Archive for April, 2002

Wajah Kediri, Tempo Dulu dan Sekarang

April 30, 2002

JALAN Jembatan Brantas Lama adalah julukan untuk Jembatan Sungai Brantas yang tertua di Kediri. Jembatan ini merupakan yang terlama dibangun jika dibandingkan dengan dua jembatan lainnya, yakni jembatan di sisi utara dan sisi selatan.

Ketuaan jembatan ini membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Kediri menutup jalur masuk untuk mobil dari sisi timur, mulai pukul 06.00 hingga 18.00, tiap hari kerja. Pertimbangannya sudah jelas, jika mobil dibiarkan masuk pada jam-jam tersebut, beban jembatan itu makin berat dan akan cepat rusak.

Seiring dengan usianya yang sudah ada sejak jauh sebelum tahun 1940, jembatan Brantas itu adalah salah satu saksi sejarah perjuangan menuju kemerdekaan di Kediri dan sekitarnya. Jembatan itulah tempat pertama yang diserbu tentara Jepang sebelum menguasai seantero Kota Kediri.

Penyerbuan itu terjadi pada 5 Maret 1945. Sejak saat itulah, sesuai tertulis dalam buku Kediri dalam Lintasan Sejarah, Masa Penjajahan dan Kemerdekaan, Jepang mencengkeramkan kekuasaannya di Kediri, dan juga Indonesia pada umumnya.

Ada dua sebab yang melandasi sahnya kekuasaan Jepang. Pertama, penyerahan kekua-saan Belanda ke Jepang di Ka-lijati, dan kedua adalah dikeluarkannya Undang-Undang (UU) Nomor 1 oleh Jepang. Dalam Pasal 1 UU itu disebutkan, bala tentara Jepang melangsungkan pemerintahan militer untuk sementara waktu di daerah yang ditempatinya.

Dengan landasan itu, dan diperkuat perangkat militernya yang jauh lebih lengkap dan modern, Jepang pun membangun tempat-tempat penting bagi pemerintahannya. Salah satunya adalah dengan menjadikan gedung bergaya benteng di sisi barat jembatan lama Kediri sebagai gudang mitraliur.

Gedung yang dibangun Belanda pada tahun 1850 itu, di setiap sudutnya terdapat pos pertahanan untuk mengawasi kesibukan lalu lintas di jembatan dan Sungai Brantas, yang dulu berfungsi untuk transportasi air.

HANYA Jembatan Lamakah saksi legenda Kediri? Ternyata tidak. Cukup banyak tempat-tempat legendaris di “kota tahu” ini. Hanya saja, mungkin karena legenda-legenda yang ada jarang disosialisasikan, masyarakat khususnya kalangan remaja, tak banyak tahu tentang bagaimana tempat-tempat itu di masa lalu.

Bila dicermati dari kisah sejarah yang dibahas dalam Simposium Sejarah Kediri pada Juni 1985 lalu, beberapa bangunan di kawasan kota adalah tempat-tempat penting Kediri tempo dulu.

Kawasan Pasar Pahing di Jalan HOS Cokroaminoto, misalnya, dulunya ternyata bukan pasar. Jauh dari sangkaan orang, kompleks Pasar Pahing pada tahun 1800 pernah menjadi rumah dinas Bupati Kediri waktu itu, Pangeran Slamet Poerbonegoro.

Tentu saja anak-anak muda Kediri tak tahu masa lalu Pasar Pahing, karena pasar itu sekarang menjadi salah satu pasar tradisional yang sibuk. Setiap pagi, antara pukul 05.30 hingga 09.00, Jalan Cokroa-minoto di sekitar Pasar Pahing selalu macet oleh lalu lalang kendaraan dan mereka yang berbelanja.

“Saksi” sejarah lain adalah bekas Rumah Dinas Residen Kediri di Jalan Jaksa Agung Suprapto No 2 Kecamatan Mojoroto. Rumah dinas dengan halaman luas ini diperkirakan dibangun pada tahun 1860-an. Pasalnya, di rumah kecil di halaman rumah terdapat sebuah lonceng besi bertuliskan tahun 1860.

