Archive for Oktober, 2004

Puluhan Bangunan Bersejarah di Serang Terancam Rusak

Oktober 28, 2004

Serang, Kompas – Puluhan bangunan bersejarah yang masuk kategori benda cagar budaya di Kabupaten Serang, Provinsi Banten, terancam rusak. Ancaman tersebut berupa pembongkaran hingga rencana perubahan fungsi menjadi pusat perbelanjaan.

Hal itu diungkapkan Kepala Seksi Pelestarian dan Pemanfaatan pada Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Serang, Fitra Arda, dan Staf Perlindungan Soni Prasetia yang ditemui di Serang, Rabu (27/10). Menurut Fitra, saat ini terdapat 87 benda cagar budaya di Kabupaten Serang.

Benda-benda cagar budaya meliputi situs-situs, bangunan-bangunan peninggalan zaman kolonial, dan benda-benda bersejarah lainnya. Sebagian besar benda-benda bersejarah tersebut terkonsentrasi di bekas kompleks Kesultanan Banten, kawasan Banten Lama, di Kecamatan Kasemen.

Sebagian bangunan bersejarah lainnya kini dimanfaatkan untuk kantor pemerintahan, seperti untuk kantor Gubernur Banten, Bupati Serang, Komando Resor Militer (Korem) Maulana Yusuf, Komando Distrik Militer (Kodim) Serang, Kepolisian Resor (Polres) Serang, bekas Kepolisian Wilayah (Polwil) Banten, dan sebagainya.

Fitra mengatakan, pihaknya baru bisa mendata dua per tiga dari seluruh benda bersejarah itu sebagai benda cagar budaya. “Bangunan-bangunan bersejarah itu terancam (rusak) akibat maraknya pembangunan sebagai konsekuensi Banten sebagai provinsi baru,” katanya.

Menurut Soni Prasetia, ancaman perusakan tersebut kini juga menimpa Markas Kodim Serang. Bangunan peninggalan masa kolonial Belanda itu rencananya akan dirobohkan untuk dibangun menjadi pusat perbelanjaan berlantai lima.

“Dari segi arsitektural, ada unsur-unsur bangunan kolonial Belanda pada bangunan Markas Kodim Serang. Selain berumur lebih dari 50 tahun, bangunan itu mewakili masa yang khas dengan gaya yang khas,” ujar Soni.

Hingga kini, pihaknya belum menerima permintaan izin atau rekomendasi untuk pembangunan pusat perbelanjaan itu.

“Tanpa rekomendasi dari balai, pembangunan mal di lokasi Markas Kodim Serang harus dihentikan,” kata Fitra.

Kepala Bagian Humas Pemerintah Kabupaten Serang Agus Erwana mengatakan, pemkab belum mengeluarkan izin apa pun untuk pembangunan mal di lokasi tersebut.

Kompleks Markas Kodim Serang terletak di Jalan Veteran, Serang, tidak jauh dari Alun- alun Kota Serang. (SAM)

Sumber: Kompas, Kamis, 28 Oktober 2004

Iklan

Pelestarian Asal Tempel

Oktober 28, 2004

PELESTARIAN sebuah bangunan bersejarah bukan berarti membiarkan gedung tersebut beku tanpa aktivitas. Sebaliknya, pelestarian hendaknya tidak dipahami sebagai pengabadian. Bukan berarti gedung tak boleh diubah-ubah sama sekali, baik bentuk maupun peruntukannya.

Demikian disampaikan pemerhati bangunan bersejarah Ir Widya Widjajanti perihal gedung-gedung tua untuk sekolah. Menurutnya, sebuah gedung mesti dilihat sebagai benda hidup yang mengalami evolusi, berubah pelan-pelan. Sudah jamak terjadi perubahan ataupun penambahan elemen-elemen yang dibutuhkan.

”Yang paling penting, tidak menemplokkan segala sesuatu tanpa pertimbangan matang,” ujar Ir Widya Widjajanti dari Sahabat Warisan Budaya.

Dosen Undip itu menengarai, di Kota Semarang, bahkan lebih luas lagi di Indonesia, kerap terjadi tindakan asal tempel terhadap bangunan bersejarah.

Dia mencontohkan perubahan pada gedung SMA Sedes Sapientiae. Kebetulan Widya alumnus sekolah tersebut. ”Seingat saya, waktu saya sekolah pada tahun 1970-an facade-nya masih estetis. Tapi sekarang, ditambah jendela-jendelaan palsu di tembok-temboknya.”

Namun dia melihat pengelolaan SMAN 1 Semarang terhitung bagus jika dikaitkan dengan pelestarian bangunan bersejarah. Sekadar misal, waktu pihak sekolah hendak membangun gedung baru, sebagai jawaban atas kebutuhan pembelajaran, mereka mengundang banyak pihak untuk merembuknya. (89)

Sumber: Suara Merdeka, Kamis, 28 Oktober 2004

Berlanjut, Pembongkaran Bangunan Bersejarah

Oktober 27, 2004

Medan, Kompas – Pembongkaran bangunan-bangunan tua di kawasan Kesawan, Medan, Sumatera Utara, terus terjadi. Kali ini yang jadi korban adalah gedung eks Bank Modern yang dibangun pada tahun 1929 oleh salah satu perusahaan Belanda. Pembongkaran ini dikhawatirkan akan menghilangkan identitas Kota Medan sebagai kota yang kaya dengan bangunan bersejarah.

