Archive for Maret, 2001

Merevitalisasi Kota Tua Jakarta

Maret 28, 2001

Menyedihkan. Itulah kesan setelah menyaksikan kawasan Sunda Kelapa dan Jakarta Kota yang menjadi cikal bakal Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta. Banyak gedung-gedung tua dengan arsitektur klasik di kawasan ini yang sulit ditemukan di bagian lain Indonesia, kini ditelantarkan. Sejak Bung Karno dan Ali Sadikin mengembangkan kawasan ‘segitiga emas’ Jl. Thamrin, Jl, Sudirman, Jl Rasuna Said dan Jl. Gatot Subroto sebagai pusat bisnis di ibukota, kawasan kota tua Jakarta bagaikan dilupakan. Gedung-gedungnya tidak terawat dan lingkungannya kotar. Kawasan kota tua yang seharusnya bisa menjadi objek wisata, justru menjadi bagian dari pemukiman kumuh ibu kota. Padahal, dulu kawasan itu pernah manjadi pusat bisnis yang tersohor sampai ke mancanegara. Sou A Cuan, salah seorang penduduk yang bermukim di Jakarta Kota sejak ia lahir 71 tahun lalu, menyarankan kalau ada revitalisasi kawasan Jakarta Kota dan Sunda Kelapa hendaknya tidak hanya sekedar restorasi bangunan tua, tapi sekalian mengembalikan nama besar Jakarta Kota sebagai pusat bisnis.

Mengenai revitalisasi itu sendiri seperti dikatakan Parlindungan Hutabarat, Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta, sebenarnya telah beberapa kali digelar. Usaha pertama untuk melestarikan kawasan tua Jakarta yang sarat dengan bangunan kolonial dan artefak sejarah dimulai sejak 30 tahun silam. Gagasan menghadirkan kembali tapak sejarah bangsa Indonesia, diwujudkan dengan usaha menjadikan kawasan kota tua Jakarta sebagai kawasan museum (museum district) dengan memanfaatkan gedung peninggalan VOC. Namun karena keterbatasan sumber daya, jumlah usaha tersebut hanya mampu melestarikan sebagian kecil dari artefak urban yang ada, misalnya Museum Bahari, Museum Fatahillah, Museum Seni Rupa. Sayangnya lagi dari seluruh rangkaian kegiatan terlihat bahwa kegiatan revitalisasi hanya menonjolkan gagasan konservasi sebagai suatu pendekatan mutlak. Sementara pemikiran tentang kawasan tua yang utuh belum ada. Sehingga kini kawasan Jakarta Kota masih dihimpit berbagai masalah lingkungan, seperti banjir dan saluran air yang tidak terawat, kerawanan keamanan, kemacetan, dan penghancuran bangunan bersejarah.

Monumen Bisa
Seharusnya, kawasan kota tua Jakarta yang memiliki potensi wisata bisa diolah menjadi tambang emas. “Gedung-gedung tua yang dibangun pada abad ke-17, tetapi selama bertahun-tahun dibiarkan merana itu sebenarnya bisa menjadi obyek wisata,” tutur Pia Alisyahbana dari Ikatan Indonesia-Nederland. Ia memang berharap agar gedung tua di kawasan kota bukan hanya menjadi monumen bisu-tentang kebesaran Batavia di masa silam, tapi harus diberi fungsi baru.

“Alangkah indahnya Jakarta mempunyai gedung-gedung tua bersejarah yang dirawat dengan baik,” kata Pia. Upaya menata kembali kota tua yang menyimpan banyak peninggalan bangunan bersejarah sebagai pusat kegiatan kompeni Belanda tempo dulu, memang mutlak dilakukan. Karena banyak bangunan mulai dari gedung, museum, jembatan gantung, hingga bangunan tua lainnya membentang di kawasan yang lebih dikenal dengan nama Jakarta Kota.