Di era Orde Baru hingga awal-awal reformasi, rumah dinas yang megah itu digunakan untuk Kantor Pemban-tu Gubernur wilayah Kediri. Semenjak bergulirnya otonomi daerah pada tahun 2001, jabatan pembantu gubernur dihapus sehingga sejak setahun terakhir kantor itu kosong alias tak digunakan.

Pabrik Gula (PG) Meritjan di Desa Mrican, Mojoroto, juga terasa monumental jika mengingat kisahnya pada Juni 1945. Ketika itu pabrik tersebut dibom oleh pesawat pengebom B-25 milik sekutu. Begitu pun dengan bangunan Klenteng Tri Dharma Tjoe Hwie Kiong di Jalan Yos Sudarso, yang dulu merupakan representasi kawasan pecinan lama Kediri.

BERGUNAKAH warisan arsitektur tradisional maupun peninggalan-peninggalan kolonial itu? Menurut Guru Besar Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Prof Ir Eko Budihardjo MSc, di Indonesia hal ihwal konservasi arsitektur semacam itu masih menjadi “benda aneh.”

Dalam buku Arsitektur, Pembangunan dan Konservasi yang dieditori Eko disebutkan, upaya konservasi bangunan-bangunan kuno sering dianggap menghambat pembangunan, atau dituding cuma memenuhi tuntutan nostalgia belaka.

“Padahal, di negara maju konservasi lingkungan binaan sudah menjadi cabang ilmu tersendiri. Konservasi dan pembangunan tak lagi dilihat sebagai dua aspek yang bertentangan, tetapi justru saling mendukung bak dua wajah dari keping uang yang sama,” katanya.

Singapura pernah keliru, karena membongkar bangunan-bangunan kuno untuk memberi tempat bagi gedung baru yang serba modern dan berteknologi canggih. Akibat-nya kemudian, kunjungan turis mancanegara menurun karena mereka tak bisa lagi menikmati keunikan khas kota singa itu.

Menyadari hal tersebut, Pemerintah Singapura kemudian menggalakkan pelestarian atau konservasi. Baik itu konservasi arsitekturnya (seperti tetap dipeliharanya gedung Hotel Raffles), maupun lingkungannya (semacam China Town, Little India, dan Kampung Melayu).

Kesadaran itu memang datang terlambat, tetapi toh hasilnya tereguk juga. Kini kunjungan turis mancanegara ke Singapura kembali ke angka normal karena suguhan yang bervariasi. Mulai dari yang berwajah kuno sampai yang berpenampilan modern.

Sudahkah Pemerintah Kota dan Kabupaten Kediri memiliki kesadaran akan konservasi arsitektur dan lingkungan binaan. Rasanya masih jauh. Ji-ka selama ini gedung-gedung tua dan legendaris itu masih utuh, itu lebih disebabkan belum ada investor yang berminat membangun gedung baru di situ. Bukan karena alasan konservasi.

Di samping itu, ada kendala birokrasi yang menghambat fungsionalisasi gedung tua. Se-perti rencana pemanfaatan bekas kantor pembantu gubernur di Jalan Jaksa Agung Suprapto, yang wewenangnya masih di tangan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

“Pemerintah kota tidak dapat mengubah atau memaksimalkan penggunaan terhadap gedung kosong itu karena masih milik pemerintah provinsi,” kata Kepala Sub-Dinas Hubungan Masyarakat Pemerintah Kota Kediri Kusharsono. (ADI PRINANTYO)

Sumber: Kompas, Selasa, 30 April 2002

Peninggalan Arsitektur Rumah Betawi

April 21, 2002

“MASYARAKAT Betawi tergolong masyarakat rawa. Itu sebabnya mereka mengenal model rumah panggung,” kata Ridwan Saidi, tokoh Betawi yang sedang menyiapkan peluncuran buku riset sejarah garapannya: Babad Tanah Betawi.Namun, Ketua Tim Pengelola Perkampungan Budaya Betawi (PPBB) Agus Asenie Dipl Ing, praktisi arsitektur berpendapat, masyarakat Betawi sebenarnya tinggal di habitat yang beragam, sejak pesisir hingga pedalaman. Bahkan, sekarang juga tinggal di wilayah urban padat penduduk di tengah Kota Jakarta.

