Archive for Desember, 2004

Empat Tempat Ibadah Kuno Direhab

Desember 25, 2004

Telan Rp 807 juta

TUBAGUS ANGKE- Empat tempat ibadah kuno yang termasuk bangunan cagar budaya di beberapa lokasi di Jakarta, kondisinya memprihatinkan. Karenanya, sejak Oktober lalu hingga sekarang sedang direhabilitasi oleh Dinas Kebudayaan dan Permuseuman dengan biaya dari APBD DKI sebesar Rp 807 juta lebih.

Keempat tempat ibadah tersebut adalah Masjid Angke (Al Anwar) di Jl Tubagus Angke Gang Masjid di Tambora, Jakarta Barat yang dibangun tahun 1761, Masjid Pekojan (Masjid Jami Annawier) di Jalan Pekojan Jakarta Barat (dibangun 1740), Masjid Al Makmur di Jl Raden Saleh Jakarta Pusat (dibangun akhir abad ke-19) dan gereja Sion di Jl Pangeran Jayakarta No 1 Jakarta Barat yang dibangun tahun 1695.

“Rehab bangunan masjid dan gereja itu kini sudah hampir selesai. Diharapkan akhir Desember ini benar-benar dapat digunakan untuk beribadah,” kata Kepala Subdinas Pengawasan Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta, Teguh Widodo, kemarin.

Menurut Teguh, pengawasan pengerjaan rehab tersebut kini diperketat agar selesai tepat waktu dengan mutu bagus. Karena itu masyarakat pengguna tempat ibadah itu tidak perlu khawatir.

“Seperti Masjid Angke hanya tinggal mengecat pagarnya saja,” katanya yang dalam proyek ini bertindak selaku pengawas lapangan. Masjid yang berarsitektur budaya Bali karena dibangun di daerah komunitas muslim Bali pada abad ke 18, menelan biaya rehab Rp 175,44 juta. Rehabilitasi termasuk mengganti marmer teras masjid tersebut.

Sedangkan Gereja Sion, anggaran yang terserap adalah Rp 262,16 juta.

Pernyataan Teguh tersebut sekaligus menjawab kekhawatiran pendeta Myske Chaterine Kolano, pengurus gereja tertua di Jakarta tersebut. Minggu lalu, Kolano mengutarakan kekhawatirannya pekerjaan rehabilitasi itu tidak dapat digunakan untuk kebaktian natal dan tahun baru 2005 nanti. Hari Sabtu dan Minggu, Gereja Sion digunakan untuk kebaktian masyarakat Kristiani warga Pinangsia Tamansari dan Jakarta Barat dengan jumlah jamaah sekitar 300 sampai 400 orang. Tetapi saat Natal dan Tahun Baru jemaatnya mencapai 1200 orang.

Dia mengaku, sebelumnya bagian atap dan beberapa balok kayu gereja yang berumur lebih dari 300 tahun itu sudah keropos sehingga dikhawatirkan ambrol. Namun dengan adanya pekerjaan rehab terpaksa gereja tidak dapat digunakan kebaktian karena dipasang steger dan kayu-kayu penunjang selama perbaikan tersebut.

Sedangkan Masjid Al Makmur halamannya bagian aslinya yang dekat dengan kali ciliwung amblas dan beberapa bagian bangunan tambahannya rusak sehingga memerlukan biaya Rp 83,59 juta. Sedangkan biaya terbesar Rp 286,67 juta diperuntukkan bagi perbaikan Masjid Pekojan karena umurnya memang sudah tua yaitu 264 tahun.(lis)

Sumber: Jawa Pos, Sabtu, 25 Des 2004

Iklan

Kawasan Kota Tua Sulit Ditata

Desember 24, 2004

Laporan : Egidius Patnistik

Kawasan kota tua sulit ditata, karena kawasan itu masih menjadi daerah perlintasan kendaraan. Sekitar 70 persen kendaraan yang datang ke Kota Tua ternyata hanya sekadar melintas. Wagub DKI Fauzi Bowo mengatakan hal itu di Balaikota, Jumat (24/12).

Menurut Fauzi Bowo, kawasan Kota Tua yang meliputi sebagian wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Utara harus ditata menjadi daerah tujuan bukan lagi daerah perlintasan. “Kita akan review tata ruang pada tahun 2005. Kawasan itu akan dijadikan destinasi atau daerah tujuan. Angkutan dan truk barang nanti diatur (tidak masuk ke kawasan itu),” ujar Fauzi.

Dalam rangka penataan itu, lanjut Fauzi, Stasiun Kota akan dijadikan stasiun regional yang hanya melayani daerah Jakarta dan sekitarnya dan tidak lagi menjadi stasiun antar-kota.

Sementara untuk membuka kawasan tersebut lebih menarik yang dikembangkan tidak hanya potensi historis, tetapi juga potensi komersial. “Daerah sekitar Kota Tua harus ikut ditata. Kawasan itu punya potensi untuk dikembangkan hingga menjadi potensi baru yang punya nilai komersial tinggi,” ungkap Fauzi.

