Archive for Februari, 2005

Mentang-mentang di Menteng

Februari 26, 2005

COBA ingat-ingat, ada berapa banyak sih lapangan olahraga di kota besar ini. Warga yang seneng berolahraga sehat dan gerak badan tentu rada-rada kaget mendengar berita mengenai rencana pembongkaran Stadion dan Lapangan Persija Menteng seluas 3,4 hektar itu. Lapangan di daerah mahal itu akan diubah menjadi taman sekaligus ada sarana olahraga ringan, rekreasi keluarga, parkir, dan fasilitas lain semisal kafe dan lainnya. Pokoknya tahun 2006 nanti, lapangan bekas Voetbalbond Indiesche Omstreken atau Viosveld buatan tahun 1920 ini bakal rata dengan tanah dan menjadi taman yang entah bakalan terawat atau menjadi taman asongan kaki lima.

Rencana perubahan stadion menjadi Taman Menteng yang mendadak sontak ini kayaknya mengundang rasa curiga. Juru bicara Persija menyatakan, lapangan itu milik klubnya sejak tahun 1928. Kini tiba-tiba Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Pertamanan mengumumkan hal itu tanpa kasih kabar duluan sama Persija. Malah pemprov pun menyatakan, kalau Stadion Lebak Bulus sudah diambil alih dari Grup Bakrie, akan menjadi markas Persija berikut 30-an klub olahraga lainnya.

Rasa kesal dan tidak puas itu disebabkan staf Persija merasa bahwa orang pemprov itu bersikap “mentang-mentang”, atau “karena merasa” menjadi pejabat, ya bersikap seenak-enaknya bongkar pasang tanpa ngajak pihak yang ketiban langsung. Lagi pula, kata staf itu, kalau sudah ada proyek, biasanya bakalan ada saja hal-hal lain yang mengikutinya. Lagian, selama ini Persija tidak pernah minta- minta ke pemprov meski Gubernur Sutiyoso sendiri kan pernah jadi Ketua Umum Persija yang kemarin.

Ujung-ujungnya soal stadion jadi taman itu, anggota DPRD DKI Jakarta ikut ditanya-tanya juga. Secara samar-samar, salah satu dari 75 orang dewan itu bilang, proyek ini harus diwaspadai karena jangan-jangan mentang-mentang punya kuasa, pemprov berniat mengakal-akali perubahan Stadion Persija menjadi taman. Siapa tahu nanti stadion sudah rata dengan rumput, tahu-tahu muncul taman hiasan yang dikelilingi pertokoan mewah dan restoran kafe kelas Menteng yang elite.

KOMENTAR wakil rakyat yang bawaan curiga itu juga di-timpalin rekan sekantornya. Kata wakil rakyat satu ini, soal stadion jadi taman sebaiknya pemprov mengoordinasikannya dengan Persija. Sebab, selama ini, meski pemprov pernah memberikan dana bantuan sebesar Rp 20 miliar, duit gede itu langsung diberikan kepada tim yang bal-balan di Liga Mandiri tahun lalu. Uang itu tidak pernah masuk ke kas Persija.

Pertanyaan dan minta pendapat terhadap orang dewan sudahlah jamak mengingat mereka itu kan 75 orang pilihan yang ngewakilin 8,5 jutaan suara warga kota ini. Sebab, kaum legislatif dari DPRD DKI belakangan ini terkenal amat kritis dan selalu skeptis terhadap tindak tanduk kaum eksekutif, khususnya Pemprov DKI. Sebab, selama tahun 2005 ini saja, orang dewan itu sudah menelurkan aturan dan larangan soal asap rokok serta asap knalpot karena kepulan asap-asap itu menurunkan kualitas hidup manusia dan lingkungannya. Malah hampir-hampir saja, orang dewan itu menjebolkan adanya aturan pembatasan operasional usia kendaraan umum dan mobil pribadi.

