Archive for the ‘Museum’ Category

Sudah Ada yang Beralih Fungsi

Februari 24, 2008

SEJARAWAN Anhar Gonggong menilai program revitalisasi museum yang dicanangkan Pemprov DKI Jakarta belum maksimal untuk menjaga dan memelihara keautentikannya. Program tersebut dituding hanya isapan jempol belaka. Sebab,ditemukan ada museum yang sudah beralih fungsi.

”Saya pernah marah saat Museum Thamrin dijadikan tempat pesta pernikahan beberapa waktu. Begitu saya masuk, ternyata isinya kosong dan ketika itu saya dibohongi kepala museumnya,” ujarnya. Dia menyayangkan sikap pemerintah yang mengabaikan fungsi museum yang sudah beralih fungsi tersebut. Sebab, kalau ditarik sejarahnya, museum itu sesungguhnya sebagai pusat pengetahuan yang tinggi,sekaligus tempat berwisata dan menjadi perhatian serius.

Dia mencontohkan,sebagai pusat ilmu pengetahuan,museum sangat banyak menyimpan barang-barang berharga peninggalan kerajaan terdahulu. Misalnya, jika kita ingin melihat bagaimana pergerakan pemuda sebelum kemerdekaan, semua peninggalannya termasuk gambar orangnyaadadiMuseumPergerakan Nasional.

Menurut Ketua Komunitas Jelajah Budaya Kartum Setiawan, saat ini agar menarik promosi atau pengemasannya hendaknya disulap menjadi sedikit berbeda, yakni melibatkan masyarakat supaya lebih dekat dengan objek itu sendiri. ”Misalnya,mengajak rekreasi ke Kota Tua,lalu dikemas dengan cara yang atraktif dan menarik,”ujarnya. (mohammad yamin/sujoni)

Sumber: Sindo, 24 Februari 2008

Butuh Inovasi Pengelolaan

Februari 24, 2008

SEJUMLAH museum di Kota Jakarta lambat laun mulai ditinggalkan pengunjung. Butuh inovasi untuk menjadikan museum sebagai sarana rekreasi keluarga.

Bangunan bersejarah khususnya museum sangat identik dengan benda, cagar budaya, dan catatan penting yang berisi nilai sejarah bangsa. Seluruh peristiwa yang tertoreh di masa lampau bisa dijumpai di museum.Namun, saat ini sebagian besar masyarakat perlahan-lahan mulai melupakan identitas museum sebagai salah satu tempat yang wajib dikunjungi. Museum masih dianggap sebagai tempat yang kurang menyenangkan. Penyebabnya beraneka ragam,mulai dari latar belakang pendidikan masyarakat yang rata-rata memang belum tinggi, juga karena kurang menariknya fasilitas yang ditawarkan museum itu sendiri.

Saat ini sedikitnya ada 30 museum di Jakarta. Di antaranya Museum Fatahillah, Museum Wayang, Museum Adam Malik, Museum Tekstil, Museum Satria Mandala, Museum Sejarah Jakarta, Museum Senirupa dan Keramik, Museum Prangko, Museum Pelita Harapan, Taman Prasasti, Ge-dung Joang 45, Museum Bank Mandiri, dan Museum Bank Indonesia.

Kondisi Memprihatinkan

Lisa Puspitasari,alumnus Universitas Indonesia, mengaku prihatin atas kondisi beberapa museum di Jakarta yang sudah tidak terawat dan terlihat kumuh. Saat melewati Museum Tekstil di dekat Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat,dirinya baru mengetahui bahwa di lokasi tersebut ada bangunan bersejarah .

”Saya baru tahu itu Museum Tekstil, padahal setiap hari lewat sini. Soalnya, di sekitar lokasi, persisnya di depan gerbang museum, tertutup sama pedagang barang- barang bekas,” terangnya. Kondisi museum serupa terlihat pada Museum Bahari dan Museum Samudera.Saat SINDO bertandang ke museum yang berlokasi di Jalan Pasar Ikan No 1 Jakarta Utara ini kondisinya tampak tidak terawat.

Cat bangunan yang dibangun persis di muara sungai Ciliwung ini tampak memudar.Akses jalan masuk ke museum terlihat becek dan berlubang. Bahkan, tidak sedikit dari koleksi museum yang sudah berusia 3,5 abad tersebut rusak lantaran terendam banjir pada November 2007 lalu dengan ketinggian air 40–60 cm. Museum yang menyimpan 1.500 koleksi ini sangat membutuhkan uluran perhatian dan bantuan dari pemerintah daerah setempat. ”Maklum,museum ini lebih rendah dari jalan sehingga kalau banjir langsung masuk ke ruang pamer koleksi benda antik,”ujar Subaedah, Kepala Subbag Tata Usaha Museum Bahari.

Perlu Desain Menarik

Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta Aurora Frida Tambunan mengatakan,sebagian masyarakat memang tidak terbiasa berkunjung ke bangunan bersejarah atau museum.Padahal, tidakadasalahnya jikasebulan sekali mengunjungi museum untuk menambah wawasan sekaligus pengetahuan.

