Archive for April, 2006

Bangunan Kuno Terlantar – Dinas Pariwisata Bertanggung Jawab

April 21, 2006

Purwakarta, Kompas – Upaya pelestarian terhadap bangunan peninggalan sejarah masih menghadapi kendala dana pemeliharaan. Selain itu, minimnya dana kesejahteraan juru pelihara yang selama ini sudah terjadi sejak lama juga harus menjadi inti permasalahan tersendiri. “Sejak tahun 2005, uang pemeliharaan sudah tidak dikirim lagi. Padahal, bangunan harus tetap dijaga kelestariannya dan tidak boleh diubah,” ujar Endang Awali (52), Kamis (20/4).

Endang adalah juru pelihara sekaligus ahli waris Rumah Kuno Citalang, di Desa Citalang, Kecamatan dan Kabupaten Purwakarta. Rumah yang didirikan sekitar tahun 1900 itu, oleh pemerintah telah ditetapkan sebagai satu dari 149 bangunan dan situs peninggalan sejarah purbakala di Jawa Barat. Namun, dana pemeliharaannya dinilai kurang, bahkan sering terlambat penyalurannya.

Endang menambahkan, ia terakhir menerima dana pemeliharaan dari Kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Wilayah Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Lampung sekitar pertengahan 2004 lalu. Jumlahnya sebesar Rp 120.000 per bulan. Adapun dana dari pemerintah setempat, ia mengaku belum pernah menerima.

“Kalau dilihat dari besaran uangnya, jelas kurang karena harga-harga kebutuhan sudah melambung jauh. Pengucurannya pun sering terlambat, bahkan berhenti sejak awal 2005 lalu,” ujarnya.

Untuk mengambil dana tersebut, Endang harus datang langsung ke kantor suaka peninggalan sejarah dan purbakala di Serang, Banten, selama tiga bulan sekali. Dengan ongkos transportasi sekarang, lanjutnya, sudah tidak sebanding.

“Kalau tidak bekerja sambilan di sawah, saya pasti sudah tidak sanggup merawat bangunan ini. Untung istri juga bekerja di pabrik,” kata Endang menambahkan.

Soal tanggung jawab

Sementara itu, kondisi bangunan-bangunan peninggalan lainnya di Kabupaten Purwakarta memprihatinkan dan tidak terawat. Kepemilikannya berganti-ganti dan tidak semua pemilik merawatnya dengan baik.

Beberapa bangunan kurang terawat dan dibiarkan rusak itu, misalnya, bekas Bioskop Priangan atau salah satu Gedung Kembar di Jalan KK Singawinata.

RH Garsoebagdja Bratadidjaja (73), sesepuh sekaligus Ketua Dewan Penasihat Badan Musyawarah Putra Daerah Purwakarta, mengatakan, kepedulian pemerintah daerah terhadap peninggalan sejarah masih minim.

Itu terlihat hampir dari periode ke periode pemerintahan. Akibatnya, beberapa bangunan sudah tidak ada, dan beberapa lainnya dibiarkan tidak terawat.

Minimnya perhatian pemerintah itu, lanjutnya, bisa dilihat dari anggaran yang dikucurkan untuk merawat bangunan-bangunan bersejarah. Selain itu juga bisa dilihat dari program-program pelestarian yang dilaksanakan.

Menurut Garsoebagdja, beberapa gedung peninggalan penjajah di- hancurkan oleh pemerintah di zamannya karena minimnya kesadaran akan nilai-nilai sejarah. Peninggalan itu masih dianggap barang biasa yang bisa diganti dengan yang baru.

Upaya melestarikan peninggalan sejarah dari pemerintah daerah, menurut dia, sangat penting. Pemda sebaiknya tidak hanya menginduk pada undang-undang tentang pelestarian benda bersejarah, tetapi juga menerbitkan peraturan daerah. Dinas atau badan terkait, seperti pariwisata dan kebudayaan, mempunyai tanggung jawab besar untuk melestarikan gedung bersejarah. (MKN)

Sumber: Kompas, 21 April 2006

Nasib Gedung Kuno – Peran Serta Masyarakat Masih Sangat Kurang

April 21, 2006

Cirebon, Kompas – Hingga kini, pemeliharaan dan perawatan gedung- gedung tua yang ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya atau BCB terkendala masalah klasik, yakni keterbatasan anggaran.

