Archive for September, 1996

Mewujudkan Kota Tua Jakarta

September 3, 1996

“SELAMAT pagi. Terima kasih atas kesediaannya menghadiri acara kami hari ini,” sapa Mita Wullur, Manajer Humas Hotel Omni Batavia kepada peserta tur yang diadakan oleh hotel tersebut, 31 Agustus lalu.

Tur ini diikuti sejumlah wartawan dari berbagai media di Ibukota. Perjalanan tur kali ini menyusuri misteri “kota tua” Jakarta, tepatnya di belahan barat dan utara.

Dari gedung Tamara yang terletak di Jl Jenderal Sudirman, rombongan berangkat menuju Pelabuhan Sunda Kelapa dengan menumpang bus dari Hotel Omni Batavia. Di sepanjang perjalanan, Mita yang bertindak sebagai pemandu perjalanan mencoba menerangkan segala sesuatu yang ada di sekitar jalan yang dilalui. “Tetapi kalau mau bertanya, nanti saja ya… langsung ke Pak Walikota. Sebab kita ditunggu Bapak Walikota Jakarta Barat pada pukul 14.00 di Hotel Omni,” katanya. Tampaknya dia ingat kebiasaan peserta turnya yang wartawan ini. Kami pun tertawa mendengar celotehan tersebut dan suasana pun menjadi tambah hangat dan akrab.

Tak lama kemudian, rombongan mulai memasuki Jl Pancoran di kawasan Glodok. Bus merayap berusaha menembus jalan yang dipenuhi pedagang buah dan makanan. Tiba-tiba ada seseorang di tengah jalan berusaha memberi kode yang melarang bus masuk. Saya pun merasa khawatir karena jalan yang akan dilalui ini sempit sekali karena dipenuhi pedagang di sebelah kanan kiri jalan. Namun Achyar Yahya, sang sopir, memilih sikap untuk maju terus pantang mundur. Demikian pula Mita “Tidak apa-apa kok, kita pasti bisa lewat,” katanya.

Akhirnya ‘pasar’ di tepi jalan ini berhasil dilewati. Kemudian bus berhenti di pinggir jalan yang agak longgar. Beberapa teman turun untuk membuat foto kawasan yang sedang direvitalisasi ini. Kawasan Jl Pancoran ini nantinya akan dijadikan sebagai kawasan pedestrian — kendaraan tidak boleh masuk, hanya pejalan kaki saja yang diperbolehkan masuk. Sedangkan mobil-mobil pengangkut barang hanya diperkenankan masuk pada malam hari, ketika kawasan ini sepi pengunjung.

Bangunan-bangunan yang ada di sepanjang Jl Pancoran ini kelak akan tetap dipertahankan keasliannya, sehingga tidak akan menghilangkan kesan Kota Tua. “Boleh diubah tapi bagian belakangnya saja, untuk bagian depannya harus tetap seperti semula,” jelas Mita. Setelah puas membuat foto, perjalanan kembali diteruskan menuju Pelabuhan Sunda Kelapa.

Memasuki kawasan yang sedang mengalami pembenahan ini memang agak menjengkelkan. Berada di kawasan ini, sinar matahari terasa sangat menyengat kulit. Selain itu kemacetan lalu lintas di kawasan tersebut terasa membuat suhu udara terasa semakin meninggi.

Dalam benak saya tergambar, betapa indahnya jika revitalisasi kota di kawasan ini sudah berhasil diselesaikan. Saya bayangkan sebuah kota dengan bangunan-bangunan tua yang megah dan kokoh di sepanjang jalan.

Lamunan saya buyar ketika bus memasuki pintu gerbang pelabuhan. Deretan kapal Phinisi yang berlabuh, seolah menyambut kedatangan kami. Kapal-kapal besar dari kayu yang berderet di sepanjang dermaga mengingatkan kita bahwa nenek moyang kita adalah pelaut tangguh. “Kita jalan ke ujung dermaga. Nanti kita akan naik perahu dan berputar-putar menikmati keindahan pelabuhan laut,” ujar Mita.
Rombongan pun bergerak mengikuti anjuran Mita. Di pelabuhan tersebut terlihat banyak pula wisatawan mancanegara yang hilir mudik menikmati keindahan Pelabuhan Sunda Kelapa yang penuh kenangan ini. Mereka datang secara berombongan.

