Archive for Juni, 2005

Pertahankan Aspek Historis Pasar Senen

Juni 23, 2005

JAKARTA – Penataan Pasar Senen secara terpadu dan menyeluruh oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, merupakan keharusan mengingat perkembangan saat ini.

Namun, penataan itu hendaknya menjaga karakteristik Pasar Senen yang secara seimbang, juga memperhatikan aspek historis dan ekonomis. Demikian dikatakan arsitek dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta Boy Bhirawa di Jakarta, Rabu (22/6).

Boy Bhirawa, yang juga Ketua Bidang Pengembangan Ilmu Arsitektur IAI Cabang Jakarta ini mengatakan, aspek historis Pasar Senen itu antara lain beberapa bangunan tua peninggalan masa lalu serta adanya kegiatan kesenian yang terkenal dengan istilah “Seniman Senen” di masa lalu.

“Semua itu merupakan segi historis yang perlu dipertahankan dan dihidupkan kembali mengingat hal itu merupakan citra yang lama melekat pada Pasar Senen,” kata Boy Bhirawa.

“S eniman Senen” melahirkan nostalgia yang indah di masa lalu. Pasar Senen ke depan hendaknya mengakomodasi nostalgia ini yang disesuaikan dengan konsep yang lebih modern, misalnya keberadaan gedung kesenian yang lebih representatif.

Boy menilai, kondisi Pasar Senen yang kini sangat semrawut, memang harus direhabilitasi sesuai dengan perkembangan situasi sehingga pemanfaatan Pasar Senen bisa optimal dari sisi ekonomi, sosial, dan juga sejarah. Ia menilai pula, pola Pasar Senen itu ke depan hendaknya juga bersifat terbuka bagi publik. Artinya, tidak bersifat eksklusif untuk kalangan tertentu saja. “Pasar Senen hendaknya juga menampung pedagang kecil dan kaki lima yang jumlahnya kini ribuan,” tegasnya.

Ia menyatakan, penampungan itu untuk menghindari menjamurnya pedagang liar seperti yang terjadi saat ini. “Saya tidak setuju apa pun yang bersifat liar, tidak ada nilai tambahnya bagi warga secara keseluruhan,” katanya.

Namun, mereka jug a tidak bisa digusur begitu saja. Mereka harus mendapat tempat yang legal dan juga memberikan kontribusi kepada pemerintah daerah.

Boy juga menyoroti kegiatan Pasar Senen sebagai pasar tradisional yang antara lain menjadi pusat pasar sayur-mayur dan buah-buahan serta pasar jam yang tumbuh subur. Hal unik lainnya yang terdapat di pasar itu adalah adanya pedagang buku bekas yang menjadi langganan terutama mahasiswa. “Gedung Wayang Orang Bharata yang bisa dimasukkan dalam kompleks Pasar Senen,” ujarnya.

Ia menilai pula, keberadaan stasiun kereta api dan bis juga menjadi nilai tambah tersendiri bagi Pasar Senen.

Pasar Senen semula disebut Vink Passer yang mengacu nama Yustinus Vink yang membangunnya pada 1735 M. Ketika Gubernur Jenderal Willem Herman Daendels (1808-1811) memindahkan kota lama ke Weltevreden, Senen pun disebut Pasar Weltevreden. (N-6)

Sumber: Suara Pembaharuan Daily, 23 Juni 2005

Iklan

Mengintip Kejayaan ”Passer Baroe” di Masa Lampau

Juni 13, 2005

JAKARTA – Nama Pasar Baru, pusat perbelanjaan tertua di Ibu Kota Jakarta, tiba-tiba mencuat ketika kota ini mulai berdandan menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-478 pada 22 Juni. Telah menjadi agenda tahunan – saban ulang tahun Jakarta – Pasar Baru ikut nimbrung dalam sebuah kemasan yang dinamakan ”Festival Passer Baroe”. Sayangnya, ”Passer Baroe”— begitu dulu dinamakan orang, kini dikenal sebagai Pasar Baru —mulai ditinggalkan pembeli menyusul menjamurnya pusat perbelanjaan modern seperti mal dan plaza yang menampung kerakusan belanja warga Jakarta.

Sadar bahwa Pasar Baru mulai ditinggalkan orang, Wali Kota Jakarta Pusat Muhayat lantas mengeluarkan wacana untuk menjadikan kawasan belanja yang dikenal tahun 1070-an itu menjadi tempat untuk kongkow-kongkow seperti Cilandak Town Square (Citos) di bilangan selatan Jakarta. ”Saya ingin mengembalikan pamor ”Passer Baroe”. Asosiasi Pedagang Pasar Baru sudah setuju dengan konsep itu. Pokoknya, ”Passer Baroe” akan kita buat senyaman mungkin bagi pengunjung,” janji Muhayat.

Pasar Sepatu
Kejayaan ”Passer Baroe” sudah diketahui di masa Verenigde Oost Indische Compagnie (VOC) dulu. Daerah ”Passer Baroe” dulu tidak hanya dikenal sebagai daerah elite karena berada tidak jauh dari kawasan Rijswijk (Jalan Veteran) yang dibangun pemerintah Kompeni Belanda untuk orang-orang kaya di Batavia. Ya, sekarang ini mirip kawasan Menteng atau Pondok Indah.

