Jalan-Jalan Ke Kawasan Pecinan Pancoran Glodok – DARI GEDUNG TUA SAMPAI MAKANAN LANGKA

Kawasan Pancoran di Jakarta Barat adalah kawasan pecinan terbesar di Jakarta yang menyimpan aneka pesona belanja nan unik dan khas. Bagi yang doyan jalan-jalan sekaligus belanja, layak menyambangi kawasan chinatown ini. Rasakan sensasinya.

Degup kehidupan di kawasan Pancoran dan sekitarnya sudah dimulai sejak pagi. Dari gang-gang kecil yang terdapat di sebelah kiri sepanjang jalan Pancoran ke arah kawasan Petak Sembilan, menguar aroma sedap makanan dari gerobak serta warung-warung serta gerobak makanan.

Gang Kalimati adalah salah satu gang yang paling padat dipenuhi penjual aneka makanan yang mengundang selera. Dari makanan ringan yang sedap untuk mengganjal perut di pagi hari macam combro hangat, getuk, atau aneka bubur manis, sampai makanan berat seperti mi serta nasi, lengkap dengan bermacam lauk pauknya.

Suasana gang-gang ini sangat kental nuansa pecinannya. Terdengar beberapa penduduk sepuh berkomunikasi dalam bahasa leluhur. Selain itu, arsitektur bangunannya pun sangat mencerminkan nuansa melayu cina. Di beberapa kedai kopi khas Cina, berkumpul kaum bapak yang asyik ngobrol dan bercanda sambil yam cha. Yam cha adalah tradisi minum teh yang berasal dari Guangdong, Cina, dan masih bertahan sampai sekarang.

Hampir seluruh bangunan di sepanjang gang yang lebarnya tak lebih dari dua meter ini merupakan bangunan tua yang masih dipertahankan bentuknya sampai sekarang. Berjalan menyusuri gang ini, dapat ditemukan pula pedagang yang menjual buah-buahan yang sudah jarang ditemukan di kota besar. Yaitu buah delima dan buah duwet yang bila dimakan, membuat lidah berwarna ungu kehitaman itu.

Khusus buah delima, rupanya ada konsumen khusus. Ibu hamil yang akan menyelenggarakan upacara tujuh bulanan, akan mencari buah delima sebagai salah satu kelengkapan syarat upacara. “Saya sudah 30 tahun berjualan delima di sini. Tiap hari, ada saja pelanggan yang membeli. Malah banyak yang datang dari luar kota,” ujar Suwandi, lelaki asal Kudus ini dengan mata berbinar.

JUAL KURA-KURA
Kawasan Pancoran memang bukan tempat belanja mentereng seperti pusat-pusat perbelanjaan yang tersebar di seluruh penjuru Jakarta. Berjalan-jalan di kawasan ini pun kita harus siap dengan pakaian dan sepatu yang nyaman, karena harus berjalan kaki menempuh jarak yang lumayan jauh. Namun demikian, kawasan ini menyimpan banyak keistimewaan.

Coba saja mampir di Pasar Petak Sembilan. Di Gang Kalimati, banyak dagangan yang jarang ditemui di tempat lain. Mau tahu salah satunya? Kura-kura! Ya, kura-kura kembang dan parit berukuran lumayan besar ini banyak dicari oleh warga keturunan Tionghoa untuk upacara sembahyangan.

“Menurut kepercayaan, melepaskan kura-kura yang telah diberi nama di batok tempurungnya, bisa membuang sial,” kata Pak Jangkung, seorang juragan kura-kura yang pada bulan-bulan tertentu bisa menjual kura-kura sampai 100 ekor. “Bulan kemarin (Oktober, Red.), saya bawa 150 ekor, dan semua terjual habis.”

Pak Jangkung yang sehari-hari dibantu adiknya, Oib, serta beberapa saudaranya, menjual kura-kura seharga Rp 35.000 untuk ukuran kecil, serta Rp 50.000 yang besar. “Setahu saya, sih, ini jenis kura-kura yang tidak dilindungi. Saya juga enggak berani menjual kura-kura yang dilindungi, nanti bisa berurusan dengan yang berwajib,” tandas lelaki yang rajin memberi makan kura-kuranya dengan kangkung dan bayam ini mantap.