Jadi, haraplah maklum, kalau orang dewan itu pas sekali menampung unek-unek warga yang diwakilinya. Sebab, bos terhormat DPRD DKI itu baru saja ketiban rezeki, menerima tunjangan perumahan bulanan sebesar Rp 15 juta, atau Rp 180 juta per tahun, sebagai bonus di luar gaji Rp 21 juta per bulan dan macem-macem tambahan lainnya. Nah, sebagai warga terhormat dengan gaji segitu, janganlah bersikap “mentang-mentang” juga ya. Apa iya! (BD)

Sumber: Kompas, Sabtu, 26 Februari 2005

Iklan

Eks Rumah Meester Cornelis Kian Tak Terurus

Februari 26, 2005

JIKA kerap melintas di Jalan Bekasi Timur Raya, Jakarta Timur, tentulah tidak asing dengan gedung tua di seberang Stasiun Kereta Api Jatinegara, tepatnya di Jalan Bekasi Timur Raya Nomor 76.

Gedung tua yang terlihat kotor dan terbengkalai itu sebagian dimanfaatkan untuk markas Pemuda Panca Marga (PPM) Jakarta Timur. Sebelumnya, gedung tua itu sempat menjadi Markas Kodim 0505 Jakarta Timur selama bertahun-tahun. Kini, kantor Kodim 0505 pindah ke Sentra Primer Timur, Penggilingan.

Bangunan itu terdiri atas gedung utama dengan tiang-tiang besar yang masih kokoh serta bangunan lain yang lebih kecil semacam paviliun. Gedung-gedung kecil itulah yang sekarang menjadi markas PPM Jakarta Timur.

Menurut warga sekitar, sudah bertahun-tahun bangunan tua itu dibiarkan begitu saja. Pintu dan jendela digembok. Ketika Kompas melihat lebih dekat lagi, dinding gedung terlihat sangat kotor. Teras gedung ditempati dua tunawisma yang sedang tidur-tiduran.

“Dulu di sini dikenal sebagai sarang narkoba. Setelah kami masuk, daerah sini jadi aman,” kata Edi Sanjaya, Koordinator PPM Jakarta Timur yang sehari-hari tinggal di tempat itu.

ADOLF Heuken tak banyak menceritakan bangunan tua itu dalam bukunya Historical Site of Jakarta (Cipta Loka Caraka, 1982). Bangunan itu terletak di wilayah Meester Cornelis yang saat ini dikenal dengan nama Jatinegara. Pada Februari tahun 1811, terjadi pertempuran hebat antara pasukan Inggris dan Belanda yang saat itu dipimpin Daendels. Gedung itu lalu dijadikan benteng pertahanan.

Sumber lain menyebutkan, gedung tua itu memang rumah mewah (vila) milik Bupati Meester Cornelis Senen. Ia dikenal sebagai orang kaya dari Pulau Lontar (Banda). Dia dikenal sebagai seorang guru.

Cornelis membeli sebidang tanah yang cukup luas di tepi Sungai Ciliwung. Lama-kelamaan orang menyebut tanahnya dengan sebutan Meester.

Kepala Subdinas Pengkajian dan Pengembangan Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta Candrian Attahiyat mengatakan, gedung itu sekarang dalam status quo.

“Tidak jelas, apakah gedung itu milik Kodim atau milik pemda. Yang jelas selama ini memang tidak pernah ada anggaran untuk memugar gedung itu,” ujarnya. (IVV)

Sumber: Komas, Sabtu, 26 Februari 2005

PLESIRAN TEMPO DOELOE: Koningsplein – Gedong Gadjah 27 Februari 2005

Februari 21, 2005

Kumpul di Museum Nasional (Museum Gajah) Jl. Medan Merdeka Barat
Minggu 27 Februari 2005 jam 07.30 pagi
Rp 30 ribu/per orang sudah termasuk:
(Naek Deelman Koeliling Monas)
(tiket Tugu Monumen Nasional)
(tiket Museum Sejarah Nasional)
(guide berbahasa Indonesia)
(guide berbahasa Inggris)
(tiket Museum Nasional)
(nonton film djadoel)
(sinopsis plesiran)
(roti anak buaya)
(makanan ringan)
(air mineral)

