Archive for Maret, 2005

KONSERVASI DAN DOKUMENTASI

Maret 28, 2005

Pusat Dokumentasi Arsitektur (PDA) dan
Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) DKI Jakarta
akan menyelenggarakan Pameran dan Diskusi tentang

KONSERVASI DAN DOKUMENTASI BANGUNAN BERSEJARAH:

PENGUKURAN DAN PENELITIAN SEJARAH
GEDUNG DEPARTEMEN KEUANGAN JAKARTA

Pameran
Pembukaan: 30 Maret 2005, jam 19:00
Pameran: 30 Maret – 1 April 2005
di Jakarta Design Center, Lantai 6,
Jl, Gatot Subroto 53, Jakarta 10260

Seminar Setengah Hari
hari Jumat, 1 April 2004 jam 13.00 – 17:40,
di Jakarta Design Center, Lantai 6,
Jl, Gatot Subroto 53, Jakarta 10260

Moderator:
Prof. Mundardjito

Pembicara:
Cor Passchier BNA IAI:
Perkembangan Konservasi Dewasa Ini

Ir. Rai Pratadaya:
Masa Depan Konservasi di Jakarta

Dra. Mona Lohanda, M. Phil.:
Sejarah Gedung Departemen Keuangan

Dr. Ark. Djauhari Sumintardja, Dipl.Bldg.Sc:
Hasil Pendokumentasian Gedung Dept. Keuangan

Peluncuran Buku
Pendokumentasian Gedung Dept. Keuangan
Arya Abieta, Tjandra Mualim, Danang Prihatmodjo

Pendaftaran Seminar:
Sekretariat IAI-DKI Jakarta
telp. (021) 530 4719
fax. (021) 530 4711
email: diskusi_iai@telkom.net

Biaya :
anggota IAI dan mahasiswa Rp 50.000,-
umum Rp 75.000,-

Benteng Timur Batavia (Sedang) Dihancurkan

Maret 26, 2005

DENTANG aduan martil dengan betel terdengar dari kejauhan. Beberapa lelaki menggunakan alat-alat itu untuk melepas satu per satu batu bata yang terbilang kuno dari sebuah dinding tua.

Tanpa disadari, secara perlahan mereka sedang menghancurkan benteng tepi timur Batavia, satu-satunya penanda tersisa batas timur kompleks Batavia yang dibangun sekitar tahun 1740.

Benteng itu terletak persis di pinggir jalan Tol RE Martadinata, Jakarta Utara. Pada Kamis (24/3) siang tampak dua lelaki saling mengulurkan satu per satu batu bata untuk diturunkan di balik dinding atau di sisi utaranya.

Pada siang itu tinggi dinding masih mencapai empat meter lebih. Dentang aduan martil dan betel tetap bergema pertanda masih ada orang lain yang terlibat “vandalisme”, merusak peninggalan bangunan berusia 250 tahun lebih itu.

Uni, bocah perempuan berusia sekitar 12 tahun, seraya membuatkan es teh di warung kolong tol, terdekat dengan dinding tua yang sedang dijarah itu, mengatakan, kira-kira sudah sepekan orang-orang itu mengambil batu bata dari bangunan tua tak terawat itu.

Benteng tepi timur Batavia memang tersembunyi. Tetapi, dua bangunan benteng berbentuk rumah limas yang saling berhadapan itu dapat dilihat jelas dari jalan layang Tol RE Martadinata.

MENURUT penulis buku- buku sejarah Jakarta, Adolf Heuken (75), bangunan itu seharusnya diselamatkan pemerintah. Sebab, benteng sisi timur Batavia merupakan satu- satunya yang tersisa sebagai penanda batas wilayah Batavia atau Kota Lama Jakarta di sisi timur.

“Semula, saya melihat perusakan benteng tepi timur Batavia itu saat melintas di jalan tol dari arah Pluit menuju Tanjung Priok, Rabu lalu. Pada hari itu juga saya menelepon Pemerintah DKI Jakarta agar menghentikan perusakan tersebut,” kata Heuken, yang juga rohaniwan dan lahir di Jerman, tetapi menetap di Jakarta sejak tahun 1963.

Heuken menuturkan, benteng tepi timur Batavia berada di pinggir Sungai Ciliwung. Benteng itu sekaligus dipergunakan sebagai gudang bahan makanan pada zaman VOC Belanda.

Menilik dua fungsi yang digunakan untuk gudang bahan makanan dan benteng penjagaan wilayah terlihat ada efisiensi penugasan militer. Tentara yang berjaga itu dapat menjaga keamanan persediaan bahan makanan, sekaligus menjaga batas wilayah.