Dinas Museum dan Pemugaran DKI Jakarta mencatat, saat ini di Ibu Kota terdapat sekurangnya 216 bangunan bersejarah dengan 132 titik yang dimiliki baik secara individu, swasta, maupun pemerintah. Setiap titik terdiri atas satu sampai sepuluh bangunan. Sebanyak 30 di antaranya milik pemerintah. Khusus di kawasan kota tua seluas 139 hektar di Jakarta Kota, terdapat bangunan bersejarah milik pemerintah sekitar 10 sampai 15 bangunan. Bangunan yang menjadi cagar budaya sebanyak 117 bangunan berlokasi di Jakarta Utara dan selebihnya di Jakarta Barat. Sebagian besar bangunan itu telantar.

“Sayang sekali jika potensi ini dibiarkan, tidak ditata rapi, dan tidak dimanfaatkan sebagai obyek wisata,” kata Pia. Ditambahkannya pelestarian kota Tua mutlak dikembangkan. Hal ini sebagai salah satu upaya menarik minat para wisatawan mancanegara dan wisatawan Nusantara. Karena di kota-kota besar di dunia, kawasan kota tua justru menjadi daya tarik wisata yang mampu menghasilkan devisa. Kurang Perawatan Pencanangan kota tua Jakarta Kota sebagai kota tujuan wisata di Jakarta sudah dimulai tahun 1973 oleh Gubernur DKI Jakarta waktu itu, H. Ali Sadikin (1966-1977). Namun, sebelum impian terealisasi, Ali Sadikin keburu diganti. Penggantinya, Letjen H Tjokropranolo (1977-1982), melakukan pencanangan serupa. Begitu seterusnya, pencanangan terus berlangsung sampai masa pemerintahan Mayjen R Soeprapto, Letjen Wiyogo Atmodarminto, Mayjen Surjadi Soedirja, hingga Mayjen Sutiyoso. “Semua gubernur hanya sanggup sebatas pencanangan. Sepertinya sudah menjadi kebiasaan bahwa setiap ide hanyalah sampai pada pencanangan,” keluh Pia. Padahal seperti dituturkannya minat dan perhatian para wisatawan mancanegara terhadap gedung-gedung tua di Jakarta cukup besar. Sayangnya, perawatan gedung-gedung tua bersejarah itulah yang kurang.

Banyak gedung tua yang dijadikan gudang, sebenarnya memiliki arsitektur yang indah. Sedang mengenai anggaran yang selama ini selalu menjadi kambing hitam pemerintah, hal itu dianggapnya konyol. “Sebenarnya, kalau kita serius dana itu jadi gampang. Orang sering berpikir danalah yang paling susah. Tetapi jauh lebih susah adalah visi, menyatukan visi,” ucapnya. Padahal Jakarta Kota yang menyimpan banyak sejarah, dengan gedung-gedung tuanya yang bertebaran membutuhkan langkah cepat dan tepat dalam penataan.

Kini, gedung tua yang bisa mendongengkan sejarah sebuah kota hanyalah sebatas cerita. Banyak di antaranya yang terbengkalai dan kurang mendapat perawatan. Masih Konsep Pertanyaan yang sering mengemuka adalah bilakah kota tua Jakarta atau Oud Batavia (Batavia Lama) akan kembali gemerlap? Bilakah gedung-gedung antik yang sudah berumur 2-3 abad itu kembali menunjukkan pesonanya? Persis seperti pada masa ia disebut-sebut sebagai Jewel of the East, Permata dari Timur oleh para pelaut Eropa yang lego jangkar pada abad ke-17 dan ke-18. Kalau kembali kebelakang sebenarnya apa yang disebut sebagai kota tua Jakarta adalah kawasan seluas 139 hektar yang terbentang dari daerah Pelabuhan Sunda Kelapa dan Kampung Luarbatang di ujung utara Jakarta hingga ke Jl Petakbaru dan Jembatanbatu di selatan. Dalam hitungan sejarah, ia mewakili wajah Jakarta pada masa VOC. Ia mulai dibangun pada tahun 1619 oleh Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Jenderal VOC pertama.

Gagasan menjadikan kota tua Jakarta sebagai kawasan yang bisa dijual untuk menyedot wisatawan mancanegara yang ingin menikmati keajaibannya sebagai kota tua Eropa di belahan timur dunia, tinggal gagasan. Karena, sampai saat ini belum banyak terjadi perubahan di kota tua Jakarta yang mengacu pada kebijakan dan rencana indah itu. Gedung-gedung yang sudah jadi monumen sejarah kota, sebagian besar masih saja tak terurus, bahkan ada yang semakin hancur dimakan zaman. Tak seperti laiknya sebuah pusat pariwisata.

