Archive for Oktober, 2003

Kota Lama Dijadikan Kawasan Wisata Budaya

Oktober 30, 2003

Semarang, Kompas – Pemerintah Kota Semarang bertekad menjadikan kawasan Kota Lama sebagai kawasan wisata budaya. Untuk itu, penataan ruang dan pengembangan kawasan tersebut akan diarahkan menyerupai aslinya, baik bentuk bangunan maupun nama jalan akan dikembalikan seperti pada masa pemerintahan Belanda.

Hal tersebut tertuang dalam Peraturan Daerah (Perda) Kota Semarang Nomor 16 Tahun 2003 tentang Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Kawasan Kota Lama. Dalam rapat paripurna yang dipimpin Ketua DPRD Kota Semarang Ismoyo Soebroto, Selasa (28/10) malam, DPRD Kota Semarang menyetujui Rancangan Perda RTBL Kawasan Kota Lama tersebut menjadi Perda.

Perda RTBL Kawasan Kota Lama itu memuat rumusan kebijakan pelestarian dan revitalisasi kawasan Kota Lama. Perda tersebut disusun dan ditetapkan untuk menyiapkan perwujudan kawasan Kota Lama dalam rangka pelaksanaan program dan pengendalian pembangunan kawasan itu yang dilakukan pemerintah, swasta, dan masyarakat.

Selanjutnya, ketentuan dalam perda itu menjadi pedoman, landasan, dan garis besar kebijakan bagi pelestarian dan revitalisasi Kawasan Kota Lama Semarang. Tujuannya untuk melindungi kekayaan historik dan budaya serta mengembangkannya untuk kegiatan ekonomi, sosial, budaya, dan pariwisata.

Pengelolaan kawasan itu akan dilakukan oleh Badan Pengelola Kawasan Kota Lama yang melibatkan unsur pemerintah, swasta, dan masyarakat. Wewenang badan ini adalah melaksanakan sebagian kewenangan konservasi dan revitalisasi kawasan.

Kota Lama yang dulunya dijuluki Kota Benteng adalah bagian Kota Semarang sebagai bekas kota Belanda yang dulu dibatasi Benteng de Vijfhoek. Saat ini batasnya adalah Jalan Merak (utara), kawasan Sleko (barat), Jalan Sendowo (selatan), dan Jalan Cendrawasih (timur).

“Untuk mengoptimalisasikan Kota Lama, perlu ada tim khusus agar dapat mempromosikan wisata Kota Lama, baik ke dalam maupun ke luar negeri,” kata Djunaidi, juru bicara Fraksi Partai Amanat Nasional (F-PAN) dalam pemandangan akhir fraksinya.

Semua fraksi di DPRD Kota Semarang menyambut baik perda tersebut. Karena itu, perda tersebut agar segera ditindaklanjuti dengan sosialisasi ke masyarakat, terutama pemilik bangunan di Kota Lama. Selain itu, pemkot juga diharapkan aktif mencari investor untuk pengembangan kawasan tersebut menjadi Kawasan Wisata Budaya.

Untuk mempertahankan nilai historis Kota Lama, dalam perda itu disebutkan ada 105 bangunan yang masuk dalam kategori konservasi.

Oleh karena itu, ornamen atau bentuk asli bangunan yang berarsitektur kolonial tetap dipertahankan. Agar tidak menghilangkan ciri kawasan yang berwajah kolonial, nama jalan akan dibuat dua versi, yaitu versi Indonesia seperti yang sudah ada sekarang dan versi Belanda (nama aslinya).

Sumber: Kompas, 30 Oktober 2003

Betawi Seabad Silam – Jembatan di Atas Kanal – 28 Oktober 1903

Oktober 28, 2003

SIAUW A Hok, penduduk yang bertempat tinggal di Pancoran, malam-malam ingin mencari angin. Ia keluar rumah dan duduk di lengan (tempat pegangan tangan) di salah satu jembatan di Pancoran. Malang tidak dapat ditolak, ternyata kayu jembatan yang didudukinya itu patah. Siauw A Hok pun jatuh ke kali, dan kepalanya membentur perahu yang kebetulan sedang lewat di bawah jembatan itu. Ketika tukang perahu menolongnya, kepala Siauw A Hok berlumuran darah. Para tetangganya segera membawanya ke Stadsverband (rumah sakit untuk pribumi dan Cina) di Glodok, tetapi di tengah perjalanan ia meninggal.

