Archive for Mei, 2001

Gedung Bersejarah Merana Ditelan Pembangunan

Mei 28, 2001

Ratusan gedung peninggalan pemerintah kolonial Belanda yang ada di Surabaya, kini terancam punah. Padahal, gedung-gedung itu memiliki nilai sejarah dan karya seni tinggi khas kolonialisme. Menurut pengamatan Kompas, Sabtu (26/5), gedung-gedung tua yang terpusat di wilayah Surabaya utara itu dalam kondisi memprihatinkan. Sebagian besar kondisinya sudah rusak. Cat-cat dibiarkan kusam, atap dan dindingnya mulai rusak. Sementara gedung-gedung lainnya, dibiarkan terbengkalai tak berpenghuni. Beberapa di antaranya bahkan sudah dirobohkan.

Seperti gedung-gedung yang terletak di Jalan Karet, Jalan Kembangjepun, Jalan Danakarya, Jalan Gula, dan sebagainya. Gedung-gedung itu dimanfaatkan oleh pemiliknya sebagai toko atau kantor, namun tidak dirawat dengan baik.

Untunglah, ternyata tidak semua gedung merana, karena masih ada gedung-gedung yang dirawat oleh pemiliknya, paling tidak interior dalamnya. Seperti di Gedung Bank Mandiri Jalan Veteran, eks Bank Ekspor Impor, interior dalamnya masih tampak baik dan sempurna. Kayu-kayu jati yang dipakai sebagai jendela dan tangga masih terawat bagus dan digunakan.

Gedung lain yang terawat apik adalah Gedung PT Perkebunan Nasional XI (Persero) yang terletak di Jalan Krembangan Besar. Gedung dengan gaya Art Nouveau itu juga masih mempertahankan interior aslinya.

Egosentris

Pengembangan Kota Surabaya yang hanya berorientasi pada materi dan kepentingan bisnis semata harus dibayar mahal dengan nilai karya seni yang tinggi. Menurut guru besar Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Johan Silas, belum ada niat pemerintah untuk mempertahankan gedung-gedung peninggalan di Surabaya.

Menurut Johan, pemerintah telah merenovasi beberapa gedung tua, namun pemugaran itu justru menghilangkan keasliannya. “Beberapa bagian yang menjadi ciri khas sebuah bangunan malah dihilangkan,” kata Johan Silas yang telah lama mengamati perkembangan Kota Surabaya.

Korban dari pembangunan Kota Surabaya yang tidak dapat menghargai sebuah karya seni antara lain terlihat dari pemugaran Jembatan Merah, Grahadi, Pasar Wonokromo, dan Tugu Pahlawan.

Menurut sejarahnya, Jembatan Merah itu sandarannya terbuat dari besi-besi tempa yang dibuat ornamen dengan tiang-tiang penyangga di bawahnya. Namun, dengan alasan agar bawahnya bisa dilalui kapal keruk tiang-tiang itu dihilangkan. Sementara, besi tempa berornamen yang menghiasi sisi-sisi jembatan juga sudah diganti. “Sekarang semuanya merupakan replika murahan yang dibuat dengan kasar,” kata Johan Silas.

Selain tidak terpelihara, gedung-gedung tua di Surabaya juga banyak yang dieksploitasi untuk kepentingan bisnis. Di antaranya adalah gedung tua yang kini menjadi Hotel Ibis. Bagian asli yang masih dipertahankan hanyalah selapis dinding depan yang masih menampilkan gaya Belanda. Sementara bagian lainnya sudah “dipotong” dan diganti dengan gaya modern. (ind/arn)

Sumber: Kompas, Senin, 28 Mei 2001

Gedung Tua Korban Pembangunan Berorientasi KKN

Mei 28, 2001

Kota Surabaya banyak memiliki peninggalan bersejarah yang merupakan karya seni bernilai tinggi. Yang paling banyak bisa dilihat adalah gedung-gedung tua yang didirikan pada zaman kolonialisme di Kota Buaya itu. Namun, sayangnya banyak sekali gedung-gedung tua yang hampir punah atau terpuruk diterjang pembangunan.

