Archive for the ‘Arsitek Indis’ Category

Kiprah HERMAN THOMAS KARSTEN di Indonesia

Januari 7, 2005

Oleh Ir. Etikawati Triyoso Putri, MSA
Staf Pengajar Jurusan Arsitektur Universitas Merdeka Malang

Pada tahun 1914 seorang arsitek warga negara Belanda datang ke Indonesia atas undangan teman arsitek lainnya yang telah lebih dahulu datang ke Indonesia, yaitu Henri Maclaine Pont, pemilik sebuah biro disini. Setahun kemudian, Herman Thomas karsten membeli biro tersebut, karena pemiliknya harus kembali ke Belanda dalam rangka kesehatannya. Dari sinilah tonggak kiprah Herman Thomas Karsten dimulai.

Herman Thomas Karsten adalah insunyur arsitek lulusan Technische Hoogeschool di Delft yang masuk tahun l904 yaitu dua tahun setelah Henri Maclaine Pont. Karsten lahir tahun 1884 dan keluarga terdidik di Amsterdam. Ayahnya seorang profesor dalam ilmu filsafat dan wakil ketua Chancellor (Pembantu Rektor/Direktur) di Universitas Amsterdam. Semasa mahasiswa, sejak tahun pertama, Karsten aktif di perkumpulan mahasiswa sosial demokratis (STY = Social- Technische Vereenaging van Democratische Ingenieur en Architecten), yaitu suat kelompok mahasiswa teknik arsitekur berhaluan demokrasi. Tahun 1908 Karsten menjadi anggota pengurus bagian perumahan dari organisasi yang memegang peranan penting dalam masalah perumahan dan perencanaan kota. Padahal pada masa itu pada jurusan Arsitektur di Delft, tidak terlalu banyak memberikan perhatian pada masalah perumahan maupun perencanaan kota.

Tahun 1913, pengalaman Karsten diperoleh dengan diadakannya Kongres Perumahan Internasional di Schevenigen Belanda yang intinya menguraikan buruknya kondisi perumalin terutama pada sistem penghawaan dan pencahayaannya di Indonesia, dengan mengetengahkan kondisi kampung-kampung di Semarang. Pengalaman selanjutnya, kunjungan ke Berlin; dimana Berlin adalah sebuah kota yang sangat maju dalam perencanaan kota dan perumahan. Bidang yang menjadi ajang kiprahnya di Indonesia sama dengan bidang yang menjadi latar belakangnya, yaitu bangunan dan perencanaan kota. Beberapa tahun sebelum Karsten datang ke Indonesia, sudah ada aktivitas~aktivitas lokal dalam perencanaan kota.

Beberapa peristiwa yang dianggap dapat dipakai sebagai tonggak perkembangan perencanaan kota modern di Indonesia, adalah:

Revolusi Industri di Eropa. Hal ini secara tidak langsung memberikan dua pengaruh penting. Pertama, peningkatan kebutuhan bahan mentah, menyebabkan timbulnya kota-kota adininistratur di Indonesia. Kedua, berkemhangnya konsep-konsep perencaan kota modern yang tercetus sebagai tanggapan atas revolusi industri Misalnya konsep “Garden City” oleh Ebeneser Howard. Karstenpun dalam kiprahnya di Indonesia juga terpengaruh akan hal ini Politik kulturstelsel. Politik ini menyebabkan berkembangnya perkebunan tanaman keras, dan dapat pula dianggap sebagal awal berkembangnya wilayah pertanian dan kota-kota administratur perkebunan Politik Etis (Etische Politiek). Politik mempunyai dampak bagi perkembangan perencanaan kota di Indonesia, dengan dikembangkannya perbaikan kampung kota (1934) Pengembangan Pranata dan Konstitusi Baru. Terbitnya UU Desentralisasi “Decentralisatie Besluit Indisehe Staatblad” tahun 1905/137, yang mendasari terbentuknya sistem kotapraja (Staadgemeente) yang bersifat otonom. Hal ini memacu perkembangan konsepsi perencanaan kota kolonial modern, khususnya “Garden City” atau “Tuinstad”. Pada pelaksanaan poin 4 (empat) yaitu politik dosentralisasi yang memberikan otoritas kepada daerah dalam pengembangannya, kota-kota mulai berkembang pesat, salah satu penyebabnya adalah tumbuh dan berkembangnya perkebunan dan industrialisasi. Akibatnya, penduduk terlalu padat, keadaan kota semakin buruk, terutama dalam hal sanitasi dan pengadaan air minum. Dalam situasi seperti ini Karsten diangkat manjadi penasihal otoritas 1okal untuk perencanaan kota Semarang, bekerja sama dengan jawatan pekerjaan umum Selain dari pada itu Karsten manjadi bagian dalam kelompok orang-orang Belanda pendukung kemerdekaan untuk Indonesia Karsten mrmperlihatkan perhatian yang cukup besar kepada penduduk asli dan kebudayaannya, terutama peda arsitektur dan tata ruang Kota Dalam kapasitasnya sebagai penaseh, Karsten menyusun suatu “paket” lengkap untuk perencanaan berbagai kota, dimana didalamnya terdiri dan perencanaan kota (town planning), rencana detail (detail plan) dan peraturan bangunan (building regulation). Di Jawa Karsten merencanakan sembilan dari sembilan belas kota-kota yang mendapat otoritas lokal. Kesembilan kota tersbut adalah Semarang, Bandung, Batavia (Jakarta), Magelang, Malang, Buitenzorg (Bogor), Madiun Cirebon, Meester (Jatinegara), Yogya, Surakarta, dan Purwokerto.