Untuk itu, perlu partisipasi masyarakat luas guna menjaga kelestarian bangunan-bangunan yang didirikan ratusan tahun lalu itu. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Cirebon Moch Hanafiah mengatakan, pelestarian BCB seharusnya tidak hanya menjadi beban pemerintah, tetapi juga melibatkan masyarakat. “Kalau ada investor yang mau mengelola bangunan-bangunan bersejarah itu, kami akan menerima dengan tangan terbuka,” ujar Hanafiah, Kamis (20/4). Masalahnya, kata Hanafiah, investor pasti tidak mau hanya mengeluarkan uang, tetapi juga memiliki tujuan keuntungan, yakni dengan peningkatan jumlah pengunjung.

Padahal, untuk meningkatkan jumlah pengunjung perlu peningkatan daya tarik. Untuk itu, sangat mungkin diperlukan perubahan, yakni penambahan fasilitas atau pembongkaran di bagian tertentu. “Ini yang sulit, karena sebagai BCB, ia harus tetap seperti aslinya,” kata Hanafiah, Kamis (20/4).

Kepala Seksi Bina Nilai Tradisional Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Cirebon Adin Imanuddin mengatakan, dulu pernah ada sebuah hotel yang ingin ikut serta dalam membiayai perawatan sebuah keraton sebab keraton itu dimasukkan dalam paket wisatanya. Namun, upaya itu batal terlaksana.

Adin menambahkan, perubahan pada BCB untuk menarik jumlah pengunjung bisa dilaksanakan dengan metode zonasi. “Misalnya saja dibangun tempat bermain anak-anak yang letaknya di dekat BCB,” kata Adin. Sebagai kota tua, banyak bangunan tua yang berdiri di Kota Cirebon. Surat Keputusan Wali Kota Cirebon Nomor 19 Tahun 2001 mengenai Perlindungan dan Pelestarian Kawasan Bangunan Cagar Budaya di Kota Cirebon menetapkan 52 bangunan tua sebagai BCB.

Bangunan itu dibagi dalam tiga klasifikasi tingkat perlindungan, yakni sangat ketat, ketat, dan cukup ketat. Bangunan tua itu, antara lain Gedung Balaikota, Karesidenan, Masjid Al-Athyah, dan Klenteng Talang.

Masalahnya, untuk BCB sebanyak itu, tahun ini Pemerintah Kota Cirebon hanya menyediakan anggaran sekitar Rp 150 juta. “Ini pun sudah meningkat 150 persen dibanding tahun lalu yang hanya Rp 60 juta,” ujar Adin.

“Untuk bangunan yang masih digunakan, biaya pemeliharaan dan perawatan kita serahkan pada pemiliknya. Untuk bangunan yang tidak digunakan, ada biaya meski tidak bisa menutup keseluruhan yang diperlukan,” kata Adin.(LSD)

Sumber: Kompas, Jumat, 21 April 2006

Bangunan Kolonial Terabaikan – Perlu Aturan untuk Melindungi

April 21, 2006

Bandung, Kompas – Keberadaan bangunan peninggalan masa kolonialisme di Kota Bandung terabaikan. Dari ratusan bangunan yang dibangun, hanya 50 bangunan yang tercatat di Balai Pengelolaan Kepurbakalaan, Sejarah, dan Nilai Tradisional Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jabar. Menurut Prama Putra, Kepala Balai Pengelolaan Kepurbakalaan, Sejarah, dan Nilai Tradisional Unit Pelaksana Teknis Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, Kamis (20/4) di Kota Bandung, dari 50 yang terdata, 60 persen di antaranya terawat dengan baik dan digunakan oleh instansi pemerintah.

