Archive for Agustus, 2002

Perencanaan Kota Lama Jakarta Tidak Jelas

Agustus 22, 2002

Jakarta, Kompas – Perencanaan dan pemanfaatan kota lama Jakarta di kawasan Jakarta Utara sampai sekarang tidak jelas. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta hanya merencanakan kawasan tersebut sebagai kawasan wisata, tetapi tidak didukung fasilitas yang memadai sehingga tidak menarik turis untuk datang, dan yang terlihat hanyalah bangunan-bangunan tua, kotor, dan tidak terurus.

Demikian satu hal yang mengemuka dalam “Seminar Internasional Arsitektur Museum Sejarah Jakarta” yang berlangsung hari Rabu (21/8) dan dihadiri beberapa arsitek serta pencinta bangunan tua dari Belanda, Singapura, Bandung, dan Jakarta.

Akibat tidak jelasnya pemanfaatan bangunan tua di Kota Lama Jakarta, kini bangunan-bangunan tua tersebut dijadikan gudang kertas, bahan pokok, dan gudang oli. Kondisi seperti itu mempercepat kehancuran bangunan karena getaran truk-truk sepanjang hari merusak konstruksi dan dinding bangunan tua, sedangkan bangunan tua lainnya justru telantar karena pemiliknya tidak berani merenovasi karena takut melanggar peraturan daerah serta undang-undang cagar budaya.

Bambang Eryudawan, dosen Teknik Arsitektur Universitas Indonesia, mengatakan, mencontoh beberapa kota di Eropa agar bangunan tua terpelihara dengan baik, semestinya kawasan kota lama dijadikan tempat permukiman atau perdagangan. Hanya saja, permukiman tersebut bersifat khusus dengan memperhatikan aspek kelestarian bangunan, seperti memperbanyak bahu jalan untuk pejalan kaki serta membatasi berat dan jumlah kendaraan yang lalu lalang di kawasan kota lama.

Banyak aspek

“Dengan dijadikan tempat hunian, pemiliknya pasti akan memelihara kelestarian bangunan. Langkah ini sekaligus menyertakan masyarakat dalam memelihara bangunan-bangunan tua,” kata Bambang. Namun yang terjadi di Jakarta sekarang, pemeliharaan kota tua seolah-olah hanya menjadi tanggung jawab Dinas Museum dan Pemugaran.

Martono Yuwono, Pelaksana Harian Badan Pengelola Kawasan Wisata Bahari (BPKWB) Sunda Kelapa mengatakan, restorasi atau pemugaran kota lama Jakarta sudah dimulai tahun 1972-1974 ketika Jakarta dipimpin Gubernur Ali Sadikin. Misalnya, dengan memugar Museum Sejarah Jakarta, Museum Bahari, Gedung Joang 45, Museum Sumpah Pemuda, dan berbagai gedung serta kawasan lainnya. Pemugaran dan revitalisasi semestinya terus berlanjut sampai kini.

Dosen Arsitektur Universitas Indonesia Budi A Sukada mengingatkan, untuk merevitalisasi Kota lama Jakarta, tidak bisa hanya mengandalkan arsitek dan ahli planologi. Karena menyangkut banyak aspek, revitalisasi kota lama Jakarta harus melibatkan ahli dari disiplin ilmu lain, terutama sejarah dan arkeologi, sehingga perencanaan kota lama Jakarta bisa jelas dan terarah. (THY)

Sumber: Harian Kompas, Kamis, 22 Agustus 2002

Bangunan Lama dan Mebel Masa Kolonial

Agustus 13, 2002

Oleh Grace Pamungkas, Arsitek peneliti bangunan tua di Jakarta.

SEBAGAI bagian dari sejarah, bangunan lama termasuk mebel dan tatanan interior di dalamnya, selama ini termasuk hal yang hanya menjadi minat segelintir orang. Sesungguhnya kesadaran akan pentingnya sejarah dengan cara mempertahankan bangunan lama bukan hal baru, terutama di Jakarta. Meski faktanya, masih banyak orang yang lebih mementingkan keuntungan materi semata, dibanding memikirkan keuntungan nonmateri bagi generasi mendatang.