”Maka itu,sebaiknya kita meniru museum- museum di dunia yang menjadikan museum sebagai tempat rekreasi sehingga menarik minat untuk datang ke sini,”jelasnya. Menurut dia,cara menarik minat pengunjung yaitu dengan menambah atau mengubah tata pamer koleksi meski selama ini koleksi benda antik di museum sangat kurang. Untuk mendukung tata pamer tentu bangunan harus dipugar, seperti yang sudah dilakukan terhadap sejumlah bangunan di Kota Tua. (sucipto/sujoni)

Sumber: Sindo, 24 Februari 2008

Tujuh Museum Bersinergi Luncurkan Program Wisata

Februari 22, 2008

PADA 2008 ini bisa menjadi awal masa kebangkitan museum-museum di Indonesia. Sebab, melalui prakarsa House of Sampoerna, sebanyak tujuh museum dalam negeri bergabung dan meluncurkan program wisata museum. General Manager Hosue of Sampoerna Ina Silas menyatakan,saat ini tercatat ada 275 museum di seluruh Indonesia, tetapi tidak semua eksis dan ramai dikunjungi wisatawan. ’’Bahkan, jumlah sebelumnya yang terdata itu sebanyak 286.mBisa jadi angkanya lebih dari itu, tapi kini tinggal 275. Untuk itulah,kami ingin membuat jejaring ini,’’ ujar Ina saat jumpa pers di Museum Nasional,Jakarta,kemarin. Ketujuh museum itu adalah House of Sampoerna (Surabaya), Museum Nasional (Jakarta), Museum Bank Mandiri (Jakarta),Museum Batik Danar Hadi (Surakarta), Museum Geologi (Bandung), Museum Sejarah Jakarta( Jakarta), dan Museum Sepuluh November (Surabaya).

Ina menjelaskan, implementasi dari program jejaring ini melalui program pameran bersama di beberapa daerah di Indonesia. ’’Misalnya Museum Geologi Bandung dapat berpameran di Surabaya. Dengan demikian,orang Surabaya yang tidak bisa pergi ke Bandung tetap dapat melihat seperti apa museum geologi ini,’’ ujarnya. Jejaring promosi pun dilakukan. Menurut Ina,mulai kerja sama dengan agen wisata, travel, hotel, hingga asosiasi terkait merupakan cara untuk lebih membudayakan berkunjung ke museum. Sebab, meskipun beberapa museum ramai dikunjungi mayoritas kelompok pelajar dan mahasiswa,ini demi memenuhi tugas sekolah atau kuliah. Presentasi pengunjung kelompok pelajar untuk museum di Indonesia rata-rata 80– 85%. Sementara itu, pengunjung wisatawan hanya kurang dari 15%.

’’Kami yang akan membantu promosi brosurnya. Sebanyak mungkin brosur yang kami cetak tidak ditargetkan. Namun, tetap kami beri target tahunnya.Akan kami evaluasi pada 2008 ini bagaimana hasilnya,’’ ungkapnya. Meski demikian,alasan Ina mengajak ketujuh museum tersebut lantaran dianggap sebagai museum yang paling siap untuk diajak promosi. Selain ketujuh museum itu,masih banyak museum di Indonesia yang kondisinya menyedihkan dan sepi pengunjung.Dengan berbagai upaya sinergi dan promosi guna melakukan proses penyadaran publik tentang pentingnya museum, Ina optimistis museum menjadi salah satu tempat tujuan wisata favorit. ’’Apalagi, jika setiap museum mau berbenah dan berinovasi agar tidak membosankan. Sebab, memang bukan zamannya lagi museum hanya untuk orang tua, yang tempatnya gelap,sepi,dan terlihat angker,’’ ujarnya. (abdul malik)

Sumber: Sindo, 22 Februari 2008

Buka Ingatan Sejarah Lewat Museum

Februari 22, 2008

JAKARTA (SINDO) – Berdirinya beberapa mal di Jakarta memang bisa menjadi alternatif lain sebagai tujuan wisata. Namun,kini pengelola museum mulai berbenah dan membuatnya lebih menarik.

Salah satunya banyak melakukan inovasi untuk menarik pengunjung. Kini, bukan zamannya lagi museum sepi dan gelap. Sebab,beberapa museum telah berbenah dengan berbagai inovasi agar pengunjung semakin tertarik berkunjung ke sana. Kepala Museum Geologi Bandung Dr Yunus Kusumahbrata menyatakan, tidak jarang pihaknya kewalahan melayani antrean pengunjung. Untuk itu,pihaknya berupaya melakukan pembenahan dan inovasi agar pengunjung lebih nyaman. ’’Kalau ada orang yang mengatakan museum sepi dan gelap, itu cerita lama. Sebab, kini kami ramai dikunjungi pengunjung,” tuturnya, dalam acara peluncuran program wisata museum di Museum Nasional Jakarta, yang diprakarsai House of Sampoerna, kemarin.

Saat ini, rata-rata jumlah pengunjung Museum Geologi di Jalan Diponegoro, Bandung mencapai 4.500 orang per hari. Hal itu sungguh menggembirakan karena tren jumlah pengunjung per tahun meningkat cukup signifikan.Tercatat pada 2006 lalu, total jumlah pengunjung masih sekitar 211.000 orang. Sementara itu, pada akhir 2007, jumlah pengunjung sudah mencapai hampir 300.000. Karena itulah, pihak Museum Geologi Bandung menargetkan pada 2008 ini, sebanyak 350.000–400.000 pengunjung akan datang ke sana. Museum itu menyimpan hampir 200.000 koleksi berbagai jenis bebatuan dan 30.000 fosil.

Bahkan, Yunus menyatakan, lewat program Night at the Museum, pihaknya akan membuka pelayanan untuk umum pada malam hari setiap akhir pekan mulai pertengahan 2008 nanti. Namun,Anda jangan membayangkan hal itu akan seperti dalam film Night at The Museum yang dibintangi Ben Stiller, yang mengisahkan patung dan fosil T-rex di museum itu hidup kembali ketika malam saja.