Dalam kiprahnya di Semarang, Karsten menerapkan prinsip perencanaan kola, penzoningan, tingkatan/hirarki jalan-jalan seperti di Eropa. Perencanaannya juga mengacu perencanam pemerintah kota sebelum Karsten datang. Pengaruh Karsten dalam pengembangan kota adalah dengan adanya pembagian lingkungan yang tidak lagi berdasarkan suku, tetapi kelas ekonorni, yaitu tinggi, menengah dan rendah. Dalam perencanaan daerah Candi, Semarang, pengaruh gaya Eropa cukup dorninan terutama konsep “garden city”. Hal ini terlihat dengan adanya taman umum dan halaman pada setiap rumah. Untuk perletakan rumah, taman umum dan ruang terbuka, Karsten sejauh mungkin mengikuti keadaan topografi, kemiringan-kemiringan dan belokan-belokan yang ada. Pembagian tanah dan arah jalan yang hanya terdiri dan dua kategori (utama dan sekunder), selain mengikuti keadaan tanah juga dibuat sedemikian rupa sehingga rumah-rumah dan taman-taman umum dapat memiliki pemandangan indah ke laut sebelah utara.

Bagaimana halnya dengan kiprah Karsten di dalam perercanaan dan perancangan bangunan?. Beberapa bangunan yang telah mewarnai arsitetur 0 kota, khususya kota Semarang adalah gedung SMN (Stoomvart Nederland), sebuah perusahaan pelayaran kolonial, yang dibangun di kawaaan pusat kota – waktu itu den – tahun 1930. Gedung kantor perusahaan kereta api (dahulu benama Zuztermaatschapijen, kemudian, Joana Stroorntraam-Maatchappiej) di jalan MH Thamrin Semarang juga hasil rancangannya. Selain bangunan kantor Karsten juga dalam kerja samanya dengan pernerintah kota, membangun banyak pasar dan museum. Pasar hasil karyanya adalah pasar Jatingaleh (1930), pasas Johar (1933), Pasar Sentral (1936) di Semarang; dan, pasar Ilir di Palembang. Sedangkan museum Sonobudoyo di kompleks kraton Yogyakarta. Karsten juga pernah diserahi tanggungjawab untuk perluasan dan modifikasi kraton Mangukunegoro ke VII di Surakarta (1917-20).