Beberapa bangunan lama yang besar di Jakarta, seperti Bank Indonesia atau bekas Bank Exim di kawasan Kota, Jakarta Barat, termasuk bangunan lama yang hingga kini masih bisa dinikmati keindahan gedung sekaligus interiornya.

Bangunan lama dalam bentuk rumah tinggal yang umumnya terdapat di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, bahkan masih menyisakan perabot antik masa kolonial. Seiring dengan masuknya pedagang dari Cina, India, dan Eropa, semakin kentara pengaruh mereka terhadap model mebel pada zaman itu.

Mebel masa kolonial garis besarnya dibagi dalam dua kelompok periode perkembangan gaya, yaitu periode awal era Vereegnide Oost Indische Compagnie (VOC), sekitar abad ke-17 hingga abad ke-19; dan periode modern awal tahun 1900-an, ketika era modernisasi muncul di Eropa.

Mebel yang digunakan awal abad ke-17 hingga permulaan abad ke-18 ternyata banyak menggunakan kayu eboni (Diospyros ebenum, Diospyros celebica) yang berwarna hitam, juga kayu kalamander (Diospyros quaesita), amboina (Pterocarpus indicus), sonokeling (Dalbergia latifolia), satin (Chloroxylon swietenia), dan jati (Tectona grandis). Sementara pada periode modern, digunakan lebih banyak ragam bahan baku selain kayu, seperti rotan, kain terpal, kulit, marmer, hingga besi.

MEBEL periode awal VOC, bisa dikatakan bentuk dan gayanya banyak dipengaruhi Eropa. Sementara ragam hiasannya, seperti ukiran, sampai abad ke-18 tampaknya masih banyak dipengaruhi India. Kursi Moluccan, misalnya, kursi yang terbuat dari kayu ebony dengan ciri khas ukiran pilin (twisted) banyak ditemukan di Maluku.

Bentuk ukiran pilin seperti itu sudah lama dikenal di India, misalnya, terdapat pada pilar Istana Man Singh yang dibangun tahun 1500. Kursi Moluccan hampir tak memiliki ukiran bunga atau tumbuh-tumbuhan lainnya, seperti kebanyakkan kursi masa itu. Biasanya berdudukan anyaman rotan, yang digunakan di Belanda dan Perancis pada abad ke-17 hingga abad ke-18. Bentuk dasar kursi moluccan mirip kursi kayu walnut (kenari) dengan bahan pelapis kulit yang ditemukan di Belanda pada pertengahan abad ke-17.

Meski perabot seperti kursi moluccan yang ada di Indonesia dipengaruhi Eropa, namun teknik anyaman rotan itu sendiri sebenarnya sudah menjadi model di Cina pada akhir abad ke-16.

Selain kursi moluccan, pada masa ini juga berkembang mebel dengan ukiran bunga, daun, dan binatang. Konon, gaya ukiran itu dipengaruhi tradisi tukang kayu Pantai Koromandel, India. Ukiran mebel semacam ini disebut low-relief bila ukirannya berbentuk bunga dan daun berukuran kecil. Sebaliknya, ukiran daun dan bunga yang besar bentuknya disebut half-relief.

Menjelang pertengahan abad ke-18, kayu yang banyak dipakai adalah jati, sonokeling, dan ambon merah. Pada masa ini, ukiran bunga dan daun India berganti dengan model ukiran flora bergaya Eropa. Selain tetap menggunakan ukiran flora, ada pula mebel yang dihiasi ukiran figur malaikat, mahkota, singa, atau simbol, dan lambang lainnya.

Salah satu jenis kursi pada masa itu memiliki sandaran yang tinggi dan ukiran gaya Eropa. Kursi ini biasa disebut Kursi Inggris (english chair) atau Kursi Belanda bersandaran tinggi (dutch high back chair).

Kalau kursi semacam itu memiliki sandaran berbentuk vas bunga yang menyatu dengan dudukannya, hal ini merupakan pengaruh Cina. Sementara kursi bergaya Cina (chinese chair) sendiri sampai sekarang masih terdapat di Gereja Sion, Jakarta Barat. Meskipun kursi bergaya Cina tapi ukirannya dipengaruhi Eropa, karena digunakan khusus untuk Gubernur Jenderal Belanda saat menghadiri kebaktian di gereja.

