Archive for Mei, 2002

Perluasan Museum Nasional Belum Melegakan

Mei 5, 2002

KRITIK tajam sering dialamatkan ke dunia permuseuman. Orang malas pergi ke museum karena kotor, sepi, koleksi yang tidak jelas informasinya. Lebih menyebalkan karena pegawai museumnya ogah-ogahan, tertidur di tempat kerjanya, atau asyik baca koran.

Bagaimana pengalaman Anda saat berkunjung ke Museum Nasional, di Jalan Merdeka Barat No 12 Jakarta Pusat, Museum Nasional dengan koleksinya yang tercatat sebanyak 112.246 buah (informasi lain menyebut 109.342 buah) sesungguhnya tergolong museum istimewa di antara museum dunia lain. Koleksinya, diistilahkan Sekretaris Utama Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata Nunus Supardi, institusi vertikal yang membawahi lembaga Museum Nasional, sebagai masterpiece.

Mulai dari koleksi zaman prasejarah, koleksi klasik abad ke-4 sampai ke-16, terentang lagi ke zaman kerajaan-kerajaan Islam, hingga masa pendudukan kolonial. Mengamati koleksi Museum Nasional orang akan terangsang memasuki bidang kajian ilmu prasejarah, arkeologi, sejarah, geografi, antropologi sampai seni rupa.

Koleksi itu juga merekam data dasar kearifan lingkungan lingkungan adat, teknologi tradisional misalnya teknik perekatan batu dinding Candi Borobudur, informasi nilai religi, etika, moral di samping estetika. Sebutlah prasasti Gajah Mada dari abad ke-13, koleksi numismatik dari zaman Majapahit yang disebut uang gobog dari perunggu dari awal abad ke-14. Juga koleksi mebel seperti kursi gaya Rococo abad ke-18, peta kuno, keramik, gelas, lampu, gerabah, genta, patung, sampai koleksi etnografi seperti kain batik, keris dan banyak benda lain yang tak ternilai harganya.

NYATANYA hanya 20 persen saja koleksi Museum Nasional yang bisa dipamerkan kepada pengunjung. Ketiadaan tempat untuk penyimpanan, membuat rak lemari pajang juga berfungsi sebagai rak simpan. Muncul ancaman kelestarian karena ruang simpan terbatas dan perlakuan terhadap benda kuno ini menjadi tidak sebagaimana seharusnya.

Umur bangunan Museum Nasional sendiri telah 134 tahun sejak dihuni tahun 1868 yang sekarang berada di sebelah barat Monumen Nasional. Lembaganya sendiri berdiri 24 April 1778 dengan nama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetnschappen, badan swasta yang masa itu bertujuan memajukan penelitian bidang seni dan ilmu sejarah. Sir Thomas Stamford Raffles, pada awal abad ke-19 pernah terlibat di sini sebelum akhirnya lembaga ini menempati gedung yang disiapkan pemerintah kolonial Belanda sejak 1868 itu, di tempatnya sekarang di Jalan Medan Merdeka Barat.

Menurut Nunus, Presiden Pertama RI Bung Karno juga punya impian atas Museum Nasional dengan menjadikannya sebagai salah satu dari kesatuan kompleks kebudayaan bersama dengan sejumlah tempat-tempat menarik di kawasan itu yakni Monumen Nasional (Monas), Galeri Nasional, Masjid Istiqlal, dan Istana Negara.

Tahun 1996, lewat Depdikbud pemerintah mengadakan Lomba Desain Tampak Muka gedung Museum Nasional, setelah tahun 1931 tercatat pernah ada bantuan dari Pemerintah Perancis memugar bagian depan gedung Museum Nasional. Ketika itu bangunan di gedung lama, yang sekarang diistilahkan gedung A, sudah seluas 111.500 m2.

Fisiknya berupa bangunan monumental dengan bentuk arsitektur zaman kolonial yang berdiri di atas lahan seluas 13.840 m2. Depdikbud menetapkan kelompok arsitek Atelier 6 sebagai pemenang dan sekaligus terlibat dalam proses pengembangannya. Proyek pengembangan kompleks Museum Nasional yang dipimpin Mendikbud (waktu itu) Wardiman Djojonegoro lantas memungkinkan dilakukannya pembebasan lahan sehingga kini luas tanah seluruhnya mencapai 25.200 m2.