Di kawasan kota lama Betawi memang banyak terdapat jembatan. Untuk menyebut beberapa, misalnya, Jembatan Senti di seberang gereja Portugis (sekarang gereja Sion di Jalan Pangeran Jayakarta), Jembatan Pasar Ayam (Hoenderpasarbrug) di sebelah utara Stadhuis (Museum Sejarah Jakarta), dan Jembatan Javasche Bank (kini gedung Bank Indonesia). Jembatan-jembatan itu kebanyakan berbahan kayu dan telah berumur puluhan tahun, bahkan ada yang lebih satu abad. Tidak aneh kalau kayunya banyak yang lapuk dan membahayakan penduduk.

Mengapa begitu banyak jembatan di kawasan kota lama? Jan Pieterszoon Coen peletak dasar kolonialisme kumpeni, ketika bermaksud membangun kota sebagai pusat kekuasaan kumpeni, minta dibuatkan rancangan seperti kota-kota di negeri leluhurnya. Karena itu kota yang dikelilingi tembok itu penuh dengan kanal-kanal, yang memiliki fungsi untuk keamanan, selain juga sebagai sarana angkutan air. Sementara jalan-jalan dibuat di sekitar kanal-kanal itu yang saling berpotongan tegak lurus.

Agar orang dapat menyeberangi kanal-kanal itu di beberapa tempat tertentu dibuat jembatan dari bahan kayu. Untuk kanal-kanal yang cukup lebar, kadang-kadang dipakai konstruksi batu. Jembatan itu merupakan jembatan angkat (ophaalbrug), dan dibuat tinggi di atas pemukaan air, sehingga perjalanan perahu-perahu yang banyak hilir-mudik di kanal-kanal itu tidak terganggu.

Jembatan angkat yang terkenal dan merupakan satu-satunya yang masih kelihatan bentuknya adalah yang dikenal dengan nama Hoenderpasarbrug (Jembatan Pasar Ayam), yang terletak di ujung utara Kali Besar, di dekat Hotel Omni Batavia di Jalan Kali Besar Barat.

Sesuai namanya, jembatan itu yang menempati lokasi yang menurut peta masa Gubernur Jenderal Van der Parra, merupakan pasar ayam dan sayuran, yaitu yang terletak di sebelah utara gereja lama Portugis (Binnenkerk). Lahan bekas pasar ayam itu kemudian dijadikan lokasi tempat perbaikan kapal. Karena Boom Besar dalam jangka panjang juga akan dibangun, maka pembesar kumpeni merencanakan lokasi untuk gudang-gudang di tepi Kali Besar itu. Karena itulah dibangun jembatan angkat, sehingga perahu-perahu yang mengangkut berbagai kebutuhan sehari-hari tetap bisa melewati Kali Besar.

Selain Jembatan Pasar Ayam, di ujung selatan Kali Besar juga terdapat sebuah jembatan, untuk kebutuhan orang-orang yang bermaksud ke rumah sakit (hospitaalsbrug). Setelah rumah sakit dipindahkan ke Weltevreden, lahan bekas rumah sakit itu dimanfaatkan oleh Javasche Bank, sehingga jembatan itu dikenal sebagai Jembatan Javasche Bank. Jembatan Pasar Ayam maupun Jembatan Javasche Bank itu bukan jembatan yang paling tua di Betawi. Yang tertua adalah Jembatan Inggris, yang ketika tentara Mataram menyerang Betawi pada tahun 1628, jembatan itu harus dihancurkan. Baru pada tahun 1655 dibangun jembatan baru melintasi terusan kanal yang bernama Amsterdamsche-gracht. Itulah jembatan yang disebut Hoenderpasarbrug.

Jembatan itu bukan satu-satunya sarana untuk menyeberangi kanal. Ketika para pembesar kumpeni masih tinggal di dalam kastil, selain jembatan untuk penyeberangan itu, di tempat-tempat yang cukup jauh dari jembatan ditempatkan beberapa buah sampan memakai tenda. Sampan-sampan itu dipakai untuk mengangkut ’nyonya-nyonya besar’ yang biasanya malas berjalan itu ke seberang kanal. ’Nyonya-nyonya besar’ itu jelas sulit berjalan, karena gaun-gaun yang mereka kenakan model kurungan ayam. Setiap mereka berjalan, harus ada budak-budak yang memegangi gaun itu. Repotnya lagi, selain budak pemegang gaun, ada pula budak yang khusus memayungi sang nyonya besar, karena matahari Betawi sangat terik. Si nyonya besar sendiri tidak henti-hentinya mengipas-ngipaskan kipas bulu burung merak.(Adit SH, sejarawan dan pengamat sosial, tinggal di Jakarta)

Sumber: Kompas, Selasa, 28 Oktober 2003

Gedung Bersejarah Kebanggaan Kota Bandung

Oktober 23, 2003

GEDUNG Sate, gedung terindah di Indonesia. Siapa yang tidak kenal Gedung Sate di Kota Bandung. Bentuknya yang megah dan anggun dihiasi setangkai sate berbentuk butiran jambu di puncaknya, merupakan ikon kebanggaan masyarakat Bandung bahkan masyarakat Jawa Barat.

