Archive for Februari, 2006

Braga, Turis Pun Kini Meringis

Februari 27, 2006

Braga yang dikenal turis mancanegara kini berubah menjadi wajah perkampungan kumuh. Jerit anak berebut tempat bermain di lapangan adalah sambutan hangat di Kampung Braga, Kelurahan Braga, Kota Bandung. Anak balita berlarian di antara gerobak, ember penampung air, dan jemuran kini menjadi pemandangan keseharian di Braga.

Begitu padatnya Braga sehingga anak-anak tak punya lagi tempat bermain. Padahal, Haryoto Kunto dalam bukunya Semerbak Bunga di Bandung Raya menceritakan, pada tahun 1800 Braga hanyalah sebuah kebun karet dan lahan pemakaman.

Tahun 1911 Jalan Braga yang pernah bernama Jalan Pedati alias Pedatieweg atau Karrenweg menjadi asri oleh pohon kenari. Baru pada tahun 1937, Braga dipenuhi dengan toko-toko.

Di belakang pertokoan, ada sebuah kampung yang dinamakan Kampung Braga. Dari jalan besar Braga, ada gang yang menjadi pintu keluar-masuk kampung ini. Gang tersebut dibuat di antara lorong bangunan yang dibangun seperti gapura sehingga tetap menyatu dengan arsitektur Braga. Braga menjadi jalan yang kesohor. Turis-turis dari mancanegara datang ke jalan ini untuk menikmati makanan di restoran-restoran, membeli pakaian bermerek, serta memborong suvenir yang banyak dijual di toko-toko Braga.

Rumah panggung

Soleh Margareta (46) mengaku lahir dan dibesarkan di kampung itu. ”Rumah-rumah di kampung ini sebagian besar adalah rumah panggung berdinding bilik. Di mana-mana ada pohon buah-buahan. Gang pun besar-besar,” tuturnya.

Sebagian besar penghuni kampung adalah pedagang. Sepulang sekolah, bersama teman-teman sebayanya, mulai di sekolah dasar sekitar tahun 1968, Soleh pergi ke Jalan Braga untuk berjualan koran atau menyemir sepatu turis.

”Dulu, turis banyak banget. Dalam sehari, saya bisa dapat Rp 200. Uang segitu setara dengan satu kemeja bermerek,” ujarnya.

Banyak turis mampir ke kampungnya. Mereka senang memotret wajah polos anak-anak Braga. Obyek favorit lainnya adalah Sungai Cikapundung. Waktu itu sungai, yang kini pekat oleh kotoran itu, masih berbatu dan hampir tak pernah sepi dari aktivitas warga. Ada yang mencuci, mandi, bahkan menjala ikan.

Kini Sungai Cikapundung ”rajin” membawa banjir lumpur dan sampah. Tahun 2004 air menggenangi rumah sampai ketinggian satu meter.

Hingga akhir tahun 1980, warga akrab dengan turis. ”Dulu turis yang datang sudah bisa berbahasa Indonesia. Bahkan, ada yang fasih berbahasa Sunda. Tidak ada hambatan komunikasi,” ujar Soleh.

Banyak anak di Braga yang disantuni dan dibiayai pendidikannya oleh para turis, termasuk Soleh. ”Waktu SD, saya punya teman bernama Bernard dari Italia. Setiap bulan dan saat ulang tahun ia selalu mengirimi saya baju atau barang-barang lain sebagai hadiah,” ujar Soleh.

Persahabatan itu terus berlangsung hingga bertahun-tahun. Ketika sahabatnya datang, Soleh selalu dijemput untuk diajak makan di restoran terkemuka di Jalan Braga.

Makin suram

Kondisi itu memicu para orangtua menyekolahkan anaknya ke jurusan pariwisata. Namun rupanya peruntungan Braga makin suram. Para pekerja pariwisata itu akhirnya melakukan kerja kasar lagi.

Kemasyhuran Braga surut tahun 1990 dan mencapai puncaknya tahun 1997. ”Toko-toko pun bangkrut,” ujar Soleh.

Kampung Braga lalu tumbuh semakin semrawut, seiring dengan bertambahnya penduduk. Sebagian besar warga Braga tak mau pindah karena posisinya di pusat kota dan dekat dengan berbagai fasilitas publik.