Bangunan tersebut antara lain adalah Gedung Sate, Gedung Dwi Warna, Pendopo, Gedung Polwiltabes, Balaikota, Kantor Kodam III Siliwangi, Gedung SD Merdeka, Gedung Sekolah Santa Angela, dan Museum Pos. Ia menjelaskan, banyak bangunan kolonial hilang karena pembangunan, misalnya dibuat mal dan apartemen. “Itu kebijakan pembangunan, lalu yang berubah menjadi factory outlet (FO) juga bukan target kami,” tutur Prama.

Dari Rp 800 juta anggaran yang dialokasikan untuk pemeliharaan bangunan lama, baru Rp 6 juta yang dialokasikan untuk bangunan lama. Itu pun untuk biaya rapat penetapan Sekolah Luar Biasa Tunarungu di Jalan Cicendo, Bandung, sebagai bangunan cagar budaya dan pembangunan taman kecil di sekitar tugu sekolah.

Sejumlah bangunan yang pernah berdiri di Kota Bandung dengan nilai arsitektur tinggi kini telah lenyap, antara lain Singer Building di Simpang Lima, kompleks bangunan pertokoan di Naripan, dan gedung bekas Departemen Sosial (Depsos) di Jalan Ciumbuleuit yang kini berubah menjadi pusat pertokoan dan restoran.

Perda

Wakil Ketua Bandung Heritage Society mengatakan, gedung bekas Depsos merupakan satu-satunya bangunan dengan desain berlanggam nautical deco yang sangat langka.

“Sekitar 10 bioskop bergaya art deco juga bernasib sama. Seluruhnya, termasuk Bioskop Oriental, kini sudah menghilang dan berganti dengan mal,” ucap Dibyo.

Dibyo menambahkan, dari sekitar 600 bangunan bersejarah di Kota Bandung yang pernah terdata, sebagian telah berubah bentuk. Sementara, sebagian lainnya, lanjut Dibyo, direstorasi atau direnovasi dan berubah fungsi, seperti Gedung Indonesia Menggugat di Jalan Perintis Kemerdekaan dan Heritage Outlet di Jalan Banda. Hilangnya bangunan-bangunan bersejarah, menurut dia, merupakan konsekuensi penataan kota yang tidak berperspektif budaya atau sejarah, tetapi lebih berorientasi komersial. Bangunan bersejarah dikorbankan untuk pembangunan mal atau FO.

Untuk menekan pembangunan fisik yang mengancam eksistensi bangunan bersejarah lainnya, Bandung Heritage Society menggagas dibuatnya Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Bangunan Bersejarah di Kota Bandung.

Aturan yang termuat dalam perda itu sebagai rambu bagi pemerintah, investor, maupun pengembang dalam melaksanakan kebijakan tata ruang kota.

“Raperda tidak hanya berisi pelarangan, tetapi juga pemberian insentif berupa pemotongan pajak atau bantuan bagi swasta atau individu yang ikut merawat dan melestarikan bangunan bersejarah,” papar Dibyo. (ynt/jon)

Sumber: Kompas, Jumat, 21 April 2006

Bioskop Bandung, Riwayatmu Kini…

April 21, 2006

Bagi sebagian orang, gedung bioskop merupakan tempat alternatif untuk melepas kepenatan setelah lelah beraktivitas seharian. Namun, sebagian lagi menggangap gedung bioskop sebagai tempat untuk menyalurkan hobi menontonnya. Bahkan, di bioskop orang bisa memperoleh pengetahuan baru dari film yang ditontonnya.

Beribu alasan orang datang menonton di gedung bioskop. Lebih lebar layarnya dibandingkan layar televisi, lebih fokus menontonnya, lebih mantap suaranya, atau juga lebih nyaman rasanya.”Tidak jarang, banyak juga yang datang hanya untuk berpacaran selain untuk menikmati hiburan,” tutur Aming D Racman, Ketua Forum Dokumentasi Budaya Kota Bandung, Kamis (20/4).

Gedung bioskop di Bandung sudah dikenal sejak masa kolonial Belanda. Sebut saja gedung Bioskop Elita yang terletak di Jalan Alun-Alun dan Bioskop Majestic di Jalan Braga yang sudah tersohor di tahun 1920- an.

