Hester Wolters ed.
Nederland/Indonesia. 1945 – 1995. Een culturele vervlechting. Suatu Pertalian Budaya. Den Haag: Zoo Produkties 239 pp.

Source: http://www.iias.nl/iiasn/iiasn6/ascul/santoso.html

Batik Belanda, Penggalan Sejarah Kolonial di Indonesia

Februari 29, 2004

MESKIPUN pameran kain batik telah berulang kali diadakan, setiap kali memandang kain batik selalu terasa ada pesona yang memancar. Bukan sekadar keindahan perpaduan dan komposisi ragam hias serta permainan warna yang menarik diamati, tetapi juga semangat zaman yang dipancarkan kain tersebut.

Begitu juga yang terasa ketika menyaksikan pameran kain batik Belanda koleksi pribadi Ny Eiko Adnan, Ny Nian Djoemena, dan Ny Asmoro Damais di Galeri Hadiprana, Kemang Raya, Jakarta Selatan (24 Februari-6 Maret 2004). Kain batik milik ketiga pencinta kain itu umumnya merupakan batik tulis dan banyak berasal dari bengkel pengusaha batik di Pekalongan.

Pekalongan memang tempat produksi utama batik Belanda. Seperti dicatat Rens Heringa dalam Fabric of Enchantment, Batik from the North Coast of Java (1996), setelah tahun 1860, Pekalongan menjadi sentra produksi batik Indo-Eropa atau dikenal sebagai batik Belanda.

Terutama di Pekalongan-lah ragam hias dan komposisi batik mengalami proses eropanisasi, terutama dalam inspirasi dan pengerjaan. Hal ini karena ada kebutuhan dari pembeli orang-orang Indo-Eropa, laki-laki dan perempuan. Batik yang berasal dari bengkel batik milik pengusaha seperti AJF Jans, Lien Metzelaar, Tina van Zuylen, dan terutama Eliza van Zuylen menjadi keharusan untuk dimiliki sebagai penunjuk keterhubungan dengan komunitas Belanda.

Pengusaha batik berdarah Indo-Eropa itu, menurut Heringa, memberi sumbangan dalam perkembangan batik melalui kebiasaan membubuhkan tanda tangan pada setiap lembar batik mereka untuk menunjukkan tiap lembar dibuat khusus dengan kesempurnaan pengerjaan. Para pengusaha Indo-Eropa itu juga memperkenalkan warna baru selain merah dan biru yang klasik. Melalui teknik pewarnaan yang rumit, mereka menghasilkan gradasi warna yang sempurna dari setiap warna.

Sumbangan lain pengusaha itu adalah pada gaya ragam hias dan komposisi yang menciptakan gaya khas Pekalongan. Gaya pertama dicirikan oleh garis-garis sederhana dan motif geometris yang rapi. Gaya kedua adalah penggunaan motif buket bunga atau lebih dikenal sebagai buketan yang kemudian dipandang sebagai esensi batik Pesisir. Buket berukuran besar ini diletakkan di bagian badan maupun kepala kain.

Para perempuan Indo-Eropa memilih motif bunga yang khas Eropa pada setiap musim untuk mewakili setiap tahap kehidupan mereka. Warna bunga pun menentukan siapa pemakainya. Warna putih untuk pengantin, biru untuk perempuan yang belum menikah, merah menggambarkan cinta sehingga dipakai untuk perempuan yang menikah, sedangkan ungu dianggap mewakili kesederhanaan sehingga diperuntukkan bagi janda.

BATIK Belanda menjadi penanda kelas sosial pada masyarakat kolonial yang dibeda-bedakan berdasarkan ras dan status sosial. Tahun 1754 Gubernur Jenderal Jacob Mossel mengeluarkan aturan berpakaian untuk setiap suku bangsa, termasuk jumlah budak yang boleh dibawa ketika berada di tempat umum. Berpakaian menurut kebiasaan penduduk setempat diizinkan bagi pegawai Eropa dan para istri mereka, tetapi ketika berada di tempat umum di Batavia harus mengenakan pakaian Barat.

Batik yang dikenakan sebagai kain panjang atau sarung dan kebaya atau atasan longgar bergaya tunik menjadi pakaian favorit orang Indo-Eropa karena sesuai dengan iklim tropis. Heringa juga menyebutkan, padanan sarung dan baju panjang katun longgar ini merupakan favorit Gubernur Jenderal Daendels, yang mengenakan pakaian ini untuk acara informal dan juga ke kantor.

Pada tahun 1872 pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan aturan yang memaksa setiap orang di Hindia Belanda mengenakan pakaian asal suku bangsanya ketika tampil di muka umum. Batik Belanda dan kebaya semakin surut sebagai pakaian di muka umum pada awal abad ke-20 ketika gaya hidup bergaya Eropa semakin mendominasi. Mereka yang mengenakan kain batik di muka umum adalah kalangan Indo-Eropa dari kelas sosial bawah, bahkan para pengusaha batik Indo-Eropa pun, menurut Heringa, tidak mau mengenakan kain batik dan menganggap membuat batik sebagai bisnis belaka.

Batik-batik koleksi Ny Eiko Adnan, Ny Nian Djoemena, dan Ny Asmoro Damais bukan hanya indah, tetapi juga memberi pemahaman tentang sebuah penggalan sejarah Indonesia. Salah satu kain batik koleksi Ny Djoemena, buatan Pekalongan, menggambarkan motif dongeng Eropa tentang gadis berukuran sangat mini. Pada kain itu juga muncul motif bunga. “Bunga buket dan burung gereja adalah salah satu ciri utama batik Belanda,” tutur Ny Djoemena.

Kain koleksi Ny Eiko Adnan antara lain adalah kain yang menggambarkan pergi haji ke Mekkah dengan naik kapal, berbahan katun, cap kayu, untuk perempuan dan laki-laki. Selain gambar kapal, pada bagian badan juga ada teratai, cumi-cumi, unta, dan bidadari; sedangkan bagian kepala bermotif bunga keladi, angsa, burung, dan kupu-kupu. Kain ini ditandatangani oleh Haji Ambari. Kain yang lain adalah kain Kompeni yang menggambarkan serdadu, kapal laut, kapal terbang, meriam dengan galaran (garis-garis halus) sebagai latar belakang. Koleksi kain Ny Adnan juga ada yang dibuat di Palmerah, Jakarta, tahun 1880, bermotif burung, bunga, kupu-kupu di bagian kepala, sementara di bagian badan menggambarkan burung merak, bunga, dan latar belakang galaran.

Sedangkan koleksi Ny Asmoro Damais antara lain berupa batik buatan Eliza van Zuylen tahun 1925 dengan garis miring berukuran besar, bunga, dan bagian badan dihiasi lambang kemakmuran yang disebut Horn of Abundance.

Meskipun ada yang melihat motif-motif batik Belanda sekadar hiasan tanpa makna, bila dipandang dari sudut penguasa kolonial, motif-motif dari Eropa tersebut menunjukkan “pemaksaan” dari posisi penguasa terhadap yang lebih lemah, termasuk juga pengaruh nilai budaya Barat. Inilah gambaran penggalan sejarah kolonial di Indonesia. (NMP)

Sumber: Harian Kompas, Minggu, 29 Februari 2004

Dasima dan Kisah Para Nyai

Januari 4, 2004

Laporan: Alwi Shahab

Terletak sekitar 10 km dari pasar Parung, daerah Ciseeng di Kabupaten Bogor berkembang pesat. Belasan tahun lalu jalan menuju Ciseeng sebagian masih tanah dan rusak berat. Kini sejumlah perusahaan real estate membangun perumahan di sana. Sementara pesantren Al-Mukhlisini pimpinan KH Zainal Abidin yang memiliki ribuan santri kini sudah membesar dengan membangun perguruan tinggi. Di kawasan ini juga terdapat pemandian air panas yang belum dikelola baik. Berbelok ke arah kanan dari Ciseeng dari Parung, terdapat desa Kuripan, setelah naik ojek sekitar dua kilometer.