Mereka rela berdesak-desakan. Gang-gang lebar kini tinggal selebar 0,5 meter—habis dipakai untuk dapur warga. Tak jarang ada rumah luasnya kira-kira 20 meter persegi, tetapi dihuni dua hingga lima keluarga!

Warga pun tidak punya toilet. Mereka mandi, mencuci pakaian, dan menampung air untuk minum dari air leding di tempat-tempat mandi-cuci-kakus (MCK) yang berada di pinggir-pinggir Sungai Cikapundung.

Kegiatan membangun

Hampir setahun lalu di muka kampung ini didirikan hotel dan apartemen 19 lantai yang disebut proyek Braga City Walk (BCW). Masyarakat mulai mengeluh. ”Air susah karena sumur kering, udara pengap, dan sinar matahari terhalang. Penyakit awet, terutama flu pada anak,” kata Elin (33), warga.

Air leding yang kuning hanya menetes pada siang hari. Biasanya baru pada malam hari aliran air cukup besar. Di tengah malam warga masih beraktivitas untuk mencuci perkakas dapur atau mencuci pakaian.

Karena hanya ada sekitar lima MCK di kampung itu, warga memanfaatkan gang sempit di muka atau di samping rumah untuk tempat mencuci piring. Karena tak semua gang dilengkapi saluran limbah rumah tangga, air pun menggenang di mana-mana dan menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti. Setiap tahun, ada saja warga yang menderita demam berdarah.

Kini, yang melintas di kampung mereka bukan lagi turis, tetapi para pekerja kasar di proyek itu. Mereka biasa berjalan-jalan di gang kampung saat hendak berangkat, pulang, atau beristirahat untuk makan.

Sebagian besar pekerja menyewa kamar sempit dengan tikar untuk tidur. Menurut Soleh, Sekretaris RW 08, ada sekitar 200 penduduk sementara yang tinggal di kampungnya sejak tahun 2005. RW 08 merupakan wilayah terdekat dengan proyek BCW. Ada lebih dari 300 keluarga atau hampir 1.200 orang tinggal di kampung ini.

Karena kedatangan penghuni baru, penduduk beramai-ramai membuka warung untuk para pekerja kasar. Sri (30) dan Tika (50) merupakan dua warga yang menyulap rumah sempitnya menjadi warung nasi. Air limbah melintasi tumpukan piring dan gelas yang belum dicuci. Membawa bau tak sedap di gang gelap. (Ynt)

Sumber: Kompas, 27 Februari 2006

Iklan

Batara Kala Menunggu di Braga

Februari 27, 2006

Yenti Aprianti

Tak ada yang memedulikan wajah seram itu. Gigi selebar wajah, hidung besar mengembang, dan mata melotot. Sebenarnya suasana sepi di sekitar bangunan itu telah mengisyaratkan kekalahannya. Namun, sorot mata tajam Batara Kala pada bangunan Landmark itu seakan menunggu terulangnya masa-masa jaya Braga pada tahun 1930.

Batara Kala, simbol hal-hal buruk dalam cerita berlatar kultur Jawa, menjadi satu tanda dari periode penting arsitektur di Indonesia yang saat itu bernama Hindia Belanda.

Sebelum menjadi gedung pameran, tahun 1970, Gedung Landmark berfungsi sebagai Bioskop Pop. Pada awal dibangun tahun 1960, gedung itu adalah toko buku bernama Van Dorp.

Ir CP Wolff Schoemaker mendirikannya pada tahun 1922 dengan ornamen art deco. Gaya campuran dunia barat dan tradisional sering disebut sebagai gaya Indische. Schoemaker, guru besar Jurusan Arsitektur Technische Hoogeschool (sekarang ITB), menyerap gaya tradisional dengan memberi ukiran pada bangunan berkarakter Eropa.

Di sepanjang Braga, banyak gedung dengan ornamen art deco. Art deco adalah sebuah aliran yang populer saat itu—tak hanya memengaruhi seni bangunan, tetapi juga pakaian dan perabot rumah tangga.

Art deco ditandai dengan detail pada bangunan, seperti lampu dan ornamen titik, bunga, dan lainnya, di bagian dalam bangunan. Bangunan art deco amat menonjol di rumah toko (ruko) di seberang bangunan Braga Permai, juga di Gedung Pusat Kebudayaan Asia Afrika (AACC).