Di sepanjang Pasar Petak Sembilan juga akan ditemui bahan makanan yang susah ditemui di tempat lain. Sebut saja misalnya ikan halibut beku alias ikan salju.

PUSAT KEMBANG GULA
Menyeberang dari Pasar Pagi, ada Toko Gloria yang sudah berdiri sejak lebih dari 30 tahun lalu. Di toko ini bisa ditemukan makanan-makanan unik lain, semisal aneka jajanan Cina seperti kue bulan dan moci. Di lantai satu ada Toko Evergreen yang menjual sirip ikan hiu, sarang burung walet, serta perut ikan. Ketiga makanan ini tergolong makanan mahal dan sering dicari untuk dibuat sup.

Menurut A Kiat, pemilik Toko Evergreen, bahan makanan di tokonya tetap ramai oleh pembeli, meskipun harganya sama sekali tak bisa dibilang murah. Coba tengok sarang burung walet super yang dihargai Rp 5,250 juta untuk 1 onsnya, dan Rp 2,4 juta untuk yang biasa. Sirip ikan hiu yang masih berbentuk sirip utuh dibanderol Rp 6 juta/kilogram, sedangkan yang sudah dalam bentuk suwiran besar Rp 650-750 ribu/ons.

Jika ingin mencari makanan murah meriah, ada seorang penjual opak ketan khas Tangerang yang sangat gurih. Pedagang ini biasa menggelar dagangannya di samping Toko P&D Jap Heng Lay, yang menjual bebek asin yang diimpor langsung dari Hongkong.

Tak jauh dari sana ada pusat kembang gula impor. Sebelum dibongkar awal November lalu, pasar permen ini terletak tak jauh dari Pasar Pagi Lama. Sekarang para pedagang terpaksa mencar. Yang terbanyak ada di lantai bawah bagian belakang Chandra Building. Sjin Lin, pedagang aneka manisan dan permen dari Kios Manisan mengatakan, permen-permennya banyak dicari orang untuk dijual lagi maupun dikonsumsi sendiri. “Saya enggak bisa menghitung ada berapa jenis permen di kios saya ini, karena jumlahnya banyak sekali,” ujarnya.

Di sekelililing Sjin Lin memang terlihat aneka gundukan permen. Biasanya, kios-kios permen ini juga menjual “permen susu” yang akrab di lidah anak-anak sejak zaman dulu.

LEBIH MURAH
Kawasan pecinan juga akrab dengan toko-toko obatnya. Deretan toko-toko obat yang menjual aneka herbal kering khas Cina menjadi pemandangan menarik tersendiri di sepanjang Jalan Pancoran ke arah Jalan Pintu Kecil.

Tak jauh dari deretan toko obat itu bisa ditemui sebuah toko buku khusus berbahasa Cina. Toko buku bernama Mandarin Bookstore ini menjual buku-buku sejarah, sastra, manajemen, serta buku cerita anak-anak berbahasa Mandarin. Banyak mahasiswa Sastra Cina datang ke sini untuk mencari buku-buku yang susah dicari di tempat lain. “Biasanya sih mereka mencari kamus, karena kamus di sini lebih bervariasi,” papar Nur Rahman, koordinator supervisor toko buku yang juga memasok buku-buku ke toko buku besar di Jakarta ini.

Jika Anda penggemar aksesoris, jangan lewatkan untuk mampir ke Pasar Pagi Asemka. Di lantai dasar, deretan penjual beragam aksesoris impor siap dibeli dalam bentuk lusinan maupun eceran. Syarifah, seorang ibu yang didampingi oleh dua putrinya, Ella dan Eka, datang langsung dari Aceh khusus untuk berbelanja aksesoris di sini. Menurut Syarifah yang sudah berbisnis baju muslim dan jilbab di Banda Aceh sejak tahun 1980-an ini, belanja di Pasar Pagi Asemka lebih murah dibandingkan beberapa pasar lain. “Selain itu barangnya juga lebih bervariasi dengan mutu yang bagus.”

Nah, bagaimana, tertarik dan sudah memutuskan untuk menyusuri kawasan Pancoran dan sekitarnya? Ambillah waktu yang agak senggang, dan jangan lupa kenakan pakaian yang menyerap keringat serta sepatu yang nyaman untuk berjalan kaki.

Sumber: Tabloid Nova, No. 927 Thn. XVIII. 28 November 2005


%d blogger menyukai ini: