Archive for Oktober, 2005

Pasar Tanah Abang Blok A Pasar Tradisional dengan Sentuhan Modern

Oktober 28, 2005

Untuk mengantisipasi terjadi kebakaran, pihak pengembang sudah menyiapkan sistem sprinkler, hidran gedung, hidran halaman, sistem alat pemadam api ringan (APAR), dan fire roller shutter.

Namanya Ricky Alaydrus. Pria berusia 29 tahun ini pernah menimba ilmu di Amerika Serikat. Usai menyelesaikan studinya di Negeri Paman Sam, Ricky bekerja di sebuah perusahaan elektronik di sana. Karirnya menanjak sehingga berhasil meraih posisi sebagai general manager.

Namun, pada 2002 Ricky memutuskan untuk kembali ke Indonesia karena rindu dengan orang tua dan tanah kelahirannya. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Ricky memilih untuk membuka usaha sendiri dengan berdagang di Pasar Tanah Abang Blok A.

Pemilihan tempat berdagang di pasar ini dilandasi dengan pertimbangan lokasi yang strategis, lingkungan yang aman dan nyaman.”Keberhasilan sebuah usaha sangat tergantung dari keinginan, keahlian, dan usaha kita sendiri,” ujarnya seperti dikutip A-Kita, media internal Pasar Tanah Abang Blok A.

Ricky adalah salah satu dari ribuan pedagang di Pasar Tanah Abang Blok A. Pascakebakaran pada 2002 Blok A kini memang berubah menjadi sebuah pusat bisnis yang megah. Arsitektur bangunannya khas dengan corak Betawi yang dipadukan dengan sentuhan dan nuansa Islam. Alhasil, Pasar Blok A menjadi pusat perbelanjaan modern yang juga menjadi simbol pelestarian budaya lokal Betawi.

”Sebagian besar pedagang pasar Blok A adalah warga sekitar yang asli Betawi. Dan mayoritas mereka beragama Islam. Karenanya, kami konsep bangunan Pasar Blok A ini dengan arsitektur khas Betawi tapi kami beri sentuhan Islam,” ujar Djan Faridz, direktur utama PT Priamanaya. Perusahaan ini adalah pengembang Pasar Tanah Abang Blok A.

Modern pascakebakaran
Pascakebakaran, pasar Blok A memang mengalami perubahan wajah yang cukup drastis jika dibandingkan dengan kondisi sebelumnya. Jika semula pasar ini adalah pasar tradisional yang kumuh, sumpek, panas, dan tidak nyaman, kini Blok A menjadi sebuah bangunan megah yang berkonsep modern. Fasilitas dan prasarana yang ada di dalamnya tidak kalah dengan pusat perbelanjaan (shopping mall) maupun pusat perdagangan (trade center) modern.

Di bangunan seluas 151.202 meter persegi ini terdapat 149 unit eskalator, empat unit passenger lift (capsule), dan empat unit passenger lift biasa. Di gedung 18 lantai ini juga tersedia delapan unit lift barang (kapasitas 1.000 dan 2.000 kilogram), AC central, tiap kios memiliki satu line telepon, serta sejumlah fasiltas lainnya.

Soal parkir tidak lagi menjadi kendala, karena lahan parkir yang tersedia mampu menampung dua ribu mobil. Namun, ciri khas pasar Blok A sebagai pusat grosir tekstil dan garmen, khususnya busana muslim, tidak lantas hilang.

Sedangkan untuk mengantisipasi terjadi kebakaran, pihak pengembang sudah menyiapkan beberapa sistem. Ada sprinkler, hidran gedung, hidran halaman, sistem alat pemadam api ringan (APAR), dan fire roller shutter.

Fire roller shutter adalah sistem pengamanan kebakaran yang membagi ruangan menjadi tiga kompartemen. Apabila terjadi kebakaran di lantai tertentu, maka motor roller shutter akan bekerja secara otomatis menutup daerah kompartemen yang terbakar dengan sekat antikebakaran. Sekat ini mampu menahan kobaran api selama empat jam.