Berdasar pengamatan pada hari Selasa (26/10), gedung tua yang berada di simpang tiga kawasan Kesawan ini telah dihancurkan bagian atapnya dan seluruh dinding dalam bangunan sehingga hanya menyisakan bagian depan dan samping gedung.

Executive Director Badan Warisan Sumatera Ir Soehardi Hartono MSc mengimbau agar pihak developer meninjau ulang pengembangan area bagian dalam gedung di Jalan Kesawan No 38 tersebut menjadi rumah toko berlantai lima.

Menurutnya, pembangunan tersebut akan merusak keutuhan rancangan arsitektur sebagai sebuah bangunan bersejarah. “Di samping itu, jika gedung baru itu nantinya berlantai lima, walaupun bentuk asli bangunan tetap dipertahankan di bagian depan dan samping, bangunan baru itu tetap saja mengubah bagian depan bangunan dari 2 lantai menjadi 5 lantai. Ini berarti melanggar Perda Nomor 6 Tahun 1988,” sesal Soehardi.

Kepala Dinas Tata Kota Medan Irman Dj Oemar mengatakan, walaupun dibongkar, tampak bangunan tersebut tetap akan dipertahankan. “Kami tetap akan meminta pengembang tidak mengubah tampak bangunan.

Dalam perda disebutkan yang harus dipertahankan hanya tampak bangunan, sedangkan bagian dalam bisa diubah,” katanya.

Irman menambahkan, konstruksi bangunan yang baru tidak akan merusak konstruksi yang lama. “Walaupun bangunannya nanti jadi lima lantai, tetapi pengembang akan diberi perkuatan tiang baja sehingga beban bangunan tidak ditumpukan pada bangunan yang lama. Bangunan yang baru juga akan menggunakan atap yang desainnya sama dengan bangunan lama,” katanya.

Namun, Soehardi mengatakan, sejak dikeluarkannya perda tentang perlindungan bangunan di Kota Medan pada tahun 1988 tersebut sudah puluhan bangunan bersejarah yang dihancurkan. Misalnya, eks Gedung Kerapatan Adat Deli pada tahun 1989, bangunan SMPN I Medan pada tahun 1999, eks bangunan Mega Eltra tahun 2001, penghancuran sembilan rumah panggung di Jalan Timur, dan puluhan bangunan bersejarah di Jalan Kesuma.

Bernilai sejarah

Soehardi mengatakan, gedung dengan ornamen paduan Eropa dan lokal itu dulu merupakan Kantor Perwakilan Stork, perusahaan Belanda yang memproduksi dan menjual mesin-mesin industri perkebunan.

Menurutnya, bangunan bersejarah tersebut dulunya sangat penting dalam perkembangan industri perkebunan di Sumatera Utara.

Karena itu, kata Soehardi, tidak hanya nilai arsitekturnya saja yang tinggi, tetapi gedung eks Bank Modern ini perlu diselamatkan karena gedung itu memiliki nilai sejarah bagi kawasan Kesawan dan Kota Medan sendiri.

“Bangunan tersebut seharusnya bisa menjadi kantor yang paling eksklusif dan menarik. Di Amsterdam dan kota-kota lain di Eropa, bangunan tua bisa dijadikan atraksi bersejarah untuk pariwisata,” katanya.

Dan bagi developer, katanya, harga bangunan ini nantinya malah akan lebih tinggi lagi kalau karakter luar gedung ini tetap dipertahankan dan dikombinasikan dengan yang baru di dalam dan di belakang gedung.

“Tiap kota punya tanggung jawab untuk mempertahankan bukti sejarah yang menjadi atmosfer dan jiwa kota itu sendiri. Jangan sampai hilang,” katanya.(AIK)

Sumber: Kompas, Rabu, 27 Oktober 2004

Sebagian Hotel Dibya Puri Dibongkar – Satu Lagi Bangunan Bersejarah Hilang

Oktober 14, 2004

Sebagian Hotel Dibya Puri Dibongkar – Satu Lagi Bangunan Bersejarah Hilang

SEMARANG- Kota Semarang kembali kehilangan satu lagi bangunan bersejarah. Sejak beberapa tahun silam, bangunan sebelah barat Hotel Du Pavillon atau yang sekarang disebut Hotel Dibya Puri dibongkar.

Semula di lokasi itu terdapat bangunan yang menghadap ke barat. Namun saat ini yang ada tinggal reruntuk bangunan. Beberapa tembok memang masih berdiri. Namun hal itu hanya merupakan peninggalan sejarah yang kini sudah sulit untuk diselamatkan.

Sebuah cukilan sejarah tentang hotel tersebut kini masih terpasang di dinding Hotel Dibya Puri. Pada cukilan sejarah itu tertulis, hotel Du Pavillon dibangun tahun 1847. Hotel itu semula terdiri atas sekelompok bangunan yang saling berhubungan.