“Gedung-gedung bernilai seni tinggi itu lambat laun akan hilang selama pembangunan yang dilakukan Pemerintah Kota Surabaya masih belum bisa meninggalkan mentalisme KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme-Red),” kata Johan Silas, guru besar Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, Sabtu (26/5).
Johan dengan keras mengecam Pemerintah Kota Surabaya, baik sekarang maupun di masa lampau, yang dalam kebijakan pembangunannya tidak mengindahkan keberadaan gedung-gedung bersejarah itu. Padahal, gedung itu sudah menjadi bagian utuh dari Kota Surabaya.

Menurut Johan, pemerintah memang telah melakukan upaya untuk merenovasi. Namun, dengan renovasi itu justru banyak bagian yang menjadi ciri khas arsitektur menjadi hilang. Pemerintah dianggap “sok tahu” karena merenovasi tanpa melibatkan beberapa ahli arsitektur yang mengerti sejarah.

Ia mencontohkan renovasi yang dilakukan di Perancis. Setiap ada rencana renovasi gedung tua, mereka melibatkan berbagai ahli arsitektur dan sejarah dengan melakukan tender terbuka. Hal itu untuk menjaga keaslian dan keutuhan bangunan. Sementara di Indonesia renovasi dilakukan oleh orang-orang yang dekat dengan pemerintahan. “Padahal, kita banyak memiliki ahli di bidang itu,” kata Johan.

Selain bangunan peninggalan Belanda, Johan mengatakan ada tiga bangunan penting yang patut diselamatkan, yaitu Hotel Olympic, Pasar Wonokromo, dan Tugu Pahlawan. Ketiga bangunan itu merupakan karya arsitektur asli bangsa Indonesia setelah kemerdekaan. Pada waktu itu tidak ada satu arsitek pun di Indonesia yang membuat rancangan untuk menanggapi momentum kemerdekaan, kecuali di Surabaya. (ind)

Sumber: Kompas, Senin, 28 Mei 2001

Konservasi dan Realitas Sosial Kota Indonesia

Mei 27, 2001

Oleh Dr Ing Widjaja Martokusumo

Penghancuran peninggalan sejarah berupa bangunan tua menunjukkan gambaran keprihatinan kegiatan konservasi. Bukan sekadar uang dan pengetahuan, namun dedikasi dan keinginan yang kuat juga menentukan (Kompas, 7 Januari 2001 dan 16 Maret 2001). Ketidakpastian reformasi politik dan krisis ekonomi nasional yang berkepanjangan merupakan saat tepat untuk mengkaji kembali hakikat pemugaran dalam perencanaan dan perancangan kota di Indonesia, sebagai bagian dari usaha pembentukan identitas bangsa.

Sebenarnya sejak tahun 1931, Indonesia, waktu itu Hindia Belanda, telah memiliki Monumenten Ordonantie Nr. 238, yaitu peraturan perlindungan terhadap bangunan lama/bersejarah. Pada tahun 1992, perangkat hukum tersebut direvisi menjadi UU Cagar Budaya Nomor 5/1992. Tetapi, keberadaan UU ini belum menjamin bahwa kegiatan pelestarian dan pemugaran di kota-kota Indonesia berlangsung baik, karena petunjuk pelaksanaan teknis maupun dukungan kebijaksanaan masih dalam proses penggarapan.

Lemahnya penerapan aspek legal dan kurangnya pemahaman mengakibatkan tidak sedikit bangunan tua bersejarah dikorbankan demi pembangunan baru (modernisasi). Di sinilah terjadi konflik kepentingan antara pro dan kontra kegiatan pelestarian/pemugaran. Situasi ini masih diperburuk dengan kurangnya partisipasi dan motivasi masyarakat dalam proses pembentukan lingkungan. Pertanyaan yang dapat diajukan adalah sejauh mana kaitan kegiatan konservasi dengan realitas sosial di Indonesia ?

DALAM era pertumbuhan ekonomi, modernisasi fisik menjadi usaha penyetaraan. Semangat pembebasan dan apa yang disebut minderwertigkeitskomplexe melatarbelakangi proses tersebut. Pada sisi lain, orientasi terhadap tuntutan ekonomi tidak hanya menyebabkan de-orientasi pembangunan fisik, tetapi juga penolakan terhadap konsep serta produk seni bangunan dan seni binakota yang telah terbina, termasuk warisan sejarah dari zaman kolonial.

