Archive for Agustus, 2003

Stasiun Kota Tua Tetap Jadi Cagar Budaya

Agustus 26, 2003

Jakarta, Kompas – Bangunan bersejarah Stasiun Kereta Api Kota sampai kapan pun tetap menjadi cagar budaya yang harus dilestarikan. Perubahan fungsi serta beberapa bagian dalam bangunan tidak mempengaruhi nilai sejarah yang terkandung di dalamnya.

Hal itu dikatakan Kepala Subdinas Pengawasan Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta Candrian Attahiyat menanggapi Kompas, Senin (25/8).

Sejauh pengamatan, ruang-ruang dalam stasiun saat ini banyak disewakan kepada pihak ketiga, di antaranya digunakan sebagai restoran serta kios. Jendela di salah satu ruang penyangga beberapa waktu yang lalu juga diubah.

Akan tetapi, menurut Candrian, perubahan bangunan stasiun itu sebenarnya tidak begitu banyak dan tidak bermasalah.

Lagi pula, lanjut Candrian, bangunan di Stasiun Kota justru tidak terawat jika tidak difungsikan oleh pengelola perkeretaapian.

Namun, perubahan itu, dinilai pemerhati sejarah RM IGN Soediro, justru memprihatinkan. Sebagai aset bangsa, stasiun yang dibangun pada tahun 1828 itu kini banyak “disulap” bentuk dan fungsinya sesuai keinginan pemakai gedung. Akibatnya, nilai sejarah yang dikandung tidak tampak lagi.

Menurut dia, ruang penyangga yang jendelanya tengah dibongkar itu pada zaman Belanda digunakan sebagai gudang menyimpan barang kiriman dari luar kota seperti beras dan buah-buahan yang siap dijual ke Pasar Pagi, Glodok, dan Jayakarta.

Sejak tahun 80-an, tempat itu digunakan untuk ruang tunggu eksekutif karena banyaknya kereta lintas Jawa yang menaikkan dan menurunkan penumpang. “Saya sebagai penumpang kereta ekspres Jakarta-Bogor juga acap beristirahat di sana menunggu Kereta Pakuan,” katanya.

Kepala Humas PT KA (Persero) Daops I dan Jabotabek Zainal Abidin mengatakan, pihaknya sama sekali tidak mengubah struktur bangunan tua itu, namun hanya mengubah fungsinya. Memang jendela yang dulu dari kayu diubah menjadi kaca, namun strukturnya tetap.

Oleh karena banyak ruang yang tidak terpakai, PT KA menyewakan kepada pihak lain. “Kami tentu tidak berani mengubah struktur bangunannya. Meski begitu, kalau ada yang tidak berkenan, kami mohon maaf,” kata Zainal. (IVV)

Sumber: Kompas, Selasa, 26 Agustus 2003

Sejarah Panjang Grand Hotel Preanger Bandung

Agustus 16, 2003

BANDUNG – Kota Bandung memiliki banyak gedung kuno. Gedung-gedung kuno tersebut antara lain difungsikan sebagai hotel. Salah satu hotel yang masih mempertahankan ciri khas gedungnya yang kuno adalah Grand Hotel Preanger. Asal-muasal sejarah hotel berbintang lima yang berada di kawasan Jl. Asia Afrika Bandung ini memang sangat panjang. Dimulai tahun 1884 saat Bandung masih bernama Priangan. Ketika itu para pemilik perkebunan di Priangan (Priangan Planters) mulai berhasil dalam usaha pertanian dan perkebunannya.

Kaum berduit ini kemudian sering datang berlibur ke Kota Priangan. Jl. Asia Afrika yang saat itu dikenal sebagai kawasan Groote Postweg merupakan pusat kota yang menjadi tujuan utama Priangan Planters menghabiskan duitnya. Di Groote Postweg tersebut terdapat sebuah toko yang menyediakan barang kebutuhan sehari-hari mereka. Sayangnya toko tersebut kemudian mengalami kebangkrutan. Melihat semakin banyaknya pelancong dari sekitar Priangan yang datang, oleh W.H.C. Van Deeterkom lalu mengubah toko tersebut menjadi sebuah hotel. Peristiwa di tahun 1897 inilah yang menjadi cikal bakal dari Grand Hotel Preanger.

Hotel Preanger yang didirikan oleh Van Deeterkom ini selama lebih dari seperempat abad menjadi kebanggaan orang-orang Belanda di Kota Bandung. Pada tahun 1929 hotel berarsitektur gaya Indische Empire ini kemudian direnovasi. Menariknya salah satu arsitek yang menangani revonasi hotel ini adalah Presiden RI pertama, Ir Soekarno. Renovasi ini sama sekali tidak mengubah total gaya arsitektur kuno dari hotel ini. Namanya kemudian menjadi lebih terkenal baik di dalam dan luar negeri. Pengelolaan hotel pun terus berganti tangan. Mulai dari NV Sault, CV Haruman, PD Kertawisata hingga PT Aerowisata yang mulai mengelola tahun 1987. Sejak dikelola oleh PT Aerowisata hotel ini berganti nama menjadi Grand Hotel Preanger.