’’Pembukaan pelayanan saat malam ini demi menjawab kebutuhan banyaknya pengunjung yang sering antre. Jika paginya untuk pelajar dan mahasiswa, malamnya untuk wisatawan lokal dan mancanegara. Dengan demikian, mereka bisa nyaman dan tidak perlu berjubel antre dengan pelajar,” paparnya. Museum yang resmi dibuka sejak 16 Mei 1929 itu sedang berbenah. Tidak hanya berencana membuka pelayanan malam, juga melakukan berbagai macam inovasi. Beberapa inovasi tersebut, di antaranya pembenahan internal pegawai museum.

Salah satunya pemberian berbagai macam training bahasa asing dan memandu wisata. Hal itu agar pengunjung benar-benar mendapatkan panduan dan penjelasan yang baik dari para petugas. ’’Misalnya, anak SD harus dibimbing orang yang memiliki keterampilan memandu anak-anak. Hal itu agar yang amit-amit (pemandu yang usianya sudah sangat tua) itu tidak lagi memandu yang imut-imut. Mudah-mudahan, itu bisa semakin meningkatkan jumlah pengunjung,” tuturnya.

Kemudian, pihak Museum Geologi juga menambah ruangan-ruangan agar kapasitasnya lebih memadai. Sebab, tidak jarang pengunjung harus antre karena kapasitasnya terbatas. Agar pengunjung yang antre di luar tidak sia-sia,museum itu akan membangun monumen dan pameran luar ruangan yang memajang batubatuan kekayaan alam Indonesia dengan brandmini stone park. ’’Kalau dari luar, museum itu kan hanya sebuah gedung dan tidak menarik.

Maka itu, rencananya kami membuat monumen dan display batu-batuan. Dengan demikian, orang akan lebih tertarik berkunjung ke sini, ”ujarnya. Kondisi serupa juga dialami Museum Sejarah Jakarta.Kepala Museum HR Manik menyatakan, jumlah pengunjung Museum Batavia ini naik dengan pelan, tapi pasti. Sekitar 2005 lalu, total jumlah pengunjung 60.000, kemudian naik menjadi 70.000 pada 2006.

Pada akhir 2007 lalu, total pengunjung pun mencapai angka 80.000.Untuk itu, pihaknya optimistis pada 2008 ini, pengunjung museum itu akan mencapai lebih dari 85.000. Bahkan, berbagai macam program dan acara digelar di museum ini,mulai Batavia Art Festival hingga acara fun. Bahkan, Manik mengaku demi memberi kesan nyaman dan terbuka kepada pengunjung, seluruh pegawai Museum Sejarah Jakarta harus mengenakan seragam biasa, bukan seragam pegawai negeri sipil (PNS).

’’Kami memperbaiki upaya internal, seperti tata pamer, promosi, dan ada kegiatan-kegiatan lain. Untuk profil pengunjung, sebanyak 60% pengunjungnya pelajar. Sementara itu, wisatawan mancanegara meningkat. Dulu komposisinya sekitar 10%,sekarang hingga 16%,” paparnya. Cerita agak sedikit unik datang dari pihak Museum Batik Danar Hadi Solo. Presiden Direktur Museum Danar Hadi Solo Santosa Doellah menyatakan, gara-gara ribut soal klaim Malaysia terhadap batik, jumlah pengunjung museum itu pun meningkat.

Dia menyatakan, angka kenaikan jumlah pengunjung hingga 50%. Kenaikan itu tentu cukup signifikan bagi museum batik yang diprakarsai dan dikelola swasta ini. Kini, rata-rata angka kunjungan bisa mencapai 1.000 orang per hari pada hari libur. Sementara itu, total pengunjung per tahun mengalami kenaikan pada 2007, lebih dari 25.000 orang. Pada 2008 ini, dia berharap angka pengunjung bisa mencapai 50.000 orang. ’’Setelah ada klaim batik Malaysia, pengunjung kami jadi bertambah banyak,” tuturnya.

Sentosa menambahkan, akibat terbatasnya kapasitas museum, tidak jarang pengunjung pun antre. Namun, akibat bencana banjir dan longsor yang melanda Solo dan sekitarnya awal tahun ini, Museum Batik Danar Hadi agak sepi pengunjung. Meski demikian, dengan berbagai macam cara promosi, mulai brosur, website, bekerja sama dengan agen travel, atau program wisata batik akan semakin menyedot jumlah pengunjung, baik pelajar, mahasiswa, hingga wisatawan lokal maupun mancanegara.

Kepala Museum Bank Mandiri Heliantomo juga sepakat bahwa berkunjung ke museum tidak lagi membosankan dan harus dikemas sedemikian rupa agar menyenangkan. Selain itu, pihaknya sedang menyiapkan berbagai macam kegiatan yang lebih menyemarakkan Museum Bank Mandiri.Kegiatan itu, di antaranya tempat permainan untuk anak-anak, teater terbuka, dan yang lainnya sehingga anak-anak muda nyaman berada di museum. ’’Kami harus berusaha mengelola museum agar tampak lebih menyenangkan bagi anakanak muda yang selama ini menganggap museum hanya untuk orangtua,” paparnya.

General Manager House of Sampoerna Ina Silas menambahkan, museum sejarah berdirinya usaha Sampoerna juga ramai didatangi pengunjung hingga 9.000 orang per bulan. Angka itu memang cukup menggembirakan bagi museum di Indonesia. Untuk itu, sekarang saatnya membudayakan berkunjung ke museum bukan atas paksaan mata pelajaran atau kuliah, melainkan karena ingin berwisata dan berlibur layaknya budaya di luar negeri. (abdul malik)

Sumber: Sindo, Jum’at, 22 Februari 2008

Nonton Perbankan Tempo Doeloe di Museum Mandiri

Mei 9, 2007

Oleh: Iwan Santosa

Wisata di museum tidak sekadar menonton benda dan bangunan bersejarah. Malam minggu (5/5), akhir pekan lalu, sejarah disuguhi rekonstruksi perbankan tempo doeloe berlatar tahun 1930-an di Museum Bank Mandiri di depan Stasiun BEOS (Jakarta Kota) di Kota Tua Jakarta yang bersejarah.

