Archive for the ‘Bangunan Lama’ Category

Reruntuhan Gedung Samudera Indonesia Belum Diangkat

Februari 23, 2008

Reruntuhan Facade (Muka Depan) dan Arcade Gedung Tua milik PT Samudera Indonesia yang ambruk pada 1 Februari lalu di kawasan Kota belum diangkat hingga hari ini. “Masih dalam penyidikan,” ujar Candriyan Attahiyat, Kepala Unit Pengelola Teknis (UPT) Kota Tua kepada Tempo di Jakarta hari ini.

Menurut dia, saat ini Tim Sidang Pemugaran (TSP) dan Pakar Konstruksi sedang menyelidiki penyebab ambruknya sebagian muka depan dan arcade gedung itu. “Hasil sementara, penurunan muka tanah di beberapa titik menjadi penyebab ambruknya gedung itu selain metode bearing atau penempelan arcade ke gedung utama dianggap kurang kuat,” kata Candriyan. Karena penyidikan belum selesai, reruntuhan tidak bisa diangkat.

Berdasarkan pantauan Tempo, reruntuhan gedung masih teronggok di Jalan Kali Besar Barat. Lokasi jatuhnya reruntuhan itu tidak berada di kawasan macet, sehingga lalu lintas jalan di kawasan itu tidak terganggu.

Amandra Mustika Megarani

Sumber: Tempo Interaktif, 23 Februari 2008

Iklan

Museum Bahari Ambrol, Samudra Indonesia Rata dengan Tanah

Februari 1, 2008

Gedung-gedung di kawasan Kota Tua yang dilindungi terus-menerus digerus banjir. Hanya berselang sekitar 12 jam, dua gedung yang masuk dalam daftar bangunan cagar budaya (BCB), yakni Museum Bahari dan Gedung Samudra Indonesia, ambruk.

Yang teparah dialami Gedung Samudra Indonesia, yang ambruk total Jumat (1/2). Sementara itu, gedung Meseum Bahari masih berdiri tapi sejumlah gelagar penyangga lantai dua sudah ambrol pula. Temboknya pun retak-retak.

Gedung Samudra Indonesia yang terletak di Jalan Kali Besar Barat, Jakarta Barat, ambruk pada Jumat pukul 14.00. sedangkan Museum Bahari di Jalan Pasar Ikan, Jakarta Utara, ambrol pada Sabtu pukul 02.00.

Seorang saksi mata, Sugoro, mengatakan, sebelum gedung ambruk dia sempat mendengar bunyi kerikil berjatuhan. “Cuma begitu awalnya, kerikil-kerikil berjatuhan. Tiba-tiba itu gedung jatoh ke depan. Abis itu bunyinya kayak ada bom, gitu, kata pedagang. Pedagang lain menimpali, kaget aja kita tiba-tiba ada dentuman. Trus debunya lari ke kita.”

Sebelum, kawasan Kota Tua diterjang banjir. Gedung itupun yang ikut terendam. “Belum lagi tiap kali ada mobil lewat, air kan mendesak ke gedung itu. Barang kali karena itu juga gedung tersebut jadi nggak kuat lagi nahan,”tambah Sugoro.

Sekedar informasi, Samudra Indonesia Tbk merupakan perusahaan publik yang bergerak dalam bidang pelayaran, transportasi, dan logistik. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1964 oleh Soedarpo Sastrosatomo. Gedung itu dirancang dan dibangun oleh arsitek yang juga merancang stasiun Beos, Ir Frans Johan Louwrens Ghijsels, pada tahun 1910-1921. Gedung ini dulu diperuntukan perusahaan dagang dan Arkade (lorong untuk pejalan kaki) pada gedung ini merupakan ciri khas bangunan awal abad 20 di sepanjang Kali Besar Utara.

Pemilik gedung, Shanti Poesposoetjipto, putri almarhum Sastrosatomo, menjelaskan bahwa pihaknya sudah mengosongkan gedung itu setelah melihat adanya keretakan dibeberapa lokasi. “Sudah sekitar satu tahun dikosongkan. Gedung itu sudah diperiksa oleh ahli gedung tua dan menurut merekan masih ok, hanya perlu diperkuat. Tapi keburu roboh.”kata Shanti.

Dia menambahkan, rencana awal gedung itu akan digunakan untuk tempat pendidikan dan latihan. “Kita akan segera selidiki lebih lanjut kenapa bisa runtuh,” tandasnya

Museum Bahari
Sementara Museum Bahari kondisinya tak jauh berbeda. Untungnya gedung yang dibangun pada zaman VOC itu ambruknya tidak separah gedung Samudra indonesia. Namun balok penyangga gedung C Museum yang bernilai sejarah itu sudah pada ambrol. “Kan setiap hari tergenang air, apalagi berkali-kali terendam banjir sehingga penyangga lantai atas roboh. Ada satu lagi balok penyangga yang sudah retak, tinggal tunggu tanah bergerak, roboh. Kalau balok penyangga sudah ambruk, kan sama aja gedung itu ambruk,” kata Kepala Museum Bahari Dewi Rudiati.
Menurut Dewi, jika bangunan blok C roboh, maka bangunan lain yang terkait blok itu akan ikut roboh pula. Demikian pula dengan kondisi blok B. “Kalau lantai sudah retak memanjang dan makin menganga, apa enggak tinggal roboh. Balok tiang penyangga yang bagian bawah juga udah ikut retak. Jadi tinggal menunggu waktu,”lanjut Dewi.

Bangunan Museum Bahari ini terdiri atas dua dua bagian, sisi barat disebut Gudang Barat (Westzijdsch pakhueizen) di Jalan Pasar Ikan yang berdiri persis di samping muara Sungai Ciliwung serta Gudang Timur (Oosjzijdsch Pakhuizen) di Jalan Tongkol. Museum Bahari yang usianya lebih dari 3,5 abad. Tembok yang mengelilingi museum itu tak lain adalah pembatas kota Batavia (city wall) di zaman Belanda.