Kota tua Jakarta masih saja sepi di malam hari. Kadis Pariwisata DKI, Parlindungan Hutabarat menyatakan, kendala dalam usaha menghidupkan kembali kota tua adalah banyaknya pemilik gedung yang belum tersentuh visi menghidupkan kota tua dan mempertahankan keasrian gedung. Akibatnya, banyak gedung di kawasan itu dibiarkan terbengkalai dan tak didayagunakan. Sementara kendala lain diungkapkan oleh Pia adalah soal kebersihan dan polusi kota. Who want to come to see the dirt? (Siapa yang mau datang untuk melihat kotoran?) Di samping soal sampah dan polusi, rawannya keamanan Ibu Kota dengan banyaknya tindak kriminal dan kerusuhan, juga jadi pertimbangan para wisatawan mancanegara datang ke Jakarta.

Terus Berupaya
Sementara itu realisasi Pemda DKI menghidupkan Kota Tua bukannya tidak ada. Pemkot Jakarta Barat misalnya pernah menggelar atraksi kesenian rakyat seperti barongsai di pelataran Museum Fatahillah. Selain itu juga pernah menggalakkan berdirinya kafe-kafe tenda di Jalan Kali Besar Barat. Tapi toh, nyatanya belum berhasil. Dilihat lokasinya, sebenarnya kawasan itu menarik, karena dekat dengan Jembatan Kota Intan yang sebelumnya bernama Engeise Brug dan Ophaalsbrug Juliana. Jembatan tersebut merupakan salah satu situs peninggalan kolonial tertua yang dibangun tahun 1628 atau hanya sembilan tahun sejak JP Coen bersama 1.100 prajurit yang dibawa 17 kapal menghancurkan kastil Jayakarta yang dipertahankan Pangeran Wijayakrama bersama prajurit Banten.

Parlindungan mengakui kawasan kota tua Jakarta memang berpotensi sebagai tempat dikembangkannya bisnis pariwisata, terutama dengan tema “kembali ke zaman kolonial.” Sebuah jenis pariwisata yang telah berkembang di berbagai kota dunia, seperti Melbourne, misalnya, yang juga pernah melewati masa kolonial dalam perjalanan sejarahnya.

Bangunan kuno yang dapat dijadikan modal pariwisata jenis ini di Kota Tua Jakarta jumlahnya melimpah. Di sana tercatat setidaknya ada 83 bangunan kuno yang masuk dalam kategori bangunan bersejarah yang dilindungi undang-undang. Gedung antik yang tidak masuk kategori itu jauh lebih banyak lagi. Secara fisik saja gedung-gedung itu sudah menarik bagi para pengamat bangunan dan pencinta arsitektur. Di Jalan Kali Besar dan Pintu Besar, contohnya, ada bangunan berlanggam klasik dengan ciri ornamental (Gedung Dharma Niaga), fungsionalisme yang merupakan ciri arsitektur modern yang mengutamakan fungsi setiap bagian bangunan (Cipta Niaga), atau gaya eklektik (Standard Chartered) yang lahir sebagai mazhab pemberontakan para pakar arsitek terhadap mazhab fungsionalisme. Juga bangunan berlanggam Art Nouveau dan Art Deco yang kaya akan lengkungan (Asuransi Wahana Tata). Menurut arsitek dan pemerhati bangunan bersejarah Arya Abieta, kawasan Kota Tua memiliki bangunan dengan arsitektur yang sangat beragam. “Bangunan tua di Kuala Lumpur mungkin lebih indah dari segi ornamennya. Tetapi kota tua Jakarta, begitu beragam,” jelasnya. (Maulana)

Sumber: Surabaya Post 28 Maret 2001

Iklan

Besar dengan Warisan Budaya

Maret 19, 2001

Sewindu Hotel Phoenix Yogyakarta – Besar dengan Warisan Budaya

DELAPAN tahun memang usia yang terbilang belia. Dalam hitungan waktu pun, kurun waktu delapan tahun bolehlah disebut rentang waktu yang terbilang singkat. Namun, jika selama kurun waktu itu terpatri tekad untuk terus mempertahankan sebuah prinsip tentulah itu sebuah prestasi tersendiri.