(pendaftaran dapat dilakukan via email adep@cbn.net.id -ingat kuda terbatas!)
(pembayaran dapat dilakukan langsung di tempat pada tgl 27 feb)
(parkir motor & mobil luas dan aman di basement Museum Gajah)
(bila turun hujan, acara akan dilaksanakan setelah hujan berhenti)

——————————————————————————–

Orang Djakarta tapi tida pernah dateng ka Monas? Aih..aih.. Soenggoe kasihan! Marilah berdoejoen-doejoen datengin ini tempat jang paling tersohor saäntero Djakarta, liwat programma Sahabat Museum jang bikin seneng hati toean-toean dan njonja-njonja tijap-tijap boelannja, jakni:

PLESIRAN TEMPO DOELOE naar KONINGSPLEIN en GEDONG GADJAH
Minggoe, 27 Februari 2005, djam poekoel 07.30 pagi

Oentoek ini boelan, kitaorang aken moelain ini plesiran dari Gedong Gadjah, jaitoelah Museum Nasional jang doeloenja diberdiriken oleh Bataviaasche Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Lembaga Seni dan Sains Batavia). Ini museum diboeka pertama kalinja pada tahon 1868. Itoe nama Gedong Gadjah diseboet demikian sebab-sebab di depannja ini gedong ada satoe patoeng gadjah ketjil jang meroepaken soewatoe hadiah jang dibriken oleh Radja Chulalongkorn dari Siam (Thailand). Sebagi balesannja, pemerentah Nederlandsch-Indie toeroet kasi tanda mata jang roepa-roepa matjemnja seperti: angklung en djoega artja-artja peninggalan dari bebrapa tjandi di Java, dengan totaal semoeanja sebanjak 8 grootbak (gerobak, euy!)

Dari ini museum, kitaorang aken sebrangin djalan besar en masoep ka dalemnja Koningsplein (Lapangan Radja). Sablonnja dinamaken Koningsplein, ini tana lapang ada bekend orang seboet dengen nama Buffelsveld (Lapangan Kerbau). Sehari-harinja ini tempat dipakei para soldadoe Olanda boeat latihan militair, dan bisa djoega dipakei boeat maen voetbal (sepak bola) jang seroe! Di djeman kamerdekaan, ini tempat sempet poenjai nama Lapangan Ikada (Ikatan Atletik Djakarta) kerna doeloenja lapangan ini sering dipake orang goena lakoeken berbagi matjem sport. Di tengah ini lapangan sekarang berdiri Tugu Monas.

Kita orang aken koendjoengken Museum Sejarah Nasional jang adanja precies di dalem Tugu Monas. Tugu Monas moelai diberdiriken sedari tahon 1961 dan diresmiken pada tahon 1964 oleh Presiden Soekarno. Kitaorang bisa liat diorama perihal hal ichwal moelanja Noesantara, perdjalanan idoep en djoega riwajatnja perdjoangan bangsa Indonesia di djeman pendjadjahan hingga djeman sasoedahnja kamerdekaan. Kamoedian dilandjoetken dengen mendengerken soeara aselinja Bung Karno jang dengen khidmat batjai teks proclamatie. Inilah teks jang tiada sebrapa pandjangnja, jang menjataken kamerdekaan sekaligoes berdirinja negara Republik Indonesia!

Sasoedahnja liat baek-baek dan koerilingin dalem peroetnja Tugu Monas, kitaorang aken landjoetken djalan-djalan. Tjoeatja panas? Kaki pegel linoe? Troesah goendah goelana! goena segerken badan en fikiran di hari minggoe ini, kitaorang aken naik deelman istimewa. Toeroet Ajah ke kota? Ach, lebih baek kitaorang poeter-poeter di Monas sahadja sabelonnja kembali ka Gedong Gadjah di Koningsplein West!