Pada masa penduduk Belanda, bangunan yang saat ini dipergunakan untuk museum dipakai gudang yang berfungsi untuk menyimpan hasil bumi, seperti rempah-rempah.

Museum ini menyimpan koleksi yang berhubungan dengan kebaharian dan kenelayanan bangsa Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Koleksi-koleksi yang terdiri atas berbagai jenis perahu tradisional dengan aneka bentuk, gaya dan ragam hias, hingga kapal zaman VOC. Disajikan pula berbagai model dan miniatur kapal modern dan perlengkapan penunjang kegiatan pelayaran. Di sisi lain ditampilkan pula koleksi biota laut. Museum tersebut menyimpan 1.500 koleksi.

Kepala Subdinas (Kasubdis) Pengawasan Dinas Kebudayaan dan Permuseuman (Disbudmus) DKI sekaligus Plh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kota Tua Candrian Atthiyat, Sabtu (2/2) mengatakan, kondisi Museum Bahari sudah rusak parah. “Tidak bisa lagi menunggu terlalu lama harus segera diperbaiki,” katanya.

Candrian Attahiyat yang di temui Warta Kota di bakal UPT KotaTua di bekas Kafe Museum, belum bisa berkomentar banyak. “Besok pagi (hari ini-Red) kita akan bicarakan dengan TSP (Tim Sidang Pemugaran-Red). Perlu di selidiki apakah karena ada penurunan tanah karena adanya pemancang tiang sekian puluh tahun lalu, atau karena banjir kemudian tanah menjadi lembek,” katanya. (pra)

Sumber: Jakarta Culture and Heritage, 1 Februari 2008

78 Tahun Pasar Gede Cerita Karsten, Aset Nasional dan Nikmatnya Belanja

Januari 11, 2008

oleh Retno Hemawati

Pasar Gede Solo dibangun dan memulai aktivitas perdagangannya sejak 1930. Pada Sabtu (12/1) pasar ini akan merayakan ulangtahun ke 78 dan ditandai dengan gelaran 78 tumpeng jajan pasar dan beberapa pergelaran seni seperti Sahita, Temperente dan Lawcoustic Music ‘n Foresta Holic di halaman pintu depan Pasar Gede. Kali ini menggagas tema be a long-live heritage, be traditional, be transborder.

Perpaduan Budaya
Pasar Gede dibangun berdasarkan rancangan arsitek berkebangsaan Belanda Ir Herman Thomas Karsten yang memulai pembangunannya pada tahun 1927. Pada 12 Januari 1930 pasar monumental itu diresmikan Paku Buwono X dengan pemotongan pita oleh GKR Emas yang menelan biaya waktu itu sekitar 650.000 gulden, yang kini setara dengan Rp 2,47 miliar. Pasar Gede merupakan simbol padu kerja harmonis antara penggagas PB X dan Ir Herman Thomas Karsten yang sangat menghargai budaya budaya lokal, hasilnya adalah arsitektur Indis yang dalam tataran filosofis arsitektural, ia memberikan rasa ruang dan rasa tempat yang khas. Sekaligus nyaris sempurna secara tipologis, di mana pembangunannya memperhatikan pendekatan rasional dan mempertimbangkan iklim budaya lokal.

Sebagai pasar tradisional, Pasar Gede pada awalnya bernama Pasar Gedhé Hardjonagoro, berasal dari nama cucu kepala Pasar Gedhé (1930 – disaat itu), seorang budayawan Jawa dari Surakarta Go Tik Swan, keturunan Tionghoa yang mendapat gelar KRT Hardjonagoro dari PB XII. Dekatnya Pasar Gede dengan komunitas Tionghoa dan area Pecinan bisa dilihat dengan keberadaan sebuah klenteng Vihara Avalokitesvara Tien Kok Sie di dekatnya yang tak jauh dari perkampungan warga keturunan Tionghoa (pecinan) yang bernama Balong yang letaknya di Kelurahan Sudiroprajan. Itulah mengapa para pedagang sekalipun sekarang tidak dominan banyak yang merupakan keturunan etnis Tionghoa. Dulu pasar ini sebagai mediator perdagangan bagi masyarakat Belanda-Cina-pribumi dengan harapan hubungan antar etnis yang semula berkonflik dapat berlangsung harmonis.

Rusak, Renovasi
Sempat pada tahun 1947, Pasar Gede mengalami kerusakan karena serangan Belanda dan kemudian direnovasi pada tahun 1949. Perbaikan atap selesai pada tahun 1981. Kemudian pada 28 April 2000 pasar ini kembali ludes dilalap api. Renovasi pun dilakukan dengan mempertahankan arsitektur asli, ketinggian aspek kultural dan historis yang berusaha dipertahankan dan akhirnya selesai di penghujung tahun 2001. Salah satu kecanggihan pasar ini adalah, turut memperhatikan keperluan penyandang cacat dengan dibangunnya prasarana khusus bagi pengguna kursi roda.
Kondisi bangunan pasar ini jauh lebih beradab dari pasar pada umumnya, Karsten sudah mempertimbangkan atap, sirkulasi udara, masuknya cahaya agar kondisi pasar tidak pengap, lembab dan juga menciptakan iklim komunikasi yang baik dengan cara membuat lorong yang dibuat lebar untuk memudahkan interaksi antar pedagang. Dengan bijak ia melakukan semacam pengamatan akan kebiasaan masyarakat pengguna dan mempelajari kebudayaan setempat. Tidak seperti kebanyakan arsitek Belanda yang justru terkesan memaksakan ide “Belanda” pada bangunan-bangunan di Indonesia.

