Archive for Maret, 2006

Benteng Pendem – Objek Wisata Sejarah Andalan Cilacap

Maret 31, 2006

BENTENG Pendem Cilacap atau dalam bahasa Belanda disebut ”Kusbatterij op de Lantong te Cilacap”, terletak sekira setengah kilometer ke arah selatan dari objek wisata pantai Teluk Penyu. Bangunan ini adalah bekas markas pertahanan tentara Hindia Belanda yang dibangun secara bertahap tahun 1861-1879 dengan luas 6,5 hektar.

Konfigurasi bangunan Benteng Pendem, sampai saat ini masih kokoh. Arsitek Belanda mendesain Benteng Pendem lengkap dengan barak/ ruang prajurit, klinik, terowongan, penjara, ruang amunisi, ruang tembak yang dikelilingi pagar dan parit serta tertimbun tanah sedalam 1-3 meter.

Kini, bangunan bersejarah itu menjadi salah satu objek wisata andalan Kabupaten Cilacap. Disebut Benteng Pendem, karena bangunan bersejarah itu nyaris tertutup tanah perbukitan. Dari puncak benteng ini, kita dapat melihat Samudra Indonesia.

Belanda membangun Benteng Pendem sebagai markas pertahanannya hingga tahun 1942. Sebab, saat perang melawan Jepang, Sekutu kalah. Benteng ini kemudian dikuasai Jepang.

Benteng tersebut, juga menjadi saksi perjuangan rakyat Cilacap melawan penjajahan Belanda. Di benteng ini, ratusan rakyat Cilacap dan para pejuang ditawan penjajah.

Pada tahun 1945, saat Kota Hiroshima dan Nagasaki dibom oleh tentara Sekutu dan Jepang hengkang kembali ke negerinya – bangunan yang berada tak jauh dari Pulau Nusakambangan tersebut, dikuasai TNI dari Banteng Loreng Kesatuan Jawa Tengah. Di tempat itu pula, para pejuang kemerdekaan berlatih perang dan pendaratan laut.

Pada tahun 1986, dilakukan penggalian terhadap lokasi yang berada di pintu Pelabuhan Cilacap tersebut. Ternyata di dalamnya terdapat ratusan ruangan, terdiri barak, benteng pertahanan, benteng pengintai, ruang rapat, klinik pengobatan, gudang senjata, gudang mesiu, ruang penjara, dapur, ruang perwira, dan ruang peluru.

Sebelumnya tak ada yang menyangka, jika di dalam tanah gundukan yang berada tak jauh dari kilang minyak tersebut terdapat sebuah bangunan bersejarah.

Karena konon tempat tersebut lebih dulu dibuat bangunan, baru setelah itu ditimbun dengan tanah setebal empat meter, sehingga bangunan tersebut tidak terlihat.

Pada masa pemerintahan Belanda, banyak tentara yang dipenjara di Benteng Pendem dikabarkan tidak kembali. Di lokasi ini diperkirakan masih terdapat bangunan lain yang tertimbun. Dari Benteng Pendem itu pula, konon terdapat terowongan yang menghubungkan dengan benteng sejenis serta sejumlah gua-gua di Pulau Nusakambangan melalui bawah laut.

**

Antara Benteng Pendem dan Pulau Nusakambangan memang ada kaitannya. Di “pulau penjara” ini, sejumlah bangunan bersejarah peninggalan pemerintah kolonial Belanda bisa dijumpai.

Bangunan bersejarah seperti rumah penjara, tempat peristirahatan di candi, benteng Portugis dengan peninggalan meriam kuno yang merupakan sebagian potensi alam serta sejarah di Nusakambangan, memiliki prospek bagus untuk ditawarkan sebagai atraksi wisata.

Di pulau ini terdapat sekira 25 goa, termasuk goa kelelawar yang dihuni ribuan hewan malam ini.

Memasuki Nusakambangan dengan waktu tempuh 15 – 20 menit dari Dermaga Wijayapura, pertama kali akan melihat monumen Nusakambangan berupa sebuah tugu peringatan yang jaraknya hanya sekira 10 meter dari Pelabuhan Sodong, Nusakambangan.

