Archive for Agustus, 2004

Menjenguk Makam Serdadu Belanda di Aceh

Agustus 26, 2004

BANDA ACEH – Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang juga dikenal dengan sebutan Serambi Mekkah menyimpan cerita tentang perjuangan yang gigih ketika melawan penjajahan Belanda. Dalam pertempuran melawan Belanda sejak 1873 hingga 1942, pejuang Aceh berhasil menewaskan komandan perang Belanda, Jenderal Kohler. Salah satu jejak sejarah itu dapat ditelusuri di Kerkoff Peucut, Banda Aceh. Dalam bahasa Indonesia Kerkoff berarti ”kuburan”.

Usai mengikuti upacara bendera 17 Agustus 2004 di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh, kami memutuskan untuk menengok Kerkoff. Alasannya, selain letaknya yang berhadap-hadapan dengan Lapangan Blang Padang, kami juga ingin mengetahui nilai sejarah tempat tersebut sekaligus mendengarkan cerita tentang kegigihan para pejuang Aceh mengusir Belanda.

Keinginan untuk menziarahi tempat bersejarah itu nyatanya lebih kuat daripada suhu udara yang saat itu terasa sangat menyengat. Dengan semangat tinggi, kami datang di Kerkoff. Setiba di sana, rasa gerah berangsur-angsur hilang. Pepohonan yang ditanam di halaman Kerkoff memberikan udara yang sejuk.
Rasa takjub pun tak henti-hentinya terlontar dengan sendirinya. Baru saja kaki ini menapak di halaman, sebuah gerbang berbentuk lengkung khas Belanda tampak berdiri dengan kokoh dan terlihat kuno.

Di bawahnya, beberapa tentara dan seorang pegawai pemerintah daerah (pemda) terlihat asyik berbicara. Nun jauh di balik pintu gerbang yang megah itu, tampak deretan pegunungan berwarna biru. Nisan berwarna putih juga tampak berjajar dengan rapi di atas lahan yang ditumbuhi rerumputan. Paduan pemandangan ini menciptakan keindahan yang luar biasa. Kami pun makin mempercepat langkah.

Selanjutnya, ketika posisi kami sudah mendekati pintu gerbang, ukiran cantik mulai terlihat oleh mata. Ukiran itu tak lain adalah nama-nama serdadu Belanda yang meninggal pada saat melakukan pertempuran dengan masyarakat Aceh.

Nama-nama serdadu yang meninggal itu terukir dengan rapi pada relief dinding gerbang. Setiap relief memuat 30 nama serdadu, daerah pertempuran dan tahun mereka mengembuskan napas terakhir. Kejadiannya berkisar antara tahun 1873 – 1910. Di antara nama-nama yang terpampang rapi tersebut, ada beberapa prajurit yang berasal dari Jawa, Manado, dan Ambon. Menurut cerita mereka dulunya tergabung dalam tentara Marsose.

Serdadu Jawa yang berada di bawah pimpinan Belanda biasanya disertai dengan identitas IF (inlander fuselier) di belakang namanya. Tentara Belanda diikuti kode EF ataupun F. Art dan serdadu dari Ambon ditandai dengan AMB dan serdadu dari Manado ditandai dengan MND.

Sedangkan, beberapa wilayah pertempuran itu antara lain: Sigli, Moekim, Tjot Basetoel, Lambari en Teunom, Kandang, Toeanko, Lambesoi, Koewala, Tjot Rang – Pajaoe, Lepong Ara, Oleh Karang – Dango, Samalanga dan sebagainya. Tempat itu untuk mengubur jasad-jasad serdadu Belanda yang tewas seketika pada pertempuran di Aceh maupun orang Belanda lainnya. Bagi serdadu yang meninggal seketika di medan pertempuran akan disertai dengan keterangan Gesneuveld. Sedangkan bagi yang meninggal karena sakit akan disertai dengan keterangan overleden.

Sementara itu, di bagian kiri pintu gerbang tertulis kalimat ”in memoriam Generaal – Majoor JHR Kohler, Gesneuveld, 14 April 1873”. Kalimat tersebut intinya mengenang Jenderal Kohler yang meninggal seketika dalam pertempuran di Aceh pada 14 April 1873.

Catatan Sejarah
Menurut catatan sejarah, pada 1873, serdadu Belanda masuk ke Aceh untuk menguasai daerah tersebut. Namun, upaya Belanda untuk menguasai wilayah Aceh tidak dapat segera terlaksana. Mereka mendapat perlawanan sengit dari pejuang Aceh yang gagah berani. Bahkan, Jenderal Kohler yang memimpin penyerangan tersebut harus kehilangan nyawanya pada tahun 1873 itu juga. Dia terkena tembakan tepat di dahinya di depan Masjid Raya Baiturrahman pada 14 April 1873.

Usaha menguasai Aceh tersebut tetap tidak dapat berjalan mulus hingga pada tahun 1942. Belanda hanya dapat menguasai daerah perkotaan. Sedangkan, di daerah-daerah pedesaan, Belanda dapat dikatakan mengalami kekalahan.

Akibat penjajahan yang dilakukan selama 59 tahun itu, ribuan serdadu Belanda tewas. Serdadu yang terdiri dari orang Belanda sendiri dan pasukan antigerilya atau Marsose yang serdadunya berasal dari orang Jawa, Ambon dan Manado tewas di ujung senjata khas Aceh, yaitu Rencong dan bedil. Pada mulanya, mereka yang tewas di daerah-daerah pertempuran seperti Sigli, Samalanga, Meulaboh, Bakongan, Idi, Paya Bakong langsung dimakamkan di derah itu pula. Namun, karena banyaknya graven atau kompleks kuburan yang berceceran di Aceh, maka dilakukan upaya untuk mengumpulkan jasad para inlander tersebut menjadi satu.
Kerkoff yang sebelumnya merupakan kawasan ilalang dan kemudian menjadi kandang kuda disulap menjadi kompleks kuburan oleh Belanda. Saat ini, di sana dikuburkan 2.200 serdadu Belanda dari yang berpangkat Jenderal sampai berpangkat rendah.

Jasad-jasad tersebut dikumpulkan dari daerah-daerah. Misalnya di dinding gapura disebutkan serdadu Belanda yang tewas di Idi. Walaupun di dinding dicantumkan nama serdadu Marsose yang berasal dari orang Jawa atau Ambon seperti nama Paijo (ditambah nama-nama orang Jawa dan Ambon), namun mereka tidak dikuburkan di Kerkoff, tetapi mereka dikuburkan di Taman Makam Pahlawan sekitar 500 meter dari Kerkoff.