Sebagaimana bangunan-bangunan lain di sepanjang Jalan Pemuda, hotel itu juga menghadap ke selatan. Sementara di sebelah barat terdapat bangunan yang lebih menjorok ke depan. Bangunan itulah yang kini sudah tidak ada lagi, dan tinggal reruntukan.

Menurut cukilan sejarah itu, Hotel Dibya Puri awalnya merupakan sebuah vila berlantai dua, yang kemudian disewakan sebagai losmen. Pada saat itu di Kota Semarang hanya terdapat satu hotel, yakni Hotel Jansen yang sekarang juga sudah tak ada lagi. Letaknya di lokasi depan Satlantas Polwiltabes Semarang dan kini menjadi tempat menyimpan kendaraan yang ditahan polisi setelah mengalami kecelakaan.

Menjelang Pertempuran Lima Hari di Semarang, hotel tersebut menjadi markas pemuda pejuang. Akibat pertempuran bersejarah yang diperingati setiap 14 Oktober itu, beberapa bagian Du Pavillon rusak.

Kini bangunan Hotel Du Pavillon yang masih ada berfungsi sebagai Hotel Dibya Puri. Menurut berbagai kalangan, bangunan hotel tersebut memiliki nilai arsitektur yang tinggi. Seperti banyak bangunan yang dibangun pada zaman Belanda, hotel tersebut bergaya Eropa klasik. Pada beberapa bagian terlihat pilar-pilar besar yang berfungsi sebagai penyangga.

Asisten General Manager Hotel Dibya Puri Christi Atmani menjelaskan, hotel tersebut kini dikelola BUMN PT Hotel Indonesia Natour. Menurutnya, lahan yang kini jadi reruntuk bangunan itu saat ini tidak menjadi bagian dari Hotel Dibya Puri. Dia mengaku belum mengetahui persis pemiliknya saat ini, tetapi dia pernah menerima informasi bahwa lahan itu telah dibeli pengelola Hotel Metro.

”Setahu saya lahan itu sudah dijual tahun 1960,” katanya. (G6-89)

Sumber: Suara Merdeka, Kamis, 14 Oktober 2004

Pemkot Lalai Jaga Bangunan Bersejarah

Oktober 14, 2004

Semarang, CyberNews. Hilangnya sebagian bangunan hotel Du Pavillon atau sekarang dikenal dengan nama Hotel Dibya Puri, menunjukkan bahwa Pemkot lalai dalam menjaga kelestarian bangunan-bangunan bersejarah di Kota Semarang.
Pemkot memang telah memiliki peraturan tentang rencana tata bangunan dan lingkungan (RTBL) kawasan Kota Lama. Tetapi bangunan bersejarah yang perlu dijaga kelestariannya tidak hanya ada di kawasan kota lama.

Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jateng Ir Widya Wijayanti MPH MURP IAI, Kamis (14/10) mengatakan, untuk membangun dan membongkar sebuah bangunan, tentu ada izin dari Pemkot, dalam hal ini Dinas Tata Kota dan Permukiman (DTKP). Maka dia heran jika sebuah bangunan kuno bisa dibongkar begitu saja, tanpa sepengetahuan Pemkot.

Menurutnya, komponen-komponen dalam pemerintah kota yang seharusnya menjadi pengawal kelestarian bangunan bersejarah bukan hanya DTKP. Dia memberi contoh, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) pun ikut bertanggung jawab. Badan tersebut dalam membuat perencanaan kota harus mengacu pada kelestarian bangunan bersejarah.

Dinas Pertamanan dan Pemakaman Kota Semarang, menurut dia juga bertanggung jawab menjaga estetika bangunan bersejarah tetap menonjol. Upaya itu antara lain dengan mengendalikan pemasangan reklame. Sebuah papan reklame yang bentuk dan lokasinya tidak tepat, bisa menutup keindahan suatu bangunan. ”Dalam menjaga bangunan bersejarah, mestinya Pemkot jangan tidur,” kata dia.

Menurutnya ada 4 jenis bangunan yang harus dilestarikan. Yakni bangunan yang memiliki nilai estetika tinggi, bangunan yang penting bagi ilmu pengetahuan, bangunan yang memiliki nilai sosial tinggi, dan bangunan yang memiliki nilai sejarah tinggi.

Selain Du Pavillon, ada beberapa bangunan kuno lain yang terancam hilang. Dia menyebut contoh Gedung Batik Pekalongan di dekat perempatan Gendingan. Bangunan tersebut, menurut dia merupakan salah satu yang bergaya arsitektur Art Deco dan sangat langka di Kota Semarang. Kalau bangunan ini sampai hilang, maka Kota Semarang kehilangan salah satu aset yang sangat berharga.

Bangunan lain yang terancam hilang, antara lain Penjara Wanita di Jalan Sugiyopranoto. Bangunan itu memiliki nilai sejarah tinggi, karena berkaitan dengan peristiwa pertempuran lima hari di Semarang.

