Archive for November, 2000

Revitalisasi Kota Tua Jakarta

November 22, 2000

Oleh: Widjaja Martokusumo

Pada 26-27 Oktober lalu, berlangsung di Jakarta sebuah Simposium Internasional Revitalisasi Jakarta Kota. Permasalahan revitalisasi kawasan kota tua Jakarta dibahas dari berbagai sudut pandang, mulai dari potensi kesejarahannya, studi perbandingan dengan kasus sejenis dari mancanegara, pendekatan komersial dalam merevitalisasi kawasan hingga kepada peranan museum pada kawasan tersebut. Menarik untuk dicermati adalah adanya semangat dan nuansa ‘baru’ dalam menentukan common goal-nya.

Sebenarnya usaha revitalisasi telah beberapa kali digelar. Usaha pertama untuk melestarikan kawasan tua Jakarta yang sarat dengan bangunan kolonial dan artefak sejarah (hampir mendekati 120 bangunan, Kompas, 30/10 2000) dimulai sejak 27 tahun yang silam. Gagasan menghadirkan kembali tapak sejarah bangsa Indonesia, diwujudkan dengan usaha menjadikan kawasan Kota Tua Jakarta sebagai kawasan museum (museum district) dengan memanfaatkan gedung peninggalan VOC. Namun karena keterbatasan sumber daya jumlah usaha tersebut hanya mampu melestarikan sebagian kecil dari artefak urban yang ada, misalnya Museum Bahari, Museum Fatahillah, Museum Seni Rupa.

Dari seluruh rangkaian kegiatan terlihat bahwa kegiatan revitalisasi masih menonjolkan gagasan konservasi sebagai suatu pendekatan mutlak. Suatu pemikiran tentang kawasan tua Jakarta Kota sebagai sebuah milieu yang utuh belum ada. Hal ini semakin jelas dengan pemisahan wilayah administratif dan terjadinya fragmentasi kawasan tua Kota Jakarta oleh pembangunan jalan layang.

Kini kawasan Jakarta Kota masih dihimpit berbagai masalah lingkungan, seperti kerawanan dan keamanan, masalah kemacetan, akibat penambahan jumlah kendaraan, masalah ekologi, penghancuran bangunan bersejarah dan kebijakan peraturan pembangunan. Sehingga jika disimpulkan sementara, isu lingkungan di kawasan Jakarta Kota tidak saja sekadar persoalan arsitektural dan bentuk, namun juga menyangkut aspek ekologi dan sosial.

Pengertian konservasi adalah pengelolaan manusia atas pemanfaatan organisme atau ekosistem sedemikian agar pemanfaatan atau pemakaian yang bersangkutan berkelanjutan. Sejatinya konservasi bukan hanya merupakan upaya pemeliharaan semata-mata, namun harus mengakomodasikan dan menyertakan kehidupan baru yang sesuai bagi kebutuhan masyarakat dalam bentuk penyertaan potensi masyarakat dan fungsi aktivitas baru. Dengan kata lain konservasi atau pemugaran bukanlah anti pembangunan (perubahan).

Di Indonesia wacana konservasi masih terbatas pada usaha pelestarian dan pemugaran bangunan ataupun lingkungan bersejarah, meskipun sebenarnya isu manajemen lingkungan dan pembangunan kota juga sangat kental. Pelestarian nilai bangunan bersejarah kini telah diyakini sebagai suatu tuntutan bagi kota-kota besar berbudaya. Sebagai langkah penyelamatan Pemda DKI Jakarta telah mengeluarkan kebijaksanaan tentang pemanfaatan bangunan tersebut dengan program pemugaran (Perda No. 9/1999). Usaha ini patut mendapat pujian. Namun sebuah kenyataan bahwa kegiatan konservasi bangunan dan lingkungan bersejarah di Indonesia masih menghadapi kendala.

Pertama, hanya sebagian kelompok masyarakat yang bisa memahami gagasan konservasi yang sementara ini memang masih elitis, terutama sekali mereka yang pernah mengenyam pendidikan barat. Kedua, adanya kecenderungan dari pihak institusi terkait untuk melihat tapak dan bangunan (topos) sebagai suatu barang komoditas. Dan ketiga, kondisi bangunan dan lingkungan per se yang relatif mudah rusak mengingat faktor iklim dan kondisi geografis lingkungan.