Dari tahun ke tahun, hingga tahun 1970, jumlah bioskop di Kota Bandung mencapai 30 gedung dengan berbagai kelas dan kualitas. Salah satu gedung bioskop yang paling top pada masanya, menurut Subakti, seorang pengusaha bioskop dari tahun 1970, adalah Nusantara dan Paramount. Kedua gedung itu punya kelebihan masing-masing. “Awal tahun 1980-an, Nusantara menawarkan gedung gaya Belanda dengan daya tampung 1.200 kursi, sedangkan Paramount berkapasitas 1.006 kursi, hadir dengan gedung baru yang modern pada masa itu,” ujarnya.

Kompleks bioskop

Dulu, Alun-alun Kota Bandung merupakan kompleks gedung bioskop. Setidaknya ada lima gedung bioskop yang tumbuh di kawasan itu, seperti Elita (Puspita), Aneka (Oriental), Nusantara (Varia), Dian (Radio City), Majestic (Dewi). Ada pula Bioskop Preanger di Jalan Kebon Jati yang berganti nama sampai tiga kali, yaitu menjadi Orion, Luxor, dan Nirmala. Kebanyakan bioskop di zaman kolonial itu milik Boosje, warga Belanda yang mempunyai perkebunan di sekitar Bandung.

Ada yang tumbang dan ada pula yang tumbuh. Sayangnya, nasib gedung-gedung yang menampung puluhan, ratusan, bahkan ribuan penikmat film di Bandung ini harus terseok tak berdaya. Perkembangan teknologi, selera pasar, juga manajemen pelayanan yang kurang memuaskan membuat gedung ini terus ditinggalkan, beralih fungsi, dan tidak terawat.

Tak akan ada lagi proyektor yang berputar, karcis yang disobek, layar putih berukuran 100 kali televisi 20 inci yang menampilkan gambar hidup, hingga serangga di kursi penonton yang membuat kaki dan tangan gatal. Yang tersisa hanya gedung tua yang menantikan padamnya lampu bioskop untuk selamanya.

Saat ini, bisa dihitung jumlah gedung bioskop tua yang masih bertahan dan berfungsi sebagai tempat menonton film-film baru. Satu di antaranya adalah Bioskop Taman Hiburan di daerah Cicadas.

“Tetapi banyak juga yang sudah berubah fungsi, seperti Bioskop Dian yang menjadi tempat futsal,” kata Iwan, petugas di PT Kharisma Jabar Film. (THT)

Sumber: Kompas, Jumat, 21 April 2006

Arsitektur Bersejarah dan Citra Kota Bandung

April 16, 2006

Dibyo Hartono

Pembangunan Kota Bandung yang cepat dan intensif awal abad ke-20 terjadi karena Otonomi Pemerintahan Kota tahun 1906 dan rencana Pemerintah Hindia Belanda menjadikan Kota Bandung sebagai ibu kota serta pusat komando militer.

Untuk maksud tersebut pemerintah memindahkan Departemen Peperangan (Departement van Oorlog) dari Weltevreeden (Jakarta Pusat) ke Bandung dengan membangun Pusat Komando Militer yang oleh masyarakat Sunda disebut Gedong Sabau, karya VL Slors tahun 1913.

Dalam kompleks baru ini dibangun pula Istana Panglima Pasukan yang kini menjadi Markas Kodam III Siliwangi, karya bersama kakak beradik Richard Schoemaker dan Wolff Schoemaker tahun 1918. Rencana pemindahan ibu kota juga didukung pemindahan kantor pusat Jawatan Kereta Api ke Bandung, di bekas gedung Grand National Hotel, Jalan Perintis Kemerdekaan, pada tahun 1916.

Untuk memindahkan departemen dan instansi pemerintah dari Batavia, disediakan tanah seluas 27.000 meter persegi untuk lokasi Gedung Sate dengan arsitek Gerber tahun 1920-1924. Sedangkan untuk menampung karyawan juga direncanakan dibangun sekitar 1.500 rumah.

Dalam rangka mengantisipasi kehidupan kota yang terus meningkat dan perluasan kota yang terus berkembang, pemerintah kota pada tahun 1930 menugaskan kepada Prof Ir Karsten membuat rencana pembangunan dan perluasan kota yang kemudian dikenal sebagai “Karsten Plan”.