Pada tahun 1998 pihak Aerowisata menambah daya tampung dengan membangun tower setinggi 10 lantai. Dengan adanya tower tersebut maka Grand Hotel Preanger memiliki 189 kamar. Terdiri dari 137 kamar superior, 46 kamar eksekutif, 5 kamar suite dan 1 kamar presidential suite.

Asisten Manager PR Grand Hotel Preanger Christine Effendy mengatakan di samping penambahan kamar, dilakukan berbagai renovasi area yang terdiri dari area lobby, Preanger Restaurant, Ristorante Italiano, Ramayana Ballroom, Cyber Lounge, Pusat Kebugaran serta Kolam Renang.

Meskipun telah direnovasi, Grand Hotel Preanger tetap menampakkan eksterior klasiknya yang bersejarah. ”Kami tetap mempertahankan pola-pola art deco sebagai ciri khas Grand Hotel Preanger,” papar Christine yang didampingi oleh PR Officer Suksma Ratri.

Wajah asli dari bangunan hotel ini dapat dilihat dari Jl. Asia Afrika maupun Jl. Tamblong. Sebuah bangunan bersejarah dengan gaya arsitektur berselera tinggi. Dipertahankannya bangunan lama ini justru menjadi daya tarik hotel yang letaknya berdekatan dengan Gedung Asia-Afrika ini. Banyak tamu yang sengaja datang untuk bernostalgia. Menurut Christine setiap bulan Juni-Juli biasanya datang menginap wisatawan asal Belanda. Jumlahnya berkisar antara 60 orang. Mereka sengaja datang untuk mengenang kembali kehidupan di masa lalu semasa tinggal di Bandung. ”Kebanyakan mereka usianya sudah lanjut. Dan mereka pernah tinggal di Bandung di saat mudanya,” timpal Christine. Tak jarang ada di antara mereka yang mengajak anak cucunya. Eksterior bangunan maupun ornamen yang tak berubah sehingga mampu mendatangkan nuansa kenangan di masa lalu membuat mereka memilih tinggal di Grand Hotel Preanger.

Masih dipertahankannya bentuk bangunan kuno membuat Grand Hotel Preanger memiliki nilai lebih. Banyaknya bermunculan hotel-hotel baru di Bandung tak membuat Grand Hotel Preanger tergeser dari persaingan. Hal ini terlihat dari tingkat hunian (Okupansi) yang bisa mencapai 70 persen. Okupansi ini melebihi okupansi rata-rata hotel di Bandung. Sementara saat weekend okupansi naik menjadi 85 persen. Sedangkan saat long weekend okupansinya bisa sampai 100 persen. Menurut Christine tamu domestik sebagian besar berasal dari Jakarta. Sementara tamu asing berasal dari Eropa, Amerika, Timur Tengah serta negara-negara di Asia seperti Jepang, Korea, Taiwan, Malaysia, Brunei Darussalam serta India. Di antara tamu asing yang pernah menginap adalah mantan Sekjen PBB, Butros Butros Gali.

Sejarah perjalanan yang direnda oleh Grand Hotel Preanger memang sangat panjang. Grand Hotel Preanger merupakan bukti hotel yang mampu eksis dengan bentuk bangunan kuno. Kehadiran hotel-hotel baru dengan arsitektur masa kini terbukti tak mampu menggeser Grand Hotel Preanger sebagai sebuah hotel ternama. Dari sejak dulu, kini dan nanti. (SH/didiet b. ernanto)

Sumber: Harian Sinar Harapan, 16 Agustus 2003

Gedung Eks Kantor Imigrasi Jakarta Pusat

Agustus 5, 2003

JAKARTA – Harapan untuk menyaksikan gedung eks kantor Imigrasi di Jalan Teuku Umar No.1, Menteng, tampil dengan wajah baru hasil revitalisasi kini selangkah lebih dekat. Minggu (3/8), ketiga pemenang sayembara konsep penggunaan dan pengelolaan bangunan cagar budaya yang kini masih dalam kondisi terbengkalai itu sudah diumumkan.

Dastin Hillery, pemenang pertama, misalnya mengusulkan agar gedung itu dimanfaatkan sebagai gedung pusat kegiatan seni atau gedung perikatan seni Jakarta, sesuai fungsinya pada masa dulu. Dalam konsep usulannya, Dastin mengusulkan agar lantai dasar gedung berlantai dua itu digunakan sebagai ruang pamer utama, di mana diselenggarakan pameran seni setidaknya 8 kali setahun.

Lantai dua digunakan sebagai podium untuk kuliah umum, talk show, pemutaran film pendek, diskusi, dan berbagai kegiatan lain. Secara terperinci, Dastin bahkan menyertakan jam-jam penyelenggaraan kegiatan agar berbagai kegiatan yang ditampung dalam gedung itu tak saling bertabrakan. Toko buku seni dan arsitektur yang terletak di lantai dua, misalnya, dibuka pada jam 09.00 WIB sampai 21.00 WIB.