Gedung Zuztermaatschapijen sudah lebih adaptif dengan arsitektur lokal, yaitu arsitektur joglo. Untuk menyelesaikan masalah penghawaaan Karsten banyak membuat bukaan (pintu , jendela maupun lubang ventilasi) yang lebarnya sama dengan jarak antar trave-nya Pembukan ini dipadu dengan tinggi plafon yang sangat tinggi (5.44 M untuk ruang-ruang di pinggir, dan l0.44 pada ruang-ruang di tengah). Perbedaan ketinggian ini sekaligus dimanfaatkan untuk pencahayaan. Untuk jenis bangunan yang berfungsi sebagai pasar, tiga buah pasar yang ada di Semarang mempunyai keminpan arsitektur antara satu dengan lainnya, sedangkan sebuah lagi di Palembang berbeda. Pasar Johar merupakan pasar termodern dan terbesar di Indonesia pada waktu itu, letaknya hanya beberapa ratus meter dari Kota Lama Semarang. Dari segi struktur dikatakan modern karena strukur yang diterapkan di pasar Johar ini adalah terbaru di Indonesia, bahkan di dunia. Struktur tersebut adalah stukur jamur (mushroom). Arsitek kaliber dunia Frank Lloyd Wright memakai struktur ini untuk karyanya – Johnson Waz Building di Wisconsin (1936). Jika Karsten memakai penampang kolom maupun bagian atasnya berbentuk segi delapan maka Frank memakai bentuk lingkaran.

Dengan segala sepak terjangnya di bidang perancangan dan perencanaan bangunan maupun kota, Karsten dihadapkan pada masalah kurangnya tenaga terampil. Karsten menginginkan peningkatan dalam pendidikan ahli telnik. Atas usaha suatu komite tenik, Karsten mengambil bagian dalam kuliah perencaan kota di ITB Bandung. Akan tetapi karena invasi Jepang Karsten hanya dapat menjadi profesor selama enam bulan. Pada tahun 1945 Karsten meninggal dalam interniran Jepang di Cimahi(ET).

Sumber: http://www.mintakat.unmer.ac.id/edisi/1/1_4.html

Iklan

Mengenang Karsten di Lawangsewu

Desember 18, 2004

GEDUNG Lawangsewu yang sehari-hari senyap, sejak Rabu (15/12) lalu terlihat ramai. Alunan lagu-lagu pop terdengar dari pengeras suara yang terdapat di selasar depan, menyambut kedatangan puluhan orang di bangunan tua bekas kantor Nederlansch Indische Spoorweg Maatscappij (NIS) tersebut.

Di depan pintu utama, terpampang dua poster besar. Di sisi kanan bergambar seorang lelaki berkumis mengenakan kacamata. Tak perlu susah-susah menerka siapa tokoh itu, sebab di bawahnya tertera sebuah nama: “Ir Herman Thomas Karsten”, beserta biografi singkat yang disusun laiknya tabel.

Poster di sebelah kiri bergambar seorang lelaki dengan pakaian bersahaja dengan sebaris tulisan: “Semarang 2020 Come to the Humanizing City”, Tribute to Herman Thomas Karsten, Semarang 1914-2004.

Ya, seperti terpapar dalam poster tersebut, keramaian Lawang Sewu karena ada peringatan ulang tahun ke-90 Herman Thomas Karsten, arsitek masyhur Belanda pencipta karya-karya agung di Hindia Belanda. Acara yang digagas Komunitas Inisiatif Telaah Arsitektur (KITA) Semarang itu menyajikan tiga agenda utama, yakni pameran foto karya arsitektur Karsten, pameran produk arsitektur, seminar dan penganugerahan penghargaan yang berlangsung 15-18 Desember.

Pameran foto karya arsitektur Karsten digelar di dalam lima ruangan depan. Tidak semuanya, hanya yang terdapat di Kota Semarang. Bangunan-bangunan tersebut antara lain Zustermaatscappijen de Semarang (sekarang Kantor PT KAI Daop IV) di Jl MH Thamrin, Djakarta LLyod Stoomvart Nederland (Kantor PT Djakarta Llyod/ persero) Jl Kutilang, Pasar Randusari, Pasar Johar, Semarang-Cheribon Stoomtram Maatscappij (Stasiun Poncol), Nederlansch Kerk (Gereja Blenduk), St Elizabeth Ziekenhuis (Rumah Sakit Elizabeth) dan Taman Diponegoro. Setiap objek ditampilkan dalam beberapa sudut pengambilan.

Aneka Perabot

Pameran produk arsitektur digelar pada beberapa ruang yang terletak sedikit ke dalam. Aneka perabot seperti kap lampu, gorden, sketsel, bantal, lukisan, water purifier (penjernih air), hingga pernik-pernik hiasan fengshui dapat disaksikan sekaligus dibeli. Pameran berlangsung tiga hari, pukul 09.00-16.00.