Selain keindahan arsitekturnya yang aduhai, cerita di balik pembangunannya juga menjadi daya tarik tersendiri. Gedung ini dibangun pertama kali pada tanggal 27 Juli 1920 dengan peletakan batu pertama oleh Johanna Catherina Coops, putri sulung Wali Kota Bandung B Coops dan Petronella Roelofsn.

Bangunan yang bentuknya mirip istana mungil dengan perpaduan sentuhan arsitektur Barat dan Timur ini dirancang oleh arsitek kenamaan berkebangsaan Belanda, Ir J Gerber dan timnya, yang mampu menampilkan arsitektur tradisional Nusantara.

D Ruhl dalam bukunya “Bandoeng haar Hoogvlakte” (1952), berpendapat bahwa Gedung Sate adalah bangunan terindah di Indonesia.

Pada awalnya Gedung yang bernama Gouvernments Bedrijven (GB) ini memang dibangun untuk menjadi pusat pemerintah kolonial Belanda di Indonesia, dimana pada saat itu Pemerintah Belanda menetapkan Kota Bandung sebagai ibu kota negeri jajahannya di Indonesia.

Kota Bandung sendiri dipilih karena dianggap memiliki iklim yang sejuk dan pemandangan yang konon seindah Prancis Selatan saat musim panas.

Dengan modal awal pembangunan sebesar 6 juta gulden yang dikucurkan oleh pemerintah kolonial (jumlah satuan juta gulden ini dilambangkan dengan batang sate berbentuk jambu di puncak atapnya), GB dibangun dengan bentuk persegi panjang menghadap ke arah Gunung Tangkuban Perahu, yang terletak di sebelah utara Kota Bandung.

Tim arsitektur yang diketuai Gerber (lulusan Fakultas Delft Nederland) dengan anggota antara lain, Ir Eh De Roo dan Ir Hendriks, serta pihak Gementee Van Bandoeng, harus bekerja keras membangun gedung tersebut. Bisa dibilang dengan kondisi saat itu beban yang ditanggung tim ini cukup berat.

Mereka bertugas merencanakan dan membangun berbagai gedung perkantoran yang merupakan pindahan dari keseluruhan departemen dan instansi lainnya yang berjumlah 14 dari Batavia (Jakarta) ke Bandung, termasuk pembangunan komplek perumahan untuk menampung sekitar 1.500 pegawai pemerintahan.

Proses pembangunan GB merupakan suatu kerja besar, sebab melibatkan 2000 pekerja, 150 orang di antaranya adalah pemahat atau ahli Bongpay yaitu pengukir batu nisan dan pengukir kayu berkebangsaan Cina yang berasal dari Konghu dan Kanton. Selebihnya adalah tukang batu, kuli aduk, dan peladen yang merupakan pekerja bangunan yang berpengalaman membangun Gedong Sirap (kampus ITB) dan Gedong Papak (Balai Kota).

Mereka adalah penduduk dari Kampung Sekeloa, Coblong, Dago, Gandok, dan Cibarengkok. Dalam teknik pengerjaan yang masih menggunakan sistem manual, konvensional, dan tradisional, GB ini mampu menampilkan pesona teknologi bidang konstruksi yang menakjubkan, buktinya hingga saat ini bangunan tersebut masih kuat dan utuh dengan kecantikan yang tak lekang oleh zaman.

Sebagian besar gedung ini dibuat dari bahan alam dan bukan adonan beton. Bahan-bahan batuan berukuran besar diambil dari kawasan pegunungan Manglanyang dan daerah Arcamanik di sebelah timur Kota Bandung.

Gedung ini berdiri di atas lahan seluas 27.990.859 m2 dengan luas bangunan mencapai 10.877.734 m2, yang terdiri dari basement seluas 3.039.264 m2, lantai I (14.062.553 m2), teras lantai I (212.976 m2), lantai II (3.023.796 m2), teras lantai II (212. 976 m2), dan menara seluas 121 m2 dengan teras menara seluas 205.169 m2. Pembangunannya memakan waktu 4 tahun.