Soal pengelolaan gedung, sesuai konsep usulan Dastin, diserahkan pada yayasan perikatan seni Jakarta, sebuah yayasan berbadan hukum yang beraliansi nasional. Pemda DKI, dalam konsep tersebut, berperan sebagai pemilik gedung bersejarah tersebut.

Tak jauh berbeda, Suci Mayang Sari yang menjadi pemenang kedua juga mengusulkan agar gedung eks kantor Imigrasi itu digunakan sebagai gedung komunitas seni arsitektur Jakarta.

Sebagai gedung komunitas seni arsitektur, Suci mengusulkan ruang-ruang dalam gedung itu digunakan sebagai ruang pameran seni, perpustakaan seni arsitektur, ruang diskusi dan jasa konsultasi arsitektur yang disediakan bagi masyarakat Jakarta dengan harga terjangkau. Pengelolaan gedung, menurut Suci, sebaiknya diserahkan pada Pemda Jakarta.

Sementara itu, pemenang ketiga sayembara, yaitu Agus Surja Sadana, mengusulkan gedung itu dimanfaatkan sebagai restoran bernuansa tempo dulu sehingga bangunan itu bisa memperoleh biaya pemeliharaan tanpa mengubah arsitekturnya. Usul itu mengambil ide dari adanya sebuah restoran di gedung itu pada masa lalu.
Hanya saja, jika dulu restoran terletak di lantai satu, di masa mendatang restoran itu justru diusulkan berada di lantai dua dengan sebagian meja akan berada di teras atas yang beratapkan langit. Sebagian ruang yang terletak pada sisi bangunan di lantai dua, diusulkan Agus, dikembangkan menjadi ruang dansa.

Gagasan pengelolaan, menurut Agus, sebaiknya dilakukan secara bersama oleh anggota masyarakat dengan cara mendirikan koperasi. Koperasi itulah yang bertugas membentuk badan usaha profitable untuk membiayai pemeliharaan gedung, seperti restoran tempo dulu dan galeri budaya Kunstkring.

Tak Langsung Diterapkan
Meskipun sudah menetapkan ketiga konsep penggunaan gedung eks kantor Imigrasi sebagai pemenang sayembara, belum berarti pemugaran gedung itu sudah bisa dilaksanakan. Ketiganya masih berupa konsep yang masih perlu dibicarakan lebih perinci sebelum bisa dilaksanakan.

”Hasil sayembara itu tidak bisa langsung diterapkan di gedung ini, masih perlu dilakukan pembicaraan untuk membahas konsep itu secara lebih perinci,” ujar Wakil Gubernur DKI Fauzi Bowo di gedung eks kantor Imigrasi Jakarta Pusat itu, Minggu (3/8). Dia mengatakan model kerja sama Pemda dan berbagai unsur masyarakat pecinta bangunan tua dalam revitalisasi gedung itu bisa dijadikan model untuk proyek revitalisasi bangunan-bangunan cagar budaya lain.

”Selama ini, revitalisasi kota tua tidak berhasil karena tidak melibatkan stakeholder yang lain. Sekarang kita tidak akan berjalan sendiri, kita akan libatkan semua stakeholder lain. Kota ini milik kita semua,” ujar Fauzi dalam acara yang antara lain dihadiri sejarawan Adolf Heuken SJ, aktivis Walibatu Grace Pamungkas, arsitek sekaligus pemerhati bangunan tua Arya Abieta, dan kalangan pecinta bangunan tua lainnya.

Gedung eks kantor Imigrasi Jakarta Pusat dibangun pada tahun 1913 oleh arsitek Belanda, Pieter Adriaan Jacobus Moojen. Gedung itu semula digunakan sebagai gedung Lingkaran Seni Hindia-Belanda (Nederlandsch-Indische Kunstkring).

Di tempat ini pernah dipamerkan karya perupa dunia seperti Picasso dan Vincent Van Gogh. Gedung kesenian zaman Belanda itu tercatat juga menjadi gerbang masuk kawasan perumahan Menteng, kawasan permukiman pertama yang berkonsep kota taman.

Saat pertama dirancang oleh pengembang swasta De Bouwploeg yang bekerja sama dengan Kotapraja (Gemeente) Batavia, kawasan permukiman yang disebut sebagai Menteng sebenarnya terdiri dari dua bagian, yaitu Menteng dan Nieuw Gondangdia.

Rancangan yang dibuat Mooken lebih mendominasi wilayah utara atau Niew Gondangdia. Karena itu, gedung eks kantor imigrasi juga dikenal sebagai eentree Gondangdia, atau pintu masuk Gondangdia.
(SH/ruth hesti utami)

Sumber: Harian Sinar Harapan, Selasa, 05 Agustus 2003.