Benteng tepi timur Batavia ini juga dikenal dengan gudang gandum (graanpakhuizen). Letak gudang ini sekitar ratusan meter setelah Menara Syahbandar dari arah laut. Menara itu sekarang dapat dilihat berada di seberang jalan Gedung Galangan Kapal VOC.

Menurut Heuken, sebetulnya bangunan benteng tepi timur Batavia terdiri atas lebih dari dua bangunan yang letaknya saling berdekatan. Namun, beberapa bangunan lainnya di sebelah selatan bangunan yang tersisa sekarang sudah dibongkar untuk jalur jalan layang Tol RE Martadinata.

Selain benteng tepi timur Batavia, juga dikenal benteng tepi barat Batavia (Westzijdsche Pakhuizen/Gudang Tepi Barat).

Benteng tepi barat Batavia sekarang dikenal sebagai bangunan Museum Bahari, dulunya benteng tepi barat Batavia itu sekaligus berfungsi sebagai gudang bahan makanan pula.

Di benteng tepi timur Batavia dipergunakan untuk menyimpan gandum, beras, kacang tanah, kacang ijo, kue- kue kering untuk perbekalan kapal, dan sebagainya. Di benteng tepi barat Batavia dipergunakan untuk menyimpan hasil perkebunan, seperti lada, kopi, teh, atau kain dalam jumlah besar.

Efisiensi militer zaman VOC Belanda waktu itu terlihat jelas. Gudang bahan makanan perlu diawasi tentara, sekaligus tentara itu berjaga untuk pertahanan wilayah Batavia.

DARI perihal pertahanan Batavia ini, Heuken dalam bukunya berjudul Historical Sites of Jakarta yang disadur menjadi buku Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta (1995) menceritakan, ada kisah lucu saat penyerangan kedua pasukan Kerajaan Mataram di Yogyakarta ke benteng tepi selatan Batavia (1629).

Kisah lucu ini sebelumnya dilaporkan Johan Neuhoff dalam buku berbahasa Jerman, Die Gesantschaft der Ost-Indischen Geselschaft in den Vereinigten Niederlaendern an den Tatarischen Cham, yang diterjemahkan dari naskah Belanda 1666.

Benteng tepi selatan Batavia saat itu terletak di dekat Gereja Portugis di kawasan Stasiun Kota sekarang. “Pada penyerbuan itu, pasukan Belanda tak sanggup lagi mempertahankan kubu karena kehabisan amunisi,” kata Heuken.

Dalam situasi genting itu, lanjut Heuken, Sersan Hans Madelijn dari daerah Pfalz (Jerman) mendapat siasat gila. Ia memerintahkan pasukannya untuk menyiramkan tinja kepada pasukan Kerajaan Mataram yang berusaha memanjat tembok benteng.

Ketika dihantam dengan “peluru” jenis baru itu, pasukan Kerajaan Mataram lari sambil berteriak marah. “Dari peristiwa itu, untuk pertama kali kata-kata Melayu tercatat dalam buku berbahasa Jerman,” kata Heuken.

Mau tahu kata-kata itu?

“O seytang orang Ollanda de bakkalay samma tay!” (Nawa Tunggal)

Sumber: Kompas, Sabtu, 26 Maret 2005

Menengok Kampung Arab – WISATA KAMPUNG TUA

Maret 15, 2005

Kampung Arab bagaimana dan dimana riwayatmu kini?
Mo tahu….??? Telusuri jejaknya dalam ….

Menengok Kampung Arab
WISATA KAMPUNG TUA
Minggu, 17 April 2005, Pkl. 07.30-12.30 WIB

MUSEUM SEJARAH JAKARTA dan Komunitas Peduli Sejarah dan Budaya Indonesia (KPSBI-HISTORIA) terus berupaya menggelar acara untuk membangkitkan kesadaran sejarah dan budaya masyarakat Indonesia, khususnya Jakarta, dalam upaya mengenali dan melestarikan Kota Tua-nya. Acara ini merupakan paduan kegiatan yang rekreatif-edukatif dan menghibur bagi masyarakat dengan semurah dan meriah mungkin sesuai harapan masyarakat agar mereka mengenali hingga kemudian mencintai kotanya. Dikemas melalui walking tour menyusuri kawasan Kota Tua Jakarta Tempo Dulu.

