Archive for April, 2000

Wajah Kota Tanpa Cerita

April 12, 2000

Oleh: M. Ridwan Kamil

AKHIR September tahun lalu, Jakarta dikagetkan peristiwa perusakan dan penjarahan Gedung Imigrasi – bekas gedung Nederlandsch-Indiesche Kunstkring (NIK) di Menteng. Wali Kota Jakarta Pusat dan Camat Menteng pun dibuat pusing, untuk mencari dan mengembalikan bagian bangunan historis yang hilang, tentunya setelah ditegur Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso.

Rusaknya bangunan buatan tahun 1913 ini, hanyalah menambah deretan cerita duka dari terancam punahnya bangunan bersejarah di Jakarta. Lenyapnya bangunan Hotel des Indes bikinan tahun 1866 yang sekarang Pertokoan Duta Merlin, Hotel der Nederlanden bikinan tahun 1794 yang kini Bina Graha, adalah contoh nyata dari menghilangnya satu per satu artefak pembentuk guratan cerita sejarah di wajah Kota Jakarta.

Masalah ini diperparah dengan loyonya peran Dinas Museum dan Pemugaran DKI Jakarta dalam merespons isu ini. Sedikitnya jumlah staf, cara kerja birokrat yang pasif, serta isu tingginya biaya izin, menyebabkan ancaman terhadap 132 gedung cagar budaya hampir selalu luput dari perhatian masyarakat.

Keadaan pun makin runyam, akibat tersumbatnya keran sosialisasi tentang kriteria bangunan layak pugar. Padahal kriterianya gampang dan mudah diingat. Sebab sejak tahun 1931 sudah ada Monumenten Ordonnantie dan diperkuat oleh UU tahun 1992, kriterianya antara lain: umur bangunan lebih dari 50 tahun, karya arsitektur bermutu atau master-piece langka. Berlanggam arsitektur khas, seperti art-deco, neo-klasik, art-nouveu dan lainnya. Atau bangunan ada kaitannya dengan peristiwa sejarah penting.

MELONGOK sedikit ke negeri tetangga, pada awal 1980-an, Singapura dengan paniknya berusaha menyelamatkan sisa-sisa kawasan dan bangunan historis yang banyak punah terderap modernisasi urban renewal di akhir 60-an. Mereka betul-betul tersadarkan oleh hujatan pedas para turis waktu itu, yang justru datang ke Singapura untuk menikmati arsitektur dan kawasan bersejarahnya, selain shopping di Orchard Road tentunya.

Untuk menghindari punahnya bangunan bersejarah yang tersisa, Pemerintah Singapura kemudian mengintegralkan konservasi bangunan dalam perencanaan kotanya. Melalui Urban Redevelopment Authority (URA) berikut conservation guidelines, serta publikasi populer untuk mendidik masyarakat, termasuk pemotongan pajak besar bagi pemilik yang melestarikan bangunan tuanya. Kawasan China Town, Tanjong Pagar, Little India atau restoran di bekas kompleks Gereja Chimnes, itu contoh dari sisa-sisa yang terselamatkan dari ancaman “amnesia” sejarah tadi.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Amerika Serikat melalui The National Trust for Historic Preservation dan badan-badan lainnya. Mengingat pentingnya melestarikan sejarah masa lalu mereka, Charles E Peterson pada tahun 1933 membentuk The Historic American Buildings Survey (HABS) yang perannya merekam semua artefak fisik bersejarah dengan cara mengukur, menggambar ulang, memotret dan menulis kembali sejarah dari beragam bangunan penting ini.

Sampai bulan Maret 1998, HABS sudah memroduksi 363.000 gambar terukur, foto dan penulisan sejarah dari sekitar 35.000 artefak bersejarah di AS. Ide awal Peterson ini sebenarnya sederhana saja. Dia berpikir jika suatu saat di masa depan, bangunan ini terpaksa harus dikorbankan untuk beragam kepentingan. Jadi setidaknya mereka memiliki data lengkap, untuk diwariskan kepada generasi penerus mereka.

Mungkin bukan suatu impian, jika hal yang sama bisa dilakukan Pemda DKI, tentunya records ini akan menjadi warisan dan “cerita” yang tidak ternilai harganya. Langkah nyata dari tindakan ini, merupakan utang moral kita dalam upaya pewarisan sejarah ke generasi puluhan tahun mendatang.