Tema yang diusung Komunitas Jelajah Budaya adalah Kasir China, salah satu ikon perbankan pada masa Kolonial. Kala itu para pegawai Tionghoa sebagian besar menjadi tenaga kasir di bank.

Para tuan besar Belanda sebagai nasabah, kasir Tionghoa, dan kerani Bumiputera, tampil di salah satu sudut bank yang memang pernah menjadi ruang kasir pada masa silam. Topi bambu bulat, seragam putih-putih, celana model Bermuda, hingga baju cheongsam yang digunakan para Nona Tionghoa pegawai bank ditampilkan pada malam itu.

Para wisatawan pun disuguhi rekonstruksi yang mirip tonil lengkap dengan kelakar. Sayang, tak banyak istilah Melayu Pasar yang lazim digunakan, tak muncul dalam pertunjukan pada malam itu, seperti sebutan babah, nona, encek, dan sebagainya.

Namun, upaya membangun keaslian penampilan agak terganggu pada sejumlah detail, seperti keberadaan tauchang (kepang rambut alias pig tail pria Tionghoa). Pada tahun 1930-an, tauchang sudah tidak lagi dipakai seiring revolusi Tiongkok pada awal abad ke-20 yang melahirkan gerakan kwa tauchang (memotong kepang rambut).

Meski demikian, para penonton antusias melihat pertunjukan tersebut. Calvin Barus yang datang bersama istrinya Ruth dari Depok, mengaku menikmati acara tersebut.

“Cara berpakaian yang dipakai mirip waktu saya kecil di perkebunan di Sumatera Utara. Saya ingat bapak saya biasa berbusana seperti para tuan besar lengkap dengan topi. Bapak saya memang kerja di perkebunan pemerintah yang diambil alih dari Belanda akhir tahun 1950-an,” tutur Calvin.

Selepas rekonstruksi, para pengunjung diberi kesempata lagi untuk kembali ke masa lalu. Nuansa tersebut dibangun dalam acara makan lengkap berupa rijztaffel (harfiah meja nasi), yakni hidangan khas zaman Kolonial yang merupakan pertemuan selera Belanda dan Indonesia. Rijsttaffel disajikan belasa pelayan berjas ala tempo dulu, menghidangkan nasi ditemani belasan penganan dan tentu saja kerupuk yang merupakan makanan mewa di masa lalu.

Sambil santap malam, pengunjung juga menyaksikan film hitam putih tentang Insulinde (sebutan Indonesia awal abad ke-20) ketika ekonomi sedang bangkit dan pembangunan serta keindahan negeri ini sangat memukau dinia Barat.

Setelah itu, pengunjung dibawa berkeliling museum yang selesai dibangun tahun 1933 sebagai kantor Nederlandsche Handel – Maatschappij (NHM). Ruang bawah tanah, brankas antik, kaca patri yang menggambarkan sejarah Nusantara sejak kedatangan Belanda, dan perangkat perbankan tempo dulu.

Titi, pengunjung lain, mengaku bahwa menonton pertunjukan sekaligus mengelilingi museum memberikan wawasan baru tentang kebesaran Nusantara di masa silam. “Ternyata banyak hal yang bisa dikagumi dari masa lalu,” ujar Titi.

Kartum, ketua Komunitas Jelajah Budaya, mengatakan kemasan rekonstruksi sejarah sengaja dibuat agar menggugah kepedulian masyarakat terhadap kebesaran di masa lalu sekaligus membangun rasa percaya diri. “Kalau tidak dimulai dari sekarang tentu bangunan cagar budaya berikut cerita yang menyertainya akan dilupakan,” ungkap Kartum.

Sumber: Kompas, 9 Mei 2007

Kunjungan ke Kampung-kampung Bersejarah

Juli 1, 2004

Bagi Anda yang senang mengenang masa lalu bersama-sama.
MUSEUM SEJARAH JAKARTA mengadakan aktivitas kunjungan ke kampung-kampung Bersejarah. Anda bisa ikut aktif dengan hadir pada acara yang telah dijadwalkan untuk tahun 2004 ini.

Jadwal kunjungan diselenggarakan pada pagi hari jam 08.00 – 12.00 WIB dan malam hari jam 19.00 – 21.00 WIB dengan demikian Anda dapat memilih jadwal sesuai dengan keinginan Anda.

Berikut jadwal kunjungan kampung bersejarah pada siang hari tahun 2004 :

Tanggal, Tempat serta Tempat Keberangkatan
8 Februari, Jien De Juan (Pancoran), Museum Sejarah Jakarta
21 Maret, Setu Babakan, Museum Sejarah Jakarta
18 April, Gereja Tugu, Museum Sejarah Jakarta
16 Mei, Kampung Arab (Pekojan), Museum Sejarah Jakarta
23 Mei, Gereja Immanuel, Museum Taman Prasasti
18 Juli, Kampung Bandan, Museum Sejarah Jakarta
15 Agustus, Menteng, Museum Taman Prasasti
19 September, Monas, Museum Taman Prasasti
26 September, Lautze, Museum Sejarah Jakarta
10 Oktober, Luar Batang, Museum Sejarah Jakarta
28 November , Masjid Bandengan, Museum Sejarah Jakarta
19 Desember , Gereja Sion, Museum Sejarah Jakarta

* Catatan: 28 November 2004 (Bulan Ramadhan) Jam : 15.00 – 18.00

Kunjungan ke kampung-kampung tidak diadakan pada malam hari tetapi hanya pada siang hari. Pada malam hari akan diadakan kegiatan lain misalnya pertunjukan slideshow.

