Archive for Februari, 2008

Kota Tua Bakal Jadi Muda Kembali

Februari 27, 2008

Menteri Negara BUMN akhirnya mengizinkan penggunaan gedung-gedung milik BUMN untuk menghidupkan kembali Kota Tua Jakarta

Oleh: Abdul Wahid Fauzie

JAKARTA. Rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta merevitalisasi Kota Tua agaknya bisa segera terwujud. Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sudah mengizinkan penggunaan bangunan tua milik BUMN untuk menghidupkan kembali Kota Tua.

Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil mengatakan, pemerintah pusat mendukung kebijakan Pemprov DKI untuk menyelamatkan Kota Tua. Makanya, agar rencana itu bisa terwujud, Sofyan memberi izin kepada Pemprov DKI untuk memakai bangunan milik negara sebagai bagian dari upaya revitalisasi Kota Tua. “Sebagian besar gedung di Kota Tua memang milik BUMN,” katanya, Selasa (26/2).

Menurutnya, banyak gedung-gedung milik BUMN yang sudah tidak terurus lantaran perusahaannya kesulitan keuangan. Nantinya, Kementerian BUMN dan Pemprov DKI akan merenovasi dan memperbaiki gedung-gedung tersebut, sehingga bisa dimanfaatkan lagi.

Investornya sudah ada

Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta, Aurora Tambunan gembira dengan dukungan pemerintah pusat. Soalnya, boleh tidaknya menggunakan gedung milik BUMN selama ini menjadi ganjalan upaya menghidupkan kembali Kota Tua. “Sekarang, pemiliknya sudah membolehkan,” katanya, usai pertemuan dengan Menneg BUMN dan Gubernur DKI Jakarta. Gedung milik Pemprov DKI yang berada di Kota Tua tidaklah sebanyak gedung milik BUMN. Misalnya, Museum Sejarah, Museum Wayang, Museum Keramik, dan Museum Bahari.

Berikutnya, Pemprov DKI akan bekerjasama dengan Kementerian BUMN untuk menginventarisasi gedung-gedung BUMN mana saja yang sudah layak dan gedung mana yang memerlukan perbaikan terlebih dahulu. “Nanti kami akan membentuk tim,” ujar Aurora.

Berdasarkan inventarisasi sementara Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI, tercatat sudah ada 12 gedung milik BUMN di Kota Tua yang bisa menjadi ikon baru di sana. Misalnya, gedung Kertaniaga dan gedung Ciptaniaga. “Kami berharap kawasan itu nantinya menjadi kawasan perkantoran,” katanya. Untuk tahap awal, revitalisasi ini akan mencakup perbaikan taman, sistem lalu lintas, pembuatan jembatan penyeberangan orang hingga penertiban pedagang kaki lima.

Pemprov DKI berharap, setelah revitalisasi, bangunan-bangunan tua tersebut justru bisa nilai ekonomi yang lebih tinggi dan menjadi salah satu pusat kegiatan ekonomi di Jakarta. Ia menyadari semua itu tidak akan tercapai tanpa dukungan para investor.

Makanya, Pemprov DKI akan mencari calon investor yang tertarik menggunakan Kota Tua sebagai pusat bisnis. Aurora optimistis program ini berhasil. Hingga kini sudah banyak pengusaha yang menyatakan berminat untuk membuka usaha di sana. “Namun, mereka tidak tahu harus menghubungi siapa,” ujarnya.

Sebagai salah satu langkah awal untuk menghidupkan Kota Tua, pada 20 Februari lalu Pemprov DKI sudah meresmikan pencahayaan di 2.041 titik Kota Tua. Di antaranya, Museum Wayang, Museum Keramik dan halaman Stasiun Beos.

Sumber: Kontan, 27 Februari 2008

Iklan

Sudah Ada yang Beralih Fungsi

Februari 24, 2008

SEJARAWAN Anhar Gonggong menilai program revitalisasi museum yang dicanangkan Pemprov DKI Jakarta belum maksimal untuk menjaga dan memelihara keautentikannya. Program tersebut dituding hanya isapan jempol belaka. Sebab,ditemukan ada museum yang sudah beralih fungsi.