Uniknya, menara gedung ini tidak terlihat dari dalam gedung, dan untuk menaikinya harus menggunakan tangga kayu yang berjumlah 6 buah dengan anak tangga masing-masing berjumlah 10 buah. Namun sejak tahun 1998 telah dibangun lift yang memudahkan pengunjung mencapai puncak gedung
Di atas menara tepatnya di lantai 4, terdapat museum pembangunan masyarakat Jawa Barat plus sebuah layar lebar untuk menonton film yang dibuat oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Di atas museum, yaitu di lantai lima yang merupakan lantai paling atas bangunan tersebut, terdapat sebuah kafe yang dirancang sedemikian rupa, sehingga seluruh gunung yang mengelilingi Kota Bandung bisa terlihat dari dinding yang terbuat dari kaca.

Di ruangan ini juga terdapat 6 buah teleskop yang bisa digunakan meneropong kawasan sekitar Gedung Sate dan juga sebuah sirine raksasa kuno yang dibunyikan setiap tahun sekali, yaitu saat detik-detik proklamasi.

Pemandangan indah bisa dinikmati selain dari dalam ruangan kaca, juga dari teras menara yang juga ditata seperti sebuah kafe. Mulai dari Lapangan Gasibu, Monumen Perjuangan Jawa Barat dengan latar belakang Kota Bandung dan indahnya Gunung Tangkuban Perahu bisa langsung dinikmati.

Sayangnya, hingga kini menara Gedung Sate belum dibuka untuk umum. Menurut Muadz, Kepala Humas Pemprov Jabar, tertutupnya kawasan menara Gedung Sate untuk umum karena saat ini bagian gedung itu masih digunakan sebagai ruang kerja para staf dan karyawan Pemrov, sehingga kedatangan pengunjung dikhawatirkan bisa mengganggu suasana kerja karyawan.

Selain itu, gedung ini termasuk dalam kategori heritage, sehingga penanganannya sangat ketat demi menghindari risiko kerusakan gedung.
“Karena alasan itulah, maka berat bagi kami untuk membuka gedung ini kepada publik. Namun siapapun yang hendak berkunjung ke menara, bisa menyodorkan surat permohonan supaya waktu berkunjung dan kondisi gedung bisa kami siapkan,” tutur Muadz.

Memang pada hari-hari biasa, lift hidrolik yang dipasang untuk mengantar pengunjung ke kawasan menara selalu mati, sementara pintu menuju tangga kayu juga biasanya terkunci. Alangkah idealnya jika pemandangan indah Kota Bandung dan sekitarnya bisa dinikmati oleh masyarakat secara bebas dari Menara Gedung Sate ini. (Rieska Wulandari)

Sumber: Suara Pembaharuan 23 Oktober 2003.

Betawi Seabad Silam – Kelenteng yang Lenyap – 23 Oktober 1903

Oktober 23, 2003

DALAM Bintang Betawi diwartakan, polisi kembali menangkap beberapa orang Cina yang asyik main top di Kelenteng Jembatan Busuk. Ini merupakan yang kesekian kalinya kelenteng itu dipakai tempat main judi. Agaknya para penjudi itu menganggap kelenteng yang telantar itu merupakan lokasi aman untuk main top.

Dalam sejumlah peta Betawi lama tidak tercantum nama Jembatan Busuk. Tetapi dari berita-berita yang dimuat Bintang Betawi, kawasan yang kumuh dan penuh dengan kegiatan pekerja seks komersial (PSK) itu agaknya terletak di sekitar Gang Ketapang (sekarang Jalan Zainul Arifin). Jembatan yang memperoleh nama kurang baik itu agaknya melintang di atas kanal buatan Bingam, karena yang disebut (kawasan) Jembatan Busuk ada dua.

Yang pertama di barat kanal, dan yang kedua di timur kanal, yang dikenal dengan nama Kali Goot. Dalam peta Topographische Bureau, Kali Goot terletak di sebelah utara Gang Alhambra (sekarang Jalan Kebon Jeruk 3).

Karena sekarang di sekitar lokasi itu tidak terdapat lagi kelenteng, agaknya rumah ibadat yang sering dipakai untuk main judi itu telah dibongkar atau dipindahkan. Hal yang demikian bukan sesuatu yang aneh. Kelenteng yang dulu terdapat di Kali Lio, misalnya, sekarang telah dihancurkan, sementara kelenteng di Pasar Pagi dipindahkan dan dibangun kembali di Jalan Pejagalan II.