Diriwayatkan di desa yang berhawa sejuk inilah lahir dan dibesarkan gadis cantik bernama Dasima. Kemudian untuk mencari penghidupan yang lebih baik, ia mengadu nasib ke desa Curug, Tangerang. Sulit dibayangkan bagaimana Dasima mencapai Curug dari desa terpencil dan belum ada jalan macam sekarang ini. Yang pasti, Dasima kemudian bekerja pada seorang Inggris kaya raya, Edward Williams, yang merupakan orang kepercayaan Raffles. Karena tergoda gadis desa yang bahenol ini, William memeliharanya sebagai nyai atawa gundik, tanpa dinikahi.

Kisah Dasima selanjutnya memilukan hati. Menurut versi G Francis (1896), sekalipun Dasima diberlakukan baik oleh tuannya, tapi ia mengalah pada guna-guna dan meninggalkan suami serta putrinya yang masih kecil bernama Nancy. Ia lantas menjadi istri kedua Samiun, tukang sado dari Kwitang. Tapi, sebenarnya bukan karena guna-guna Dasima meninggalkan tuan dan putrinya, tapi setelah diinsafkan bahwa hidup tanpa nikah adalah dosa besar. Akhirnya nyai dari Kuripan ini mati dibunuh Bang Puase atas perintah istri pertama Samiun, Hayati yang gila ceki (permainan judi Cina). Mayatnya dilemparkan ke kali Ciliwung dari Jembatan Kwitang, dekat toko buku Gunung Agung dan Hotel Aryaduta sekarang. Sedangkan, tempat kediaman William, pada peristiwa dua abad lalu itu diperkirakan terletak di samping gedung Pertamina dan Dirjen Perhubungan Laut di Medan Merdeka Timur. Kisah Nyai Dasima ini telah beberapa kali diangkat ke layar film dan sinetron serta diterjemahkan dalam berbagai bahasa.

Kisah nyai-nyai yang berlangsung pada dua abad lalu ini menjadi jamak karena orang Belanda dan Cina yang tiba di Batavia saat itu sering tanpa disertai istri. Mereka mengawini wanita pribumi atau mengambil nyai (gundik), terutama dari kalangan budak. Sebetulnya, pergundikan yang merupakan tradisi masyarakat kolonial Portugis sangat dibenci Gubernur Jenderal JP Coen. Tapi, hal itu terjadi karena penduduk Batavia sebagian besar pria. Coen ingin menjadikan Batavia sebagai kota Belanda yang murni. Untuk itu ia berkali-kali minta agar banyak wanita Belanda termasuk para gadis yatim piatu untuk dikirim ke Batavia, tapi tidak berhasil. Kecuali kepada para pegawai tinggi yang diizinkan membawa istri dan anak-anak, Heren 17 (Dewan Tertinggi VOC) melarang mengirim wanita Belanda ke Asia.

Orang-orang Eropa yang mengawini wanita pribumi cendrung kehilangan ciri-ciri Eropa tertentu dan mengambil berbagai gaya hidup pribumi. Mereka inilah yang sampai tahun 1950-an disebut Indo Belanda. Mereka sendiri oleh kaum Belanda totok diberlakukan sebagai orang Eropa kelas II, bahkan kelas III dan IV. Tidak heran banyak warga Belanda yang setelah mengawini wanita pribumi akan lebih memilih untuk tetap hidup di Indonesia setelah masa jabatannya habis. Apalagi pada masa VOC mereka tidak disediakan tiket untuk pulang.

Sejak JP Coen menaklukan Jayakarta (1619), ia memang memerlukan banyak tenaga kerja. Sementara Belanda dan Cina yang datang tanpa istri membutuhkan para budak wanita untuk dikawini atau dipelihara sebagai nyai dan gundik. Jumlah budak lantas berkembang sangat cepat, hingga pertengahan abad ke-17 jumlahnya mencapai separuh penduduk Batavia. Sensus tahun 1681 mencatat dari 30.740 penduduk Batavia, sebanyak 15.785 adalah budak belian. Tahun 1730 jumlah mereka meningkat dua kali lipat menjadi 30 ribu sehingga menjadi kelompok penduduk terbesar. Perbudakan baru dihapuskan pada 1860. Di antara para budak belian di Batavia, banyak yang dibeli di pasar-pasar budak di India, seperti di pantai Malabar dan Coromandel, selain dari Bali dan Sulawesi Selatan. Di Batavia kala itu juga terdapat tempat jual beli budak. Pada masa Gubernur Jenderal Van den Parra (1761-1775) hampir setiap tahunnya dilakukan impor empat ribu budak.

Tentu saja nasib para budak sangat menyedihkan. Mereka bekerja tanpa dibayar dan tidak ada jaminan hukum terhadap mereka. Menurut Adolf Heuken, warga Jerman yang banyak menulis tentang Jakarta, justru para nyai atau gundik inilah yang bernasib baik. Beberapa nyai bahkan memiliki beberapa budak belian untuk berbagai keperluan sehari-harinya. Para budak juga dipekerjakan di kebun-kebun yang dibeli para nyai. Sebagai contoh Nyai Rokya (1816) yang memiliki 22 budak. Ia masih kalah dengan seorang janda kaya yang jadi gundik Cina kaya raya yang mewarisi 32 budak belian. Baru pertengahan abad ke-19, setelah dibukanya Terusan Suez dan pelayaran dengan kapal uap ke Hindia Belanda hanya butuh waktu satu bulan, banyak warga Belanda datang ke Batavia dengan disertai istri dan keluarganya. Sebelumnya pelayaran dari Eropa ke Batavia memerlukan waktu enam bulan dengan berbagai risiko di laut.

Sumber: Republika, Minggu, 04 Januari 2004

Pasar Malam Besar Tong Tong

Juni 13, 2003

Pasar Malam Besar Tong Tong
Event kebudayaan Indo-Belanda dan Indonesia terbesar di Belanda
Oleh: Jean van de Kok, 13 Juni 2003

Setiap tahun, pada bulan Juni, di kota Den Haag diselenggarakan Pasar Malam Besar. Anda di Indonesia tidak mengenal lagi fenomena pasar malam seperti yang diselenggarakan di negeri kincir angin ini. Pasar malam besar ini mirip dengan pasar malam sebelum perang dunia kedua di Batavia. Jadi jelas, event in adalah peristiwa nostalgia dari kelompok Indo Belanda, mereka yang berdarah campuran Belanda/Eropa – Indonesia.

Budaya campuran Indis

Vincent Mahieu yang lebih dikenal dengan nama samaran Tjalie Robinson, seorang pemuka Indo-Belanda sekaligus penulis sastra beken di Belanda, adalah salah seorang inisiatornya. Ia ingin mempertahankan kebudayaan campuran Indis yang menurut catatan sejarah pernah berkembang di beberapa tempat di Nusantara. Di Batavia misalnya daerah Tugu dengan penduduk campuran Portugis/Belanda – Indonesia, terkenal dengan budaya campurannya yang antara lain membuahkan keroncong, musik khas yang juga disebut keroncong morisko, nama yang berasal dari bahasa Portugis. Sampai sekarang kelompok Indis menganggap keroncong sebagai khas musik Indo.

Pelepas rindu

Sebagian besar kelompok campuran Indo-Belanda di Nusantara tetap mempertahankan kewarganegaraan Belandanya setelah Indonesia merdeka. Ketika Indonesia memutuskan hubungan diplomatik dengan Belanda, mereka yang memegang paspor Belanda harus meninggalkan Indonesia. Demikian juga orang Indo Belanda yang bukan WNI. Sekitar setengah juta warga Indo-Belanda kini menetap di Belanda, dan untuk sebagian besar dari mereka, pasar malam besar Tong-Tong di Den Haag merupakan kesempatan untuk melepas rindu mereka akan tanah kelahiran mereka atau dari orang tua dan kakek/nenek.

Den Haag mendapat julukan kota Indis, karena banyaknya orang Indo-Belanda yang menetap di ibu kota pemerintahan Belanda ini. Orang Indo-Belanda mayoritas adalah “ambtenaar” di Hindia Belanda dan ketika mereka hijrah ke Belanda sebagian besar meneruskan karir sebagai pegawai negeri di berbagai departemen pemerintahan Belanda di Den Haag.

