Archive for November, 2002

Gagasan Indonesia dalam Karya Sastra Abad Ke-19

November 17, 2002

Gagasan Indonesia dalam Karya Sastra Abad Ke-19
Kesah Kaum Slam, Gundik dan Cina di Tanah Hindia

Oleh Saifur Rohman

GAGASAN Indonesia yang didengungkan JR Logan tahun 1850 itu barangkali juga dimaksudkan untuk mewadahi kurang atau lebihnya apa yang kini disebut identitas Indonesia. Sebagai editor majalah The Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia, sebuah majalah etnografi, dalam edisi IV Logan seakan-akan meramal hampir seratus tahun kemudian tentang penamaan sebuah istilah yang akan resmi dipakai oleh sebuah kesatuan negara-bangsa. Logan memilih, sebuah kesatuan negara-negara itu, dengan sebutan Indonesia ketika mendasarkan, “I prefer the purely geographical term, Indonesia, which merely shorter synonym for the Indians or the Indian archipelago.” Sampai kemudian pada simpulannya, “We thus get Indonesian for Indian Archipelagians or Indian Islanders.”

Kendati begitu, sulit bagi orang-orang yang mendiami sebuah kepulauan pada pertengahan abad ke-19 itu untuk membayangkan satu indentitas dengan 13.000 suku yang tersebar di nusantara. Mereka tak pernah tahu bahwa keterlibatan mereka dalam suatu ruang-waktu itu kemudian menjadi sebab-sebab adanya Indonesia. Indonesia sebagai negara-bangsa yang enclave. Keterlibatan yang manakah sehingga dengan serta-merta dikatakan sebagai identitas Indonesia?

Sebuah novel monumental yang ditulis sembilan tahun kemudian setelah pengumuman Logan tersebut, Max Havelaar (1859) karya Multatuli atau Eduard Douwes Dekker, adalah sebuah potret otentik yang bisa kembali menggugah kesadaran. Seorang tokoh, Max Havelaar namanya, adalah seorang wakil dari residen di Lebak, Banten. Kejadian bermula ketika Max Havelaar menulis surat kepada Gubernur tentang kebusukan yang terjadi di birokrasi. Penggelapan uang pajak, pelayanan publik yang involutif, dan pemerasan terhadap masyarakat, tulis Max Havelaar, telah menggejala di wilayah Lebak. Karena itu, Havelaar mengusulkan, agar Gubernur Hindia Belanda memecat residen atas perilakunya yang tidak terpuji sebagai pelayan masyarakat.

Surat yang ditandatangani tanggal 20 April 1856 itu sontak menggegerkan pemerintah pusat. Seumur-umur bawahan tidak pernah ada tradisi untuk melaporkan kesewenang-wenangan yang terjadi di daerah kepada pusat. Havelaar sebagai asisten Residen tidak sepantasnya menyurati Gubernur. Atas pertimbangan itu, surat Havelaar bukan mendapatkan sambutan yang baik dari atas, tetapi malah klarifikasi yang dilakukan pihak pusat ke Lebak hanya untuk mengukuhkan kedudukan Residen Lebak. Havelaar tidak bisa berbuat apa-apa karena dia memang tidak bersedia membeberkan bukti atas pernyataannya. Ketika itu kepada Havelaar, Gubernur berkata bahwa bukti-bukti yang tidak diberikan sama artinya dengan fitnah. Gubernur menolak surat permohonan pemecatan terhadap residen Lebak karena, “tidak ada itu kesalahan yang diperbuat”. Surat yang tidak tersambut dan hubungan dengan Residen yang memburuk, membuat Havelaar pindah tugas. Tapi tak lama. Sebab, apa yang dialami dalam suasana baru bukanlah hal baru, terutama soal kongkalingkong antara birokrat untuk menjaga nama baik. Artinya ia mengundurkan diri dan diterima.

Itulah satu-satunya peristiwa yang tercatat di negeri ini selama abad ke-19. Sebuah potret yang menyetel kembali cerita superioritas penguasa dan ketidakberdayaan orang yang mendiami kepulauan nusantara; seorang Indonesia, kata Logan, lepas dari bahasa yang digunakan oleh Douwes Dekker bukan bahasa yang biasa dipakai oleh orang Indonesia, melainkan bahasa Belanda.

