Archive for Juni, 1996

Arsitektur Geomansif

Juni 3, 1996

Oleh Koestomo Andreas Corsini

TIGA sampai lima tahun terakhir ini metode Feng Shui menjadi semakin populer sebagai kelengkapan merancang bangunan atau alat evaluasi pasca-huni bangunan. Para eksekutif bisnis atau birokrat mencari penasihat Feng Shui untuk mencocokkan nilai ketenteraman atau keuntungan dari bangunannya. Mereka percaya bahwa perbaikan bangunan dengan metoda Feng Shui akan menaikkan harkat hidupnya.

Di Jawa Tengah, di samping metoda Feng Shui nilai rancang bangunan perlu dicocokkan dengan rumus Petung Pawukon yakni pengetahuan kosmologi Jawa, Angsar atau Kawruh Kalang yaitu tata-nilai mistis arsitektur Jawa. Bersamaan dengan maraknya Feng Shui atau Hong Shui, marak pula masyarakat yang mempelajari daya prana tubuh manusia dalam bentuk olahraga tenaga dalam. Bagi yang mempelajari kosmologi kuno, menganggap bahwa bumi dan angkasa memiliki pelbagai daya prana atau energi gaib. Arsitektur sebagai lingkungan ciptaan manusia dianggap perlu berkontekstualisasi dengan fenomena alam tersebut.

Di universitas para dosen arsitek tua-muda menjadi penganjur, agar beberapa mahasiswa mencoba menerapkan metoda geomansi Timur dalam menggarap tugas kuliah desain. Bahkan kosmologi dan geomansi Jawa, telah menjadi bahan dasar disertasi Dokter Arsitek Heinz Frick di Universitas Teknik Eindhoven Belanda awal tahun 1995. Para akademisi meletakkan bidang ini dalam disiplin anthropologi arsitektur yang mengkaji kecenderungan perubahan sosial budaya dalam rupa bangunan dan tata letak bangunan. Peminat bidang studi ini sangat sedikit jumlahnya di Indonesia, namun sering menjadi bahan penelitian para arsitek Barat.

GEJALA penerapan arsitektur geomansif akan dapat merubah pelbagai tatanan yang berlangsung; terutama perilaku masyarakat, sosial-budaya, tata perkotaan dan lingkungan. Kepedulian terhadap pengetahuan geomansi kuno dapat disebut mengangkat dan menyambung kembali sejarah arsitektur lokal yang diputus masa modernitas. Modernitas sendiri dipandang sebagai implementasi dari perkembangan teknologi dan ekonomi dengan doktrin desain: fungsi yang efektif dengan teknologi efisien.

Modernitas arsitektur dan perkotaan dipandang semakin menyempitkan kepekaan manusia terhadap kesadaran meruang dan dicap tidak manusiawi. Sehingga perlu kesadaran inklusionistik, manusia perlu kembali menjadi bagian dari alam. Pengetahuan relasi ke alam telah ditelaah kembali dari naskah kosmologi lama atau kesadaran estetik seperti pada masa romantik Eropa. Oleh sebab itu arsitektur modern direvisi maknanya, karena dianggap lepas dari konteks alami. Pemikiran eko-arsitektur atau desain yang biologis menjadi salah satu betuk tanggapannya di samping arsitektur geomansif.

Khusus di Indonesia, sejarah budaya arsitektur asli telah diputus dan ditidurkan oleh kolonialisme. Tidurnya ragam arsitektur asli yang dipenuhi aturan kosmologi dan ciri geomansi, memberi kesempatan pengetahuan arsitektur Barat makin marak dan memungkinkan Feng Shui yang fleksibel subur ke Indonesia.

Beragam istilah para arsitek dalam mengemukakan revitalisasi geomansi kuno. Sebagian menyebut bagian dari paradigma postmo yang ingin merangkai sejarah, ada yang mengkategorikan sebagai gejala regionalisme arsitektur belaka. Macam-macam sebutan lain misalnya gejala renaisansi Timur, eko-desain, ikonokulturalis, demistikasi arsitektur, dan sebagainya.

Geomansi dan kosmologi kuno dapat menjadi pendekatan perancangan arsitektur, bahkan dapat dikembangkan sebagai metoda desain. Di sisi pandangan environmentalis, revitalisasi geomansi kuno dapat dimasukkan sebagai kesadaran moral kembali ke alam dengan pandangan holistik. Aturan geomansi arsitektur kuno di mana pun kebudayaan berkembang, meletakkan alam sebagai faktor yang menentukan dan mengikat bangunan di atasnya. Relief bumi alami tak boleh diubah, konon agar energi alam tak berkurang. Arsitektur-environmentalis perlu memulai meneliti potensi energi alam dalam arsitektur dengan alat-alat deteksi elektromaknit.

OLEH beberapa pakar bangunan, geomansi dan kosmologi arsitektur dianggap mampu memberi nilai tenteram bagi pengguna bangunan dan menerbitkan energi kehidupan yang mendorong kegiatan manusia. Katakanlah, terjadi keadaan mistikasi dalam arsitektur. Manusia kini yang terlibat dalam kehidupan material dan rasional, semakin mengendurkan diri dari ikat tali rohani Illahi. Kemudian mencari keselamatan lain dengan mendaras energi pada alam. Manusia kini tengah mencari Tuhannya dalam energi alam.

Gejala tersebut perlu disambut dengan sebagai pandangan eko-theologi. Tuhan semakin menyatakan dirinya dalam daya energi alam bumi, seperti halnya semasa awal Tuhan menciptakan semesta. Manusia masuk dalam kesadaran penciptaan pro-alam tersebut. Tuhan selalu bersemayaman dalam ruang waktu kehidupan, sehingga bersemayam pula dalam keindahan dan kekuatan daya alami. Manusia kembali sadar dalam pemikiran holistik; Tuhan, manusia dan biosistem bumi, lingkungan buatan seperti arsitektur, perubahan nilai kehidupan, merupakan keutuhan yang menyeluruh dalam satu suprasistem.

DALAM ungkapan anthropologis dikatakan bahwa budaya material tengah menguasai budaya immaterial! Dalam kebudayaan material manusia semakin menjauhkan jarak dengan kekaguman pada mitos dan estetik alami. Revitalisasi geomansi dan kosmologi untuk arsitektur adalah sublimasi kebudayaan immaterial dalam rupa bangunan. Namun perlu ada penafsiran atas dasar kesesuaian zaman. Perlu proses demistikasi dalam mengangkat kosmologi dan geomansi kuo ke dalam nilai manusia Timur yang tengah mencari makna hidup baru. Oleh sebab itu penafsiran kosmologi dan geomansi lama dalam logika kehidupan masa kini, memerlukan proses lama dan langkah yang rumit. Situasi tersebut merupakan proses pengutuhan kembali kesadaran spritualisasi manusia.

Kini terdapat kencenderungan kembali bahwa seluruh piranti kebudayaan asli yang mistis diotak-atik lagi dan dicoba direvitalisasi. Gejala ini pernah muncul pada masa 1980-1985 dan mungkin terulang tahun 2000-2005 nanti. Sehingga sering terjadi suatu repetisi pemikiran budaya namun tak pernah mampu meramal kecenderungan ke depan. Salah satu kelemahannya adalah proses sejarah sosial budaya terutama bidang arsitektur yang putus atau tidur lama. Diskusi tentang metoda revitalisasi arsitektur geomansif dan kosmologik jarang digelar, sehingga jarang ditemukan ide atau strategi penyelesaian. Mungkin juga terjadi kebuntuan karena ide rasional melawan ide mistikasi, suatu situasi diskursus yang tak pernah mendapat jawaban selesai.

Revitalisasi geomansi lama dalam arsitektur akan dapat menciptakan kaidah baru dalam perancangan bangunan dan tata letaknya (site-plan), sekaligus dapat berpengaruh dalam penataan kota (urban-design). Permasalahannya, dapatkah arsitektur geomansif dirumuskan sebagai salah satu pertimbangan dalam peraturan bangunan dan peraturan penataan kota? Oleh sebab itu perlu proses polemik dan legitimasi dari pelbagai unsur, masyarakat pengguna karya arsitektur, arsitek, pengelola kota, dan budayawan.

Patut diisyaratkan, legitimasi Feng Shui dalam peraturan bangunan dan perkotaan akan dapat menimbulkan kecurigaan dan kecemburuan sosial. Apalagi geomansi lokal belum dapat dibangunkan dan disaingkan keberadaannya. Kendatipun demikian revitalisasi geomansi kuno dalam arsitektur masih menjadi gejala dan sedang mencari kesesuaian dengan zaman kini. Namun kenyataan, proses pengembangannya semakin semarak luas, sehingga perlu dicermati dan diteliti.

Revitalisasi geomansi dan kosmologi arsitektur mungkin hanya menjadi bagian dari gejala pengulangan budaya, sebentar meredup dan mungkin akan menghangat 5-10 tahun lagi. Di sisi lain ada harapan, bahwa salah satu kekhasan perancangan arsitektur dan perkotaan Asia mungkin dapat muncul dari revitalisasi geomansi-kosmologi setempat, kita sangat berharap!

Ir Kostomo Andreas Corsini, MSi, arsitek dan dosen tetap Universitas Katolik Sugijapranata Semarang.

Sumber: Harian Kompas, Senin, 3 Juni 1996.

Iklan