Perkumpulan Jakarta Oldtown Kotaku, pimpinan Miranda S Goeltom pada 12 Desember lalu mencanangkan revitalisasi Kota Tua. Kegiatan tersebut melibatkan sejumlah arsitek, pemilik bangunan, dan pecinta Kota Tua. (Ima)

Sumber: Kompas, Jumat, 24 Desember 2004

WISATA KAMPUNG TUA

Desember 19, 2004

Press Release
WISATA KAMPUNG TUA

Minggu, 19 Desember 2004

Kembali Museum Sejarah Jakarta didukung oleh KPSBI-HISTORIA akan menggelar acara yang bertajuk jalan-jalan sejarah yang di beri nama WISATA KAMPUNG TUA (diadakan sekali sebulan sejak tahun 2002). Yaitu suatu acara walking tour menyusuri kawasan Kota Tua Jakarta. Acara ini dipandu oleh sejarahwan berpengalaman, seperti Alwi Shahab (Republika), M. Isa Anshari (KPSBI-HISTORIA), dan Asep Kambali (KPSBI-HISTORIA).

“Ini atjara bagoes sekali boeat orang prampoean atawa orang lelaki, jang moeda maoepoen yang toea poen boleh, jang soeka pleziran, jang ingin berbadan sehat, dan soeka sedjarah djakarta tempo doeloe. Didjamin ketagian jij-jij punya rasa.”

Tjuma bajar Rp. 10.000 (studenten) Rp. 20.000 (openbaar/umum) Jij suda dapet

Fasilitas :
1. Makan siang/ Lunch
2. Tanda pengenal/ ID Card,
3. Sinopsis/ Hands Out,
4. Tour guide,
5. Gratizzz masuk moeseoem

Roeteu:
1. Stadhuis / Museum Sejarah Jakarta / Museum Fatahillah (meeting point)
2. Moeseoem Bank Indonesia*
3. Stasion BEOS
4. Jasen Brug / Jembatan Batu
5. De Portugeesche Buitenkerk / Gereja SION
6. Monumen Pieter Elberveld / Eks Rumah Pieter Erberveld
7. Makam Raden Ateng Kartadria
8. Mesigit Mangga Doea
9. Makam Souw Beng Kong (1580-1644) / Kapiten Cina Pertama di Batavia.
10. Kembali ke Museum Fatahillah

* dalam konfirmasi

Nah, jika jij tertarik, silahkan daftarkan jij punya diri ke:

Komunitas Peduli Sejarah dan Budaya Indonesia (KPSBI-HISTORIA)
Ujo : 0813-1550-1669, 0818-0807-3636.
Ida : 0815-8621-8217.
Jaja : 0817-692-6840.

Mengenang Karsten di Lawangsewu

Desember 18, 2004

GEDUNG Lawangsewu yang sehari-hari senyap, sejak Rabu (15/12) lalu terlihat ramai. Alunan lagu-lagu pop terdengar dari pengeras suara yang terdapat di selasar depan, menyambut kedatangan puluhan orang di bangunan tua bekas kantor Nederlansch Indische Spoorweg Maatscappij (NIS) tersebut.

Di depan pintu utama, terpampang dua poster besar. Di sisi kanan bergambar seorang lelaki berkumis mengenakan kacamata. Tak perlu susah-susah menerka siapa tokoh itu, sebab di bawahnya tertera sebuah nama: “Ir Herman Thomas Karsten”, beserta biografi singkat yang disusun laiknya tabel.

Poster di sebelah kiri bergambar seorang lelaki dengan pakaian bersahaja dengan sebaris tulisan: “Semarang 2020 Come to the Humanizing City”, Tribute to Herman Thomas Karsten, Semarang 1914-2004.

Ya, seperti terpapar dalam poster tersebut, keramaian Lawang Sewu karena ada peringatan ulang tahun ke-90 Herman Thomas Karsten, arsitek masyhur Belanda pencipta karya-karya agung di Hindia Belanda. Acara yang digagas Komunitas Inisiatif Telaah Arsitektur (KITA) Semarang itu menyajikan tiga agenda utama, yakni pameran foto karya arsitektur Karsten, pameran produk arsitektur, seminar dan penganugerahan penghargaan yang berlangsung 15-18 Desember.

Pameran foto karya arsitektur Karsten digelar di dalam lima ruangan depan. Tidak semuanya, hanya yang terdapat di Kota Semarang. Bangunan-bangunan tersebut antara lain Zustermaatscappijen de Semarang (sekarang Kantor PT KAI Daop IV) di Jl MH Thamrin, Djakarta LLyod Stoomvart Nederland (Kantor PT Djakarta Llyod/ persero) Jl Kutilang, Pasar Randusari, Pasar Johar, Semarang-Cheribon Stoomtram Maatscappij (Stasiun Poncol), Nederlansch Kerk (Gereja Blenduk), St Elizabeth Ziekenhuis (Rumah Sakit Elizabeth) dan Taman Diponegoro. Setiap objek ditampilkan dalam beberapa sudut pengambilan.

Aneka Perabot

Pameran produk arsitektur digelar pada beberapa ruang yang terletak sedikit ke dalam. Aneka perabot seperti kap lampu, gorden, sketsel, bantal, lukisan, water purifier (penjernih air), hingga pernik-pernik hiasan fengshui dapat disaksikan sekaligus dibeli. Pameran berlangsung tiga hari, pukul 09.00-16.00.

