Archive for Oktober, 2002

LINDETEVES

Oktober 27, 2002

Pasar Hayam Wuruk Indah (HWI) dahulu bernama Lindeteves. Lokasi ini termasuk yang dilewati peserta acara Wisata Kampong Toea, Museum Sejarah Jakarta.

Tak kenal maka tak sayang. Itu sih kata pepatah lama, tapi ada benarnya juga deh. Selama ini kamu yang tinggal di Jakarta pasti cuma tahu sedikit wajah tempo dulu kota yang supersibuk ini. Atau malah nggak tahu sama sekali. Gimana mau sayang sama Ibukota ini kalau sejarahnya saja kita nggak tahu. Padahal, ada banyak hal yang menarik buat dipelajari dari menelusuri kisah-kisah lama itu. Pastinya sih, kapasitas memori dan pengetahuan sejarah kita bakal ter-upgrade.

Buat nambah pengetahuan kita tentang sejarah Jakarta, Museum Sejarah Jakarta ngadain acara yang namanya “Wisata Kampong Toea”. Acara seru ini digelar pada hari minggu ketiga tiap bulannya. Sudah empat kali bergulir. Tujuan wisatanya juga selalu berpindah-pindah.

Menurut Pak Rafael Nadapdap SE dari Museum Sejarah Jakarta, ide awal acara ini muncul dari pihak museum sendiri. Mereka pengen nunjukin kepada masyarakat bahwa ada banyak tempat yang bernilai sejarah di tengah kehidupan Ibukota. Ironisnya, itu tadi, nggak semua masyarakat sadar dan kenal dengan bangunan-bangunan itu. Sayang kan.

“Benda-benda bersejarah di Jakarta ini kan banyak. Dan nggak mungkin semuanya bisa dipindah ke museum. Apalagi yang bentuknya berupa bangunan entah itu gedung, masjid, gereja atau rumah tinggal. Jadi, mana bisa dimasukkan ke museum. Nah, biar lebih gampang kenapa nggak pengunjungnya saja kita ajak main ke tempat-tempat tadi,” papar Kepala Seksi Edukasi Museum Sejarah Jakarta ini panjang lebar.

Pertama kali diadakan, lokasi wisata yang dipilih adalah Jalan Pecah Kulit, di daerah Pangeran Jayakarta dan Gereja Sion. Kalau kata Pak Isa Ansyari SS, nama jalan ini diambil dari peristiwa penyiksaan seorang Jerman yang bernama Pieter Elbervelt. Dia ini dianggap berkhianat pada pemerintah kolonial Belanda. Ih, siksaannya sadis banget deh. Si Pieter ini ditarik kuda dari empat arah berlawanan sampai kulitnya pecah. “Kepalanya Pieter ini dipenggal terus ditancap di tiang,” cerita Pak Isa.

Terus Tambah

Sejak acara pertama dijalanin, pesertanya nambah terus. Malahan makin ke belakang didominasi sama anak-anak muda. Hebat kan. Sebab museum juga gencar promosiin acara keren ini. Caranya lewat woro-woro dari mulut ke mulut nyampe ngundang media.

“Sasaran kami memang anak-anak muda. Tujuannya agar mereka kenal dengan sejarah Kota Jakarta. Jangan sampai generasi muda ini cuek sama yang namanya sejarah itu. Lagi pula harga tiketnya juga murah, cuma sepuluh ribu,” tambah Pak Rafael setengah promosi. Dari catatan panitia, jumlah peserta wisata Kampong Toea ini pernah menembus angka seratus orang.

Pada acara yang kelima ini, kita akan diajak menyusuri bekas kanal (saluran air buatan manusia) yang namanya molenvliet. “Kanal ini dibangun pada abad 17. Yang menggalinya orang-orang Tionghoa tahun 1648,” ungkap Pak David Kwa Kian Hauw, guide acara ini yang kaya dengan sejarah Jakarta. Ide pembuatan kanal ini sendiri digagas Kapitein der Chineezen Phoa Beng Gam, seorang pemuka masyarakat Tionghoa pada masa itu. O, iya kata Pak David, molenvliet ini asalnya dari gabungan kata molen dan vliet. Yang kalo diartiin masing-masing, penggilingan dan sungai kecil.