Pada masa ini, orang juga menggunakan perabot yang disebut kursi Raffles dan krossie gobang (kursi verandah). Kursi Raffles termasuk jenis yang paling terkenal dari perabot kolonial abad ke-19. Gaya perabot ini sebenarnya termasuk tipe Sheraton yang berkembang di Inggris. Namun, karena nama Raffles lebih dikenal di Jawa, maka trend perabot masa Raffles berkuasa itu (tahun 1811-1816), lebih dikenal dengan sebutan kursi raffles.

Sedang krossie gobang berbentuk kursi malas, dengan bagian bawah lengan kursi dapat diputar ke arah depan, supaya bisa menopang kaki. Kursi yang ditemukan di Indonesia dan India ini disebut kursi gobang, karena menggunakan kepingan uang gobang (2,5 sen) sebagai pengisi poros antara lengan kursi dengan kayu penopang kaki. Model kursi ini juga disebut kursi verandah karena sering digunakan sebagai kursi santai di beranda rumah-rumah bergaya Hindia.

PERIODE modern mebel masa kolonial dimulai awal tahun 1900-an. Ketika Eropa dilanda berbagai gerakan baru seperti Arts and Crafts, Art Nouveau, Art Deco, Bauhaus, Amsterdam School, dan De Stijl. Mereka melahirkan semangat baru untuk merancang bentuk yang tak biasa.

Perubahan mencolok tampak dari banyak berkurangnya ukiran bergaya alami, dan berganti dengan pola-pola geometris. Bentuk fungsional muncul dengan tampilan yang polos tanpa dekorasi, sebagai akibat dari prinsip bentuk mengikuti fungsi (form follows function) pada masa itu. Ketegasan garis-garis struktur benda itu sendiri sekaligus digunakan sebagai kekuatan visual artistiknya.

Arsitek-arsitek Belanda yang mulai datang ke Hindia-Belanda awal abad ke-20 memperkenalkan tak hanya arsitektur baru bangunan, tetapi juga rancangan perabot untuk bentuk bangunan tersebut. Salah satunya adalah FJL Ghijsels, arsitek Belanda yang datang ke Indonesia awal abad ke-20 ini, membuat beberapa desain perabot sejak ia masih kuliah di Delft (sekitar tahun 1904) sampai ketika bekerja di Batavia (1910-1929).

Pada masa ini biro-biro arsitektur pun bermunculan. Mereka tak hanya mendesain bangunan gedungnya, tetapi juga mendesain furniturnya. Beberapa di antaranya adalah Algemeene Ingineurs en Architecten Bureau (AIA Bureau), Biro Fermont en Cuypers yang mendesain De Javasche Bank (Bank Indonesia Kota) tahun 1909-1937, Factorij (bekas Bank Exim Kota) yang furnitur dan interiornya digarap arsitek AP Smits (1929).

Kebiasaan mendesain perabot yang dilakukan arsitek pada awal abad ke-20, memunculkan bentuk perabot yang konstekstual dengan gaya bangunannya. Pada masa ini pula kayu sebagai bahan pokok mebel dipadu dengan beragam bahan seperti rotan, kain terpal, kulit, marmer, dan besi.

Kalau Anda punya rumah bergaya lama, tak ada salahnya menggunakan mebel reproduksi. Asalkan, penguasaan esensi bentuk terdahulu tetap dipertahankan. Cara ini akan membuat perabot produk baru dan mutakhir sekalipun tetap akrab dengan lingkungan lama.

Sumber: Harian Kompas, Selasa, 13 Agustus 2002.

Schoemaker dan Penanda Kota Bandung

Agustus 4, 2002

Boleh jadi belum banyak orang tahu bahwa arsitek bernama lengkap Prof Ir Kemal Charles Proper Schoemaker (1882-1949) memiliki banyak peran dalam pembangunan gedung bersejarah di Kota Bandung, kota di mana ia dimakamkan. Ia seorang dari beberapa arsitek Belanda ternama yang banyak berkarya di Indonesia selain Thomas Karsten, dan Henry McLaine Pont. Dia juga guru presiden pertama RI Soekarno dan para insinyur pribumi angkatan pertama semasa kuliah di Technische Hogeschool (kini menjadi Institut Teknologi Bandung/ITB).