Jasad Kohler
Uniknya, setelah Kohler tewas, pejuang Aceh tidak mengetahui, di mana jasadnya dikuburkan. Terakhir diketahui, Kohler dikuburkan di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Namun, karena kawasan Tanah Abang akan dibangun pertokoan, makam Kohler pun terkena penggusuran. Sehingga, sebagai peringatan sejarah dan atas permintaan Gubernur Aceh Muzakir Walad, jasad Kohler akhirnya dikubur ulang di Kerkoff, Banda Aceh pada 19 Mei 1978. Menurut cerita, pemakaman ulang Kohler di Kerkoff tersebut dihadiri oleh satu peleton tinggi Belanda.

Kerkoff sendiri ternyata tidak hanya digunakan sebagai tempat peristirahatan yang terakhir bagi serdadu Belanda yang tewas karena pertempuran, tetapi juga karena sakit dikuburkan. Sejumlah pejabat tinggi perwakilan Belanda yang pernah bertugas di Aceh pun mewasiatkan untuk dikuburkan di lahan tersebut. Misalnya, A Ph Van Aken, Gubernur Belanda untuk Aceh yang tewas di Jakarta pada 1 April 1936 dalam kedudukannya sebagai anggota Dewan Hindian Belanda. Tokoh ini terbilang memiliki sikap lunak dan dikenal baik sehingga menarik simpatik masyarakat Aceh. Dia dikenal telah merenovasi kubah Masjid Raya Baiturrahman.

Karena mengandung nilai sejarah yang tinggi, usaha untuk melakukan perawatan Kerkoff terus dilakukan. Adalah Kolonel Koela Bhee dan Lamie Djeuram mantan komandan bivak di Blang Pidie yang datang kembali ke Aceh pada Juli 1970 dan merenovasi Kerkoff yang sudah ada sejak tahun 1880.

Sumber dana pada awalnya bersifat partikelir dan selanjutnya dilakukan upaya kampanye pengumpulan dana perawatan Kerkoff di Belanda. Hasilnya, terbentuklah Yayasan Peucut atau yang belakangan dikenal Stichting Renovatie Peucut. Dana dari yayasan tersebut disalurkan melalui Pemda Banda Aceh.
(SH/tutut herlina/ murizal hamzah)

Sumber: Harian Sinar Harapan, 26 Agustus 2004

Kota Tua Jakarta akan Dipugar

Agustus 23, 2004

JAKARTA (Media): Asisten Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Pemerintah Kota Madya Jakarta Barat Syamsul Arfan menyatakan pengembangan kota tua akan dilakukan setelah aspek legalitasnya selesai.

Hal itu disampaikannya menjawab pertanyaan wartawan berkaitan dengan proses pemeliharaan bangunan bersejarah di kawasan Jakarta Barat. “Dalam proses pengembangan Kota Tua diperlukan suatu legalitas,” tandasnya, kemarin.

Rencananya, untuk pemeliharaan dan pengembangan kota tua akan dilakukan pemugaran beberapa gedung tanpa mengubah aspek keorientalan Kota Tua. Menurutnya, kelak bentuk legalitas dapat berupa perda atau surat keputusan gubernur.

Beragam kajian memang telah dilakukan dalam rangka pengembangan kawasan Kota Tua. Namun, karena kawasan tersebut terletak di dua wilayah, yakni Jakarta Barat dan Jakarta Utara, sehingga belum terdapat kejelasan dalam kewenangan.

Asisten Ekbang Jakbar menambahkan, ada rencana mengadakan pertemuan bagi kedua pemerintah kota madya untuk memberikan masukan terhadap perencanaan pengembangan kota tua.

Pada dasarnya pengembangan dan pemeliharaan kota tua ditangani langsung oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Kota tua yang merupakan bangunan museum dan bersejarah ditangani langsung oleh Dinas Museum dan Kebudayaan DKI Jakarta.

“Pada taraf kota madya kami berkoordinasi dengan Sudin Penataan dan Perencanaan Bangunan (P2B),” ujar Arfan.

Sudin P2B memiliki peran dalam pemberian izin mendirikan bangunan (IMB), sehingga bangunan yang hendak didirikan di kawasan Kota Tua tidak mengubah keorientalan Kota Tua.

“Banyak pihak yang harus diajak berkoordinasi untuk rencana pengembangan Kota Tua,” ujar Arfan.

Di kawasan Kota Tua terdapat bekas bangunan Departemen Keuangan, menurut Arfan, untuk pemugaran atau pemeliharaan gedung tersebut diperlukan koordinasi yang baik dengan pihak terkait.

Pihak yang diajak berkoordinasi yakni konsultan kota, tokoh masyarakat, dan budayawan. Sebelumnya, beberapa survei untuk mengetahui karakter masyarakat di kawasan tersebut telah dilakukan oleh konsultan kota.

“Tokoh masyarakat Thionghoa di kawasan tersebut perlu juga diikutsertakan,” paparnya.

Jika legalitas perencanaan pengembangan Kota Tua sudah dikeluarkan maka pemeliharaan dan pemugaran kawasan tersebut dapat segera ditindaklanjuti. Hal ini dikarenakan kawasan Kota Tua merupakan aset, dan diharapkan dapat mengundang wisatawan mancanegara.

Kawasan Kota Tua hanyalah salah satu dari beberapa kawasan historis di Jakarta yang bisa ditata untuk mengundang wisatawan. Misalnya, Glodok (Pecinan), kawasan Pasar Baru, Medan Merdeka, dan Menteng.

Namun bila dilihat dari urutan sejarahnya, kawasan Kota Tua adalah cikal bakal perkembangan dan sejarah Kota Jakarta. Beberapa bangunan yang merupakan bangunan bersejarah di kawasan Kota Tua yakni, Pelabuhan sunda Kelapa, Benteng Sunda Kelapa, Museum Bahari, bekas bengkel kapal VOC atau dikenal juga dengan VOC Shipyard.

Selain itu, terdapat pula jembatan unik khas Belanda. Di Jalan Kali Besar Barat dan Kali Besar Timur, berjajar bangunan-bangunan dari abad 18, kawasan ini merupakan pusat dari benteng Kota Batavia.

Beberapa bangunan unik khas Eropa di kawasan itu antara lain bangunan Asuransi Lloyd, Standard Chartered Bank, PT Samudra Indonesia, PT Bhanda, Graha Raksa, serta Toko Merah.