”Pasar Blok A tetap menjadi pasar tradisional pusat grosir tekstil dan garmen. Hanya saja, sekarang sentuhannya modern. Jadi, Blok A merupakan pasar tradisional namun dengan sentuhan modern,” ungkap Faridz.

Karena tetap menjadi pasar tradisional, harga yang berlaku di sini juga layaknya harga pasar tradisional, namun dengan kualitas barang yang tetap terjaga. Artinya, harga barang di Blok A yang sudah dibangun dengan konsep modern tidak berbeda dengan harga di Blok B, C, dan D yang masih berupa pasar tradisional tanpa sentuhan modern. ”Di sini lah kelebihan pasar Blok A. Meski sentuhannya modern, harga tetap pasar tradisional,” ujar Faridz menegaskan.

Miniatur Indonesia
Pasar Blok A terdiri dari 12 lantai pertokoan, 5 lantai parkir, dan satu lantai food court. Di bagian atap terdapat masjid yang mampu menampung dua ribu jamaah.

Tiap lantai terbagi dalam beberapa zoning yang masing-masing menjual komoditi yang sama. Selain padagang lokal Jakarta (Betawi), para pedgaang di Pasar Blok A juga berasal dari beragam etnis. Misalnya Padang, Makassar, Jawa, keturunan Arab dan Tionghoa, dan sebagainya.

”Pedagang di sini multi etnik karena dari semua suku ada. Jadi seperti miniatur Indonesia. Namun mereka kompak dan tidak bersaing secara tidak sehat,” ujar Faridz menerangkan.

Pemilik kios di sini biasanya juga memiliki kios di Blok yang lain, yang diatasnamakan isteri atau anaknya. Dengan demikian, harga yang berlaku di Blok A sama dengan di Blok lain karena memang pemiliknya sama.

Karena merupakan pusat grosir, maka para pemilik biasanya langsung menunggui kiosnya dan tidak diserahkan kepada pembantu atau pekerjanya. Sebab ketika bertransaksi dengan pembeli, banyak keputusan yang harus langsung diambil sendiri oleh pemilik kios dan bukan oleh pembantunya.

”Karena pusat grosir, maka banyak negosiasi yang akan terjadi. Dan itu harus dilakukan sendiri oleh pemilik kios. Misalnya negosiasi tentang harga, pembayaran utang, desain kain, dan sebagainya. Sebab pembeli biasanya kan membeli dalam partai besar jadi harus diputuskan sendiri oleh pemilik kios. Ini beda dengan kios retail biasa,” jelas Faridz.

Dengan kondisi saat ini yang lebih nyaman dan aman jika dibandingkan sebelum terbakar, maka Pasar Blok A makin diminati oleh pengunjung dan pembeli. Tren yang saat ini terjadi, pembeli lebih suka berbelanja di Blok A daripada di Blok B, C dan D karena suasananya yang berbeda.

Bahkan menjelang Hari Raya Idul Fitri saat ini, pengunjung di Pasar Blok A bisa mencapai seratus ribu orang per hari.”Sekarang pembeli di Blok A makin meningkat. Sementara di Blok yang lain justru menurun,” ujar Faridz.

Mengundang Pembeli dari Mancanegara
Sekitar 300 tahun yang lalu pemerintah Kolonial Belanda membangun Pasar Tanah Abang di sebuah kawasan yang diberi nama Weltevreden yang berarti benar-benar puas. Sejak saat itu, Pasar Tanah Abang menjadi magnet bisnis yang besar di Jakarta.

Bahkan, dalam perkembangannya Pasar Tanah Abang menjadi pusat grosir tekstil terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Para saudagar dan pembeli dari mancanegara pun banyak yang berdatangan ke pasar ini. Antara lain dari Arab, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan negara-negara lain.

Namun, setelah terjadi kebakaran pada 2002 para pembeli dari mancanegara itu banyak lari ke negara lain. Salah satu negara yang menjadi tujuannya adalah Cina.

Kini, setelah Pasar Tanah Abang direnovasi dan disulap menjadi sebuah pusat perbelanjaan modern, ada semacam keinginan untuk mengundang kembali para pembeli dari manca negara tersebut.