Minggu, 17 April 2005 mendatang, kita akan mengunjungi masa lampau Jakarta ke Kampung Arab, yaitu Pekojan. Kampung ini bermula, jauh sebelum orang-orang Eropa datang, ketika orang-orang Gujarat, Arab, Persia, Hadramaut, dll mengunjungi Nusantara. Dalam perkembangan berikutnya, HAL YANG MENARIK, kampung Pekojan ini sekarang bukan kampungnya orang-orang Arab lagi melainkan Kampung Cina. (ingat, bukan Glodok). Kalau dulu disekitar kampung ini tiap malam bau Gaharu (sejenis kayu yang dibakar mengeluarkan wewangian), sekarang sehari-harinya bau hio. 😉

Mau tahu keadaan sekarang Kampung Arab Pekojan itu?
Ikutilah acara Wisata Kampung Tua ini dengan …

ROUTE:
– Stadhuis (Museum Sejarah Jakarta) +
– Stadhuis Plein (kini Taman Fatahillah) +
– The Groote Kanaal (Kali Besar) +
– Gedung Kota Bawah * +
– Pasar Pagi Mangga Dua –
– Mesjid Al Anshor +
– Rumah Betawi Abdulah Alatas –
– Mesjid Jamiatul Khair +
– Mesjid An Nawier Pekojan +
– Jembatan Kambing +
– Mesjid Langgar Tinggi +
Kett:
* dalam konfirmasi
+ memasuki lokasi
– hanya melwati

BIAYA:
Rp. 20.000 (umum)
Rp. 10.000 (pelajar)

FASILITAS:
– Refreshment/ Snack
– Lunch (makan siang)
– ID Card
– Hand Out/ Sinopsis
– Tour Guide
– Tiket Museum

NARA SUMBER:
Asep Kambali

INFORMASIN DAN PENDAFTARAN:
KPSBI HISTORIA
Caring Community for Indonesian History and Culture
Ujo: 0818-0807-3636, 0813-1550-1669
(Jam kerja, No. SMS)

Rencana Pembangunan Mal Serang di Lokasi Cagar Budaya Diprotes

Maret 13, 2005

TEMPO Interaktif, SERANG: Sejumlah kalangan mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang meninjau ulang pemberian izin lokasi pembangunan mal di Kompleks Markas Komando Distrik Militer (Kodim) 0602 Serang, Banten. Selain dianggap melanggar peruntukan lahan, lokasi pendirian mal itu merupakan lokasi cagar budaya.

“Sudah menjadi tanggung jawab kita semua untuk mencegah hilangnya lokasi cagar budaya hanya karena ambisi bisnis. Kami minta Pemkab Serang meninjau ulang izin pembanguan mal di Kompleks Kodim itu. Rencana ini harus ditolak,” kata Ketua Lembaga Advokasi Masalah Publik (LAMP), Sudaha, Minggu (13/3) di Serang.

Suhada menyayangkan Pemkab Serang hanya melihat kepentingan bisnis semata tanpa mempertimbangkan faktor lain. Ia khawatir pemberian izin itu akan menghancurkan bangunan-bangunan bersejarah yang tersisa di Banten.

Hal yang sama dikemukan IN. Rosyadi, Ketua Pusat Kajian Masyarakat Independen (PKMI) Banten. “Lokasi cagar budaya itu dilindungi undang-undang, Pemberian izin itu jelas melanggar undang-undang,” katanya.

Pemkab Serang telah mengeluarkan izin lokasi pembangunan mal di Kompleks Markas Kodim 0602 Serang kepada PT Mandiri Maju Sentosa (MMS) berdasarkan Keputusan Bupati Serang No 15/SK. IL-I/ NF/DTRB/2004. Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Pemerintah Kabupaten Serang Agus Erwana mengatakan, pemberian izin lokasi itu didasarkan pada rencana tata ruang dan wilayah yang memasukkan Markas Kodim 0602 Serang sebagai kawasan perkantoran dan jasa perdagangan.

Sebagai gantinya, kata dia, telah disiapkan lahan pengganti di Jalan Raya Pandeglang kilometer 3,6. Meski izin lokasi telah diberikan, Pemkab Serang masih mengkaji rencana pembangunan (site plan) yang diajukan PT MMS. “Site plan itu akan diterbitkan setelah semua syarat- syaratnya terpenuhi, seperti izin lingkungan, amdal, dan sebagainya,” kata Agus kepada Tempo, kemarin.

Kepala Tim Kajian Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BPPP) Serang, Zakaria Kasimin mengatakan, bangunan Markas Kodim 0602 yang akan digusur oleh pembangunan mal itu termasuk benda cagar budaya peringkat lokal yang harus dilestarikan.

Markas Kodim 0602 merupakan sebagian dari arsitektur kota lama dan salah satu bangunan bersejarah lainnya yang mengelilingi alun- alun Serang. “Meski berperingkat lokal, bangunan itu bernilai sejarah karena menjadi tempat penurunan bendera Jepang saat Perang Kemerdekaan dan menjadi markas BKR (Badan Keamanan Rakyat, cikal bakal Tentara Keamanan Rakyat yang pada akhirnya menjadi TNI),” kata Zakaria.