Lebih menarik adalah seminar arsitektur yang diadakan dua hari, 17-18 Desember. Seminar menampilkan sejumlah pakar dari beragam disiplin ilmu, antara lain Ir Albertus Sidharta MSA, Ir Antonius Ardiyanto MT, Ir AMS Darmawan, M Bldg, Ir Agung Prijo Oetomo, dan Drs Darmanto Jatman SU.

Adapun penganugerahan penghargaan arsitektur akan diberikan kepada perseorangan atau kelompok, baik swasta maupun pemerintahan yang punya kontribusi konkret terhadap arsitektur dan perkotaan di Semarang. (Rukardi-89)

Sumber: Suara Merdeka, Sabtu, 18 Desember 2004

Pemerintah Bertanggungjawab Lestarikan Bangunan Sejarah

Desember 13, 2004

Bandung, Kompas – Tertundanya penyusunan peraturan daerah tentang cagar budaya jangan dimanfaatkan untuk melegalkan pembongkaran bangunan-bangunan bersejarah. Sebaliknya, pemerintah harus bertanggung jawab untuk melestarikan bangunan bersejarah, selama peraturan daerah belum disusun.

Demikian dikemukakan Ketua Bandung Heritage, Harastoeti Dibyo Hartono, Minggu (12/12). Rencana Pemerintah Kota Bandung untuk merumuskan perda tentang cagar budaya hingga kini belum terealisasi.

Padahal, semula pemerintah menargetkan penyusunan perda tentang cagar budaya selesai pada tahun 2004.

Harastoeti mengkhawatirkan, ketiadaan perda dijadikan alat bagi pemerintah untuk mengizinkan perombakan bangunan di kawasan yang mengandung cagar budaya.

Alasannya, pemerintah sering kali berdalih bahwa pembongkaran bangunan bersejarah sulit dibatasi karena perda tentang cagar budaya belum diterbitkan.

“Ketiadaan perda jangan dijadikan alasan untuk tidak mampu menyelamatkan cagar budaya. Meskipun belum ada perda, jika ada visi dari pemerintah untuk menyelamatkan dan menghargai cagar budaya, maka cagar budaya dapat diselamatkan,” kata Harastoeti.

Ia menyayangkan pembongkaran beberapa bangunan tua yang dinilai bersejarah, seperti Gedung Singer di Jalan Asia Afrika tahun 1992 lalu. Bangunan dengan arsitektur art deco karya F W Brinkman yang didirikan tahun 1930 ini merupakan bukti peninggalan tempat reparasi mesin jahit di Kota Bandung.

Kegiatan pembongkaran

Pembongkaran lainnya tengah dilaksanakan pada bangunan lainnya yang dianggap bersejarah, seperti bangunan rumah tinggal di Jalan Naripan No 85 dan Nomor 86, yang kini didirikan Bandung Electronic Mall.

Berdasarkan hasil pendataan Bandung Heritage pada tahun 2001, tercatat sejumlah 421 bangunan yang tergolong cagar budaya. Sedangkan Dinas Pariwisata Bandung telah mendata 48 bangunan yang diklasifikasikan sebagai bangunan bersejarah pada tahun 2004.

Kepala Dinas Bangunan Kota Bandung Ubad Bachtiar, mengakui, Pemerintah Kota Bandung kesulitan dalam membatasi pembangunan gedung pada bangunan bernilai sejarah.

Alasannya, hingga kini belum ada perda yang mengatur tentang bangunan cagar budaya.

“Selama belum ada aturan yang merinci kriteria bangunan cagar budaya, pembongkaran terhadap bangunan bersejarah masih sulit dicegah,” katanya.

Ubad mengakui, pemerintah tidak mampu memenuhi target pembentukan perda tentang cagar budaya yang semula dijadwalkan selesai pada tahun 2004. Ia kembali menjadwalkan pembentukan perda tentang cagar budaya dapat diselesaikan pada tahun 2005. “Semua tergantung pada anggaran pemerintah Kota Bandung,” katanya.

Penerbitan perda, lanjutnya, harus didahului penentuan kriteria bangunan yang tergolong cagar budaya.

Penentuan kriteria tentang bangunan bersejarah akan dilakukan melalui koordinasi antara pemerintah bersama dengan pakar arsitektur, sejarah, dan kalangan lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Ubad menambahkan, penelitian LSM tentang bangunan-bangunan bersejarah belum dapat dijadikan pedoman oleh pemerintah dalam menentukan bangunan bersejarah. “Hasil penelitian tentang bangunan bersejarah sulit dijadikan pedoman, selama belum ada aturan yang merinci kriteria bangunan cagar budaya,” katanya.

Ia mengakui, beberapa LSM telah mengajukan kriteria tentang bangunan cagar budaya. Namun, kriteria tersebut belum dilegalkan. Selain itu, tidak semua bangunan di atas usia 50 tahun merupakan bangunan bersejarah. Pihaknya masih harus meneliti ulang kebenaran hasil penelitian tentang bangunan-bangunan yang dinilai bersejarah.