”Kami akan berusaha mengembalikan para pembeli mancanegara itu ke Tanah Abang. Untuk itu, kami akan bekerja sama dengan kedutaan besar kita di luar negeri,” ujar Djan Faridz, direktur utama PT Priamanaya, pengembang Pasar Tanah Abang Blok A.

Menurut Faridz, lewat kerja sama dengan kedutaan besar Indonesia di luar negeri, maka pihaknya akan mengundang dan memfasilitasi para pembeli dari mancanegara untuk datang dan meninjau Pasar Blok A yang baru diresmikan Juli 2005 lalu ini. Diharapkan, dengan melihat kondisi saat ini yang jauh berbeda dengan sebelum terbakar, mereka akan tertarik kembali untuk membeli barang-barang dari sini.

Selain pembeli dari luar negeri, pihaknya juga akan mengundang pembeli dari dalam negeri untuk datang ke Pasar Blok A. ”Kami juga melakukan kampanye dan sosialiasi ke daerah-daerah agar mereka tahu Pasar Tanah Abang Blok A sudah mulai beroperasi,” tutur Faridz.

Namun Faridz memiliki ganjalan untuk mewujudkan obesesinya itu. Hal ini terkait dengan semrawutnya arus lalu linta di kawasan Tanah Abang. Karena itu, pihaknya meminta kepada pemerintah untuk benar-benar memperhatikan dan menyelesaikan masalah ini.

”Pemerintah harus tegas terhadap persoalan parkir, pedagang kaki lima, dan ojek yang selama ini membuat lalu lintas di sini sangat semrawut. Pemerintah harus benar-benar memperhatikan masalah ini dan mencarikan jalan keluarnya. Sebab jika tidak, maka ini tidak mendukung Tanah Abang sebagai pusat grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara,” kata Faridz menegaskan. (jar )

Sumber: Republika, Jumat, 28 Oktober 2005

Iklan

Chandra Nadi, Klenteng Tertua di Palembang

Oktober 10, 2005

Keberadaan Kampung Kapitan dan sejarah masyarakat China di Palembang tidak dapat dilepaskan dari tempat ibadat Tri Dharma Chandra Nadi atau dalam bahasa Mandarin disebut Klenteng Soei Goeat Kiang. Klenteng yang dibangun di kawasan 10 Ulu pada tahun 1733, sebagai ganti klenteng di kawasan 7 Ulu yang terbakar setahun sebelumnya itu, menyimpan banyak cerita melalui berbagai masa.

Menurut Princeps, Sekretaris III Yayasan Dewi Pengasih Palembang, selaku pengelola klenteng Chandara Nadi, klenteng itu digunakan umat dari tiga agama dan kepercayaan untuk berdoa. Ketiga agama dan kepercayaan yang diakomodasi di klenteng ini adalah Buddha, Tao, dan Konghucu.

Memasuki Klenteng Chandra Nadi, aroma hio wangi langsung menusuk ke hidung. Hio-hio itu dipasang di altar Thien. Thien secara harfiah berarti ’langit’. Namun oleh sebagian penganut Konghucu dan Buddha, thien juga disebut sebagai Tuhan Yang Maha Esa.

Melangkah masuk ke dalam, di altar Dewi Maco Po atau penguasa laut (juga disebut sebagai dewi yang menguasai setan dan iblis) dan altar Dewi Kwan Im atau penolong orang yang menderita sudah tersusun secara berurut. Di altar Dewi Maco Po sering diadakan upacara Cio Ko untuk meminta izin membuka pintu neraka agar dapat memberi makan kepada arwah yang kelaparan.

Setelah altar Dewi Kwan Im, para pengunjung klenteng dapat melihat altar Sakyamoni Buddha (Sidharta Buddha Gautama), altar Bodhisatva Maitreya (calon Buddha), altar Dewi Kwan Tee (pelindung dharma), altar Dewi Paw Sen Ta Tee atau dewi uang dan pemberi rezeki. Kemudian altar Dewi Chin Hua Niang Niang atau Dewi Mak Kun Do, altar Giam Lo Ong (raja neraka), dan altar Dewa Toa Pek Kong berbentuk macan. Di bagian belakang klenteng terdapat satu altar yang berisi kumpulan berbagai patung titipan umat dan altar Ju Sin Kong, pelindung Kota Palembang dan diyakini beragama Islam.