Dengan uang Rp. 20.000,- (Rp. 10.000,- untuk mahasiswa/i) Anda dapat keliling kampung disertai dengan kisah sejarahnya. Biaya masuk sudah termasuk snack dan transportasi.

Jika Anda menginginkan informasi lebih lanjut, silakan menghubungi alamat di bawah ini.

Museum Sejarah Jakarta
Jl. Taman Fatahillah No. 1 Jakarta Barat
Telp. : (021) 6929101 – 6901483
Fax. : (021) 6902387
Email : musejak@indosat.net.id

Silakan bergabung dan selamat menikmati !

Museum Sejarah Jakarta

Juli 1, 2004

Sejarah Museum

Pada tahun 1937 Yayasan Oud Batavia mengajukan rencana untuk mendirikan sebuah museum mengenai sejarah Batavia, yayasan tersebut kemudian membeli gudang perusahaan Geo Wehry & Co yang terletak di sebelah timur Kali Besar tepatnya di Jl. Pintu Besar Utara No. 27 (kini museum Wayang) dan membangunnya kembali sebagai Museum Oud Batavia. Museum Batavia Lama ini dibuka untuk umum pada tahun 1939.

Pada masa kemerdekaan museum ini berubah menjadi ”Museum Djakarta Lama” di bawah naungan LKI (Lembaga Kebudayaan Indonesia) dan selanjutnya pada tahun 1968 ”Museum Djakarta Lama” diserahkan kepada PEMDA DKI Jakarta. Gubernur DKI Jakarta pada saat itu -Ali Sadikin- kemudian meresmikan gedung ini menjadi Museum Sejarah Jakarta pada tanggal 30 Maret 1974.

Untuk meningkatkan kinerja dan penampilannya, Museum Sejarah Jakarta sejak tahun 1999 bertekad menjadikan museum ini bukan sekedar tempat untuk merawat, memamerkan benda yang berasal dari periode Batavia, tetapi juga harus bisa menjadi tempat bagi semua orang baik bangsa Indonesia maupun asing, anak-anak, orang dewasa bahkan bagi penyandang cacat untuk menambah pengetahuan dan pengalaman serta dapat dinikmati sebagai tempat rekreasi. Untuk itu Museum Sejarah Jakarta berusaha menyediakan informasi mengenai perjalanan panjang sejarah kota Jakarta, sejak masa prasejarah hingga masa kini dalam bentuk yang lebih rekreatif. Selain itu, melalui tata pamernya Museum Sejarah Jakarta berusaha menggambarkan “Jakarta Sebagai Pusat Pertemuan Budaya” dari berbagai kelompok suku baik dari dalam maupun dari luar Indonesia dan sejarah kota Jakarta seutuhnya. Museum Sejarah Jakarta juga selalu berusaha menyelenggarakan kegiatan yang rekreatif sehingga dapat merangasang pengunjung untuk tertarik kepada Jakarta dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya warisan budaya.

Sejarah Gedung

Gedung Museum Sejarah Jakarta mulai dibangun pada tahun 1620 oleh ”’Gubernur Jendral Jan Pieterszoon Coen”’ sebagai gedung balaikota ke dua pada tahun 1626 (balaikota pertama dibangun pada tahun 1620 di dekat Kalibesar Timur). Menurut catatan sejarah, gedung ini hanya bertingkat satu dan pembangunan tingkat kedua dibangun kemudian hari. Tahun 1648 kondisi gedung sangat buruk. Tanah Jakarta yang sangat labil dan beratnya gedung menyebabkan bangunan ini turun dari permukaan tanah. Solusi mudah yang dilakukan oleh pemerintah Belanda adalah tidak mengubah pondasi yang sudah ada, tetapi lantai dinaikkan sekitar 2 kaki, yaitu 56 cm. Menurut suatu laporan 5 buah sel yang berada di bawah gedung dibangun pada tahun 1649. Tahun 1665 gedung utama diperlebar dengan menambah masing-masing satu ruangan di bagian Barat dan Timur. Setelah itu beberapa perbaikan dan perubahan di gedung stadhuis dan penjara-penjaranya terus dilakukan hingga bentuk yang kita lihat sekarang ini.

Gedung ini selain digunakan sebagai stadhuis juga digunakan sebagai ”Raad van Justitie” (dewan pengadilan) yang kemudian pada tahun 1925-1942 gedung ini dimanfaatkan sebagai Kantor Pemerintah Propinsi Jawa Barat dan pada tahun 1942-1945 dipakai untuk kantor pengumpulan logistik Dai Nippon. Tahun 1952 markas Komando Militer Kota (KMK) I, yang kemudian menjadi KODIM 0503 Jakarta Barat. Tahun 1968 diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta, lalu diresmikan menjadi Museum Sejarah Jakartapada tanggal 30 Maret 1974.

Seperti umumnya di Eropa, gedung balaikota dilengkapi dengan lapangan yang dinamakan ”stadhuisplein”. Menurut sebuah lukisan uang dibuat oleh pegawai VOC ”’Johannes Rach”’ yang berasal dari ”’Denmark”’, di tengah lapangan tersebut terdapat sebuah air mancur yang merupakan satu-satunya sumber air bagi masyarakat setempat. Air itu berasal dari Pancoran Glodok yang dihubungakan dengan pipa menuju stadhuiplein. Pada tahun 1972, diadakan penggalian terhadap lapangan tersebut dan ditemukan pondasi air mancur lengkap dengan pipa-pipanya. Maka dengan bukti sejarah itu dapat dibangun kembali sesuai gambar Johannes Rach, lalu terciptalah air mancur di tengah Taman Fatahillah. Pada tahun 1973 Pemda DKI Jakarta memfungsikan kembali taman tersebut dengan memberi nama baru yaitu ”’Taman Fatahillah”’ untuk mengenang panglima Fatahillah pendiri kota Jakarta.