BPPP telah mengeluarkan rekomendasi agar bangunan depan seluas 110 meter persegi harus dipertahankan karena termasuk benda peninggalan sejarah yang dilindungi undang-undang. Sesuai pasal 44 Peraturan Pemerintah Nomor 10/1993 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 5/1992 tentang Benda Cagar Budaya, pembangunan mal itu harus seizin Menteri Kebudayaan dan Pariwisata atau izin setingkat Asisten Deputi Urusan Purbakala dan Permuseuman. l faidil akbar

Sumber: Tempo Interaktif, 13 Maret 2005

Di Serang, Mal Dibangun di Lokasi Cagar Budaya

Maret 8, 2005

Serang, Kompas – Pemerintah Kabupaten Serang, Banten, telah mengeluarkan izin lokasi untuk pembangunan mal di kompleks Markas Komando Distrik Militer 0602 Serang yang merupakan salah satu benda cagar budaya yang dilindungi undang-undang. Pemberian izin itu dikhawatirkan akan menghancurkan bangunan-bangunan bersejarah yang tersisa di wilayah Banten.

Izin lokasi diberikan kepada PT Mandiri Maju Sentosa (MMS) berdasarkan Keputusan Bupati Serang No 15/SK. IL-I/ NF/DTRB/2004. Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Pemerintah Kabupaten Serang Agus Erwana, Senin (7/3), mengatakan, pemberian izin lokasi itu didasarkan pada rencana tata ruang dan wilayah yang memasukkan kawasan tempat Markas Kodim 0602 Serang berdiri sebagai kawasan perkantoran dan jasa perdagangan.

Sebagai gantinya, untuk Markas Kodim 0602 telah disiapkan lahan pengganti di Jalan Raya Pandeglang Kilometer 3,6.

Meski izin lokasi telah diberikan, Pemkab Serang masih mengkaji rencana pembangunan (site plan) yang diajukan PT MMS. “Site plan itu akan diterbitkan setelah semua syarat- syaratnya terpenuhi, seperti izin
lingkungan, amdal, dan sebagainya,” katanya.

Berdasarkan hasil kajian Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BPPP) Serang, bangunan Markas Kodim 0602 yang akan tergusur oleh pembangunan mal itu termasuk benda cagar budaya peringkat lokal yang harus dilestarikan. Bangunan tersebut merupakan satu rangkaian dalam arsitektur kota lama bersama bangunan-bangunan bersejarah lainnya yang mengelilingi Alun- alun Kota Serang.

“Meski berperingkat lokal, bangunan itu bernilai sejarah karena menjadi tempat penurunan bendera Jepang saat Perang Kemerdekaan dan menjadi markas BKR (Badan Keamanan Rakyat, cikal bakal Tentara Keamanan Rakyat yang pada akhirnya menjadi TNI),” papar Zakaria Kasimin, Kepala Tim Kajian, yang didampingi Kepala BPPP Serang Tri Hatmadji dan staf Dokumentasi, Juliadi.

Zakaria menyatakan, pihaknya telah mengeluarkan rekomendasi agar bangunan depan seluas 110 meter persegi harus dipertahankan karena termasuk benda peninggalan sejarah yang dilindungi undang-undang. Selain itu, sesuai dengan Pasal 44 Peraturan Pemerintah No 10/1993 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No 5/1992 tentang Benda Cagar Budaya, pembangunan mal itu harus melalui izin Menteri Kebudayaan dan Pariwisata atau izin setingkat Asisten Deputi Urusan Purbakala dan Permuseuman. (sam)

Menpora Sesalkan Rencana Pembongkaran Stadion Menteng

Maret 7, 2005

JAKARTA – Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Adhyaksa Dault, menyesalkan dan mengaku prihatin terhadap rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang akan membongkar Stadion Menteng yang sehari-hari digunakan sebagai tempat latihan sepakbola Persija Jakarta.

“Bagaimana olahraga kita mau maju, kalau sarana dan prasarana olahraga dihilangkan,” ujarnya kepada wartawan, di Jakarta, pekan lalu.

Seperti diberitakan, Stadion Persija Menteng, Jakarta Pusat, yang berusia 84 tahun, awal tahun depan direncanakan dibongkar dan ‘disulap’ menjadi taman dan sejumlah fasilitas bisnis. Sementara tempat latihan Persija Pusat akan dialihkan ke Stadion Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Menurut Menpora, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta atau Pemerintah Provinsi manapun yang berencana membongkar atau mengalihfungsikan semua fasilitas olahraga di daerahnya jangan hanya dikonsultasikan ke DPRD tetapi harus dikoordinasikan dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga.

“Saya jadi bertanya-tanya, kok Menpora tidak dilibatkan dalam persoalan Menteng. Menpora kan harus menjadi leading sector untuk olahraga,” katanya.

Dikatakan, kalau kasus semacam Stadion Menteng ini dibiarkan tanpa keterlibatan Menpora, dikhawatirkan akan banyak sarana dan prasarana olahraga di daerah-daerah yang akan beralih untuk kepentingan yang lain.

