Archive for Januari, 2004

“Plesiran Tempo Doeloe” Kian Diminati

Januari 26, 2004

Jakarta, Kompas – Masyarakat Jakarta dan wisatawan mancanegara kian berminat mengetahui lebih dalam tentang bangunan-bangunan lama peninggalan sejarah perkembangan Jakarta. Setidaknya itu tampak pada tingginya antusiasme warga Jakarta dan wisatawan asing mengikuti perjalanan wisata mengunjungi kompleks bangunan lama di sekitar Passer Baroe, Jakarta Pusat, yang diadakan Yayasan Sahabat Museum, Minggu (25/1).

Jumlah peserta perjalanan wisata ini hampir mencapai 500 orang atau sekitar dua kali lipat dari perkiraan panitia, sehingga perjalanan sempat tertunda 30 menit.

Dalam perjalanan wisata mengenal Jakarta Lama kemarin, peserta diajak menyusuri kembali perkembangan Kota Jakarta yang mengadopsi berbagai macam gaya seni bangunan. Kompleks Passer Baroe dianggap sebagai salah satu lokasi yang menarik karena banyak mempunyai bangunan lama bercorak bangunan tradisional Cina, Eropa, hingga perpaduan antara keduanya dengan corak bangunan asli Indonesia yang disebut bangunan Indis.

Perjalanan diawali dari Kantor Pos Filateli yang bergaya art deco. Bangunan ini belum pernah berubah fungsi sejak resmi didirikan tahun 1912-1929. Kemudian peserta diajak menuju Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Gedung yang hampir berumur 200 tahun ini memang dibangun sebagai pusat aktivitas kesenian oleh Pemerintah Hindia Belanda.
Salah satu pemandu perjalanan yang juga Ketua Panitia Perjalanan Wisata Ade Purnama mengatakan, sekilas GKJ seperti bangunan Eropa, tetapi sebenarnya banyak dipengaruhi budaya Cina, terutama ornamen hiasannya.

Bangunan bergaya tradisional Cina juga banyak ditemui di dalam Kompleks Passer Baroe. Beberapa bangunan milik usahawan Tionghoa terkenal masa awal abad ke-20, Tio Tek Hong, masih dapat ditemui sampai saat ini.

Peninggalan usahawan besar itu, antara lain Restoran Tropic yang terkenal dengan ice cream-nya, bekas toko senapan yang sekarang telah beralih fungsi menjadi toko pakaian, dan bekas toko alat musik yang saat ini menjadi toko buku.

Jusni Hilwan, salah seorang keturunan Tio Tek Hong yang ikut sebagai peserta, mengisahkan kenangan masa kecilnya hidup di kawasan Passer Baroe. “Menyenangkan melihat kawasan ini lagi yang pernah saya tinggali selama 30 tahun. Beberapa bangunan, seperti Toko Kompak, masih seperti aslinya dulu. Akan tetapi, lainnya sudah berubah sama sekali,” katanya.

Jusni lahir dan tumbuh di kawasan ini tahun 1947-1978, sebelum akhirnya hijrah dan menjadi warga negara Toronto, Kanada. (k08)

Sumber: Kompas, Senin, 26 Januari 2004

Iklan

Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia dengan Gaya Arsitektur Cina

Januari 20, 2004

MENCARI bangunan seperti kelenteng yang bergaya arsitektur Cina tentu tidak sulit di beberapa daerah di Indonesia. Namun, masjid yang berarsitektur Cina pastilah jumlahnya sedikit sehingga sulit ditemukan. Lalu, di mana gerangan masjid dengan gaya arsitektur Cina itu?

Kalau berkunjung ke Kota Surabaya, anda akan menemukan Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia yang dibangun dengan arsitektur Cina. Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia sendiri, menjadi satu di antara tiga mesjid di Surabaya yang disarankan oleh Dinas Pariwisata Surabaya untuk mendapatkan prioritas sebagai objek wisata rohani maupun wisata umum. Dua masjid lainnya, masing-masing Masjid Ampel yang termasuk masjid tertua di Surabaya serta Masjid Agung Surabaya (MAS).