Kelenteng berasal dari istilah Cina Guan-ying ting, artinya kuil bagi Dewi Guan-yin atau yang lebih populer dikenal sebagai Dewi Kwan Im. Bentuk fisik kelenteng mudah dikenali. Ia memiliki ujung atap yang melengkung dari sebuah bangunan khas Cina. Bahkan pada kelenteng tua, bubungan atap itu dihiasi dengan patung naga dan dekorasi rumit lain. Balok-balok di bawahnya dihiasi ukiran berbentuk binatang atau bunga teratai. Di pintu masuk sering terdapat sejumlah patung singa, sementara di bagian kiri dan kanannya biasanya terdapat tempat penjualan hio, lilin, atau uang kelenteng.

Pembangunan kelenteng di Betawi tidak berjalan mulus. Walau memerlukan orang Cina untuk membangun Betawi, pada awalnya kumpeni tidak bisa menerima kehadiran kelenteng, yang menjadi tempat pemujaan orang-orang Cina. Dalam Plakaatboek, yaitu himpunan aturan-aturan yang pernah dikeluarkan kumpeni, ada keputusan untuk memusnahkan kelenteng di daerah kota lama, atas permintaan Dewan Gereja.

Seperti juga penganut agama Islam, orang-orang Cina mengalami kesulitan untuk melaksanakan ibadahnya. Menurut Statuta Van Diemen, yang merupakan undang-undang yang berlaku di Betawi sejak 1642, pelaksanaan ibadah agama selain Kristen Calvinis di lingkungan apa yang disebut “Kerajaan Jakarta” dilarang, paling tidak akan dihukum dengan menyita alat-alat peribadatannya.

Gubernur Jenderal Carel Reniersz, yang menjabat tahun 1650-1653, merupakan pejabat lemah, yang hanya mengikuti keinginan pendeta Calvinis. Tetapi sebelum masa jabatan Carel Reniersz berakhir, orang-orang Cina telah mendirikan sebuah kelenteng di kawasan Pecinan, di luar tembok kota (sekarang Jalan Kemenangan). Kelenteng yang bersifat Budhis ini didirikan oleh seorang letnan Cina, dan pada tahun 1655 diberi nama Jin-de yuan. Kelenteng ini makin menonjol, karena tidak menolak siapa pun yang ingin beribadah di situ. Karena itu pula banyak tokoh penduduk Cina membantu saat kelenteng ini dipugar.

Kelenteng lain yang didirikan sekitar masa itu adalah kelenteng di Ancol. Tidak seperti kelenteng-kelenteng lain yang didirikan di tengah permukiman orang Cina, kelenteng ini didirikan di tempat terpencil yang nyaris tidak berpenghuni (sekarang dikenal sebagai Jalan Pantai Sanur 5, Ancol).

Kelenteng ini cukup unik, karena tidak hanya dikunjungi oleh orang-orang Cina, tetapi juga orang-orang pribumi yang menganut agama Islam. Tradisi ini telah berjalan lama. Seorang penulis asing bernama Teisseire pada abad ke-18 telah melaporkan, di masa itu orang Cina dan muslim sama-sama datang untuk berdoa di tempat ini. Sementara orang Cina melaksanakan sembahyangnya, orang-orang Islam tanpa terganggu melakukan ibadahnya, misalnya untuk membayar kaul. Bahkan bukan hal yang aneh, bau hio berampur dengan bau menyan.

Seperti Kelenteng Jin-de yuan, Kelenteng Ancol didirikan untuk menghormati Da-bo gong, dewa tanah dan kekayaan. Tetapi ada kepercayaan penduduk, tentang asal-usul kelenteng ini, seperti dikemukakan oleh A Heuken. Seorang juru mudi kapal Cina mendarat di tempat ini dan jatuh hati pada seorang ronggeng penganut Islam. Karena pernikahan itu menyangkut dua pribadi yang berbeda kepercayaan dan kebiasaan, mereka sepakat untuk tidak makan daging babi yang diharamkan Islam dan jengkol yang baunya tidak disukai orang Cina. Itulah sebabnya orang menabukan dua jenis makanan itu di bawa ke kelenteng tersebut.

Suatu ketika sang juru mudi itu berlayar. Sebelum pergi ia minta dibangunkan satu kuil di tempat itu. Tetapi sebelum kuil itu rampung, sang juru mudi dan istrinya yang bernama Sitiwati itu meninggal, dan kemudian keduanya dimakamkan di lokasi itu. (Adit SH, sejarawan dan pengamat sosial, tinggal di Jakarta)

Sumber: Kompas, 23 Oktober 2003

Menteng yang Asri Itu Telah Hilang

Oktober 21, 2003

TAMAN SUROPATI – Foto udara pada tahun 1939 memperlihatkan daerah di sekitar Gedung Bappenas (Gedung Loge). Mesjid Sunda Kelapa yang ada sekarang (di belakang Bappenas) dulu merupakan bagian Taman Suropati. Foto ini reproduksi dari buku “Menteng, Kota Taman Pertama di Indonesia” karya Adolf Heuken dan Grace Pamungkas.