Mendekati ujung dermaga tampak pemilik perahu-perahu kecil berusaha menawarkan perahunya untuk dinaiki. “Ayo, Mas. Perahu saya bisa memuat enam orang. Ongkosnya seribu rupiah per orang,” ujar seorang pemilik perahu kecil itu.

Namun rupanya harapan mereka tidak terkabul. Sebab waktu kami sangat singkat di pelabuhan tersebut. Mengingat masih ada beberapa tempat yang harus dikunjungi.

Perjalanan dilanjutkan menuju Museum Bahari, di kawasan Pasar Ikan, Jakarta Utara. Museum ini cukup lengkap menyajikan berbagai macam informasi tentang kebaharian. Koleksinya pun cukup lengkap baik yang berasal dari berbagai macam daerah di Indonesia maupun tentang peralatan kapal dari luar Indonesia. Dari museum Bahari perjalanan dilanjutkan ke Museum Fatahillah (atau lebih tepatnya Museum Sejarah Jakarta) dan Museum Wayang yang letaknya berseberangan.

Kawasan ini memang akan selalu membangkitkan kenangan pada masa lalu dari bangsa Indonesia. Kenangan ini tentu bukan hanya akan timbul di benak para wisatawan nusantara yang berkunjung ke daerah ini. Tapi tidak ketinggalan pula pesona kota tua ini akan dapat membangkitkan kenangan terhadap bangsa lain yang pernah menjajah bangsa kita di masa lalu. Apalagi di kawasan kota tua ini juga terdapat berbagai macam museum yang menyimpan segala kenangan tentang perjalanan kota Jakarta. “Banyak wisatawan mancanegara yang datang ke museum kita. Di antara mereka adalah kaum muda dari Belanda yang telah mendengar cerita bahwa pada zaman dahulu bangsanya pernah menjajah bangsa Indonesia. Mereka ingin membuktikan kebenaran cerita tersebut. Salah satu cara adalah datang berkunjung ke museum yang ada di sini,” kata Kepala Bagian Tata Usaha Museum Bahari M Hutagalung.
Menurut Hutagalung, jumlah pengunjung yang datang ke museum tersebut lebih banyak wisatawan manca negara. Persentase perbandingan jumlah wisman dan wisnu yang berkunjung ke museum tersebut adalah 70:30. “Apresiasi bangsa kita terhadap museum masih sangat rendah,” kata Hutagalung.

Menurut dia, rendahnya apresiasi terhadap museum tersebut terkait dengan belum adanya kesadaran masyarakat tentang arti penting sebuah museum. Selain itu juga masih kurang terawatnya sejumlah museum yang ada saat ini.

Berkaitan dengan hal tersebut, pihak pengelola museum saat ini sedang mengusahakan bagaimana caranya untuk membuat agar museum menjadi sebuah pesona yang mempunyai daya tarik tersendiri. Salah satu cara adalah menambah fungsi museum, misalnya dengan membuat sebuah perpustakaan, kafe atau menyelenggarakan pameran dan fashion show.

Tak terasa perjalanan merambah kota tua ini telah menyita waktu setengah hari. Kaki saya mulai terasa pegal. Untunglah, acara kemudian dilanjutkan menuju Hotel Omni Batavia untuk bertemu dengan Wali Kota Jakarta Barat Sutardjianto. Menurut rencana dia akan menjelaskan tentang penataan dan penertiban kawasan “kota tua” Jakarta ini.

Hotel Omni Batavia di Jl Kali Besar Barat ini merupakan hotel yang dipersiapkan sebagai aset wisata penting di kawasan kota tua. Karena itu tak heran bila manajemen Omni Batavia sangat mendukung usaha dalam pelestarian kota tua ini.