Lebih menarik adalah seminar arsitektur yang diadakan dua hari, 17-18 Desember. Seminar menampilkan sejumlah pakar dari beragam disiplin ilmu, antara lain Ir Albertus Sidharta MSA, Ir Antonius Ardiyanto MT, Ir AMS Darmawan, M Bldg, Ir Agung Prijo Oetomo, dan Drs Darmanto Jatman SU.

Adapun penganugerahan penghargaan arsitektur akan diberikan kepada perseorangan atau kelompok, baik swasta maupun pemerintahan yang punya kontribusi konkret terhadap arsitektur dan perkotaan di Semarang. (Rukardi-89)

Sumber: Suara Merdeka, Sabtu, 18 Desember 2004

Mencari Jejak Keturunan Charles Prosper Wolff Schoemaker

Maret 1, 2004

TERKADANG Tuhan memberi pertolongan melalui jalan yang tak terduga. Seperti yang terjadi ketika Perhimpunan Amatir Foto (PAF) Bandung berencana merayakan hari jadinya yang ke-80 pada Februari 2004 ini. Para pengurus PAF menginginkan agar keturunan dari salah seorang pendiri PAF, Prof.Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker (1882-1949), dapat hadir dalam perayaan hari jadi tersebut. Namun, yang menjadi kendala, tak seorang pun dari pengurus atau anggota PAF yang mengetahui keberadaan keturunan dari Prof. Schoemaker itu.

Walaupun tidak memiliki keterangan apa pun tentang di mana keturunan Schoemaker berada, hal itu tidak membuat gentar Solihin, salah seorang pengurus PAF. Sejak akhir Januari lalu, dengan ulet ia membuka situs genokologi di internet, untuk melacak garis keturunan Schoemaker. Ia pun menghubungi konsulat dan Kedutaan Besar Belanda di Indonesia demi mendapatkan keterangan yang dibutuhkan.

Upaya Solihin menghasilkan sedikit titik terang, saat melalui internet diketahui keberadaan salah seorang keturunan Schoemaker yang tinggal di Belanda. Solihin segera menghubungi orang tersebut dan menceritakan rencana PAF, walaupun yang bersangkutan bukan keturunan langsung Wolff Schoemaker.

Tak disangka, beberapa waktu kemudian orang Belanda itu memberi tahu Solihin bahwa ada cucu langsung dari Wolff Schoemaker yang saat ini sedang berada di Jakarta. Kepada Solihin ia memberi tahu bahwa ia telah menceritakan rencana dan niat PAF untuk menghadirkan salah seorang keturunan langsung dari Wolff Schoemaker (cucu Schomaker), yang kemudian diketahui bernama Juan Schoemaker.

Juan Schoemaker ternyata sudah berada di Indonesia selama lebih dari enam bulan. Ia adalah seorang peneliti untuk Johns Hopkins University yang sedang bertugas di Indonesia. Tanpa kesulitan yang berarti Solihin akhirnya dapat menghubungi Juan Schoemaker dan menceritakan rencananya. Juan bersedia datang ke Bandung pada hari Minggu (22/2) untuk menghadiri tabur bunga di Pemakaman Kristen Pandu yang diselenggarakan oleh PAF.

Yang membuat kisah pencarian ini semakin menarik adalah ternyata tidak hanya Solihin dan PAF yang sibuk mencari keturunan Wolff Schoemaker. Juan pun ternyata sudah sejak lama mencari “akar keturunannya” yang ada di Indonesia.

Seperti dituturkan kepada “PR”, saat tabur bunga di Pemakaman Pandu, Minggu (2/2), Juan sebenarnya sangat penasaran mengenai keberadaan kakeknya atau kerabat lainnya yang ada di Indonesia. Berbagai upaya telah ia lakukan untuk menelusuri garis keturunannya, namun selalu menemukan jalan buntu. Informasi yang ia ketahui hanya sebatas bahwa Wolff Schoemaker adalah seorang arsitek dan pernah tinggal di Indonesia.