Menuju arah barat pulau ini, terdapat bangunan penjara peninggalan Belanda seperti bangunan LP Limus Buntu. Bangunan penjara pertama yang dibangun Belanda, adalah LP Permisan yakni tahun 1908 dan terletak di ujung selatan pulau ini. Pada tahun 1912 dibangun lagi sebuah penjara di daerah Nirbaya dan Karanganyar.

Selama kurun waktu tahun 1925 sampai tahun 1935 dibangun rumah penjara di Batu, Karangtengah Gliger, Besi, dan Kembangkuning hingga seluruh LP di sana berjumlah sembilan.

Di samping bangunan-bangunan penjara di sebuah perbukitan di daerah candi, terdapat sebuah pesanggrahan. Dari atas puncak bukit ini, kita dapat melihat kerlip-kerlip sinar lampu Kota Cilacap serta kawasan hutan bakau di Segara Anakan.

Sayangnya, berbagai bangunan yang ada di sana saat ini dalam kondisi rusak berat. Dari 9 LP yang dibangun Belanda hanya empat yang difungsikan, yakni LP Batu, Besi, Kembangkuning, dan Permisan.

Objek alam yang mempunyai potensi untuk dikembangkan adalah goa-goa alam seperti Goa Putri dan Ratu yang kini telah dikembangkan oleh Pemda Cilacap-Goa Kledeng, Pasir, dan Goa Lawa (Kelelawar) yang terletak di bagian tengah. Di sisi timur, terdapat Monumen Artileri Benteng Pendem peninggalan Belanda dan mercusuar di Pantai Cimiring. (Ibnu Sofwan/”PR”)***

Sumber: Pikiran Rakyat, 31 Maret 2006

Iklan

Visi “Masa Lalu” Pengembangan Kota Solo

Maret 27, 2006

Oleh Ubed Abdilah S

Mengamati rencana pembangunan Kota Solo seperti yang dilontarkan Pemerintah Kota Solo, muncul beberapa hal yang jadi catatan serta patut menjadi perhatian. Berulang kali, Wali Kota Solo Joko Widodo mengungkapkan, visi pembangunan Kota Solo adalah kota budaya yang berorientasi pada nilai masa lalu.

Dalam visi yang konkret Solo’s Past is Solo’s Future (Solo Masa Lalu adalah Solo Masa Depan). Yang layak jadi catatan dari sisi konseptual, adalah konsep “masa lalu” sebagai konsep yang mengarah pada “budaya”.

Konsep ini perlu mendapat perhatian, karena “budaya” tak melulu menyangkut masa lalu, namun yang utama adalah menyangkut “masa depan”. Jika visi ke depan pembangunan Kota Solo adalah masa lalu, yang jadi pekerjaan selanjutnya adalah bagaimana menggabungkan visi “masa depan” budaya dengan kondisi “masa lalu” Solo. Bagaimana visi itu bisa mengakomodasi kepentingan “masa depan” dengan konsep “masa lalu” Solo.

Konsep masa lalu dalam urban design seringkali hanya diasosiasikan dengan ikon fisik, seperti bangunan tua dan situs peninggalan budaya lama. Penerjemahan konsep pada wilayah fisik ini tidak salah, namun jangan sampai terjebak pada bentuk fisik dan mengabaikan apa yang ada jauh di luar bangunan fisik, yaitu nilai. Apa yang dijabarkan dengan masa lalu oleh Pemkot Solo baru tersirat pada bentuk fisik. Katakanlah rencana pemkot melakukan restorasi dan konservasi beberapa situs kebudayaan masa lalu, seperti Kampung Laweyan, Taman Sriwedari, dan lain-lain.

Setidaknya, langkah itu adalah awal yang baik, sementara begitu banyak situs peninggalan masa lalu di Solo yang terbengkalai. Sejauh ini masih terlalu minim perhatian pemkot dan juga masyarakat terhadap konservasi bangunan fisik peninggalan masa lalu itu. Persoalan kedua, konsep budaya memiliki terminologi luas.