Adalah hotel Phoenix Yogyakarta yang selama kurun waktu delapan tahun terus mempertahankan sebentuk warisan budaya yang dimilikinya. Bahkan, 18 Maret 2001, tepat diusianya yang genap sewindu, hotel yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman No 9-11 semakin mengukuhkan tekad untuk terus melestarikannya. Meskipun -sangat mungkin-, peninggalan bersejarah itu tak begitu berarti dalam kehidupan yang serba modern ini.

Sebentuk warisan budaya berujud bangunan tua dengan nilai arsitektur tinggi adalah pesona tersendiri dalam khasanah perhotelan di Yogyakarta. Bangunan tua yang dibangun pada tahun 1918 itu bukan hanya membedakan Hotel Phoenix dengan sejumlah hotel lainnya di Yogyakarta. Lebih dari itu, ia telah mengantarkan hotel berbintang tiga ini meraih penghargaan “Heritage Award” dari Yayasan Warisan Budaya, September 1997.

“Mungkin, bangunan tua ini tak menarik bagi para tamu domestik yang biasanya mencitrakan sebuah hotel dalam kesan serba “wah”. Tapi, di mata tamu-tamu asing, paduan gaya art noveau, art deco dan indisch landhuis yang melekat dengan elegant di bangunan tua ini menjadi magnet yang membuat mereka selalu ingin kembali ke Hotel Phoenix,” tutur General Manager Hotel Phoenix, Wahyu Wikan Trispratiwi, dalam perbincangan dengan Bernas, di teras Lamesan Cafe, akhir pekan lalu.

Apalagi untuk menghidupkan suasana, Hotel Phoenix juga mencoba menambahkan sejumlah barang-barang antik, semisal piano kuno dan foto-foto Yogyakarta tempo doeloe. Bahkan tata penyajiannya dicoba dipadukan dengan gemericik suara air kolam dan kicauan burung tropis sehingga tercipta nuansa dekat dengan alam. Tak hanya itu, Hotel Phoenix juga terbilang getol menggelar kegiatan seni, mulai dari pameran lukisan, patung, foto, hingga musik klasik dan pementasan drama.

Begitulah, di tengah persaingan bisnis pariwisata yang terbilang ketat serta kondisi keamanan nasional yang tak menentu, Hotel Phoenix nyatanya tetap mampu bersaing dengan hotel bintang tiga lainnya, bahkan dengan hotel bintang empat sekalipun yang kini banyak bertebaran di Yogyakarta. Dan, tidaklah berlebihan jika warisan budaya dan kepeduliannya terhadap seni budaya dan pariwisata sesungguhnya punya andil yang cukup besar dalam membesarkan hotel ini.

Di tahun 1999, misalnya, dengan jumlah kamar sebanyak 66 tingkat hunian kamar di hotel Phoenix mampu menembus kisaran 35,59 persen. Tingkat hunian kamar ini merambat naik mencapai 43,27 pada tahun 2000. Dan, untuk tahun 2001 mereka menargetkan occupancy rate sebesar 48 persen. Pangsa pasar, seperti ditegaskan Wikan, tetaplah tamu domestik dengan besaran 75 persen. Sedangkan selebihnya adalah para tamu asing.

Untuk memaknai peringatan HUT sewindunya digelar sejumlah kegiatan untuk para relasi, masyarakat dan tentunya juga untuk para karyawan, mulai dari kerja bhakti di lingkungan hotel (9/3), ziarah ke makam karyawan yang telah meninggal (15-16/3), Pasar Murah untuk masyarakat di lingkungan hotel Phoenix dan becak binaan (16/3) hingga syukuran ulang tahun (18/3). (idt)

Sumber: http://www.indomedia.com/bernas/032001/19/UTAMA/19bis2.htm

Sewindu Hotel Phoenix Yogyakarta

Maret 19, 2001

Sewindu Hotel Phoenix Yogyakarta – Besar dengan Warisan Budaya

DELAPAN tahun memang usia yang terbilang belia. Dalam hitungan waktu pun, kurun waktu delapan tahun bolehlah disebut rentang waktu yang terbilang singkat. Namun, jika selama kurun waktu itu terpatri tekad untuk terus mempertahankan sebuah prinsip tentulah itu sebuah prestasi tersendiri.