Ketua Takmir Masjid Muhammad Cheng Hoo , Ustad Drs H Burnadi ketika menerima rombongan ibu-ibu yang secara khusus melakukan silaturahmi Sabtu pekan lalu menuturkan, memang dibangun warga keturunan Tionghoa. Tetapi sebagai rumah Allah, masjid ini seperti masjid lainnya terbuka untuk masyarakat secara luas tanpa melihat warna kulit, maupun golongan,”kata ustadz yang memiliki nama asli Tjhia Sin Hak ini.

Sedangkan untuk memperingati Imlek, menurut Burnadi tidak ada peringatan secara khusus, karena masjid ini sebagai tempat ibadah. ”Kalau ada warga keturunan yang mau melakukan sujud syukur di masjid ini, selalu terbuka,” katanya.

Dia menjelaskan, Masjid Muhammad Cheng Hoo selalu terbuka untuk semua golongan. Burnadi menyebut contoh ketika masjid dipergunakan untuk Sembahyang Tarawih pada bulan Ramadhan, para jemaahnya melakukan sholat 11 rakaat dan 23 rakaat secara berurutan. (Sholat sebelas rakaat dilakukan oleh Nahdlatul Ulama sedangkan sholat 23 rakaat dilakukan oleh Muhammadiyah).

Setiap Jumat tuturnya, masjid ini tidak mampu menampung luberan jamaah yang melakukan sholat Jumat. Karena itu, Takmir menyiapkan tenda dalam ukuran sebesar dua kali lapangan bola basket.

Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia yeng terletak di jalan Gading, tidak jauh dari Taman Makam Pahlawan Kusumabangsa, Surabaya ini, merupakan masjid pertama yang dibangun dengan gaya arsitektur Cina di abad ke-20 ini, mirip Klenteng tempat ibadah umat Tri Dharma.

Masjid ini bernaung dibawah Pembina Iman Tauhid Islam (PITI) d/h Persatuan Islam Tionghwa Indonesia) Korwil Jawa Timur. Sekalipun tidak terlalu luas bahkan relatif sedang untuk ukuran sebuah masjid, daya tarik utama Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia yang memiliki areal seluas 200 meter persegi dengan kapasitas 200 orang jemaah ini, memang terletak pada arsitekturnya.

Mirip Nie Jie Beijing

Rancangan awal Masjid Cheng Hoo diilhami dari bangunan Masjid Nie Jie di Beijing. Warna-warna merah , kuning dan hijau sangat menonjol membalut bangunan masjid, mulai dari dinding, pilar, genteng.

Selintas seperti sebuah bangunan klenteng. Tetapi sebuah bedug berukuran sedang di teras menunjukkan ciri khas masjid.

Arsiteknya Ir Aziz dari Bojonegoro kemudian dikembangkan oleh Tim Pengawasn dan Pembangunan masjid dari PITI (Perhimpunan Iman Tauhid Indonesia) dan Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia.

Bangunan utama memiliku ukuran sebelas kali sembilan meter. Disamping itu terdapat delapan sisi di bagian atas bangunan utama.

Ketiga ukuran atau angka-angka itu menurut Sekretaris Korwil PITI Jatim, H.S.Willy Pangestu kepada Pembaruan, memiliki mana tersendiri. Angka sebelas untuk ukuran Kakbah saat baru dibangun. Angka sembilan melambangkan Wali Songo yang menjebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Sedangkan angka delapan, melambangkan Pat Kwa atau keberuntungan dan kejayaan.

Masjid yang dibangun mulai 10 Maret 2002 ini dengan mempergunakan bahan baku lokal ini, selesai pada 13 Oktober tahun 2002 lalu dengan beaya sebesar Rp 700 juta. Mengenai arsitektur khas Cina yang menjadi pilihan menurut Willy, tidak terlepas dari era keterbukaan yang mulai mengijinkan peringatan Imlek serta berbagai bentuk kesenian Cina ditampilkan kembali.