Sambil ademkan kepala jang habis kena panas mentjorong, kitaorang bisa liat roepa-roepa barang antiek. Ada riboe-riboe barang etnografie, keramik, pra-sedjarah, poerbakala, mas inten dan permata. Ini barang-barang soenggoe tiada ternilai harganja en pantes sahadja menarik hati para pelantjong dan djoega pentjoleng! Tahon 1963, saorang pendjahat jang bekend dengen nama Kusni Kasdut berhasil rampok colectie berharga dari ini museum! Soenggoe koerang adjar!

Poeas liat Gedong Gadjah, kitaorang aken poeterken film jang soenggoe seroe, jaitoe tjeritera tentang kadatengan saorang ambtenaar Olanda ka Gedong Gadjah di tahon 1915. Kamoedian, kerna ini tempoh belom sabrapa lamanja dari Tahon Baroe Imlek, kitaorang djoega aken poeterken film jang kassie liet perajaan Tjap-Goh-Meh di tahon 1928.

Djadi djangan sampe tida ikoet ini programma. Semoea kariaan ini di-reken pantes dengan onkost tjoema Rp. 30.000 per persoon, toean-toean dan njonja-njonja sekalian djoega bakalan dapetin roti anak boeaja khas Sahabat Museum. Lekas daftarken diri toean dan njonjah sekalian via email adep@cbn.net.id soepaia tida keabisan koedanja. Kalo-kalo kapengen nanja ini-itoe perkara plesiran boeat ini boelan, silahken contact ka nummer telefoon di bawah ini:

Ninta: 0816 480 91 22
Adep: 0818 94 96 82

Djikaloe toean-toean dan njonja-njonja ada hasrat boeat bawa auto (mobil) atawa motorfietsen (sepeda motor), silahken sahadja, djangan chawatir, ada tjoekoep banjak parkir di ondergrond (basement) Gedong Gadjah. Djangan loepa boewat bawa handdoek ketjil dan djoega pajoeng plus katja-mata item. Kitaorang harep toean-toean dan njonja-njonja sekalian tida loepa boewat bawa makanan siang masing-masing goena tangsel peroet tempo makan siang tiba. Djikaloe nantinja hoedjan achirnja toeroen, ini plesiran aken kita moelain sasoedahnja itoe hoedjan brenti menggoejoer Djakarta.

“…Palinglah enak si mangga oedang
Pohonnja tinggi boeahnja djarang
Djikaloe sampe toewan tak datang
Sedihlah hati boekan kepalang….”

Memoedjiken dengen hormat,
Ade Purnama (Adep)
SAHABAT MUSEUM
adep@cbn.net.id
0818 94 96 82

Wisata Kampung Tua ke GLODOK

Februari 19, 2005

Kembali dengan seneng hati Museum Sejarah Jakarta dan KPSBI-HISTORIA mempersembahkan:

WISATA KAMPUNG TUA KE Kampung Cina GLODOK
Minggu, 27 Februari 2005, Pkl. 08.00-12.00 WIB

ROUTE:
– Stadhuis (Museum Sejarah Jakarta)
– The Groote Kanaal (Kali Besar)
– Pasar Pagi
– Gd. Keluarga Shouw
– Gdg. Tionghoa Hoa Hoe Koan (SMU 19)
– Gereja Maria Santa De Fatima
– Kelenteng Toa Sei Bio
– Kelenteng Jin De Juan
– Pantjoran
– Eks. Penjara (Glodok Plaza) *

BIAYA:
Rp. 20.000 (umum)
Rp. 10.000 (pelajar)

FASILITAS:
– Refreshment/ Snack
– Lunch (makan siang)
– ID Card
– Hand Out/ Sinopsis
– Tour Guide
– Tiket Museum

NARA SUMBER:
Asep Kambali

INFORMASIN DAN PENDAFTARAN:

KPSBI HISTORIA
Caring Community for Indonesian History and Culture
Ujo: 0818-0807-3636, 0813-1550-1669
Jaja: 0517-692-6840

PLESIRAN TEMPO DOELOE: RENGASDENGKLOK-KALIDJATI-BANDOENG

Februari 19, 2005

Hari Saptoe en hari Minggoe dari tanggal 19 sampe tanggal 20 Maret 2005 tjoema 2 hari sadja

Imamura : “Apakah Tuan menjerah tanpa sjarat?”
Ter Poorten : “Saja menerima untuk seluruh wilajah Hindia-Belanda.”