Banyak usaha yang telah dilakukan pihak hotel untuk memperkenalkan potensi kawasan kota tua ini. Salah satu usahanya adalah kerja sama dengan Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta untuk menyelenggarakan secara berkala sejumlah pameran tentang museum.
Pertemuan dengan walikota Jakarta Barat diadakan di Restoran Lotus Hotel Omni Batavia. Dalam pertemuan tersebut walikota memaparkan bentuk yang ingin dicapai dalam penataan kembali kota tua ini. Tak lupa Sutardjianto juga mengatakan perlindungan kawasan ini bertujuan untuk melestarikan dan memanfaatkannya dalam memajukan kebudayaan Nasional Indonesia. “Kalau tidak kita lakukan sendiri, maka siapa yang akan peduli dengan kota kita ini,” katanya di sambut tepuk tangan hadirin.

Kawasan revitalisasi kota tua di Jakarta seluruhnya seluas 139 hektare, di Jakarta Barat 88 hektare dan di Jakarta Utara 51 hektare. Masalah utama dalam revitalisasi kota tua ini adalah kemacetan lalu lintas kurangnya sarana parkir, banyaknya gedung di jalur padat lalu lintas dengan frekwensi bongkar muat yang cukup tinggi dan banyak truk angkutan barang diparkir di badan jalan serta banyaknya pedagang kaki lima.

Menurut Sutardijanto, pedagang kaki lima yang selama lebih 30 tahun memenuhi dan menutup jalan umum itu ditawari untuk pindah ke pasar-pasar lain yang selama ini kosong. “Tugas pemda adalah bagaimana memfungsikan kembali jalan-jalan yang dipenuhi pedagang kaki lima sebagai jalan umum,” katanya. (TT\W-2).

Sumber Media Indonesia, Selasa, 3 September 1996.

Orang Belanda Dulu Minum Air Ciliwung

September 3, 1996

JAKARTA mungkin satu-satunya kota di Indonesia yang mempunyai paling banyak sungai, yang membelah-belah wilayahnya dari selatan ke utara. Menurut perhitungan secara kasar, paling tidak ada 6-7 sungai. Di arah barat terbentang Kali Angke, Kali Krukut, Kali Grogol. Di tengah-tengah kota mengalir Kali Ciliwung. Di bagian timur kita menemukan Kali Gunungsahari dan Kali Sunter. Ada lagi Kali Besar yang menampung air Kali Krukut di ujung barat Jalan Pancoran (Medan Glodok) selewat jembatan Toko Tiga, Jakarta Kota dan membawanya terus mengalir ke arah barat, untuk akhirnya membelok ke utara.

Belum lagi anak sungai, terusan atau parit lebar yang menghubungkan aliran sungai yang satu dengan yang lain. Orang awam bisa pusing kalau mau menghitung atau menelusurinya satu demi satu.

Tempo doeloe jumlah itu lebih banyak lagi. Khususnya di bagian utara kota, yang oleh orang Belanda dinamakan beneden stad atau kota bawah, yakni daerah Mangga Besar ke arah utara. Kali Ciliwung yang mengalir lurus bagaikan garis mistar, membelok ke timur setibanya di seberang jalan Labu di Hayam Wuruk dan menumpahkan aimya ke Kali Tangki di sisi jalan tersebut.

Aliran Ciliwung itu pun masih terus lagi ke utara, menyusuri sisi timur Medan Glodok dan baru membelok ke timur setelah melewati gedung bioskop Pelangi, yang kemudian menjadi gedung pertokoan Harco. Sebagian lagi menumpahkan air ke Kali Besar yang pada masa itu. membentang dari timur ke barat, menyusuri jalan Pancoran (di seberang Glodok Building sekarang) sampai melewati jembatan Toko Tiga yang disebutkan di atas. Bagian Kali Besar yang menyusuri jalan Pancoran kini sudah tidak ada lagi, mungkin telah menjadi riol tertutup.