Sejarah Kota Jakarta

Berdasarkan penggalian arkeologi, terdapat bukti bahwa pemukiman pertama di Jakarta terdapat di tepi sungai Ciliwung. Pemukiman ini di duga berasal dari 2500 SM (Masa Neolothicum). Bukti tertulis pertama yang diketemukan adalah prasasti Tugu yang dikeluarkan oleh Raja Tarumanegara pada abad ke-5. Prasasti merupakan bukti adanya kegiatan keagamaan pada masa itu. Pada masa berikutnya sekitar abad ke-12 daerah ini berada di bawah kekuasaan kerajaan Sunda dengan pelabuhannya yang terkenal pelabuhan Sunda Kelapa.

Pada masa inilah diadakan perjanjian perdagangan antara pihak Portugis dengan raja Sunda. Pada abad ke-17 perdagangan dengan pihak-pihak asing makin meluas, pelabuhan Sunda Kelapa berubah menjadi Jayakarta (1527) dan kemudian menjadi Batavia (1619). Tahun 1942 bangsa Jepang merebut kekuasaan dari tangan Belanda dan berkuasa di Indonesia sampai tahun 1945.

Koleksi

Perbendaharaannya mencapai jumlah 23.500 buah berasal dari warisan Museum Jakarta Lama (Oud Batavia Museum), hasil upaya pengadaan Pemerintah DKI Jakarta dan sumbangan perorangan maupun institusi. Terdiri atas ragam bahan material baik yang sejenis maupun campuran, meliputi logam, batu, kayu, kaca, kristal, gerabah, keramik, porselen, kain, kulit, kertas dan tulang. Diantara koleksi yang patut diketahui masyarakat adalam Meriam si Jagur, sketsel, patung Hermes, pedang eksekusi, lemari arsip, lukisan Gubernur Jendral VOC Hindia Belanda tahun 1602-1942, meja bulat berdiameter 2,25 meter tanpa sambungan, peralatan masyarakat prasejarah, prasasti dan senjata.

Koleksi yang dipamerkan berjumlah lebih dari 500 buah, yang lainnya disimpan di storage (ruang penyimpanan). Umur koleksi ada yang mencapai lebih 1.500 tahun khususnya koleksi peralatan hidup masyarakat prasejarah seperti kapak batu, beliung persegi, kendi gerabah. Koleksi warisan Museum Jakarta Lama berasal dari abad ke-18 dan 19 seperti kursi, meja, lemari arsip, tempat tidur dan senjata. Secara berkala dilakukan rotasi sehingga semua koleksi dapat dinikmati pengunjung. Untuk memperkaya perbendaharaan koleksi museum membuka kesempatan kepada masyarakat perorangan maupun institusi meminjamkan atau menyumbangkan koleksinya kepada Museum Sejarah Jakarta.

Tata Pamer Tetap

Dengan mengikuti perkembangan dinamika masyarakat yang menghendaki perubahan agar tidak tenggelam dalam suasana yang statis dan membosankan, serta ditunjang dengan kebijakan yang tertuang dalam visi dan misi museum, mengenai penyelenggaraan museum yang berorientasi kepada kepentingan pelayanan masyarakat, maka tata pamer tetap Museum Sejarah Jakarta dilakukan berdasarkan kronologis sejarah Jakarta, dan Jakarta sebagi pusat pertemuan budaya dari berbagai kelompok suku bangsa baik dari dalam maupun dari luar Indonesia, Untuk menampilkan cerita berdasarkan kronologis sejarah Jakarta dalam bentuk display, diperlukan koleksi-koleksi yang berkaitan dengan sejarah dan ditunjang secara grafis dengan menggunakan foto-foto,gambar-gambar dan sketsa, peta dan label penjelasan agar mudah dipahami dalam kaitannya dengan faktor sejarah dan latar belakang sejarah Jakarta.

Sedangkan penyajian yang bernuansa budaya juga dikemas secara artistik dimana terlihat terjadinya proses interaksi budaya antar suku bangsa. Penataannya disesuaikan dencan cara yang seefektif mungkin untuk menghayati budaya-budaya yang ada sehingga dapat mengundang partisipasi masyarakat. Penataan tata pamer tetap Museum Sejarah Jakarta dilakukan secara terencama, bertahap, skematis dan artistik. Sehinga menimbulkan kenyamanan serta menambah wawasan bagi pengunjungnya.

Kegiatan

Sejak tahun 2001 sampai dengan 2002 Museum Sejarah Jakarta menyelenggarakan Program Kesenian Nusantara setiap minggu ke-II dan ke-IV untuk tahun 2003 Museum Sejarah Jakarta memfokuskan kegiatan ini pada kesenian yang bernuansa Betawi yang dikaitkan dengan kegiatan wisata kampung tua setian minggu ke III setiap bulannya.

Selain itu, sejak tahun 2001 Museum Sejarah Jakarta setiap tahunnya menyelenggarakan seminar mengenai keberadaan Museum Sejarah Jakarta baik berskala nasional maupun internasional, Seminar yang telah diselenggarakan antara lain adalah seminar tentang keberadaan museum ditinjau dari berbagai aspek dan seminar internasional mengenai arsitektur gedung museum.

Untuk merekonstruksi sejarah masa lampau khususnya peristiwa pengadilan atas masyarakat yang dinyatakan bersalah, ditampilkan teater pengadilan dimana masyarakat dapat berimporvisasi tentang pelaksanaan pengadilan sekaligus memahami jiwa zaman pada abad ke-17.