Rencana tersebut dituangkan dalam konsep tata ruang kota dengan halte kereta api, pasar, kawasan industri, dan sarana lain, memperlihatkan keseimbangan antara pembangunan kawasan timur dan kawasan barat kota. Sedangkan kawasan utara kota direncanakan untuk perluasan perumahan masyarakat Eropa.

Dengan iklim Bandung yang nyaman seperti di daerah Perancis selatan serta rencana serta pelaksanaan pembangunan kota yang sangat sempurna dan modern, jumlah masyarakat Eropa yang ingin hidup di Bandung tahun 1941 mencapai 30.000 orang.

Pengaruh arsitektur modern

Awal arsitektur modern Kota Bandung banyak yang menampilkan perpaduan antara budaya Timur dan Barat yang oleh sejarawan disebut sebagai arsitektur Indo-Eropa.

Perpaduan tersebut juga terlihat pada karya kelompok arsitek Hindia Belanda NIAK (Nederlands Indie Arsitectuur Krink), seperti Maclaine Pont, CP Wolff Schoemaker, FJL Gheijsels, dan sebagainya.

Arsitektur modern sebelum Perang Dunia I dimulai dengan adanya pengaruh Art Nouveau yang banyak menampilkan keindahan plastisitas alam, dilanjutkan dengan pengaruh Art Deco yang lebih mengekspresikan kekaguman manusia terhadap kemajuan teknologi. Konsep tersebut kemudian dimanifestasikan ke dalam media arsitektur dan seni, serta gaya hidup. Dari hasil penelitian sejarah perkembangan arsitektur modern tersebut, Kota Bandung memperlihatkan kualitas dan kuantitas peninggalan arsitektur modern paling kaya dibandingkan dengan kota-kota besar lain di Indonesia.

Arsitektur Art Deco yang berkembang antara dua Perang Dunia memiliki ciri elemen dekoratif geometris yang tegas dan keras, sejalan dengan karya kelompok arsitek Amsterdam School dari Belanda. Karya Wolf Schoemaker yang memiliki pola dekoratif di antaranya adalah Hotel Preanger dengan pola dekoratif yang sering disebut sebagai Geometric Deco.

Dalam dasawarsa keempat, Kota Bandung juga masih banyak meninggalkan karya arsitektur yang semakin modern dan sangat unik. Gaya pertama adalah bangunan berbentuk kubistis dan plastis serta elemen dekoratif garis lurus yang tumbuh dari struktur horizontal dan vertikal beton yang dikenal sebagai Straightline Deco.

Dua karya Brinkman yang memperlihatkan konsep desain serupa adalah Singer Building di Jalan Asia Afrika yang telah dibongkar tahun 1992 dan Vila Han En Khan yang sekarang digunakan oleh kantor Psikologi Angkatan Darat di Jalan Sangkuriang.

Tiga Vila dan Vila Tiga Warna di Jalan H Juanda, serta Hotel Homann karya AF Aalbers tahun 1930-an adalah gaya bangunan yang semakin plastis dan sederhana (minimalis). Sharp Building dan Rumah Potong Hewan di Jalan Arjuna serta Rumentang Siang di Jalan Baranang Siang juga menampilkan gaya akhir modern yang unik.

Bangunan tersebut kini dalam situasi mengkhawatirkan karena ada yang sudah dijual kepada pengembang dan akan dijadikan mal. Masih sangat banyak bangunan dan lingkungan yang diperkirakan menjadi bahan lirikan pengembang, yaitu gudang kereta api, bekas Pabrik Gas Negara, dan sebagainya.

Menghilangnya bangunan bersejarah

Saat ini masih terdapat berbagai pihak yang kurang memperhatikan aset sejarah budaya dan terus membongkar berbagai bangunan bersejarah di Kota Bandung. Pembongkaran terjadi akibat keinginan menggebu pengembang membangun mal, supermal, supermarket, dan factory outlet, yang juga merupakan salah satu faktor penyebab semakin buruknya tata ruang kota dan menurunnya citra sejarah Kota Bandung.