Nama Muhammad Cheng Hoo, menurut Willy sebagai bentuk penghormatan kepada Laksamana Haji Zheng Hee atau dikenal dengan nama Ma Zheng He. “Bagi masyarakat Indonesia terutama masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia, nama Laksamana Haji Zheng Hee atau Muhammad Cheng Hoo sudah cukup dikenal, sekalipun lebih dikenal dengan nama Sam Poo Kong bahkan masyarakat Jawa mengenalnya dengan sebutan Dampo Awang,”katanya.

Ekspedisi Laksamana HM.Cheng Hoo ( tahun 1405 – 1433 M) untuk keliling dunia membuka “Jalur Sutera dan Keramik”, selalu melintasi Indonesia. Daerah-daerah yang pernah dikunjungi antara lain, Pulau Jawa, Palembang, Aceh, Lamuri, Batak, Lide, Pulau Aru, Tamiang, Pulau Brass, Pulau Lingga, Kalimantan, Pulau Gelam, Pulau Karimata, Beliton.

Bahkan di Jawa, Panglima perang sekaligus muslim yang saleh, Laksamana H Muhammad Cheng Hoo bersama anak buahnya mendirikan sejumlah masjid dan mushola. Ekspedisinya melewati Indonesia, ketika masa kejayaan Kerajaan Majapahit, Kerajaan Samboja di Palembang, Kerajaan Samudra Pasai di Aceh.

Sebetulnya, Cheng Hoo sudah pernah membangun masjid di beberapa tempat dalam perjalanan ekspedisinya lain Masjid di Gedung Batu Semarang yang sekarang dikenal menjadi Klenteng Sam Poo Kong dan beberapa musholla di Ancol Jakarta, Cirebon Jawa Barat, dan di pantai utara Jatim mulai Tuban, Gresik, Surabaya (Klenteng Makam Mbah Ratu) dan di Bangil, Pasuruan.

Willy mengakui PITI Kabupaten Sidoarjo berminat untuk membangun masjid dengan arsitekur Tionghoa. ”Ada gagasan seperti itu, tetapi masih menunggu waktu dan dana yang cukup,” katanya. Kegiatan Imlek menurut Willy bukan milik warga keturunan Tionghoa yang beragama Tri Dharma, tetapi milik warga keturunan Tionghwa dengan agama apapun.”Imlek bukan acara ritual, tetapi merupakan suatu aktifitas budaya, yang belakangan bisa diselenggarakan secara terbuka” katanya.

Willy berharap, Masjid Haji Muhammad Cheng Hoo ini dapat dijadikan sebagai sentral kegiatan ibadah maupun kegiataan keagamaan lainnya bagi PITI. Misalnya penelitian dan pengembangan dakwah Islamiah, menyelenggarakan Majelis Taklim dan kajian agama, pelayanan kesehatan dan usaha sosial lainnya.

PEMBARUAN/EDI SOETEDJO

Sumber: Suara Pembaharuan Daily, 20 januari 2004

Rumah Tua di Menteng Diratakan dengan Tanah oleh Pemiliknya

Januari 9, 2004

Jakarta, Sinar Harapan

Rumah di kawasan Jalan Sunda Kelapa No. 1, Menteng, Jakarta Pusat, yang dilindungi SK Gubernur DKI Jakarta No.D.IV-6098/d/33/1975 tentang penetapan daerah Menteng sebagai lingkungan pemugaran diratakan dengan tanah oleh pemiliknya. Rencananya, di atas lahan seluas 600 meter itu akan dibangun rumah dengan arsitektur modern.

Pembongkaran tersebut tetap dilakukan meskipun, pihak Suku Dinas Pengawasan dan Penataan Bangunan (P2B) Jakarta Pusat, menerbitkan surat perintah penghentian pelaksanaan pengerjaan pembangunan (SP4) No. 611/SP4/P/2003 tertanggal 29 Desember 2003 yang kemudian disusul terbitnya surat penyegelan No. 01/611/1.285 tertanggal 2 Januari 2004.