Dewi penyembuh

Bagi mereka yang percaya, Dewi Kwan Im di klenteng ini dapat dimintai tolong untuk penyembuhan penyakit. Menurut Princeps, ada seorang umat yang menderita kanker rahang dan berdoa ke Dewi Kwan Im, lalu umat itu minta obat kepada petugas klenteng.

Obat diberikan dengan cara mengocok sekumpulan batang bambu kecil yang diberi nomor. Nomor yang terambil akan ditulis di kertas semacam resep untuk ditukarkan dengan racikan obat di toko obat yang ditunjuk.

Menurut Princeps, obat itu ternyata manjur dan mampu menyembuhkan umat yang menderita kanker rahang.

Sementara di altar Dewi Mak Kun Do, biasanya, disinggahi para wanita untuk meminta anak. Riana, warga Kenten, Palembang mengatakan, dia berdoa di altar Mak Kun Do untuk meminta anak laki-laki karena ia sering mendengar banyak doa minta anak dikabulkan.

Salah satu keunikan klenteng itu adalah ramalan nasib. Seperti untuk mendapatkan kesembuhan, umat perlu bersembahyang lebih dahulu sebelum mengocok ramalan nasib. Ramalan itu terdapat di bambu kecil yang diberi nomor. Setiap nomor yang keluar dari tempatnya, akan diambil dan dicocokkan dengan buku petunjuk ramalan.

”Selain itu Klenteng Chandra Nadi memegang peranan penting dalam berbagai upacara keagamaan masyarakat Tionghoa. Pada zaman para kapitan masih memegang kendali, semua upacara hari raya besar, termasuk Imlek, diadakan di klenteng Chandra Nadi, dan diteruskan ke klenteng di Pulau Kemaro di Sungai Musi,” kata Princeps.

Bahkan, tradisi itu masih tetap diteruskan hingga sekarang. Masyarakat Tionghoa penganut Buddha, Tao, dan Konghucu, terutama yang mempunyai leluhur di Palembang selalu merayakan Imlek di Chandra Nadi dan dilanjutkan ke Pulau Kemaro.

Meskipun tetap berdiri utuh sampai sekarang, keberadaan klenteng Chandra Nadi bukan tanpa gangguan. Menurut Princeps, pada zaman Jepang, dua pesawat Jepang pernah mencoba mengebom klenteng itu karena dianggap sebagai basis gerakan bawah tanah masyarakat Tionghoa. Namun, tidak ada bom yang mengenai sasaran.

Pascatahun 1966, ketika kebencian terhadap masyarakat Tionghoa memuncak, sepertiga lahan klenteng diambil paksa untuk dijadikan Pasar 10 Ulu. Para pengurus klenteng tidak dapat berbuat apa-apa karena ada tekanan politik masa itu.

Ketika kerusuhan rasial pecah pada tahun 1998, massa juga sudah mulai bergerak untuk membakar klenteng tertua di Palembang itu. Namun, polisi dan masyarakat setempat berhasil menghadang gerakan massa sehingga mereka tidak sempat membakar apa pun.

Kini setelah 272 tahun berdiri, Klenteng Chandra Nadi tetap terbuka bagi setiap umatnya untuk beribadah. Sayang, jalan masuk ke klenteng itu melalui pasar tradisional yang kumuh dan macet sehingga turis akan kesulitan untuk mendatangi klenteng itu. (eca)

Sumber: Kompas, Senin, 10 Oktober 2005

Kampung Kapitan di Tepi Sungai Musi

Oktober 10, 2005

Oleh: Caesar Alexey

Sejak zaman Sriwijaya, Sungai Musi telah menjadi urat nadi pertumbuhan Kota Palembang dan sekitarnya di Sumatera Selatan. Semua bangunan dari beberapa peradaban tumbuh dan hilang di sisi kanan-kiri sungai ini. Namun jika menyusurinya, kita masih akan menemukan banyak bangunan indah yang menyimpan beribu penggalan sejarah Palembang, seperti Kampung Kapitan.