”Saya pernah marah saat Museum Thamrin dijadikan tempat pesta pernikahan beberapa waktu. Begitu saya masuk, ternyata isinya kosong dan ketika itu saya dibohongi kepala museumnya,” ujarnya. Dia menyayangkan sikap pemerintah yang mengabaikan fungsi museum yang sudah beralih fungsi tersebut. Sebab, kalau ditarik sejarahnya, museum itu sesungguhnya sebagai pusat pengetahuan yang tinggi,sekaligus tempat berwisata dan menjadi perhatian serius.

Dia mencontohkan,sebagai pusat ilmu pengetahuan,museum sangat banyak menyimpan barang-barang berharga peninggalan kerajaan terdahulu. Misalnya, jika kita ingin melihat bagaimana pergerakan pemuda sebelum kemerdekaan, semua peninggalannya termasuk gambar orangnyaadadiMuseumPergerakan Nasional.

Menurut Ketua Komunitas Jelajah Budaya Kartum Setiawan, saat ini agar menarik promosi atau pengemasannya hendaknya disulap menjadi sedikit berbeda, yakni melibatkan masyarakat supaya lebih dekat dengan objek itu sendiri. ”Misalnya,mengajak rekreasi ke Kota Tua,lalu dikemas dengan cara yang atraktif dan menarik,”ujarnya. (mohammad yamin/sujoni)

Sumber: Sindo, 24 Februari 2008

Butuh Inovasi Pengelolaan

Februari 24, 2008

SEJUMLAH museum di Kota Jakarta lambat laun mulai ditinggalkan pengunjung. Butuh inovasi untuk menjadikan museum sebagai sarana rekreasi keluarga.

Bangunan bersejarah khususnya museum sangat identik dengan benda, cagar budaya, dan catatan penting yang berisi nilai sejarah bangsa. Seluruh peristiwa yang tertoreh di masa lampau bisa dijumpai di museum.Namun, saat ini sebagian besar masyarakat perlahan-lahan mulai melupakan identitas museum sebagai salah satu tempat yang wajib dikunjungi. Museum masih dianggap sebagai tempat yang kurang menyenangkan. Penyebabnya beraneka ragam,mulai dari latar belakang pendidikan masyarakat yang rata-rata memang belum tinggi, juga karena kurang menariknya fasilitas yang ditawarkan museum itu sendiri.

Saat ini sedikitnya ada 30 museum di Jakarta. Di antaranya Museum Fatahillah, Museum Wayang, Museum Adam Malik, Museum Tekstil, Museum Satria Mandala, Museum Sejarah Jakarta, Museum Senirupa dan Keramik, Museum Prangko, Museum Pelita Harapan, Taman Prasasti, Ge-dung Joang 45, Museum Bank Mandiri, dan Museum Bank Indonesia.

Kondisi Memprihatinkan

Lisa Puspitasari,alumnus Universitas Indonesia, mengaku prihatin atas kondisi beberapa museum di Jakarta yang sudah tidak terawat dan terlihat kumuh. Saat melewati Museum Tekstil di dekat Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat,dirinya baru mengetahui bahwa di lokasi tersebut ada bangunan bersejarah .

”Saya baru tahu itu Museum Tekstil, padahal setiap hari lewat sini. Soalnya, di sekitar lokasi, persisnya di depan gerbang museum, tertutup sama pedagang barang- barang bekas,” terangnya. Kondisi museum serupa terlihat pada Museum Bahari dan Museum Samudera.Saat SINDO bertandang ke museum yang berlokasi di Jalan Pasar Ikan No 1 Jakarta Utara ini kondisinya tampak tidak terawat.

Cat bangunan yang dibangun persis di muara sungai Ciliwung ini tampak memudar.Akses jalan masuk ke museum terlihat becek dan berlubang. Bahkan, tidak sedikit dari koleksi museum yang sudah berusia 3,5 abad tersebut rusak lantaran terendam banjir pada November 2007 lalu dengan ketinggian air 40–60 cm. Museum yang menyimpan 1.500 koleksi ini sangat membutuhkan uluran perhatian dan bantuan dari pemerintah daerah setempat. ”Maklum,museum ini lebih rendah dari jalan sehingga kalau banjir langsung masuk ke ruang pamer koleksi benda antik,”ujar Subaedah, Kepala Subbag Tata Usaha Museum Bahari.