Dalam kegiatan konservasi sendiri masih terdapat permasalahan mendasar tentang pengertian monumen dan warisan sejarah. Monumen secara terbatas diartikan hanya pada bangunan monumental, candi, tugu ataupun prasasti. Kecuali keraton, istana dan bangunan religius, peninggalan sejarah lainnya yang tidak tergolong dalam kategori grand architecture-sebenarnya juga produk budaya-belum dapat diterima. Dalam diskusi warisan sejarah, pumpunan pengkajian masih terbatas pada warisan budaya dalam bentuk kesenian tradisional, kaligrafi, seni kriya, seni lukis tradisional, dan bahasa daerah/dialek. Sedangkan apresiasi terhadap artefak sejarah dalam konteks seni bangunan maupun kawasan kota sangat terbatas.

Secara empiris, kegiatan konservasi di kebanyakan negara Dunia Ketiga dipelopori dan dilakukan ahli-ahli asing atau sebagian kecil masyarakat berkecukupan yang sempat memperoleh pendidikan langsung/tidak langsung dari Barat (lihat kasus Gedung Arsip Nasional). Meskipun golongan masyarakat ini semakin hari jumlahnya meningkat, tetapi bukan jaminan penyebaran apresiasi terhadap warisan budaya berjalan lancar. Terlebih lagi kegiatan pembangunan fisik perkotaan di Indonesia masih berada pada sekelompok masyarakat tertentu dan bagi mereka bahkan menjadi semacam komoditi. Kondisi ini mengakibatkan timbulnya diskrepansi di dalam struktur masyarakat yang tercermin juga pada sektor pembangunan fisik. Jadi, jelaslah mengapa kegiatan pelestarian dengan segala aspek kulturalnya masih bersifat elitis dan belum memasyarakat.

Realitas sosial seni bangunan Indonesia saat ini berada dalam konteks pembangunan masyarakat industrial baru (era informasi). Hal ini ditandai dengan adanya perubahan mencolok dari masyarakat feodal-agraris menuju masyarakat demokratis-industrial. Struktur sosial budaya yang membentuk nilai dan batasan perancangan arsitekturalnya pun juga masih samar. Di satu pihak, kekaburan ini tidak lepas dari proses modernisasi sikap hidup dan di lain pihak berkaitan erat dengan pertumbuhan ekonomi yang berlangsung pesat namun hanya dinikmati oleh lapisan masyarakat tertentu. Akibatnya terjadi kesenjangan sosial maupun pendapatan yang terus melebar karena struktur pemerataannya tidak dan belum sempat terbangun. Tidak mengherankan apabila pembangunan kelembagaan pun lebih lambat dari pembangunan fisik arsitekturalnya. Adanya diskrepansi dalam struktur masyarakat secara tidak langsung juga menyebabkan sulitnya pengungkapkan apresiasi terhadap warisan budaya umumnya dan terhadap karya seni bangunan/seni binakota khususnya. Hal ini terjadi karena realitas sosial yang mendukung nilai seni bangunan menjadi fragmen yang tidak mudah dikaitkan satu sama lain secara arsitektural.

SEJAK dua dasawarsa terakhir dimulai diskusi pencarian jati diri arsitektur Indonesia. Untuk mencapai tujuan ini sudah sewajarnya bila posisi seni bangunan maupun seni binakota saat ini di Indonesia secara moral dituntut membentuk lingkungan hidup yang bercirikan nuansa regional secara kultural. Hal ini sekaligus diharapkan juga mampu menjembatani kesenjangan antara sektor informal dan formal yang merupakan fenomena realitas seni bangunan.

Karateristik permasalahan seni bangunan ini tidak bertumpu saja pada pencarian “gaya arsitektural” tetapi juga pada pengungkapan kembali konsep arsitektural yang telah ada sebelumnya; khususnya dari khasanah arsitektur tradisional dan kolonial.