Sebagai pasar tradisional peninggalan masa lalu, pasar ini merupakan aset budaya Masyarakat Solo. Lebih dari itu, mengingat kesejarahan yang terkandung, pasar ini juga menjadi aset nasional yang harus dilindungi dan dilestarikan. Secara historis, pasar ini muncul dari embrio pasar candi yang berkarakter Candi Padurasa. Proses perubahan Pasar Candi berubah menjadi pasar ekonomi yang disebut “Pasar Gede Oprokan” yang digambarkan dengan payung-payung peneduh untuk kegiatan pasar.

Saatnya Belanja!
“Biasanya, para pedagang membawa dagangannya ke pasar dengan gendhongan dengan beban punggung, hingga membutuhkan ketinggian tertentu untuk meletakkan tanpa membuat punggung sakit, ini baru contoh kecil, Karsten membuatnya dengan penuh perhitungan, tapi sekarang banyak yang kemudian direndahkan sekedar untuk mengakomodasi kepentingan bisnis. Alasannya akan semakin banyak ruang untuk mendisplay barang dagangan,” kata Heru Mataya salah satu penggagas acara 78 Tahun Pasar Gede. Faktor kebersihan pun termasuk yang diperhatikan, los penjual daging justru diletakkan di lantai atas. “Maksudnya karena lalat tidak bisa naik ke atas, maka daging tetap higienis dan bisa bertahan lama. Selain itu kami juga butuh panas untuk pengeringan usus sebagai bakal sosis,” kata Sutikno salah satu pedagang daging babi.

Anda sudah memasuki Pasar Gede ketika sudah melalui salah satu pintu masuk utama (main entrance) berkanopi lebar bertuliskan Pasar Gede dengan gaya tulisan Art Nouveau. Lantai untuk masuk berujud ramp. Setelah hall masuk, terdapat ruang terbuka, kemudian ruang-ruang los pasar membujur ke utara dan timur. Selain penjual daging, tentu saja tak beda jauh dengan pasar tradisional lainnya, ragam “jualan” Pasar Gede terdiri dari berbagai macam jenis dari kebutuhan pangan, sandang hingga kebutuhan pelengkap yang lain. Berniat belanja? Coba saja datang, khusus penggemar kuliner, tak akan kecewa. Apalagi jika datang di saat terik menyengat selepas perjalanan, es dawet telasih Bu Dermi pilihan tepat. Letaknya di tengah Pasar Gede. Ada tempat duduk terbatas yang disediakan, sambil menikmati aura khas pasar, di tengah keramaian dan diantara hilir mudik pedagang dan pembeli.

Tak jauh dari Bu Dermi, coba juga ayam goreng dengan bumbu khas pasar yang ditata apik dan menggoda selera. Ayam ini disarakan untuk oleh-oleh dan dibawa pulang, karena tidak disediakan tempat untuk menyantapnya. Selain ayam, coba juga berbagai macam abon dan cabuk kering. Ingin yang sedikit manis? Tak rugi jika mencoba jajanan pasar : cenil, klepon, grontol yang terbuat dari jagung, tiwul khas Wonogiri, sawut, utri, gatot dan lopis. Semua bisa divariasikan dengan pilihan parutan kelapa, gula merah atau gula pasir dan gula merah yang dicairkan. Harga rata-rata Rp 1.000 per bungkus.

Jika masih belum puas juga dan ingin membawa oleh-oleh lebih banyak, bisa juga membeli kripik cakar ayam, karak, rambak dari kulit sapi, brem, atau belut goreng. Semua sudah dikemas rapi di kios-kios dengan harga satuan per kilogram rata-rata Rp 10.000 hingga Rp 20.000 untuk masing-masing pilihan. (RH dari berbagai sumber)

Sumber: Harian Joglo Semar, 11 Januari 2008

Istana Surosowan, Banten; Menelusuri Jejak Sejarah

Oktober 10, 2007

Banten Lama banyak menarik perhatian. Pesonanya dipicu cerita kejayaan dan kemakmuran rakyat Banten pada masa lalu. Apalagi sisa kemajuan tadi masih bisa dijumpai di beberapa tempat. Alih-alih membangkitkan nostalgia, situs-situs itu justru menuai kritik dari sana-sini. Ini terjadi akibat benda-benda cagar budaya itu tampak dibiarkan kumuh dan tak terurus. Padahal, bila digarap serius situs Banten Lama berpotensi sebagai daerah tujuan wisata arkeologis.

Cuaca siang itu terlihat begitu cerah. Hawa panas yang ada sudah cukup membuat keringat bercucuran. Tapi itu tak menyurutkan langkah Endjat Djaenuderadjat. Dengan semangat menggebu. Kepala Dinas Suaka Purbakala Banten ini asyik menerangkan sejarah kejayaan Banten kepada rombongan wisatawan. Datang dari Jakarta, para wisatawan itu sengaja diajak keliling beberapa situs oleh Direktorat Purbakala dan Permuseuman dan Balai Pelestarian dan Peninggalan Purbakala Serang.

Kali ini, lokasi yang dipilih reruntuhan Istana Surosowan. Istana ini dibangun ketika pasukan gabungan di bawah pimpinan Maulana Hasanuddin dan Pangeran Fatahillah berhasil mengalahkan Kerajaan Pajajaran dan merebut ibukota mereka, Banten Girang. Di sekitar istana dibangun tembok atau benteng keliling. Areal benteng ini sekitar tiga hektar. Berbeda dengan benteng-benteng Eropa, di atas benteng tidak ada kupel atau bastion. Tetapi justru dibuat tiang-tiang tinggi tempat prajurit mengamati keadaan di luar benteng.

Melihat reruntuhan bangunan di dalam Keraton Surosowan, siapa nyana jika istana itu dibangun pada tahun 1526, ketika Sultan Maulana Hasanudin, sultan kedua dalam silsilah Kasultanan Banten, memerintah. Bangunan yang nyaris rata dengan tanah itu masih sangat kuat, meski telah ditumbuhi lumut.