Perlu Desain Menarik

Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta Aurora Frida Tambunan mengatakan,sebagian masyarakat memang tidak terbiasa berkunjung ke bangunan bersejarah atau museum.Padahal, tidakadasalahnya jikasebulan sekali mengunjungi museum untuk menambah wawasan sekaligus pengetahuan.

”Maka itu,sebaiknya kita meniru museum- museum di dunia yang menjadikan museum sebagai tempat rekreasi sehingga menarik minat untuk datang ke sini,”jelasnya. Menurut dia,cara menarik minat pengunjung yaitu dengan menambah atau mengubah tata pamer koleksi meski selama ini koleksi benda antik di museum sangat kurang. Untuk mendukung tata pamer tentu bangunan harus dipugar, seperti yang sudah dilakukan terhadap sejumlah bangunan di Kota Tua. (sucipto/sujoni)

Sumber: Sindo, 24 Februari 2008

Kraton Jayakarta di Kota Intan

Februari 23, 2008

Kraton Jayakarta di Kota Intan

Reruntuhan Gedung Samudera Indonesia Belum Diangkat

Februari 23, 2008

Reruntuhan Facade (Muka Depan) dan Arcade Gedung Tua milik PT Samudera Indonesia yang ambruk pada 1 Februari lalu di kawasan Kota belum diangkat hingga hari ini. “Masih dalam penyidikan,” ujar Candriyan Attahiyat, Kepala Unit Pengelola Teknis (UPT) Kota Tua kepada Tempo di Jakarta hari ini.

Menurut dia, saat ini Tim Sidang Pemugaran (TSP) dan Pakar Konstruksi sedang menyelidiki penyebab ambruknya sebagian muka depan dan arcade gedung itu. “Hasil sementara, penurunan muka tanah di beberapa titik menjadi penyebab ambruknya gedung itu selain metode bearing atau penempelan arcade ke gedung utama dianggap kurang kuat,” kata Candriyan. Karena penyidikan belum selesai, reruntuhan tidak bisa diangkat.

Berdasarkan pantauan Tempo, reruntuhan gedung masih teronggok di Jalan Kali Besar Barat. Lokasi jatuhnya reruntuhan itu tidak berada di kawasan macet, sehingga lalu lintas jalan di kawasan itu tidak terganggu.

Amandra Mustika Megarani

Sumber: Tempo Interaktif, 23 Februari 2008

Tujuh Museum Bersinergi Luncurkan Program Wisata

Februari 22, 2008

PADA 2008 ini bisa menjadi awal masa kebangkitan museum-museum di Indonesia. Sebab, melalui prakarsa House of Sampoerna, sebanyak tujuh museum dalam negeri bergabung dan meluncurkan program wisata museum. General Manager Hosue of Sampoerna Ina Silas menyatakan,saat ini tercatat ada 275 museum di seluruh Indonesia, tetapi tidak semua eksis dan ramai dikunjungi wisatawan. ’’Bahkan, jumlah sebelumnya yang terdata itu sebanyak 286.mBisa jadi angkanya lebih dari itu, tapi kini tinggal 275. Untuk itulah,kami ingin membuat jejaring ini,’’ ujar Ina saat jumpa pers di Museum Nasional,Jakarta,kemarin. Ketujuh museum itu adalah House of Sampoerna (Surabaya), Museum Nasional (Jakarta), Museum Bank Mandiri (Jakarta),Museum Batik Danar Hadi (Surakarta), Museum Geologi (Bandung), Museum Sejarah Jakarta( Jakarta), dan Museum Sepuluh November (Surabaya).