Karena tidak ada upaya lain, akibat rumah sudah rata dengan tanah, Sudin P2B Jakpus akhirnya menyegel pintu pagar rumah di Jalan Sunda Kelapa No. 1 dengan cara melakukan pengelasan menyilang menggunakan besi.

Selain itu, Sudin P2B Jakarta Pusat juga meminta Dinas P2B DKI Jakarta supaya tidak mengabulkan permintaan pemilik rumah Jalan Sunda Kelapa No. 1, apabila akan mengajukan permohonan pembangunan kembali rumah tersebut.

Kepala Sudin P2B Syafrul Mustofa yang dihubungi terpisah pada Kamis (8/1) siang, membenarkan bila pihaknya melakukan penyegelan efektif pada pagar rumah di Jalan Sunda Kelapa No. 1. Penyegelan efektif atau permanen itu dimaksudkan supaya truk atau pun mobil tidak bisa masuk ke dalam areal yang disegel tersebut.
Kata Syafrul, rumah tersebut berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta D.IV-6098/d/33/1975 masuk dalam kategori B, yakni bangunan yang bernilai atau yang punya ciri-ciri dari satu masa dengan struktur yang masih baik membentuk lingkaran serasi. Bangunan dengan kategori B, tidak boleh diubah badan utamanya, struktur utama, atap, maupun pola tampak muka.

Saat melakukan penyegelan, petugas Sudin P2B tidak berhasil menemui pemilik rumah atau pun kontraktornya. Yang bisa ditemui hanya petugas keamanan dari PT Mawa Cipta Wisesa, yang bernama Rahman.

Petugas keamanan itu mengaku tidak tahu ketika ditanya soal perizinan dan persetujuan pembongkaran rumah tersebut. (sat)

Sumber: Harian Sinar Harapan, Jum’at, 09 Januari 2004.

Mengenang KAA, Merestorasi Bangunan Lama

Januari 6, 2004

Oleh H. Soewarno Darsoprajitno

BANGUNAN tempo doeloe yang dimaksud di sini yaitu yang berkaitan dengan lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Beberapa bangunan di antaranya yang perlu diketengahkan di sini yaitu Gedung Indonesia Menggugat (Kalijati), Balai Kota Bandung, dan Gedung Sejarah Linggajati (Kuningan). Kelima bangunan tersebut tampak sekali belum mendapat perhatian sesuai dengan UU No. 9/1990 tentang Kepariwisataan dan UU No. 5/1992 tentang Benda Cagar Budaya.

Kelima gedung bersejarah tersebut berdasarkan UU No. 9/1990, memiliki nilai sosial-ekonomi dan dapat dibina melalui kegiatan kepariwisataan untuk membuka lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan asli daerah, pendapatan masyarakat, dan devisa negara. Sementara itu, nilai budayanya dapat mengacu pada UU No. 5/1992 dan dapat digunakan untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya dan sekaligus mencerdaskan kehidupannya. Apalagi Kota Bandung yang terletak di Jawa Barat memiliki keunikan sejarah alam dan budaya manusia yang telah membentuk ekologi yang menarik, berhasil pula mewarnai berbagai bangsa Asia-Afrika (AA) yang memperjuangkan kemerdekaan nasionalnya dengan mengacu pada semangat “Bandung Lautan Api” (BLA).

Untuk memperkenalkan kembali semangat BLA yang didahului berbagai peristiwa bersejarah dan semuanya terekam di kelima bangunan Tempo Doeloe, ada baiknya jika kelima bangunan tersebut segera dipelajari kembali keunikan sejarahnya. Keunikan sejarah ini dapat dibina untuk pelawatan wisata para peserta upacara HUT Konferensi AA yang tidak mustahil akan menjadi inspirator yang kuat bagi pembinaan kemerdekaan nasionalnya dan sekaligus untuk promosi pariwisata Jawa Barat dengan Kota Bandung sebagai inti DTW (daerah tujuan wisata). Waktu untuk pembinaannya masih cukup lapang dan Pemerintah Kota Bandung dapat menjadi koordinator pembinaan bersama Pemerintah Kabupaten Sukabumi, Subang, dan Kuningan melalui lembaganya yang berkaitan.