Bahasa yang kemudian disebut sebagai bahasa Indonesia itu pun baru digunakan setidaknya dalam karya sastra berbentuk syair dalam Sair Kadatangan Sri Naharaja Siam di Betawi yang terbit pada 1870. Syair tanpa nama pengarang itu sempat mencatat tanggal penulisan, yakni “kutika rebo ada harinya/Lima april ada tanggalnya” (Rabu, 5 April 1870). Seperti tampak dalam judulnya, syair ini menceritakan tentang sambutan yang meriah pihak pemerintah Hindia Belanda terhadap kedatangan Raja Siam (Thailand). Di kiri-kanan jalan dipasang bendera Belanda dan bendera Thailand. Kelompok Drum Band dikerahkan. Masing-masing ruas jalan dijaga oleh tentara Belanda sampai-sampai penduduk tidak bisa melihat rombongan Raja yang melewati jalan. Apalagi menggunakan jalanan seperti biasanya. Meriahnya sambutan itu seperti bulan di atas kuburan-meminjam sajak Sitor Situmorang-karena mereka berpesta pora di tengah-tengah kemiskinan yang membelit penduduk Inlander.

Sebuah satir metaforis yang menarik dilontarkan dalam syair ini ketika rakyat sudah sia-sia untuk bisa menonton dari dekat. “Siapa saja yang tidak bisa melihat dari dekat, sebaiknya “berdiri nonton la dari jauh / sebab hati nyang punya mau / tinggal berdiri seperti kayu.” Ungkapan “seperti kayu” menyentakkan keterpakuan kita karena kayu yang tertanam memang tidak pernah dihiraukan oleh siapa pun yang lewat. Kayu itu, keindonesiaan itu, tidak pernah ada di mata bangsa Belanda. Kayu akan lebih rendah daripada hewan karena hewan masih bisa memberontak dengan tenaganya.

Intensionalitas masyarakat dengan situasi yang mengungkungnya memberikan petunjuk-petunjuk betapa subordinasi identitas keindonesiaan itu tertekan dalam di bawah telapak Identitas negara-bangsa Belanda. Identitas kayu, yang diam, tak dihiraukan itu, dianggap sebagai sebuah keadaan yang dasein- mencomot wawasan ontologis Heidegger – sehingga “begitu adanya nyang orang kecil / sana sini berdiri terpencil / mau menonton tidak berhasil / mala di larang tida dipanggil.” Dasein sebagai “kecil”, “terpencil”, dan “tida berhasil” adalah fakta-fakta kesadaran (konsituasi dalam bahasa Husserl) yang merangkum gagasan Indonesia yang subordinat. Pengarang menambahkan lagi identitas itu dengan mengatakan: “Orang kecil dan nyang terhina / Suda di pikir tida berguna / Apa lagi orang slam dan cina / di pegat sini di pegat sana.” Betapa “kecil” itu menjadikan “terhina” dan “tak berguna” karena disingkir oleh dominasi identitas penguasa.

Uniknya, keadaan subordinat itu telah diidentifikasi dengan menyebut kelompok yang tergabung dalam barisan Indonesia, yakni kaum Slam (Islam atau Pribumi) dan Cina. Menjadi menarik ketika klasifikasi sosiologis ini dijadikan unsur-unsur penggerak menuju suatu sistem gagasan kebangsaan. Masalahnya, di dalam karya lain pun klasifikasi ini mendapatkan tempat yang sangat mencolok.

Bahkan, G Francis secara jeli membeberkan identitas kebangsaan Slam itu dalam Njai Dasima. Sebuah novel yang pada mulanya diangkat dari cerita lisan. Novel yang terus mendengung-dengung sampai sekarang dengan tafsir yang terus berbeda-beda. Nyai Dasima adalah seorang gundik Edward, seorang Belanda totok. Kehidupan yang bahagia itu terusik oleh seorang pribumi yang memiliki status kiai dalam masyarakat. Kiai tersebut dengan mantra-mantranya membujuk Nyai Dasima agar masuk Islam. Nyai Dasima terpengaruh. Dalam Islam, seperti yang diceritakan G Francis, seorang muslimah tidak boleh memiliki suami seorang kafir, seorang Belanda. Makanya, Nyai Dasima mau tak mau harus melepaskan diri dari Edward yang orang kafir dan Belanda itu.

Alhasil, Nyai Dasima melarikan diri dari Edward untuk menikah dengan Kiai. Pernikahan itu ternyata semata-mata untuk menutupi niat jahat kiai untuk mempreteli harta Nyai Dasima. Istri tua Kiai pun ikut serta. Tak urung, setelah kembali melarat dan tidak mau dijadikan jongos, akhirnya Nyai Dasima dibunuh dekat sungai. Mayatnya diceburkan kemudian hanyut melintasi aliran sungai untuk sampai di belakang rumah Edward. Di sana Edward menemukan Nyai Dasima sudah membusuk.