Fasilitas

* Perpustakaan
Perpustakaan Museum Sejarah Jakarta mempunyai koleksi buku 1200 judul. Bagi para pengunjung dapat memanfaatkan perpustakaan tersebut pada jam dan hari kerja Museum. Buku-buku tersebut sebagian besar peninggalan masa kolonial, dalam berbagai bahasa diantaranya bahasa Belanda, Melayu, Inggris dan Arab. Yang tertua adalah Alkitab/Bible tahun 1702.

* Kafe Museum
Kafe Museum dengan suasana nyaman bernuansa Jakarta ”tempo doeloe”, menawarkan makanan dan minuman yang akrab dengan selera anda.

* Souvenir Shop
Museum menyediakan cinderamata untuk kenang-kenangan para pengunjung yand dapat diperoleh di souvenir shop dengan harga terjangkau.

* Musholla
Anda tidak perlu khawatir kehilangan waktu sholat, karena kami menyediakan musholla dengan perlengkapannya.

* Ruang Pertemuan dan Pameran
Menyediakan ruangan yang representatif untuk kegiatan pertemuan, diskusi, seminar dan pameran dengan daya tampung lebih dari 150 orang.

* Taman Dalam
Taman yang asri dengan luas 1000 meter lebih, serta dapat dimanfaatkan untuk resepsi pernikahan.

Waktu Buka
Selasa sampai Minggu jam 09.00 – 15.00 WIB
Hari Senin dan Hari Besar Tutup

Harga Tanda Masuk
Dewasa Rp. 2000
Mahasiswa Rp. 1000
Pelajar/Anak Rp. 600
Rombongan Dewasa Rp. 1500
Rombongan Mahasiswa Rp. 750
Rombongan Pelajar/Anak Rp. 500

Rombongan minimal 20 orang.

Alamat Museum Sejarah Jakarta
Jl. Taman Fatahillah No. 1 Jakarta Barat
Telp (62-21) 6929101, 6901483
Fax. (62-21) 6902387
email: musejak@indosat.net.id

Sumber: Brosur Museum Sejarah Jakarta

Wisata Kampung Tua

Oktober 20, 2003

Pengelola Museum Sejarah Jakarta yang dikepalai Tinia Mudiati, mengadakan Wisata Kampung Tua bagi masyarakat umum dengan menelusuri situs-situs bersejarah, khususnya peninggalan masa kolonial Belanda, Minggu (19/10). Di antaranya situs-situs yang dikenal sebagai Waterlooplein di Weltervreden yang meliputi kawasan Stasiun Kereta Api Juanda, Jalan Antara, Jalan Pos, serta kawasan Lapangan Banteng. Lapangan Banteng selain dikenal sebagai Waterlooplein juga sebagai Parade Plaats yang dibangun Belanda pada tahun 1799. Situs lainnya yang hampir seusia misalnya Taman Silang Monas yang dikenal dengan istilah Koningsplein dan dibuat Belanda pada tahun 1809. Selanjutnya, ada pula Taman Surapati yang dikenal sebagai Bisschoplein dan dibuat Belanda pada tahun 1926. Pemberangkatan peserta Wisata Kampung Tua kali ini dari Museum Jakarta. (NAW)

Sumber: Kompas, Senin, 20 Oktober 2003

LINDETEVES

Oktober 27, 2002

Pasar Hayam Wuruk Indah (HWI) dahulu bernama Lindeteves. Lokasi ini termasuk yang dilewati peserta acara Wisata Kampong Toea, Museum Sejarah Jakarta.

Tak kenal maka tak sayang. Itu sih kata pepatah lama, tapi ada benarnya juga deh. Selama ini kamu yang tinggal di Jakarta pasti cuma tahu sedikit wajah tempo dulu kota yang supersibuk ini. Atau malah nggak tahu sama sekali. Gimana mau sayang sama Ibukota ini kalau sejarahnya saja kita nggak tahu. Padahal, ada banyak hal yang menarik buat dipelajari dari menelusuri kisah-kisah lama itu. Pastinya sih, kapasitas memori dan pengetahuan sejarah kita bakal ter-upgrade.

Buat nambah pengetahuan kita tentang sejarah Jakarta, Museum Sejarah Jakarta ngadain acara yang namanya “Wisata Kampong Toea”. Acara seru ini digelar pada hari minggu ketiga tiap bulannya. Sudah empat kali bergulir. Tujuan wisatanya juga selalu berpindah-pindah.

Menurut Pak Rafael Nadapdap SE dari Museum Sejarah Jakarta, ide awal acara ini muncul dari pihak museum sendiri. Mereka pengen nunjukin kepada masyarakat bahwa ada banyak tempat yang bernilai sejarah di tengah kehidupan Ibukota. Ironisnya, itu tadi, nggak semua masyarakat sadar dan kenal dengan bangunan-bangunan itu. Sayang kan.

“Benda-benda bersejarah di Jakarta ini kan banyak. Dan nggak mungkin semuanya bisa dipindah ke museum. Apalagi yang bentuknya berupa bangunan entah itu gedung, masjid, gereja atau rumah tinggal. Jadi, mana bisa dimasukkan ke museum. Nah, biar lebih gampang kenapa nggak pengunjungnya saja kita ajak main ke tempat-tempat tadi,” papar Kepala Seksi Edukasi Museum Sejarah Jakarta ini panjang lebar.

