Archive for Agustus, 2001

Wisata Surabaya Harus Utamakan Gedung Tua

Agustus 23, 2001

Surabaya, Kompas – Pariwisata Surabaya jangan hanya diarahkan pada wisata sungai atau pembangunan monumen-monumen sejarah, namun harus lebih fokus pada pemeliharaan gedung-gedung tua yang banyak telantar. “Turis-turis mancanegara, terutama dari Eropa paling menyukai arsitek gedung-gedung tua berikut sejarahnya. Tidak ada turis asing yang mau mengeluarkan banyak uang datang ke Surabaya, hanya disuguhi potlot raksasa (Tugu Pahlawan-Red),” kata William AJ Vroegop, konsultan pariwisata untuk turis mancanegara, di Surabaya, Selasa (21/8).

Menurut Vroegop, Surabaya sebagai salah satu kota bisnis terbesar di Asia Tenggara, mempunyai potensi pariwisata yang luar biasa besar. “Apalagi Surabaya mempunyai pelabuhan yang telah ada sejak zaman dahulu, yang sudah pasti memiliki bangunan-bangunan kuno dengan arsitektur klasik. Kalau Pemerintah Kota Surabaya bisa menangkap itu, kedatangan turis tidak akan bisa dibendung lagi,” kata Vroegop.

Wisata sungai yang berulang kali didengungkan Pemerintah Kota Surabaya akan dibangun, menurut Vroegop, membutuhkan biaya yang luar biasa besar dan kesadaran dari seluruh warga kota. “Tidak bisa pemerintah berjalan sendiri, sementara warga kota tidak mendukung. Jadi untuk mewujudkannya perlu waktu yang cukup lama, sedangkan kedatangan turis mancanegara tidak bisa ditunda lagi,” ujar Vroegop.

Habiskan dana

Monumen-monumen bersejarah yang banyak dibangun oleh Pemerintah Kota, menurut Vroegop, hanya menghabiskan dana pemerintah saja. Sementara monumen-monumen itu tidak cukup kuat untuk menarik minat wisatawan. Berbeda halnya jika pemerintah membangun monumen-monumen itu, diikuti dengan pemeliharaan gedung-gedung tua. “Itu akan menjadi wisata sejarah yang terintegrasi, saling mengisi. Apalagi bila pemerintah menghidupkan kembali trem yang pernah ada. Tidak perlu panjang cukup tiga gerbong, dan tidak usah operasional. Jadikan trem itu sebagai restoran makanan Indonesia, maka daya tarik wisatanya akan luar biasa sekali,” katanya.

Dalam pemeliharaan gedung-gedung tua tersebut, sebenarnya pemerintah bisa mengajak swasta untuk melakukannya. Misalnya, meminta bank-bank untuk tidak membangun gedung baru yang tinggi, tetapi menempati gedung-gedung tua itu. “Semua diuntungkan, pihak swasta tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk membangun gedung baru, sementara gedung-gedung tua jadi terawat,” ujarnya.

Pembangunan gedung-gedung baru di daerah kota tua, seperti Kembangjepun, Jembatan Merah, Jalan Semut, dan sekitarnya sangat mengganggu nilai artistik dari daerah tersebut. “Banyak turis yang kecewa karena Jembatan Merah yang sangat terkenal itu, tidak didukung oleh suasana kuno di sekitarnya. Banyak gedung baru di sekitar sana, sehingga merusak pemandangan,” kata Vroegop. (arn)

Sumber: Kompas, Kamis, 23 Agustus 2001

Iklan