Inilah pertanyaan terakhir yang diajukan oleh Panglima Jepang Imamura kepada Panglima Hindia-Belanda Ter Poorten pada tanggal 8 Maret 1942 di sebuah rumah di bilangan Kalidjati. Imamura hanya memberi waktu 10 menit saja kepada Ter Poorten untuk berpikir dan menjawab pertanyaan yang menyesakkan jiwa itu. Dengan dijawabnya pertanyaan yang memilukan itu oleh Ter Poorten, maka tamatlah kekuasaan Hindia-Belanda di Nusantara. Kemudian secara resmi dilanjutkan dengan penandatanganan naskah penyerahan kekuasaan wilayah Hindia-Belanda kepada Jepang. Peristiwa itu sekaligus menjadi tonggak sejarah akan berakhirnya kekuasaan Belanda di negeri yang juga acapkali disebut dengan julukan: “Zamrud Khatulistiwa”. Maka berakhirlah kekuasaan bangsa kulit putih yang telah bertjokol di Bumi Pertiwi tercinta ini selama lebi-koerang 350 tahun lamanja. Kejadian ini memiliki arti strategis bagi bangsa Indonesia, menjadi titik awal kebangkitan kembali para perintis kemerdekaan dalam mewujudkan proklamasi Republik Indonesia.

Untuk mengetahui riwayatnya lebih lengkap, SAHABAT MUSEUM mengajak teman-teman sekalian mengunjungi rumah tempat dimana perundingan penyerahan Hindia-Belanda kepada pihak Jepang dilakukan, tepatnya di dalam kompleks Lapangan Udara Kalijati di daerah Subang. Selain itu kita juga akan mengunjungi rumah (yang sangat) bersejarah di Rengasdengklok, tempat dimana Bung Karno dan Bung Hatta yang diculik disembunyikan oleh para pemuda di Rengasdengklok agar segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia setelah mendengar kabar tentang kekalahan Jepang terhadap pihak sekutu. Peristiwa penculikan ini memiliki peran penting bagi bangsa Indonesia dalam mempersiapkan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Namun kita tidak hanya berkunjung ke dua tempat ini saja, tapi plesiran menelusuri sejarah tempo doeloe ini akan diteruskan sampai ke Bandung !!! (yang kalau Belanda tidak menyerah kepada Jepang pada tanggal 8 Maret 1942 itu, maka Bandung akan dihujani bom..) *waduuh*

Djikaloe toean-toean dan njonja-njonja kasengsem pengen ikoetin ini programma, djangan fikir-fikir terlaloe lama, lekas sigra daftarken diri sodara-sodara sebangsa dan setanah-aer ke kitaorang poenja email di: adep@cbn.net.id sekarang djoega! dengen onkost jang di-reken pantes tjoema Rp.650.000 per persoon, toean-toean dan njonja-njonja soeda bole dapetin plesiran jang tiada kadoeanja di saäntero negri, plesiran dengen bus AC pergi-poelang, menginep di Hotel Mutiara, Bandung (bintang tiga), makan 4X (ontbijt 1X, lunch 2x, dinner 1X), plus assurantie perdjalanan, tshirt PTD dan kenangan manis jang tiada terloepaken seoemoer idoep…

Djangan sampe kaliwatan, dengen ikoetin ini programma, nistjaja idoep toean-toean dan njonja-njonja lebih tentrem, indah, moeka bertjahja dan badan semangkin sihat sentausa, yang pasti dapet teman baru yang senasib-sepenanggungan (pecinta sejarah djadoel = djaman doeloe….hehehe)

Tatkala berada di Kota Bandoeng, kitaorang aken djalan-djalan koeliling “Bandoeng Tempo Doeloe”‘ dan mengikoeti kemana larinja para pedjoang dalem peristiwa “Bandoeng Laoetan Api” pada bulan Maret 1946 dan kitaorang djoega aken masoep ke dalemnja Observatorium Bosscha jang biasa dipake boeat keker bintang di langit, trus…trus..trus..juga masoep ke dalem Gedung Sate*, Vila Isola*, juga ke rumah kediaman Inggit Soekarno* (*masih menunggu konfirmasi).