Sedangkan di Jalan Pintu Besar Selatan terdapat kawasan Taman Fatahillah. Taman Fatahillah merupakan lapangan terbuka berbentuk persegi empat dengan bangunan-bangunan bersejarah di semua sisinya. Di sisi barat terdapat beberapa bangunan unik, salah satunya Museum Wayang yang di dalamnya dipamerkan koleksi wayang dari seluruh Indonesia dan beberapa negara di dunia. (Yes/J-1)

Sumber: Media Indonesia, Senin, 23 Agustus 2004

Sri Sultan HB X Resmikan Pemugaran Tamansari

Agustus 22, 2004

Yogyakarta, Minggu

Gubernur Provinsi DI Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X bersama dengan Ketua Yayasan Calouste Gulbenkian Portugal secara simbolis meresmikan purna pugar Bangunan Cagar Budaya Pasiraman (Water Castle) Umbul Binagun Tamansari Keraton Yogyakarta, Minggu (22/8) malam.

Pemugaran cagar budaya yang termasuk dalam 100 Situs Dunia yang terancam punah dan merupakan bangunan berlatar belakang sejarah yang berkaitan erat dengan bangsa Portugis itu, dilakukan atas kerjasama Pemrprov DIY, Yayasan Calouste Gulbenkian Portugal, Kraton Yogyakarta, Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM Yogya, dan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) DIY. Hal itu disampaikan Penanggungjawab Proyek Rehabilitasi Bangunan Cagar Budaya itu, KGPH Hadiwinoto dalam laporannya.

Pemugaran tersebut dilakukan dengan anggaran Rp2,5 miliar, dimana Rp1,6 miliar diantaranya berasal dari Yayasan Calouste Gulbekian Portugal dan sisanya sekitar Rp900 juta dari APBD Pemprov DIY yang dimulai Januari 2004.

Pemugaran fisik meliputi kolam, bangunan umbul bagian utara dan tengah, pintu gerbang, tembok keliling, pembuatan sistem drainase, sistem sirkulasi air kolam dan lampu seluruh bangunan, katanya.

Dalam sambutannya, Gubernur DIY Sultan HB X mengatakan, restorasi bangunan Tamansari dapat diselesaikan karena hibah dana dari Yayasan Calouste Gulbekian Portugal. “Untuk itu penghargaan tinggi patut disampaikan kepada yayasan itu dari Kraton Yogya, Pemrov DIY bersama masyarakat pencinta pusaka budaya Yogyakarta,” katanya.

Menurut Sultan, cagar budaya Tamansari adalah salah satu dari 100 bangunan cagar budaya di dunia yang paling terancam kepunahannya pada 2004. Ia mengatakan, dengan selesainya renovasi tahap pertama ini, setidaknya dapat ditangkap makna penting baik dalam dimensi lokal, nasional maupun global dan membuktikan adanya jaringan kerjasama internasional yang terarah dalam penyelamatan warisan budaya bangsa Indonesia sebagai khasanah budaya dunia.

Akutulrasi budaya sebagai proses yang kini dikenal dengan globalisasi sudah berlangsung sejak dulu, demikian pula arsitektur dan relief Tamansari yang menjadi wujud budaya material yang menggambarkan akulturasi antar bangsa sehingga membentuk arsitektur dan ornamen campuran Hindu, Budha, Eropa Portugis, Cina dan Jawa sendiri.

Pemugaran itu menjadi momentum kebangkitan Yogyakarta sebagai kota yang peduli kepada warisan budaya peninggalan sejarah bangsanya dan karena kepeduliannya itulah Yogyakarta akan menjadi kota antik yang dihargai dunia.

Selain itu, pada saatnya nanti Tamansari akan menjadi obyek wisata potensial yang memiliki dimensi kultural kaya citra, kata Sultan HB X. Acara peresmian itu dihadiri Duta Besar Portugal untuk Indonesia, Jose Santos Braga dan Deputi Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Bidang Sejarah dan Purbakala, Hari Untoro Drajat mewakili Menbudpar. (Ant/Dul)

Sumber: Kompas, 22 Agustus 2004

Resor Pulau Bidadari – Resor dengan Nilai Sejarah

Agustus 21, 2004

JAKARTA – Resor di Kepulauan Seribu tidak hanya berada di bagian utara kepulauan yang terletak di utara Teluk Jakarta ini. Kalau merasa terlalu jauh ke resor di bagian utara, di bagian selatan juga terdapat resor seperti Resor Pulau Bidadari.

Perjalanan menuju resor ini tidak membutuhkan waktu yang lama karena masih berdekatan dengan daratan Jakarta. Dari dermaga marina Taman Impian Jaya Ancol, perjalanan menuju ke resor ini hanya membutuhkan waktu setengah jam dengan menggunakan kapal cepat (speedboat) milik pengelola pulau. Karena dekat dengan Jakarta, pengunjung yang datang ke resor ini ada yang menggunakan jetski.

Dalam satu hari setidaknya ada dua hingga tiga kali keberangkatan kapal dari dermaga Marina Ancol dan dari pulau. Jadwal keberangkatan kapal, paling banyak pada hari Sabtu sedangkan pada hari biasa, jadwal keberangkatan kapal hanya dua kali.

Sepanjang perjalanan menuju resor ini, waktu terasa sangat singkat karena bisa menyaksikan gugusan pulau yang sarat dengan nilai sejarah seperti Pulau Cipir (Kahyangan), Onrust dan Kelor.

Pulau Onrust merupakan pelabuhan VOC sebelum pindah ke pelabuhan Tanjung Priok Jakarta Utara. Pulau Onrust ini juga merupakan markas tentara penjajah Belanda sebelum masuk Jakarta dan mendudukinya. Di pulau inilah tentara Belanda melakukan aktivitas bongkar muat logistik perang.

Tahun 1930-an, Pulau Onrust juga menjadi asrama haji sebelum diberangkatkan ke Arab Saudi. Para Calon Haji di Pulau Onrust diadaptasikan dengan udara laut karena zaman dahulu mereka naik kapal laut sebelum menuju ke Arab Saudi. Dari kejauhan memang masih sangat terlihat bangunan-bangunan peninggalan penjajah Belanda seperti benteng dan pelabuhan kuno.

Pulau-pulau lainnya juga pernah menjadi markas kompeni (julukan tentara penjajah Belanda dulu). Pulau Cipir, sejak tahun 1675 hingga menjelang tahun 1800 berkembang sebagai pendukung aktivitas di Pulau Onrust. Tetapi sayangnya, bangunan di pulau ini dihancurkan oleh armada Inggris tahu 1800 sehingga hanya puing-puingnya yang bisa terlihat dari kejauhan.