Mendiang ayah saya sering berceritera, bahwa semasa hidupnya sampai akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20, tepat di tengah-tengah jalan Kongsi Besar sepanjang jalur jalan yang kini menjadi lokasi kios-kios, pun dialiri sebuah sungai, Di masa remaja saya, kali di Kongsi Besar itu. sudah tidak ada. Hanya tinggal palang-palang pipa besi bergaris tengah kurang lebih 10 sentimeter, yang dulunya memagari kedua sisi sungai. Sungainya sendiri sudah menjadi lapangan tempat bermain anak-anak, terutama di sore hari.

Pada tahun 1944-1945 (zaman jepang) palang-palang itu dibongkar jepang bersama dengan palang palang serupa yang memagari seluruh tepi Kali Ciliwung. Konon semua palang itu diangkut ke jepang, karena industri perang jepang pada masa itu kekurangan bahan baku besi.

Kali Ciliwung diperjual belikan

Jumlah Kali-kali di Jakarta mencatat rekor di masa kekuasaan Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC atau Kompeni di mulut rakyat). Orang Belanda pada masa itu sangat gemar menggali Kali-kali buatan yang mereka namakan gracht (jamak: grachten). Konon karena mereka rindu akan kota Amsterdam di negera asal mereka yang sampai kini masih terbelah-belah oleh banyak grachten.

Sementara itu ada juga kali yang dibuat pihak swasta dengan seizin Kompeni, bukan atas dasar rasa rindu tadi, melainkan demi pertimbangan komersial-ekonomis. Kali-kali atau grachten itu menghubungkan aliran sungai-sungai alamiah yang satu dengan yang lain. Sungai-sungai itu. merupakan sarana utama bagi angkutan barang-barang dagangan. Banyak sampan pengangkut barang-barang itu ‘potong kompas’ agar lebih cepat tiba di tempat tujuan. Dalam hal demikian, mereka memasuki kali-kali buatan tadi dan oleh pemiliknya (pembuat kali-kali itu) sampan-sampan tersebut diharuskan membayar tol. Tidak berbeda dengan keadaan sekarang, kalau kendaraan bermotor melewati jalan tol.

Bagian Kali Ciliwung yang lurus dari Harmoni ke utara, dulunya kali swasta dengan aturan bayar tol kalau melaluinya. Kali yang oleh orang Belanda dinamakan Molenvliet itu dibuat oleh kepala warga Cina (kapitein der Chinezen) di Betawi, Phoa Bing Ham. Orang Belanda menamakannya Bingam. Pada tahun 1648 Bingam mendapat izin dari Kompeni untuk membuat Kali tersebut dan memungut tol dari sampan-sampan yang lewat di sana.

Pada tahun 1654 Molenvliet diambil alih Kompeni dengan harga 1.000 real. Bingam, melepaskannya karena eksploatasinya tidak lagi menguntungkan, sehubungan dengan penggalian terusan-terusan baru oleh Kompeni sendiri.

Sampai pecah Perang Dunia 11, sejumlah jalan tertentu di bagian utara kota dikenal sebagai Amsterdamschegracht (kini jalan Tongkol), Leeuwinnegracht (kini jalan Cengkeh), Groenegracht (kini Jalan Kali Besar Timur Ill) dan sebagamya. Hal itu menunjukkan bahwa pada zaman Kompeni, di sana terbentang Kali-kali buatan.

Pancoran: Pemasok Air Minum

Di samping berfungsi sebagai sarana penanggulangan banjir dan angkutan barang, sungai-sungai itu “tempo doeloe” juga menjadi sumber air minum utama bagi warga kota. Sampai abad ke-19 air Kali Ciliwung dipergunakan oleh orang-orang Belanda di Betawi sebagai air minum. Air kali itu mula-mula ditampung (dalam semacam waduk waterplaats atau aquada). Lokasi waduk itu semula dibangun dekat benteng Jacatra di bagian utara kota kemudian dipindahkan ke tepi Molenvliet sekitar daerah Medan Glodok yang sekarang.