“Selama ini, penelitian dari kalangan LSM memberikan masukan terbesar kepada pemerintah. Tetapi, kebenaran penelitiannya masih perlu diuji melalui penelitian kembali antara pemerintah, kalangan sejarawan, arsitektur, dan LSM lainnya. Selain itu, perlu ada legalisasi kriteria,” kata Ubad.

Sementara itu, Harastoeti mempertanyakan koordinasi antara dinas-dinas Pemerintah Kota Bandung. Ia menilai pemerintah Kota Bandung lamban dalam merealisasikan perda tentang cagar budaya. Sedangkan undang-undang tentang cagar budaya telah diterbitkan sejak tahun 1992.

“Bagaimana mungkin perda begitu lama disusun? Sedangkan dinas pariwisata telah mengklasifikasi bangunan-bangunan bersejarah di Kota Bandung. Saya melihat, persoalannya adalah tidak adanya koordinasi antara instansi pemerintah,” katanya.

Menurut Ubad, persoalan anggaran merupakan salah satu kendala mundurnya pembuatan perda. Demikian pula, penelitian ulang terhadap sekitar 421 bangunan bersejarah membutuhkan waktu.(LUQ)

Sumber: Kompas, Senin, 13 Desember 2004

Cinta Miranda Goeltom Kepada Bangunan Tua

Desember 11, 2004

Miranda Swaray Goeltom, yang lebih dikenal sebagai salah satu penyusun kebijakan moneter di Bank Indonesia (BI), memiliki jabatan lain dan amat berbeda dengan bidang perbankan, yakni Ketua Jakarta Oldtown-Kotaku (JOK), suatu perkumpulan masyarakat pecinta bangunan tua.

“JOK merupakan kumpulan orang-orang yang peduli dengan pelestarian dan keutuhan bangunan bersejarah, terutama yang berada di kawasan kota tua Jakarta,” katanya dalam konferensi pers Pencanangan Revitalisasi Kota Tua Jakarta, di Gedung BI, Kota, Kamis lalu (9/12).

Selain menjadi ketua di perkumpulan yang antara lain terdiri dari para arsitek dan ahli bangunan tua tersebut, Miranda juga bertanggung jawab atas pengembangan kegiatan seni dan budaya di kawasan Kota.

Perempuan yang pada Juni 2004 terpilih sebagai Deputi Gubernur Senior BI itu mengaku, kecintaannya kepada gedung-gedung tua di Kota dan sekitarnya tumbuh ketika ia masih kanak-kanak.

“Dulu, salah satu cabang perusahaan milik ayah saya berada di kawasan Kota, sehingga saya sering berkunjung ke sana. Selain itu, hampir seluruh keluarga saya bertempat tinggal di rumah tua, sehingga saya akrab dengan bangunan tua dan sangat menyukainya,” paparnya.

Ia masih ingat, ketika ia masih kanak-kanak ada sebuah restoran yang menyajikan masakan Cina yang sering dikunjunginya di Kota. Namun, sekarang restoran itu sudah tidak ada lagi. “Makanan di restoran Cina itu enak sekali. Saya masih bisa mengingat tempat dan rasanya sampai sekarang,” kenangnya bersemangat.

Miranda mengatakan, kecintaannya kepada bangunan tua bertambah sejak orangtuanya mengenalkan seni lukis kepadanya. “Sejak kecil saya dididik untuk mengenal dan mencintai berbagai seni, termasuk juga seni lukis dan seni bangunan,” ucapnya.

Peraih gelar doktor di bidang ekonomi dari Universitas Boston, AS, tersebut menyatakan pula rasa irinya terhadap negara-negara lain yang memiliki kota-kota tua yang tertata rapi dan indah serta menarik untuk dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara.

“Saya baru pulang dari Utrech, Belanda. Kota tua di sana indah sekali dan menarik untuk dikunjungi. Berbeda sekali dengan kondisi kota tua kita di Jakarta,” kisahnya.

Ia menimpali, “Saya iri sekali. Tetapi, itu iri yang positif, karena sekarang JOK dengan dukungan Pemda DKI akan berupaya menata ulang kawasan kota tua Jakarta, meski masih dimulai dengan upaya yang kecil, yaitu pembersihan Kali Besar.”

Salah satu staf pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) tersebut mengemukakan, saat ini, karena berbagai kesibukannya, ia sudah jarang mengunjungi kawasan Kota untuk sekadar berjalan-jalan.

“Saat ini saya sudah jarang ke Kota. Tetapi, bayangkan kalau kawasan tua ini bisa tertata rapi dan lingkungannya asri, tidak semrawut seperti sekarang, pasti banyak orang tertarik untuk berwisata ke sini,” tutur Miranda, yang berbusana warna hijau lumut dan berambut disemir dengan pewarna rambut ungu.