Di sini perlu buru-buru dijelaskan, betapa kemudian orang pribumi yang memiliki ideologi Islam dipandang secara berjarak oleh pengarang. Kumuh, kikir, licik, penipu, dan jahat. Penokohan yang diciptakan untuk seorang Kiai ingin memberi penegasan tentang sifat-sifat buruk itu. Tetapi, sebaliknya, seorang kiai pun memiliki pandangan yang sangat berjarak dengan seorang Belanda. Seorang kafir, beragama di luar Islam, sehingga mutlak harus dipisahkan antara Nyai Dasima yang pribumi, kendati belum masuk Islam.

Bisa dikatakan, sejak semula memang sudah terentang jarak untuk menyusun sebuah identitas sendiri. Identitas untuk mengobyekifikasi yang lain (the Other). Boleh diterima boleh tidak, gagasan Indonesia sebagai sebuah identitas kebangsaan menelusup masuk ke dalam yang lain itu, menyebar ke segenap renik-renik masyarakat, bersinergi untuk menyusun suatu subyek, mengendap-endap di setiap petak langkah, dan akhirnya ke-yang lain-an (the Otherness) itu menjadi satu subyek utuh dengan identitas kebangsaan yang kental.

Gerak gerilya penelusupan itu dilakukan oleh Tan Teng Kie lewat syairnya yang berjudul Sair Kembang (1898), Sair dari hal datangnja Poetra Makoeta Keradjaan Roes di Betawi (1891) dan Syair Jalanan Kreta Api (1890). Puisi itu, terutama dalam Sair Kembang dan Sair Poetra Makoeta, terdiri atas madah-madah terhadap bangsa Belanda; tetapi juga bisa dibaca sebagai sebuah saksi atas keterlibatan orang Inlander dalam pergulatannya untuk mewujudkan sebuah identitas kebangsaan yang kental. Tan Teng Kie bisa dikatakan berhasil menjelmakan sage-sage yang terselip di antara alegori peristiwa yang tersusun. Selipan di antara Syair Jalanan Kreta Api, Tan Teng Kie sadar, “Jalanan Kereta saya syairken / Sekalipun personeel saya sindirken.” Dia menyindir dengan menggambarkan para pekerja yang harus putus jari tangannya karena kejatuhan rel; Seorang kuli terjatuh dari jembatan seperti ditendang setan, badannya remuk; Seorang kuli dari Cianjur hancur sikutnya karena tertimpa lempengan baja. Satire itu mesti diterjemahkan sebagai serpihan perlawanan yang tak kunjung dipadukan menjadi sebuah mozaik yang melukiskan sebuah bangsa. Belum. Bahkan, jauh-jauh hari dia menggumam sebagai pencerita syair, “Beberapa buku sudah sediya / Telah tersiyar di tanah Hindiya / Dalam tu pekerja’an antero dunya / Se’orang tadapat melawan diya.” Bukan simpulan seorang pencundang karena tak kunjung datang impian sebuah titik nadir, tetapi betapa belenggu identitas bangsa lain masih demikian melekat erat, sehingga “kita tadapat melawan diya.” “Kita” sebagai satu idenitas yang berbeda dengan “dia” sebagai keutuhan identitas, tetapi identitas “dia” lebih mewujud dan konkret daripada “kita”, oleh karena dia membelenggu.

Identitas yang membelenggu itu, dia, berhadapan dengan identitas aku. Abad ke-19 adalah sebuah abad ketika identitas aku sebagai bangsa dilahirkan secara prematur. Jabang bayi prematur itu seketika menatap sekeliling untuk menamai dirinya sendiri, memberi sesaji selamatan sendiri agar tumbuh dan berkembang menjadi dewasa di kelak kemudian hari. Tetapi, lihatlah, betapa sang aku, yang telah diberi nama Indonesia, yang meminta sesaji darah dan nyawa, telah berdiri tegak dengan gagahnya. Kegagahan untuk mawujud. Mawujud untuk membelenggu. Membelenggu untuk menjadi dia. Tiba-tiba Indonesia yang semula Aku telah menjadi Dia.

Bayi itu bukan aku lagi. Setelah seabad berlalu dan rona warna te-lah menyusun lukisan biru, di titik abad ke-21 terselip tanya, masihkah tersisa impian tentang Indonesia sebagai aku?

Saifur Rohman, Sastrawan.

Sumber: Harian Kompas, Minggu, 17 November 2002

Iklan