Waduk air itu dilengkapi dengan pancuran-pancuran kayu yang mengucurkan air dari ketinggian kira-kira 10 kaki (kurang lebih 3 m). Kemudian daerah sekita lokasi waduk dinamakan Pancuran, yang di lidah orang Betawi menjadi Pancoran. Dari sana air diangkut dengan perahu ole para penjual air (waterboeren) dan dijajakan ke kota.

Tampaknya pengertian masyarakat tentang higina dan kesehatan pada masa itu masih sangat terbatas. Air Kali Ciliwung itu diminum begitu saja tanpa proses penjernihan seperti yang sekarang dijalankan oleh PAM.

Hal itu sempat menimbulkan problem kesehatan yang serius pada masyarakat Belanda. Pada abad ke- 18 dan dasa warsa pertama abad ke-19 itu, penyakit disentri, typhus, bahkan juga kolera, merajalela di antara mereka. Sebagai penyebabnya disebut air Kali Ciliwung tadi.

Buku Dr. de Haan mengetengahkan bahwa tentang hal terakhir itu sempat timbul perbedaan pendapat di kalangan para ‘ahli’ Belanda. Ada ‘ahli’ yang menyatakan pada tahun 1648 bahwa air Ciliwung sangat baik (voortreffelljk). Mungkin memang demikian halnya selagi daerah-daerah di pinggiran kota, di arah hulu kali, masih penuh hutan tanpa penghuni. Ketika kemudian pembukaan hutan-hutan dan penggarapan tanah semakin meluas, dan pemukiman makin meningkat, air Kali pun semakin tercemar. Pada tahun 1689 seorang ‘ahli’ lain mencatat bahwa air yang keluar dari pancuran waduk di Pancoran sangat keruh, balikan berlumpur di musim hujan !

Sekitar tahun 1685 seorang ‘ahli’ lain lagi tegas-tegas mengatakan bahwa di dalam air itu terdapat binatang-binatang halus’ yang tak tampak mata (onzichtbare beesjes). ‘Binatang-binatang halus’ yang tentu tak lain dari kuman-kuman itu akan mati kalau. air dimasak sebelum diminum, seperti yang biasa dilakukan orang-orang Hindoestanners (yang dimaksud tentu orang-orang India) dan orang-orang ‘pribumi’ lainnya.

Hal ini pada hakikatnya suatu petunjuk yang jelas bahwa kesehatan dapat terpelihara lebih baik jika orang minum air matang. Lebih-lebih karena pada tahun 1661 sudah ada laporan dari Banjarmasin bahwa orang-orang Belanda di sana menganut kebiasaan mengendapkan air minumnya satu hari dan kemudian memasaknya. Namun demikian orang-orang Belanda di Betawi masih belum yakin.

Teh dan Tempayan

Sementara itu seorang dokter bernama Thunberg menemukan kenyataan, bahwa orang-orang Cina di Betawi yang sehari-hari biasa minum teh, ternyata jarang atau tidak pernah dihinggapi penyakit-penyakit tersebut di atas. Thunberg berkesimpulan bahwa pencegahan penyakit itu bukan soal pemasakan air, tetapi khasiat daun teh!

Seorang ‘ahli’ terkemuka lebih hebat lagi pernyataannya. Air Ciliwung pada hakikatnya tidak seburuk yang dibayangkan orang, asal bisa melupakan sama sekali segala yang biasa dilemparkan ke dalam kali itu. Bayangkan, orang dianjurkan untuk menyingkirkan dari ingatan bahwa Ciliwung antara lain berfungsi sebagai jamban umum.

Anehnya, tidak pernah terlintas dalam pikiran orang-orang Belanda di Betawi untuk menggunakan sumur sebagai sumber air, minum. Padahal waktu itu sudah banyak rumah tinggal yang memiliki sumur. Air sumur pasti lebih jernih dan lebih bebas dari segala macam pencemaran daripada air kali, asalkan cara pembuatannya tepat dan seterusnya terpelihara dengan baik. Tetapi sumur yang sekaligus juga menampung air hujan, pada umumnya hanya dipergunakan untuk berbagai keperluan dapur saja.