Hampir seluruh gedung bioskop gaya Art Deco yang sangat unik di Bandung telah musnah, berubah menjadi ruko atau pusat perbelanjaan yang kurang bermutu sehingga menurunkan citra keindahan Kota Bandung. Beberapa contoh yang telah hilang di antaranya adalah Bioskop Oriental yang telah dibongkar tahun 1960-an dan gedung Bioskop Elita yang telah hilang pula pada tahun 1970-an. Begitu pula Preanger Theater, Braga Sky, dan sebagainya, juga sudah tidak tampak lagi. Padahal, seluruh bioskop tadi menjadi lambang keikutsertaan Indonesia dalam percaturan teknik perfilman dunia.

Pembongkaran tanpa izin bangunan bersejarah yang dilakukan pengembang akhir-akhir ini, seperti rumah keluarga Wiranata Kusuma dengan gaya Straightline Deco dan rumah milik Departemen Sosial di Jalan Ciumbuluit yang merupakan satu-satunya contoh Nautical-Deco (Art Deco Kapal) sisa-sisa sejarah pembangunan kawasan Bandung Utara, memperlihatkan contoh rendahnya pengetahuan budaya dan etika pengembang.

Contoh-contoh tersebut merupakan sebagian kecil dari sekian banyak aset sejarah kota yang menjadi bagian dari proses menghilangnya jejak sejarah Bandung. Menghilangnya kekayaan Art Deco di Bandung juga merupakan sebagian dari proses hilangnya benang merah yang menghubungkan sejarah pembangunan budaya masa lalu, masa kini, dengan masa depan yang bermanfaat dan menjadi kebanggaan generasi penerus. Menghilangnya begitu banyak bangunan bersejarah tersebut akan menghilangkan pula akar gaya minimalis yang sedang menjadi tren desain masa kini.

Kesimpulan

Bandung adalah benar-benar kota laboratorium arsitektur yang mulai memerlukan perhatian semua pihak agar citra sejarah pembangunan tetap tampil dengan baik.

Bangunan militer lama masih banyak yang terawat dengan baik, sangat memberi harapan bagi masa depan konservasi arsitektur kota. Revitalisasi yang terencana dengan baik, perlu bagi masa depan citra kota.

Citra Bandung sebagai kota Art Deco perlu dibanggakan dan dipertahankan semua pihak karena dunia banyak mengetahui dan tertarik untuk datang serta melihatnya.

Selain itu, aset negara adalah milik bangsa, menjual-belikan seharusnya tidak dibenarkan. Generasi muda membutuhkan lebih banyak sarana belajar, perpustakaan, pusat mengembangkan kreativitas, inovasi teknologi dan budaya yang lebih baik serta lebih banyak, bukan hanya perlu mal dan ruko. Para pengembang perlu lebih sadar tentang hal ini.

Dibyo Hartono
Kepala Bidang Arsitek dan Lingkungan Bandung Heritage, Dosen di Institut Teknologi Bandung

Sumber: Kompas, 16 April 2006

Istana Merdeka Diserang Rayap

April 2, 2006

Bogor, Minggu

Istana Merdeka, yang selama ini menjadi kediaman resmi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ternyata pada bagian plafon bangunan mengalami kerusakan akibat diserang rayap.

Kondisi kerusakan di Istana Merdeka itu diungkapkan dua pakar rayap dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr Ir Rudolf Christian Tarumingkeng dan Prof Dr Ir M Surjono Surjokusumo, di Bogor, Sabtu (1/4).

“Beberapa waktu lalu saya dan Pak Rudi (Rudolf) diundang ke Istana Merdeka untuk memastikan apa benar istana diserang oleh koloni rayap, dan ternyata benar saja. Plafon di Istana Merdeka, tepatnya di ruangan yang biasa dipergunakan presiden menerima tamu jatuh, yang utuh hanya rangka alumuniumnya saja,” ujar Surjono di sela-sela pelepasan purna tugas kedua guru besar Fakultas Kehutanan (Fahutan) IPB itu.

“Kami baru melalukan survei saja, tetapi untuk treatment-nya belum, karena masih menunggu perintah dari presiden,” tambah Surjono.