Nilai sosial, ekonomi, dan budaya

Membina dan memelihara peninggalan budaya seperti halnya bangunan tempo doeloe dapat dilakukan dengan prinsip konservasi agar budaya dukungan lingkungannya meningkat untuk kepentingan pendidikan, penelitian, dan pariwisata. Prinsip konservasi ini pun juga memerlukan pemintakatan (zonation) untuk melindunginya secara fisik dan nonfisik agar kehadirannya tetap mantap dan memenuhi hajat hidup manusia secara universal. Secara sosial, kelima bangunan bersejarah tersebut tanpa diminta atau dibeli, dapat memberikan insiprasi bagi umumnya manusia untuk memberdayakan diri melalui berbagai macam kegiatan ekonomi yang erat kaitannya dengan kegiatan kepariwisataan yang mengacu pada prinsip konservasi.

Kegiatan konservasi tidak selamanya bersifat mengekang, tetapi justru sebaliknya bersifat mendorong peningkatan kegiatan ekonomi dan budaya. Secara ekonomi budaya data dan informasi sejarah yang terekam pada bangunan Tempo Doeloe, sekarang dapat dimanfaatkan untuk tumpuan atau pedoman merancang bangun pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan sekaligus mencerdaskan kehidupannya. Oleh karena itu, alangkah sayangnya jika sumber daya fisik dan nonfisik berupa bangunan tempo doeloe yang bersejarah tersebut terbengkalai atau rusak tanpa ada pemanfaatan sedikit pun untuk kepentingan pembangunan nusa dan bangsa.

Gedung Indonesia Menggugat

Bekas gedung pengadilan Hindia Belanda yang disebut “Landraad” tempat Ir. Soekarno (Bung Karno) diadili dan sekarang disebut “Gedung Indonesia Menggugat”, memiliki rekaman sejarah yang menjengkelkan Pemerintah Hindia Belanda. Kejengkelan tersebut disebabkan oleh pernyataan Bung Karno bahwa Perang Dunia II tidak lama lagi akan pecah dan perang Pasifik akan mengimbas ke Hindia Belanda hingga mencabut seluruh akar penjajahan Belanda di Indonesia. Pernyataan Bung Karno ini membuat pengadilan Hindia Belanda berang hingga menjatuhkan hukuman lebih dari tiga tahun, walaupun kesalahan utama sebagai perintis kemerdekaan tidak terbukti. Selama proses pengadilan, Bung Karno ditahan di penjara Banceuy di dalam sel berukuran luas satu kali dua meter persegi. Sayang amat bangunan bersejarah ini tidak mendapat perhatian masyarakat sejarah termasuk Pemerintah Kota Bandung, padahal memiliki rekaman sejarah perjuangan kemerdekaan dalam bentuk pembelaan Bung Karno pada tahun 1930-1931.

Hotel Selabintana

Pada awal tahun 1941 sebuah delegasi Pemerintah Fasis Jepang tiba di Batavia (Jakarta) dengan kapal laut dipimpin oleh Kobayashi untuk merundingkan alokasi pembelian minyak mentah. Perundingan yang diselenggarakan di Hotel Selabintana Sukabumi yang dikelilingi bentang alam pegunungan yang sejuk dan indah, mengalami jalan buntu. Pasalnya, ketua delegasi Hindia Belanda yang dipimpin oleh Wakil Gubernur Jenderal van Mook menolak permintaan tambahan alokasi penjualan minyak ke Jepang. Hal itu disebabkan tambang minyak di Hindia Belanda lebih banyak dikuasai perusahaan Amerika dan Inggris, sedangkan yang dikuasai perusahaan Belanda BPM (Bataavsche Peutroleum Maatschapij) tidak mencukupi untuk memenuhi permintaan Jepang.

Akibatnya, delegasi Jepang berang dan menghentikan perundingan. Pemerintah Jepang yang ikut berang akhirnya memutuskan untuk menyerang Hindia Belanda dan menguasai seluruh pertambangan minyak dan pecahlah Perang Dunia II pada akhir tahun 1941, persis seperti yang diramalkan Ir. Soekarno dalam pidato pembelaannya di pengadilan kolonial di Bandung.