Banten Lama atau Surosowan adalah situs yang berkelanjutan. Di sana ada peradaban prasejarah dan berlanjut ke zaman klasik (Hindu-Budha), lalu beralih ke kebudayaan Islam pada abad ke-16. Pancuran mas adalah satu bagian di dalam keraton yang menarik perhatian. Pancuran yang sebenarnya terbuat dari tembaga dan bukan emas itu dahulu biasa digunakan untuk mandi para pejabat dan juga abdi kerajaan. Begitu kondangnya nama Pancuran Mas sehingga orang-orang yakin bahwa pancuran itu memang terbuat dari emas.

Kolam Roro Denok adalah bagian lain yang juga masih terjaga. Di tengah kolam, terdapat tempat istirahat bernama Bale Kambang. Air untuk mengairi kolam diambil dari Tasik Ardi, semacam danau buatan yang terletak tiga kilometer dari keraton. Air di danau disodet antara lain dari Kali Kronjen dan Pelamunan. Keraton Surosowan telah tiga kali dibangun akibat hancur karena perang. Terakhir, keraton dihancurkan oleh Daendels pada tahun 1808.

Sultan Ageng Tirtayasa mempercantik istana Surosowan dengan menyewa tenaga ahli dari Portugal dan Belanda, di antaranya Hendrik Lucasz Cardeel. Benteng istana diperkuat dan dipojok-pojoknya dibangun bastion, bangunan setengah lingkaran dengan lubang-lubang tembak prajurit mengintai dan menembak musuh. Endjat pun menunjukkan kepada kami ciri bangunan hasil rehabilitasi oleh Sultan Ageng Tirtayasa dengan pembangunan pada masa Sultan Maulana Yusuf.

Endjat juga menunjukkan karya seni dekor tinggi pada masa itu. Bukti ini masih bisa dijumpai pada sisa ubin merah yang dipasang dengan komposisi belah ketupat. Belum lagi sistem parit dan saluran air bawah tanah ke dalam kompleks istana. Menurut Paulus Van Solt, pada 1605 dan 1607 benteng istana sempat mengalami kebakaran. Namun nasib istana Surosowan luluh lantak setelah Daendels memimpin pasukan Kompeni untuk menghancurkannya pada 21 November 1808.

Walau hanya tersisa reruntuhan, situs Surosowan sebetulnya masih cukup menarik sebagai salah satu obyek wisata arkeologis. Namun bila melihat kondisi sekarang ini, kami hanya bisa mengelus dada. Di sekeliling kompleks situs dipenubi pedagang kaki lima. Para pedagang ini membuka kios-kios sempit, menjajakan aneka barang bagi pengunjung Masjid Agung Banten Lama. Sampah pun berceceran di mana-mana.

Situs Istana Surosowan juga tak mendapat penjagaan yang layak, walau di sekelilingnya telah dipagari. Setiap orang bisa bebas berkeliaran ke dalam dengan beragam tujuan. Dari sekadar melihat-lihat, berwisata sampai bertapa di salah satu sudut. Lebih miris lagi, pada halaman depan dan bagian dalam istana kawanan ternak ikut ambil bagian. Kerbau, domba dan kambing asyik menikmati rumput yang manis. Melihat semua kenyataan tadi, Endjat hanya tersenyum getir. (rn)

Sumber: perempuan.com, 10 Oktober 2007

Mengembalikan Pasar Senen sebagai Ratu dari Timur

Oktober 20, 2006

Oleh: Pingkan Elita Dundu

Bau busuk, pesing, dan kotoran ayam menyengat tercium ketika kaki melangkah memasuki Blok III, Pasar Senen, Jakarta Pusat. Di pasar basah itu, para pedagang memotong ternak ayam untuk dijual kepada konsumen. Kotoran, kulit, dan bulu ayam terserak di mana-mana di pasar daging itu.

Tumpukan sampah, genangan air kotor dan berbau, serta lalat yang beterbangan mengerubuti hampir setiap tempat di seputar lokasi itu.

Kesan kumuh, bau, kotor, sumpek, panas, tidak terurus, atau tidak terawat bukan hanya di Blok III. Kondisi semua blok, mulai dari I sampai VI, tidak berbeda jauh. Bahkan sewaktu mendekati tangga di Blok V ke arah pasar onderdil, tercium pula bau pesing. Begitulah kondisi Pasar Senen di Jakarta Pusat saat ini.

Kejahatan dan premanisme

Kondisi seperti itu sangatlah jauh berbeda dengan kawasan Senen saat zaman penjajahan. Pada awal abad lalu Pasar Senen sangat terkenal, malah sempat pula dijuluki Queen of the East (Ratu dari Timur) yang jauh lebih tersohor dari Singapura.

Tidak hanya vila indah menghiasi kawasan tersebut, tetapi juga banyak pertokoan Tionghoa dan tangsi tentara. Kawasan itu menjadi tempat wandelen alias “makan angin”.

Sampai dengan zaman Ali Sadikin memimpin Jakarta, kawasan Senen masih tertib dan menjadi tempat elite berbelanja. Setelah itu, lambat laun mulai terjadi pergeseran, baik itu tata guna, tata ruang, maupun tata kuasa. Berbagai kepentingan masuk sehingga kawasan itu tidak terpelihara dan menjadi kumuh.

Pedagang kaki lima tumbuh seperti jamur. Kawasan yang dulunya tertata dengan baik menjadi semrawut. Tidak salah kalau kemudian orang selalu mengidentikkan Pasar Senen dengan kesemrawutan, kejahatan, dan premanisme. Citra itu terus melekat dan sulit dihapus.