Terkait dengan upaya konservasi, ada upaya untuk menambah bagian-bagian dari bangunan kuno. Namun penambahan tersebut seringkali tidak tepat. Dia memberi contoh gedung di perempatan Jalan Ki Mangunsarkoro – Jalan A Yani yang kini digunakan untuk kantor Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat.

Ketika gedung itu dibangun, manusia sudah mengenal teknologi modern. Namun kemudian di beberapa bagian ditambah dengan pilaster-pilaster yang mencerminkan nilai arsitektur pada zaman romawi kuno. Hal itu tidak tepat dan justru bisa mencerminkan kemunduran. ”Pemerintah Kota mestinya juga menjaga agar hal-hal semacam ini tidak terjadi,” kata dia.( purwoko/Cn08 )

Sumber: Suara Merdeka, Kamis, 14 Oktober 2004

Arsitektur Art Deco

Oktober 14, 2004

Oleh Tanti Johana

Jika Prof. Ir. Charles Proper Wolff Schoemaker dan Albert Frederik Aalbers tidak menginjakkan kakinya di Indonesia, mungkin kita tidak akan mengenal arsitektur Art Deco. Art Deco merupakan salah satu langgam yang sangat luas penerapannya, berbagai macam contoh dapat kita jumpai, dalam arsitektur, pakaian, poster dan peralatan rumah tangga serta masih banyak lagi contoh lain. Mekipun tersedia beragam benda yang memakai langgam Art Deco, namun tidaklah mudah mendefiniskan bagaimana langgam Art Deco tersebut.

Karena banyaknya negara yang menerapkan langgam ini membuat Art Deco berkembang dengan pesat, hal ini tidak memudahkan pendefinisian langgam yang bangkit populer kembali pada tahun 60-an. Setiap negara yang menerima langgam Art Deco mengembangkannya sendiri, memberikan sentuhan lokal sehingga Art Deco di suatu tempat akan berbeda dengan Art Deco di tempat lain. Tetapi secara umum mereka mempunyai semangat yang sama yaitu menggunakan ornamen-ornamen tradisional atau historikal, sehingga langgam Art Deco merupakan langgam yang punya muatan lokal.

Meskipun pada awalnya Art Deco merupakan gaya yang mengutamakan hiasan-hiasan tradisional setempat, tetapi ia terbuka terhadap sesuatu yang baru, keterbukaan ini tercermin dalam pemakaian material yang baru dan dengan teknik yang baru, tak jarang pula mereka melakukan penggabungan material, sehingga hasil karya mereka hampir selalu inovatif dan eksperimentatif.

Perkembangan Art Deco tidak lepas dari pengaruh situasi dan kondisi jamannya, pada saat itu di Eropa sedang berlangsung revolusi industri, masyarakat terpesona oleh adanya penemuan-penemuan dan teknologi yang maju dengan pesat. Karakter-karakter teknologi yang menggambarkan kecepatan diejawantahkan ke dalam desain dalam bentuk garis-garis lengkung dan zig-zag.

Arsitektur Art Deco
Arsitektur Art Deco selain menerima ornamen-ornamen historis, langgam ini juga menerima pengaruh aliran arsitektur yang sedang berkembang saat itu. Gerakan arsitektur modern yang sedang berkembang pada saat itu bauhaus, De Stijl, Dutch Expressionism, International Style, Rationalism, Scandinavian Romanticism dan Neoclassicism, Arts and Crafts Movement, Art Nouveau, Jugendstil dan Viennese Secession. Mereka ikut mempengaruhi bentukan-bentukan arsitektur Art Deco serta memberikan sentuhan-sentuhan modern. Modern pada saat itu diartikan dengan “berani tampil beda dan baru, tampil lebih menarik dari yang lain dan tidak kuno” kesemuanya itu dimanifestasikan dengan pemilihan warna yang mencolok, proporsi yang tidak biasa, material yang baru dan dekorasi.

Menentukan Gaya Suatu Bangunan
Menentukan gaya sebuah bangunan tidaklah mudah, kita tidak bisa hanya berpedoman pada tahun berdirinya bangunan, lantas kita akan tahu gaya bangunan tersebut. Art Deco mengalami kejayaan pada tahun 1920-1930 tapi bukanlah jaminan apabila bangunan yang dirancang pada tahun 1920-1930 lantas bisa dinamai arsitektur Art Deco, bangunan yang berbentuk kubus menggunakan struktur beton dan tanpa dekorasi sering diklasifikasikan sebagai arsitektur Art Deco karena bentuknya yang geometris, tetapi karena tidak ada dekorasi sama sekali, maka bangunan itu lebih layak untuk tidak digolongkan sebagai arsitektur Art Deco, setidaknya dalam pandangan para purist.

Seni Art Deco termasuk dalam seni terapan, pada arsitektur langgam ini tidak menyuguhkan sesuatu sistem atau solusi yang baru, langgam Art Deco berbicara tentang permukaan dan bentuk. Arsitektur Art Deco merupakan arsitektur ornamen, geometri, energi, retrospeksi, optimisme, warna, tekstur, cahaya dan simbolisme.