Atas dasar pemikiran inilah maka pertimbangan kritis terhadap warisan budaya, khususnya arsitektur tradisional dan kolonial, menjadi sentral. Diperlukan usaha kreatif dalam melestarikan warisan budaya urban tersebut. Nuansa pendidikan dalam mengapresiasi konsep lama dan menginovasi sejarah sebagai acuan untuk mengembangkan konsep baru menjadi hal yang tak terelakkan, seperti dituturkan arsitek Richard Rogers (1988)…In all fields, not least in architecture, it is generally accepted that to learn from the past is the way forward and that history is a prime generator. Proses ini pada hakikatnya merupakan semangat dari konservasi.

Dalam konsep pengungkapan kembali bangunan bersejarah perlu adanya suatu manfaat yang jelas bagi komunitas untuk masa kini dan masa depan. Konservasi harus mampu mengantisipasi dan menjawab permasalahan lingkungan, sehingga kegiatan konservasi bukan hanya untuk mengenang dan membekukan masa lalu.

Sentimental budaya harus dihilangkan karena sebagian dari masa lalu bukan untuk menjadi kenangan, melainkan untuk dijadikan pertimbangan bagi konsep pengembangan lingkungan hidup. Dengan demikian, hakikat dan salah satu tujuan penting konservasi bangunan dan kawasan bersejarah adalah untuk proses belajar dan pengembangan komunitas per se.

Melalui penafsiran sejarah dan apresiasi kritis terhadap warisan budaya urban ini diharapkan komunitas semakin mampu menghargai eksistensi warisan budaya. Dengan penulisan sejarah tentang bangunan dan kawasan lama pula, maka proses apresiasi ini bisa berlangsung.

Realitas sekarang menunjukkan, kegiatan konservasi masih berada pada posisi marjinal. Meski demikian adalah tanggung jawab bersama untuk menginformasikan dan menyosialisasikan kegiatan konservasi dengan pendekatan partisipatif, yaitu melibatkan masyarakat ikut mengartikulasikan permasalahan lingkungan. Partisipasi mengindikasikan suatu bentuk proses perencanaan dan perancangan demokratis. Dengan demikian masyarakat tidak saja diberi kesempatan aktif mengenal, belajar dari lingkungannya, tetapi juga ikut bertanggung jawab.

Akan tetapi, mengingat realitas sosial masyarakat Indonesia, implementasi proses perencanaan dan perancangan masih memerlukan fungsi keperantaraan yang tidak sekadar memberi bantuan teknis, tetapi juga memberi dukungan dan bantuan moral kepada masyarakat serta melindungi hak dan kepentingan mereka. Jadi, fungsi keperantaraan ini diharapkan menjembatani berbagai kepentingan dari para pemangku dalam kegiatan pelestarian/pembangunan, yaitu masyarakat, swasta dan pemerintah.

Seandainya pembentukan identitas nasional diyakini dapat diraih melalui pelestarian kekayaan warisan budaya, maka pembangunan lingkungan binaan seharusnya berangkat dari kenyataan yang ada. Proses pemahaman warisan budaya dan apresiasi makna sejarah didalamnya memerlukan waktu, karena keduanya juga bagian dari proses berbudaya suatu komunitas. Pada akhirnya, konservasi memang merupakan kinerja budaya!

Dr Ing Widjaja Martokusumo, staf pengajar Bidang Keahlian Perancangan Kota, Jurusan Teknik Arsitektur ITB.

Sumber: Harian Kompas, Minggu, 27 Mei 2001

Jejak Multikultural di Banten Lama

Mei 21, 2001

KESULTANAN Banten yang mulai dibangun Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati dari Cirebon pada abad ke-16 dan dilikuidasi Daendels tiga abad kemudian kini tinggal reruntuhan. Namun pada puing-puingnya yang kini terserak di daerah Banten Lama, sekitar 10 kilometer sebelah utara Kota Serang, Provinsi Banten, jejak lintasan sejarahnya yang penuh warna masih tampak segar.

Meski sebuah kesultanan Islam, Banten pernah menjadi sebuah tempat di mana berbagai suku dan bangsa hidup berdampingan dengan damai. Rakyat Banten purba merupakan konglomerasi dari sejumlah komunitas etnik yang memiliki keyakinan yang berbeda-beda, seperti Cina, Arab, Melayu, Eropa dan orang Banten sendiri.