Perundingan di Kalijati Subang

Pada waktu pasukan Jepang mendarat di Pulau Jawa, salah satu pasukan istimewanya yang mendarat di Eretan Indramayu, dalam waktu kurang dari satu hari berhasil menduduki Lapangan Terbang Kalijati. Sekali pertempuran hebat terjadi di Ciater dan pasukan Hindia Belanda tidak dapat menandinginya hingga banyak jatuh korban atau melarikan diri dengan menanggalkan berbagai macam perlengkapan militernya. Pada tanggal 8 Maret 1942 Letnan Jenderal Hitoshi Imamura pimpinan tertinggi pasukan Jepang yang mendarat di Pulau Jawa, mengundang pimpinan tertinggi pemerintahan Hindia Belanda untuk berunding di Kalijati. Undangan tersebut diterima dan hadirlah Gubernur Jenderal Hindia Belanda Tjarba van Starkenburg Stakhouwer dan Letnan Jenderal Ter Poorten.

Tetapi, karena kekuasaan sudah ditangani Ter Poorten, Tjandra dikesampingkan Jepang dan meminta agar menyusun agenda perundingan. Pada tanggal 9 Maret 1942 yaitu hari yang diminta pimpinan tertinggi angkatan perang Hindia Belanda, Letnan Jenderal Hitoshi Imamura memaksakan agenda perundingan agar Hindia menyerah saja tanpa syarat atau meneruskan pertempuran habis-habisan. Akhirnya Ter Poorten yang tampaknya tidak dapat berbuat apa pun, memilih menyerah tanpa syarat dan selanjutnya minta pengawalan untuk kembali ke markas besarnya di Grand Hotel Lembang di Lembang untuk mempersiapkan timbang terima kekuasaan di Bandung.

Penyerahan kekuasaan di Balai Kota Bandung

Tanggal 10 Maret 1942 menjadi hari penyerahan kekuasaan Belanda atas Indonesia kepada pasukan pendukung Jepang dan berakhirlah sudah kekuasaan de facto Belanda atau bumi nusantara sesuai perhitungan cemerlang Ir. Soekarno. Pada hari itu juga Ter Poorten dan Tjarda yang ikut menyaksikan penyerahan, langsung ditawan dan dibawa ke Formosa (Taiwan) dan akhirnya ke Manshuria. Beberapa hari sebelumnya, van Mook yang didampingi seorang perwira intelijen Mayor S.H. Spoor melarikan diri ke Australia dengan pesawat Dakota dan tinggal landas dari Jalan Buah Batu karena takut akan pembalasan dari pasukan Jepang.

Van Mook selanjutnya membentuk pemerintah pengasingan di Australia dan dikenal “Netherland Indie Civil Administration (NICA)” dan Mayor Simon H. Spoor yang kemudian menjadi pimpinan tertinggi angkatan perang di Indonesia dengan pangkat letnan jenderal akhirnya gugur di Sumatra Barat di daerah perbukitan yang berhutan lebat di daerah Kuranji. Di daerah ini konvoi Jenderal Spoor bersama pasukan pengawalnya dihadang Mayor Ahmad Husein bersama pasukannya yang juga dikenal sebagai Harimau Kuranji pada tahun 1949.

Linggajati Kuningan

Pada tanggal 24 Maret 1946 pecahlah peristiwa nasional yang menggetarkan dunia akibat terjadinya pembumihangusan kota yang kemudian dikenal sebagai “Bandung Lautan Api (BLA)”. Peristiwa ini selanjutnya mendorong terjadinya perang gerilya kota yang sangat menjengkelkan Sekutu (Inggris) karena para gerilyawan tidak dapat membedakan mana bule Inggris dan mana bule Belanda. Akhirnya, Sekutu yang dipercaya untuk membebaskan para tawanan perang dan pengembalian pasukan Jepang, memercayakan kepada Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan mempersenjatainya dengan 3.000 pucuk senjata ringan.