Pembangunan budaya tak bisa dilakukan secara parsial terhadap satu aspek tertentu, seperti fisik. Budaya lebih berorientasi pada nilai atau spirit, menghasilkan manusia (masyarakat) yang berbudaya (sifat). Dari sisi konseptual spiritual ini, pencarian nilai masa lalu Solo adalah upaya kembali menghadirkan originalitas nilai Solo, nilai lokal yang berujung penemuan local genius dan identitas. Skala prioritas

Dari nilai dasar itu, selayaknya pemkot membuat skala prioritas pembangunan yang jelas. Dari rencana pembangunan kota yang dicanangkan Wali Kota Joko Widodo, dalam hal urban design, yang terungkap kepada publik baru rencana pengembangan city walk, sedang grand design pengembangan kota kurang banyak dipublikasi. Padahal, grand design sangat penting untuk melihat peta pengembangan kota secara terintegrasi. Satu hal lagi, pengembangan Solo selayaknya tak berdiri sendiri, tetapi harus melihat peta pengembangan daerah di sekitarnya, seperti Solo Baru yang lebih dulu mengembangkan diri sebagai kawasan urban penyangga Solo, juga kawasan Mojosongo yang akan dikembangkan sebagai Techno Park tahun 2020.

Jika yang tampak saat ini adalah pembangunan yang mengarahkan pada pemuasan libidonomic (hasrat ekonomi) seperti mal dan hipermarket bukan hal yang layak disayangkan. Itu karena, efek perkembangan ekonomi global dan dorongan politik budaya massa menuntut kehadiran ikon pemicu hasrat ekonomi itu. Ini tergantung pada pengelolaan dan kebijakan yang harus kembali mengacu kepada visi semula. Pencampuran antara ikon budaya massa yang memicu libidonomic dengan visi yang berkarakter budaya yang kuat pada sebuah kota menjadi daya tarik pada tingkat kunjungan pariwisata.

Jika pengembangan city walk di Jalan Slamet Riyadi Solo terinspirasi Orchard Road di Singapura, penataannya tidak bisa dilakukan parsial, sehingga dibutuhkan urban design yang komprehensif. Contoh, Singapura mengambil grand design sebagai garden city. Grand design Solo sebagai kota budaya perlu dieksplisitkan. Selain itu, dalam hal keterikatan budaya, Solo masih sedikit tertinggal dibanding tetangganya, Yogyakarta. Ciri budaya yang hendak ditampilkan Solo harus menjadi ikon kota dan mendapat positioning yang spesifik di tengah jangkar pariwisata Yogyakarta- Solo-Semarang (Joglosemar).

Karakter Solo yang berwajah multikultural adalah identitas Solo masa lalu di balik sejarah hegemoni kultur Jawa Mataram. Sisa dari ciri kota multikultural masih dapat dilihat hingga saat ini. Lagi- lagi, karena kurangnya minat konservasi dan desakan kepentingan yang lebih pragmatis, kekayaan nilai budaya itu nyaris punah. Wajah multikultur Solo tampak dari pluralitas populasi yang sesuai dengan karakternya sebagai kota komersial, menjadi tempat kelahiran organisasi dagang terbesar (Syarikat Dagang Islam), yang dengan sendirinya mengundang pelaku ekonomi dari berbagai masyarakat.

Saat ini masih tampak kawasan perkampungan yang memiliki karakter arsitektur budaya etnis tertentu. Perkampungan masyarakat China adalah salah satu simbol perkotaan. Di Solo, perkampungan China di kawasan Pasar Gede dan Pasar Balong masih terawat dan memberi warna dominan pada tata ruang Solo, selain perkampungan masyarakat Arab di kawasan Pasar Kliwon yang juga memiliki nilai kultural khusus. Laweyan, Kauman, Balong, atau Pasar Kliwon adalah jejak sejarah perkembangan tata kota Surakarta, dengan warna arsitektur dan latar belakang sosiologisnya. Berbagai gedung dengan corak arsitektur Jawa, Eropa, Indis, Art Deco, Tionghoa, hingga Timur Tengah jika semua bisa dirawat dan dikonservasi, bisa dijadikan proyeksi sebagai tujuan wisata, yakni wisata kota.