Tiga ciri khas

Pasar malam besar Tong Tong menyorot tiga ciri khas dalam kebudayaan Indo- Belanda: makan, kebudayaan dan bahasa. Berbagai restoran dan acara belajar masak bisa anda jumpai di pasar malam ini, dari makanan khas Padang, Jawa Timur sampai ke makanan Indis, makanan campuran gaya Indonesia dan Belanda. Ihwal budaya, pasar malam ini menyediakan berbagai panggung dan teater, serta mengundang para artis Indonesia dan Belanda yang berlatar belakang Indonesia untuk memamerkan kebolehan mereka.

Setiap tahun diundang orkes keroncong dari Indonesia, Belanda atau negara lain, misalnya Malaysia. Dan akhir-akhir ini dangdut pun mendapat perhatian juga. Inul penyanyi dangdut kontroversial Indonesia pernah manggung dengan kelompok dangdut bulé. Bahasa khas kelompok Indis ini adalah campuran Belanda dengan bahasa Jawa atau Melayu: bahasa Pecok. Bahasa ini masih bisa didengar selama pasar malam besar ini atau dibaca dalam beberapa buku khas. Namun di samping itu, ratusan buku dalam bahasa Belanda dan Inggris yang menyorot Indonesia dan Hindia Belanda semasa tempo doeloe, bisa kita beli di toko buku khusus di pasar malam ini.

Dibuka Ratu Beatrix

Pasar Malam Besar tahun ini diselenggarakan untuk yang ke 45 kali. Dalam rangka itu Ratu Belanda Beatrix membuka Pasar Malam ini dengan memotong nasi tumpeng yang ia serahkan kepada direktur Pasar Malam Besar Tong-Tong ibu Ellen Derksen. Kehadiran ratu Belanda merupakan kehormatan besar bagi kelompok Indo-Belanda karena selama ini mereka merasa tidak dianggap serius, sering dikaitkan dengan masa kolonial Belanda di Indonesia, dan tidak digubris permasalahan sosial mereka selama berintegrasi dalam masyarakat Belanda. Mereka bahkan dipaksa untuk berasimilasi, demikian Ellen Derksen dalam pidato pembukaannya.

Nah, pasar malam Besar Tong Tong sebagai aset kebudayaan Indis di Belanda membuktikan paksaan untuk berasimilasi ini tidak berhasil, tanpa subsidi sepeser pun dari pemerintah Belanda, Pasar Malam besar Tong-Tong berjalan mulus sampai abad ke 21, untuk yang ke 45 kalinya, demikian direktur yayasan pasar malam besar Tong-Tong ini.

Sumber: http://www.rnw.nl/ranesi/html/pasar_malam_besar.html

Gagasan Indonesia dalam Karya Sastra Abad Ke-19

November 17, 2002

Gagasan Indonesia dalam Karya Sastra Abad Ke-19
Kesah Kaum Slam, Gundik dan Cina di Tanah Hindia

Oleh Saifur Rohman

GAGASAN Indonesia yang didengungkan JR Logan tahun 1850 itu barangkali juga dimaksudkan untuk mewadahi kurang atau lebihnya apa yang kini disebut identitas Indonesia. Sebagai editor majalah The Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia, sebuah majalah etnografi, dalam edisi IV Logan seakan-akan meramal hampir seratus tahun kemudian tentang penamaan sebuah istilah yang akan resmi dipakai oleh sebuah kesatuan negara-bangsa. Logan memilih, sebuah kesatuan negara-negara itu, dengan sebutan Indonesia ketika mendasarkan, “I prefer the purely geographical term, Indonesia, which merely shorter synonym for the Indians or the Indian archipelago.” Sampai kemudian pada simpulannya, “We thus get Indonesian for Indian Archipelagians or Indian Islanders.”

Kendati begitu, sulit bagi orang-orang yang mendiami sebuah kepulauan pada pertengahan abad ke-19 itu untuk membayangkan satu indentitas dengan 13.000 suku yang tersebar di nusantara. Mereka tak pernah tahu bahwa keterlibatan mereka dalam suatu ruang-waktu itu kemudian menjadi sebab-sebab adanya Indonesia. Indonesia sebagai negara-bangsa yang enclave. Keterlibatan yang manakah sehingga dengan serta-merta dikatakan sebagai identitas Indonesia?

Sebuah novel monumental yang ditulis sembilan tahun kemudian setelah pengumuman Logan tersebut, Max Havelaar (1859) karya Multatuli atau Eduard Douwes Dekker, adalah sebuah potret otentik yang bisa kembali menggugah kesadaran. Seorang tokoh, Max Havelaar namanya, adalah seorang wakil dari residen di Lebak, Banten. Kejadian bermula ketika Max Havelaar menulis surat kepada Gubernur tentang kebusukan yang terjadi di birokrasi. Penggelapan uang pajak, pelayanan publik yang involutif, dan pemerasan terhadap masyarakat, tulis Max Havelaar, telah menggejala di wilayah Lebak. Karena itu, Havelaar mengusulkan, agar Gubernur Hindia Belanda memecat residen atas perilakunya yang tidak terpuji sebagai pelayan masyarakat.

Surat yang ditandatangani tanggal 20 April 1856 itu sontak menggegerkan pemerintah pusat. Seumur-umur bawahan tidak pernah ada tradisi untuk melaporkan kesewenang-wenangan yang terjadi di daerah kepada pusat. Havelaar sebagai asisten Residen tidak sepantasnya menyurati Gubernur. Atas pertimbangan itu, surat Havelaar bukan mendapatkan sambutan yang baik dari atas, tetapi malah klarifikasi yang dilakukan pihak pusat ke Lebak hanya untuk mengukuhkan kedudukan Residen Lebak. Havelaar tidak bisa berbuat apa-apa karena dia memang tidak bersedia membeberkan bukti atas pernyataannya. Ketika itu kepada Havelaar, Gubernur berkata bahwa bukti-bukti yang tidak diberikan sama artinya dengan fitnah. Gubernur menolak surat permohonan pemecatan terhadap residen Lebak karena, “tidak ada itu kesalahan yang diperbuat”. Surat yang tidak tersambut dan hubungan dengan Residen yang memburuk, membuat Havelaar pindah tugas. Tapi tak lama. Sebab, apa yang dialami dalam suasana baru bukanlah hal baru, terutama soal kongkalingkong antara birokrat untuk menjaga nama baik. Artinya ia mengundurkan diri dan diterima.

Itulah satu-satunya peristiwa yang tercatat di negeri ini selama abad ke-19. Sebuah potret yang menyetel kembali cerita superioritas penguasa dan ketidakberdayaan orang yang mendiami kepulauan nusantara; seorang Indonesia, kata Logan, lepas dari bahasa yang digunakan oleh Douwes Dekker bukan bahasa yang biasa dipakai oleh orang Indonesia, melainkan bahasa Belanda.

Bahasa yang kemudian disebut sebagai bahasa Indonesia itu pun baru digunakan setidaknya dalam karya sastra berbentuk syair dalam Sair Kadatangan Sri Naharaja Siam di Betawi yang terbit pada 1870. Syair tanpa nama pengarang itu sempat mencatat tanggal penulisan, yakni “kutika rebo ada harinya/Lima april ada tanggalnya” (Rabu, 5 April 1870). Seperti tampak dalam judulnya, syair ini menceritakan tentang sambutan yang meriah pihak pemerintah Hindia Belanda terhadap kedatangan Raja Siam (Thailand). Di kiri-kanan jalan dipasang bendera Belanda dan bendera Thailand. Kelompok Drum Band dikerahkan. Masing-masing ruas jalan dijaga oleh tentara Belanda sampai-sampai penduduk tidak bisa melihat rombongan Raja yang melewati jalan. Apalagi menggunakan jalanan seperti biasanya. Meriahnya sambutan itu seperti bulan di atas kuburan-meminjam sajak Sitor Situmorang-karena mereka berpesta pora di tengah-tengah kemiskinan yang membelit penduduk Inlander.