“KAMI tinggal di Menteng sejak akhir tahun 1960-an. Pada waktu itu, jalan-jalan utama pun banyak berlobang, lampu jalanan sebagian rusak. Jalan Cokroaminoto belum ramai, karena berakhir di Kali Banjir dan Bioskop Menteng termasuk bioskop nomor sari di Jakarta.

Kavaleri bermarkas di Jalan Gereja Teresia dan satuan tentara lainnya di Jalan Mangunsarkoro. Waktu itu, Jenderal Soeharto tinggal di bundaran Jalan H Agus Salim dan Jalan Cendana masih sepi.

Mesjid Sunda Kalapa belum dibangun dan pengunjung Gereja HKBP belum memadati Jalan Jambu. Jalan-jalan di sekitar Gereja Teresia dan Sarinah sering dilanda banjir besar, sehingga banyak mobil mogok.

Menteng -selain bulevar Jalan Imam Bonjol-Diponegoro- merupakan kawasan pemukiman tenang. Orang-orang sangat nyaman duduk di teras rumah pada sore dan malam hari sambil memandangi jalan melalui pagar hijau yang rendah, membaca koran, atau menerima tamu.

Toko Li baru berubah menjadi Toserba Gelael pertama, dan lapangan Persidja belum dikelilingi tembok tinggi. Menteng ini telah hilang….”

Demikianlah sebuah cuplikan pengalaman dari seorang pengamat sekaligus sejarawan, Adolf Heuken, yang dicurahkan dalam bukunya yang diberi Judul Menteng, Kota Taman Pertama di Indonesia.

Kegalauan hati dan kecemasan Heuken itu timbul setelah melihat perkembangan Menteng yang semakin hari semakin tidak terkendali.

Menteng yang dulunya didesain sedemikian rupa sebagai kota taman sudah berubah. Banyak bangunan cagar budaya yang berubah bentuk, bahkan hancur. Juga bangunan tempat tinggal yang berubah bentuk.

Hal ini menggelisahkan mengingat Pemprov DKI Jakarta sendiri mengakui bahwa di Menteng banyak terdapat bangunan bersejarah, bangunan dengan nilai arsitektur sangat baik, serta lingkungan yang sudah teratur dan serasi. Ketika Jakarta belum bisa menata kawasan lain, kawasan yang sudah asri seperti Menteng justru semakin rusak.

Rancangan

Kawasan Menteng mulai dirancang dan dibangun secara lebih modern oleh pemerintahan Belanda tahun 1910. Seorang arsitek bernama PAJ Moojen yang membuka suatu biro teknis dan mendirikan Kunstkring di Bandung (1904) dan Batavia. Pada tahun 1909, ia merancang kantor pusat Nillmij di Jalan Juanda, gedung yang sekarang dipakai oleh asuransi Jiwasraya. Pada gedung inilah, untuk pertama kalinya digunakan kontstruksi beton bertulang di Jakarta.

Moojen merupakan anggota Dewan Kotapraja dan Commisie van toesicht op het beheer van het land Menteng (Komisi Pengawasan dan Pengurusan Tanah Menteng) atau Kondangdia-commissie. Komisi inilah yang bertugas untuk merencanakan dan membangun Nieuw-Gondangdia, nama semula untuk Menteng.

Pada tahun 1910, Moojen merancang pola jaringan jalan untuk Nieuw-Gondangdia. Pembangunan pola jaringan jalan ini menandakan pertama kalinya di Indonesia, perluasan sebuah kota dilakukan dengan perencanaan yang matang. Menteng juga dijadikan model pembangunan bagi wilayah-wilayah pemukiman baru di kota-kota lain di Pulau Jawa seperti Surabaya, dan Semarang. Nieuw-Godangdia dirancang sebagai kota taman (tuinstad) dengan luas tanah melebihi 500 hektare.

Perkembangan Menteng juga tidak bisa dilepaskan dari seorang arsitek bernama Ir FJL Ghijsels. Arsitek ini lahir di Tulung Agung, Jawa Timur 1882.