Kampung Kapitan merupakan kelompok 15 bangunan rumah panggung ala China yang terletak di Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu 1, Palembang. Kampung itu, pada awalnya, merupakan tempat tinggal seorang perwira keturunan China berpangkat kapitan (sekarang disebut kapten) yang bekerja untuk Pemerintah Kolonial Belanda.

Pada masa itu, seorang kapitan bertugas untuk memungut pajak dari masyarakat China dan masyarakat pribumi yang berada di wilayah Seberang Ulu Palembang. Kapitan juga bertugas untuk menjaga keamanan wilayah dan mengatur tata niaga candu di wilayah terbatas.

Bangunan inti di Kampung Kapitan terdiri atas tiga rumah, merupakan bangunan yang paling besar dan menghadap ke arah Sungai Musi. Rumah di tengah merupakan rumah yang lebih sering difungsikan untuk menyelenggarakan pesta dan pertemuan-pertemuan dengan banyak orang. Sementara kedua rumah di sisi timur dan barat lebih banyak difungsikan sebagai rumah tinggal.

Keluarga besar

Rumah-rumah lain dibangun oleh kapitan untuk menampung keluarga besarnya. Rumah-rumah itu membentuk persegi panjang, dengan sebuah ruang terbuka di tengahnya. Ruang terbuka dahulu kala dibentuk menjadi taman yang indah, tetapi kini dibiarkan ditumbuhi rumput dan tidak terawat.

Dari arah darat hanya ada satu jalan masuk ke Kampung Kapitan, yang berjarak sekitar 800 meter dari bawah Jembatan Ampera. Di jalan masuk terdapat dua gerbang yang daun pintunya hilang.

Menurut budayawan dan sejarawan Palembang, Djohan Hanafiah, munculnya Kampung Kapitan berkaitan dengan runtuhnya Kerajaan Sriwijaya pada abad XI dan munculnya Dinasti Ming di China pada abad XIV. Saat itu, Dinasti Ming membatasi jumlah pedagang China yang akan berdagang ke arah selatan (Kepulauan Nusantara), dengan membentuk semacam lembaga dagang negara.

Lembaga dagang itu menjadikan Palembang sebagai salah satu basis dagang yang besar. Sebagai kota perniagaan, banyak orang China yang datang dan menetap di Palembang. Sebagian dari mereka berinteraksi dan menikah dengan gadis Palembang yang beragama Islam.

Salah satu kepala kantor dagang China yang terkenal saat itu, kata Djohan, adalah Liang Taow Ming. Liang mampu mengikat persatuan yang kuat antarmasyarakat China sehingga mereka menjadi komunitas yang kuat dan cukup diperhitungkan Pemerintah Kolonial Belanda.

Ketika kekuasaan kolonial menjadi lebih kuat atas Kesultanan Palembang Darussalam, Belanda mulai mengangkat perwira China untuk mengatur wilayah 7 Ulu dan sekitarnya. Perwira tersebut semula bertugas mengatur komunitas China saja. Akan tetapi, seiring makin kuatnya Belanda, perwira China juga mulai memegang kendali atas masyarakat pribumi.

Menurut Tjoa Kok Lim alias Kohar (72), cucu kapitan terakhir, Tjoa Ham Hin, dua perwira China pertama berpangkat mayor. Mereka dikenal sebagai Mayor Tumenggung dan Mayor Putih. Nama asli keduanya sulit untuk dilacak kembali, tetapi mereka berasal dari marga Tjoa.

Kepangkatan dan wewenang itu diwariskan kepada keturunan berikutnya, tetapi pangkatnya turun menjadi kapitan. Tiga rumah inti dan perkampungan itu diwariskan kepada pemegang pangkat kapitan secara turun-temurun sehingga kampung itu disebut Kampung Kapitan.

Di Kampung Kapitan terdapat satu klenteng yang besar, sebagai pusat peribadatan masyarakat keturunan China di kawasan Seberang Ulu. Namun, klenteng itu terbakar habis dan kemudian dibangun ulang di kawasan 10 Ulu pada tahun 1733, lima tahun sebelum pembangunan Masjid Agung Palembang selesai.