Padahal dalam menentukan nasib kawasan tersebut, ada beberapa catatan yang perlu dicermati. Antara lain permasalahan pada kawasan kota tua ini bukan saja hanya persoalan arsitektur. Jadi bukan sekadar persoalan penciptaan beautiful place belaka tetapi lebih kepada interesting place. Sehingga perlu dikembangkan suatu pemikiran holistis yang berangkat dari permasalahan lingkungan yang paling aktual.

Selain itu, pendekatan self-regulation yang lebih mengedepankan isu-isu utama pada lingkungan tersebut bisa menjadi awal dari usaha revitalisasi kawasan. Kegiatan itu dimulai dengan konsentrasi pada daerah hunian di kawasan Kota Tua Jakarta, yang selama ini jauh dari jangkauan usaha perbaikan nyata. Usaha pemberdayaan masyarakat setempat, termasuk instansi terkaitnya, diharapkan akan tumbuh sebuah kesadaran umum, yang selanjutnya dapat menimbulkan rasa tanggung jawab dan sadar lingkungan.

Intinya adalah, masyarakat mampu mengartikulasikan aspirasinya. Ketika kesadaran masyarakat telah tumbuh, pada saat itulah ide konservasi lingkungan bisa secara paralel digandengkan. Jadi, yang perlu diperkenalkan lebih awal sebenarnya bukan ide konservasinya, namun isu pembentukan lingkungan yang baik, yang memiliki kontribusi nyata bagi warga setempat.

Sehingga selain political will yang kuat diperlukan sosialisasi untuk mengajak warga setempat dan masyarakat pemerhati dalam mengenal lingkungannya. Pendekatan awal ini mutlak, mengingat struktur sosial masyarakat urban Indonesia yang heterogen. Pengalaman empiris mengatakan bahwa kegiatan konservasi dalam perencanaan kota, bukanlah sesuatu yang lahir begitu saja.

Akhirnya sebagai sebuah kerja budaya, konservasi kawasan Kota Tua Jakarta akan harus menyinggung permasalahan sosial, ekologi dan arsitektural. Permasalahan berikutnya adalah bagaimana mengakomodasi permasalahan sosial, ekologi serta aspek terkait lainnya melalui kegiatan pelestarian. Meminjam istilah K Kurokawa (1995), pendekatan ini merujuk kepada sebuah pergeseran paradigma dari anthropocemrism kepada ecology, menuju sebuah symbiosis of values and norm.

Sebagai konsekuensi logis, para arsitek dan perencana ataupun penentu kebijakan kota, perlu memiliki wawasan ekstra dan kepekaan terhadap isu-isu sosial dan ekologi dalam pembentukan lingkungan binaan.

(Dr-Ing Widjaja Martokusumo, Pusat Studi Urban Desain Jurusan Teknik Arsitektur, Institut Teknologi Bandung )

Sumber: Kompas, 22 November 2000

Iklan

Sebagian Ruas Ijen Sulit Dipertahankan

November 20, 2000

Pembangunan yang tak terkendali membuat sebagian ruas Jalan Ijen sulit dipertahankan kelestariannya. Sepanjang 750 meter di sisi kanan-kiri Jalan Ijen telanjur berdiri bangunan-bangunan dengan berbagai ragam arsitektur yang sama sekali tidak memperhitungkan segi-segi historis.

Meski demikian khusus ruas Idjen Boulevard sampai kini perkembangannya masih terkendali. Arsitektur perumahan di sekitarnya dinilai masih cukup ramah terhadap keindahan taman.

“Tapi dari Jalan Pahlawan Trip sampai ke perempatan Jalan Bandung, ruas Ijen sudah sulit dipertahankan. Di situ sudah berdiri banyak bangunan yang tidak mengindahkan arsitektur baru,” ujar Sekretaris Komisi D DPRD Kota Malang Ir Sofyan Edi Jarwoko, kepada Kompas, Minggu (19/11) di Malang.

Sejak lama sebagian ruas Jalan Ijen sudah berkembang menjadi pusat bisnis dan pendidikan, sehingga tidak bisa lagi dipertahankan sebagai kawasan permukiman. Bangunan-bangunan yang ada pun sudah menggunakan konstruksi bertingkat dengan beton-beton bertulang. “Ini sudah sulit kita pertahankan,” katanya.

Kajian akademisi

Edi Jarwoko mengatakan saat ini yang terpenting adalah melakukan pengkajian ulang terhadap surat edaran Wali kota Malang perihal kawasan Idjen Boulevard. “Sekarang, kan, mesti sudah ada kondisi-kondisi aktual yang mesti diperhatikan,” katanya.