Menteri Pekerjaan Umum (PU) Joko Kirmanto, Selasa (28/3), mengungkapkan bahwa bangunan Istana Negara yang terletak di Jalan Veteran akan mengalami perombakan karena akan dijadikan tempat tinggal sementara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Menurut Joko, perombakan Istana Negara itu dijadwalkan selesai dalam tempo satu bulan. Perombakan Istana Negara akan diikuti dengan perombakan Istana Merdeka, yaitu istana yang saat ini menjadi kediaman resmi Presiden Susilo. Perbaikan Istana Merdeka akan memakan waktu sekitar tujuh bulan.

Ia juga mengungkapkan perlunya perombakan terhadap Istana Merdeka, karena dinilai kondisi gedung istana tersebut sudah sangat membahayakan untuk ditinggali oleh Kepala Negara. Istana Merdeka, yang terletak di Jalan Medan Merdeka Utara selain dijadikan kediaman resmi Presiden Susilo, juga kerap dipakai sebagai tempat bagi Presiden menerima tamu-tamu negara, termasuk para duta besar asing saat mereka menyerahkan surat kepercayaan kepada Presiden RI. Istana Merdeka juga menjadi tempat peringatan detik-detik Proklamasi 17 Agustus.

Menurut Surjono, sejak tahun 1983 “tim rayap” IPB telah meneliti rayap dan menemukan perkembangan yang luar biasa, yakni bila dulu rayap hanya menyerang daerah pertanian dan perkebunan, sekarang rayap sudah mampu menyerang bangunan-bangunan pencakar langit seperti gedung pusat perbelanjaan, hotel, apartemen dan gedung perkantoran, misalnya Gajah Mada Plaza, Apartemen Semanggi dan Taman Rasuna Said.

“Lebih dari 50 persen gedung bertingkat di Jakarta sekarang telah terserang rayap. Serangan rayap pada bangunan bertingkat menarik untuk dicermati karena berkaitan dengan kemampuan rayap untuk menembus penghalang fisik yang ada,” ungkapnya.

Padahal, lanjut Surjono, bangunan bertingkat umumnya memiliki struktur yang sangat kokoh, di mana struktur bawah bangunan sebagian besar adalah beton bertulang yang secara konstruksi mustahil dapat dilalui rayap. “Pada bangunan bertingkat tinggi umumnya rayap menyerang bagian ornamen bangunan atau pelengkap isi bangunan seperti furnitur sampai menghabiskan dokumen, menghancurkan wallpaper serta merusak parguet dan gipsum,” paparnya.

Rudolf Christian Tarumingkeng, yang merupakan penemu klasifikasi rayap Indonesia menambahkan bahwa rayap sekarang sudah mengikuti perkembangan zaman. Ia memberi analogi seperti apabila dihidangkan jenis makanan baru, pasti ada keinginan untuk mencobanya, demikian pula halnya dengan rayap.

Sementara Surjono mengemukakan, setiap bangunan memiliki umur tergantung dari bahan yang digunakan serta perawatannya. Apabila suatu bangunan menggunakan bahan kayu yang telah diberi anti rayap sebagai pondasi dan perawatannya diperhatikan, sudah pasti umur dari bangunan tersebut lebih lama dan bahkan bisa saja tidak ada batas umur ketimbang bangunan yang dibangun dengan pondasi kayu yang seadanya.

“Untuk menghindari rayap sebaiknya sebelum membangun, kayu yang digunakan sebagai pondasi disuntik terlebih dahulu (dengan bahan anti rayap). Apabila sudah terlambat dapat digunakan umpan untuk membasmi koloni rayap,” katanya.

Selain pemeliharaan dan mutu kayu yang digunakan ternyata ketinggian daerah, suhu udara dan kelembaban sangat berpengaruh terhadap keawetan bangunan. “Misalnya saja di Istana Cipanas dan Istana Bogor, sampai saat ini belum ditemukan kejadian seperti di Istana Merdeka, padahal umur bangunan tersebut sudah lebih dari 270 tahun,” demikian Surjono Surjokusumo.

Sumber: Ant
Penulis: Ima

Sumber: Kompas, 02, April 2006