Sampai suatu saat, ia berkunjung ke New Zealand dan menginap di sebuah hotel. Kebetulan, saat itu ia bertemu dengan seorang arsitek dan mereka terlibat dalam sebuah obrolan. Secara iseng Juan menanyakan tentang Wolff Schoemaker. Orang tersebut ternyata mengenal nama Wolff Schoemaker dan memberi tahu bahwa Wolff Schoemaker merupakan arsitek ternama di Indonesia dan dimakamkan di Bandung.

Pada sebuah akhir pekan di bulan Juni 2003, Juan sengaja berkunjung ke Bandung hanya untuk mencari informasi tentang keberadaan makam kakeknya. Setiba di Bandung ia langsung menanyakan di mana letak pemakaman Kristen. Akhirnya ia dibawa ke Pemakaman Pandu. Namun, betapa kecewanya dia ketika di dalam arsip Pemakaman Pandu nama Wolff Schoemaker tidak tercatat.

Juan nyaris meninggalkan Bandung hari itu juga, namun ia merasa penasaran untuk menanyakan kepada pedagang bunga di Pemakaman Pandu. Ia berpikir siapa tahu para pedagang ini lebih tahu tentang orang-orang yang dimakamkan di Pandu. Ternyata para pedagang bunga itu memang mengetahui makam Wolff Schoemaker.

Akhirnya pencarian Juan mendapat hasil, ia dapat berdiri di hadapan pusara kakeknya, Prof.Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker di Pemakaman Pandu Bandung.

Pada bulan Agustus 2003, Juan kembali berangkat ke Indonesia. Kali ini untuk menjalankan tugasnya sebagai peneliti masalah sosial.

**

LALU bagaimana Juan Schoemaker bisa tahu PAF sedang mencari keturunan Wolff Schoemaker? Prosesnya pun terjadi secara kebetulan juga. Seperti dituliskan di atas, Juan pernah mengunjungi New Zealand dan bertemu dengan seorang arsitek. Arsitek tersebut kebetulan teman dari orang Belanda yang dihubungi Solihin. Ia memberi tahu temannya itu bahwa ada seseorang yang juga bernama belakang Schoemaker sedang mencari kakeknya yang bernama Wolff Schoemaker. Akhirnya diketahui bahwa orang Belanda itu ternyata saudara sepupu Juan. Arsitek itu kemudian memberi informasi keberadaan Juan.

Dua anggota keluarga yang pareumeun obor itu akhirnya melakukan kontak dan Juan kemudian tahu bahwa dirinya sedang “dicari” untuk menghadiri perayaan hari PAF. “Ini kedua kalinya saya datang ke makam kakek saya. Banyak kejadian yang terjadi secara kebetulan dalam perjalanan saya mencari garis keturunan dan kerabat saya. Dengan berbagai peristiwa ini membuat saya semakin bersemangat untuk terus mencari keberadaan kerabat-kerabat saya,” ujarnya.

Juan mengisahkan, ia dilahirkan di Paraguay dan sudah ditinggalkan ayahnya sejak usia tiga tahun. Ia kemudian bersekolah di Amerika Serikat dan menjadi warga negara di sana. Sejak masih muda Juan selalu penasaran tentang garis keturunannya. Yang ia tahu, ayahnya adalah keturunan Belanda yang lahir di sebuah negara bernama Indonesia, kemudian pindah ke Paraguay dan menikahi ibunya, seorang perempuan Paraguay asli. “Tetapi saya punya akar yang cukup kuat di Indonesia. Ayah saya lahir di Indonesia, kakek saya juga lahir di Indonesia, begitu juga nenek buyut saya lahir di Batavia. Saya juga merasa sangat bangga ternyata kakek saya merupakan tokoh terkenal,” tuturnya.

**

SIAPAKAH Wolff Schoemaker? Prof.Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker, selain salah seorang pendiri PAF, ia adalah seorang arsitek Belanda yang terlibat dalam membentuk wajah Bandung tempo dulu. Berbagai bangunan bersejarah di Bandung merupakan hasil karyanya. Gereja Kathedral di Jln. Merdeka, Gereja Bethel di Jln. Wastukencana, Masjid Cipaganti, Bioskop Majestic, Hotel Preanger, Gedung Asia Afrika dan Gedung PLN Bandung merupakan sebagian dari hasil karyanya. Wolff Schoemaker juga dikenal sebagai salah seorang guru Ir. Soekarno, saat proklamator kemerdekaan itu belajar di ITB.