Meski berdarah Batak, perempuan kelahiran Jakarta, 19 Juni 1949 itu mengaku telah merasa akrab dengan Jakarta seperti layaknya orang Betawi. “Meskipun berdarah Batak, saya lahir dan besar di sini. Nama saya saja Goeltom. Tetapi, sebenarnya saya lebih ’Jakarta’ dari orang Jakarta,” ujarnya. (Ant/Ati)

Sumber: Kompas, Sabtu, 11 Desember 2004

Bekas Gedung BI Dijadikan Museum

Desember 9, 2004

Bank Indonesia (BI) akan menjadikan bekas Gedung Kantor Pusat BI di Beos, Kota, Jakarta Barat sebagai museum. Museum tersebut akan memajang berbagai koleksi produk perbankan, informasi tentang bank sentral seperti tentang masalah moneter serta dilengkapi restoran, kafe dan ruangan resepsi.

Ketua Perkumpulan Jakarta Oldtown Kotaku, yang juga Deputi Senior Gubernur BI, Miranda S Goeltom, mengatakan hal itu di eks Gedung BI di Kota, Kamis (9/12). “Museum itu nanti akan berisi informasi tentang Bank Sentral. Koleksi produk-prosuk perbankan, resto dan kafe serta tempat resepsi, seperti untuk pernikahan, tapi dengan nuansa zaman dulu,” kata Miranda.

Rencana menjadikan eks Kantor Pusat BI itu sebagai museum, menurut Miranda, merupakan bagian dari rencana besar untuk merevitalisasi kawasan Kota Tua, Jakarta yang selama ini terbengkalai dan tidak terurus.

Di tempat yang sama, Ketua Unit Khusus Museum BI, M Ashadhi, mengatakan museum BI itu dijadwalkan sudah bisa dibuka untuk umum pertengahan 2007. Mulai tahun depan, pihak BI sudah nulai mempersiapkan dalam rangka pembukaan museum tersebut.

Eks gedung BI tersebut memiliki luas 14.000 meter persegi dan didirikan pada tahun 1828. Di gedung dua lantai ini semula merupakan rumah sakit, lalu dialihkan menjadi sebuah bank. Pada tahun 1949 setelah Indonesia merdeka, bank tersebut dinasionalisasi dan pada tahun 1953 menjadi Kantor Pusat BI sampai tahun 1962. Namun, sejak 10 tahun lalu gedung tersebut tidak dipakai lagi alias kosong. (Ima)

Sumber: Kompas, Kamis, 9 Desember 2004

Revitalisasi Old Batavia, Menemukan Kembali Batavia yang Hilang

Desember 9, 2004

Jakarta, KCM. Dalam konferensi pers Program Revitalisasi Old Batavia oleh perkumpulan Jakarta Old Town Kotaku (JOK), Kamis (9/12), di Gedung Bank Indonesia Kota, Ketua JOK, Miranda S. Goeltom mengungkapkan, kawasan Jakarta Kota ini akan menjadi tujuan wisata yang diminati wisatawan bila lingkungannya nyaman, bersih, hijau dengan bangunan-bangunan tua peninggalan sejarah yang terawat baik.

Program yang secara resmi akan diluncurkan tanggal 12 Desember 2004 ini merupakan program pertama Jakarta Old Town Kotaku.

Jakarta Old Town, sebuah perkumpulan pemerhati bangunan-bangunan tua Jakarta, berinisiatif untuk mengembalikan kejayaan bangunan-bangunan tua dan menghidupkan kembali kehidupan nyaman di sekelilingnya.

Inisiatif ini dimulai dengan program kecil ramah lingkungan, yakni pembersihan Kali Besar. Pembersihan ini penting sebagai upaya jangka panjang dalam meningkatkan kualitas lingkungan daerah tersebut dan sebagai program pemahaman kepada masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.

Revitalisasi dilanjutkan dengan konservasi Gedung Bank Indonesia Kota, yang akan dialihfungsikan menjadi Museum Bank Indonesia. Museun ini didirikan untuk menyosialisasikan kegiatan Bank Indonesia, sebagai sarana edukasi dan rekreasi.

Konservasi atau pengembalian seperti aslinya ini akan dimulai pada 2005 dan diharapkan selesai 2006. Diperkirakan pertengahan 2007 museum Bank Indonesia ini akan dapat dibuka.

Revitalisasi Old Batavia bukan hanya menjaga keberadaan gedung-gedung tua, tetapi juga menempatkannya dalan lingkungan fisik dan non fisik yang menunjang. Untuk mewujudkan revitalisasi tersebut, pasti harus ada campur tangan Pemda DKI, sebagai pemerintah yang melingkupi daerah Jakarta Kota.

“Kami dari Jakarta Old Town Kotaku dan juga pemerintah DKI mengharapkan kawasan ini kembali menjadi pusat bisnis, pusat budaya, tempat tinggal untuk melakukan segala aktivitas sosial seperti halnya yang terjadi pada zaman dahulu di kawasan ini,” ungkap Shanti L. Poesposoetjipto, Wakil Ketua JOK.

Selain JOK dan pemerintah DKI, ada pemangku kepentingan sekitar Jakarta Kota yang harus dilibatkan, di antaranya, pemilik, pengguna, pemerhati dan orang-orang yang memiliki kedekatan sejarah dengan wilayah daerah Jakarta Kota.