Sebuah satir metaforis yang menarik dilontarkan dalam syair ini ketika rakyat sudah sia-sia untuk bisa menonton dari dekat. “Siapa saja yang tidak bisa melihat dari dekat, sebaiknya “berdiri nonton la dari jauh / sebab hati nyang punya mau / tinggal berdiri seperti kayu.” Ungkapan “seperti kayu” menyentakkan keterpakuan kita karena kayu yang tertanam memang tidak pernah dihiraukan oleh siapa pun yang lewat. Kayu itu, keindonesiaan itu, tidak pernah ada di mata bangsa Belanda. Kayu akan lebih rendah daripada hewan karena hewan masih bisa memberontak dengan tenaganya.

Intensionalitas masyarakat dengan situasi yang mengungkungnya memberikan petunjuk-petunjuk betapa subordinasi identitas keindonesiaan itu tertekan dalam di bawah telapak Identitas negara-bangsa Belanda. Identitas kayu, yang diam, tak dihiraukan itu, dianggap sebagai sebuah keadaan yang dasein- mencomot wawasan ontologis Heidegger – sehingga “begitu adanya nyang orang kecil / sana sini berdiri terpencil / mau menonton tidak berhasil / mala di larang tida dipanggil.” Dasein sebagai “kecil”, “terpencil”, dan “tida berhasil” adalah fakta-fakta kesadaran (konsituasi dalam bahasa Husserl) yang merangkum gagasan Indonesia yang subordinat. Pengarang menambahkan lagi identitas itu dengan mengatakan: “Orang kecil dan nyang terhina / Suda di pikir tida berguna / Apa lagi orang slam dan cina / di pegat sini di pegat sana.” Betapa “kecil” itu menjadikan “terhina” dan “tak berguna” karena disingkir oleh dominasi identitas penguasa.

Uniknya, keadaan subordinat itu telah diidentifikasi dengan menyebut kelompok yang tergabung dalam barisan Indonesia, yakni kaum Slam (Islam atau Pribumi) dan Cina. Menjadi menarik ketika klasifikasi sosiologis ini dijadikan unsur-unsur penggerak menuju suatu sistem gagasan kebangsaan. Masalahnya, di dalam karya lain pun klasifikasi ini mendapatkan tempat yang sangat mencolok.

Bahkan, G Francis secara jeli membeberkan identitas kebangsaan Slam itu dalam Njai Dasima. Sebuah novel yang pada mulanya diangkat dari cerita lisan. Novel yang terus mendengung-dengung sampai sekarang dengan tafsir yang terus berbeda-beda. Nyai Dasima adalah seorang gundik Edward, seorang Belanda totok. Kehidupan yang bahagia itu terusik oleh seorang pribumi yang memiliki status kiai dalam masyarakat. Kiai tersebut dengan mantra-mantranya membujuk Nyai Dasima agar masuk Islam. Nyai Dasima terpengaruh. Dalam Islam, seperti yang diceritakan G Francis, seorang muslimah tidak boleh memiliki suami seorang kafir, seorang Belanda. Makanya, Nyai Dasima mau tak mau harus melepaskan diri dari Edward yang orang kafir dan Belanda itu.

Alhasil, Nyai Dasima melarikan diri dari Edward untuk menikah dengan Kiai. Pernikahan itu ternyata semata-mata untuk menutupi niat jahat kiai untuk mempreteli harta Nyai Dasima. Istri tua Kiai pun ikut serta. Tak urung, setelah kembali melarat dan tidak mau dijadikan jongos, akhirnya Nyai Dasima dibunuh dekat sungai. Mayatnya diceburkan kemudian hanyut melintasi aliran sungai untuk sampai di belakang rumah Edward. Di sana Edward menemukan Nyai Dasima sudah membusuk.

Di sini perlu buru-buru dijelaskan, betapa kemudian orang pribumi yang memiliki ideologi Islam dipandang secara berjarak oleh pengarang. Kumuh, kikir, licik, penipu, dan jahat. Penokohan yang diciptakan untuk seorang Kiai ingin memberi penegasan tentang sifat-sifat buruk itu. Tetapi, sebaliknya, seorang kiai pun memiliki pandangan yang sangat berjarak dengan seorang Belanda. Seorang kafir, beragama di luar Islam, sehingga mutlak harus dipisahkan antara Nyai Dasima yang pribumi, kendati belum masuk Islam.

Bisa dikatakan, sejak semula memang sudah terentang jarak untuk menyusun sebuah identitas sendiri. Identitas untuk mengobyekifikasi yang lain (the Other). Boleh diterima boleh tidak, gagasan Indonesia sebagai sebuah identitas kebangsaan menelusup masuk ke dalam yang lain itu, menyebar ke segenap renik-renik masyarakat, bersinergi untuk menyusun suatu subyek, mengendap-endap di setiap petak langkah, dan akhirnya ke-yang lain-an (the Otherness) itu menjadi satu subyek utuh dengan identitas kebangsaan yang kental.

Gerak gerilya penelusupan itu dilakukan oleh Tan Teng Kie lewat syairnya yang berjudul Sair Kembang (1898), Sair dari hal datangnja Poetra Makoeta Keradjaan Roes di Betawi (1891) dan Syair Jalanan Kreta Api (1890). Puisi itu, terutama dalam Sair Kembang dan Sair Poetra Makoeta, terdiri atas madah-madah terhadap bangsa Belanda; tetapi juga bisa dibaca sebagai sebuah saksi atas keterlibatan orang Inlander dalam pergulatannya untuk mewujudkan sebuah identitas kebangsaan yang kental. Tan Teng Kie bisa dikatakan berhasil menjelmakan sage-sage yang terselip di antara alegori peristiwa yang tersusun. Selipan di antara Syair Jalanan Kreta Api, Tan Teng Kie sadar, “Jalanan Kereta saya syairken / Sekalipun personeel saya sindirken.” Dia menyindir dengan menggambarkan para pekerja yang harus putus jari tangannya karena kejatuhan rel; Seorang kuli terjatuh dari jembatan seperti ditendang setan, badannya remuk; Seorang kuli dari Cianjur hancur sikutnya karena tertimpa lempengan baja. Satire itu mesti diterjemahkan sebagai serpihan perlawanan yang tak kunjung dipadukan menjadi sebuah mozaik yang melukiskan sebuah bangsa. Belum. Bahkan, jauh-jauh hari dia menggumam sebagai pencerita syair, “Beberapa buku sudah sediya / Telah tersiyar di tanah Hindiya / Dalam tu pekerja’an antero dunya / Se’orang tadapat melawan diya.” Bukan simpulan seorang pencundang karena tak kunjung datang impian sebuah titik nadir, tetapi betapa belenggu identitas bangsa lain masih demikian melekat erat, sehingga “kita tadapat melawan diya.” “Kita” sebagai satu idenitas yang berbeda dengan “dia” sebagai keutuhan identitas, tetapi identitas “dia” lebih mewujud dan konkret daripada “kita”, oleh karena dia membelenggu.

Identitas yang membelenggu itu, dia, berhadapan dengan identitas aku. Abad ke-19 adalah sebuah abad ketika identitas aku sebagai bangsa dilahirkan secara prematur. Jabang bayi prematur itu seketika menatap sekeliling untuk menamai dirinya sendiri, memberi sesaji selamatan sendiri agar tumbuh dan berkembang menjadi dewasa di kelak kemudian hari. Tetapi, lihatlah, betapa sang aku, yang telah diberi nama Indonesia, yang meminta sesaji darah dan nyawa, telah berdiri tegak dengan gagahnya. Kegagahan untuk mawujud. Mawujud untuk membelenggu. Membelenggu untuk menjadi dia. Tiba-tiba Indonesia yang semula Aku telah menjadi Dia.

Bayi itu bukan aku lagi. Setelah seabad berlalu dan rona warna te-lah menyusun lukisan biru, di titik abad ke-21 terselip tanya, masihkah tersisa impian tentang Indonesia sebagai aku?

Saifur Rohman, Sastrawan.

Sumber: Harian Kompas, Minggu, 17 November 2002

Bangunan Lama dan Mebel Masa Kolonial

Agustus 13, 2002

Oleh Grace Pamungkas, Arsitek peneliti bangunan tua di Jakarta.