Melihat semakin kurangnya sarana dan prasarana olahraga khususnya di DKI Jakarta, secara pribadi Adhyaksa, berpendapat bahwa wajar kalau Persija Jakarta dikalahkan Persita Tangerang dalam kompetisi domestik.

Menurut Menpora, salah satu upaya mencegah semakin banyaknya sarana dan prasarana olahraga yang beralihfungsi, pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Keolahragaan harus segera dibahas di DPR sehingga tahun ini bisa ditetapkan menjadi UU.

Dalam RUU Keolahragaan pada pasal 71 menyatakan setiap orang yang dengan sengaja melakukan alih fungsi secara tetap atau meniadakan prasarana olahraga yang telah ada baik sebagian atau seluruhnya tanpa izin, bisa dipidana paling lama 5 tahun dan/atau denda paling banyak Rp 30 miliar.

Adhyaksa Dault juga berencana mengurangi jumlah pegawai negeri sipil (PNS) di kementerian yang dipimpinnya.

Pasalnya, jumlah PNS di Kementerian Pemuda dan Olahraga yang notabene merupakan limpahan dari Direktorat Pemuda dan Olahraga Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), dinilai terlalu banyak, yakni sekitar 300 orang.

Menurut Adhyaksa kepada wartawan, Jumat (4/3), sekitar 30 persen atau sekitar 100 orang pegawai akan direkomendasikan pindah dan dikembalikan ke Depdiknas, sedangkan 70 atau sekitar 200 orang lagi dipertahankan. “Kita butuh karyawan profesional yang bekerja efektif dan efisien,” katanya.

Dikatakan, karyawan yang dikembalikan ke Depdiknas tidak akan dipindahkan begitu saja tetapi akan memperoleh kompensasi yang saat ini masih belum ditentukan. (E-7)

Sumber: Suara Pembaruan, 07 Maret 2005

Menyusuri Pecinan di Kota Tua Batavia

Maret 3, 2005

Pagi itu jalan belum begitu macet ketika kaki kami menapaki Jalan Pintu Besar Jakarta Barat menuju kerkstraat, atau jalan gereja di samping Museum Wayang, terus hingga Jalan Kali Besar Timur. Bau menyengat langsung tercium begitu sampai di pinggir Kali Besar (The Groote Kanaal) yang merupakan bagian hilir Kali Ciliwung.

“Dulu air kali ini bahkan bisa diminum. Sekitar tahun 1800, air kali mulai tercemar menjadi kekuning-kuningan meski masih digunakan untuk mandi dan mencuci. Kali ini menjadi saksi bisu kekejaman Pemerintah Belanda dalam peristiwa Chineezenmoord atau pembantaian orang-orang China,” kata Asep Kambali, Ketua Komunitas Peduli Sejarah dan Budaya Indonesia (KPSBI) Historia, yang memandu wisata sejarah, Minggu (27/2).

Kali Besar saat ini tengah “digarap” lewat program Kali Besar Bersih sebagai bagian dari Revitalisasi Kota Tua oleh Jakarta Old Town-Kotaku, yang dimotori Miranda Goeltom, Deputi Senior Bank Indonesia yang juga Ketua Dewan Pengurus Jakarta Old Town-Kotaku, bekerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU) DKI Jakarta, Suku Dinas PU Tata Air Jakarta Barat, Bank HSBC, dan Bank Indonesia.

Orang kerap menyebut Glodok sebagai daerah pecinan atau chinatown di kawasan Kota Tua. Namun, selain Glodok, daerah pecinan sebenarnya lebih luas lagi, mulai dari daerah Pasar Pagi, Asemka, Jalan Perniagaan, Kemenangan, Perdagangan, Pancoran, dan wilayah lain yang masuk Kecamatan Tambora.

Bahkan, daerah Pekojan yang awalnya dikenal sebagai Kampung Arab, lengkap dengan beberapa masjid tuanya, saat ini banyak dihuni oleh orang keturunan China. Hanya sedikit orang keturunan Arab yang masih bertahan setelah mereka eksodus ke daerah timur, seperti Condet dan Jatinegara, juga ke Tanah Abang, Depok, hingga Bogor.

Kami kembali berjalan menuju Jalan Perniagaan, lokasi rumah keluarga Souw, tepat di samping Pasar Perniagaan, Jakarta Barat. Bangunan tua yang masih dipertahankan sampai sekarang itu awalnya dihuni kakak beradik Souw Siauw Tjong dan Souw Siauw Keng (1849- 1917) yang kaya raya.

Keduanya juga dikenal dermawan, membantu mendirikan sekolah bagi anak-anak bumiputra di tanah miliknya. Pemerintah Hindia Belanda kemudian memberikan gelar luitenant titulair (kehormatan) kepada Tjong pada Mei 1877, sedangkan Keng diangkat menjadi luitenant der Chineezen pada tahun 1884.