“Saya baru sekali datang ke Pasar Senen, tetapi tidak mau lagi ke sana. Kayak ’Sodom dan Gomora’ (istilah untuk sarang berbagai kejahatan),” kata Yoan, mahasiswi S-2 Universitas Indonesia, Jakarta.

Kondisi Pasar Senen sangat memprihatinkan. Tidak memberikan rasa aman dan jauh dari rasa nyaman.

Perusahaan Daerah (PD) Pasar Jaya mencatat, kondisi eksisting Blok I sampai VI memiliki 4.982 pedagang (resmi) dengan jenis dagangan lebih dominan arloji, emas, perlengkapan TNI, tekstil, dan garmen. Selain itu, juga elektronik, toko buku, alat tulis kantor, pasar tradisional, dan pasar kue subuh.

Para pedagang menempati 6.677 kios (artinya ada satu pedagang memiliki lebih dari satu kios) dengan luasan 41.922 meter persegi.

Direktur Utama PD Pasar Jaya Prabowo Soenirman selaku pengelola Pasar Senen mengatakan, kondisi yang tidak aman dan nyaman itulah yang mengharuskan kawasan itu harus ditata kembali.

Ke depan, katanya, Pasar Senen akan menjadi pasar modern yang bersatu dengan stasiun kereta api dan terminal bus kota serta pusat perbelanjaan Atrium Senen.

“Pembangunannya dengan konsep transit oriented development, yakni memanfaatkan sistem dan sirkulasi transportasi umum (kereta api, busway, dan angkutan umum lainnya),” ujar Prabowo. Kawasan itu nantinya tidak hanya difungsikan untuk pusat belanja semata, tetapi juga ada hunian (apartemen). Harapannya, aktivitas di kawasan itu akan hidup sepanjang hari.

Dalam konsep itu, akan dilakukan pemisahan antara akses pejalan kaki dan jaringan lalu lintas yang ada. Caranya, dengan membangun ruang pejalan kaki seperti area pedestrian dan jalan layang (skywalk) pada posisi level 2-3 bangunan.

Kepala Humas PD Pasar Jaya Nurman Adhi mengatakan, kawasan itu akan diberi nama Senen Jaya. Pembangunannya akan melibatkan PD Pasar Jaya sendiri, PT Pembangunan Jaya, dan PT Real Propertindo.

Gagasan menata kembali kawasan Senen mulai mengemuka pada Mei 2004, berkaitan dengan rencana PD Pasar Jaya menata kembali pasar-pasar tradisionalnya. Rencana itu diawali dengan sayembara oleh Pemerintah Kota Jakarta Pusat, dan pembangunannya dilakukan tahun 2005. Namun, sayang, selain pelaksanaannya mundur, hasil sayembara ternyata juga tidak teradopsi.

Rampung dalam 18 bulan

Setelah tertunda hampir satu tahun, proyek tersebut akhirnya mendapat titik terang. Prabowo mengatakan, bulan November 2006 renovasi akan segera dimulai, dan diperkirakan selesai dalam 18 bulan atau tahun 2008 dengan nilai proyek Rp 3 triliun.

“Renovasi akan tetap jalan meskipun pembangunan lokasi binaan bagi pedagang kaki lima tertunda,” kata Prabowo.

Selama pelaksanaan pembangunan kembali Blok I, II, dan III, para pedagang akan ditempatkan sementara di Blok IV, V, dan VI. Setelah selesai tahap I, lanjutan proyek itu untuk membangun tahap II, yaitu Blok IV, V, dan VI.

Menelaah konsep penataan Pasar Senen, terbayang kawasan itu akan hidup kembali dan menjadi Queen of the East. Keseriusan membenahi kawasan itu harus sejalan dengan pengawasan dan penertiban dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan pengelola pasar. Jangan sampai setelah ditata, kawasan itu akan kembali kumuh dan penuh preman.

Sumber: Kompas, 20 Oktober 2006

Cagar Budaya – Stasiun Beos Direvitalisasi

September 1, 2006

Jakarta, kompas – PT Kereta Api akan merevitalisasi dan menata Stasiun Jakarta Kota atau Stasiun Beos sehingga menjadi stasiun kebanggaan warga Jakarta. Dalam penataan itu, wajah Stasiun Beos akan dikembalikan seperti pada masa lalu, tetapi dengan beragam fasilitas baru.

Untuk mewujudkan Stasiun Beos sebagai salah satu tempat bersejarah yang juga ada di Kawasan Kota Tua Jakarta, PT Kereta Api telah memulai pemugaran dan pembongkaran kios-kios yang ada. Untuk itu, kontrak dengan sekitar 30 pemilik kios di stasiun ini tidak akan diperpanjang lagi.

Kepala Humas PT Kereta Api Daerah Operasional I dan Divisi Jabotabek Achmad Sujadi, Kamis (31/8), mengatakan, kondisi Stasiun Beos yang dibangun pada masa Belanda ini sering dikeluhkan karena semrawut, jorok, dan tidak terawat. Padahal, stasiun ini merupakan salah satu cagar budaya.

“Diusahakan awal tahun 2007 penataan Stasiun Beos sudah selesai. Di lantai bawahnya nanti akan dibuat lowong seperti zaman Belanda dulu,” kata Achmad Sujadi.

Selain untuk menambah kenyamanan pengguna kereta api, upaya ini juga sebagai bagian dari mendukung program Revitalisasi Kota Tua Jakarta. Setiap bulan ada sekitar 4.000 wisatawan yang datang ke sini.

Menurut Achmad Sujadi, untuk perkantoran ada di bagian depan. Lokasi ini akan dilengkapi perpustakaan dan museum mini mengenai kereta api.