Asal Mula Kata Art Deco
Kata Art Deco termasuk terminologi yang baru pada saat itu, diperkenalkan pertama kali pada tahun 1966 dalam sebuah katalog yang diterbitkan oleh Musée des Arts Decoratifs di Paris yang pada saat itu sedang mengadakan pameran dengan tema “Les Années 25”. Pameran itu bertujuan meninjau kembali pameran internasional “l’Expositioan Internationale des Arts Décoratifs et Industriels Modernes” yang diselenggarakan pada tahun 1925 di Paris. Sejak saat itu nama Art Deco dipakai untuk menamai seni yang saat itu sedang populer dan modern. Munculnya terminologi itu pada beberapa artikel semakin membuat nama Art Deco eksis. Art Deco semakin mendapat tempat dalam dunia seni dengan dipublikasikannya buku “Art Deco” karangan Bevis Hillier di Amerika pada tahun 1969.

Art Deco di Indonesia
Pengaruh Art Deco di Indonesia dibawa oleh arsitek-arsitek Belanda, salah satu diantara mereka adalah C.P. Wolff Schoemaker dan A.F. Aalbers. Hotel Preanger Bandung rancangan Schoemaker merupakan arsitektur berlanggam Art Deco dengan ciri khasnya elemen dekoratif geometris pada dinding eksteriornya. Selanjutnya perkembangan arsitektur Art Deco di Indonesia tampil lebih sederhana, mereka lebih mengutamakan pola garis-garis lengkung dan bentuk silinder, contoh konkret dari konsep ini adalah Vila Isola Bandung (sekarang gedung IKIP), juga rancangan Schoemaker. Kesederhanaan bentuk belumlah mewakili semua konsep arsitektur Art Deco ini karena kedinamisan ruang interior dapat dilihat dalam lay out bangunannya.

Arsitektur memang menggambarkan kehidupan jaman itu. Pengaruh aliran De Stijl dari Belanda yang menyuguhkan konsep arsitektural “kembali ke bentuk yang sederhana” dan pengkomposisian bentuk-bentuk sederhana menghasilkan pencahayaan dan bayangan yang menarik Aliran ini pula yang banyak mempengaruhi penganut arsitektur Art Deco di Indonesia

Perkembangan Art Deco akhir di Indonesia mengacu pada kedinamisan dan bentuk plastis yang kelenturan fasadenya merupakan pengejawantahan dari kemoderenan teknologi arsitektural. Contoh fasade yang dinamis salah satunya adalah fasade hotel Savoy Homann Bandung yang dirancang oleh A.F. Aalbers.

Lengkungan yang ditampilkan itu merupakan ekspresi gerak, teknologi modern dan rasa optimisme. Orang-orang sering menjuluki lengkungan itu dengan “Ocean Liner Style” hal ini mengacu pada bentuk kapal pesiar yang pada saat itu merupakan karya manusia yang patut dibanggakan, jadi bentukan kapal, bentuk lengkung dijadikan sebagai ekspresi kemoderenan.

Di Indonesia tentunya banyak bangunan berlanggam Art Deco yang masih harus dicari dan diteliti. Arsitektur ini merupakan salah kekayaan Arsitektur Indonesia.

Jakarta, 02 Oktober 2004

Jembatan Kota Intan yang Makin Renta

Oktober 11, 2004

SEPERTI layaknya jembatan, Jembatan (gantung) Kota Intan juga berfungsi sebagai sarana penyeberangan. Berlokasi dekat Hotel Batavia, jembatan tua peninggalan Belanda yang dibangun tahun 1628 itu menghubungkan sisi timur dan barat Kota Intan di Jalan Kali Besar Barat, Jakarta Utara. Namun, jembatan yang hampir semuanya terbuat dari kayu itu makin lama makin lapuk dan kini tidak lagi difungsikan alias ditutup.

“Kalau terus dipakai, nanti runtuh dan jembatan bersejarah itu tidak ada lagi,” kata Sugianto (85), penjaga jembatan yang mengaku bekerja sejak tahun 1949.

Jembatan Kota Intan dilengkapi dengan semacam pengungkit untuk menaikkan sisi bawah jembatan. Penjaga dengan sigap akan menarik tali pengungkit jika ada kapal yang akan melewati jembatan menuju Kota. “Sejak tidak ada lagi kapal lewat sini, jungkit tidak lagi berfungsi. Saat ini sudah aus,” kata Sugianto.

Merujuk sejarah, jembatan di kawasan Kota Intan ini pernah lima kali kali berganti nama.

Seusai dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda, jembatan dinamai Jembatan Inggris. Alasan penamaan itu, menurut pemandu dari Museum Sejarah Asep Kambali, karena tidak jauh dari lokasi itu yaitu di dekat Kafe Galangan, dahulu dibangun benteng pertahanan milik Inggris. Nama itu lalu diubah menjadi Jembatan Pusat, disinyalir karena pengelolaannya dipegang pemerintah pusat Hindia Belanda.

“Karena di sisi jembatan pada tahun 1900-an ramai sekali dan dijadikan pasar ayam, nama jembatan berganti lagi menjadi Jembatan Pasar Ayam,” kata Asep.

Pada tahun 1938 di masa pemerintahan Ratu Juliana, jembatan direnovasi dan namanya diubah menjadi Jembatan Ratu Juliana (Ophaalsburg Juliana).

Nama akhirnya berubah menjadi Jembatan Kota Intan karena di kawasan tersebut terdapat kastil Batavia bernama “Diamond”. (IVV)

Sumber: Kompas, Senin, 11 Oktober 2004

Desain Grafis Zaman Kompeni

Oktober 7, 2004

JAKARTA – Beragam desain visual pada pertengahan abad 20 memegang peran penting terhadap perkembangan bidang itu pada masa selanjutnya. Saat itu, untuk mendapatkan informasi perkembangan desain visual tidak semudah sekarang. Nah, pada masa minim informasi inilah muncul sebuah majalah yang membahas desain visual dan tipografi.

Majalah terbitan Belanda ini bernama Wendingen, terbit pertama kali pada 1918. Walau akhirnya harus tutup 1932, majalah ini menjadi salah satu sumber informasi yang juga berandil besar dalam perkembangan desain visual, dan arsitektur dunia. Jejak perkembangan desain visual, arsitektur dan juga seni yang terekam dalam Wendingen ini dipajang hingga 5 November di Erasmus Huis.

“Redaksi majalah seni Wendingen memberikan perhatian pada seni kerajinan Asia, Afrika dan Amerika. Selain itu, juga memberikan perhatian pada arsitektur pembaruan, seni lukis dan patung dari dalam dan luar negeri,” terang Frans Leidelmeijer, kurator pameran dalam pengantarnya. Menurutnya, berkembangnya kecenderungan minat mempelajari budaya primitif dan eksotis mulai muncul di Eropa pada pertengahan abad 19. “Setelah pameran besar dunia pertama pada 1851 di Crystal Palace, London, orang mulai banyak tertarik dengan benda-benda yang berasal dari budaya primitif karena bentuknya sederhana dan disesuaikan dengan kebutuhan,” sambungnya. Kecenderungan ini terekam dengan jelas pada materi isi majalah Wendingen kala itu.

Frans lalu memaparkan salah satu bentuk masuknya budaya timur jauh yang kemudian bersinggungan konsep modern barat. Yakni, masuknya batik sebagai elemen estetis para arsitektur gaya Amsterdam School, misalnya. Pola-pola yang menyerupai batik muncul pada hiasan gerabah karya T.A.C. Colenbrader dan karya grafis arsitek K.P.C. de Bazel. “Pola ini kemudian muncul setelah 10 tahun kemudian dalam majalah Wendingen,” paparnya. Majalah ini memuat banyak sekali karya visual maupun arsitek yang terpengaruh oleh budaya-budaya Hindia Belanda.

Menariknya, pameran ini juga menghadirkan beragam poster, buku, maupun literatur yang berhubungan dengan isi dari majalah Wendingen. Tengok saja poster sebuah maskapai penerbangan yang melayani rute Amsterdam-Batavia. Poster promosi ini sangat sederhana. Hanya ada gambar pesawat yang sedang melintas dengan latar belakang langit kemerahan. Tepat di bawah poster ini tertulis rute penerbangan dan juga pemberitahuan bahwa perusahaan penerbangan ini juga melayani pengiriman surat ataupun barang.

Semuanya dilakukan dalam satu kali setiap minggunya. Poster keluaran 1927 ini sama sekali belum menunjukan adanya iming-iming ataupun kalimat pemanis yang selalu muncul dalam poster promosi sekarang ini. Poster lain yang cukup menarik adalah poster promosi dari sebuah produk margarin. Poster tanpa tahun pembuatan ini dengan mulai memajang kalimat-kalimat promotif yang sengaja dihadirkan untuk menjerat konsumen.

“Dibikin hanja dari tumbuh-tumbuhan, mengandung Vitamin A,” adalah beberapa kalimat promotif produk margarin yang hingga kini masih menjadi salah satu pilihan banyak orang itu. (tir)

Sumber: Jawa Pos, Kamis, 07 Oktober 2004.

Desain Urban dan Konservasi Kawasan Kota Tua Jakarta

Oktober 3, 2004

Oleh: Widjaja Martokusumo

KAWASAN Kota Tua, cikal bakal Kota Jakarta, pernah berjaya pada pertengahan abad ke-17 sehingga dijuluki Queen of the East, sebagaimana diungkap Clockener Brousson berdasarkan buku harian seorang prajurit tua Gedenkschrijften van een oud koloniaal. Dengan usia 477 tahun, DKI Jakarta tidak lepas dari persoalan citra kota. Kawasan Kota Tua, sebagai sisa peninggalan zaman keemasan Batavia, masih dibelengu keruwetan dan wajah kusam bangunan tua.