Ubed Abdilah S Director Center for Social Justices and Multicultural Studies, Solo.

Sumber: Kompas, 27 Maret 2006

Dari Toko Buku hingga Toko Batik

Maret 21, 2006

SATU lagi, bangunan lama di Kota Semarang hendak menemui ajalnya. Setelah Gedung Marabunta di Kawasan Kota Lama, kini sebuah gedung yang pada masa lalu kerap disebut Sasana Suka. Ya, bangunan indah dengan arsitektur berlanggam art deco itu kini sedang dalam proses pembongkaran. Sejumlah pekerja telah mencopoti sebagian gentengnya. Perobohan, sepertinya tinggal menunggu waktu.

Memang, jika dilihat dari sisi kesejarahan, fungsi bangunan yang terletak di pertemuan Jalan Pemuda dan Jalan Gajahmada itu tak terlampau punya makna. Ia tak seperti De Vredestein (sekarang Wisma Perdamaian) yang pernah menjadi kediaman resmi Gubernur VOC untuk kawasan Provinsi Pantai Tenggara Tanah Jawa. Atau, Gedung Lawangsewu yang menjadi kantor pusat Nederlansch Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Namun sebagai bangunan lama, gedung tersebut punya nilai arsitektur yang tiada tara.

Bentuk arsitektur eks Gedung Pertemuan Sasana Suka menjadi tengara masa pembangunannya. ”Memang, sejauh ini saya belum tahu kapan gedung itu didirikan. Tetapi melihat langgam art deco-nya, kira-kira antara tahun 1920 sampai akhir 1930-an,” kata Ketua Ikatan Arsitektur Indonesia Cabang Jawa Tengah, Ir Widya Wijayanti MURP.

Art deco adalah langgam arsitektur modern pada zamannya. Sebagai sebuah gerakan arsitektur baru kala itu, langgam itu berupaya memenuhi konsep modernisme, yakni bergerak dari tuntutan estetika menuju bentuk sederhana. Pada sisi lain, cenderung terdapat sentuhan lokal di dalamnya. Bangunan-bangunan lain di Semarang yang berlanggam art deco, di antaranya Stadion Renang di Jalan Ki Mangunsarkoro dan lantai I Rumah Kopi di Jalan Wotgandul Timur.

Landmark

Dengan gaya arsitektur yang unik tersebut, eks Gedung Sasana Suka menjadi landmark kawasan simpang empat Jalan Pemuda, Jalan Gendingan, dan Jalan Gajahmada. Keberadaannya menghiasi sudut jalan tersebut hingga terlihat elok dan memesona.

Pemerhati sejarah Semarang, Jongkie Tio menjelaskan, pada awalnya bangunan berlantai dua itu disebut dengan nama Stadstuin dan digunakan sebagai Toko Buku Felix. Hal itu berlangsung hingga masa kemerdekaan. Tahun 1950-an, berganti kepemilikan dan menjadi Toko Ratna yang menyediakan aneka barang kerajinan dan perhiasan.

Seiring tak berfungsinya lagi GRIS sebagai gedung pertemuan, Stadstuin mengambil alih peran tersebut. Lantai II gedung dijadikan ruang pertemuan, dan diberi nama Sasana Suka. Sementara sejak tahun 1980-an, lantai I digunakan sebagai Toko Tjendrawasih yang menjual kain batik khas Pekalongan. Sebagai gedung pertemuan, Sasana Suka masuk kategori kelas dua. Penyewanya bukan dari golongan elite, melainkan warga biasa. (Rukardi-62d)

Sumber: Suara Merdeka, 21 Maret 2006

Pembongkaran Gedung Eks Sasana Suka Dihentikan

Maret 21, 2006

Pemilik Hanya Merenovasi

SEMARANG- Aktivitas pembongkaran atap gedung eks Sasana Suka di perempatan Jalan Gajahmada dan Jalan Pemuda, kemarin dihentikan oleh Satpol PP Kota Semarang. Aparat memasang pita kuning Satpol PP linedi sekeliling dinding gedung kuno tersebut. Sebelumnya, semua pekerja diminta memberesi perkakas dan keluar dari gedung itu.