Di sekitar stasiun juga akan dibuat taman, serta areal parkir dipindah ke belakang. Selain itu, lokomotif Bonbon yang memiliki nilai sejarah tinggi yang sekarang berada di Stasiun KA Manggarai akan dipindahkan ke Stasiun Beos. (ELN)

Sumber: Kompas, 1 September 2006

Dari Pasar Baroe, Dunia Mendengar Proklamasi

Agustus 18, 2006

Pasar Baroe tidak sekadar menjadi pusat belanja sepanjang masa. Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pun disebarluaskan dari kawasan ini, tepatnya oleh para wartawan Kantor Berita Antara—kala itu di bawah pendudukan Jepang yang dinamai Domei, di salah satu sudut Pasar Baru.

Tempat bersejarah itu kini menjadi Galeri Foto Antara dan Museum di Jalan Antara Nomor 57, 59, dan 61. Tepat di lantai dua Gedung Antara, perangkat morse untuk mengirim berita proklamasi beserta meja dan kursi antik masih berada di sudut asli sebagai saksi perjuangan pekerja pers pada tanggal 17 Agustus 1945.

Kepala Biro Foto dan Kepala Galeri dan Museum Antara Oscar Motuloh mengatakan, perangkat morse dan mesin tik sengaja tidak diubah untuk menjaga kenangan sejarah kelahiran Republik Indonesia. Namun sayang, hanya sedikit orang yang mengetahui fakta betapa proklamasi disebarluaskan ke seluruh dunia dari ruang kecil sebuah gedung tua di Pasar Baru.

“Kabar kemerdekaan disebarluaskan dari kantor Antara selang beberapa saat proklamasi dibacakan Bung Karno dan Bung Hatta di Pegangsaan Timur. Kabarnya Adam Malik membacakan teks proklamasi yang diterima seorang wartawan Antara. Selanjutnya informasi tersebut diselipkan dalam kawat berita oleh dua markonis, yakni Wua dan diawasi markonis Sugirun, agar tidak diketahui Jepang yang masih ketat mengawasi mereka. Pasalnya, Jepang sudah mewaspadai informasi kemungkinan bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan dan menyebarluaskan informasi proklamasi,” kata Oscar.

Siang itu juga berita proklamasi, lanjut Oscar, ditangkap di pelbagai benua. Pelbagai kapal asing yang berlayar di Samudra Pasifik turut menangkap kabar kemerdekaan Indonesia.

Belanda kabur

Riwayat keberadaan Gedung Antara pun unik karena pernah juga digunakan oleh kantor berita Belanda, Aneta. Semasa pendudukan Jepang berganti nama menjadi Domei.

Perjalanan panjang para jurnalis Antara bermula pada 13 Desember 1937 ketika Soemanang sebagai Hoofd Redacteur bersama AM Sipahoetar dan sejumlah rekan membuka kantor berita di Buiten Tijger Straat Nomor 30 (kini kawasan Pinangsia) menumpang kantor perusahaan ekspedisi Pengharapan. Kebetulan di tempat itu indekos pemuda Adam Malik yang kemudian bergabung di Antara.

Disambut sinisme

Masa awal pers perjuangan seperti Antara tidaklah mudah. Kehadiran mereka disambut sinisme sejumlah pihak, terutama kalangan yang dekat Belanda.

Waktu berjalan, bisnis Antara pun berkembang. Oscar mengatakan, warta Tionghoa Melayu terkemuka seperti Sin Tit Po di Surabaya dan Keng Po pun menjadi pelanggan berita Antara.

Kala itu hubungan pergerakan nasionalis Indonesia mendapat sambutan hangat di kalangan media Tionghoa Melayu. Tokoh pergerakan pun turut bekerja di media Tionghoa Melayu seperti Wage Rudolf Supratman. Bahkan, syair Indonesia Raya pun pertama kali dimuat dalam warta Tionghoa Melayu.

Seiring perkembangan Antara, kantor pun berpindah ke Tanah Abang Nomor 90 (kini dekat Jalan Budi Kemuliaan) sebelum berpindah ke Pasar Baru dan terlibat dalam proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Setelah proklamasi, gedung itu pun menjadi bagian perjalanan bangsa Indonesia.

Pada September 1954 Dewan Redaksi Antara meminta Wali Kota Djakarta Raja untuk menggunakan gedung di Jalan Pos Utara (ketika itu) nomor 57, 59, dan 61.

Pemerintah melalui Pengoeasa Daroerat Perang Djakarta Raja memaklumatkan tempat tersebut sebagai gedung bersejarah. Pada tahun 1993 SK Gubernur DKI semasa Soerjadi Soedirja menetapkan sebagai bangunan dilindungi. (Iwan Santosa)

Sumber: Kompas, Jumat, 18 Agustus 2006

Menyusuri Jalur KA Pertama di Indonesia (1) – Jalur Kuno Itu Jadi Tumpuan Utama

Agustus 12, 2006

Jalur kereta api (KA) Semarang-Tanggung Kabupaten Grobogan ternyata merupakan jalur pertama yang dibuat Belanda, 139 tahun lalu. Dalam rangka memperingati jalur bersejarah itu, Kamis (10/8) PT KA Daop IV Semarang menyelenggarakan acara peringatan berupa napak tilas. Pada hari yang sama, Biro Perekonomian Setda Jateng juga menyelenggarakan rapat koordinasi (rakor) dalam rangka pengembangan perkeretaapian di Jateng. Wartawan Suara Merdeka, Purwoko Adi Seno, yang mengikuti kedua kegiatan itu melaporkan dalam dua seri tulisan.

MATAHARI sudah berada di atas ubun-ubun, saat kereta luar biasa (KLB) yang membawa rombongan napak tilas mulai meninggalkan Stasiun Tawang Semarang. Tak lama berselang, kereta itu pun mulai memasuki wilayah Kemijen, Kecamatan Semarang Timur. Di kejauhan terlihat sebuah bangunan gudang, dan di sekitarnya ada beberapa gerbong barang.