Rasa-rasanya mahasiswa dan dosen di berbagai perguruan tinggi pasti akan siap mendukung, jika memang Pemda DKI butuh bantuan. Jika belum cukup, forum masyarakat peduli pada arsitektur kota dan sejarah, juga akana dengan senang hati untuk turun membantu. (M Ridwan Kamil – arsitek, kini studi di University of Berkeley AS)

Sumber: Harian Kompas, Rabu, 12 April 2000.

Braga, Sisa Masa Lalu

April 7, 2000

Jika Yogya punya Malioboro, Surabaya memiliki Tunjungan, Kota Bandung sebenarnya tidak kalah hebat karena punya Braga. Jalan yang membentang utara-selatan di pusat kota itu sekaligus menjadi salah satu landmark dan kebanggaan warga kotanya, karena sulit dicari tandingannya di daerah lain. Braga termasuk jalan paling tua di Kota Bandung. Bangunan-bangunan pertokoan dan restoran yang terletak di kiri kanan jalan tersebut merupakan bangunan tua yang umurnya hampir mendekati seratus tahun.

Bangunan-bangunan tersebut bukan hanya merupakan bukti masa lalunya, pada zaman keemasan kolonial Belanda. Tetapi Braga sekaligus menjadi sebuah museum terbuka yang menyimpan paling banyak langgam gaya arsitektur, seperti klasik-romantik, art deco, Indo-Europeanen, neo klasik, gaya campuran sampai gaya arsitektur modern bisa Anda jumpai di sepanjang jalan tersebut. Sebelum mengalami modernisasi, bangunan-bangunan sepanjang Jalan Braga bergaya arsitektur Oud Holland. Bangunan ini dicirikan dengan bangunan induk dan memiliki gudang atau paviliun yang letaknya sejajar. Tetapi Walikota Bandung pada saat itu, B. Coops sangat berambisi menjadikan Braga sebagai komples pertokoan paling terkemuka di Hindia Belanda, “De meest Europeessche winkel straat van Indie”. Sehingga sejak itu, dua teknisi di Gemeente Bandung, Ir JP Thysse dan Ir EH de Roo menetapkan, setiap bangunan toko di Jalan Braga harus memiliki gaya arsitektur Barat. Tetapi masalahnya Hindia Belanda adalah negeri tropis, bukan seperti halnya Eropa.

Prof Dr Ir CP Mom kemudian memberi jalan keluar untuk mengatasi masalah di daerah tropis. Bangunannya harus memiliki ruang seluas mungkin dengan atap tinggi dan tembok tebal. Lantai dianjurkan terbuat dari marmer supaya terasa sejuk. Untuk memperoleh penerangan pada siang hari tanpa menimbulkan kesan panas, dibuat lubang angin (ventilasi) yang mengatur sirkulasi udara dan jendela kaca warna-warni gaya art deco. Selain untuk menyaring sinar, jendela kaca tersebut sekaligus mampu menimbulkan kesan estetika.

Beberapa toko yang masih mempertahankan ciri lamanya itu antara lain Toko Kacamata Kasoem, toko buku Scientific, dan Gedung gas Negara. Braga bukan hanya merupakan jalan paling tua umurnya dibanding umur kota Bandung sendiri.

Tetapi sejarah panjang yang dilaluinya memberikan subangan yang tidak kecil terhadap perkembangan kota Bandung. Pada awal abad 19 Braga hanyalah sebuah jalan tanah yang berlumpur pada musim hujan dan berdebu pada musim kemarau. Oleh karena hanya dilewati pedatai yang ditarik kerbau untuk mengangkut hasil bumi ke gudang kopi Koffie Pakhuis, jalan tersebut dijuluki Karrenweg atau Pedatiweg. Bekas lokasi gudang kopi tersebut kini dijadikan Balai Kota Bandung. Sementara nama Braga yang menggantikan nama jalan pedati barulah muncul setelah 18 Juni 1882, saat Asisten Residen Bandung Pieter Sijthoff mendirikan kelompok tonil yang diberi nama “Braga”.