SEBAGAI bagian dari sejarah, bangunan lama termasuk mebel dan tatanan interior di dalamnya, selama ini termasuk hal yang hanya menjadi minat segelintir orang. Sesungguhnya kesadaran akan pentingnya sejarah dengan cara mempertahankan bangunan lama bukan hal baru, terutama di Jakarta. Meski faktanya, masih banyak orang yang lebih mementingkan keuntungan materi semata, dibanding memikirkan keuntungan nonmateri bagi generasi mendatang.

Beberapa bangunan lama yang besar di Jakarta, seperti Bank Indonesia atau bekas Bank Exim di kawasan Kota, Jakarta Barat, termasuk bangunan lama yang hingga kini masih bisa dinikmati keindahan gedung sekaligus interiornya.

Bangunan lama dalam bentuk rumah tinggal yang umumnya terdapat di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, bahkan masih menyisakan perabot antik masa kolonial. Seiring dengan masuknya pedagang dari Cina, India, dan Eropa, semakin kentara pengaruh mereka terhadap model mebel pada zaman itu.

Mebel masa kolonial garis besarnya dibagi dalam dua kelompok periode perkembangan gaya, yaitu periode awal era Vereegnide Oost Indische Compagnie (VOC), sekitar abad ke-17 hingga abad ke-19; dan periode modern awal tahun 1900-an, ketika era modernisasi muncul di Eropa.

Mebel yang digunakan awal abad ke-17 hingga permulaan abad ke-18 ternyata banyak menggunakan kayu eboni (Diospyros ebenum, Diospyros celebica) yang berwarna hitam, juga kayu kalamander (Diospyros quaesita), amboina (Pterocarpus indicus), sonokeling (Dalbergia latifolia), satin (Chloroxylon swietenia), dan jati (Tectona grandis). Sementara pada periode modern, digunakan lebih banyak ragam bahan baku selain kayu, seperti rotan, kain terpal, kulit, marmer, hingga besi.

MEBEL periode awal VOC, bisa dikatakan bentuk dan gayanya banyak dipengaruhi Eropa. Sementara ragam hiasannya, seperti ukiran, sampai abad ke-18 tampaknya masih banyak dipengaruhi India. Kursi Moluccan, misalnya, kursi yang terbuat dari kayu ebony dengan ciri khas ukiran pilin (twisted) banyak ditemukan di Maluku.

Bentuk ukiran pilin seperti itu sudah lama dikenal di India, misalnya, terdapat pada pilar Istana Man Singh yang dibangun tahun 1500. Kursi Moluccan hampir tak memiliki ukiran bunga atau tumbuh-tumbuhan lainnya, seperti kebanyakkan kursi masa itu. Biasanya berdudukan anyaman rotan, yang digunakan di Belanda dan Perancis pada abad ke-17 hingga abad ke-18. Bentuk dasar kursi moluccan mirip kursi kayu walnut (kenari) dengan bahan pelapis kulit yang ditemukan di Belanda pada pertengahan abad ke-17.

Meski perabot seperti kursi moluccan yang ada di Indonesia dipengaruhi Eropa, namun teknik anyaman rotan itu sendiri sebenarnya sudah menjadi model di Cina pada akhir abad ke-16.

Selain kursi moluccan, pada masa ini juga berkembang mebel dengan ukiran bunga, daun, dan binatang. Konon, gaya ukiran itu dipengaruhi tradisi tukang kayu Pantai Koromandel, India. Ukiran mebel semacam ini disebut low-relief bila ukirannya berbentuk bunga dan daun berukuran kecil. Sebaliknya, ukiran daun dan bunga yang besar bentuknya disebut half-relief.

Menjelang pertengahan abad ke-18, kayu yang banyak dipakai adalah jati, sonokeling, dan ambon merah. Pada masa ini, ukiran bunga dan daun India berganti dengan model ukiran flora bergaya Eropa. Selain tetap menggunakan ukiran flora, ada pula mebel yang dihiasi ukiran figur malaikat, mahkota, singa, atau simbol, dan lambang lainnya.

Salah satu jenis kursi pada masa itu memiliki sandaran yang tinggi dan ukiran gaya Eropa. Kursi ini biasa disebut Kursi Inggris (english chair) atau Kursi Belanda bersandaran tinggi (dutch high back chair).

Kalau kursi semacam itu memiliki sandaran berbentuk vas bunga yang menyatu dengan dudukannya, hal ini merupakan pengaruh Cina. Sementara kursi bergaya Cina (chinese chair) sendiri sampai sekarang masih terdapat di Gereja Sion, Jakarta Barat. Meskipun kursi bergaya Cina tapi ukirannya dipengaruhi Eropa, karena digunakan khusus untuk Gubernur Jenderal Belanda saat menghadiri kebaktian di gereja.

Pada masa ini, orang juga menggunakan perabot yang disebut kursi Raffles dan krossie gobang (kursi verandah). Kursi Raffles termasuk jenis yang paling terkenal dari perabot kolonial abad ke-19. Gaya perabot ini sebenarnya termasuk tipe Sheraton yang berkembang di Inggris. Namun, karena nama Raffles lebih dikenal di Jawa, maka trend perabot masa Raffles berkuasa itu (tahun 1811-1816), lebih dikenal dengan sebutan kursi raffles.

Sedang krossie gobang berbentuk kursi malas, dengan bagian bawah lengan kursi dapat diputar ke arah depan, supaya bisa menopang kaki. Kursi yang ditemukan di Indonesia dan India ini disebut kursi gobang, karena menggunakan kepingan uang gobang (2,5 sen) sebagai pengisi poros antara lengan kursi dengan kayu penopang kaki. Model kursi ini juga disebut kursi verandah karena sering digunakan sebagai kursi santai di beranda rumah-rumah bergaya Hindia.

PERIODE modern mebel masa kolonial dimulai awal tahun 1900-an. Ketika Eropa dilanda berbagai gerakan baru seperti Arts and Crafts, Art Nouveau, Art Deco, Bauhaus, Amsterdam School, dan De Stijl. Mereka melahirkan semangat baru untuk merancang bentuk yang tak biasa.

Perubahan mencolok tampak dari banyak berkurangnya ukiran bergaya alami, dan berganti dengan pola-pola geometris. Bentuk fungsional muncul dengan tampilan yang polos tanpa dekorasi, sebagai akibat dari prinsip bentuk mengikuti fungsi (form follows function) pada masa itu. Ketegasan garis-garis struktur benda itu sendiri sekaligus digunakan sebagai kekuatan visual artistiknya.

Arsitek-arsitek Belanda yang mulai datang ke Hindia-Belanda awal abad ke-20 memperkenalkan tak hanya arsitektur baru bangunan, tetapi juga rancangan perabot untuk bentuk bangunan tersebut. Salah satunya adalah FJL Ghijsels, arsitek Belanda yang datang ke Indonesia awal abad ke-20 ini, membuat beberapa desain perabot sejak ia masih kuliah di Delft (sekitar tahun 1904) sampai ketika bekerja di Batavia (1910-1929).

Pada masa ini biro-biro arsitektur pun bermunculan. Mereka tak hanya mendesain bangunan gedungnya, tetapi juga mendesain furniturnya. Beberapa di antaranya adalah Algemeene Ingineurs en Architecten Bureau (AIA Bureau), Biro Fermont en Cuypers yang mendesain De Javasche Bank (Bank Indonesia Kota) tahun 1909-1937, Factorij (bekas Bank Exim Kota) yang furnitur dan interiornya digarap arsitek AP Smits (1929).

Kebiasaan mendesain perabot yang dilakukan arsitek pada awal abad ke-20, memunculkan bentuk perabot yang konstekstual dengan gaya bangunannya. Pada masa ini pula kayu sebagai bahan pokok mebel dipadu dengan beragam bahan seperti rotan, kain terpal, kulit, marmer, dan besi.

Kalau Anda punya rumah bergaya lama, tak ada salahnya menggunakan mebel reproduksi. Asalkan, penguasaan esensi bentuk terdahulu tetap dipertahankan. Cara ini akan membuat perabot produk baru dan mutakhir sekalipun tetap akrab dengan lingkungan lama.

Sumber: Harian Kompas, Selasa, 13 Agustus 2002.

