Archive for Desember, 1999

Gereja Puh Sarang yang Berwarna Jawa

Desember 24, 1999

Suasana di gereja Desa Puh Sarang, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, malam itu begitu takzimnya. Lamat-lamat pula terdengar tetabuhan gamelan Jawa dari arah gedung serbaguna gereja. Suara koor gerejani dalam bahasa Jawa mengalun diiringi gamelan Jawa.

Saat Jumat Legi kemarin, jalan desa itu dipenuhi kendaraan penziarah dari luar kota. Sekitar 3.000-an orang umat Katolik datang ke sini, berziarah, berdoa di depan Gua Bunda Maria Lourdes. Diperkirakan 9.000 – 10.000 orang akan hadir dalam upacara besar “Pembukaan Jubileum Agung Tahun 2000” di wilayah Keuskupan Surabaya, yang akan diselenggarakan di Puh Sarang, Minggu, 26 Desember 1999 ini. Perhatian utamanya bakal tertumpu ke gereja antik Puh Sarang yang dibangun tahun 1936 oleh seorang arsitek antropolog pengagum kebudayaan Majapahit. Arsitekturnya berpola inkulturasi (penyerapan budaya lokal) Hindu Jawa.

PUH Sarang adalah nama sebuah desa yang berada wilayah Kecamatan Semen, terletak di sekitar 10 km arah tenggara kota Kediri. Pohon Kepuh, tampaknya merupakan asal nama ini. Posisinya berada di lereng timur Gunung Klotok, Kompleks Pegunungan Wilis, berupa kawasan berkontur, berudara dingin, dan batu menjadi kekayaan desa ini. Sungai Kadek yang melewati Puh Sarang dipenuhi batu, sehingga batu kemudian menjadi mata pencaharian kedua, selain sawah. “Orang sini hidup dari memecah batu. Saking banyaknya batu, harga batu untuk bangunan bisa lebih murah daripada harga batu bata),” tutur Rudi, (25), pemecah batu, juga kuli bangunan. Seorang laki-laki dengan tenaga penuh sesiangan bisa memukul pecah batu hingga 20 cikrak sehari, Itu berarti penghasilan mereka sekitar Rp 15.000 – Rp 20.000 sehari.

GEREJA Puh Sarang menarik karena fisik bangunan gerejanya. Arsitekturnya sengaja dibikin setengah mirip dengan candi-candi Jawa Hindu di Jatim dan Jateng kuno. Keunikan itu tampaknya muncul disebabkan oleh pilihan metode dakwah pendirinya, Pastor Wolters CM, dibantu seorang antropolog arsitektur Ir Henricus Maclaine Pont.

Gereja berusaha melakukan inkulturasi, proses pada saat mana kebudayaan lokal diserap untuk memahamkan ajaran gereja komunitas lokalnya. Puh Sarang didirikan sebagai gereja inkulturasi dengan pendasaran pada filsafat Hindu-Jawa.

Ketua Stasi Puh Sarang Mbah Tukiman (70-an), memiliki sebuah copy tulisan anonim yang tampaknya merupakan hasil sebuah riset akademis sejarah Puh sarang. Terekam disitu, bahwa sejak semula Pastor Wolter mengonsep gereja Puh Sarang ini sebagai sebuah “Gereja Hindu Jawa”. Harapan Wolters sesuai dengan obsesi Maclaine dan pengetahuannya yang dalam tentang situs Majapahit di Trowulan, sehingga Puh Sarang didesain dengan konsep Hindu-Jawa itu.

Paul Jansen, stasi Puh Sarang tahun 1950-an menjelaskan, betapa inkulturasi bentuk bangunan gereja sebagaimana Puh Sarang, tetap perlu di masa itu. Proses inkulturasi itu, dalam sejarah Puh Sarang bahkan sudah makin jauh, antara lain dengan menggunakan tarian Jawa meskipun kemudian ditolak oleh umat.

Puh Sarang masa kini sudah makin berkembang secara fisik. Gereja membeli berhektar-hektar tanah penduduk setempat. Warga setempat yang juga umat tentu saja memberikan karena selain gereja membeli dengan harga tiga kali lipat harga pasar, juga karena warga juga rela tanahnya digunakan untuk kepentingan pelayanan. Maklum penghasilan warga cuma pemecah batu kali, dan gereja juga menyediakan tanah pengganti.

Keuskupan Surabaya juga merestui pembangunan Gua Bunda Maria Lourdes yang megah lengkap dengan plaza tempat permenungan yang bisa menampung ribuan orang. Di situ pun dibangun replika jalan salib Golgota, pondok-pondok Rosario yang nantinya akan diresmikan pada Upacara besar Pembukaan Jubileum Agung tahun 2000 itu tadi. Tidak heran jika Puh Sarang kini berkembang menjadi daerah tujuan wisata baru. Tanah-tanah sekitar lokasi Puh Sarang kini harganya melonjak karena datangnya pembeli tanah dari Jakarta, yang merencakan hendak membangun penginapan-penginapan.

Begitulah, proses inkulturasi itu kini menemukan bentuk barunya, berupa reproduksi simbol spiritual, dan bahkan peluang bisnis penginapan, selain tambahan penghasilan penduduk menjaga penitipan sepeda. (ody)

Sumber: Harian Kompas, Jumat, 24 Desember 1999