Jalan Perniagaan awalnya bernama Jalan Patekoan, yang berarti delapan teko. “Katanya, di daerah sini pernah tinggal seorang kapiten China bernama Gan Djie (1663-1675). Istrinya dikenal berjiwa sosial. Setiap hari ia menyediakan delapan teko berisi air teh untuk orang yang lewat jalan ini,” ungkap Asep.

Masih di Jalan Perniagaan, pandangan kami tertuju pada bangunan modern yang dulu menjadi markas organisasi Tionghoa, Tiong Hoa Hwee Koan atau perhimpunan Tionghoa yang didirikan pada 17 Maret 1900. Kini, bangunan yang dulunya khas China itu menjadi gedung SMAN 19 setelah diambil alih oleh pemerintah pada tahun 1965.

“Gedung ini dulu mirip kelenteng dan jadi sekolah China pertama. Tahun 1966 gedung direnovasi dan sampai sekarang tak pernah diubah-ubah lagi. Dua patung yang ada di depan pintu gerbang juga sudah tak ada lagi,” papar Lukman Effendi, guru seni rupa yang juga pembina OSIS SMAN 19.

JALAN menjadi sangat macet menjelang siang. Namun, peserta wisata sejarah yang terdiri dari anak-anak hingga orang tua itu masih bersemangat. Kami menyusuri Gang Lamceng, gang sempit menuju Vihara Kwan Tee Bio. Gang itu menghubungkan Jalan Perniagaan dengan Jalan Perdagangan.

Setelah berputar-putar di gang-gang sempit, kami tiba di Kelenteng Toa Se Bio atau Kelenteng Duta Besar di Jalan Kemenangan II. Menurut warga sekitar, dahulu jalan ini bernama Jalan Toasebio. Kelenteng besar ini, menurut beberapa literatur, dibangun oleh orang Hokkian dari Kabupaten Tiotha, Provinsi Hokkian, China.

Kelenteng dipersembahkan untuk Cheng-goan Cin-kun yang merupakan dewa di daerah itu.

Di altar utama kelenteng terdapat hio-louw, tempat untuk menancapkan hio atau dupa lidi, yang berangka tahun 1751. Ini merupakan obyek berangka tertua yang kedua. Di Kelenteng Kim Tek Le terdapat meja sembahyang yang berangka tahun 1742.

Di Jalan Kemenangan III, tak jauh dari Kelenteng Toa Se Bio, berdiri megah sebuah bangunan China. Namun, meski sekilas mirip kelenteng, bangunan ini ternyata adalah sebuah gereja, Gereja Santa Maria de Fatima.

Menurut Asep Kambali, gereja ini dahulu pernah didiami Letnan Tjio dari China. Setelah China jatuh ke tangan komunis pada tahun 1949, sebagian rohaniwan datang ke Jakarta dan menempati gedung tersebut.

Keistimewaan gedung ini adalah adanya inskripsi dengan aksara Tionghoa. Di bubungan atap tertera daerah asal pemiliknya, yaitu Kabupaten Lam- oa, Karesidenan Coan-ciu (China). Masih di bubungan atap, tertulis bok siu khong leng yang artinya rezeki, umur panjang, dan kesehatan.

Juga hanya berjarak beberapa ratus meter, terdapat Kelenteng Kim Tek Li atau Dharmabakti yang merupakan kelenteng tertua di Jakarta yang didirikan pada tahun 1650 oleh Letnan Kwee Hoen. Ia menamainya Paviliun Koan-im atau Dewi Welas Asih.

Keluar dari kelenteng, kami sampai ke Glodok, yang semasa VOC merupakan kawasan di luar tembok kota. Glodok yang konon berasal dari kata grojok-grojok sejak tahun 1740 memang menjadi permukiman kaum China ketika terjadi pembantaian orang-orang China di Sunda Kelapa. Tragedi pembantaian Angke ini disebut-sebut menelan korban 10.000 jiwa.

Glodok kini maju pesat dan menjadi salah satu pusat perdagangan terbesar di Jakarta. Glodok bisa bertahan menjadi kawasan bergengsi selama lebih dari 200 tahun, termasuk kawasan pecinannya.

Meski demikian, banyak warga keturunan China yang harus pindah ke Pluit, Ancol, dan Sunter karena makin sempitnya lahan untuk bermukim.

Seorang peserta wisata sejarah, Nurweni (50), berdecak kagum melihat gedung-gedung tua di pecinan yang beberapa di antaranya menjadi cagar budaya. Banyak yang sudah berubah, tetapi orang China ternyata bisa mempertahankan sejarahnya.