Untuk menyukseskan program ini ditandatangi MoU dengan pihak-pihak yang mengelola dan menggunakan bangunan tua, untuk revitalisasi dan konservasi. Bangunan-bangunan tersebut akan diperluas penggunaannya, tidak hanya sebagai museum, tetapi juga membuka peluang bisnis bagi usahawan, membuka retail, restoran dan bisnis lain yang dapat disandingkan dengan keberadaan Old Batavia ini.

Penyelesaian keseluruhan program ini belum dapat diperkirakan. Namun, bila program ini berhasil, tentu kita dapat melihat sisi lain kota Jakarta, yakni sebuah kota bernama “Batavia” yang lama hilang ditelan deru pembangunan. (M3/jy)

Sumber: Kamis, 09 Desember 2004

Pemerintah Kurang Ahli Memugar Bangunan Bersejarah

Desember 1, 2004

Seharusnya pemerintah dan umat yang bertanggung jawab untuk memelihara rumah ibadat bersejarah itu. Kalau mereka tidak memilihara sungguh berbahaya. Namun, tantangan paling penting adalah pandangan yang menyatakan mengapa bangunan lama harus dijaga. Padahal, melalui bangunan lama yang menunjukkan gaya bangunan yang khas dan dipengaruhi oleh Timur Tengah, Tiongkok dan Eropa merupakan kekayaan kebudayaan. Sayang, tidak banyak yang menyadarinya. Peran pemerintah dalam menjaga gedung tua tidak terlepas dari sikap pemerintahan kolonial dulu. Pemerintah Belanda tidak menjaga gedung tua. Sekarang ada dinas khusus yang menangani masalah ini, namun kurang keahlian melakukan pemugaran. Pemugaran dilakukan dengan membongkar gedung dan membuat yang baru. Sebenarnya itu salah. Seharusnya dalam memugar sedapat mungkin yang lama yang harus dipertahankan keasliannya.

Pengganti

Pada kesempatan ini ada sebuah tema yang menarik untuk disajikan dalam acara Perspektif Baru. Tetapi sebelumnya ada sebuah cerita dari seorang ketika baru pulang dari berwisata di Italia. Dia mengatakan bahwa negara Italia sangat hebat, di sana sangat banyak bangunan kuno. Ketika ditanya bangunan kuno apa saja yang disaksikan, dia menjawab hampir semuanya adalah gereja. Berbeda dengan Indonesia, dia tidak pernah membaca atau menyaksikan bangunan kuno baik itu masjid maupun gereja. Yang ada adalah kuburan-kuburan kuno yang sampai sekarang masih dikunjungi oleh masing-masing umat beragama. Misalnya Wali Songo oleh umat Islam atau beberapa bangunan yang oleh umat yang dianggap suci seperti Sendang Sono oleh umat Katolik. Kali ini kita ingin berbincang-bincang dengan Romo Adolf Heuken yang sudah menerbitkan beberapa buku, di antaranya tentang gereja-gereja dan masjid-masjid tua di Jakarta. Sebuah pekerjaan yang awalnya dimotivasi oleh hobi dan kemudian berkembang menjadi sebuah pekerjaan serius. Dalam kesempatan ini Romo akan berbagi cerita mengenai pengalaman-pengalamannya menekuni bidang ini, juga pandangannya tentang rumah-rumah ibadah dan pelestariannya di negara kita, bersama Faisol Reza.

Bagaimana awal mulanya Romo menekuni bidang ini sampai kemudian menjadi pekerjaan serius bahkan sampai menuliskan buku ?

Saya sudah tinggal di Jakarta lebih dari 40 tahun. Kalau saya tinggal lama di satu tempat, biasanya ingin tahu latar belakang dan bagaimana ini berkembang dari sekarang yang ada. Waktu dulu saya tinggal di Mangga Besar, di sana masih banyak gedung tua dan saya ingin tahu latar belakangnya apa. Saya bertanya dengan orang yang tinggal di sana dan jawaban mereka simpang-siur. Tidak serupa. Saya berpikir bagaimana ini sebenarnya? Misalnya bagaimana di Jakarta bisa ada gereja Portugis yang sudah 350 tahun lamanya dan gereja Protestan. Ada yang bilang dulu orang Portugis yang bangun gereja itu, tetapi Portugis tidak pernah berkuasa di Jakarta. Kalau Portugis ada di Jakarta mereka akan bangun gereja Katolik. Sejak dulu sampai sekarang gereja itu adalah gereja Protestan. Lalu saya tanya, cari di buku dan baca koran bagaimana gereja seperti ini bisa tumbuh atau ada di samping kota tua.

Ternyata, dulu orang Portugis ada tetapi sebagai tawanan Belanda. Lama-kelamaan orang Belanda berusaha supaya mereka menjadi Protestan, tentu mereka membutuhkan gereja dalam bahasa Portugis. Maka muncul gereja Protestan dalam bahasa Portugis. Lalu ada hal lain yang hampir sama, orang bilang yang sekarang menjadi Museum Bahari dulunya adalah Benteng (Kastil Batavia). Hal itu tidak mungkin karena Benteng ada di sebelah kanan Ciliwung, bagaimana bisa ada di sebelah kiri Ciliwung saat ini? Atau stadhuis dibilang sebagai pusat pemerintah VOC. Ini tidak mungkin karena pemerintah VOC pasti berada di benteng bukan stadhuis. Banyak jawaban yang saya peroleh salah, menurut saya, karena itu saya berusaha untuk mengetahui sejarahnya. Inilah awalnya saya mulai mencari latar belakang gedung tua.