“Awalnya kanal ini dibuat untuk menghanyutkan kayu bagi pembuatan kapal dan bahan bangunan ke benteng Batavia. Kayu-kayu itu asalnya dari hutan-hutan di daerah selatan, yaitu sekitar Tanah Abang,” terang Pak David kepada para peserta acara dengan semangat. Namun pada akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18, molenvliet juga dipakai untuk mengirim pasokan bagi penggilingan tebu dan pabrik mesiu yang berkembang di selatan Batavia. “Nama molenvliet mulai dipakai sejak 1661, ketika operasi kanal diambil alih Belanda dari kapitein Phoa.”

Dibagi Kelompok

Sebelum berangkat, peserta acara berkumpul di Museum Sejarah. Jam delapan lewat sedikit, mereka dapat pengarahan dari Pak Rafael. Lalu dilanjutkan dengan pembagian kelompok. Masing-masing kelompok dapat satu orang tour guide. Hampir seluruh tour guide ini adalah teman-teman relawan Museum Sejarah Jakarta.

Waktu jarum jam sudah nunjukin setengah sembilan pagi, kelompok pertama mulai berjalan keluar museum. Arahnya ke stasiun kota. sebelum nyampe di stasiun itu, peserta melewati sebuah jalan yang namanya jalan Pos Kota. “Dulu jalan ini dihuni sama orang-orang kaya. Rumahnya besar-besar,” kata Pak David.

Pas nyampe di depan stasiun Kota, Pak David ngelanjutin cerita, “Kereta api ada di Batavia sejak 6 April 1875. Rutenya, Tanjung Priok – Kota dan Tanjung Priok – Gambir. Stasiun Kota sendiri dibangun pada tahun 1925. Dari pertama kali dibangun sampai sekarang, bentuk stasiun nggak ada yang berubah.”

Puas ngedengerin keterangan sejarah dari Pak David sambil ngelihat bentuk luar stasiun Kota, perjalanan diteruskan dengan menyusuri jalan Pintu Besar Selatan. Nama jalan ini juga ada ceritanya.

“Dulu Batavia ini dikelilingi tembok dan ada pintu gerbangnya yang namanya Pintu Baru atau nieuw port. Nah, yang kita injak ini bagian selatannya. Karena itu disebut Pintu Besar Selatan.” Dari Jalan Pintu Besar Selatan ini perjalanan diteruskan sampai Jalan Hayam Wuruk.

Kemudian berputar balik sebelum kembali ke Museum Sejarah. Selama itu Pak David dan teman-teman relawan terus ngasih peserta dengan segudang kisah tempo dulu. Karena dikemas dengan gaya yang santai, teman-teman peserta malah makin cepat tanggap dan mencernanya.

Buktinya, saat menyimak cerita yang dilontarkan Pak David itu, hati ini segera tergelitik. Ternyata ada banyak bangunan dan tempat bersejarah yang rusak karena dilindas kepentingan segelintir orang.

Contoh paling gampang, gedung Candra Naya. Nasib gedung ini begitu amat menyiksa hati. Gimana nggak, gedung yang pernah dipakai Sin Ming Hui atau Perhimpunan Sinar Baru pada tahun 1946 itu kondisinya tak terawat.

Tanah dan gedung Candra Naya sudah dibeli oleh salah satu raksasa bisnis negeri ini. Mereka berencana ngebangun dua pencakar langit yang berfungsi sebagai pusat belanja dan apartemen.

Tapi karena kepentok krismon, dua bangunan modern itu mandek di tengah jalan. Jadi kalau kamu lihat sekarang ini, Candra Naya nyelip di antara dua pencakar yang belum selesai dibangun itu. Nah, kalau sudah begini, siapa yang salah? (DIAH RAHAYUNINGSIH)

Sumber: Suara Pembaharuan, 27 Oktober 2002

Lourdes di Kaki Gunung Wilis

Oktober 18, 2002

Wisata alam memang mampu memberikan kepuasan batin. Tapi kadang orang merasa perlu untuk menikmati sesuatu yang memiliki nilai religi atau keagamaan. Hal itulah yang tersedia di Gereja Puh Sarang di Kediri.

Gereja Puh Sarang memiliki pesona tersendiri dibanding gereja pada umumnya. Secara fisik bangunan gereja ini bergaya Jawa dan terletak di kaki Pegunungan Wilis. Gereja ini dibangun pada tahun 1935-1937 dan sudah beberapa kali direnovansi. Kini, batang-batang kayu rangka utama atap telah diganti baja dengan tetap mempertahankan bentuk aslinya.

