Archive for September, 2001

Arsitektur Nieuw Bouwen di Kawasan Pusat Pasar Medan

September 9, 2001

Arsitektur Nieuw Bouwen di Kawasan Pusat Pasar Medan – Satu Lagi Jejak Sejarah yang Mulai Pudar
Oleh Achmad Delianur Nasution

KETIKA melintasi koridor jalan Sutomo Medan, pada penggalan simpang jalan MT Haryono hingga jalan HM Yamin, terdapat deretan ruko yang sangat ramai dengan kegiatan komersial. Jual beli berbagai kebutuhan sehari-hari telah dimulai saat fajar belum menyingsing hingga posisi bulan telah meninggi. Hal ini disebabkan karena koridor jalan Sutomo tersebut diapit oleh beberapa generator kegiatan komersial yang penting. Di sebelah timurnya terdapat Pusat Pasar, suatu kompleks pasar tradisional terbesar dan terlengkap di Medan yang melalui suatu sky cross dihubungkan dengan Medan Mal, suatu pusat perbelanjaan modern baru yang megah. Sementara di sebelah barat–tepatnya di jalan Sambu–terdapat terminal angkutan kota.Jika saat berada di tengah hiruk pikuk dan kemacetan yang lazim terjadi pada koridor tersebut kita memperhatikan bangunan-bangunan di kiri kanan jalan, akan terlihat suatu gaya arsitektur yang tidak lazim untuk bangunan ruko masa kini. Setiap pengakhiran dari suatu deretan ruko yang rata-rata dua lantai, selalu terdapat bangunan tiga lantai yang memiliki menara. Dari pangkal koridor hingga ke ujungnya, terdapat tidak kurang sebelas bangunan yang mempunyai menara pada sudutnya.

Bergerak dari ketertarikan tersebut, penulis bersama mahasiswa kelas Pemugaran Bangunan dan Lingkungan Arsitektur Universitas Sumatera Utara melakukan studi pada kawasan ini, berupa perekaman visual, wawancara dan penggalian literatur tentang sejarah kawasan. Ternyata sekitar tahun 30-an adalah Mr Pittlo, seorang burgemeester (walikota) pada masa itu, yang mempunyai gagasan untuk membangun sebuah pusat pasar yang megah. Gagasan tersebut diwujudkan oleh arsitek Belanda bernama J.H. Valk yang mengambil gabungan bentukan toko-toko dan katedral yang panjang sempit di Belanda, bergaya De Stijl dengan adaptasi pada iklim tropis.

Pasar yang diresmikan pada tanggal 31 Desember 1932 dan menghabiskan biaya sebesar 1.567.208 Gulden (sumber: Pemda Tingkat I Sumatera Utara, Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Sumatera Utara 1945-1949 Jilid I, 1996) itu kemudian menjadi suatu generator aktivitas komersial yang signifikan di Medan pada masa itu, dan dinyatakan sebagai kawasan pusat pasar terbesar, termegah dan terbersih di Asia Tenggara. Sejak saat itu, kawasan sekitar jalan Sutomo, yang kala itu bernama Wilhelminestraat, dan jalan Sambu, yang dahulu disebut Hospitaalweg (Loderichs: 100), kemudian dikenal dengan sebutan Pusat Pasar dan berkembang menjadi kawasan komersial hingga saat ini.

Ciri khas bangunan di koridor Sutomo sekitar kawasan Pusat Pasar Medan ditandai dengan penggunaan beton sebagai material utama, atap datar, fasade yang sederhana dengan garis-garis horisontal yang keras, umumnya berwarna putih, jendela-jendela geometris tanpa ornamen, dan permainan massa bangunan yang plastis yang ditingkahi oleh adanya menara. Menara-menara tersebut pada umumnya tidak fungsional, hanya merupakan bentukan massa vertikal yang mengimbangi garis-garis horizontal yang kuat pada tampak bangunan. Gaya seperti ini menjadi tren pada kawasan tersebut pada tahun 1930-an hingga 1950-an. Itu merupakan pengaruh dari gaya arsitektur modern yang disebut sebagai arsitektur Nieuwe Bouwen.

Arsitektur Nieuwe Bouwen merupakan istilah gaya bangunan sesudah tahun 1920-an yang merupakan penganut dari aliran International Style, sebagaimana yang diungkapkan Akihary (1988) dalam bukunya Architectuur en Stedebouw in Indonesie 1870-1940. Gaya arsitektur ini dibarengi oleh pengaruh gaya arsitektur modern yang sedang tren pada masa itu antara lain Amsterdam School, Bauhaus dan De Stilj yang berkembang di Indonesia karena semakin banyak arsitek Belanda beraliran arsitektur modern berpraktek di Indonesia. HP. Berlage, C. Citroen, Th. van Oyen dan CP. Wolff Schoemaker adalah beberapa di antaranya. Karya-karya arsitek tersebut disambut hangat di Indonesia pada umumnya karena menerapkan gaya arsitektur modern dengan penyesuaian terhadap iklim setempat (Handinoto, 1996:237).

Gaya arsitektur Nieuwe Bouwen yang mendominasi bangunan di kawasan Pusat Pasar Medan dapat dimengerti sebagai salah satu bentuk persaingan khas daerah komersil melalui citra bangunan. Para pengusaha berusaha untuk membuat bangunan miliknya lebih atraktif dari yang lain. Yang kemudian terlihat dalam bentuk fisik adalah suatu koridor komersial yang memiliki sky line yang sangat unik, didominasi oleh permainan massa bangunan pada fasade dan aksentuasi vertikal berupa menara-menara. Bangunan-bangunan tersebut kini antara lain berfungsi sebagai kantor PD Pasar Medan, Toko Cirebon, Toko Raja Lalo, Bangunan Toko Makmur Jaya, dan sekitar selusin bangunan lain. Fenomena yang sama juga terjadi pada koridor Tunjungan Surabaya (Nasution, 1998) di mana pada suatu koridor komersial akan berkembang gaya-gaya arsitektur yang sedang tren di masa tersebut.

Arsitektur Nieuwe Bouwen di koridor jalan Sutomo di kawasan Pusat Pasar Medan dapat dipandang sebagai suatu jejak fisik sejarah berupa arsitektur yang menjadi Genius Loci atau “Nasi Goreng”, di mana sebagian besar bangunan dibangun dalam kurun waktu dan langgam yang sama (Soemardi, Arsitektur dan Kesinambungan Sejarah, AMI, 1995). Walaupun selanjutnya karakter arsitektur di Koridor Sutomo kawasan Pusat Pasar Medan kemudian berkembang menjadi “arsitektur campur sari”, sisa-sisa bangunan dengan arsitektur Nieuwe Bouwen yang masih bertahan dan berdiri megah, senantiasa mencerminkan karakter yang khas dan unik, serta tetap dapat dijadikan sebagai bukti jejak kejayaan yang mewakili lapisan sejarahnya. Namun kurangnya perawatan dan perkembangan dominasi bilbor pada fasade di deretan bangunan dapat membuat jejak sejarah ini semakin memudar jika tidak mendapat perhatian yang semestinya dari kita semua.

Achmad Delianur Nasution, Staf Pengajar Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara.

Sumber: Kompas, Minggu, 9 September 2001