Sejak itu Braga tumbuh dan berkembang pesat, diawali dengan dibangunnya Jalan Raya Pos (Grote Postweg) lalu jalur kereta api Batavia-Bandung pada tahun 1884. Namun sampai akhir abad 19, toko-toko yang dibangun sepanjang Jalan braga tak ubahnya dengan warung. Perombakan drastis bangunan- bangunan sepanjang jalan tersebut yang dilakukan setelah tahun 1920-an, telah melibatkan para arsitek. Antara lain tercatat bangunan-bangunan hasil rancangan RA de Waal, Bennink, Brinkman, Gmelig Meyling, Trio arsitek Bel-Kok & Piso, namun yang paling banyak adalah karya dua bersaudara arsitek Prof Ir Richard LA Schoemaker dan adiknya, Prof Charles Prosper Wolff Schoemaker. Mereka memberikan sumbangan tidak kecil terhadap arsitektur Kota Bandung.

Salah satu bangunan hasil rancangan Wolff Schoemaker di Jalan Braga adalah Gedung Landmark, bekas toko buku Van Dorp dan gedung bioskop majestic yang dibangun pada tahun 1922. Bangunan itu menampilkan perpaduan antara arsitektur Barat dan indonesia. Pada baigan atasnya dipasang tempelan kepala Kala. Di bagian lain sudut jalan yang merupakan simpang empat dengan Jalan Naripan, arsitek AF Aalbers pada tahun 1935 merancang bangunan yang kemudian dijadikan Dennis Building. ia mengambil bentuk melengkung kurva linier dengan sentuhan gaya art deco. Gedung ini dicirikan dengan bentuk menaranya yang menjulang tinggi yang diletakkan pada sudut perpotongan bidang bangunan. Letak bangunan tersebut lebih mundur sehingga memberi kesan ruang lebih luas. Braga sebenarya masih memiliki daya tarik tersendiri walaupun di sana-sini sudah kehilangan pamornya. kita tidak menutup mata terhadap kenyataan bahwa peran Braga sebagai pusat perbelanjaan telah merosot. Hasil penelitian Prof Djoko Sujarto dari institut Teknologi Bandung (1979) menunjukkan, dari 250 konsumen yang dijadikan responden ternyata hanya 11 persen yang mengganggap Braga sebagai kawasan tempat berbelanja. Selebihnya menganggap Braga sebagai tempat bersantai (24.5 persen), temapt jalan-jalan (33.5 persen) dan tempat sekadar lewat (31 persen).

Padahal pada zaman keemasannya, Braga merupakan pusat belanja paling bergengsi. Masyarakat Bandung dan sekitarnya yang tergolong kaya berusaha memenuhi kebutuhannya dari Braga. Mereka membeli kain berkualitas impor di Toko Onderling Belang yang bangunannya sekarang ditempati Sarinah, atau hanya sekadaar cuci mata melihat-lihat barang yang dipamerkan di etalase toko sepanjang jalan Braga sehingga kemudian muncul istilah “Bragaderen”. Sebelum Perang Dunia Kedua, mereka yang ingin membetulkan jam tangan merek-merek terkenal seperti Rolex, Titoni, Mido, dan Omega, hanya bisa dilakukan di toko Horlogerie Stocker dan PE Huber.

Jalan Braga juga merupakan toko induk, agen tunggal pabrik atau produsen serta distributor barang-barang dari Amerika, Eropa dan negara-negara lainnya.

Perusahaan Fuchs & Rens yang didirikan tahun 1919, merupakan agen tunggal untuk seluruh Nusantara bagi kendaraan-kendaraan Chrysler, De Soto, Plymouth, Renault, Fargo dan merek kendaraan lainnya. Untuk menutupi rasa lapar dan dahaga, tersedia makanan dan minuman di restoran seperti Firma Kuyi en Vesteeg, Maison Boin, Het Snoephuis atau kafe yang paling banyak diminati Maison Bogerijn. Kafe tersebut kini menjadi resotran Braga Permai. Ide dan gagasan untuk mempertahankan sejengkal Jalan Braga itu sebenarnya sudah sangat sering disampaikan. Sayang, gagasan-gagasan itu lebih banyak tertuang di atas kertas.(her suganda)

Sumber: Harian Kompas, April 2000.