KEUNIKAN wajah kawasan dapat menjadi daya tarik bagi sebuah kota. Perlahan namun pasti bangunan tua pada kawasan bersejarah Kota Tua Jakarta semakin terdesak oleh pembangunan. Perkembangan kota dan modernisasi telah mengantarkan keseragaman wajah kota dan lenyapnya lokalitas. Kini sejumlah besar wajah kota besar dan menengah di Indonesia mulai hilang kekhasannya. Kenyataan ini mengingatkan pada ide “universalitas” yang disampaikan Le Corbusier dalam ville contemporaine (1922) dan vers une architectur (1923). Adakah ini persoalan proses modernisasi ataukah perkara kebijakan pembangunan zaman kiwari semata?

Modernisasi di Indonesia ditandai proses urbanisasi, peremajaan, dan pembangunan. Akibat modernitas pembangunan sekarang adalah terjadinya gejala persaingan liberal di kawasan kota lama untuk merepresentasikan apa yang dapat dicapai secara materi.

Hal ini sesuai anggapan positivisme untuk membiarkan sektor kawasan kota lama akan terangkat dengan sendirinya modernitas. Dengan dalih pembangunan, kawasan kota lama akan mudah menjadi sasaran empuk para investor, seperti yang terjadi di kawasan Braga, Bandung, dan kasus Plaza Ambarukmo di Yogyakarta.

Dengan kondisi pembangunan sekarang, budaya membangun pun mengalami defisiensi dialog nalar karena kekuatan masyarakat tidak tercermin dalam karya, kecuali kekuasaan pragmatis pasar. Begitu kuatnya hegemoni pasar, mengakibatkan persoalan wajah bangunan dan citra lingkungan tidak lebih hanya sekadar tampak saja dan bentukan monolitik. Hal yang perlu dikhawatirkan dari kecenderungan investasi ini adalah proses destruksi fundamental dari potensi budaya seni bangunan yang ada, di mana potensi tersebut merupakan bagian dari realitas sosial budaya. Destruksi ini jelas mengancam aset budaya kota lama berupa kekayaan seni bangunan kolonial dan ruang kota per se.

Ruang kota berada dalam sebuah mekanisme proses produksi yang bersifat permanen (H Lefebvré, La production de l’espace, 1974). Mekanisme produksi spasial kota dapat berupa kolonisasi daerah periferi (daerah baru) atau proses destruksi, yakni perombakan struktur bentukan kota (bangunan dan spasial) yang terbina.

Lingkup proses destruksi bisa mencakup keseluruhan, namun sebaliknya dapat juga dilakukan secara kritis. Artinya, hanya mencakup bagian tertentu dari kawasan atau bangunan, serta kemudian memadukannya dengan elemen/unsur baru. Walaupun demikian, proses perombakan tersebut tidak dapat dilepaskan dengan kondisi sosialnya yang pada hakikatnya justru mendasari proses pembentukan ruang-ruang kota. Artinya, produksi spasial urban secara langsung berada dalam sebuah dialektik dari proses destruksi bentukan nir-fisik (sosial, budaya dan ekonomi) dan fisik (ruang kota). Dalam desain urban, konservasi/pelestarian kawasan kota adalah salah satu upaya pengendalian proses-proses tersebut secara politik maupun perencanaan spasial.

PADA masa boom ekonomi, proses konsumsi besar-besaran terhadap sejumlah benda komoditas-termasuk lahan dan bangunan (topos)-terjadi tanpa menghiraukan aspek sosial dan budayanya. Pada era masyarakat informasi, proses konsumsi bergeser kepada simbol, makna/nilai dan informasi per se.

Pun dalam konteks kegiatan rancang bangun, bisa disaksikan betapa cepatnya sebuah restoran dan kafe menjadi usang dan berganti wajah, kantor-kantor bisnis bersalin rupa, toko dan pusat-pusat perbelanjaan menawarkan konsep baru (shopping with lifestyle). Semua itu berkenaan dengan perubahan nilai, simbol dan makna dari dinamika kota. Jadi, mekanisme hidup berkota tidaklah lepas dari proses pembentukan fisik dan nir-fisik, yaitu bentukan spasial dan makna. Proses produksi yang bersifat permanen ini tidak lain adalah dinamika perkembangan kota.

Lingkungan yang tanggap merupakan ciri lingkungan yang baik (M Carmona et al, Public Space, Urban Spaces, 2003). Artinya lingkungan berkualitas baik bila responsif terhadap kebutuhan dan aktivitas warganya. Lingkungan yang responsif dapat diamati dari aspek fungsional, ruang kota dalam mengakomodasi berbagai aktivitas, desain bangunan, struktur spasial, citra tempat dan peran serta komunitas dalam me-makna-i tempatnya (I Bentley et al, Responsive Environment, 1985). Dalam wacana desain urban, isu keberlanjutan turut menjadi salah satu ciri lingkungan yang responsif.

Kawasan kota lama di Indonesia dengan bangunan bersejarahnya merupakan salah satu persoalan perkotaan zaman kiwari. Hingga kini masih banyak pemerintah kota/daerah yang menganggap warisan sejarah tersebut sebagai penghalang bagi pembangunan. Sebenarnya, keberadaan bangunan tua juga merupakan bagian dari sejarah perkembangan kota. Jadi, kehadiran makna sejarah dalam kehidupan perkotaan kontemporer menjadi sesuatu yang tidak dapat terpisahkan. Artinya, kebersamaan antara “baru” dan “lama” bukanlah sesuatu yang mustahil.