Menurut Dr Ing Ir Widjaja Martokusumo, Koordinator Program Bersama Desain Perkotaan, Arsitektur ITB, sejak tahun 1900-1920 banyak arsitek Belanda yang membangun gedung di sekitar Braga. Selain Schoemaker, ada nama-nama Moojen, Ed Cuypers, Maclaine Pont, dan AF Aalbers.

Dari bangunan lama yang tersisa, menurut Widjaja, Braga memang dibangun sebagai jalur belanja. Ini tampak dari ciri khas identitas pusat kota, yaitu sempadan jalan nol. Titik terluar bangunan menempel trotoar, sehingga pejalan kaki bisa melihat-lihat barang yang dipajang. Jendela bangunan di Braga besar-besar karena berfungsi sebagai etalase.

Pada bangunan tengah tampak fungsi bangunan adalah sebagai toko dan rumah. Pada ”ruko” yang asli, ada dua pintu. Satu menuju toko, yang lain di samping; langsung tangga ke lantai atas—rumah pemilik.

Untuk kenyamanan dan ciri campuran bangunan Eropa dengan iklim tropis, dibangun arcade atau trotoar terlindung atap untuk menghindari terik matahari dan guyuran hujan.

Kawasan Braga merupakan kawasan yang teratur. Bangunan dibuat dengan melibatkan arsitek. Ada aturan soal besar bukaan, ketinggian, dan jarak bangunan. ”Berbeda dengan sekarang, semua orang membangun tanpa bantuan arsitek dan tidak peduli apakah bangunan itu betul atau salah,” ujarnya.

”Struktur yang dipakai masih konvensional, terlihat dari adanya kolom pada jarak-jarak tertentu,” kata Widjaja.

Tembok bangunan lama di Braga tebal seperti tampak di Gedung Merdeka dan Perusahaan Gas. Ini mencerminkan teknologi masa itu. Tembok tebal menunjukkan fungsi dinding, penahan beban langsung lantai atas. Adapun dinding bangunan masa kini berfungsi sebagai pengisi. Meski dinding hilang dibongkar, bangunan tak roboh.

Tiga segmen

Kawasan Braga dibagi menjadi tiga segmen, yaitu Jalan Asia Afrika-Jalan Naripan, Jalan Naripan-Jalan Lembong, Jalan Lembong-Jalan Perintis Kemerdekaan. Di tiap segmen ada bangunan pojok, tengah, dan bangunan yang berdiri sendiri.

Di segmen kedua, pejalan kaki bisa menikmati suasana pertokoan. Beberapa toko dibiarkan tetap berarsitektur lama atau dimodifikasi. Sebagian lagi dibiarkan telantar hingga keropos—seperti Toko Populair.

Pada segmen kedua ada Gedung Perusahaan Gas yang berimpitan dengan ruko-ruko art deco. Di segmen ketiga ada Gedung Landmark dan BI—yang khas Eropa bergaya Renaissance. Arsitektur merupakan ekspresi budaya sebuah masyarakat.

Bangunan-bangunan khas di Braga menjadi salah satu kontributor bagi identitas Kota Bandung. Bahkan, tahun 1933 tata kota Kota Bandung pernah diperlihatkan dalam Kongres Internasional di Athena sebagai contoh kota kolonial.

Kini, di antara deretan bangunan kuno di Braga, telah berdiri kompleks apartemen dan hotel Braga City Walk. Widjaja berharap pemerintah mampu melakukan antisipasi agar keberadaan pemukiman baru yang akan membawa penduduk baru tidak mengakibatkan kemacetan yang akhirnya menyebabkan peruntuhan bangunan lama dengan dalih pelebaran jalan.

Keunikan bangunan Braga mampu menggerakkan kembali wisata arsitektur yang tidak hanya berorientasi pada budaya konsumtif. Wisata arsitektur tersebut pernah dikembangkan sekitar tahun 1998 dan peminatnya cukup banyak. Sayangnya, papar Widjaja, pemerintah kota tidak serius mengembangkannya.

Sorot mata Kala masih tajam mengikuti perjalanan Braga. Akankah keindahan itu dibiarkan saja?