Ina menjelaskan, implementasi dari program jejaring ini melalui program pameran bersama di beberapa daerah di Indonesia. ’’Misalnya Museum Geologi Bandung dapat berpameran di Surabaya. Dengan demikian,orang Surabaya yang tidak bisa pergi ke Bandung tetap dapat melihat seperti apa museum geologi ini,’’ ujarnya. Jejaring promosi pun dilakukan. Menurut Ina,mulai kerja sama dengan agen wisata, travel, hotel, hingga asosiasi terkait merupakan cara untuk lebih membudayakan berkunjung ke museum. Sebab, meskipun beberapa museum ramai dikunjungi mayoritas kelompok pelajar dan mahasiswa,ini demi memenuhi tugas sekolah atau kuliah. Presentasi pengunjung kelompok pelajar untuk museum di Indonesia rata-rata 80– 85%. Sementara itu, pengunjung wisatawan hanya kurang dari 15%.

’’Kami yang akan membantu promosi brosurnya. Sebanyak mungkin brosur yang kami cetak tidak ditargetkan. Namun, tetap kami beri target tahunnya.Akan kami evaluasi pada 2008 ini bagaimana hasilnya,’’ ungkapnya. Meski demikian,alasan Ina mengajak ketujuh museum tersebut lantaran dianggap sebagai museum yang paling siap untuk diajak promosi. Selain ketujuh museum itu,masih banyak museum di Indonesia yang kondisinya menyedihkan dan sepi pengunjung.Dengan berbagai upaya sinergi dan promosi guna melakukan proses penyadaran publik tentang pentingnya museum, Ina optimistis museum menjadi salah satu tempat tujuan wisata favorit. ’’Apalagi, jika setiap museum mau berbenah dan berinovasi agar tidak membosankan. Sebab, memang bukan zamannya lagi museum hanya untuk orang tua, yang tempatnya gelap,sepi,dan terlihat angker,’’ ujarnya. (abdul malik)

Sumber: Sindo, 22 Februari 2008

Buka Ingatan Sejarah Lewat Museum

Februari 22, 2008

JAKARTA (SINDO) – Berdirinya beberapa mal di Jakarta memang bisa menjadi alternatif lain sebagai tujuan wisata. Namun,kini pengelola museum mulai berbenah dan membuatnya lebih menarik.

Salah satunya banyak melakukan inovasi untuk menarik pengunjung. Kini, bukan zamannya lagi museum sepi dan gelap. Sebab,beberapa museum telah berbenah dengan berbagai inovasi agar pengunjung semakin tertarik berkunjung ke sana. Kepala Museum Geologi Bandung Dr Yunus Kusumahbrata menyatakan, tidak jarang pihaknya kewalahan melayani antrean pengunjung. Untuk itu,pihaknya berupaya melakukan pembenahan dan inovasi agar pengunjung lebih nyaman. ’’Kalau ada orang yang mengatakan museum sepi dan gelap, itu cerita lama. Sebab, kini kami ramai dikunjungi pengunjung,” tuturnya, dalam acara peluncuran program wisata museum di Museum Nasional Jakarta, yang diprakarsai House of Sampoerna, kemarin.

Saat ini, rata-rata jumlah pengunjung Museum Geologi di Jalan Diponegoro, Bandung mencapai 4.500 orang per hari. Hal itu sungguh menggembirakan karena tren jumlah pengunjung per tahun meningkat cukup signifikan.Tercatat pada 2006 lalu, total jumlah pengunjung masih sekitar 211.000 orang. Sementara itu, pada akhir 2007, jumlah pengunjung sudah mencapai hampir 300.000. Karena itulah, pihak Museum Geologi Bandung menargetkan pada 2008 ini, sebanyak 350.000–400.000 pengunjung akan datang ke sana. Museum itu menyimpan hampir 200.000 koleksi berbagai jenis bebatuan dan 30.000 fosil.

Bahkan, Yunus menyatakan, lewat program Night at the Museum, pihaknya akan membuka pelayanan untuk umum pada malam hari setiap akhir pekan mulai pertengahan 2008 nanti. Namun,Anda jangan membayangkan hal itu akan seperti dalam film Night at The Museum yang dibintangi Ben Stiller, yang mengisahkan patung dan fosil T-rex di museum itu hidup kembali ketika malam saja.