Kawasan Idjen Boulevard dirancang oleh arsitek berkebangsaan Belanda Ir Herman Thomas Karsten sekitar tahun 1922. Di kawasan itu dulu menjadi daerah permukiman orang-orang Eropa dengan bangunan-bangunan berarsitektur zaman kolonial. Kawasan ini pernah menjadi kawasan paling indah di Hindia Belanda.

Edi Jarwoko mengatakan arsitektur merupakan persoalan yang berkembang. “Namun ‘kan ada arsitektur baku yang harus diacu, seperti misalnya tak boleh membangun gedung bertingkat dan harus beratap genteng,” katanya sembari menambahkan sampai kini arsitektur di Idjen Boulevard masih cukup terkendali.

Ketua Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (Unibraw) Dr Ir Antariksa mengatakan Pemkot Malang harus segera melakukan pengkajian terhadap berbagai bangunan peninggalan kolonial yang masih ada. Hal tersebut diperlukan guna melakukan identifikasi bangunan-bangunan yang pantas dipertahankan dan yang boleh ditiadakan.

Antariksa mengakui bahwa arsitektur terus berkembang. Namun, ia mengingatkan jangan sampai kelenturan itu justru menghapus nilai sejarah arsitektur bangunan-bangunan yang peninggalan. (can)

Sumber: Kompas, Senin, 20 November 2000

“Gedung Kelelawar” di Kota Tua Semarang

November 19, 2000

JIKA Singapura bisa memiliki dan mempertahankan kawasannya yang disebut Little India, China Town dan Kampung Melayu sebagai salah satu obyek wisata menarik, mengapa Semarang tidak? Seperti di negara tetangga tersebut, Semarang memiliki Kota Tua yang tidak kalah menariknya dibanding Little India, China Town dan Kampung Melayu.

Dilihat dari jumlah bangunan dan bentuknya, Kota Tua jauh lebih besar. Bangunan-bangunan tua tersebut berumur lebih dari satu abad, bahkan sudah mendekati dua setengah abad. Gereja Blenduk yang merupakan bangunan tertua di kawasan itu misalnya, dibangun pada tahun 1753 di zaman pendeta Johanennes Wihelmus Swemmelaar.

Gereja dengan kubahnya yang unik ini konon pernah limbung. Pondasi bangunannya di bagian timur sempat ambles beberapa sentimeter sehingga dikhawatirkan akan menganggu konstruksi seluruh bangunan. Untung kemudian hal itu bisa diatasi dengan melakukan perbaikan, sehingga kekhawatiran kerusakan lebih parah bisa dihindarkan.

Akan tetapi hal itu bukanlah satu-satunya persoalan yang dihadapi Pemda Kota Semarang dalam menjaga salah satu ciri khas yang dimilikinya. Kota Tua menyimpan sejumlah bangunan tua lainnya yang kini kelihatan makin rapuh. Di beberapa tempat tampak bagian tembok mulai jebol dan pintu-pintu bangunan yang terbuat dari kayu jati kelas satu sudah mulai dimakan pelapukan akibat kurang perawatan.
***
SEMARANG memang merupakan contoh menarik sebagai daerah pantai yang dirancang pemerintah kolonial Belanda sebagai kota pelabuhan dan perdagangan yang dibangun di wilayah bagian utara. Sedangkan wilayah selatan yang merupakan daerah berbukit-bukit dirancang sebagai kawasan hunian dan peristirahatan.

Kota Tua yang memiliki sekitar 80 bangunan tua yang sebagian besar dibangun pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, terletak di wilayah bagian utara. Dari ketinggian bukit-bukit di bagian selatan, setiap orang bisa menikmati keindahan Kota Tua dengan latar belakang Pelabuhan Tanjung Mas dan Laut Jawa. Kerlap-kerlip lampu kota dan lampu pelabuhan kelihatan di malam hari.

Kini setelah lebih dari satu abad, perkembangan kota sudah sangat lain. Stasiun Jurnatan yang dikenal sebagai stasiun sentral sekaligus stasiun tertua, sudah tidak ada lagi. Di atas daerah yang dulunya merupakan stasiun yang menghubungkan Semarang dengan Jomblangbulu itu, kini berderet bangunan pertokoan.

Menyadari kekeliruannya, Pemda Kota Semarang kemudian berusaha mempertahankan bangunan tua lainnya, terutama yang terletak di seputar Kota Lama. Bangunan itu bukan hanya memiliki nilai estetika tinggi, tetapi juga merupakan aset kota yang sekaligus mempunyai nilai budaya dan ekonomi.