Namun pada kesempatan terpisah, Lie A Yen selaku pemilik gedung menegaskan bahwa pihaknya tidak membongkar gedung kuno itu. Sebaliknya, Lie mengaku ingin merenovasi bangunan di tepi jalan yang sudah belasan tahun mangkrak. Menurutnya, atap lama bangunan itu akan diturunkan dan diganti atap baru. Selanjutnya, bangunan dua lantai tersebut akan disulap menjadi tiga lantai.

Lie belum merencanakan peruntukan gedung setelah direnovasi. Tetapi kemungkinan besar akan disewakan atau dijual.

”Bagian atap yang diturunkan karena sudah lama bocor. Adapun bentuk asli bangunan tetap dipertahankan. Interior akan dirombak dengan menambahkan lift dan pendingin ruangan,” terang Lie seusai menghadap Kepala Dinas Tata Kota dan Permukiman (DTKP) Ir Bambang Haryono, Senin (20/3).

Dia mengungkapkan, langkah renovasi ditempuh karena sudah beberapa kali ditegur warga, camat, dan petugas DTKP. Gedung kuno miliknya sudah lama dijadikan sarang burung walet sehingga menebarkan bau tak sedap. Atap gedung itu, juga sudah lama bocor.

”Kalau tidak diperbaiki, saya khawatir rusaknya makin parah. Waktu saya minta izin renovasi ke DTKP, disarankan tidak mengubah bentuk asli, dan tidak boleh mengganggu lingkungan,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Operasi Satpol PP Sumardjo mengatakan, pihaknya menerima tembusan Surat Pemberitahuan Penghentian Pelaksanaan Pembangunan (SP4) dari DTKP Kota Semarang. Surat bernomor 640/761 itu memerintahkan agar pembongkaran dihentikan lantaran melanggar Perda No 12 tahun 2000 tentang Bangunan dan Perda No 17 tahun 1996 tentang Retribusi Perizinan.

”Tempat itu untuk sementara waktu ditutup dan segala kegiatan di dalamnya dihentikan karena melanggar Perda. Selama penghentian, gedung itu dalam pengawasan Satpol PP,” kata dia.

Harus Izin

Pada kesempatan terpisah, Kepala DTKP Kota Ir Bambang Haryono membenarkan bahwa pihaknya menerbitkan SP4. Menurut dia, sebelum memerintahkan penghentian kegiatan, pihaknya sudah melayangkan surat peringatan pertama.

Diakuinya, Gedung Eks Sasana Suka belum masuk dalam daftar 101 bangunan kuno yang dilindungi oleh SK Wali Kota No 646/50/1990. Kendati demikian, sesuai Perda No 12 tahun 2000, semua kegiatan pembangunan mestinya didahului izin. Apalagi, gedung itu dibangun dengan gaya arsitektur art deco sehingga mengundang perhatian khalayak.

”Sampai sekarang belum ada pengajuan izin. Meski sudah ada iktikad baik, pemilik tetap harus mengajukan izin. Dokumen itu akan memberi gambaran rencana renovasi,” kata dia.

Sementara itu, anggota Komisi C DPRD Kota Semarang Agung Budi Margono mengatakan, mestinya pemerintah memberikan perhatian pada bangunan kuno, terlepas sudah masuk dalam perda atau belum.

Pada saat yang sama, dia berharap, pemerintah juga tidak hanya melakukan pelarangan atau pengaturan gedung kuno, tanpa diikuti dengan solusi. Sebab, perawatan sebuah bangunan kuno memerlukan biaya yang cukup besar.