Dalam kehidupan perkotaan yang semakin kompleks, kontras dari kawasan baru dan kota lama, keruwetan, dan chaos menjadi lumrah. Kazuo Shinohara, arsitek kontemporer Jepang, berargumen bahwa kondisi chaos adalah salah satu ciri utama eksistensi kota (N Boyarsky/P Lang, Urban Flashes Asia, 2003).

Hal senada diungkapkan pula oleh arsitek pemikir Belanda Rem Koolhaas bahwa dikarenakan dinamika dan kompleksitas kehidupan kota, desain urban yang hanya terfokus pada kaidah komposisi dan sistem spasial tanpa memberikan solusi bagi persoalan nyata adalah sia-sia.

Menurut Koolhaas, desain urban tidak lain merupakan jalinan simulasi teaterikal dari ketidakpastian sendiri (Die Inszenierung der Ungewissheit dalam Arch+ 105/106, 1990). Selain itu, rancang kota (desain urban) kontemporer tidak bisa hanya berorientasi kepada struktur yang rigid, tetapi harus membuka peluang dan penafsiran baru dalam upaya pemanfaatan aset perkotaan. Dalam hal ini, termasuk peluang bagi keberadaan bangunan tua dan kawasan lama untuk disertakan ke dalam proses pembentukan lingkungan kota yang berjati diri.

Kawasan beridentitas khas inilah yang menjadi salah satu ciri lingkungan yang tanggap/responsif. Selanjutnya, lingkungan yang tanggap berperan penting dalam membentuk jaringan sosio-kultural dan komunitas yang memaknainya. Kota tidak akan memiliki budaya bangunan jika tidak melibatkan komunitas yang memberi warna dan mengisi aktivitas di dalamnya.

Dengan demikian, konservasi kawasan bersejarah Kota Tua Jakarta akan memberi kontribusi bagi pengkayaan budaya membangun dan sekaligus sebagai suatu proses peningkatan citra kota dan kualitas hidup masyarakatnya secara sosial dan kultural.

Pembangunan kota adalah akumulasi dari berbagai proses pengambilan keputusan. Konservasi kawasan bersejarah tidak boleh menyebabkan dampak sosial negatif, tetapi justru harus menyelaraskan dengan kepentingan publik. L Burkhardt (1977) dalam Denkmalpflege ist Sozialpolitik menegaskan bahwa persoalan konservasi tidak lain adalah persoalan sosial-politik. Dengan demikian, dapat dipastikan keberhasilan upaya konservasi lingkungan membutuhkan dukungan segenap elemen masyarakat.

Oleh karena itu, kegiatan pelestarian seyogianya dapat membangkitkan rasa keingintahuan komunitasnya, atau dengan kata lain harus menjadi kepentingan publik. Artinya, perlu dibangun keterikatan kultural antara komunitas dengan lingkungan binaannya untuk menjamin kelangsungan kegiatan penataan kawasan. Dalam wacana konservasi, hal tersebut sekaligus menunjukan adanya hubungan erat antara kerja budaya sebuah komunitas dengan proses desain lingkungannya.*

Widjaja Martokusumo Staf Pengajar Magister Joint Program Rancang Kota, Departemen Arsitektur ITB

Sumber: Kompas, 3 Oktober 2004

Pameran Poster ‘Wendingen: A Pioneering Magazine on Visual Design and Art’

Oktober 2, 2004

Masa pameran 5 Oktober – 5 November 2004

‘Wendingen’ adalah majalah pelopor tentang desain visual dan tipografi. Majalah ini terbit pertama pada tahun 1918, dan terakhir terbit pada tahun 1932. ‘Wendingen’ tidak hanya menarik perhatian sejumlah arsitek Belanda yang terkenal seperti Michiel de Klerk, tetapi juga mereka yang terkenal secara internasional seperti Frank Lloyd Wright. Yang memprakarsai dan sekaligus menjadi pemimpin redaksi majalah ini adalah Wijdeveld. Sampul-sampul majalah didesain oleh para seniman dan arsitek terkemuka. Ruang lingkup isi dari majalah ini sangatlah bervariasi meliputi seluruh gerakan-gerakan nasional dan internasional seputar seni rupa, arsitektur, tipografi, desain teater dan seni terapan.

Pameran yang berlangsung di Erasmus Huis meliput majalah ‘Wendingen’ dengan obyek-obyek yang terkait seperti buku, sampul-sampul buku, berbagai cetakan dan poster-poster.

Kurator: Frans Leidelmeijer

Senin – Kamis, 09.00 – 16.00
Jum’at, 09.00 – 14.00
Sabtu, 09.00 – 12.00

Erasmus Huis
Jl. H.R. Rasuna Said Kav. S-3
Kuningan Jakarta 12950
Indonesia

Telefon +62 21 524 1069
Fax +62 21 527 5978
Email info@erasmushuis.or.id