Sumber: Kompas, 27 Februari 2006

Kisah Hidup Si Kaleng Biskuit

Februari 27, 2006

Pada segmen pertama kawasan Braga yang dibatasi Jalan Asia Afrika dan Naripan terdapat sebuah bangunan unik. Keunikannya tampak dari bentuknya yang gemuk pendek. Di masa lalu, bangunan ini dijuluki blikken trommel atau kaleng biskuit.

”Kaleng biskuit” tersebut kini dinamai Gedung Pusat Kebudayaan Asia Afrika (AACC). Awalnya, gedung ini adalah sebuah gedung bioskop bernama Majestic. Majestic berarti penuh keagungan.

Gedung ini merupakan satu dari 750 bangunan yang dipersiapkan Pemerintah Hindia Belanda di bawah pimpinan Ir FJL Ghijsels untuk mempercantik Bandung yang pada tahun 1918 hendak dijadikan ibu kota Hindia Belanda. Pembangunan Kota Bandung terjadi pada kurun waktu 1918-1925.

Saat itu kondisi ekonomi Hindia Belanda berada dalam keadaan yang sangat baik. Orang-orang Belanda yang tinggal di Bandung membutuhkan rekreasi berupa bioskop. Maka, pada awal tahun 1920, Technisch Bureau Soenda diminta melaksanakan pembangunan gedung bioskop. Pembangunan gedung itu dimulai tahun 1922.

Gedung bioskop tersebut dibangun oleh Prof Ir Wolf Schoemaker, guru besar Technische Hoogeschool (TH) te Bandoeng, yang kini bernama Institut Teknologi Bandung (ITB).

Saat membangun gedung tersebut, alumnus Sekolah Zeni di Breda yang mengambil bidang teknik ini berusia 35 tahun. Lelaki yang sempat menjadi Letnan Zeni dan menjadi Rektor TH Bandoeng pada tahun 1934-1935 ini membuka biro arsitektur pada tahun 1971.

Betara Kala

Wolf memberikan ornamen Batara Kala pada bagian depan bangunan sebagai upaya membuat garis arsitektur baru di Hindia Belanda.

Bioskop Majestic mewakili gaya campuran teknik konstruksi modern dari barat dengan seni ukir tradisional Indonesia yang sering disebut gaya arsitektur Indo-Europeeschen Architectuur Stijl. Dua bangunan lain yang bergaya sama adalah Gedung Landmark dan Gedung Bank Indonesia.

Menurut Salmon Martana dalam arsitekturindis.com, pertunjukan film di Bioskop Majestic diadakan pukul 19.30-21.00. Siang sebelum pemutaran, pemilik bioskop berkeliling kota dengan kereta kuda untuk berpromosi sambil memperlihatkan poster film dan membagi selebaran.

Di muka bioskop biasanya sudah banyak pedagang dan pemusik. Para pemusik masuk ke bioskop menjelang pertunjukan sambil membawa alat musik, seperti biola, gitar, cello, dan tambur untuk memberi musik latar pada film bisu yang diputar. Saat itu bioskop juga melengkapi film bisu dengan komentator.

Proyektor yang ada hanya cukup untuk memutar satu reel film yang panjangnya sekitar 300 meter berdurasi 15 menit sehingga untuk film berdurasi satu jam, perlu jeda tiga kali. Saat jeda, ditayangkan iklan-iklan yang berupa gambar mati. Tempat duduk bioskop dibagi menjadi deret kiri dan kanan sebab penonton berbeda jenis kelamin harus duduk terpisah.

Bioskop ini pernah berganti nama menjadi Bioskop Dewi tahun 1960 dan menjadi Gedung AACC sejak sekitar tahun 2000.(ynt)

Sumber: Kompas, 27 Februari 2006

Revitalisasi : Arti Baru Bagi Masa Lalu

Februari 23, 2006

Kami dari Arsitektur Gunadarma akan mengadakan Seminar Arsitektur dengan tema ‘Revitalisasi : Arti Baru Bagi Masa Lalu’.

Seminar akan diselenggarakan pada :
Hari / Tanggal : Sabtu, 25 Februari 2006
Jam : 09.00 – 17.00 WIB
Tempat : Auditorium Universitas Gunadarma,
Kampus D Gedung IV Lantai 6,
Jl. Margonda Raya No. 100
Pondokcina Depok.