Budaya Indis: Jawa Bukan Belanda Bukan

Juni 1, 2000

Oleh G. Sujayanto

Penjajahan Belanda pada kurun abad XVIII hingga medio abad XX tak hanya melahirkan kekerasan, tapi juga memicu proses pembentukan kebudayaan khas, yakni kebudayaan dan gaya hidup Indis. Budaya gado-gado, percampuran budaya Barat dan unsur-unsur budaya Timur. Ibarat darah, budaya campuran ini merasuk ke dalam segala perikehidupan manusia di masa itu, sebagaimana dituturkan oleh Prof. Dr. Djoko Soekiman dalam disertasinya, Kebudayaan Indis dan Gaya Hidup Masyarakat Pendukungnya di Jawa (1996), yang kemudian diterbitkan oleh Yayasan Bentang Budaya pada Januari 2000.

Jauh sebelum kedatangan bangsa Belanda di kepulauan Indonesia, di Pulau Jawa telah ada pendatang asal India, Cina, Arab, dan Portugis. Mula-mula orang-orang Belanda itu hanya datang untuk berdagang, tapi belakangan malah menjadi penguasa.

Pada awalnya, mereka membangun gudang-gudang untuk menimbun rempah-rempah di Banten, Jepara, dan Jayakarta. Dengan modal kuat Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) mendirikan gudang penyimpanan dan kantor dagang. Sekelilingnya diperkuat benteng pertahanan, lalu sekaligus digunakan sebagai tempat tinggal.

Benteng semacam ini menjadi hunian pada masa-masa awal orang Belanda di Pulau Jawa. Segala kesibukan perdagangan dan kehidupan sehari-hari berpusat di benteng semacam ini.

Gubernur Jenderal Valckenier (1737 – 1741) adalah pejabat tertinggi terakhir yang tinggal dalam benteng. Sesudah itu, para gubernur jenderal penggantinya tinggal di luar benteng. Bahkan setelah keadaan di luar kota aman, secara bertahap mereka berani bertempat tinggal dan membangun rumah di luar tembok kota. Pos-pos penjagaan dengan benteng-benteng kecilnya didirikan di Ancol, Jacatra, Rijswijk, Noordwijk, Vijfhoek, dan Angke.

Di samping itu para pejabat tinggi VOC membangun rumah-rumah peristirahatan dan taman yang luas, yang lazim disebut landhuis dengan patron Belanda dari abad XVIII. Ciri-ciri awalnya masih dekat sekali dengan bangunan yang ada di Belanda.

Secara pelahan mereka membangun rumah bercorak peralihan pada abad XVIII antara lain di Japan, Citrap, dan Pondok Gede. Cirinya bilik-bilik berukuran luas dan banyak. Ini menunjukkan bangunan landhuis dihuni oleh keluarga beranggota banyak yang terdiri atas keluarga inti, dengan puluhan bahkan ratusan budaknya. Gaya hidup semacam di landhuizen itu tidak dikenal di negeri Belanda.

Lama-kelamaan kota-kota pionir macam Batavia, Surabaya, dan Semarang yang terletak di hilir sungai dianggap kurang sehat karena dibangun di atas bekas rawa-rawa. Mereka kemudian memindahkan tempat tinggalnya ke permukiman baru di daerah pedalaman Jawa, yang dianggap lebih baik dan sehat. Di sini mereka mendirikan rumah tempat tinggal dan kelengkapannya yang disesuaikan dengan kondisi alam dan kehidupan sekeliling dengan mengambil unsur budaya setempat.

Pertumbuhan budaya baru ini pada awalnya didukung oleh kebiasaan hidup membujang para pejabat Belanda. Larangan membawa istri (kecuali pejabat tinggi) dan mendatangkan wanita Belanda ke Hindia Belanda memacu terjadinya percampuran darah yang melahirkan anak-anak campuran dan menumbuhkan budaya dan gaya hidup Belanda-Pribumi, atau gaya Indis.

Kata “Indis” berasal dari bahasa Belanda Nederlandsch Indie atau Hindia Belanda, yaitu nama daerah jajahan Belanda di seberang lautan yang secara geografis meliputi jajahan di kepulauan yang disebut Nederlandsch Oost Indie, untuk membedakan dengan sebuah wilayah jajahan lain yang disebut Nederlandsch West Indie, yang meliputi wilayah Suriname dan Curascao.

Konsep Indis di sini hanya terbatas pada ruang lingkup di daerah kebudayaan Jawa, yaitu tempat khusus bertemunya kebudayaan Eropa (Belanda) dengan Jawa sejak abad XVIII sampai medio abad XX.

Kehadiran bangsa Belanda sebagai penguasa di Pulau Jawa menyebabkan pertemuan dua kebudayaan yang jauh berbeda itu makin kental. Kebudayaan Eropa (Belanda) dan Timur (Jawa), yang berbeda etnik dan struktur sosial membaur jadi satu.

Golongan masyarakat atas adalah pendukung utama kebudayaan Indis. Dalam membangun rumah tempat tinggal gaya Indis, golongan pengusaha atau pedagang berperan cukup besar, misalnya mereka yang tinggal di Laweyan (Surakarta), dan Kotagede (Yogyakarta).

Pada masa VOC, secara garis besar struktur masyarakat dibedakan atas beberapa kelompok. Masyarakat utama disebut signores, kemudian keturunannya disebut sinyo. Yang langsung merupakan keturunan Belanda dengan pribumi “grad satu” disebut liplap, sedang “grad kedua” disebut grobiak, dan “grad ketiga” disebut kasoedik. Liplap biasanya menjadi pedagang atau pengusaha, yang sangat disukai menjadi pedagang budak karena mendapat untung banyak. Ada pun grobiak kebanyakan menjadi pelaut, nelayan, dan tentara, sedangkan kasoedik mata pencariannya menjadi pemburu dan nelayan.

Telundak untuk santai

Rumah-rumah mewah milik para pejabat tinggi VOC menjadi pioner berkembangnya kebudayaan Indis. Pembangunan rumah pesanggrahan oleh para pembesar kompeni misalnya, diawali dengan mendapatkan sebidang tanah berupa hutan. Semula mereka mendapatkan hak milik dari penguasa tertinggi Hindia Belanda. Rumah dan gereja kecil di Depok, misalnya, pembangunannya diprakarsai sendiri oleh Chastelijn, pemiliknya. Rumah dan kebun tuan tanah Materman (yang kini mengingatkan nama daerah Matraman), dilaksanakan oleh tuan tanahnya sendiri.

Rumah tempat tinggal Belanda masa awal di Jawa mempunyai susunan khas mirip dengan yang ada di negeri asalnya. Di lain sisi rumah mewah dan rumah tinggal di luar benteng dibangun dalam lingkungan alam dunia Timur, atau Jawa. Sehingga hasil akhirnya adalah bentuk campuran, yakni tipe rumah Belanda dengan bentuk rumah pribumi Jawa. Rumah-rumah bergaya Indis.

Bangunan rumah mewah semula dipergunakan oleh orang-orang Belanda sebagai tempat tinggal di luar kota, yang kemudian juga didirikan di wilayah-wilayah baru di Batavia. Corak bangunan rumah tinggal demikian ini mirip dengan rumah para pedagang kaya di kota lama Baarn atau Hilversum, Belanda.

Ciri menonjol pada rumah-rumah Belanda di Batavia ialah adanya telundak (semacam teras) yang lebar. Telundak yang luas itu bukan sekadar sebagai bagian dari sebuah bangunan rumah, tetapi mempunyai arti dan kegunaan khusus, sebagai sarana hubungan sosial. Telundak menjadi tempat bertemu yang ideal antar keluarga dan tetangga.

Telundak yang lebar ini kebanyakan digunakan untuk duduk santai dan menghirup udara segar di sore hari. Pada masa berikutnya, pada sudut-sudutnya ditaruhkan bangku. Sebuah pagar rendah dibuat untuk memisahkan dari trotoar jalan, yang lalu dihilangkan guna mendapatkan ruang yang lebih luas.

Pada sore atau malam hari, mereka bergerombol berdatangan di ruang ini sambil merokok dengan pipa cangkolong, atau minum-minum, dan makan makanan kecil. Kadang-kadang orang tidur-tiduran di kursi malas untuk memulihkan stamina.