Ya…., itulah Stasiun Semarang Gudang yang dulu bernama Stasiun Tambaksari. Bangunan itu semula adalah stasiun ujung atau dalam bahasa Belanda disebut kopstation. Dari stasiun itu pula, kisah sejarah perkeretaapian Indonesia dimulai.

Kebutuhan angkutan KA sebenarnya sudah mulai dirasakan setelah masa tanam paksa (1830-1850). Kala itu hasil bumi di Jawa tak lagi hanya untuk memenuhi kebutuhan lokal, tetapi sudah jadi komoditi ekspor. Namun, upaya mewujudkan harapan itu ternyata tidak mudah.

Pemerintah Belanda pun kemudian merencanakan untuk membuat jalur transportasi KA. Dalam buku 139 Tahun Perkeretaapian Indonesia, pengajar trasnportasi Unika Soegijapranata Semarang, Tjahjono Rahardjo menggambarkan, rencana itu ternyata menimbulkan pro dan kontra.

Kala itu beberapa pihak menilai, angkutan KA untuk Hindia Belanda tidak efisien lantaran jumlah penumpangnya sedikit.

“Muncul pula perdebatan tentang peran yang sebaiknya dimainkan pemerintah dalam mengembangkan perkeretaapian di Hindia Belanda,” kata Tjahjono.

Menentang

Pihak yang menentang keterlibatan pemerintah berpendapat, dana pembangunan jalan rel sebaiknya digunakan untuk hal-hal lain yang lebih mendesak. Adapun pihak yang menentang keterlibatan swasta berpendapat, jalur KA memiliki fungsi strategis, sehingga risikonya terlalu besar jika diserahkan kepada swasta.

Pro-kontra itu pun terus berlangsung hingga 1862, saat rencana pembangunan jalur KA Semarang-Solo -Yogyakarta (vorstenlanden) disetujui. Pada 1864, sebuah perusahaan swasta bernama Nederlandsch Indische Spoorweeg Maatschappij (NIS) memulai pembangunan jalur yang menghubungkan Kemijen dan Tanggung sepanjang 25 km. Namun, proses itu pun ternyata menghadapi berbagai kendala, termasuk sulitnya medan dan kondisi ekonomi.

Tapi, kerja keras itu toh membuahkan hasil. Pada 10 Agustus 1867, jalur pertama di Indonesia itu dari Kemijen ke Tanggung, pun diresmikan. Bangunan Stasiun Tanggung yang terbuat dari kayu, hingga kini juga masih dipelihara. Peralatan-peralatan yang digunakan pun sama tuanya. Untuk mengatur wesel, misalnya, masih digunakan tuas-tuas kuno. Demikan pula dengan peralatan komunikasi, masih menggunakan telepon onthel.

Kepala PT KA Daop IV Semarang, Rono Pradipto mengatakan, hingga kini jalur itu masih merupakan lintas utama. Setiap hari jalur itu dilalui KA Argo Muria, KA Kamandanu, KA Senja/Fajar Utama, KA Harina, KA Matarmaja, dan KA Rajawali.

Persoalannya, jalur antara Stasiun Brumbung dan Stasiun Tanggung kini sudah saatnya diganti. Selama ini, di jalur tersebut menggunakan rel berukuran R 33 dan bantalannya masih terbuat dari kayu. Akibatnya, kecepatan setiap kereta yang melalui jalur itu maksimal hanya 40 km per jam.

Agar kecepatan kereta bisa ditingkatkan hingga 70 km per jam, rel di jalur tersebut mestinya diganti menjadi R 45 atau R 54.

”Bantalannya pun mestinya diganti beton,” kata dia. (16a)

Sumber: Suara Merdeka, 12 Agustus 2006

Pasar Johar, Bangunan Tropis yang Terancam

Juni 2, 2006

Oleh: Ichwan Susanto

Tanpa pendingin udara atau AC, suasana di dalam Pasar Johar, Kota Semarang, Jawa Tengah, masih terasa segar. Ini berkat konstruksi atap cendawan dengan langit-langit tinggi yang menjamin sirkulasi udara. “Ini juga menjaga penerangan alami dari sinar matahari yang masuk ke dalam ruangan. Bangunan ini hemat energi dan patut ditiru untuk bangunan di daerah tropis,” ujar Ketua Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) Jateng Widya Wijayanti di Semarang, pekan lalu.

Bangunan karya arsitek kenamaan Belanda, Herman Thomas Karsten, tahun 1936 ini tidak sekadar didirikan. Sebagai eksperimen, arsitek yang ikut membentuk wajah Kota Semarang saat itu melakukan uji coba. Pasar Jatingaleh-lah yang menjadi ajang uji cobanya.

Uji cobanya berhasil. Meski berukuran jauh lebih kecil dibandingkan Pasar Johar, konstruksi pemecahan bentang lebar dan struktur beton bertulang berbentuk cendawan dinilai berhasil menciptakan bangunan yang bersahabat dengan iklim tropis. Cahaya matahari yang bersinar setiap bulan dan tahun, serta kelembaban tinggi, dapat diatasi dengan desain bangunan yang tinggi serta banyak ventilasi.

Pasar Johar terletak di Jalan H Agus Salim, wilayah Kota Lama Semarang. Bangunan seluas 15.003,50 meter persegi ini, selain memiliki konstruksi atap cendawan dengan langit-langit tinggi, juga mempunyai pilar persegi delapan yang hingga kini masih kokoh menyangga bangunan.

Sinar matahari dimanfaatkan tanpa menimbulkan panas karena udara mengalir dengan baik. Menurut Widya Wijayanti, desain seperti ini tercipta oleh arsitek yang humanis atau memerhatikan manusia, lingkungan, dan peruntukannya.

Fondasi dan pelapis lantai menggunakan batu andesit yang terkenal kokoh menahan beban. Pemikiran lebih jauh Karsten saat itu adalah batu andesit mudah dibersihkan sehingga cocok dengan kondisi pasar tradisional yang mudah kotor.