Peristiwa ini membuat NICA-Belanda amat berang kepada Sekutu dan selanjutnya menyarankan agar Belanda berbicara satu meja dengan pemerintah RI. Belanda yang akan ditinggalkan Sekutu di Indonesia akhirnya terpaksa menerima saran Sekutu dan selanjutnya terjadilah perundingan di Linggajati di Kuningan. Peristiwa ini menunjukkan bahwa NICA-Belanda harus mengakui de facto RI yang juga dikehendaki dunia internasional.

BLA yang menghasilkan pengakuan de facto RI ini sebenarnya merupakan perjuangan nasional sebab di samping sasarannya kemerdekaan nasional, para pejuangnya pun terdiri dari berbagai unsur bangsa Indonesia. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika semua peristiwa di atas dipelajari lagi secara oral history karena berbagai data dan informasi sejarah perjuangan masih banyak tersebar namun hanya terekam dalam ingatan. Demikian pula dengan kelima bangunan tempo doeloe yang memiliki rekaman sejarah lahirnya NKRI perlu pula direstorasi untuk kepentingan pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan sekaligus mencerdaskan kehidupannya dan dapat dibina untuk sarana pendidikan, penelitian, serta kepariwisataan menyambut HUT ke-50 Konferensi AA.

Penulis, ahli geologi wisata ekologi, pemerhati tata alam dan perilaku budaya manusia.

Sumber: Harian Pikiran Rakyat, Selasa, 06 Januari 2004

Dasima dan Kisah Para Nyai

Januari 4, 2004

Laporan: Alwi Shahab

Terletak sekitar 10 km dari pasar Parung, daerah Ciseeng di Kabupaten Bogor berkembang pesat. Belasan tahun lalu jalan menuju Ciseeng sebagian masih tanah dan rusak berat. Kini sejumlah perusahaan real estate membangun perumahan di sana. Sementara pesantren Al-Mukhlisini pimpinan KH Zainal Abidin yang memiliki ribuan santri kini sudah membesar dengan membangun perguruan tinggi. Di kawasan ini juga terdapat pemandian air panas yang belum dikelola baik. Berbelok ke arah kanan dari Ciseeng dari Parung, terdapat desa Kuripan, setelah naik ojek sekitar dua kilometer.

Diriwayatkan di desa yang berhawa sejuk inilah lahir dan dibesarkan gadis cantik bernama Dasima. Kemudian untuk mencari penghidupan yang lebih baik, ia mengadu nasib ke desa Curug, Tangerang. Sulit dibayangkan bagaimana Dasima mencapai Curug dari desa terpencil dan belum ada jalan macam sekarang ini. Yang pasti, Dasima kemudian bekerja pada seorang Inggris kaya raya, Edward Williams, yang merupakan orang kepercayaan Raffles. Karena tergoda gadis desa yang bahenol ini, William memeliharanya sebagai nyai atawa gundik, tanpa dinikahi.

Kisah Dasima selanjutnya memilukan hati. Menurut versi G Francis (1896), sekalipun Dasima diberlakukan baik oleh tuannya, tapi ia mengalah pada guna-guna dan meninggalkan suami serta putrinya yang masih kecil bernama Nancy. Ia lantas menjadi istri kedua Samiun, tukang sado dari Kwitang. Tapi, sebenarnya bukan karena guna-guna Dasima meninggalkan tuan dan putrinya, tapi setelah diinsafkan bahwa hidup tanpa nikah adalah dosa besar. Akhirnya nyai dari Kuripan ini mati dibunuh Bang Puase atas perintah istri pertama Samiun, Hayati yang gila ceki (permainan judi Cina). Mayatnya dilemparkan ke kali Ciliwung dari Jembatan Kwitang, dekat toko buku Gunung Agung dan Hotel Aryaduta sekarang. Sedangkan, tempat kediaman William, pada peristiwa dua abad lalu itu diperkirakan terletak di samping gedung Pertamina dan Dirjen Perhubungan Laut di Medan Merdeka Timur. Kisah Nyai Dasima ini telah beberapa kali diangkat ke layar film dan sinetron serta diterjemahkan dalam berbagai bahasa.