Gaya bangunan Jawa kuno yang unik dimiliki gereja ini merupakan karya terakhir arsitek kelahiran Jatinegara, Henri Maclaine Pont (1884-1971). Mengapa unik ? Karena tinggal satu-satunya artefak inilah yang merupakan eksperimen arsitek dalam menafsirkan atap arsitektur Jawa sebagai sebuah tenda. Selain itu, kalau dilihat dari jauh, Gereja Puh Sarang mirip perahu (bahtera Nuh). Tapi juga tampak seperti, bentuk rumah adat Minangkabau atau rumah yang biasa dipakai orang Batak Toba.

Mirip Candi
Selebihnya, keindahan Gereja Puh Sarang justru terletak dalam bagian interiornya yang unik. Altar dibuat dari batu massif yang beratnya 7 ton dan berpahat gambar rusa yang melambangkan mereka yang telah dibaptis dan calon baptis (katekumen). Begitulah gambaran umum bentuk fisik bangunan utama dari komplek Gereja Puh Sarang.

Komplek Gereja Puh Sarang ini cukup luas. Masuk gerbang utama pengunjung dapat menikmati beberapa gapura dibuat dari batu kali yang mengingatkan irama yang ada pada candi-candi Majapahit. Beberapa bagian lain, termasuk altar gereja, dibuat dari bahan bata merah. Di luar gereja, di antara tembok-tembok batu, dipasang relief-relief dari bata merah, menceritakan penderitaan Kristus dalam perjalanan menuju penyaliban.

Kemudian sambil melintasi jalan sedikit menurun terdapat bangunan Pendopo Emaus atau gedung serba guna. Bangunan ini setiap hari Minggu digunakan untuk melakukan misa dan rapat atau pertemuan lainnya yang berhubungan dengan kegiatan keagamaan. Tepat di samping Pendopo Emaus terdapat Gua Maria Kedua (karena ukurannya kecil dibandingan dengan gua Maria Lourdes). Gua Maria ini dibuat oleh Romo Emilio Rossi, CM pada tahun 1986 di mana terlihat Bernadett sedang berlutut di hadapan Bunda Maria. Menyatu dengan gua ini juga dimakamkan Romo Emilio yang meninggal pada tahun 1999.

Replika Lourdes
Sekitar 100 meter dari Pendopo Emaus terdapat Gua Maria Lourdes. Sepanjang jalan menuju gua, pengunjung akan melintasi deretan pedagang suvenir yang menawarkan berbagai produk, seperti patung, lukisan maupun berbagai pernik hiasan yang berhiaskan gambar Yesus Kristus. Berbagai cinderamata itu ditawarkan dari harga Rp 5 ribu hingga ratusan ribu. Tapi jika sekadar membawa oleh-oleh biasanya pengunjung justru membeli jerigen untuk tempat air dari sumber air di sekitar Gua Maria Lourdes yang diyakini memiliki berbagai khasiat.

Gua yang dibangun pada 11 Oktober 1998 ini merupakan replika Gua Maria Lourdes di Perancis dengan tinggi 18 meter dan lebar 17 meter. Resmi digunakan pada tanggal 2 Mei 1999 meski bangunan gua baru selesai 40 persen. Di sebelah timur gua terdapat patung Pieta di mana digambarkan Bunda Maria sedang memangku Yesus. Patung Pieta ini mengingatkan kita akan patung serupa yang terdapat di Basilika St. Petrus, Roma.

Tepat di depan Gua Maria Lourdes terdapat tanah lapang yang cukup luas untuk menampung jamaah yang melakukan berbagai kegiatan keagamaan. Uskup Surabaya saat itu. Mgr. Johanes Klosster, CM, pada 26 Desember1999 menetapkan Gereja Puh Sarang sebagai salah satu tempat ziarah resmi Keuskupan Surabaya.

Meski begitu seiring perkembangan waktu peziarah yang datang tidak hanya datang dari Keuskupan Surabaya (Jawa Timur) tapi juga dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Salah satu daya tarik bari para peziarah bukan hanya bentuk gua dan komplek gereja, tapi juga karena keberadaan 12 pancuran air yang melambangkan 12 rasul Yesus. Jika diminum, diyakini sumber air yang berasal dari dalam “perut” gua ini akan memberi kesegaran jasmani Memang belum ada penyelidikan atau penelitian resmi mengenai ini, tapi yang terpenting merasa terbantu dalam devosinya kepada Bunda Maria.