Tahun 1916, ia mendirikan biro arsitek sekligus kontraktor yang dinamakan AIA (Algemeen Ingenieurs- en Architecten Bureau). Tahun 1918, ia ikut merancang jalan dan rumah di Menteng. Pada tahun 1925, perusahaannya membangun antara lain Logegebouw, kini gedung Bappenas di Taman Suropati. Ghijsels jugalah yang merancang Gereja GPIB Paulus yang berada tepat di samping gedung Bappenas.

Padas era tersebut, mulai dikembangkan juga metode pembangunan Blokkenbouw yang artinya membangun satu blok atau deretan rumah, dimana satu bahkan beberapa jalan yang sejajar dirancang sebagai satu kesatuan yang serasi.

Keseragaman ini dirancang baik-baik sehingga menciptakan suasana rapi dan asri pada beberapa jalan di Menteng, misalnya Jalan Kusumaatmaja.

Namun sayang, suasana harmonis ini sejak tahun 1970-an dirusak dan terus diabaikan oleh orang yang tidak peduli akan keindahan kota Jakarta dan dengan mudah mendapat persetujuan Dinas Pengawasan Pembangunan Kota (P2K).

Keadaan ini terus berlanjut sampai sekarang. Rumah-rumah dibangun sampai perbatasan dengan kapling-kapling tetangga sehingga rumah-rumah induk tidak lagi berdiri lepas lepas dari rumah tetangga. Cara inilah yang mengubah karakter “Kota Taman” secara total.

Kondisi ini lebih diperparah lagi sejak 1960-an dimana urban planning Jakarta tak pernah menyeluruh dan bersifat parsial dan tambah sulam. Kawasan Menteng yang semula berada di daerah pinggiran, kini berubah menjadi daerah pusat yang dilewati lalu lintas padat.

Tingginya frekwensi lalu lintas menyebabkan banyaknya pemukim pindah ke daerah lain dan digantikan dengan bisnis. Kondisi trotoar juga dilalaikan dan tidak dipedulikan oleh warga Menteng sendiri, karena sebagian besar memakai mobil pribadi. ”Ini semua tidak hanya mengubah Menteng, melainkan merusaknya,” ujar Heuken.

Mereka yang gelisah dan prihatin tak hanya para pengamat atau mereka yang peduli pada tata kota. Beberapa penghuni lama di Jalan Lembang, Menteng, seperti Siti Oemijati Djajanegara dan Siti Utamini, kesal dengan kondisi Menteng yang telah banyak berubah.

“Dulu tahun 1943, pohon-pohon asam daunnya hijau merunduk membuat suasana di sana sangat sejuk, orang-orang juga bebas berjalan kaki di sana,” kata Oemijati menunjuk Situ Lembang.

Asri, nyaman, dan tenang, membuat Taman Situ Lembang tidak pernah kehilangan pengunjung. Kondisi itu mulai berubah ketika tempat itu dikelola oleh Pemprov DKI Jakarta dan dibuka sebagai tempat pemancingan. Diperparah dengan kehadiran pedagang makanan yang berdagang di kawasan Situ Lembang.

Bukan hanya perubahan lingkungan yang terjadi di Jalan Lembang, tetapi juga beberapa bangunan mulai berubah bentuk. Bahkan, ada yang jelas-jelas telah mengubah bentuk asli dari bangunan itu dan membuat menjadi sebuah bangunan modern, tanpa menyisahkan karakteristik bangunan lama.

Sebenarnya, banyak perubahan bentuk rumah di Jalan Lembang itu, karena pemilik bangunan lama sudah menjual ke penghuni baru. Sementara penghuni yang baru itu, tidak mau memelihara ciri khas bangunan tua, dengan mendirikan bangunan modern tanpa mengindahkan aturan-aturan yang ada. Anehnya aparat Pemprov DKI pun seolah menutup mata.

Menjual Rumah

Mempertahankan kawasan Menteng memang tidak mudah. Para pemilik rumah berarsitektur asli itu kebanyakan adalah pensiunan pegawai negeri. Untuk merawat bangunan tua membutuhkan biaya yang tidak sedikit ditambah Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) kawasan Menteng yang tak kecil. Siti Utamini, pemilik rumah di Jalan Lembang 33 mencontohkan, PBB rumahnya yang seluas 760 m2 sebesar Rp 5 juta per tahun.

Karena itu tidak sedikit para pemilik yang menjual rumahnya. Sementara penghuni baru -yang tentunya berduit- datang dengan membawa model rumah model sekarang. “Padahal, setelah mereka mengubah bentuk rumah mereka tidak tinggal di sini,” kata Siti.

Para pensiunan yang setia bertahan dan mempertahankan bangunan asli itu kemudian menyiasatinya dengan menyewakan sebagian bangunan.