Kisah nyai-nyai yang berlangsung pada dua abad lalu ini menjadi jamak karena orang Belanda dan Cina yang tiba di Batavia saat itu sering tanpa disertai istri. Mereka mengawini wanita pribumi atau mengambil nyai (gundik), terutama dari kalangan budak. Sebetulnya, pergundikan yang merupakan tradisi masyarakat kolonial Portugis sangat dibenci Gubernur Jenderal JP Coen. Tapi, hal itu terjadi karena penduduk Batavia sebagian besar pria. Coen ingin menjadikan Batavia sebagai kota Belanda yang murni. Untuk itu ia berkali-kali minta agar banyak wanita Belanda termasuk para gadis yatim piatu untuk dikirim ke Batavia, tapi tidak berhasil. Kecuali kepada para pegawai tinggi yang diizinkan membawa istri dan anak-anak, Heren 17 (Dewan Tertinggi VOC) melarang mengirim wanita Belanda ke Asia.

Orang-orang Eropa yang mengawini wanita pribumi cendrung kehilangan ciri-ciri Eropa tertentu dan mengambil berbagai gaya hidup pribumi. Mereka inilah yang sampai tahun 1950-an disebut Indo Belanda. Mereka sendiri oleh kaum Belanda totok diberlakukan sebagai orang Eropa kelas II, bahkan kelas III dan IV. Tidak heran banyak warga Belanda yang setelah mengawini wanita pribumi akan lebih memilih untuk tetap hidup di Indonesia setelah masa jabatannya habis. Apalagi pada masa VOC mereka tidak disediakan tiket untuk pulang.

Sejak JP Coen menaklukan Jayakarta (1619), ia memang memerlukan banyak tenaga kerja. Sementara Belanda dan Cina yang datang tanpa istri membutuhkan para budak wanita untuk dikawini atau dipelihara sebagai nyai dan gundik. Jumlah budak lantas berkembang sangat cepat, hingga pertengahan abad ke-17 jumlahnya mencapai separuh penduduk Batavia. Sensus tahun 1681 mencatat dari 30.740 penduduk Batavia, sebanyak 15.785 adalah budak belian. Tahun 1730 jumlah mereka meningkat dua kali lipat menjadi 30 ribu sehingga menjadi kelompok penduduk terbesar. Perbudakan baru dihapuskan pada 1860. Di antara para budak belian di Batavia, banyak yang dibeli di pasar-pasar budak di India, seperti di pantai Malabar dan Coromandel, selain dari Bali dan Sulawesi Selatan. Di Batavia kala itu juga terdapat tempat jual beli budak. Pada masa Gubernur Jenderal Van den Parra (1761-1775) hampir setiap tahunnya dilakukan impor empat ribu budak.

Tentu saja nasib para budak sangat menyedihkan. Mereka bekerja tanpa dibayar dan tidak ada jaminan hukum terhadap mereka. Menurut Adolf Heuken, warga Jerman yang banyak menulis tentang Jakarta, justru para nyai atau gundik inilah yang bernasib baik. Beberapa nyai bahkan memiliki beberapa budak belian untuk berbagai keperluan sehari-harinya. Para budak juga dipekerjakan di kebun-kebun yang dibeli para nyai. Sebagai contoh Nyai Rokya (1816) yang memiliki 22 budak. Ia masih kalah dengan seorang janda kaya yang jadi gundik Cina kaya raya yang mewarisi 32 budak belian. Baru pertengahan abad ke-19, setelah dibukanya Terusan Suez dan pelayaran dengan kapal uap ke Hindia Belanda hanya butuh waktu satu bulan, banyak warga Belanda datang ke Batavia dengan disertai istri dan keluarganya. Sebelumnya pelayaran dari Eropa ke Batavia memerlukan waktu enam bulan dengan berbagai risiko di laut.

Sumber: Republika, Minggu, 04 Januari 2004