Bagi wisatawan, terutama mereka yang berasal dari luar negeri, Kota Tua mempunyai daya pikat tersendiri. Mereka bisa berjalan menyusuri Jalan Letjen Suprapto yang membelah Kota Tua serta jalan-jalan yang lebih kecil di kiri kanannya seraya menikmati bangunan tua di kiri-kanannya. Bahkan bagi wisatawan dari Negeri Belanda, perjalanan mengelilingi Kota Tua merupakan catatan tersendiri yang merupakan nostalgia menyusuri “jalan kenangan”.

Untuk membedakan jalan di “Kota Tua” dengan jalan di sekitarnya, aspal jalan “Kota Tua” ditutup paving block. Selain mengesankan lebih artistik, tinggi badan jalan bisa lebih tinggi sehingga mengurangi kemungkinan ancaman banjir yang sudah menjadi bencana rutin kota Semarang.
***
SAYANG, keindahan itu harus punya beban kondisi bangunan-bangunannya yang memprihatinkan serta hiruk-pikuk arus lalulintas kendaraan. Terutama pada siang hari, arus kendaraan hampir tak pernah henti sehingga bisa menimbulkan getaran yang mengganggu kestabilan bangunan, di samping sangat menganggu para pejalan kaki.

Namun, ancaman paling berat selama ini adalah akibat kurangnya perawatan. Bangunan-bangunan Kota Tua umumnya merupakan bangunan besar berlantai dua. Kecuali beberapa instansi atau perusahaan tertentu, seperti PT Telkom, Kantor Pos, PT Asuransi Jiwasraya, sebagian besar bangunan lainnya digunakan oleh lebih dari satu perusahaan. Bahkan ada di antaranya yang menggunakan satu bangunan lebih dari satu perusahaan atau kegiatan usaha.

Ada yang menggunakan sebagai cabang kantor dagang, kantor pelayaran, kantor notaris dan pengacara serta kantor-kantor lainnya. Kemampuan kegiatan usaha tersebut tidak sama. Bahkan karena skala usahanya tergolong kecil, mereka hanya mampu membayar sewa tanpa bisa melakukan perawatan, apalagi perbaikan.
Akibatnya, sebagian besar kondisi bangunan Kota Tua mengalami kerusakan. Genting-genting yang bocor dibiarkan sehingga air menggenangi lantai dan mempercepat proses kerusakan bahan bangunan. Bangunan lantai dua yang terakhir digunakan PT Perkebunan XV misalnya, dibangun tahun 1887. Tanggal 17 Agustus 1974 bangunan tersebut diresmikan pemakaiannya setelah mengalami renovasi. Namun sejalan dengan perubahan di lingkungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut, kini sebagian besar ruang dari gedung tersebut dan gedung-gedung lainnya, dalam keadaan kosong.

Tembok luar bangunan yang terletak di bagian paling atas, sudah ditumbuhi tanaman liar. Akar-akarnya mencengkeram, merusak tembok bangunan. Penderitaan bangunan itu makin lengkap jika turun hujan. Pada siang hari, ruang kosong yang terletak di bawah genting dan langit-langit bangunan dijadikan sarang ratusan ribu kelelawar sehingga gedung tersebut dijuluki “Gedung Kelelawar”.

Nasib yang tidak jauh berbeda, bahkan lebih parah lagi dialami sejumlah bangunan-bangunan tua lainnya. Tembok-temboknya dibiarkan terkelupas dan batu-batanya mulai lepas. Kayu-kayu bangunan yang terbuat dari jati atau kayu pilihan lainnya sudah mulai dimakan aus akibat terendam air pada setiap turun hujan.
Di luar Kota Tua, bangunan tua yang megah Lawang Sewu yang menjadi ciri khas kota Semarang kini mulai kehilangan pamor. Bangunan tersebut dirancang dengan arsitektur modern, merupakan karya Prof Klinkkmaer dan Quendaq.

Seperti halnya di daerah-daerah lain, ancaman paling besar terhadap bangunan-bangunan tua di kota ini berasal proses waktu yang memakan kekuatan bangunan itu sendiri. Adanya serangan air hujan hanyalah salah satu sebab, di samping terik matahari yang menjadi faktor penyebab yang bisa mempercepat proses kerapuhan bangunan secara alami.

Apalagi jika pemerintah kota tidak mampu mengendalikan banjir yang kini sudah menjadi langganan rutin wilayah utara Semarang pada setiap musim hujan. Dengan kurangnya perawatan, seberapa lamakah kekayaan yang mempunyai nilai budaya dan ekonomi itu bisa bertahan? (Her Suganda)

Sumber: Kompas, Minggu, 19 November 2000