”Kalau hanya diatur atau dilarang, siapa nanti yang mau merawat bangunan kuno? Mestinya, ada semacam privilige bagi pemilik untuk mengakses perizinan, atau kalau memungkinkan, ada kompensasi yang memadai untuk mereka,” kata anggota Dewan dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) itu. (H5,H6,H9-62)

Sumber: Suara Merdeka, 21 Maret 2006

Istana Merdeka Akan Direnovasi

Maret 21, 2006

Tempat tinggal Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Merdeka Jakarta akan direnovasi sebab banyak bagian bangunan yang sudah mulai rapuh. Belum diketahui berapa biaya yang diperlukan untuk renovasi.

“Istana Merdeka sudah sebaiknya kita perbaiki. Itu sudah terlalu lama,” kata Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto usai menemui Presiden di kantornya di Jakarta, Selasa (21/3).

Selain rapuh, menurutnya, ada beberapa ruas bangunan di Istana yang dibangun tahun 1873 itu sudah tidak pantas ditempati oleh Presiden Susilo. “Ada patung kuda yang sudah tidak pantas, ada yang sudah banyak rayap dan di ruang tamu presiden ada yang sudah melengkung,” katanya.

Menurutnya, renovasi yang akan dilakukan bisa memakan waktu 6-7 bulan sehingga Presiden Susilo harus pindah dari lokasi tersebut. “Kalau direnovasi, presiden harus pindah dulu, bisa ke Istana Negara atau Wisma Negara,” katanya.

Istana Merdeka mulai dibangun 1873 pada jaman Pemerintahan Gubernur Jenderal Louden dan selesai 1879 pada masa Gubernur Jenderal Johan Willem van Landsbarge. Bangunan yang menghadap jalan Merdeka Utara ini, berdiri di atas tanah 2.400 meter persegi dibangun oleh arsitek Drossares. Istana Negara juga dulu dikenal dengan nama Istana Gambir.

Sumber: Ant
Penulis: Nik

Sumber: Kompas, 21 Maret 2006

Kenangan Bandar Termegah Asia Tenggara

Maret 9, 2006

Oleh: Iwan Santosa

Jakarta bukan surga kemewahan semu dalam kompleks mal ataupun gedung apartemen belaka. Ragam gedung megah bangunan Belanda, deretan rumah Tionghoa, masjid Arab-Betawi, dan perkampungan berusia lebih dari lima abad adalah gambaran sejati Jakarta di kawasan kota tua.

Sejak abad ke-6 Masehi hingga menjelang Perang Dunia II, kota tua, yakni kawasan sekitar Glodok Pancoran, Musium Fatahillah, hingga Pelabuhan Sunda Kelapa, adalah jantung nadi perekonomian Nusantara dan bahkan Asia Tenggara, melampaui nama besar Singapura, Penang, Malaka, Saigon, ataupun Bangkok. Kombinasi bangunan bergaya abad pertengahan masa Baroque-Rococo hingga Art Deco paruh pertama abad ke-20 adalah aset sejarah, budaya, dan potensi devisa yang nyaris tidak tersentuh.

Berjalan kaki menyusur halaman Stasiun Kota atau terminal bus transjakarta ke Jalan Pintu Besar menuju Kali Besar dan berputar di sekitar Jalan Kunir hingga Jalan Lada adalah sebuah jalur sejarah yang di mancanegara sudah disulap menjadi sumber devisa.

Sebagai contoh keberhasilan adalah kota tua di Singapura, Kuala Lumpur, Penang, dan Malaka yang sudah menjelma sebagai heritage trail (jalur sejarah) sebagai bagian tidak terpisahkan aset ekonomi kota yang langsung berdampak pada kehidupan masyarakat. Benteng tua, kompleks bangunan kolonial peninggalan zaman British hingga Pecinan adalah simbol kota-kota tersebut.

Sesungguhnya kota tua Jakarta adalah eksotisme dan roman hidup dari bangunan antik serta komunitas turun-temurun yang masih hidup di sekitarnya. Suasana tempo doeloe adalah sensasi di balik hiruk-pikuk jalanan dan kepadatan manusia yang tidak menyadari saksi bisu kejayaan masa lalu ada di sekitar mereka.