Susunan acara pada seminar ini melibatkan pembicara sebagai berikut :

1. Ir. Joko Murjanto, M.Sc. dari Direktorat Bina Program-Departemen PU yang akan membahas tentang Kebijakan Revitalisasi untuk bangunan dan kawasan.
2. Ir. Bambang Hari Wibisono, MUP, M.Sc. Ph.D dari Arsitektur Universitas Gadjah Mada yang akan membahas tentang Pendekatan Teori dan Konsep revitalisasi.
3. Ir. Ridwan Kamil MUD dari PSUD – ITB yang akan membahas beberapa proyek Revitalisasi di Negara Lain, khususnya Amerika dan Asia.
4. Ir. Edy Darmawan, M.Eng dari Arsitektur UNDIP yang akan membahas studi kasus revitalisasi di Eropa
5. Dr. Ir. Danang Priatmodjo, M.Arch dari IAI yang akan mengulas tuntas Proyek Revitalisasi Kota Tua Jakarta dan sekitarnya ( termasuk Menteng dan Kebayoran Baru ).
6. Ir. Arief Rahman, MT yang akan menampilkan wajah Revitalisasi Kota Bandung.

Untuk Informasi lebih lanjut dapat hubungi di email ini :
veronika@staff.gunadarma.ac.id atau menghubungi
Dewi : 0813 82323 941 atau Juita : 0815 889 8705

Biaya Seminar :
mahasiswa : Rp. 50.000,-
Dosen / instansi : Rp. 75.000,-
Umum : Rp. 100.000,-
(Bisa dibayar ditempat pada saat seminar)

Dilengkapi dengan seminar kit, makalah, sertifikat dan doorprize dari sponsor.

Memberi Kebebasan Dinding Tawang Bernapas

Februari 15, 2006

Oleh: Ni Komang Arianti

Kawasan Kota Lama di Semarang, Jawa Tengah, sejak lama dikenal sebagai Little Netherland di Indonesia oleh warga Belanda. Di kawasan ini elok rupa bangunan kuno peninggalan zaman Kolonial Belanda masih bisa disaksikan, tak terkecuali kemegahan bangunan Stasiun Semarang Tawang.

Dalam usia 95 tahun, PT Kereta Api (KA) Daerah Operasi (Daop) IV Semarang berencana merestorasi bangunan yang didirikan tahun 1911 itu. Bangunan dengan pilar dan tembok kokoh serta puncak atap berbentuk kubah itu merupakan aset stasiun PT KA yang membanggakan.

Dari penelitian para arsitek pencinta bangunan bersejarah, material dasar bangunan stasiun ini pada waktu didirikan berasal dari batu yang dilapisi semen tumbukan bata merah dan kapur. Cat yang dipergunakan juga masih sederhana, hanya kapur. Kami berupaya restorasi bangunan ini menggunakan material dasar semula, kata Kepala PT KA Daop IV Semarang Rono Pradipto, Selasa (14/2).

Upaya merestorasi bangunan stasiun yang didirikan perusahaan KA swasta Belanda, Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), layaknya embusan angin segar menyejukkan. Sekitar akhir Januari 2006 banjir setinggi hampir 50 sentimeter merendam seluruh areal stasiun. Banjir seolah menenggelamkan kemegahan bangunan Stasiun Semarang Tawang.

Penyebab banjir, selain curah hujan yang tinggi tiga hari berturut-turut dan air pasang laut Jawa, juga hilangnya area resapan di sebelah utara stasiun. Rawa yang dahulu melingkupi bagian utara stasiun sejak 1985 berubah menjadi permukiman.

Banjir merupakan hantu yang harus dihadapi bangunan Stasiun Tawang. Namun, gunungan sampah di tambak sebelah timur stasiun juga musuh utama yang harus dihadapi.

Restorasi Stasiun Semarang Tawang baru satu langkah yang harus ditempuh untuk melestarikan bangunan bersejarah ini. Rencananya, restorasi meliputi penggantian lapisan dinding pada bangunan stasiun yang menggunakan semen abu-abu atau portland cement (PC), serta cat tembok emulsi.