Buku-buku apa saja yang sudah Romo tulis untuk menekuni studi bangunan-bangunan tua di Jakarta ?

Sampai sekarang kalau saya tidak keliru sudah 10 buku tentang Jakarta. Yang pertama adalah historical site yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Buku ini bersifat umum. Sesudahnya muncul hal khusus, misalnya tentang Menteng. Karena saya sudah tinggal 30 tahun di Menteng, saya ingin tahu mengapa Menteng berbeda dengan pemukiman lainnya di Jakarta. Karena itu saya menulis buku tentang Menteng. Selain itu Jakarta atau Batavia. Ada cerita yang berbeda-beda, dulu ada Sunda Kelapa, lalu timbul pertanyaan kenapa dan kapan berubah menjadi Jakarta. Dari versi resmi kita ketahui bahwa bahwa Fatahillah merebut Sunda Kelapa dari Raja Hindhu yang ada di Padjajaran, sekarang Bogor, lalu mengalahkan armada Potugis kemudian ini disebut Djayakarta. Ini dongeng. Memang Fatahillah datang dan merebut Sunda Kelapa, jadi dia berperang melawan Padjajaran.

Portugis hanya datang dua kapal untuk berdagang. Satu kapal tandas, 30 orang berenang ke pantai dan dibunuh, sementara yang lain pergi. Lalu datang beberapa kapal lagi tetapi tidak diizinkan mendarat. Ini memang dua kejadian yang penting. Bila berdasarkan kedua peristiwa ini, tidak ada alasan untuk menyebut kota ini sebagai Jakarta. Sebenarnya, baru 30 tahun sesudahnya nama Jakarta dipakai. Tidak ada bukti sejarah apa pun bahwa Fatahillah menamakan kota yang ia rebut itu Djayakarta. Bukti kapan tahun kelahiran Jakarta pun tidak ada. Hal ini membuat saya mencari sumber sejarah dan saya tuliskan dalam tiga buku. Buku pertama mencakup periode sebelum Belanda datang, buku kedua berisi tentang perubutan Djayakarta direbut oleh Belanda, dan buku ketiga membahas tahun-tahun pertama Djayakarta sampai Sultan Agung mengepung Djayakarta dan akhirnya pulang ke Jawa Tengah. Ketiga buku ini berisi dokumen asli dalam bahasa asli, bahasa Sansekerta, bahasa Tionghoa, Belanda, Jerman dan lainnya. Saya menerjemahkannya sehingga pembaca bisa menentukan mana yang benar.

Kesibukan Romo sehari-hari adalah agamawan, bagaimana Romo bisa menjalankan kegiatan itu termasuk menulis buku ?

Menulis buku mengenai rumah ibadah berawal dari hobi. Saya menelusuri Jakarta pada hari minggu, mengumpulkan buku-buku dan artikel dalam bahasa Belanda dan bahasa lainnya. Hobi itu akhirnya menjadi kerja, hingga sekarang saya sisihkan waktu itu untuk menulis buku tentang Jakarta.

Bagaimana bangunan-bangunan tua khususnya rumah ibadah bisa bertahan ?

Gereja misalnya, hampir semua gereja tua hancur. Dulu di daerah kota ada empat gereja dan semuanya sudah hancur. Tinggal satu yang bertahan, itu pun dibangun di luar kota lama Batavia, yakni Gereja Portugis. Sehingga untuk saat ini, gereja tertua di Jakarta adalah gereja Portugis di Jalan Pangeran Jayakarta, Mangga Besar, sebenarnya tidak ada pelestarian terhadap bangunan-bangunan ini. Kalaupun masih berdiri karena tidak ada kemampuan untuk mendirikan yang baru. Bahkan gereja Portugis yang hampir seratus tahun tidak dipergunakan, hanya sekali dua kali dalam setahun dipakai.

Bagaimana mengenai masjid, apakah nasibnya berbeda dengan gereja ?

Berdasarkan dokumen yang berasal dari pertengahan abad ke-17, masjid tertua berada di kampung Bebek. Itu pun saat ini tidak diketahui di mana letaknya. Masjid yang tertua yang diketahui berasal dari sebuah sketsa Belanda tentang Jayakarta yang dibuat dari kapal. Di sketsa itu ada masjid, namun sudah tidak ada bekasnya karena terbakar. Yang termasuk tertua adalah masjid di Pekojan. Masjid tertua tetapi tidak ada satu pun bahannya yang berasal dari masjid yang pertama karena terus dipugar dan diperluas. Di tempat tersebut selalu ada masjid, namun dengan bangunan baru.