Betapapun, akhirnya disadari juga bahwa kondisi air minum berperan penting dalam pemeliharaan kesehatan. Pada hakikatnya antara abad ke-17 dan ke-19 sudah ada usaha-usaha menjernihkan air kali untuk air minum. Caranya sederhana saja. Air itu diendapkan dalam beberapa tempayan (matravan). Mulamula air diendapkan dalam tempayan pertama, lalu dipindatikan ke dalam tempayan kedua, ketiga dan seterusnya. Ketika masuk ke dalam tempayan terakhir, air sudah jernih. Tetapi apakah sekaligus sudah bebas kuman, masih merupakan tanda tanya.

Pada tahun 1811, ketika pecah perang antara negeri Belanda dan Inggris, diperkirakan bahwa tentara Inggris akan segera mendarat di Betawi. Pemerintah kota Betawi mengeluarkan perintah agar warga kota menghancurkan semua tempayan mereka, kecuali yang sangat diperlukan saja. Maksudnya supaya tentara Inggris tidak memperoleh. air minum bila mendarat di Betawi. Dengan demikian mereka akan terpaksa minum air kali dengan akibat akan kena sakit perut. Sejarah membuktikan bahwa siasat itu tidak efektif.

Cara penjernihan lain ialah dengan menyaring air di dalam leksteen, yakni semacam kendi dari keramik berbentuk tabung dengan keran di bawahnya. Di dalamnya terdapat ‘kendi tabung’ lagi yang lebih kecil, dari sejenis batu karang yang tembus air (poreus). Air dimasukkan ke tabung-dalam itu. Di sana air itu mengendap dan merembes ke tabung-luar yang lebih besar. Kalau keran dibuka, air yang mengucur dari sana jernih lagi sejuk rasanya.

Penggunaan tempayan untuk mengendapkan air minum, sekaligus tempat menyimpan persediaan air pun sudah tidak asing lagi bagi rakyat sebelum orang Barat ke sini. Kendi air juga sudah umum dipergunakan rakyat kita di masa ‘tempo doeloe’ sekali. Bedanya kendi dan tempayan-tempayan kita terbuat dari tanah liat.

Dikirim air dari Bogor

Sementara itu ada juga orang-orang Belanda Betawi yang tampaknya enggan minum air kali dalam keadaan yang sudah dijernihkan sekali pun. Buku Dr. de Haan menyebutkan bahwa sebagian orang Belanda biasa minum Seltzelwater, yakni air impor yang di masa itu sangat banyak didatangkan dari luar negri ke Betawi dengan nama ayer Belanda. Harganya mahal sekali: satu ringgit (rijksdaalder atau dua ratus lima puluh sen) per guci (kruik) kecil. Sudah barang tentu hanya orang-orang kayaraya saja yang kuat membayarnya.

Orang-orang Belanda yang cukup kuat keuangannya mendatangkan air minum dari daerah Bogor (1773), yakni air sumber yang jernih. Konon gubernur jenderal Belanda pada masa itu juga menerima kiriman air sumber dari Lontho (Lontar, di belakang Bogor).

Sampai dengan dasa warsa ke-2 abad ke-20 ini, penggunaan air sumber untuk minum juga populer di kalangan rakyat Betawi. Semasa saya masili bocah yang suka berlarian di jalan dalam celana monyet, kampung tempat tinggal keluarga saya terkadang dikunjungi ‘gerobak tangki’ yang menjajakan air sumber dari Kampung Lima (entah di mana pula letak kampung itu).

Air itu dijual per kaleng minyak tanah. Ibu saya selalu membeli untuk menambah persediaan air minum kami (air hujan). Setiap kali turun hujan deras, almarhum ayah saya selalu menampung dan menyimpan sekaligus mengendapkan dalam sejumlah tempayan.

Tulisan Tanu Trh diambil buku BATAVIA “Kisah Jakarta Tempo Doeloe” terbitan Gramedia dalam Intisari, bulan Juni 1980.

Sumber Media Indonesia, Selasa, 3 September 1996.