Bagi yang kepengen banget ikutan, silahkan transfer ke rekening bank: 2371425693 BCA cab Pondok Indah atas nama ADE HARDIKA PURNAMA pembayaran dapat dilakukan 2 kali (pertama DP sebesar Rp. 300 ribu, lantas yang kedua Rp 350 ribu, toeloeng ditransfer paling telat hari Jumat tanggal 4 Maret 2005) dan tolong dikonfirmasikan via email atau sms ke 0818 94 96 82 atau fax (021) 7696273 setelah transfer berhasil dilakukan…

menantiken kehadiran para tetamoe sekalian,
Ade Purnama (Adep)
SAHABAT MUSEUM
0818 94 96 82

“…sekarang telah menjadi lautan api, mari bung rebut kembali…”

——————————————————————————–

PLESIRAN TEMPO DOELOE: RENGASDENGKLOK – KALIDJATI – BANDOENG

19 Maret 2005
06:30: Berangkat dari Jakarta
08:30 Rumah Rengasdengklok
09:00 Berangkat ke Kalijati
11:00 Lapangan Udara Kalijati
12:00 Makan siang di Kalijati
13:00 Berangkat ke Lembang
14:30 Observatorium Bosscha
16:00 Berangkat ke Vila Isola
16:30 tour gedung Vila Isola*
17:30 check-in Hotel Mutiara
19:30 makan malam di Bandung
21:00 kembali ke hotel

20 Maret 2005
06:30 Sarapan di hotel
07:30 Bandung Tempo Doeloe
09:00 Bandung Lautan Api Trail
11:00 kembali ke hotel, istirahat
12:30 check-out hotel
13:00 makan siang di Bandung
14:00 ke rumah Inggit Soekarno*
15:00 belanja oleh-oleh Bandung
17:00 kembali ke Jakarta
20:30 sampai di Jakarta

*masih menunggu konfirmasi

PROGRAM PLESIRAN TEMPO DOELOE SAHABAT MUSEUM 2005

Februari 2, 2005

Januari
STATION BEOS – GEDONG N.H.M
Mulai di: Museum Bank Mandiri

Februari
KONINGSPLEIN – GEDONG GADJAH
Mulai di: Museum Nasional

Maret
RENGASDENGKLOK – KALIJATI – BANDUNG
Mulai di: Parkir Timur Senayan

April
TENABANG – MUSEUM TEKSTIL
Mulai di: Tanah Abang

Mei
SEMARANG – AMBARAWA – MAGELANG – JOGJAKARTA
Mulai di: Bandara Soekarno-Hatta

Juni
PULAU ONRUST – MUSEUM PULAU ONRUST
Mulai di: Pelabuhan Sunda Kelapa

Juli
RANAH MINANG (jika ada 44 peserta)
Mulai di: Bandara Soekarno-Hatta

Agustus
PERMAENAN DJADOEL
Mulai di: Kebun Raya Bogor

September
SURABAYA – MALANG
Mulai di: Bandara Soekarno-Hatta

Oktober
NAEK DEELMAN KOELILING MENTENG
Mulai di: Gedong Joang 45

November
—libur lebaran—

Desember
NONTON BIOSCOOP
Mulai di: Galangan VOC

Acara sewaktu-waktu dapat berubah dengan pemberitahuan terlebih dahulu di milis sahabatmuseum@yahoogroups.com atau hub: adep@cbn.net.id dan 0818 94 96 82.

Pemkot Dinilai Tak Miliki Rancangan Pelestarian

Februari 1, 2005

Soal Bangunan Kuno

SEMARANG – Pemerintah Kota Semarang dinilai belum memiliki rancangan pelestarian bangunan yang termasuk cagar budaya tersebut.