Selain bangunan, tidak sedikit tulisan hasil penelitiannya mengenai kebudayaan Indonesia khususnya tentang arsitektur tradisional termasuk candi. Bersama McLaine Pont, arsitek yang merancang Kampus ITB, arsitek kelahiran Banyubiru, Ambarawa, ini membentuk kesatuan pandangan arsitektur yang sangat memperhatikan potensi dan budaya setempat yang tampak pada karyanya.

Berikut ini sebagian karyanya yang bertebaran di penjuru Kota Bandung, mulai dari gedung pertemuan, hotel, bangunan kantor/komersial, masjid dan gereja, rumah tinggal, penjara, hingga laboratorium penelitian. Hampir semua karya itu menjadi penanda fisik penting di Bandung.

***

GEDUNG Merdeka di Jalan Asia-Afrika merupakan salah satu artefak yang sangat menyejarah di Kota Kembang karena di gedung tersebut pernah diselenggarakan Konferensi Asia-Afrika tahun 1955.

Pada abad ke-19 gedung itu mulanya digunakan sebagai gedung Societeit Concordia yang merupakan perkumpulan orang-orang terkemuka. Namun, pada tahun 1930 bangunan itu dirombak total dari idiom klasik ke Arsitektur Modern oleh Schoemaker. Karena menjadi bangunan yang teramat penting, sejak tahun 1955 hingga saat kini tidak ada sedikit pun dilakukan perubahan berarti.

Karya lain adalah hotel paling eksotik yang dibangun pada masa kolonial yakni Hotel Preanger. Hotel ini jelas mengingatkan pada langgam seni dekoratif Frank Lloyd Wright pada awal 1920-an, khususnya karya Imperial Hotel di Tokyo (1915-1925).

Motif geometrik secara dekoratif mengisi pada bidang dan pertemuan elemen bangunan. Karya ini memberi identitas tersendiri yang menegaskan sebutan Art Decorative. Pengaruh ini sebenarnya muncul dalam banyak bangunan kolonial di Bandung. Boleh jadi, gejala ini juga merupakan imbas dari maraknya langgam serupa di kota-kota Eropa sekitar tahun 1920-an.

Jika ia pernah merancang bangunan komersial di Surabaya seperti Kolonial Bank (Jalan Jembatan Merah) dan Java Store (Jalan Tunjungan), Schoemaker pernah juga merancang bangunan bernama Jaarbeurs de Bandung yang bergaya modern dan kini dipakai sebagai Markas besar Kodam III Siliwangi. Kompleks Jaarbeurs awalnya direncanakan untuk keperluan pameran hasil industri organisasi pengusaha industri bernama Vereniging Nederland Indische Jaarbeurs de Bandung.

Kompleks Jaarbeurs yang mulai dibangun tahun 1920 ini dikelilingi empat jalan, yakni Jalan Banda, Jalan Menado, Jalan Blitar, dan Jalan Sunda. Meskipun beberapa telah mengalami perubahan, namun unit bangunan utama paling depan dekat gapura masih utuh, kecuali elemen dekoratif klasik tiga buah patung yang ditutup badannya di bagian pintu masuk. Desain dan tata letak berbagai ventilasi untuk memasukkan cahaya dan udara alami tertata sangat baik.

Perpaduan langgam Eropa dengan gaya setempat terlihat mantap dalam rancangan bangunan religius seperti Masjid Cipaganti di Jalan Cipaganti dan Gereja Bethel di Jalan Wastukencana. Masjid Cipaganti yang dibangun pada tahun 1933 memperlihatkan unsur seni bangunan Jawa, yaitu berupa penggunaan atap tajug tumpang dua, empat saka guru di tengah ruang shalat dan detail ornamen seperti bunga maupun sulur-suluran. Sedangkan unsur Eropa terlihat pada pemakaian kuda-kuda segi tiga penyangga atap dan secara khusus penataan massa bangunan pada lahan ”tusuk sate” antara Jalan Cipaganti dengan Jalan Sastra. Penataan massa bangunan seperti ini menjadikan bangunan tampak paling menarik jika dilihat dari Jalan Sastra karena terbingkai deretan pepohonan rindang. Penataan seperti itu merupakan cara ”Eropa” yang menjadi sesuatu yang baru pada bangunan masjid di Jawa.