Pulau Kelor pada masa penjajahan Belanda menjadi rumah Daniel M salah seorang bekas pemimpin Pulau Onrust. Tetapi karena mengalami pengikisan oleh air laut (abrasi), rumah kuno tersebut tenggelam ke dasar laut. Tetapi jangan khawatir karena masih ada bangunan puing yang menjadi menara pengawas dan benteng Belanda zaman dahulu yang bisa dilihat dari kejauhan.

Nah karena masih dalam gugusan kepulauan yang sarat dengan nilai sejarah ini, Pulau Bidadari menjadi bagian dari sejarah penting Indonesia dan bahkan Jakarta. Sebelum bernama Pulau Bidadari, pulau ini memiliki dua nama yaitu Pulau Sakit, dan Pulau Purmerend.

Pada abad ke-17, pulau ini juga merupakan penunjang aktivitas Pulau Onrust karena letaknya yang tidak berjauhan dengan Pulau Onrust. Karena menjadi penunjang, di pulau ini dibangun pula sarana-sarana penunjang. Pada tahun 1679, VOC membangun sebuah rumah sakit lepra atau kusta yang merupakan pindahan dari Angke. Karena itulah, pulau ini sempat dinamakan Pulau Sakit.

Saat bersamaan, Belanda mendirikan benteng pengawas. Benteng yang dibangun ini lebih berfungsi sebagai sarana pengawasan untuk melakukan pertahanan dari serangan musuh. Sebelum pulau ini diduduki oleh Belanda, orang Ambon dan Belanda pernah tinggal di pulau ini.

Sekitar tahun 1800, armada laut Inggris menyerang pulau ini dan menghancurkan bangunan di atas pulau ini. Sekitar tahun 1803 Belanda yang kembali menguasai Pualu Bidadari dan membangunnya kembali. Tetapi Inggris kembali menyerang tahun 1806 Pulau Onrust dan Pulau Bidadari serta pulau lainnya hancur berantakan, tetapi tahun 1827 pulau ini kembali dibangun oleh Belanda dengan melibatkan pekerja orang Cina dan tahanan. Bangunan yang dibangun adalah asrama haji yang berfungsi hingga tahun 1933.

Peninggalan-peninggalan bersejarah inilah yang menjadi daya tarik tersendiri. Di resor ini memang ditawarkan untuk menginap sembari bersantai menikmati suasana laut. Tetapi sangat disayangkan bila menginap di pulau ini, tidak menikmati peninggalan-peninggalan sejarah yang masih tersisa.

Di benteng pengawas, kita bisa melihat catatan-catatan yang ditinggalkan orang yang pernah datang ke pulau ini seperti bertanggal 14 September 1930 (tanpa nama), 26 Maret 1932 ditorehkan oleh GW Voll, H Voll, Eva N Falck, G Becker dan Jack Utermohlen. Catatan paling terakhir ditorehkan oleh W Tan dan Nelly Tasosken pada tanggal 5 April 1955.

Pulau ini sebelum menjadi resor sempat kosong dan tidak berpenghuni sampai dengan tahun 1970 dari tahun 1955. Bahkan pulau ini tidak pernah dikunjungi orang. Pada awal tahun 1970an, PT Seabreez mengelola pulau ini untuk dijadikan sebagai resor wisata.

Semenjak tahun 1970 ini, untuk menarik pengunjung, pulau ini berganti nama menjadi Pulau Bidadari. Alasan pengambilan nama menjadi Pulau Bidadari diilhami dari nama pulau lainnya di Kepulauan Seribu seperti Pulau Putri, Pulau Nirwana, dan lainnya.

Karena letaknya berdekatan dengan Jakarta, banyak pengunjung yang datang sekedar berwisata sehari atau tidak menginap yang lebih dikenal dengan One Day Tour. Pengunjung yang datang di sini selain ingin bersantai menikmati sejuknya angin laut, juga ingin melihat bangunan-bangunan bersejarah yang berada di Pulau Bidadari.

“Cottage” Apung

Berbeda dengan cottage yang berada di resor lainnya, resor Pulau Bidadari memiliki resor yang berada di atas laut atau yang dikenal dengan cottage apung (floating cottage). Tetapi jangan khawatir akan hanyut karena cottage ini berupa rumah panggung di atas air layaknya perkampungan nelayan. Sudah pasti kan apabila kita menginap di atas cottage yang mengapung, tidur kita akan ditemani dengan bunyi deburan ombak dan hembusan angin laut nan sejuk.

Cottage di Pulau Bidadari juga ada yang berada di darat. Cottage yang berada di darat terdiri dari dua model yakni model panggung dan bukan panggung. Cottage model panggung desainnya mirip dengan rumah adat minahasa yang sudah terkenal di seantero dunia.

Bosan berada di dalam kamar dan sudah menikmati peninggalan bersejaraah di Pulau Bidadari? Kita masih bisa bermain dengan banana boat, jetski, kano atau kayak laut dan sejumlah aktivitas lainnya seperti memancing dan berenang di pantai. Jangan khawatir pantai di sini kotor meski berada dekat dengan daratan Jakarta yang airnya hitam tanda kotor. Pantai di sini masih terbilang bersih.

Di bibir pantai terdapat sejumlah pendopo untuk tempat duduk bersantai atau sekedar rebahan melepas kepenatan dan menikmati sejuknya hembusan angin pantai. Ingin bermain, resor Pulau Bidadari juga memiliki taman yang berada di bawah rindangnya pohon-pohon sehingga tak perlu khawatir kita akan kepanasan.

Ketika malam menjemput, suasana hening memang sangat terasa di Pulau Bidadari. Ketika pagi menjemput dan mentari mulai menyembul di ufuk timur, pengunjung akan ditemani kicauan burung yang bersarang di pohon-pohon yang terpelihara dengan baik di Pulau Bidadari.

Restoran di Pulau Bidadari juga buka hingga jam 12.00 tengah malam sehingga tidak perlu takut kelaparan di tengah malam. Di pulau ini terdapat toko yang menjual pernak-pernik yang berbau resor Pulau Bidadari dan perlengkapan mandi.

Menginap di Pulau Bidadari memang bukan hanya sekedar menginap dan beraktivitas seperti bermain jetski atau memancing. Namun kita bisa melihat saksi bisu sejarah Indonesia dan Jakarta meskipun hanya tinggal puing-puingnya saja. Mau menyebrang ke Pulau Onrust juga, tidak perlu khawatir karena letaknya berdekatan dan pengelola resor menyediakan speedboat kecil untuk mengantarkan kita. (SH/thomas jan bernadus)

Sumber: Sinar Harapan, 21 Agustus 2004

“Oud Batavia”, Kawasan Mahal yang Terlupakan

Agustus 21, 2004

JAKARTA Kota sesungguhnya adalah tambang emas baru yang menyimpan banyak potensi wisata. Bertahun-tahun lamanya, gedung-gedung tua yang dibangun pada abad ke-17 dan 18 di kawasan ini dibiarkan merana, tidak terurus, kosong, dan nyaris runtuh. Malah sekadar dijadikan gudang, tempat tidur gelandangan dan pengemis. Menambah kesan kumuh dan tak beraturan. Lebih parah lagi, menjadi tempat mangkal angkutan umum seperti bus mini dan mikrolet.

BUDI Lim, seorang arsitek lulusan Oxford yang mengerjakan sejumlah proyek konservasi di Inggris, menyatakan kecintaannya kepada Jakarta Kota. Menurut dia, kalau kawasan itu direvitalisasi, Jakarta Kota akan menjadi “Princess of the East”.

Potensinya sudah ada. Banyak gedung tua di kawasan Kota dengan arsitek terbaik dalam bentuk art deco dan klasik. Tinggal bagaimana kemauan dan keseriusan mengelolanya.

Pada tahun 1996, Budi Lim menawarkan konsep ruang terbuka di sepanjang Kali Besar. Jalan dan trotoar dipisah untuk memberi ruang lebih besar bagi pejalan kaki dan untuk aktivitas sosial lainnya. Selain itu, parkir kendaraan ditata ulang sehingga bangunan tidak terhalang.

Di tepi Kali Besar diusulkan ditanami pohon-pohon palem raja dan diberi bangku-bangku dengan jarak tertentu. Maksudnya, untuk sirkulasi udara bagi orang yang berjalan di sana. Pertamanan dan pencahayaan diharapkan menambah kesan lebih berbudaya.

Stasiun Jakarta Kota yang berdesain klasik tersambungkan oleh sebuah jalan kecil menuju Taman Fatahillah. Dua tempat itu direncanakan terhubungkan pula oleh trotoar dengan Kali Besar.

Sayangnya, semua itu hanya menjadi sekelumit retorika dalam pembangunan ibu kota Jakarta. Jakarta Kota kembali terlupakan. Sampai akhirnya muncul kembali rencana revitalisasi.

Kota tua di Jakarta sepertinya sudah menjadi bagian yang terlupakan dalam rencana pembangunan Kota Jakarta. Kawasan itu tidaklah menjadi “Jewel of the East”, Permata dari Timur seperti julukan para pelaut Eropa yang lego jangkar pada abad ke-17 dan 18.

Kalau mau dirunut ke belakang, kota tua Jakarta mulai ditinggalkan sejak Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memindahkan pusat bisnis ke Jalan MH Thamrin. Ketika Jalan Thamrin berkembang menjadi pusat bisnis internasional, kawasan Kota hanya tinggal nama, tercatat dalam arsip nasional pernah menjadi pusat bisnis terkemuka.

SEMANGAT membenahi kota tua sebenarnya sudah ada sejak 32 tahun lalu. Pencanangan kota tua sebagai kota tujuan wisata sudah dimulai Gubernur Ali Sadikin (1966-1977). Saat itu keluar Surat Keputusan Nomor 11 Tahun 1972 tentang Penetapan Kawasan Cagar Budaya Kota Tua Jakarta. Tetapi, revitalisasi itu toh belum berjalan seperti yang diharapkan.

Semua yang pernah menjadi Gubernur DKI punya rencana merevitalisasi Kota Tua. Sebut saja, Tjokropranolo (1977- 1982), R Soeprapto (1982-1987), Wiyogo Atmodarminto (1987- 1992), Surjadi Soedirja (1992- 1997), hingga Sutiyoso (1997- 2002) dan (2002-2007). Tetap saja revitalisasi hanya menjadi mimpi.

Kenyataannya, revitalisasi masih sebatas pencanangan semata. Sepertinya sudah menjadi kebiasaan bahwa setiap ide hanyalah sampai pada pencanangan. Realisasinya? Selalu belum menunjukkan suatu harapan.

Inilah yang membuat pemerhati kota tua gemas. Ella Ubaidi, aktivis yang ikut memperjuangkan pelestarian kota tua di Jakarta Kota, tidak habis pikir karena sejak tahun 1972 hingga 2004 belum tampak perhatian lebih dari Pemprov DKI atas kawasan cagar budaya yang bersejarah itu.

Ella, yang tergabung dalam Batavia Advancement Committee, sebuah perkumpulan masyarakat generasi muda Peduli Kota Tua Jakarta, menggelar Program Peduli Kota Tua Jakarta dengan nama Kali Besar Bersih. Kegiatan itu berlangsung 6 September mendatang dengan program pencanangan kegiatan Kali Besar Bersih. Selanjutnya tanggal 20 September akan dilakukan uji coba teknis sistem penanggulangan sampah kali besar antara lain pemasangan jaring dan aerator.

Bukan cuma Ella dan perkumpulannya yang peduli menghidupkan kembali kota tua. Mantan Direktur Bank Indonesia (BI), Miranda Goeltom, rupanya menaruh peduli terhadap kelangsungan kota tua. Sekitar Mei lalu dia datang ke Balaikota DKI bertemu dengan Gubernur Sutiyoso menyatakan keinginannya untuk menghidupkan kembali kota tua di sepanjang Harmoni-Kota dan kawasan Sunda Kelapa.

Kepada Sutiyoso, Miranda menyampaikan kerinduannya agar konsep pembangunan kota tua dihidupkan kembali. Tidak hanya dilakukan dengan cara penataannya, tetapi juga harus dipikirkan penggunaannya di kemudian hari. Sebab, jika hanya ditata saja dan tidak dimanfaatkan kembali, kota tua di Jakarta tidak akan hidup dan kembali menjadi kota mati.

“Kita boleh menghidupkan kembali kota tua, tetapi jangan lupa untuk tetap me-restore (memperbaiki) dan mem-preserve (memelihara) apa yang telah ada,” kata Miranda waktu itu.

Pada dasarnya, restorasi atau preservasi dari kota tua hanya akan berjalan dengan baik jika fungsionalisasi dan pemanfaatan bangunan dapat tercapai. Dengan kata lain, harus ada unsur laku untuk dikomersialisasikan sehingga konsepnya tidak hanya sekadar bangunannya yang diperhatikan, tetapi juga lingkungan, kenyamanan, keamanan, dan jalan-jalan menuju akses ke kota tua juga diperhatikan secara khusus.

Persoalan macet, kata Miranda, orang pasti tidak keberatan selama macetnya ada aturan. Di luar negeri juga banyak jalan di kota-kota tua macet karena jalan-jalan di kota tua pasti kecil.

“Masalahnya, jangan dibiarkan adanya parkir mobil di sebelah kiri dan kanan jalan. Karena parkir itu, selain potensial menimbulkan hambatan untuk mencapai kota tua, juga akan menimbulkan ketidaknyamanan dan ketidakamanan,” jelas Miranda. Ia menginginkan lokasi sekitar kota tua harus nyaman untuk dijadikan tempat pejalan kaki.

Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta Aurora Tambunan mengatakan, revitalisasi merupakan keinginan Sutiyoso sejak lama. Ia melihat, visi dari Miranda bukan hanya terletak pada penataan fisik saja. Akan tetapi, bagaimana meningkatkan perekonomian kota tua dengan menjadikannya sebagai financial center. Diharapkan, kota tua menjadi hidup dengan kekuatannya sendiri tanpa APBD.

Anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta, Hj Syamsidar Siregar, juga menyatakan keheranannya karena setiap tahun APBD DKI Jakarta menyediakan pos dana untuk penataan kota tua. Hasilnya, Jakarta Kota tetap kumuh, tidak terurus, dan menjadi rumah hantu pada malam hari.

Secercah harapan kini mulai muncul. Pemprov DKI sedang memproses aspek legal pengembangan kawasan itu. Saat ini sudah memasuki tahap pengkajian. Sesuai rencana, aspek legal untuk pemeliharaan dan pengembangan kota tua akan dilakukan pemugaran beberapa gedung tanpa banyak perubahan. Aspek legal itu nantinya berupa peraturan daerah (perda) atau berupa surat keputusan gubernur. Namun, Syamsidar lebih setuju kalau legalitas itu dalam bentuk perda.

Mencuatnya ide mengatasi punahnya bangunan di kota tua diperlukan sebuah badan otorita independen yang mengelola kawasan cagar budaya Jakarta Kota. Muncul juga usulan membentuk tim khusus mengelola kawasan sejarah itu, di mana orang-orang yang mampu dan profesional melaksanakan konsep menghidupkan kota tua.

Ikut dalam tim itu para pengusaha, bankir, dan konglomerat. Maka, sulit dibayangkan kalau revitalisasi itu kemudian lebih berorientasi pada bisnis. Sedangkan aspek konservasinya malah ditinggalkan demi alasan bisnis semata. Namanya juga pengusaha…. (Pingkan Elita Dundu)

Sumber: Harian Kompas, Sabtu, 21 Agustus 2004

Kawasan Kota Tua Terlupakan dari Pembangunan Jakarta

Agustus 19, 2004

Jakarta, Kompas – Kawasan Kota Tua di Jakarta Barat dan Jakarta Utara telah menjadi bagian yang terlupakan dalam rencana pembangunan Jakarta. Pembangunan kembali kawasan itu telah dicanangkan sejak tahun 1973, namun belum ada hasil nyata.

Padahal, menurut anggota Komisi E (membidangi kesejahteraan) DPRD DKI Jakarta Hj Syamsidar Siregar, Rabu (18/8), dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) setiap tahunnya selalu dianggarkan biaya pemeliharaan, perawatan, dan pembangunan infrastruktur melalui anggaran rutin per sektor.

“Anggarannya cukup besar, tapi hasilnya tidak pernah ada. Makanya tahun 2005, kami harapkan penataan kembali kawasan Oud Batavia (Kota Tua Jakarta) menjadi prioritas,” jelas Syamsidar.

Sampai tahun 2000, Dinas Kebudayaan dan Permuseuman (dulunya Dinas Museum dan Pemugaran) DKI Jakarta mencatat, di Ibu Kota terdapat 216 bangunan bersejarah dengan 132 titik yang dimiliki baik secara individu, swasta, maupun pemerintah. Setiap titik terdiri dari satu sampai 10 bangunan. Tiga puluh di antaranya milik pemerintah. Sementara khusus di kawasan “Kota Tua” seluas 139 hektar terdapat bangunan bersejarah milik pemerintah yang jumlahnya 10 sampai 15 bangunan.

Melalui proyek revitalisasi kota tua, Pemprov DKI bermaksud menyelamatkan gedung tua di kawasan seluas 139 hektar yang meliputi 88 hektar di Jakarta Barat dan 51 hektar di Jakarta Utara.

Sejauh pengamatan Kompas, kawasan Kota Tua Jakarta kini kondisinya sangat memprihatinkan. Selain kumuh dan tak sedap dipandang, kali yang membelah Jalan Kali Besar Barat dan Timur berwarna hitam, penuh sampah dan punya bau khas.

Jalan Kali Besar Timur dijadikan tempat mangkal bus kecil dan angkutan kota (mikrolet). Selain itu, bangunan-bangunan tua yang tidak terawat menjadi tempat tinggal dan tidur gelandangan dan pengemis. Padahal, di kota-kota besar di dunia, kawasan kota tua justru menjadi daya tarik wisata yang mampu menghasilkan devisa.

Syamsidar mengusulkan, Pemprov DKI membuat Perda mengenai Pelestarian Kawasan Kota Tua dan semua peninggalan sejarah dan budaya, termasuk budaya Betawi.

Sementara itu, perkumpulan masyarakat generasi muda Peduli Kota Tua Jakarta mengajak pemerintah dan masyarakat mendukung program revitalisasi di kawasan cagar budaya Kota Tua Jakarta.(PIN)

Sumber: Harian Kompas, Kamis, 19 Agustus 2004.

Kebayoran Baru Kota Taman Pertama Karya Arsitek Lokal

Agustus 6, 2004

Oleh Nirwono Joga, arsitek lanskap

ADOLF Heuken dan Grace Pamungkas (2001) menulis, kawasan Menteng di Jakarta Pusat merupakan kota taman pertama di Indonesia, tentunya yang dirancang para arsitek Belanda. Namun, banyak warga Jakarta yang belum tahu bahwa Kebayoran Baru di Jakarta Selatan adalah kota taman pertama di Indonesia yang dirancang arsitek lokal, Moh. Soesilo (1948).