Dari catatan-catatan kuno, ruang tengah yang terletak di belakang ruang depan disebut voorhuis. Pada dinding ruang ini digantungkan lukisan-lukisan sebagai hiasan, di samping pajangan piring-piring hias dan jambangan porselin. Di ruang ini terdapat juga sebuah kerkstoel, atau kursi untuk kebaktian, khususnya untuk nyonya rumah.

Setiap hari Minggu, kursi yang berukir bagus ini digotong ke gereja oleh budak-budak perempuan bersama dengan kotak sirih, payung, kitab suci, dsb. Pada dinding ruangan ini juga tergantung perabotan lain macam senjata atau alat perang seperti senapan, pedang, perisai, tombak, dsb. Pada waktu itu setiap penghuni rumah diharuskan menyediakan senjata untuk ikut menjaga keamanan.

Di dalam ruang zaal diletakkan kelengkapan rumah seperti meja makan, almari tempat rempah-rempah, dan meja teh. Almari hias yang penuh berisi piring cangkir porselin juga ada yang diletakkan di dalam atau di atas almari, bahkan porselin-porselin itu ada yang diletakkan pada rak-rak papan, consol-consol, atau deurpilaster.

Hiasan utama pada ruang zaal ini adalah tangga yang di Belanda sana biasa diletakkan di sudut bagian rumah depan, sedangkan di Batavia umumnya diletakkan di sudut belakang zaal.

Mengamati orang mandi

Pada rumah yang berukuran besar terdapat bangunan-bangunan samping yang dipergunakan untuk gudang, tempat menyimpan kayu bakar, tandon air minum, beras, minyak, dsb. Biasanya bangunan rumah samping bertingkat, ruang tingkat atas digunakan untuk tempat tinggal para budak. Kebiasaan menyediakan tempat tinggal untuk budak tidak dikenal di Belanda.

Para budak ini kesehatannya tidak terurus dengan baik. Hal demikian juga terjadi pada ruang-ruang pembantu di rumah induk milik para penguasa Belanda yang juga jarang dijaga kebersihannya. Sebagai contoh, budak yang tinggal di dalam rumah van Riemsdijk [apakah ia gubernur jendral??] di Tijgergracht. Di rumah ini bertempat tinggal tidak kurang dari 200 orang budak, yang terdiri atas anak-anak, orang tua atau muda yang tinggalnya berjejal.

Di rumah van Riemsdijk itu juga terdapat bangunan berbentuk rumah-rumahan kecil yang terbuka disebut speelhuisje yang terletak di tepi kali yang khusus dipergunakan untuk mandi. Kemudian, van Riemsdijk menggunakannya sebagai kamar tunggu para tamu dengan menghilangkan jenjang tangga yang menuju ke arah kali.

Sementara itu, ada dua buah rumah kecil berkubah yang terletak di sungai di depan rumah Gubernur Jendral Van der Parra di Jalan Veteran sekarang. Diletakkannya satu perangkat tempat duduk pada ruangan rumah kecil berkubah ini untuk bersantai, bahkan juga dipergunakan untuk menerima tamu-tamunya. Ambang pintu diletakkannya dekat dengan wastrap (tempat membersihkan kaki sebelum naik ke tangga). Bagian dalam ruang ini diusahakan berpenampilan sebagus mungkin.

Dengan demikian, Paduka Tuan Gubernur Jenderal di pagi hari leluasa mengamati setiap orang yang mandi di kali. Van der Parra tidak tinggal bersama istri di Batavia dan tidak seharian pergi ke sungai, boleh jadi bangunan ini tempat untuk berganti pakaian saja. Mungkin juga dimaksudkan sebagai hidro hobi, sebagai petunjuk bahwa ia pernah berada di Belanda. Orang yang lahir di Belanda sebenarnya membenci kebiasaan mandi setiap hari.

Bersantap sup kura-kura dan daging kijang

Gambaran gaya hidup mewah Indis antara lain dapat disimak pada penuturan Rooda yang menginap di Pesanggrahan Tjiampea dekat Bogor. Pada awal abad XIX, ia menulis dalam catatan singkatnya tentang kehidupan tuan tanah pemilik pesanggrahan:

“… Pagi hari jam 05.30 kami dibangunkan dengan bunyi lonceng. Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, para tamu segera memakai sarung dan kebaya tipis. Kami menuju serambi belakang untuk bersantai sambil minum kopi atau teh ditemani manisan dan buah-buahan.

Usai mandi para lelaki dengan menunggang kuda atau kereta mengelilingi kebun. Kemudian dilanjutkan membaca surat-surat, surat kabar, menulis, atau membaca. Makan pagi yang mewah dan enak pun sudah dihidangkan. Hidangan yang semacam ini di Eropa biasanya untuk makan siang.

Sambil menikmati suguhan, telinga kami dihibur suara gamelan dan musik Eropa yang merdu. Para perempuan kemudian ke toilet dan tuan-tuan menuju ke meja bilyar. Di sini orang mendengar orgel putar yang merdu diselingi dengan piano sambil merokok cerutu, omong-omong, dan minum anggur pagi.

Kurang lebih pukul 13.00 adalah waktunya orang makan dengan piring lengkap, yang terdiri antara lain jenis-jenis makanan Indis. Seperti kare dari sarang burung atau sup kura-kura, nasi, sayur-sayuran, buah-buahan, berbagai daging sapi, kijang, ikan, rempah-rempah, acar, nanas, mangga dan berbagai jenis buah-buahan, mentimun, dan macam-macam manisan yang direndam dengan minuman anggur. Pelayannya adalah para budak dan pembantu perempuan muda.

Makan siang ini diiringi dengan lagu-lagu musik Eropa. Sementara itu pelayanan tuan rumah sangat bersahabat, tidak dibuat-buat dan dengan penuh kegembiraan sehingga hidangan selalu menjadi kenangan. Usai makan ada sementara tamu yang beristirahat sebentar, ada pula orang-orang yang minum teh dan kue-kue. Disusul acara perjalanan keliling dengan naik kuda atau kereta kuda.

Setelah puas berkeliling disuguhkan kopi, selanjutnya para tamu muda berdansa dan yang tua-tua main kartu di meja permainan. Pada pukul 10.00 malam berkumpullah orang-orang itu untuk makan malam. Baru pada tengah malam pergilah masing-masing ke tempat tidurnya ….”

Bukan mikrokosmos

Gaya Indis berpangkal pada dua akar kebudayaan, yaitu Belanda dan Jawa yang sangat jauh berbeda. Untuk memahaminya perlu diketahui adanya suatu pengertian situasi atau fenomena kekuasaan kolonial dalam segala aspek dan proporsinya. Sebagai contoh dalam hal membangun rumah tempat tinggal dengan susunan tata ruangnya. Arti simbolik suatu bagian ruang rumah tinggal berhubungan erat dengan perilaku yang aktual.

Pada suku Jawa, misalnya, tidak dikenal ruang khusus bagi keluarga dengan pembedaan umur, jenis kelamin, generasi, famili, bahkan di antara anggota dan bukan anggota penghuni rumah, fungsi ruang tidak dipisahkan atau dibedakan dengan jelas.

Contoh lain yang sangat menarik adalah keselarasan sistem simbolik pada umumnya, khususnya gaya penghuninya. Betapa canggungnya orang pribumi Jawa yang hidup secara tradisional di kampung, kemudian pindah untuk bertempat tinggal di dalam rumah gedung di dalam blok atau kompleks dengan suasana rumah bergaya Barat yang modern.

Kelengkapan rumah tangga yang serba asing, pembagian ruang-ruang di dalam rumah dengan fungsi yang khusus di dalam rumah dengan fungsi agar privasi terjamin. Semua itu menjadikan makin canggungnya orang pribumi untuk tinggal di dalam rumah yang asing itu. Anggapan bahwa rumah adalah model alam mikrokosmos menurut konsep pikiran Jawa, tidak didapatkan pada alam pikiran Eropa.