“Saya ingat, waktu SD diajak nenek ke Kota (daerah stasiun Kota Jakarta-Red ) naik trem dari Sawah Besar lewat Pasar Baru, terus ke Kota. Sekarang rel-rel trem tidak berbekas, sulit membayangkan suasana waktu itu,” ujar Nurweni, warga Tanah Tinggi itu.

Berada di dekat Kelenteng Toa Se Bio, terasa sangat kental nuansa Chinanya. Keluarga Souw pun masih mempertahankan rumah tuanya seperti aslinya, lebih dari seabad lalu.

Peringatan Imlek dan Cap Go Meh tidak pernah absen di Glodok dan sekitarnya.

Bagaimana dengan penduduk Betawi? Apakah mereka mampu mempertahankan kekhasan budayanya? Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menantang dengan mengeluarkan peraturan daerah tentang Perkampungan Budaya Betawi di Kelurahan Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Di atas tanah seluas 165 hektar, semuanya harus bercorak Betawi. Mungkinkah?

Namun, rambut boleh sama hitam, watak orang tentu berlainan. Lain China, lain pula Betawi. (Susi Ivvaty)

Sumber: Harian Kompas, Kamis, 03 Maret 2005

Jangan Biarkan Viosveld Tinggal Nama

Maret 1, 2005

IBARAT hidup manusia, napas stadion Persija di Jalan HOS Cokroaminoto, Menteng, Jakarta Pusat, tinggal menunggu saat. Lapangan yang didirikan tahun 1921 dengan nama Voetbalbond Indiesche Omstreken itu bisa jadi akan tinggal kenangan, menyusul rencana Pemerintah Provinsi DKI membongkar stadion yang saat itu lebih dikenal dengan Viosveld.

JUMAT (25/2) sore, tim sepak bola Persija tengah berlatih mempersiapkan diri untuk pertandingan keesokan harinya (Sabtu) di Kuningan. Mata dari ratusan penonton yang tidak lain pendukung fanatik grup sepak bola itu, atau lebih dikenal The Jakmania, seakan tak mau terlepas dari tengah lapangan melihat jagoannya berlatih.

Penonton setia Persija tak hanya berasal dari sekitar warga Menteng, tetapi mereka mengaku dari Tanah Abang, Pasar Rumput, Kemayoran, Kebayoran Lama dan Baru. Selain itu, mereka ada pula yang dari Jakarta Timur, Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Tangerang.

Mereka datang ke stadion Persija di Menteng yang berada di sudut persimpangan Jalan HOS Cokroaminoto dan Jalan Prof M Yamin dengan mengendarai sepeda motor.

“Kami cuma pengin melihat bagaimana latihan tim Persija saja. Karena ada event, Persija latihan Selasa dan Jumat,” kata Dion (31), warga Pasar Rumput, Jakarta Selatan. Ia mengatakan, stadion itu juga sering dipenuhi oleh klub-klub sepak bola yang sedang berlatih.

“Pak Gubernur kan pembina Persija. Apa tak bisa tetap mempertahankan tempat latihan di Stadion Menteng? Harusnya bisa, kalau Pak Gubernurnya mau,” ujar Dion.

Bukan hanya kalangan masyarakat, pengurus Persija, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta yang menolak rencana penghapusan lapangan sepak bola dari kawasan Menteng itu. “Sangat disayangkan kalau lapangan itu akhirnya harus dihilangkan dan diubah menjadi taman,” kata anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta, Syamsidar Siregar.

Warga Jakarta, kata Siregar, sangat kekurangan fasilitas lapangan olahraga terutama untuk menyalurkan hobi sepak bola yang menjadi olahraga rakyat.

Di Jakarta, tak semua wilayah memiliki lapangan sepak bola untuk masyarakat umum. Lihat saja lapangan sepak bola hanya ada di Jalan Perintis Kemerdekaan (Jakarta Timur) dan Lapangan RCC di Rawasari. Masa lapangan Persija di Menteng akan bernasib seperti lapangan di Pluit yang dihilangkan?

SEJAK tahun 1921, lahan seluas 3,4 hektar yang sekarang menjadi stadion Persija tersebut sudah digunakan sebagai tempat berolahraga orang-orang Belanda. Selanjutnya, stadion tersebut digunakan untuk masyarakat umum, dan pada tahun 1961 hingga saat ini digunakan sebagai tempat bertanding dan berlatih bagi Tim Persija.

Sekitar bulan September 2004, Dinas Pertamanan DKI Jakarta membuka sayembara desain Taman Menteng, ruang terbuka publik serba guna. Sayembara menekankan pada tema penyelesaian masalah parkir melalui parkir bawah tanah dan ruang publik yang memiliki karakter kontemporer. Soebchardi Rahim (bukan Subhandi-Red) dengan tema desain “Dual Memory” sebagai pemenangnya. Desain pemenang sayembara tentunya sesuai selera Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, yaitu menghilangkan stadion bersejarah yang sudah berumur 84 tahun itu. Sementara desain yang tetap mempertahankan keberadaan stadion dan memadukannya dengan taman interaktif yang serba guna justru ditolak.