N Siddhartha, salah seorang prinsipal kelompok arsitek Atelier 6 kemudian merancang penyusunan rancangan induk Museum Nasional. Ditambahkan dua bangunan baru yang disebut Gedung B di samping banguan lama (gedung A) dan Gedung C di belakang kedua gedung A dan B itu. Ketika pekerjaan pembangunan gedung B dimulai tahun 1996 dengan rencana luas bangunan 30.000 m2 yang terdiri atas dua lantai basement dan tujuh lantai di atasnya, mestinya tahun 2000 sudah rampung. Bisa ditebak krismon membubarkan semua rencana itu.

Gedung B terhenti sampai lantai empat dari rencana semula tujuh lantai, ditambah sebuah koridor dan sebuah amphiteater di antara gedung A dan B. Gedung C di bagian belakang rencananya dibikin seluas 40.000 m2, terdiri dua lantai basement dan 10 lantai di atasnya.

“Jika gedung B dan C selesai sebanyak 40 persen, area itu nanti bisa dipakai pameran tetap, temporer, dan penyimpanan yang saat ini sangat dibutuhkan, 30 persen lagi untuk ruang publik seperti lobi, auditorium, kafetaria dan toko cindera mata, dan 30 persennya lagi area perkantoran, laboratorium, ruangan konservasi, preparasi dan riset (studi koleksi),” tutur Dr Endang Sri Hardiati, Direktur Museum Nasional.

Pertemuan pengurus Museum Naisonal dengan anggota Komisi VI DPR Jumat lalu itu mengungkapkan, Komisi VI hendak memperjuangkan diperolehnya dana senilai Rp 87,6 milyar lagi untuk merampungkan gedung B dan bagian dasar gedung C.

Sudut paling menarik tentulah pilihan arsitektur gedung B, yang diputuskan berpenampilan sama dengan gedung A, yakni bergaya arsitektur kolonial: tanpa kanopi, jendela-jendela tinggi, deretan pilar yang menopang atap halaman depan. Kedua gedung A dan B dihubungkan dengan jembatan penghubung berupa bangunan berkaca, di atas teater terbuka berbentuk setengah lingkaran.

“Lantai dasar teater ini lebih rendah satu lantai dari permukaan tanah, didesain untuk kelak bisa dibangun dengan sebuah jalan bawah tanah yang menghubungkan teater ini dengan kawasan Monas dari bawah tanah,” kata Siddhartha.

Gedung B saat ini lebih banyak digunakan sebagai ruang pertemuan karena adanya fasilitas ruang aula yang saat ini menolong Museum Nasional secara keuangan karena bisa dimanfaatkan secara komersil untuk pameran kesenian. Masih panjang jalan untuk mendapatkan ruang penyimpanan yang rencananya akan ditempatkan di Gedung C. Apa boleh buat, meski sudah lumayan panjang perjalanan perluasan Museum Nasional, benda-benda koleksi itu sampai saat ini masih berdesakan tak ternikmati kekayaan budayanya. (ODY)

Sumber: Kompas, Minggu, 5 Mei 2002

Iklan

Bangunan Bersejarah Cirebon Terancam Musnah

Mei 2, 2002

Cirebon, Kompas – Wali Kota Cirebon, Jawa Barat, Lasmana Suriaatmadja, Rabu (1/5), mengakui, hingga kini Kota Cirebon belum memiliki perangkat hukum untuk melindungi benda cagar budaya di kota tua itu. Ini menyebabkan semakin banyak benda cagar budaya yang bernilai sejarah tinggi dan seharusnya dilindungi pemerintah, hilang karena digusur dan digantikan bangunan lain. Menurut wali kota, satu-satunya produk hukum yang dimiliki pemerintah kota (pemkot) untuk melindungi benda bersejarah itu hanyalah Surat Keputusan (SK) Wali Kota Cirebon yang berisi daftar dan rincian bangunan bersejarah yang termasuk dalam kategori benda cagar budaya (BCB) di seluruh Kota Cirebon. “Saya tidak ingat pasti nomor SK-nya, tetapi yang jelas di dalamnya didaftar puluhan bangunan dan situs bersejarah benda cagar budaya yang perlu dilindungi,” papar Lasmana.