Menurut David B. Soediono dari Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung atau Bandung Heritage, karya Wolff Schoemaker memiliki ciri-ciri khusus. Schoemaker, ujar David, selalu memasukkan unsur tradisional Indonesia ke dalam bangunan bergaya Barat. “Coba saja lihat di Bioskop Majestic, unsur tradisional terlihat relief di pintu masuknya. Contoh yang sama terlihat di Gedung Landmark,” jelasnya.

Menurut Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jabar, Ir. Ridwan Kurnia, karya Schoemaker di Bandung seharusnya tetap dipertahankan karena merupakan bagian dari sejarah. Menurutnya, ada beberapa karya Schoemaker yang telah diruntuhkan, termasuk bekas tempat tinggalnya di Jln. Sulanjana. Namun untung, walaupun sempat diratakan dengan tanah, pemilik baru lahan itu rela membangun kembali bangunan yang diratakan sesuai dengan aslinya setelah Ridwan memberi penjelasan tentang nilai sejarahnya. (Zaky/”PR”)***

Sumber: Pikiran Rakyat, Senin, 01 Maret 2004

Perhimpunan Amatir Foto (PAF) – Mampu Terus Bertahan Selama Delapan Dekade

Februari 24, 2004

BANDUNG, (PR).- Perhimpunan Amatir Foto (PAF) merayakan hari jadinya yang ke-80, Minggu (22/2) di Pemakaman Kristen Pandu. Perayaan hari jadi yang ditandai dengan acara tabur bunga di makam pendiri PAF, Prof.Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker itu, juga dihadiri cucu sang pendiri, Juan Schoemaker Ph.d.

JUAN Schoemaker cucu dari salah seorang pendiri PAF, Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker (1882-1949) didampingi Ketua PAF Dedi H. Siswandi dan para mantan Ketua PAF, berkisah tentang sukaduka menelusuri garis keturunannya di Indonesia, saat tabur bunga HUT PAF ke-80 di Pemakaman Pandu Bandung Ahad (22/2).

Menurut Ketua PAF, Dedi H. Siswandi, perhimpunan ini merupakan yang tertua di Indonesia. PAF didirikan pada 15 Februari 1924 dan tetap eksis hingga saat ini. Kegiatan tabur bunga di makam pendiri PAF, ujar Dedi, tidak bertujuan untuk mengultuskan atau mengkeramatkannya. Kegiatan ini hanya sebatas untuk menghormati dan mengenang sang pendiri.

Kehadiran Juan Schoemaker pun terbilang cukup unik. Menurut salah seorang pengurus PAF, Solihin, Juan bisa ditemukan melalui jaringan internet dan yang bersangkutan kebetulan sedang bertugas di Indonesia.

Kepada “PR” Juan bercerita, dirinya pun sudah sejak lama mencari keberadaan makam kakeknya. Ia mengaku tidak banyak mengetahui tentang sejarah ayah dan kakeknya, karena ia dilahirkan di Paraguay dan sekarang menjadi warga negara Amerika Serikat. Juan mengaku terkejut sekaligus bangga setelah mengetahui ternyata kakeknya seorang tokoh sejarah yang telah ikut membentuk wajah Bandung tempo dulu.

Seperti diketahui, Wolff Schoemaker juga dikenal sebagai arsitek yang telah membangun banyak gedung bersejarah antara lain, Gereja Kathedral Bandung, Gereja Bethel Bandung, Hotel Preanger, Masjid Cipaganti dan Puri Isola. Ia juga dikenal sebagai salah seorang guru Ir. Soekarno, Presiden Indonesia yang pertama. Wolff Schoemaker lahir di Ambarawa 25 Juli 1882 dan wafat di Bandung tanggal 22 Mei 1949.

Usai acara tabur bunga itu, anggota PAF mengadakan bakti sosial berupa donor darah yang dilaksanakan di Gereja Kristen Indonesia Jln. Pasirkoja, yang dilanjutkan dengan kegiatan memfoto model di Studio Nyoman Nuarta pada sore harinya. (A-132)***

Sumber: Pikiran Rakyat, Selasa, 24 Februari 2004