Adalah hotel Phoenix Yogyakarta yang selama kurun waktu delapan tahun terus mempertahankan sebentuk warisan budaya yang dimilikinya. Bahkan, 18 Maret 2001, tepat diusianya yang genap sewindu, hotel yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman No 9-11 semakin mengukuhkan tekad untuk terus melestarikannya. Meskipun -sangat mungkin-, peninggalan bersejarah itu tak begitu berarti dalam kehidupan yang serba modern ini.

Sebentuk warisan budaya berujud bangunan tua dengan nilai arsitektur tinggi adalah pesona tersendiri dalam khasanah perhotelan di Yogyakarta. Bangunan tua yang dibangun pada tahun 1918 itu bukan hanya membedakan Hotel Phoenix dengan sejumlah hotel lainnya di Yogyakarta. Lebih dari itu, ia telah mengantarkan hotel berbintang tiga ini meraih penghargaan “Heritage Award” dari Yayasan Warisan Budaya, September 1997.

“Mungkin, bangunan tua ini tak menarik bagi para tamu domestik yang biasanya mencitrakan sebuah hotel dalam kesan serba “wah”. Tapi, di mata tamu-tamu asing, paduan gaya art noveau, art deco dan indisch landhuis yang melekat dengan elegant di bangunan tua ini menjadi magnet yang membuat mereka selalu ingin kembali ke Hotel Phoenix,” tutur General Manager Hotel Phoenix, Wahyu Wikan Trispratiwi, dalam perbincangan dengan Bernas, di teras Lamesan Cafe, akhir pekan lalu.

Apalagi untuk menghidupkan suasana, Hotel Phoenix juga mencoba menambahkan sejumlah barang-barang antik, semisal piano kuno dan foto-foto Yogyakarta tempo doeloe. Bahkan tata penyajiannya dicoba dipadukan dengan gemericik suara air kolam dan kicauan burung tropis sehingga tercipta nuansa dekat dengan alam. Tak hanya itu, Hotel Phoenix juga terbilang getol menggelar kegiatan seni, mulai dari pameran lukisan, patung, foto, hingga musik klasik dan pementasan drama.

Begitulah, di tengah persaingan bisnis pariwisata yang terbilang ketat serta kondisi keamanan nasional yang tak menentu, Hotel Phoenix nyatanya tetap mampu bersaing dengan hotel bintang tiga lainnya, bahkan dengan hotel bintang empat sekalipun yang kini banyak bertebaran di Yogyakarta. Dan, tidaklah berlebihan jika warisan budaya dan kepeduliannya terhadap seni budaya dan pariwisata sesungguhnya punya andil yang cukup besar dalam membesarkan hotel ini.

Di tahun 1999, misalnya, dengan jumlah kamar sebanyak 66 tingkat hunian kamar di hotel Phoenix mampu menembus kisaran 35,59 persen. Tingkat hunian kamar ini merambat naik mencapai 43,27 pada tahun 2000. Dan, untuk tahun 2001 mereka menargetkan occupancy rate sebesar 48 persen. Pangsa pasar, seperti ditegaskan Wikan, tetaplah tamu domestik dengan besaran 75 persen. Sedangkan selebihnya adalah para tamu asing.

Untuk memaknai peringatan HUT sewindunya digelar sejumlah kegiatan untuk para relasi, masyarakat dan tentunya juga untuk para karyawan, mulai dari kerja bhakti di lingkungan hotel (9/3), ziarah ke makam karyawan yang telah meninggal (15-16/3), Pasar Murah untuk masyarakat di lingkungan hotel Phoenix dan becak binaan (16/3) hingga syukuran ulang tahun (18/3). (idt)

Sumber: http://www.indomedia.com/bernas/032001/19/UTAMA/19bis2.htm