Jelas, tempat tinggal orang Belanda tidak dihubungkan dengan kosmos dan tidak mempunyai konotasi ritual seperti pandangan dan kepercayaan Jawa. Memang, orang Eropa mengenal peletakan batu pertama dan pemancangan bendera di atas kemuncak bangunan rumahnya yang sedang dibangun dengan diikuti pesta minum bir, tetapi hal semacam ini adalah peninggalan budaya lama mereka. Kegiatan itu adalah gema saja dari adat lama, yang sudah kabur pengertiannya.

Pada orang Jawa menaikkan molo sebuah rumah tinggal dengan selamatan, melekan (tidur malam), meletakkan secarik kain tolak bala, sajen, dan memilih hari baik, memiliki arti simbolik tertentu. Bagi orang Jawa meninggalkan adat kebiasaan seperti itu sangat berat karena adanya paham kepercayaan tentang kekuatan supranatural yang sulit untuk dijelaskan.

Gaya hidup dan bangunan rumah Indis pada tingkat awal cenderung banyak bercirikan budaya Belanda. Hal ini terjadi karena para pendatang bangsa Belanda pada awal datang ke Indonesia membawa kebudayaan murni dari Belanda. Pengaruh afektif kebudayaan Belanda yang sangat besar lambat laun makin berkurang, terutama setelah anak keturunannya dari hasil perkawinan dengan bangsa Jawa makin banyak.

Perkawinan di antara mereka melahirkan masyarakat Indo. Mereka menyadari akan perlunya kebudayaan Belanda untuk tetap diunggulkan sebagai upaya untuk menjaga martabat sebagai bangsa penguasa.

Masyarakat Indo dan para priyayi baru ini masih tetap menganggap perlu tetap adanya budaya masa lampau yang dibanggakan. Mereka menganggap perlunya menggunakan budaya Barat demi karier jabatan dan prestisenya dalam hidup masyarakat kolonial. Hal semacam ini tampak, misalnya dalam cara mereka bergaul, dalam kegiatan hidup sehari-hari, seperti menghargai waktu, cara dan disiplin kerja, dsb.

Pentingnya si “jago” di atas rumah

Di lain sisi akibat pertemuan dan percampuran peradaban Jawa dan Eropa (Belanda) melahirkan gaya budaya campuran, gado-gado. Di mata suku Jawa ada pendapat budaya Indis adalah kasar atau tidak Jawa. Sementara di mata orang Belanda dianggap rendah dan aneh.

Di berbagai kota di Jawa terdapat nama jalan atau kampung dengan memakai nama orang atau bahasa Belanda (Eropa) yang acap kali orang sudah tidak mengenalnya.

Sementara itu hiasan di atas atap rumah juga menjadi salah satu ciri budaya Indis. Di Jawa sendiri, hiasan di bagian atap rumah kurang mendapat tempat, kecuali pada bangunan-bangunan peribadahan (masjid, gereja, pura, dan candi). Pada bangunan rumah Eropa, hiasan kemuncak mendapat perhatian dan mempunyai arti tersendiri, baik dari sudut keindahan, status sosial, maupun kepercayaan.

Banyak rumah penduduk di Demak, Jawa Tengah, pada bubungan atapnya dihiasi dengan deretan lempengan terakota yang diwujudkan seperti gambar tokoh-tokoh wayang, berderet-deret dengan gambar gunungan tepat di tengah-tengah. Masing-masing lempengan terakota dihiasi dengan mozaik pecah-pecahan cermin, sehingga di siang hari memantulkan sinar yang gemerlapan. Hiasan atap rumah-umah di Demak ini jelas hanya berfungsi sebagai hiasan semata-mata, tanpa mempunyai arti simbolik tertentu.

Kehadiran bangsa-bangsa Eropa di Indonesia sejak awal abad XVI mempengaruhi berbagai unsur kebudayaan di antaranya juga dalam hal hiasan kemuncak bangunan rumah. Di Belanda dengan iklimnya yang sangat keras, penunjuk arah angin dahulu merupakan alat yang penting.

Sehubungan dengan ini Washington Irving menulis tentang Nieuw Amsterdam di dalam A History of New Netherland. Dia menyebutkan, pada setiap rumah di sini ada weerhaan yang sering menunjukkan ke arah yang tidak sama. Oleh karena itu, biasanya orang mengarahkan pandangan ke rumah gubernur, karena di sini orang beranggapan arah hadap weerhaan di rumah gubernurlah yang benar. Akan tetapi, baru lama kemudian mereka mengetahui gubernur memang memelihara pembantu-pembantu yang mempunyai tugas tetap setiap hari memanjat atap untuk membenarkan arah ayam jago (penunjuk arah dengan gambar ayam jago) menuju ke arah yang benar.

Pada Abad Tengah tidak semua orang dapat dengan sekehendak hati membuat windvaan (petunjuk arah angin) karena dikeluarkan ketentuan-ketentuan tertentu oleh penguasa, baik tentang bentuk maupun perwujudannya. Misalnya seorang ridder (bangsawan) di atas puncak istananya dengan windvaan berbentuk seperti bendera, sedang untuk baanderheer (pejabat biasa) menggunakan penunjuk arah berbentuk persegi empat.

Pada abad XV bangsawan-bangsawan tinggi menaruhkan pada ujung tongkatnya windvaan dengan hiasan mahkota. Ada pula yang menaruh hiasan berwarna keperakan pada sisi sudut persegi empat diisi dengan hiasan rozet, tetapi lazimnya diisi dengan lambang keluarga pemiliknya.

Umumnya windvaan terbuat dari logam dengan warna-warna manyala yang dapat terlihat dari kejauhan. Yang sangat disukai adalah warna merah metalik, kemudian warna-warni, khususnya keemasan. Warna keemasan adalah warna yang mudah luntur, yang lambat laun akan menjadi jelek. Karena itu, disebut stofgona. Ada pula warna-warni hiasan ini yang dibuat dari porselin atau teracotta.

Di Eropa sekarang, khususnya di Belanda, hiasan kemuncak yang berupa penunjuk arah angin dengan bermacam-macam bentuknya, sering menunjukkan macam usaha atau pekerjaan pemiliknya. Misalnya, lukisan jentera alat memintal (roda alat tenun) terdapat di kota Leren, gambar bajak (alat untuk membajak tanah) pada kemuncak gudang gandum di dekat Groningen, alat pencukur di atas rumah tukang cukur (di Maastricht), sebuah sepatu besar di atas toko sepatu di Utrechtse Straat 48, Amsterdam. Lukisan binatang seperti kuda dan sapi banyak digunakan untuk hiasan rumah petani.

Bersamaan dengan runtuhnya kekuasaan Hindia Belanda ke tangan balatentara Jepang pada 1942, perkembangan kebudayaan Indis ikut-ikutan terhenti. Gaya hidup Indis yang mewah terusik oleh PD II yang berkecamuk dan melumpuhkan gairah hidup. Sulitnya hidup masa perang juga menghentikan segala aktivitas kesenian.

Sungguh pun bangunan rumah gaya Indis masih banyak yang berdiri kokoh hingga kini, tetapi gaya hidup penghuninya yang bercirikan budaya Indis di Indonesia sudah tamat.

Namun, sebagai buah kebudayaan, akar-akar budaya Indis masih ada yang tetap berlanjut, hidup di antara unsur-unsur budaya baru. Peradaban Indis tidak lagi menjadi kebanggaan sebagai identitas suatu golongan masyarakat dan sangat dimusuhi pada zaman Jepang dan revolusi fisik, tetapi telah melebur.

Karena nilai-nilai baru belum ada, beberapa unsur peradaban yang banyak dianut dan diciptakan oleh kaum terpelajar, baik priyayi pribumi maupun golongan Indo, serta para birokrat pemerintahan dari masa zaman Hindia Belanda, masih tetap berlanjut.

Sementara itu di Belanda orang-orang yang lahir atau pernah tinggal di Indonesia tetap melanjutkan kebudayaan Indis. Pasar malam Tong-tong di Den Haag, Indische Restaurant dengan sajian Indische rijsttafel seperti soto, nasi goreng, sate ayam, wedang ronde, sekoteng, dsb. hingga kini ramai dikunjungi orang.

Sumber: Majalah Bulanan Intisari Juni 2000