Padahal di Kota Atlas ini, terdapat 101 bangunan yang dikategorikan hal itu. Demikian disampaikan arsitek Widya Wijayanti, terkait dengan usulan adanya pendanaan pemeliharaan gedung sekolah yang menjadi cagar budaya. ”Pemkot perlu membuat katagori tertentu sebagai bangunan tua yang bisa dikatagorikan cagar budaya dengan memperhatikan aspek estetika, kesejarahan, sosial dan ilmu pengetahuan,” ujar dia, Senin (31/1).

Seperti diberitakan kemarin, dalam dialog Komisi C DPRD Kota Semarang dengan kepala-kepala SMPN/SMKN mengemuka usulan untuk penganggaran dana konservasi untuk pemeliharaan gedung sekolah yang menempati bangunan cagar budaya. Dalam dialog itu juga muncul penilaian, kerusakan bangunan cagar budaya itu begitu berat.

Wijayanti menilai, gedung sekolah yang merupakan bangunan kuno secara kualitas jauh lebih bagus dibandingkan dengan gedung-gedung yang dibangun pemerintah awal 1980-an. Menurut dia, alokasi anggaran yang diperuntukkan pemeliharaan bangunan sekolah dan kantor tak perlu difokuskan terhadap bangunan tua.

”Masalah minimnya alokasi pemerintah memberi dana khusus untuk pemeliharaan bangunan tua yang termasuk cagar budaya sudah merupakan rahasia umum. Pengangkatan isu itu sulit dimengerti,” tuturnya.

Biaya pemeliharaan gedung sekolah dan kantor juga memerlukan anggaran, tak hanya sekolah yang memiliki bangunan tua yang termasuk cagar budaya. Namun apabila Pemkot memiliki dana terbatas, harusnya membuat skala prioritas dengan pertimbangan yang matang. Pemeliharaan gedung-gedung tua yang termasuk benda-benda cagar budaya, selayaknya memperhatikan signifikasi nilai sejarah, budaya, arsitektural, dan sosial.

Dana Bantuan

Sementara itu, dari hasil pantauan Suara Merdeka di sejumlah sekolah yang menempati bangunan bersejarah, menunjukkan keadaan bangunan yang mengkhawatirkan. Di SMA Ibu Kartini, beberapa bagian atap bocor. Pada saat hujan deras, seperti yang terjadi kemarin, sejumlah talang mengalami kebocoran.

”Sejauh ini, perbaikan yang kami lakukan tidak sampai menyentuh pada persoalan itu. Sesuai dengan dana bantuan yang tersedia, perbaikan dilakukan dengan pengecatan ulang,” ujar Kepala SMA Ibu Kartini Dra Sri Wardhani Murbaningsih.

Secara khusus, sekolah tidak mengalokasikan dana untuk pemeliharaan gedung. Untuk itu, sekolah gencar mengajukan permohonan bantuan ke berbagai instansi. Pemeliharaan cagar budaya itu hanya bisa berlangsung kalau memperoleh kucuran bantuan. Sejauh ini, pemeliharaan terbesar pada sekolah itu hanyalah pengecatan yang baru saja dilakukan dengan dana bantuan dari Pemprov Jateng dan pihak yayasan.

”Mudah-mudahan, dana bantuan semacam itu bisa mengalir lancar sehingga beban berat tidak dirasakan sekolah untuk merawat bangunan cagar budaya.”

Keterbatasan dana untuk perawatan gedung diungkapkan oleh Kepala SMPN 40 HM Slamet. Gedung SMP bekas rumah dinas Gubernur Hindia Belanda itu terlihat agak kusam dan kurang perawatan.

Di sejumlah titik tampak tembok-tembok yang mengelupas, cat pagar yang kusam, dan lantai kotor. ”Sebenarnya kami sangat mengharapkan ada bantuan khusus dari pemerintah untuk merawat dan memelihara benda cagar budaya,” tambahnya. (H7,amp-64m)

Sumber : Suara Merdeka, 01 Februari 2005