Budaya Lokal
Saat SENIOR berkunjung bulan Juni lalu, Gua Lourdres sangat ramai dikunjungi peziarah karena bertepatan dengan diadakannya Doa Novena. Acara ini juga merupakan rutinitas yang diadakan sejak tahun 1994. Doa sembilan kali ini biasanya dimulai bulan Oktober hingga Juni. Waktu Novena sendiri biasanya pagi hari pukul 11.00 WIB, diadakan pada minggu pertama atau kedua.

Tirakatan Malam Jumat Legi juga menjadi acara rutin yang diselenggarakan di Gua Maria Lourdes Puh Sarang. Misa yang digelar sejak tahun 1998 ini diadakan sebagai suatu usaha untuk mengundang para peziarah lebih banyak.

Bila kita berada di sana, jelas terekam kesan bahwa komplek Gereja Puh Sarang merupakan suatu usaha untuk menampilkan iman kristiani dan tempat ibadat Katolik dalam budaya setempat. Dalam Gua Maria Lourdes juga terdapat tulisan dalam bahasa Jawa yang artinya : Bunda Maria, yang terkandung tanpa noda asal, semoga berkenan merestui aku yang datang berlindung kepada-Mu.

Jika Anda tertarik mengunjungi gereja yang terletak di Desa Puh Sarang, Kecamatan Semen, kira-kira 10 kilometer dari pusat Kota Kediri ini dapat menggunakan kendaraan pribadi atau umum. Dari terminal Kediri Anda bisa menggunakan angkutan atau menyewa mobil dengan biaya Rp 5 hingga Rp 10 ribu. Sementara jika ingin menginap, banyak penduduk yang menyediakan jasa penginapan dengan tarif kurang dari Rp 20 ribu semalam. Silakan. (Lalang Ken Handita)

Sumber: Senior edisi No.171/18-24 Oktober 2002
http://cybertravel.cbn.net.id/detil.asp?kategori=Place&newsno=459

Pertahankan Arsitektur Kota Lama Banyumas

Oktober 15, 2002

BANYUMAS – Kondisi arsitektur Kota Lama Banyumas (Jawa Tengah) saat ini memprihatinkan. Selain banyak dibongkar dan dirombak, juga hancur karena tak terawat. Hal ini tidak boleh dibiarkan terus.

Kota Lama Banyumas harus dilestarikan, tidak hanya memperhitungkan faktor sejarah masa lalu, tapi juga memperhitungkan kemajuan kota di masa mendatang. Demikian kesimpulan dari Seminar “Pengembangan Kota Lama Banyumas” di Pendopo Duplikat Si Panji Banyumas, Minggu (13/10) siang. Acara tersebut diteruskan dengan sarasehan kesenian Banyumas pada Senin sampai Selasa (14 -15/10) dengan menampilkan budayawan Ahmad Tohari.

Dalam seminar tersebut ditampilkan para pakar budaya dan arsitektur Banyumasan. Antara lain Totok Rusmanto, Sugeng Priyadi, dosen sejarah Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Sunardi Dekan Fakultas Teknik Universitas Wijaya Kusuma Purwokerto, Rustopo pakar budaya Jawa dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta, dan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banyumas, Santoso.

Berwawasan Budaya

Kota Lama Banyumas, yang terletak 15 km barat daya Kota Purwokerto, kini terkesan sebagai kota mati terutama di malam hari. Melalui acara gelar budaya Banyumas dibicarakan upaya menghidupkan Kota Lama Banyumas menjadi kota yang berwawasan budaya.

Antara lain, dengan mempertahankan Kota Lama sebagai pusat kegiatan kebudayaan Banyumas masa depan, melestarikan kesenian Banyumas yang beraneka ragam, mempertahankan budi pekerti luhur khas Banyumas yang bersikap terbuka sebagai basis terwujudnya persatuan dan kesatuan bangsa.

Kota Lama Banyumas peninggalan zaman kolonial itu kaya akan keseninan tradisional yang khas, antara lain, Aplang, Bongkel, Buncis, Calung, Cowongan, dan Ebeg, yang semuanya merupakan perpaduan seni tari dan seni suara. Selain itu ada kesenian Gubrag Lesung (musik yang terdengar saat orang menumbuk padi), Jemblung, Kaster, Lengger, Macapatan, Ujungan, Teater dan Wayang Kulit Gagrag Banyumasan.