“Sehingga rumah panggung bukan satu-satunya sistem rumah tradisionilnya. Arsitektur rumah Betawi juga mengenal rumah darat. Jadi memang ada variasi pola arsitektur rumah sesuai dengan rentang sebaran komunitas Betawi dari pesisir yang mencari nafkah sebagai nelayan hingga pedalaman yang bercocok tanam padi sawah,” kata Agus, putra Betawi juga, asal Slipi.

Dua tahun terakhir Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI melalui Tim Pengelola Perkampungan Budaya Betawi yang dipimpin Agus Asenie melaksanakan proyek pemugaran sebuah rumah tradisional dan pembuatan rumah baru berarsitektur tradisional Betawi di kampung Setu Babakan, Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Ini satu bagian kecil saja dari rencana proyek berjangka multi tahun di atas lahan 165 Ha, yang tidak saja bertujuan mengkonservasi arsitektur tradisional Betawi di kawasan itu, tapi juga berusaha membuat daerah tujuan wisata baru di selatan Jakarta. Lokasinya ideal karena adanya Danau Setu Babakan, berudara sejuk (24-26 derajad Celsius), berkontur (naik turun), dan sudah dihuni oleh komunitas Betawi yang masih lumayan mengukuhi adatnya.

Setiap Sabtu dan Minggu, di panggung berarsitektur Betawi yang dibikin oleh Tim PPBB sudah rutin berlangsung atraksi wisata seperti tari ondel-ondel juga upacara adat seperti perkawinan dan khitanan, yang sudah mulai dikunjungi turis manca negara. Tahun lalu jumlah pengunjung sudah mencapai 10.000 orang, dengan salah satu daya tarik utama sebuah situs rumah tradisional Betawi yang dipugar PPBB milik warga setempat bernama Pak Samin Jebul (60).

MENURUT hitungan kasar Ridwan Saidi, saat ini ada tak kurang dari 3.000 rumah berarsitektur tradisional Betawi di kawasan hunian komunitas Betawi, sejak kawasan Pulau Seribu di utara, hingga Cileungsi di selatan, sejak Balaraja (Tangerang) di barat sampai Cikarang (Bekasi) di timur.

Sebegitu jauh, baik Ridwan Saidi maupun Agus Asenie mengutarakan, belum ada sumber sekunder yang berasal dari kalangan akademik tentang arsitektur rumah Betawi. Tidak ada primbon atau pustaka klasik yang berisi kodifikasi arsitektur Betawi, sehingga Ridwan mengaku harus meraba sendiri ciri khas arsitektur rumah Betawi ini ketika meneliti, seraya dibandingkan dengan arsitektur rumah tradisional suku lain. Misalnya, bahwa masyarakat Betawi tidak mengenal fengshui, hukum arah angin sebagaimana masyarakat Tionghoa.

“Betawi pada awalnya adalah masyarakat river basin. Mereka membangun masyarakat berkelompok sepanjang sungai-sungai di kawasan ini. Ada belasan sungai besar di kawasan ini. Pintu depan rumah menghadap ke arah sungai. Akibatnya, setelah perlahan-lahan rumah Betawi masuk ke pedalaman, arah hadap rumah Betawi tidak teratur seperti rumah di Jawa yang berjajar menghadap jalan. Tetapi, sisa-sisa budaya DAS-nya masih tertinggal, biasanya dalam bentuk adanya sumur gali di depan rumah. Anda ingat Mandra atau Basuki di serial Si Doel kalau mandi di sumur di depan rumah mereka,” katanya.