Interaksi sosial

Muhammad Saleh alias Ujang (74), tetua di Kampung Kapitan, menuturkan, interaksi antara masyarakat keturunan China dan masyarakat pribumi berlangsung dengan baik. Banyak warga keturunan China, terutama dari keluarga besar kapitan, yang menikah dengan pribumi.

Dalam melaksanakan tugasnya untuk menarik pajak dan menjaga keamanan, kapitan juga bekerja sama dengan para demang (setingkat lurah) yang merupakan penduduk pribumi. Mayoritas pegawai kapitan juga berasal dari masyarakat pribumi dan mereka membangun rumah kecil yang menempel di sisi rumah utama.

Meskipun hubungan kapitan dan pegawainya adalah atasan dan bawahan, kata Ujang, Kapitan Tjoa Ham Hin sering berlaku seperti tetangga kepada para pegawainya. Mereka saling membantu. Kerukunan antara masyarakat pribumi dan keluarga kapitan terlihat dalam berbagai upacara hari besar keagamaan.

Berdasarkan pengalamannya semasa kecil dan penuturan orangtuanya, kata Ujang, kapitan Tjoa Ham Hin pernah mengadakan pesta untuk merayakan peringatan hari besar seperti Idul Fitri dan peringatan hari raya masyarakat China. Pesta yang diselenggarakan di rumah bagian tengah itu menggunakan alat musik campuran, antara alat musik Eropa, China, dan Palembang.

Dalam pesta itu, peralatan makan dan memasak yang digunakan untuk orang keturunan China dan pribumi dibedakan. Pembedaan dilakukan karena banyak masakan China yang mengandung daging babi dan arak, jenis makanan dan minuman yang diharamkan masyarakat Muslim.

Masa kini

Kini, keanggunan Kampung Kapitan sudah nyaris hilang. Hanya bangunan-bangunan kuno yang masih tegak berdiri, meskipun banyak kerusakan kecil di berbagai sudut.

Selain itu, bagian bangunan yang terbuat dari kayu juga tampak kusam dimakan usia. Namun, dinding kayu tidak rusak karena terbuat dari kayu unglen yang mampu bertahan selama ratusan tahun.

Di dalam rumah, meja abu dan altar sembahyang yang dihiasi patung beberapa dewa, juga terlihat berdebu dan dikotori sarang laba-laba. Hampir tidak ada lagi meja kursi atau lemari yang dapat menggambarkan situasi masa lalu. Hanya ada beberapa foto kapitan masih terpampang di ruang tamu rumah sebelah timur.

Taman bagian tengah kampung juga sudah berubah menjadi tanah lapang yang tidak terurus. Dua patung singa, lambang rumah perwira China, yang dulu pernah menghiasi bagian depan rumah inti juga hilang.

Menurut Tjoa Kok Lim, Kampung Kapitan menjadi tidak terurus dengan baik setelah ditinggalkan para keturunan kapitan. Tjoa Kok Lim menjaga rumah itu karena keempat saudara perempuannya mengikuti suami mereka ke luar Palembang.

Pudarnya ketenaran Kampung Kapitan juga membuat anak-anak Tjoa Kok Lim memilih bekerja di Jakarta dan Lampung. Ia kini hanya ditemani seorang anak perempuan untuk menjaga kedua rumah inti, setelah rumah ketiga dijual kepada orang lain. Rumah-rumah kecil di Kampung Kapitan juga sudah dikuasai para penghuninya, dan tidak lagi dalam kepemilikan keluarga kapitan Tjoa Ham Hin.

Tjoa Kok Lim mengatakan, mereka tidak akan menjual dua rumah yang tersisa karena ayahnya, Tjoa Hendrik, pernah berpesan agar kedua rumah itu tidak jatuh ke orang lain. Kok Lim mengharapkan, jika dia dipanggil Tuhan, kelak Pemerintah Kota Palembang menata ulang kampung itu menjadi kawasan wisata sejarah.

Sumber: Kompas, Senin, 10 Oktober 2005