Saat ini banyak dari kesenian itu yang tak pernah lagi dimunculkan. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banyumas berupaya menghidupkan kembali kesenian tersebut serta melestarikan arsitektur Kota Banyumas.

Salah satu bangunan yang telah dilestarikan adalah Pendopo Duplikat Si Panji, Gedung Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI), dan gedung-gedung peninggalan zaman kolonial lainnya. (057)

Sumber: Suara Pembaharuan 15 Oktober 2002.

Kondisi Arsitektur Kota Lama Banyumas Memprihatinkan

Oktober 14, 2002

Dijadikan Museum Hidup

BANYUMAS- Pelestarian dan pengembangan kota lama Banyumas tidak hanya mempertimbangkan faktor sejarah masa lalu, tetapi juga memperhitungkan kemajuan kota itu di masa yang akan datang.

Upaya pelestarian dan pengembangan dapat dibedakan dalam dua kelompok besar, yaitu penanganan secara fisik dan non fisik.

Demikian benang merah yang dapat diambil dari empat pembicara dalam Seminar Pengembangan Kota Lama Banyumas di Pendapa Duplikat Si Panji Banyumas, Minggu (13/10). Seminar tersebut menghadirkan Ir Sunardi MTP, Rustopo SKar MS dan Drs Sugeng Priyadi MHum, serta Ir Totok Roesmanto MEng.

Seminar diadakan dalam rangka Gelar Budaya Banyumas 2002 yang diselenggarakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan setempat. Gelar Budaya itu berlangsung selama seminggu, (13-19/10).

Pakar sejarah Drs Sugeng Priyadi mengatakan, pelestarian kota Banyumas tidak bisa dilakukan hanya dengan menjadikan bangunan kuna sebagai cagar budaya. Jika seperti itu berarti kota Banyumas hanyalah dijadikan kota mati, kota pensiun, kota monumen dan semacamnya.

Kalau itu ditempuh, maka kota tua Banyumas tidak akan hidup sebagai kota yang produktif. Kota Banyumas seharusnya bukan dimuseumkan, tetapi menjadi museum hidup, ujarnya.

Menurutnya, perpindahan ibu kota dari Banyumas ke Purwokerto sering dianggap kemunduran kota Banyumas di bidang ekonomi. Anggapan itu memang tepat karena Banyumas cukup terisolasi dengan adanya Sungai Serayu, tambahnya.

Menurutnya, bangunan-bangunan kuna di sekitar Pendapa Duplikat Si Panji seharusnya dimanfaatkan untuk kepentingan perkantoran pemerintah dan kegiatan lain. Dengan kata lain, Kota Banyumas dijadikan ibu kota kabupaten yang kedua. Artinya kegiatan resmi bupati tidak harus diselenggarakan di Purwokerto, katanya.

Memprihatinkan

Sedang Sunardi menyatakan, dari aspek arsitektural, kota Banyumas cukup memprihatinkan. Adanya gagasan untuk melestarikan dan mengembangkan arsitektur kota Banyumas, kiranya perlu ditanggapi secara positif dari berbagai pihak, jelasnya.

Namun upaya untuk merealisasikan ide tersebut merupakan pekerjaan yang cukup berat dan besar. Secara fisik, dengan renovasi dan revitalisasi. Renovasi dengan melakukan perbaikan sedemikian rupa sehingga hasilnya sama dengan aslinya tapi dengan fungsi yang berbeda dari aslinya.

Secara nonfisik, Sunardi berpendapat perlu ada kegiatan pemberdayaan pihak terkait, seperti masyarakat, swasta dan pemerintah. Kiranya sektor pariwisata sangat memungkinkan, ujarnya.

Ir Totok Roesmanto mengungkapkan, pelestarian kota lama Banyumas yang bisa dilakukan adalah menjadikan bangunan kuno yang masih ada sebagai aset utama. Jumlah bangunan kuno itu sekitar 135 buah.

Menurut dia, kondisi pada tahun 1944, masih terdapat bangunan kuno tujuh buah di selatan Bankstraat, 45 buah antara Jl Tengah dan Sungai Serayu atau di sebelah timur karesidenan, 75 buah di utaranya, dan 8 buah di bekas lahan tepinya. Semua bangunan kuno itu berarsitektur kolonial, sedangkan bangunan berarsitektur Banyumasan tidak digambarkan. (jm-47)

Sumber: Suara Merdeka, Senin, 14 Oktober 2002.