Di daerah pasar itu juga dikenal sejumlah tukang sepatu di masa Batavia dulu. Salah satu yang sangat terkenal bernama Sapie Ie. Pria keturunan Cina ini oleh pejabat-pejabat Kompeni Belanda dipercaya membuat bahkan memperbaiki sepatu dengan hak tinggi. Ya sepatu prajurit, ya sepatu untuk keperluan pesta. Namun Sapie Ie lebih dipercaya untuk membuat sepatu pesta. Soal ongkos, para pejabat Kompeni Belanda tidak dibuat pusing. Yang pen-ting kualitas dijamin.

Dalam buku bertajuk ”Indrukken van een Totok, Indische type en schetsen”, secara gamblang dijelaskan peran tukang sepatu Sapie Ie di daerah ”Passer Baroe”. Justus van Maurik, sang penulis buku tersebut, menceritakan bagaimana ia terpaksa harus berhubungan dengan Sapie Ie hanya karena harus mengenakan sepatu hak tinggi untuk memenuhi undangan sebuah pesta dansa di Gedung Harmonie. ”Saya kaget ketika menerima surat undangan untuk menghadiri pesta dansa dari Gubernur Jenderal van der Wijck,” tulis Justus van Maurik dalam bukunya itu. Dalam undangan yang disampaikan langsung Gubernur Jenderal van der Wijck tersebut disebutkan bahwa pesta dansa dilakukan pada Minggu, 2 Agustus tepat pukul 21.00 malam. Justus pun bersiap diri.

Ia mulai menyiapkan pakaian yang terbaiknya hanya untuk menghormati surat undangan Gubernur Jenderal van der Wijck. Celana panjang, rompi dan jas warna hitam telah disiapkan. Namun sayangnya, sepatu yang dimilikinya ternyata tidak pas untuk sebuah pesta dansa, apalagi yang digelar Gubernur Jenderal van der Wijck. Oleh teman-temannya ia disindir habis karena sepatu bututnya itu. ”Masa kamu mau hadiri pesta dansa pakai sepatu butut itu?” sindir rekan-rekan Justus.

Atas desakan salah seorang temannya yang sudah lebih dulu menetap di Kota Batavia, Justus disarankan untuk memesan sepatu lak ke tukang sepatu Sapie Ie di ”Passer Baroe”. Dengan ramah Sapie Ie menerima pesanan sepatu lak Justus. Karena kakinya agak besar maka Sapie Ie meminta tambahan ongkos sebesar 50 sen.

Uniknya, memesan sepatu dari Sapie Ie, si pemesan bisa menunggu. Sambil menunggu sepatu pesanannya selesai, Justus van Maurik jalan-jalan dulu mengitari daerah Rijswijk (kini Jalan Veteran). Lama memang, tapi yang penting bagi Justus bisa ikut pesta dansa. Dalam hitungan jam akhirnya sepatu hak pesanan itu selesai. Sayangnya, ketika dicoba ternyata agak sempit. Tapi kereta jemputan untuk mengikuti pesta sudah di depan mata, maka dengan jalan agak kesakitan Justus van Maurik melupakan rasa sakit kakinya itu.

Usai pesta Justus melepaskan sepatunya yang katanya sempit itu. Begitu dibuka di dalamnya ada bon utang. Di ujung sepatu lak kiri ada bon tagihan yang dilipat rapi. Ya, mungkin karena ketika itu Sapie Ie si tukang sepatu enggan menagih kekurangan pembayaran sepatu sehingga ia menaruh bon tagihan di dalam sepatu. Akibat ulah itu kaki Justus van Maurik bengkak. Keesokkan harinya ia mendatangi toko Sapie Ie dan membayar bon pembuatan sepatu lak itu.

Lomba Perahu
Sungai Ciliwung yang melintas di ”Passer Baroe” sering digunakan untuk lomba perahu. Orang menyebutnya Kali Passer Baroe waktu itu. Nah, di masa Kota Batavia dulu di tempat yang sama juga digelar lomba perahu untuk memperebutkan batang bambu berdaun yang diikat dengan sapu tangan, cita dan bahkan sebungkus kecil candu seharga 32 sen.

Lomba perahu di Ciliwung dilakukan dalam rangka pesta Peh Cun, sebuah perayaan etnis Cina di Kota Batavia. Semasa Batavia dulu memang daerah itu dikenal pula sebagai pusat perdagangan atau pasar. Di sana banyak bermukim orang-orang Cina yang tidak betah menetap di daerah Pecinan Glodok. Sebagian dari mereka memilih membuka toko di ”Passer Baroe”.

Tradisi pesta Peh Cun digelar tanggal 5 bulan 5 penanggalan Cina, para pedagang di pasar itu sejenak melupakan bisnisnya dan beramai-ramai berkumpul di sepanjang Ciliwung untuk menyaksikan penyelenggaraan Peh Cun. Puluhan perahu yang dihias di antaranya ada yang dihias dengan topeng kepala naga berlaga di Kali ”Passer Baroe” itu. Semua orang tumpah ruah di sana (tak cuma etnis Cina) tapi juga penduduk di sekitar kali itu. Sorak-sorai bergema di sana apalagi begitu perahu-perahu itu berlomba untuk mendapatkan batang bambu berdaun yang diikat dengan sapu tangan. Dan juga ditaruh sebungkus kecil candu seharga 32 sen. Etnis Cina memang sudah sejak lama dikenal gemar candu. Makanya, tak heran jika di Kota Batavia dulu, pemerintah Kompeni Belanda mematok pajak candu bagi rumah-rumah candu. Kalau kini ”Passer Baroe” mau diubah menjadi Citos (Cilandak Town Square), ya kita lihat saja nanti! (SH/satoto budi/norman meoko)

Sumber: Sinar Harapan, Senin 13 Juni 2005