’’Pembukaan pelayanan saat malam ini demi menjawab kebutuhan banyaknya pengunjung yang sering antre. Jika paginya untuk pelajar dan mahasiswa, malamnya untuk wisatawan lokal dan mancanegara. Dengan demikian, mereka bisa nyaman dan tidak perlu berjubel antre dengan pelajar,” paparnya. Museum yang resmi dibuka sejak 16 Mei 1929 itu sedang berbenah. Tidak hanya berencana membuka pelayanan malam, juga melakukan berbagai macam inovasi. Beberapa inovasi tersebut, di antaranya pembenahan internal pegawai museum.

Salah satunya pemberian berbagai macam training bahasa asing dan memandu wisata. Hal itu agar pengunjung benar-benar mendapatkan panduan dan penjelasan yang baik dari para petugas. ’’Misalnya, anak SD harus dibimbing orang yang memiliki keterampilan memandu anak-anak. Hal itu agar yang amit-amit (pemandu yang usianya sudah sangat tua) itu tidak lagi memandu yang imut-imut. Mudah-mudahan, itu bisa semakin meningkatkan jumlah pengunjung,” tuturnya.

Kemudian, pihak Museum Geologi juga menambah ruangan-ruangan agar kapasitasnya lebih memadai. Sebab, tidak jarang pengunjung harus antre karena kapasitasnya terbatas. Agar pengunjung yang antre di luar tidak sia-sia,museum itu akan membangun monumen dan pameran luar ruangan yang memajang batubatuan kekayaan alam Indonesia dengan brandmini stone park. ’’Kalau dari luar, museum itu kan hanya sebuah gedung dan tidak menarik.

Maka itu, rencananya kami membuat monumen dan display batu-batuan. Dengan demikian, orang akan lebih tertarik berkunjung ke sini, ”ujarnya. Kondisi serupa juga dialami Museum Sejarah Jakarta.Kepala Museum HR Manik menyatakan, jumlah pengunjung Museum Batavia ini naik dengan pelan, tapi pasti. Sekitar 2005 lalu, total jumlah pengunjung 60.000, kemudian naik menjadi 70.000 pada 2006.

Pada akhir 2007 lalu, total pengunjung pun mencapai angka 80.000.Untuk itu, pihaknya optimistis pada 2008 ini, pengunjung museum itu akan mencapai lebih dari 85.000. Bahkan, berbagai macam program dan acara digelar di museum ini,mulai Batavia Art Festival hingga acara fun. Bahkan, Manik mengaku demi memberi kesan nyaman dan terbuka kepada pengunjung, seluruh pegawai Museum Sejarah Jakarta harus mengenakan seragam biasa, bukan seragam pegawai negeri sipil (PNS).

’’Kami memperbaiki upaya internal, seperti tata pamer, promosi, dan ada kegiatan-kegiatan lain. Untuk profil pengunjung, sebanyak 60% pengunjungnya pelajar. Sementara itu, wisatawan mancanegara meningkat. Dulu komposisinya sekitar 10%,sekarang hingga 16%,” paparnya. Cerita agak sedikit unik datang dari pihak Museum Batik Danar Hadi Solo. Presiden Direktur Museum Danar Hadi Solo Santosa Doellah menyatakan, gara-gara ribut soal klaim Malaysia terhadap batik, jumlah pengunjung museum itu pun meningkat.

Dia menyatakan, angka kenaikan jumlah pengunjung hingga 50%. Kenaikan itu tentu cukup signifikan bagi museum batik yang diprakarsai dan dikelola swasta ini. Kini, rata-rata angka kunjungan bisa mencapai 1.000 orang per hari pada hari libur. Sementara itu, total pengunjung per tahun mengalami kenaikan pada 2007, lebih dari 25.000 orang. Pada 2008 ini, dia berharap angka pengunjung bisa mencapai 50.000 orang. ’’Setelah ada klaim batik Malaysia, pengunjung kami jadi bertambah banyak,” tuturnya.

Sentosa menambahkan, akibat terbatasnya kapasitas museum, tidak jarang pengunjung pun antre. Namun, akibat bencana banjir dan longsor yang melanda Solo dan sekitarnya awal tahun ini, Museum Batik Danar Hadi agak sepi pengunjung. Meski demikian, dengan berbagai macam cara promosi, mulai brosur, website, bekerja sama dengan agen travel, atau program wisata batik akan semakin menyedot jumlah pengunjung, baik pelajar, mahasiswa, hingga wisatawan lokal maupun mancanegara.