SUNGGUH mengherankan dan naif membaca usulan rencana sebagian pengusaha yang disampaikan (didukung) Pemerintah Kota Jakarta Selatan untuk mengubah fungsi peruntukan Kebayoran Baru dari kawasan perumahan menjadi kawasan usaha (Kompas, 10/6).

Padahal, berdasarkan Surat Keputusan (SK) Gubernur DKI Jakarta Nomor D.IV-6099/33/ 1975, kawasan Kebayoran Baru ditetapkan sebagai Kawasan Pemugaran. Bahkan, Peraturan Daerah (Perda) Nomor 6 Tahun 1999 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Jakarta 2000-2010 telah menetapkan sebagian besar kawasan Kebayoran Baru sebagai Kawasan Perumahan/Hunian. Maka, Kebayoran Baru seharusnya dilindungi dan dilestarikan sebagai contoh warisan budaya kota taman pertama di Indonesia. Bukan malah digadaikan.

Menilik dari sejarah perkembangan Kota Jakarta, aset dan potensi Kebayoran Baru memang layak dikategorikan sebagai kawasan cagar budaya. Hal ini diperkuat oleh Undang-Undang (UU) Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Pada Pasal 1 (1) disebutkan, benda cagar budaya adalah benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak yang berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya atau sisa-sisanya, yang berumur sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, atau mewakili masa gaya yang khas dan mewakili masa gaya sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.

Dengan demikian, kota taman Kebayoran Baru yang telah berusia lebih dari 50 tahun dapat dikategorikan sebagai kawasan cagar budaya yang patut dilindungi, dilestarikan, dan dikembangkan secara hati-hati, seperti yang sudah diatur dalam Perda No 11/1988 tentang Ketertiban Umum di wilayah DKI Jakarta, Perda No 6/1999 tentang RTRW Jakarta 2000-2010, serta Perda No 9/1999 tentang Perlindungan dan Pemanfaatan Lingkungan Kawasan Benda Cagar Budaya.

Artinya, segala macam kegiatan preservasi, konservasi, restorasi, rehabilitasi, rekonstruksi, renovasi, dan atau revitalisasi dalam kawasan Kebayoran Baru, apalagi untuk kegiatan komersial, harus didahului kajian analisis dampak lingkungan dan sosial, serta studi kelayakan konservasi dan pengembangan kota, yang mendalam dan independen.

Bagi pemerintah daerah, seperti Dinas Tata Kota, Dinas Pertamanan, Dinas Pertanian dan Kehutanan, Dinas Pariwisata, Dinas Museum dan Pemugaran, Dinas Kebudayaan, dan Kantor Pelayanan Pemakaman, serta anggota DPRD, sudah selayaknya menjadikan Kebayoran Baru sebagai laboratorium hidup bahan kajian studi banding gratis degradasi dan pengelolaan kota taman. Dengan demikian tidak perlu studi banding ke luar negeri, seperti ke Singapura, Kuala Lumpur, Melbourne, London, atau New York, yang tidak pernah jelas hasil dan laporannya.

Kebayoran Baru merupakan adaptasi kota taman bergaya Eropa (Belanda) dalam iklim tropis sehingga sering disebut sebagai kota taman tropis yang banyak dikembangkan oleh Thomas Karsten di beberapa kota di Jawa (Bogor, Bandung, Malang) dan luar Jawa, di mana arsitek Moh. Soesilo adalah salah satu muridnya.

Kebayoran Baru memiliki konsistensi hierarki jalan dan peruntukan lahan yang jelas, mulai dari Blok A hingga Blok S. Sebagai kota taman, Kebayoran Baru dirancang didominasi ruang terbuka hijau (RTH) lebih dari 30 persen dari total luas kota Kebayoran Baru 720 hektar. Suatu hal yang kini sulit diwujudkan oleh Kota Jakarta sekarang maupun dalam perencanaan kota di Indonesia.

Taman kota (Taman Puring, Taman Patung Tumbuh Kembang, Taman Langsat, Taman Leuser, Taman Barito, Taman Christina Marta-Tiahahu, Taman PKK), taman pemakaman umum (TPU Blok P yang sudah digusur, TPU Kramat Pela), lapangan olahraga (Blok S yang bersejarah, Al Azhar), jalur hijau jalan raya, dan bantaran sungai saling menyatu dengan didominasi deretan pohon besar berusia puluhan tahun berdiameter lebih dari 50 sentimeter yang harus dilindungi.

Kebayoran Baru dikelilingi oleh sabuk hijau bantaran Kali Grogol di Barat dan Kali Krukut di timur, serta kompleks Gelora Bung Karno di utara. Fasilitas ruang publik dengan konsep taman-taman penghubung (connector park), seperti yang biasa ditemukan pada kota-kota taman di Singapura, Melbourne, atau London, disediakan dalam bentuk taman kota dan taman lingkungan yang tersebar sistematis, terencana, dan saling berhubungan tak terputus disesuaikan dengan peruntukan hunian.

Pemerintah daerah seharusnya dapat belajar di sini untuk diterapkan dalam pembangunan taman interaktif di perkampungan kumuh dan padat penduduk dan pengembangan RTH kota secara keseluruhan.

Kebayoran Baru juga masih memiliki cadangan RTH cukup luas yang merupakan halaman hijau bangunan, seperti di Hotel Dharmawangsa yang eksotik, American Club, Kantor Kejaksaan Agung RI, SMA 70 Bulungan, Kompleks Yayasan Al Azhar, Kantor Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah, serta Mabes Polri.

Namun, jika tidak ada upaya negosiasi dengan pengelola lahan melalui pola kemitraan hijau, cadangan RTH tersebut dapat saja digusur setiap saat digantikan bangunan instansi pemilik lahan. Ironisnya, penggusuran RTH tampaknya akan terus berlanjut tanpa terkendali dan sanksi tegas, seperti pengurukan situ menjadi golf drive range, dan penggusuran TPU Blok P menjadi Kantor Wali Kota Jakarta Selatan (1997).

Perubahan peruntukan lahan diperparah dengan perubahan fungsi bangunan rumah menjadi tempat usaha secara tak terkendali dan telah merusak pembagian kapling (blok-blok) Blok A sampai Blok S, dan arsitektur bangunan khas, yang telah direncanakan sebelumnya. Bangunan-bangunan baru tumbuh menggusur bangunan lama dengan arsitektur yang tidak selaras dengan bangunan lama di sekitarnya.