Dengan kata lain, masyarakat Banten tempo dulu adalah sebuah masyarakat yang menjunjung tinggi multikulturalisme, paham yang anehnya justru terasa kian memudar dalam masyarakat Banten masa kini, juga dalam masyarakat Indonesia umumnya.

Sumber: Kompas, Senin, 21 Mei 2001

Malang Dalam Rekaman Lensa

Mei 18, 2001

Mia Fiona, detikcom – Dianns Unibraw, Malang memang sudah tak senyaman dulu. Kota yang terkenal dengan hawa sejuknya ini tak lagi menawarkan kesejukan bagi penghuninya. Panas matahari terasa sangat menyengat kulit, udara terasa pengap dan jalan yang dulu lengang kini sangat padat.

Namun, Malang masih menyimpan cerita tentang tempo doeloe. Malang, sang “Interlaken (Swiss)of Java”, Malang si Paris of Java, dan Malang surganya Jawa Timur masih bisa dirasakan lewat hasil bidikan lensa para fotografer yang tergabung dalam Pameran Foto Refleksi Kota Malang.

Melalui pameran yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Arsitektur (HMA)ITN Malang dan Forum Mahasiswa Arsitektur Malang (FMAM), Jumat (18/5/2001) pengunjung dibawa melintasi waktu, menyaksikan keelokan Malang tempo doeloe. Kota ini pernah menjadi ibu kota kerajaan Kanjuruhan dan Singasari. Bahkan kota dengan ketinggian 455 meter di atas permukaan laut ini, pernah menjadi ibu kota dari Kerajaan Mataram Hindu di bawah Mpu Sindok. Di masa kolonial Malang dijadikan ibu kota karesidenan. Dan sisa-sisa peninggalan kolonial inilah yang coba dihaturkan kepada para
pengunjung pameran.

Ir Herman Thomas Karsten yang sangat berpengaruh dalam arsitektur dan tata kota Malang di zaman kompeni menghadirkan sisi romantis kota dalam setiap rancangannya. Ijen Boulevard yang sekarang menjadi lokasi perumahan elite merupakan sentuhan romantis Karsten di Malang.Di sepanjang jalan ini juga kita masih bisa menyaksikan rumah-rumah bergaya kolonial yang telah dipoles sedikit modern. Misalnya, gereja Theresiakerk (Gereja Santa Theresia)yang dibangun oleh biro arsitek Rijksen en Estourgle tahun 1936.

Gedung Bank Indonesia Malang adalah menjadi saksi bisu betapa bangunan kuno peninggalan Belanda masih tersisa di sudut-sudut kota malang yang padat. Gedung yang berada di pusat pertokoan ini seolah tengah bertahan di antara himpitan zaman yang kian menyingkirkannya. Ketika umumnya di daerah lain BI selalu berdiri minimal 11 lantai, maka BI Malang tetap menggunakan bangunan lama-khas bangunan kolonial dengan pilar dan jendela yang tinggi dan kokoh. Pengembangan hanya terjadi di sekitarnya sementara bangunan utama tetap tidak tersentuh.

Foto-foto ditata sedemikian artistik walaupun jalannya sedikit berkelok-kelok, tetapi para pengunjung seolah tak terlalu menyadarinya. Mereka seakan hanyut dalam tour singkat yang membawa mereka tenggelam dalam rekaman sejarah bangunan-bangunan Malang mulai dari yang hitam putih sampai berwarna.

Foto-foto yang merekam sejarah arsitektur kota Malang ini seolah ingin berbicara bahwa konservasi terhadap peninggalan bersejarah di Malang harus segera dilakukan. Sebab, apabila pemerintah dan masyarakat tidak segera menyadari betapa kayanya Malang akan peninggalan bersejarah maka dikhawatirkan Malang akan kehilangan bukti peradabannya. Bukti-bukti sejarah yang menjadi saksi betapa Malang, Surganya Jawa Timur ini hanya akan menjadi dongeng indah pengantar tidur bagi generasi yang akan datang. Ironisnya, ini terjadi karena kita bangsa bersejarah yang tak bisa menghargai sejarah.

Sumber: Detikcom, Jumat, 18 Mei 2001