Kepala Museum Bank Mandiri Heliantomo juga sepakat bahwa berkunjung ke museum tidak lagi membosankan dan harus dikemas sedemikian rupa agar menyenangkan. Selain itu, pihaknya sedang menyiapkan berbagai macam kegiatan yang lebih menyemarakkan Museum Bank Mandiri.Kegiatan itu, di antaranya tempat permainan untuk anak-anak, teater terbuka, dan yang lainnya sehingga anak-anak muda nyaman berada di museum. ’’Kami harus berusaha mengelola museum agar tampak lebih menyenangkan bagi anakanak muda yang selama ini menganggap museum hanya untuk orangtua,” paparnya.

General Manager House of Sampoerna Ina Silas menambahkan, museum sejarah berdirinya usaha Sampoerna juga ramai didatangi pengunjung hingga 9.000 orang per bulan. Angka itu memang cukup menggembirakan bagi museum di Indonesia. Untuk itu, sekarang saatnya membudayakan berkunjung ke museum bukan atas paksaan mata pelajaran atau kuliah, melainkan karena ingin berwisata dan berlibur layaknya budaya di luar negeri. (abdul malik)

Sumber: Sindo, Jum’at, 22 Februari 2008

Kawasan Kota Tua

Februari 18, 2008

Setelah menjalani beberapa tahap renovasi, menurut rencana, Rabu (20/2) mendatang, Gubernur DKI Fauzi Bowo akan resmi meluncurkan Kota Tua sebagai kawasan wisata sejarah. Sebelumnya, dana Rp 20 miliar dikucurkan untuk peremajaan Kota zaman Belanda di Barat Jakarta ini diharapkan bisa menjadi tempat bersejarah kebanggaan DKI.

Menurut rencana Foke-sapaan akrab Fauzi Bowo, secara simbolik akan meresmikan Jembatan Kota Intan sebagai maskot kota kebanggaan semasa zaman penjajahan Belanda. Bersamaan dengan ini Foke direncanakan juga sekaligus meresmikan pengoperasian Terowongan Penyeberangan Orang (TPO) Beos yang sedang tahap pengerjaan akhir. “Biar nggak dua kali kerja peresmian sekalian akan digabung,” kata Kepala Subdit Lalu Lintas Jalan Dinas Perhubungan M Akbar.

Namun, dikonfirmasi terpisah terkait rencana ini, Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta Aurora Tambunan meluruskan, bahwa rencana kedatangan gubernur ke dua lokasi di Kota tua tersebut hanyalah kunjungan kerja biasa. Menurutnya Rabu besok gubernur berkeinginan melihat secara langsung perubahan penampilan Kota tua pasca peremajaan. “Rencana beliau melihat-lihat pukul 17.00,” paparnya.

Dari pantauan Indo Pos, beberapa fisik gedung tua di areal seluas 846 hektar itu memang sudah terlihat lebih cantik dari sebelumnya. Selain nuansa cat tembok baru, sebagian gedung yang dulunya terkesan angker karena tidak dihuni, kemarin juga sudah nampak ramai dengan aktifitas.

Lebih lagi dengan jembatan tua di sisi barat kawasan Kota tua yang lebih dikenal Jembatan kota Intan. Kemarin setidaknya nampak lebih muda dengan hiasan lampu penerang disisi kiri-kanannya.

Namun, secara umum, penataan areal publik seperti pedestrian, taman bermain, dan foodcourt, nampaknya masih belum benar-benar rapi. Jalan arteri Museum Sejarah Jakarta yang sudah disulap menjadi pedestrian khusus pejalan kaki misalnya, kemarin masih nampak lalu lalang dilewati pengendara kendaraan roda dua. Belum teraturnya areal perparkiran menyebabkan rasa sedikit kurang nyaman kebanyakan pengunjung. Beberapa pejalan kaki yang kebetulan melenggang di pedestrian Kota tua setidaknya mengakui hal ini.