Meski demikian, SK Wali Kota tersebut sama sekali tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat, karena tidak disertai ancaman sanksi bagi yang melanggar. Akibatnya, surat tersebut sering diabaikan dan dianggap sepi, sehingga penggusuran BCB terus berlanjut di Kota Cirebon. Rencana tukar guling (ruilslag) bangunan Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kesambi di Jalan Kesambi adalah salah satu contoh pengabaian SK tersebut.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun Kompas, selama beberapa tahun terakhir sedikitnya tiga bangunan bersejarah di Kota Cirebon yang digusur dan dialihfungsikan. Yaitu Markas Komando Resor Militer (Korem) Cirebon di Jalan Karanggetas yang berubah menjadi kompleks pertokoan dan perkantoran Yogya Grand Center. Kemudian Markas Detasemen Polisi Militer (Denpom) di Jalan Siliwangi yang menjadi Toserba (toko serba ada) Asia, dan Grand Hotel Cirebon, juga di Jalan Siliwangi, yang digusur dan menjadi tanah kosong.

Sementara itu, untuk bangunan dan situs bersejarah yang masih berdiri, terkesan tidak terurus dan dipelihara dengan baik oleh pengelolanya. Bahkan, salah satu situs peninggalan Keraton Kasepuhan, yaitu Taman Goa Sunyaragi di Jalan Brigjen Soedarsono, justru menjadi tidak terurus dan terancam rusak setelah pengelolaannya diambil alih Pemkot Cirebon. Bekas taman air tempat rekreasi keluarga Kesultanan Cirebon dan tempat evakuasi keluarga sultan di masa perang kemerdekaan itu, kini ditumbuhi rumput ilalang setinggi dada orang dewasa dan tidak terkesan benda bersejarah yang harus dilindungi.

Kalangan DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) Kota Cirebon juga menyatakan prihatin atas kondisi berbagai BCB yang sudah rusak, atau bahkan hilang. Salah seorang Wakil Ketua DPRD Kota Cirebon, Agus Al-Wafier mengatakan, jika kondisi ini dibiarkan terus-menerus, bukan tidak mungkin seluruh BCB di Kota Cirebon akan habis dalam waktu kurang dari 10 tahun.

Menurut Agus, harus segera diterbitkan Peraturan Daerah (Perda) untuk melindungi benda bersejarah tersebut, yang disertai ancaman sanksi tegas untuk pelanggarnya. Pernyataan Agus ini dibenarkan oleh Wali Kota Lasmana, yang mengatakan saat ini sedang merancang Perda Perlindungan BCB di Kota Cirebon untuk segera disahkan.

Kurang

Lasmana mengakui, selama ini Pemkot kurang menaruh perhatian pada masalah pelestarian BCB dan peninggalan bersejarah lainnya di Kota Cirebon. Selain tidak adanya perangkat hukum, Pemkot juga tidak mengalokasikan dana khusus untuk pelestarian BCB.

Alasannya, menurut Lasmana, orientasi kebijakan Pemkot masih diarahkan pada pemberdayaan ekonomi Kota Cirebon dengan berusaha menarik investor sebanyak-banyaknya ke kota tersebut. “Kami masih berkonsentrasi untuk mengundang dan menarik sebanyak mungkin pelaku bisnis untuk berbisnis di Cirebon,” ujar Lasmana.

Padahal, bicara mengenai pemberdayaan ekonomi di Cirebon, benda cagar budaya dan bangunan bersejarah itu justru bisa dikelola secara profesional sebagai tempat tujuan wisata yang bisa menambah pemasukan Pemkot.

Saat ini, Kota Cirebon sebagai kota tua, terkenal memiliki banyak bangunan kuno yang bernilai arsitektur dan sejarah tinggi, termasuk tiga bangunan keraton, yaitu Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, dan Keraton Kacirebonan. Kemudian beberapa bangunan masjid tua, seperti Masjid Jagabayan di kawasan Jalan Karanggetas, Masjid Merah di Jalan Panjunan dan Masjid Pajlagrahan di Jalan Mayor Sastraatmaja. Belum termasuk bangunan peninggalan kolonial Belanda, seperti Gedung BAT (British American Tobacco) di Jalan Pasuketan dan Gedung Bank Indonesia di Jalan Yos Sudarso. (DHF)

Sumber: Kompas, Kamis, 2 Mei 2002