Pusat bisnis Asia Tenggara

Pada abad ke-19, Belanda telah menjadi pusat keuangan di Eropa. Ini tidak terlepas dari eksploitasi alam Nusantara yang secara administratif dan perekonomian dikendalikan dari Batavia, atau di kawasan kota tua.

Masa itu, Batavia menjadi jantung kegiatan bisnis Asia Tenggara karena kekayaan alam di negeri jajahan Belanda ini jauh melampaui kekuatan kapital penjajah Inggris di Malaya, permukiman selat (straits settlement), yakni Penang, Malaka, Singapura, ataupun Hongkong.

Kejayaan bisnis di Nusantara terekam di pusat perekonomian kota tua seperti di Jalan Pintu Besar Utara, perkantoran di Jalan Kalibaru Timur ataupun wilayah Pinangsia (dari kata Financiereen yang secara harfiah berarti distrik keuangan).

Jejak bisnis terekam di Museum Bank Mandiri (semula bernama Nederlansche Handel Maatschapij/NHM kemudian menjadi Bank Eksim) dengan suasana bisnis zaman kolonial langsung terasa selepas pintu utama. Pelbagai papan petunjuk dalam bahasa Belanda terpampang jelas di ruangan utama tempat transaksi keuangan.

Sekeliling bangunan tersebut membawa kita pada suasana lebih dari setengah abad lampau. Ragam petunjuk, artifak alat transaksi keuangan di masa lalu, contoh uang dan keterangan tersaji di bagian dalam museum Bank Mandiri. Sejumlah ruangan yang dahulu tidak bisa dimasuki sembarang orang kini dapat dilihat pengunjung. Tak ketinggalan sebuah kafeteria dan taman di tengah kompleks museum menjadi pelengkap bagian awal penyusuran kota tua.

Bersebelahan dengan Museum Bank Mandiri terdapat Museum Bank Indonesia. Deputi Senior Bank Indonesia Miranda Goeltom yang aktif dalam paguyuban Jakarta Old Town Kotaku (JOK) mendedikasikan gedung tersebut menjadi museum dengan arsitektur bergaya Barat dengan kombinasi Indische. Gedung ini sempat menjadi kantor pusat Bank Indonesia pada tahun 1953-1962.

Selepas dari dua museum perbankan itu ada dua pilihan, yakni ke arah Museum Fatahillah yang pernah menjadi Kantor Gubernur Jenderal kemudian Balaikota atau ke arah Kali Besar.

Kali Besar menyimpan deretan gedung bersejarah seperti Toko Merah yang dibangun tahun 1730 oleh Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff (memerintah 1743-1750). Thomas B Ataladjar dalam buku Toko Merah Saksi Kejayaan Batavia Lama Di Tepi Sungai Ciliwung menulis, bangunan ini pernah menjadi rumah gubernur jenderal lain, yakni Jacob Mossel (1750-1761), Petrus Albertus van der Parra (1761-1775), Reinier de Klerk (1777-1780), Nicolaas Hartingh, Baron van Hohendorf, ataupun menjadi akademi maritim (Academie de Marine) dan penginapan Heerenlogement.

Tempat ini juga menjadi saksi gerakan nasionalis Indonesia. Thomas B Ataladjar mencatat, pada masa nasionalisasi perusahaan Belanda paruh terakhir tahun 1950-an, karyawan Indonesia mengambil alih NV Jacobson van den Berg & CO yang berkantor di Toko Merah dari tangan manajemen Belanda. Aksi serupa terjadi pada perkantoran sekitar kota tua seperti di Gedung NHM yang kini menjadi Museum Bank Mandiri.