Sekarang ini, terkena budaya kontemporer yang membataskan jumlah lahan yang kian menuntut pola arsitektur compact (ringkas), kata Agus, sumur depan rumah sudah kian hilang. Digantikan pompa-pompa listrik yang dipasang di belakang rumah.

Pada dasarnya ada tiga zoning di rumah tradisional Betawi, kata Ridwan Saidi. Kurang lebih mengikuti hukum arsitektur modern juga, kawasan publik (ruang tamu), kawasan privat (ruang tengah dan kamar) dan kawasan servis (dapur), tambah Agus. Dalam bahasa Betawi, kawasan publik yang berupa ruang tanpa dinding ini kawasan amben, disusul ruang tengah yang didalamnya ada kamar yakni wilayah pangkeng. Paling belakang adalah dapur atau srondoyan.

Masing-masing kawasan ini bisa merupakan bangunan sendiri, dengan pola atap sendiri. Bisa pula satu rumah utuh dengan sebuah saja pola atap, yang terbagi dalam tiga zona tadi. Variasi ini ditentukan status sosial ekonomi penghuninya. Jika setiap zona punya satu pola atap, masing-masing bisa berupa salah satu dari model atap pelana (segitiga sama sisi), atau limas dengan dua kali “terjunan” air hujan yang sudutnya berbeda. Atau lagi kombinasi dari kedua sistem atap ini.

Pilihan pola atap menurut Ridwan Saidi, tampaknya tidak terlalu menjadi tuntutan dalam arsitektur tradisional Betawi. Tidak seperti di Jawa yang sampai perlu ada selamatan khusus untuk itu. Bagi komunitas Betawi yang penting justru pembangunan pondasi rumah. Itu sebabnya, mereka mengenal selamatan “sedekah rata bumi”. Hanya saja, sambung Ridwan, selamatan ini dilakukan sesaat setelah kuda-kuda atap rumah sudah sempurna berdiri.

RIDWAN mencatat ada sebuah sudut penting, bahkan sakral dalam arsitektur Betawi. Yakni, konstruksi tangga, yang diistilahkan balaksuji. Sayangnya ini agak sulit ditemukan di rumah Betawi bukan panggung. Balaksuji adalah konstruksi tangga di rumah panggung Betawi. Rumah darat kadang-kadang juga punya, jika lantaran “kultur rumah panggung”, membuat pemilik rumah sengaja meninggikan lantai rumahnya dari permukaan tanah sekitar. Pada kasus demikian pemilik rumah juga membuat balaksuji, tangga menuju rumah.

Tak ada konfirmasi literer soal ini. Hanya saja Ridwan menjelaskan, inilah (boleh jadi) arti harafiah dari istilah “rumah tangga” yang dikenal selama ini.

“Sebuah keluarga yang utuh tinggal di rumah yang ada tangganya. Makanya, bernama rumah tangga. Tangga balaksuji ini bagian rumah yang sarat nilai filosofi. Bisa disamakan dengan tangga spiritual dalam tradisi Betawi. Mungkin bisa diidentikkan dengan prinsip tangga dalam arsitektur kebudayaan lain, seperti Borobudur, atau suku kuno Inca. Bahwa memasuki rumah lewat tangga adalah proses menuju kesucian. Idealnya jika ada sumur di depan rumah, siapa pun yang hendak masuk rumah harus membasuh kakinya dulu, baru naik tangga, sehingga masuk rumah dalam keadaan bersih. Ini memang bukan soal fungsi, tapi perlambang,” katanya.

Di rumah modern yang dihuni masyarakat Betawi sekarang, banyak hal sudah hilang, termasuk tangga balaksuji ini. Hanya saja, kata Ridwan, di sejumlah kampung balaksuji dipertahankan, atau pindah lokasi. Tangga ini tidak ada di rumah penduduk, tapi ada di masjid kampung. Balaksuji dipasang di tempat khotib berkhotbah. Tangga ini menjadi tangga menuju mimbar. Kesuciannya dipertahankan di rumah ibadah. (ody)

Sumber: Harian Kompas, Minggu, 21 April 2002