“Saya kos bersama dengan tiga keluarga. Rumah ini masih dengan arsitektur asli sehingga kita di dalam rumah terasa nyaman, adem,” kata Heru (35), seorang penghuni di kawasan Menteng.

Adolf Heuken, yang juga tinggal di Menteng, mensinyalir sekitar 70 persen rumah, taman, jalan, di Menteng telah berubah dan menyimpang dari rencana semula.

Menurut dia, Menteng dari sejarahnya dirancang menjadi sebuah pilot project pembangunan kota berwawasan lingkungan pertama di Indonesia. Tapi karena keserakahan uang dan tidaknya ada pengawasan, membuat kawasan ini pembangunannya tidak terkendali.

Menurut Heuken, langkah Pemerintah Daerah (kini Pemerintah Provinsi) DKI Jakarta dan DPRD DKI yang menelorkan Peraturan Daerah No 9/1999 tentang Pelestarian dan Pemanfaatan Lingkungan dan Bangunan Cagar Budaya, tidak efektif karena hanya sebagai macam kertas dan tidak dilaksanakan. ”Pokoknya ada duit, bangun. Mau bangun apa saja silakan,” tutur Heuken.

Pelanggaran

Seperti diberitakan, renovasi rumah milik Gubernur Gorontalo, Fadel Muhammad di Jalan Suwiryo 39. Dinas Penataan dan Pengawasan Bangunan (P2B) DKI Jakarta telah menyegel dan menghentikan pembangunan rumah yang hampir rampung itu.

Surat Keputusan (SK) Gubernur Kepala Daerah No D/IV/6098/d/33/1975 soal Penataan Kawasan Menteng disebutkan, rumah-rumah di Menteng dibagi atas empat golongan.

Untuk golongan A, bangunan ini tidak boleh ditambah, diubah, dibongkar, atau dibangun baru. Untuk golongan B, bangunan di bagian badan utama, struktur utama, atap, dan pola tampak muka tidak boleh diubah alias harus sesuai bentuk asli.Kemudian golongan C, bangunan jenis ini beloh diubah atau dibangun baru tetapi dalam perubahan itu harus disesuaikan dengan pola bangunan sekitarnya. Dan golongan D, bangunan yang masuk dalam kategori ini boleh dibongkar sesuai dengan keinginan pemilik asal dibangun seusia perencanaan kota DKI Jakarta.

Sedangkan dasar pertimbangan masing-masing golongan berdasarkan pada nilai historis, umur, keaslian, kelangkaan, dan arsitektur bangunan. Rumah disebut masuk dalam kategori A didasarkan pada tingginya nilai historis dan keaslian tempat.

Kategori B, didasarkan atas pertimbangan keaslian, kelangkaan landmark, arsitektur, dan umur. Sedangkan pemukiman golongan C didasarkan pada umur dan arsitektur bangunan.

Karena Menteng masuk ke dalam lingkungan pemugaran bersama dua daerah lainnya yakni Kebayoran Baru dan Kota, bangunan-bangunan yang berdiri dilindungi sesuai ketentuan di atas. “Rumah Pak Fadel itu golongan B. Kesalahannya, semua bagian bangunan dirombak, padahal harus ada beberapa bagian yang dipertahankan keasliannya,” ujar Djumhana, Kepala Dinas P2B DKI Jakarta.

Sumber: Harian Suara Pembaruan, 21 Oktober 2003.

Wisata Kampung Tua

Oktober 20, 2003

Pengelola Museum Sejarah Jakarta yang dikepalai Tinia Mudiati, mengadakan Wisata Kampung Tua bagi masyarakat umum dengan menelusuri situs-situs bersejarah, khususnya peninggalan masa kolonial Belanda, Minggu (19/10). Di antaranya situs-situs yang dikenal sebagai Waterlooplein di Weltervreden yang meliputi kawasan Stasiun Kereta Api Juanda, Jalan Antara, Jalan Pos, serta kawasan Lapangan Banteng. Lapangan Banteng selain dikenal sebagai Waterlooplein juga sebagai Parade Plaats yang dibangun Belanda pada tahun 1799. Situs lainnya yang hampir seusia misalnya Taman Silang Monas yang dikenal dengan istilah Koningsplein dan dibuat Belanda pada tahun 1809. Selanjutnya, ada pula Taman Surapati yang dikenal sebagai Bisschoplein dan dibuat Belanda pada tahun 1926. Pemberangkatan peserta Wisata Kampung Tua kali ini dari Museum Jakarta. (NAW)

Sumber: Kompas, Senin, 20 Oktober 2003