Ini menjadikan Pasar Johar sampai pada 30 tahun pertama beroperasinya merupakan bangunan pasar yang tidak hanya indah dilihat, tetapi juga berkinerja baik. Saking terkenalnya, Pasar Johar menjadi pusat perdagangan di Nusantara, bahkan Asia.

Di sinilah ribuan pedagang dan warga saling berinteraksi. Tetapi, di sini pula puluhan arsitek belajar tentang bangunan tropis yang baik, dan selanjutnya mengembangkannya menjadi sejumlah bangunan di negeri ini.

Akan dibongkar

Sayangnya, Pasar Johar kini terus disesaki dan dibebani beban di luar kemampuannya. Bahan bangunan berkualitas wahid tanpa perawatan memadai pun hasilnya nihil. Kerusakan diperparah dengan langganan banjir dan rob atau limpasan air laut ke daratan yang hebat sepanjang Mei-Juli.

Kondisi Pasar Johar kini tampak kumuh dan kerap tergenang rob. Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang seperti menutup mata terhadap persoalan ini. Bahkan, kondisi lingkungan yang seharusnya menjadi tanggung jawab Pemkot Semarang untuk menata dan mengatasinya, malah menjadi alasan bagi Wali Kota Sukawi Sutarip untuk berusaha membongkarnya.

Bukannya mencarikan jalan keluar supaya Pasar Johar terbebas dari kurungan permasalahan lingkungan, Sukawi mengatakan perbaikan itu harus dilakukan dengan pembongkaran. Apakah dengan pembongkaran, meski dibangun dengan bangunan yang persis aslinya, akan menuntaskan bangunan baru itu dari permasalahan lingkungan?

Hal yang sia-sia. Demikian diungkapkan arsitek dan Rektor Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Prof Eko Budihardjo MSc, yang juga mengetuai Dewan Pertimbangan Pembangunan Kota (DP2K) Semarang. Apalagi, dipandang sebagai cagar budaya, bangunan Pasar Johar ini layak mendapat perlindungan dari Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 yang sekarang sedang dalam proses revisi untuk penyempurnaannya. Juga dilindungi dengan UU Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung.

Meski Eko dan Widya, bersama sejumlah arsitek pemerhati kota dan warga lainnya, bersusah payah menolak rencana pembongkaran yang dilontarkan Pemkot, toh dalam pikiran Wali Kota Semarang tetap menilai pembongkaran bangunan itu adalah jalan terbaik untuk mengatasi masalah yang mendera Pasar Johar. Ia tampaknya tidak terlalu memedulikan jika perbuatannya dikategorikan sebagai tindak pidana.

“Pasar Johar pasti diperbaiki. Perbaikan itu dengan dibongkar dan dibangun lagi (seperti aslinya). Jika ingin melestarikan, ya harus dibongkar,” kata Sukawi, Rabu di Semarang.

Pemkot Semarang beralasan pembangunan harus terus berjalan. Mal empat lantai lebih telah disodorkan investor, PT Java Development Propertindo asal Jakarta, dengan menebas habis Pasar Johar. Wali Kota pun tampak memberikan lampu hijau meski masih berlindung di balik alasan revitalisasi. Kawasan Pasar Johar yang terkenal dengan Masjid Kauman dan Alun-alun Semarang pernah menjadi korban proyek serupa.

Akankah bangunan bersejarah, bernilai tinggi, dan menjadi contoh pengembangan bangunan di daerah tropis ini akan tersetip begitu saja digantikan mal modern? Tinggal kita tunggu saja.

Para pemain properti pun mesti memahami tanggung jawab mempertahankan bangunan bersejarah. Tidak elok membongkar bangunan bernilai historis hanya untuk alasan komersial.

Sumber: Kompas, 2 Juni 2006

Ruangan di Museum Bahari Terendam

Mei 16, 2006

Jakarta, Kompas – Sebagian ruangan Museum Bahari yang dibangun tahun 1652 terancam ambruk akibat selalu terendam air pasang. Air laut masuk dari bagian belakang museum di dalam gedung C tempat sejumlah koleksi disimpan.

Dalam pemantauan Kompas, Senin (15/5), terlihat sejumlah perahu koleksi basah akibat air pasang yang menggenangi ruangan. Di balik pagar tempat gedung C berada memang terdapat sebuah kolam yang langsung berhubungan dengan aliran air laut di kawasan Pelabuhan Luar Batang, Jakarta Utara.

Selain genangan akibat pasang laut, air juga meresap ke dalam dinding bangunan kuno tersebut. Sebagian kusen kayu bangunan antik itu juga digerogoti rayap sehingga dikhawatirkan dapat hancur sewaktu-waktu.

Direktur Museum Bahari Dewi Rudiati yang dihubungi menjelaskan, upaya perbaikan telah dilakukan beberapa tahun lalu dengan meninggikan permukaan Museum Bahari. Tetapi pada saat yang sama terjadi peningkatan permukaan air laut sehingga rembesan air tak dapat dicegah.

“Kami berusaha menghubungi museum sejenis di mancanegara untuk tukar pengalaman menghadapi situasi itu. Dalam tahun anggaran 2006 juga diupayakan perbaikan,” kata Dewi

Di bagian depan museum terdapat informasi lengkap yang menarik tentang sejarah pelabuhan-pelabuhan dan budaya maritim di seluruh Indonesia. Sejumlah wisatawan asing terlihat mengunjungi Museum Bahari meski dalam keadaan memprihatinkan.

Roni, seorang pedagang di dekat Museum Bahari, berharap pemerintah menata lalu lintas di depan museum. “Pasti akan lebih banyak orang berkunjung kemari,” katanya. (Ong)

Sumber: Kompas, 16 Mei 2006