Bangunan tetangga Toko Merah adalah saksi kejayaan dunia usaha di Batavia silam. Gedung di sudut Jalan Bank dan Kali Besar Barat, misalnya, adalah bekas gedung Standart Chartered Bank. Demikian pula gedung lain di deretan Toko Merah adalah bekas gedung Hongkong and Shanghai Banking Corporation (HSBC). Kantor itu adalah cabang pertama HSBC di mancanegara yang membuktikan sangat tingginya aktivitas ekonomi di Batavia masa itu.

Sumber: Kompas, 09 Maret 2006

75 Persen Kota Tua Rusak Berat

Maret 6, 2006

Tak Ada Insentif dari Pemerintah

Jakarta, Kompas – Sekitar 75 persen dari 170-an bangunan cagar budaya dari abad XVI hingga awal abad XX di Kota Tua Jakarta, di sekitar Stasiun Kota, Museum Fatahillah, hingga Pelabuhan Sunda Kelapa, dalam keadaan rusak dan terancam hancur. Dalam pantauan, kemarin, kerusakan terjadi pada sejumlah bangunan.

Ketua Komunitas Peduli Sejarah dan Budaya Indonesia (KPSBI-Historia) Asep Kambali, yang ditemui di Museum Bank Mandiri seusai penyusuran Jakarta Trail di kawasan Kota Tua, menjelaskan, sejumlah besar bangunan dalam keadaan kritis dan dikhawatirkan segera hancur jika tidak diupayakan perbaikan.

Kebijakan itu harus dibarengi rangsangan menciptakan kegiatan ekonomi di kawasan yang pernah menjadi pusat kota Batavia semasa penjajahan Belanda.

Upaya revitalisasi kawasan belum berjalan dan tidak ditangani serius. Tidak ada insentif pajak bagi pemilik bangunan agar meringankan biaya perawatan. Seharusnya ada penanganan terpadu antarpelbagai dinas terkait di DKI dengan seluruh stakeholder, kata Asep.

Karena tidak ada kegiatan ekonomi, alternatif terakhir adalah kegiatan hiburan malam saja, yang akhirnya hidup di sejumlah bangunan di kawasan Kota Tua.

Bangunan di kawasan tersebut, lanjut Asep, seharusnya dapat menjadi pusat perekonomian seperti dilakukan di Eropa. Kawasan bersejarah dapat dijadikan wilayah hunian tanpa mengubah bentuk asli dan juga obyek wisata. Sayang peluang tersebut belum dimanfaatkan di Jakarta.

Wilayah tersebut adalah surga bagi bangunan bersejarah. Di Jalan Kali Besar Barat terdapat Toko Merah yang dibangun Gubernur Jenderal Van Imhoff tahun 1730. Pada deretan bangunan di sebelahnya terdapat bekas gedung Bank Standard Chartered dan HSBC yang digunakan sebelum Perang Dunia II. Bangunan antik lain seperti Museum Fatahillah (bekas stadthuis atau balaikota) dan Museum Wayang bekas gereja juga berusia lebih dari tiga abad.

Riska, aktivis KPSBI, menjelaskan, bangunan bersejarah lain seperti Jembatan Kota Intan yang dibangun sekitar tahun 1628 masih dapat ditemui di kawasan yang sama. Bagian paling tua adalah kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa yang mulai tumbuh sejak abad ke-6 hingga masa perjanjian Kerajaan Pajajaran dengan Portugis tahun 1500-an.

Revitalisasi pecinan

Direktur Jakarta Old Town Kotaku Ella Ubaidi yang dihubungi mengatakan, upaya revitalisasi Kota Tua sudah mulai dirintis di kawasan pecinan. Memang di sekitar Kali Besar masih belum ada kehidupan. Tetapi di sekitar Pancoran dan Gang Gloria sudah mulai ditata, katanya.

Menurut Ella, mengacu pengalaman di mancanegara, kawasan Kota Tua tidak saja memiliki fungsi komersial, tetapi juga sebagai tempat hunian.

Itu penting agar terdapat aktivitas sosial sepanjang hari sebagai living heritage. Jenis hunian yang ada merupakan perpaduan yang mewakili sebanyak mungkin kelas sosial. (ONG)

Sumber: Kompas, 6 Maret 2006.