Pemandangan lain yang kurang sedap dilihat adalah banyaknya pedagang kaki lima yang menjual barang dagangan semaunya. Tempat parkir untuk kendaraan roda empat dan kendaraan roda dua juga belum dikelola secara rapi. Akibatnya, beberapa pemilik mobil juga memilih memarkir kendaraan mereka sekenanya.

Aurora mengatakan, sebagai petanda peluncuran Kota Tua sebagai pusat wisata sejarah, Rabu malam, gubernur Foke juga akan melakukan penyalaan lampu kawasan taman Fatahillah. Menurutnya, Setelah ini Kota Tua akan di kelola oleh sebuah lembaga di bawah Dinas Kebudayaan dan Permuseuman bernama Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kota Tua.

Sebagaimana diberitakan, renovasi yang digelar di Kota Tua merupakan bentuk kelanjutan renovasi yang pernah digelar sebelumnya. Disamping alasan wisata, renovasi juga sebagai upaya menanggulangi banjir beberapa waktu lalu yang sempat memakan sejumlah kayu penyangga gedung-gedung tua. Akibat banjir tersebut selain kayu yang keropos beberapa dinding juga terjadi kerusakan.

Selama perbaikan, selain dana dari unit terkait, seperti Dinas Pekerjaan Umum, Penerangan Jalan Umum serta Tata Kota, dana anggaran juga telah dialokasikan dalam RAPBD 2008 sejumlah Rp 4,1 miliar.

Untuk perbaikan secara total tersebut, studi hidrologi juga dilakukan. Sehingga, pendataan serta detail analisis penanganan bisa dilakukan secara menyeluruh. Hal ini mengingat struktur tanah di Kota Tua sangat rentan terhadap air. Bahkan, jika dilakukan penggalian sedalam 50 cm, tanah di Kota Tua sudah mengeluarkan air. Tak heran, jika dinding-dinding bangunan di Kota Tua basah oleh rembesan air tanah. (did)

Sumber: Indo Pos, 18 Februari 2008

Museum Bahari Ambrol, Samudra Indonesia Rata dengan Tanah

Februari 1, 2008

Gedung-gedung di kawasan Kota Tua yang dilindungi terus-menerus digerus banjir. Hanya berselang sekitar 12 jam, dua gedung yang masuk dalam daftar bangunan cagar budaya (BCB), yakni Museum Bahari dan Gedung Samudra Indonesia, ambruk.

Yang teparah dialami Gedung Samudra Indonesia, yang ambruk total Jumat (1/2). Sementara itu, gedung Meseum Bahari masih berdiri tapi sejumlah gelagar penyangga lantai dua sudah ambrol pula. Temboknya pun retak-retak.

Gedung Samudra Indonesia yang terletak di Jalan Kali Besar Barat, Jakarta Barat, ambruk pada Jumat pukul 14.00. sedangkan Museum Bahari di Jalan Pasar Ikan, Jakarta Utara, ambrol pada Sabtu pukul 02.00.

Seorang saksi mata, Sugoro, mengatakan, sebelum gedung ambruk dia sempat mendengar bunyi kerikil berjatuhan. “Cuma begitu awalnya, kerikil-kerikil berjatuhan. Tiba-tiba itu gedung jatoh ke depan. Abis itu bunyinya kayak ada bom, gitu, kata pedagang. Pedagang lain menimpali, kaget aja kita tiba-tiba ada dentuman. Trus debunya lari ke kita.”

Sebelum, kawasan Kota Tua diterjang banjir. Gedung itupun yang ikut terendam. “Belum lagi tiap kali ada mobil lewat, air kan mendesak ke gedung itu. Barang kali karena itu juga gedung tersebut jadi nggak kuat lagi nahan,”tambah Sugoro.

Sekedar informasi, Samudra Indonesia Tbk merupakan perusahaan publik yang bergerak dalam bidang pelayaran, transportasi, dan logistik. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1964 oleh Soedarpo Sastrosatomo. Gedung itu dirancang dan dibangun oleh arsitek yang juga merancang stasiun Beos, Ir Frans Johan Louwrens Ghijsels, pada tahun 1910-1921. Gedung ini dulu diperuntukan perusahaan dagang dan Arkade (lorong untuk pejalan kaki) pada gedung ini merupakan ciri khas bangunan awal abad 20 di sepanjang Kali Besar Utara.