Salah satu ruangan yang segera direstorasi dindingnya adalah lobi utama stasiun. Lobi ini dirancang Belanda sesuai fungsi Stasiun Tawang, sebagai pintu masuk utama Kota Semarang.

Tidak mengherankan apabila desain lobi stasiun ini sangat anggun. Warna putih menutup hampir semua dinding lobi. Warna coklat tembaga menjadi penghias ornamen bangunan dan hiasan lainnya. Pahatan batu yang melukiskan dua lokomotif dan rangkaian gerbong menghiasi keempat sisi tembok.

Tjahjono Rahardjo, salah satu tim peneliti dari Teknik Arsitektur Unika Soegijapranata dan pencinta Stasiun Semarang Tawang, menjelaskan saat ini lapisan semen dan cat yang melapisi dinding bangunan stasiun tersebut berupa semen abu-abu dan cat tembok emulsi. Lapisan ini tidak memiliki pori-pori, sehingga tekanan daya kapiler air pada tembok cenderung naik ke atas berakibat pengelupasan cat.

Penggunaan semen abu-abu dan cat emulsi itu disebabkan ketidaktahuan pihak yang waktu itu mengecat dan memperbaiki lapisan dinding awal bahwa semen abu-abu dan cat emulsi justru memperpendek usia bangunan. Kami berupaya mengembalikan pada lapisan semula, agar dinding stasiun itu dapat bernapas, tutur Tjahjono.

Bangunan stasiun yang dirancang arsitek Belanda Sloth- Blauwboer memakai semen dari tumbukan bata merah dan cat dari kapur. Kuas untuk mengecat bangunan ini pun waktu itu menggunakan merang (jerami).

Menurut Tjahjono, semen tumbukan bata merah dan cat non-emulsi, membantu penguapan air pada dinding stasiun. Jadi tekanan daya kapiler air dari permukaan tanah, tidak terus-menerus naik dan menyebabkan kerusakan dinding.

Dari penelitian, diketahui ketinggian air yang merembes pada lapisan dinding Stasiun Semarang Tawang, mencapai 1,5 meter dari permukaan tanah.

PT KA dan tim pencinta bangunan Stasiun Semarang Tawang akan merestorasi lapisan dinding stasiun secara bertahap.

Restorasi Stasiun Semarang Tawang bukan sekadar upaya memberi kebebasan pada dinding stasiun leluasa bernapas. Restorasi ini menyadarkan betapa pentingnya pelestarian bangunan stasiun sebagai aset dan bagian dari sejarah perkeretapian Indonesia yang genap berusia 139 tahun pada tahun ini.

Sumber: Kompas, 15 Februari 2006

Bekas Gedung Imigrasi Selesai Direnovasi

Februari 14, 2006

Pemprov DKI Jakarta tengah mencari pihak yang dinilai mampu untuk mengelola eks gedung Imigrasi di Jalan Teuku Umar, Jakpus. Gedung yang dibangun 1913 oleh arsitek Belanda, Pieter Adrian Jacobus Moojen, telah selesai direnovasi dan akan dijadikan tempat galeri lukisan. Diharapkan galeri sudah bisa dibuka untuk umum pada pertengahan tahun ini.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta, Aurora Tambunan, mengemukakan hal itu di Balaikota, Selasa (14/2). Ia menjelaskan sudah ada beberapa pihak yang menyatakan tertarik, namun pihaknya belum menentukan pilihan.

Pihak yang dicari, lanjut Aurora, adalah yang mampu mengelola dan sanggup mempertahankan nilai heritage dari gedung yang dulu dibangun sebagai tempat lingkar seni Hindia Belanda. Pengelola, nantinya akan bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta.

Aurora mengatakan pihaknya belum memikirkan nama galeri tersebut dan belum memutuskan apakah akan dijadikan galeri murni atau galeri yang dilengkapi sejumlah fasilitas pendukung, seperti kafe.

Sementara soal koleksi lukisan yang akan dipamerkan, Aurora menyebutkan, lukisan yang akan dipajang merupakan lukisan koleksi Dewan Kesenian Jakarta. Jumlah lukisan koleksi Dewan Kesenian Jakarta saat ini sebanyak 339 buah.

Proses renovasi eks gedung Imigrasi itu berlangsung 3 tahun dan memakan biaya belasan miliar rupiah.

Penulis: Ima