Sejak awal keberadaan stadion yang menjadi salah satu daerah resapan air di Jakarta Pusat itu sudah direncanakan pindah. Dari penekanan tema desain, menghadirkan parkir bawah tanah, jelas terlihat adanya upaya menghilangkan resapan air di kawasan itu.

Rencana menata Taman Menteng seperti itu pernah mencuat di saat Surjadi Soedirdja menjadi Gubernur DKI Jakarta (1992-1997). Namun, dengan pertimbangan akan merusak resapan air, Surjadi menolak rencana tersebut. Kelompok Studi Arsitektur Lanskap yang diketuai Yudi Nirwono Joga mengatakan bahwa pihaknya telah memberikan peringatan terhadap rencana memindahkan Stadion Menteng dan menjadikan taman serba guna. Namun, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak mengabaikannya.

Kepala Dinas Pertamanan Provinsi DKI Jakarta Sarwo Handayani mengatakan bahwa estimasi biaya pembangunan Taman Menteng senilai Rp 45 miliar semuanya ditanggung Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Sementara pengelolaan pascapembangunan mengandung prinsip pembiayaan pengelolaan secara mandiri dengan bentuk badan pengelola dan alternatif kedua adalah kerja sama dengan pihak swasta.

Asisten Perekonomian Sekretariat Daerah DKI Jakarta Ma’mun Amin mengatakan, masa pengelolaan Stadion Lebak Bulus oleh Grup Bakrie dengan kontrak 20 tahun akan berakhir pada tahun 2010. Untuk pengambilalihan pengelolaan di tengah jalan, Pemerintah Provinsi DKI harus membayar uang kompensasi senilai Rp 13 miliar tidak secara tunai.

Hal tersebut dilakukan karena pengelola lama masih belum membayar fasilitas sosial dan fasilitas umum kepada Pemerintah Provinsi DKI atas Surat Izin Penunjukan Penggunaan Tanah (SIPPT) di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan.

Pemindahan lapangan menjadi aneh dan terkesan ada yang tersembunyi di balik itu. Mengapa Pemerintah Provinsi DKI begitu ngotot menghilangkan stadion dari Taman Menteng dan memindahkannya ke Stadion Lebak Bulus yang masih dikontrak oleh pengelola lain?

TERLEPAS dari semua itu, dari segi hukumnya, mengubah fungsi bangunan bersejarah menjadi taman jelas-jelas menyalahi aturan. Sebut saja, Surat Keputusan (SK) Gubernur DKI Jakarta Nomor D.IV-6098/d/33/1975 yang menetapkan Menteng sebagai kawasan pemugaran, termasuk lapangan sepak bola Persija.

Belum lagi dilihat dari Peraturan Daerah (Perda) Nomor 6 Tahun 1999 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Jakarta 2000-2010. Sebut juga Perda No 9/1999 tentang Pelestarian dan Pemanfaatan Lingkungan Bangunan Benda Cagar Budaya, dan Instruksi Mendagri No 14/1988 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau (RTH) wilayah perkotaan. Juga, Undang-Undang (UU) Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Dalam UU tersebut mengatur bangunan atau benda apa pun termasuk situs yang berusia di atas 50 tahun adalah benda cagar budaya.

“Apa pun alasannya, penggusuran lapangan sepak bola Persija tidak dibenarkan meski dikamuflasekan menjadi ’taman kota’,” papar Yudi. Mengubah fungsinya sama artinya melanggar hukum. Pemerintah Provinsi DKI harus konsisten dengan aturan yang ada.

Lapangan sepak bola Persija di Menteng merupakan salah satu kebanggaan warga Jakarta dan paling bersejarah, baik dalam sejarah Kota Jakarta maupun persepakbolaan di Jakarta dan Indonesia. Banyak legenda pesepak bola Indonesia lahir di sini, seperti Jamiat Kaldar, Abdul Kadir, Iswadi Idris, Anjas Asmara, atau Ronny Pattinasarani.

Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso sebenarnya bisa mempertimbangkan Kota Taman Tropis Menteng yang dibangun FJ Kubatz dan PAJ Moojen tersebut. Kota taman tersebut sebenarnya memiliki sistem jaringan RTH yang sudah sesuai fungsi masing-masing yang dihubungkan oleh koridor pepohonan jalur hijau jalan dan jalur biru bantaran kali yang tidak terputus. (Pingkan Elita Dundu)

Sumber: Harian Kompas, Selasa, 01 Maret 2005