Kalau bangunan pertama sudah tidak ada lagi. Masjid-masjid lainnya berada di luar daerah yang disebut Batavia. Daerah yang dihuni oleh orang Malayu, Arab, India Islam dan orang Jawa yang datang untuk bekerja. Masjid-masjid ini mempunyai latar belakang yang berbeda, ada yang khas Arab tetapi dibangun oleh orang Prancis seperti yang di dekat Kali Angke. Ada yang dibangun dalam gaya Bali dengan sebagian gaya Jawa dan unsur-unsur Belanda, tetapi yang membangun orang Thionghoa. Jadi dengan melihat bangunan tua, kita mengetahui bahwa di Jakarta, agama, suku, bahasa dan bangsa apa saja yang bermukim di sini. Inilah seharusnya salah satu alasan untuk kita menjaga masjid.

Kalau masjid itu hilang, kita tidak tahu kalau dulu orang Bali yang datang ke Jakarta, mereka tidak membangun pura atau tempat ibadat Hindu Bali. Masjid dengan unsur Bali dan Thionghoa dapat kita lihat di masjid di Jalan Hayam Wuruk maupun di Tambora. Tetapi ada kesulitan untuk menemukan sejarah masjid karena tidak ada buku atau catatan. Sementara untuk klenteng lebih mudah. Ada pahatan di batu atau papan berisi nama-nama yang menyumbangkan uang atau apa pun untuk membangun klenteng.

Kesadaran untuk melestarikan bangunan bersejarah masih sangat rendah. Siapakah yang harus melestarikannya, pemerintah atau umat ?

Ya, seharusnya keduanya. Baik pemerintah maupun umat sendiri yang harus bertanggung jawab untuk memelihara rumah ibadat bersejarah itu. Kalau mereka tidak memilihara sungguh berbahaya. Namun tantangan paling penting adalah pandangan yang menyatakan mengapa bangunan lama harus dijaga. Padahal melalui bangunan lama yang menunjukkan gaya bangunan yang khas dan dipengaruhi oleh Timur Tengah, Tiongkok dan Eropa merupakan kekayaan kebudayaan. Sayang, tidak banyak yang menyadarinya. Peran pemerintah dalam menjaga gedung tua tidak terlepas dari sikap pemerintahan kolonial dulu. Pemerintah Belanda tidak menjaga gedung tua. Sekarang ada dinas khusus yang menangani masalah ini, namun kurang keahlian melakukan pemugaran. Pemugaran dilakukan dengan membongkar gedung dan membuat yang baru. Sebenarnya itu salah. Seharusnya dalam memugar sedapat mungkin yang lama yang harus dipertahankan keasliannya.

Sebagai umat beragama maupun pecinta bangunan kuno tentu tidak rela kalau bangunan tua hilang tanpa jejak. Usaha-usaha apa saja yang seharusnya dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran untuk melestarikan ?

Saya tinggal di Menteng, dan setengahnya hampir rusak. Setiap minggu selalu ada bangunan yang dibongkar. Padahal wilayah ini ini digolongkan dalam golongan B, yaitu bangunan yang luarnya tidak boleh dibongkar, tetapi dalamnya boleh. Bahkan yang memprihatinkan adalah bangunan Kantor Imigrasi di Jalan Teuku Umar yang masuk ke dalam golongan A. Sudah bertahun-tahun dilindungi tetapi bertahun-tahun pula telantar begitu saja. Masyarakat umumnya suka yang baru. Walaupun di sini banyak juga yang menjaga rumah mereka dengan baik dan mereka bangga tinggal di bangunan kuno. Bila umat suka gedung baru yang lebih besar, silakan bangun di daerah Kebayoran dan Pondok Indah yang daerahnya lebih cocok. Jangan hilangkan yang lama. Kalau kita menghilangkannya, maka kita tidak tahu lagi akar kita. Bagaimana pertumbuhan umat-umat yang berbeda di Jakarta. Kalau begitu, yang tinggal hanya foto, tulisan atau dugaan. Namun tidak bisa lagi melihat gereja dan masjid yang lama dan bangunannya itu.

Melihat kondisi masyarakat kita saat ini, menumbuhkan kesadaran untuk melestarikan bangunan tua agak sulit. Siapa yang seharusnya pertama sekali melakukan pelestarian ?

Seharusnya pemerintah. Pemerintah harus tahu gedung-gedung tua yang ada di wilayah Jakarta, misalnya Toko Merah di Kali Besar yang didirikan tahun 1730. Artinya gedung itu sudah sangat tua dan hanya ada satu gedung di Jakarta yang tersisa di mana seorang gubenur pernah tinggal di dalamnya, pernah juga menjadi kantor. Sekarang gedung itu disewakan untuk jadi tempat judi. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Saya tidak bisa mengerti bagaimana hal ini bisa diizinkan. Contoh lain, Masjid Luar Batang, memang sangat rendah sehingga sering terkena banjir. Kemudian diperbaiki dengan meninggikan lantai satu setengah meter. Dengan demikian proporsi bangunannya hilang. Seharusnya ada teknik lain seperti membuat selokan air dipompa keluar sehingga masjid tetap ada seperti dulu. Masjid ini sangat penting karena masjid tempat persembahyangan orang yang hendak dan yang pulang haji. Kini kondisinya sudah hampir rusak.

Sumber: http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2003/12/1/f1.htm