KEBAYORAN Baru memiliki kekayaan warisan budaya arsitektur bangunan yang sederhana, modern, dan tropis yang semestinya harus dilindungi. Berbagai tipe bangunan hunian dengan berbagai ukuran dan gaya berbeda melatarbelakangi sejarah panjang kota taman ini.
Konservasi tipe-tipe bangunan bersejarah seperti rumah besar di Jl Sriwijaya, Jl Adityawarman, Jl Galuh, Jl Kertanegara, Jl Daksa, Jl Erlangga, Jl Pulokambeng (Blok J dan L); rumah sedang (300-500 meter persegi) di Jl Lamandau dan Jl Mendawai (Blok D); rumah kecil berdiri tunggal maupun gandeng dua (200 meter persegi) di Jl Kerinci (Blok E) dan di Jl Gandaria (Blok C), rumah jengki di Jl Sinabung yang dirancang Moh Soesilo, arsitek kota Kebayoran Baru; rumah deret mungil dan cantik di Jl Brawijaya; serta gedung dan flat Bank Indonesia di Blok J, dan flat Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian di Jl Wijaya yang termasuk gedung modern pada zamannya.

Selain itu masih ada Masjid Al Azhar, Masjid At Taqwa, Gereja Santa Perawan Maria, Gereja Pantekosta, Gereja Santo Yohanes, serta tak ketinggalan kediaman (alm) Ibu Fatmawati di Jl Sriwijaya 26 yang sangat bersejarah.

Kebayoran Baru juga sudah merencanakan pusat-pusat perniagaan, seperti Pasar (tradisional) Santa, Pasar Blok A dengan menara airnya yang menjadi landmark, Pasar Mayestik, dan Blok M, serta kios-kios bunga, buah, dan burung yang berada di sekitar Jl Barito, yang masih dapat dikembangkan lebih optimal ketimbang mengubah kawasan perumahan secara keseluruhan menjadi kawasan usaha.

Sudah bukan rahasia umum pula jika lokasi-lokasi RTH strategis, seperti Taman Langsat, Taman Leuser, dan Taman Barito, telah lama diincar para pengusaha untuk bangunan komersial (mal, apartemen, atau hotel). Sementara di sepanjang jalan utama telah banyak rumah yang berubah menjadi kantor, toko, kafe, galeri, atau tempat usaha lainnya. Jika tak segera diambil langkah pengendalian yang tegas, bisa dipastikan kota taman Kebayoran Baru akan hancur berubah menjadi kawasan lain yang semrawut dan tidak beridentitas lagi.

Penyusunan pedoman konservasi dan pengembangan kota dapat ditempuh melalui pendekatan dari bawah, dengan mengakomodasi karakteristik masing-masing kapling sesuai dengan permasalahan yang dihadapi, potensi yang dimiliki, dan prospeknya terhadap peningkatan kualitas kota taman.

Dengan semangat kemitraan, hasil perencanaan sebagai alat komunikasi yang informatif antara pemerintah daerah dan pengusaha didampingi konsultan yang berwawasan lingkungan dan konservasi kota (sebagai pemrakarsa) dengan warga pemilik kapling (stakeholders), tokoh masyarakat, akademisi, dan lembaga swadaya masyarakat.

Hasilnya adalah pemahaman bersama untuk mewujudkan pengembangan kota yang realistis untuk dibangun tanpa harus mengorbankan kualitas kota taman.

Komitmen dan konsistensi pelaksanaan pembangunan fisik kota harus diimbangi dengan konservasi RTH secara ketat dan disiplin dalam menata ruang kota, serta pengendalian fungsi bangunan rumah. Tidak semua lahan harus dipenuhi bangunan gedung perkantoran, ruko, mal, hotel, atau apartemen, dan tidak semua rumah harus dijadikan tempat usaha.

Kebayoran Baru sebagai kota taman merupakan aset, potensi, dan investasi RTH Kota Jakarta yang memiliki nilai ekologi, ekonomi, edukatif, dan estetis, yang notabene menjamin keberlanjutan lingkungan hidup kota dengan konsisten untuk kemudian menjadikan kota sebagai pusat perdagangan jasa dan tujuan wisata.

Sumber: Harian Kompas, Jumat, 06 Agustus 2004

Daftar Istilah

Agustus 1, 2004

Pada awalnya adalah sebuah kata, halaman ini berisi daftar arti kata, asal mula kata dan penjelasannya.

Hindia:
“Dalam abad ke 16 Indonesia dikuasai oleh Portugis. Portugis menamakan Indonesia, India Portugis. Portugis dihalau Belanda, menamakan Indonesia, Hindia Belanda. Kenapa kata Hindia dipergunakan? Karena dalam abad ke 16 itu dunia Barat mencari rempah-rempah. Dan rempah-rempah itu mereknya Hindia. Padahal asalnya dari Maluku dan Aceh (Sumatra) itu sebabnya terbawa-bawa terus nama India dan sampai sekarang pun kita belum pernah mengkoreksinya,… .” (Pidato Arti Penting Sejarah – Pramoedya Ananta Toer)

indis: dalam bahasa Indonesia
“Sebutan Indis berasal dari istilah Nederlandsch Indie atau Hindia Belanda dalam bahasa Indonesia. Itulah nama suatu daerah jajahan Pemerintah Belanda di Timur Jauh, dan karena itu sering disebut juga Nederlandsch Oost Indie.” (J Pamudji Suptandar; Kompas, Oktober 14, 2001)

indies: dalam bahasa Inggris
“a synthesis of interests and ideas to be borne by an increasing number of the archipelago’s residents, a synthesis, therefore neither ‘Indonesian’ nor ‘Dutch’, but a combination of what all the participants had to offer.” (Doorn 1983:12)

indisch atau Nederlands-Indië: dalam bahasa Jerman
“diese niederländischen Worte sind Synonyme für “indonesisch”, mit einem programmatischen Charakter insofern, als daß sie im allgemeinen Sprachgebrauch das Staatsgebiet Indonesiens vor der Unabhängigkeit bezeichnen.”(Kortendick 1996)

Indonesia:
“Dengan munculnya Perhimpunan Indonesia itu, pemuda dan buangan ini menemukan tanah air dan nation-nya. Bukan tanah air dan nation yang konkrit tetapi masih fiktif dan ini dinamakan Indonesia. Pada waktu itu nama Indonesia sedang populer. Dipopulerkan oleh Adolf Bastian orang Jerman. Sebetulnya yang menemukan nama ini orang Inggris, ….” (Pidato Arti Penting Sejarah – Pramoedya Ananta Toer)

Oleh Admin