Pertama kali diadakan, lokasi wisata yang dipilih adalah Jalan Pecah Kulit, di daerah Pangeran Jayakarta dan Gereja Sion. Kalau kata Pak Isa Ansyari SS, nama jalan ini diambil dari peristiwa penyiksaan seorang Jerman yang bernama Pieter Elbervelt. Dia ini dianggap berkhianat pada pemerintah kolonial Belanda. Ih, siksaannya sadis banget deh. Si Pieter ini ditarik kuda dari empat arah berlawanan sampai kulitnya pecah. “Kepalanya Pieter ini dipenggal terus ditancap di tiang,” cerita Pak Isa.

Terus Tambah

Sejak acara pertama dijalanin, pesertanya nambah terus. Malahan makin ke belakang didominasi sama anak-anak muda. Hebat kan. Sebab museum juga gencar promosiin acara keren ini. Caranya lewat woro-woro dari mulut ke mulut nyampe ngundang media.

“Sasaran kami memang anak-anak muda. Tujuannya agar mereka kenal dengan sejarah Kota Jakarta. Jangan sampai generasi muda ini cuek sama yang namanya sejarah itu. Lagi pula harga tiketnya juga murah, cuma sepuluh ribu,” tambah Pak Rafael setengah promosi. Dari catatan panitia, jumlah peserta wisata Kampong Toea ini pernah menembus angka seratus orang.

Pada acara yang kelima ini, kita akan diajak menyusuri bekas kanal (saluran air buatan manusia) yang namanya molenvliet. “Kanal ini dibangun pada abad 17. Yang menggalinya orang-orang Tionghoa tahun 1648,” ungkap Pak David Kwa Kian Hauw, guide acara ini yang kaya dengan sejarah Jakarta. Ide pembuatan kanal ini sendiri digagas Kapitein der Chineezen Phoa Beng Gam, seorang pemuka masyarakat Tionghoa pada masa itu. O, iya kata Pak David, molenvliet ini asalnya dari gabungan kata molen dan vliet. Yang kalo diartiin masing-masing, penggilingan dan sungai kecil.

“Awalnya kanal ini dibuat untuk menghanyutkan kayu bagi pembuatan kapal dan bahan bangunan ke benteng Batavia. Kayu-kayu itu asalnya dari hutan-hutan di daerah selatan, yaitu sekitar Tanah Abang,” terang Pak David kepada para peserta acara dengan semangat. Namun pada akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18, molenvliet juga dipakai untuk mengirim pasokan bagi penggilingan tebu dan pabrik mesiu yang berkembang di selatan Batavia. “Nama molenvliet mulai dipakai sejak 1661, ketika operasi kanal diambil alih Belanda dari kapitein Phoa.”

Dibagi Kelompok

Sebelum berangkat, peserta acara berkumpul di Museum Sejarah. Jam delapan lewat sedikit, mereka dapat pengarahan dari Pak Rafael. Lalu dilanjutkan dengan pembagian kelompok. Masing-masing kelompok dapat satu orang tour guide. Hampir seluruh tour guide ini adalah teman-teman relawan Museum Sejarah Jakarta.

Waktu jarum jam sudah nunjukin setengah sembilan pagi, kelompok pertama mulai berjalan keluar museum. Arahnya ke stasiun kota. sebelum nyampe di stasiun itu, peserta melewati sebuah jalan yang namanya jalan Pos Kota. “Dulu jalan ini dihuni sama orang-orang kaya. Rumahnya besar-besar,” kata Pak David.

Pas nyampe di depan stasiun Kota, Pak David ngelanjutin cerita, “Kereta api ada di Batavia sejak 6 April 1875. Rutenya, Tanjung Priok – Kota dan Tanjung Priok – Gambir. Stasiun Kota sendiri dibangun pada tahun 1925. Dari pertama kali dibangun sampai sekarang, bentuk stasiun nggak ada yang berubah.”

Puas ngedengerin keterangan sejarah dari Pak David sambil ngelihat bentuk luar stasiun Kota, perjalanan diteruskan dengan menyusuri jalan Pintu Besar Selatan. Nama jalan ini juga ada ceritanya.

“Dulu Batavia ini dikelilingi tembok dan ada pintu gerbangnya yang namanya Pintu Baru atau nieuw port. Nah, yang kita injak ini bagian selatannya. Karena itu disebut Pintu Besar Selatan.” Dari Jalan Pintu Besar Selatan ini perjalanan diteruskan sampai Jalan Hayam Wuruk.

Kemudian berputar balik sebelum kembali ke Museum Sejarah. Selama itu Pak David dan teman-teman relawan terus ngasih peserta dengan segudang kisah tempo dulu. Karena dikemas dengan gaya yang santai, teman-teman peserta malah makin cepat tanggap dan mencernanya.

Buktinya, saat menyimak cerita yang dilontarkan Pak David itu, hati ini segera tergelitik. Ternyata ada banyak bangunan dan tempat bersejarah yang rusak karena dilindas kepentingan segelintir orang.

Contoh paling gampang, gedung Candra Naya. Nasib gedung ini begitu amat menyiksa hati. Gimana nggak, gedung yang pernah dipakai Sin Ming Hui atau Perhimpunan Sinar Baru pada tahun 1946 itu kondisinya tak terawat.

Tanah dan gedung Candra Naya sudah dibeli oleh salah satu raksasa bisnis negeri ini. Mereka berencana ngebangun dua pencakar langit yang berfungsi sebagai pusat belanja dan apartemen.

Tapi karena kepentok krismon, dua bangunan modern itu mandek di tengah jalan. Jadi kalau kamu lihat sekarang ini, Candra Naya nyelip di antara dua pencakar yang belum selesai dibangun itu. Nah, kalau sudah begini, siapa yang salah? (DIAH RAHAYUNINGSIH)

Sumber: Suara Pembaharuan, 27 Oktober 2002