Begitu pula Gereja Bethel yang menghadap Sythof Park Pieter atau sekarang disebut Taman Merdeka. Pada bagian atap, Schoemaker mengambil bentuk atap tajug Jawa, namun bentuk bangunannya mengambil sentral Palladian dengan menara sudut. Langgam Eropa makin jelas jika dilihat pada pintu utama yang mengingatkan bentuk gereja Romanesk meskipun samar-samar mengambil pula inspirasi Gothik.

Arsitek ini juga pernah mendesain bangunan yang biasa dikenal sebagai Penjara Sukamiskin. Bangunan penjara ini masih berdiri dengan kokoh yang dapat kita lihat dari arah perjalanan Cicaheum ke Ujung Berung di sebelah kanan jalan. Sungguh suatu bangunan yang juga tidak kalah menarik di pinggiran Kota Bandung.

***

JIKA kita lanjutkan penelusuran makin ke arah Bandung Utara, kita akan menemui beberapa rumah tinggal yang sangat unik karya Schoemaker. Dua di antaranya adalah Villa Merah, ITB di Jalan Tamansari, dan Villa Isola di Jalan Setiabudi yang kini menjadi gedung rektorat IKIP/UPI Bandung.

Bangunan rumah tinggal pertama Schoemaker terkenal dengan sebutan Villa Merah karena menggunakan bata berwarna merah. Material ini dipaparkan terbuka sehingga warna merah mendominasi hampir seluruh permukaan bangunan kecuali atap yang menjulang dan menjadikan vila itu sangat unik karena tanpa-padanan. Bangunan dua lantai ini juga sangat menonjol dalam upaya memadukan seni bangunan Eropa dengan Indonesia yang beriklim tropis panas dan lembab.

Adapun Villa Isola disebut-sebut sebagai bangunan megah bergaya Arsitektur Modern yang dianggap sangat berhasil dalam menyatukan bangunan dengan lingkungannya. Bangunan yang awalnya adalah rumah tinggal milik orang Belanda bernama DW Barrety ini berada di pinggiran kota. Penataan lansekap dan bangunan mengikuti sumbu utara-selatan sebagaimana penataan lansekap Kampus ITB dengan taman memanjang menuju arah Gunung Tangkuban Perahu. Penataan ini memperlihatkan kesatuan dengan bentuk geometri bangunan yang meliuk-liuk plastis, dan dengan ornamen garis-garis moulding yang memanfaatkan efek gelap-terang sinar Matahari.

Karena terletak di dataran yang cukup tinggi dan bersumbu utara-selatan, kita bisa menikmati pemandangan ke utara yakni Gunung Tangkuban Perahu dan ke selatan ke arah Kota Bandung. Pemandangan ke berbagai arah ini dapat dinikmati dari berbagai sudut seperti ruang tidur, keluarga, makan, dan terutama teras atau balkon. Bangunan yang dibangun pada tahun 1933 ini dapat menjadi contoh perpaduan serasi antara seni bangunan barat dan timur.

Sebagai catatan akhir, jika menelusuri Jalan Setiabudi menuju Lembang kita akan menemui bangunan untuk pengembangan ilmu dan penelitian tentang bintang dan benda luar angkasa yaitu Laboratorium Bosscha yang sampai kini merupakan satu-satunya di Indonesia. Itulah sederetan bangunan karya Schoemaker yang sangat lekat dengan landmark Kota Bandung. Karya-karya itu, selain selalu memiliki kualitas desain arsitektural yang baik, juga memberi manfaat begitu besar karena terus digunakan meski sebagian di antaranya telah berubah fungsi. Dan, yang tak kalah penting, hampir semua artefak bangunan itu masih bisa disaksikan hingga kini.

*Bambang Setia Budi, staf pengajar Departemen Arsitektur Institut Teknologi Bandung.

Sumber: Harian Kompas, Minggu, 4 Agustus 2002