Pemilik gedung, Shanti Poesposoetjipto, putri almarhum Sastrosatomo, menjelaskan bahwa pihaknya sudah mengosongkan gedung itu setelah melihat adanya keretakan dibeberapa lokasi. “Sudah sekitar satu tahun dikosongkan. Gedung itu sudah diperiksa oleh ahli gedung tua dan menurut merekan masih ok, hanya perlu diperkuat. Tapi keburu roboh.”kata Shanti.

Dia menambahkan, rencana awal gedung itu akan digunakan untuk tempat pendidikan dan latihan. “Kita akan segera selidiki lebih lanjut kenapa bisa runtuh,” tandasnya

Museum Bahari
Sementara Museum Bahari kondisinya tak jauh berbeda. Untungnya gedung yang dibangun pada zaman VOC itu ambruknya tidak separah gedung Samudra indonesia. Namun balok penyangga gedung C Museum yang bernilai sejarah itu sudah pada ambrol. “Kan setiap hari tergenang air, apalagi berkali-kali terendam banjir sehingga penyangga lantai atas roboh. Ada satu lagi balok penyangga yang sudah retak, tinggal tunggu tanah bergerak, roboh. Kalau balok penyangga sudah ambruk, kan sama aja gedung itu ambruk,” kata Kepala Museum Bahari Dewi Rudiati.
Menurut Dewi, jika bangunan blok C roboh, maka bangunan lain yang terkait blok itu akan ikut roboh pula. Demikian pula dengan kondisi blok B. “Kalau lantai sudah retak memanjang dan makin menganga, apa enggak tinggal roboh. Balok tiang penyangga yang bagian bawah juga udah ikut retak. Jadi tinggal menunggu waktu,”lanjut Dewi.

Bangunan Museum Bahari ini terdiri atas dua dua bagian, sisi barat disebut Gudang Barat (Westzijdsch pakhueizen) di Jalan Pasar Ikan yang berdiri persis di samping muara Sungai Ciliwung serta Gudang Timur (Oosjzijdsch Pakhuizen) di Jalan Tongkol. Museum Bahari yang usianya lebih dari 3,5 abad. Tembok yang mengelilingi museum itu tak lain adalah pembatas kota Batavia (city wall) di zaman Belanda.

Pada masa penduduk Belanda, bangunan yang saat ini dipergunakan untuk museum dipakai gudang yang berfungsi untuk menyimpan hasil bumi, seperti rempah-rempah.

Museum ini menyimpan koleksi yang berhubungan dengan kebaharian dan kenelayanan bangsa Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Koleksi-koleksi yang terdiri atas berbagai jenis perahu tradisional dengan aneka bentuk, gaya dan ragam hias, hingga kapal zaman VOC. Disajikan pula berbagai model dan miniatur kapal modern dan perlengkapan penunjang kegiatan pelayaran. Di sisi lain ditampilkan pula koleksi biota laut. Museum tersebut menyimpan 1.500 koleksi.

Kepala Subdinas (Kasubdis) Pengawasan Dinas Kebudayaan dan Permuseuman (Disbudmus) DKI sekaligus Plh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kota Tua Candrian Atthiyat, Sabtu (2/2) mengatakan, kondisi Museum Bahari sudah rusak parah. “Tidak bisa lagi menunggu terlalu lama harus segera diperbaiki,” katanya.

Candrian Attahiyat yang di temui Warta Kota di bakal UPT KotaTua di bekas Kafe Museum, belum bisa berkomentar banyak. “Besok pagi (hari ini-Red) kita akan bicarakan dengan TSP (Tim Sidang Pemugaran-Red). Perlu di selidiki apakah karena ada penurunan tanah karena adanya pemancang tiang sekian puluh tahun lalu, atau karena banjir kemudian tanah menjadi lembek,” katanya. (pra)

Sumber: Jakarta Culture and Heritage, 1 Februari 2008