Archive for the ‘Tulisan’ Category

Arsitektur Art Deco

Oktober 14, 2004

Oleh Tanti Johana

Jika Prof. Ir. Charles Proper Wolff Schoemaker dan Albert Frederik Aalbers tidak menginjakkan kakinya di Indonesia, mungkin kita tidak akan mengenal arsitektur Art Deco. Art Deco merupakan salah satu langgam yang sangat luas penerapannya, berbagai macam contoh dapat kita jumpai, dalam arsitektur, pakaian, poster dan peralatan rumah tangga serta masih banyak lagi contoh lain. Mekipun tersedia beragam benda yang memakai langgam Art Deco, namun tidaklah mudah mendefiniskan bagaimana langgam Art Deco tersebut.

Karena banyaknya negara yang menerapkan langgam ini membuat Art Deco berkembang dengan pesat, hal ini tidak memudahkan pendefinisian langgam yang bangkit populer kembali pada tahun 60-an. Setiap negara yang menerima langgam Art Deco mengembangkannya sendiri, memberikan sentuhan lokal sehingga Art Deco di suatu tempat akan berbeda dengan Art Deco di tempat lain. Tetapi secara umum mereka mempunyai semangat yang sama yaitu menggunakan ornamen-ornamen tradisional atau historikal, sehingga langgam Art Deco merupakan langgam yang punya muatan lokal.

Meskipun pada awalnya Art Deco merupakan gaya yang mengutamakan hiasan-hiasan tradisional setempat, tetapi ia terbuka terhadap sesuatu yang baru, keterbukaan ini tercermin dalam pemakaian material yang baru dan dengan teknik yang baru, tak jarang pula mereka melakukan penggabungan material, sehingga hasil karya mereka hampir selalu inovatif dan eksperimentatif.

Perkembangan Art Deco tidak lepas dari pengaruh situasi dan kondisi jamannya, pada saat itu di Eropa sedang berlangsung revolusi industri, masyarakat terpesona oleh adanya penemuan-penemuan dan teknologi yang maju dengan pesat. Karakter-karakter teknologi yang menggambarkan kecepatan diejawantahkan ke dalam desain dalam bentuk garis-garis lengkung dan zig-zag.

Arsitektur Art Deco
Arsitektur Art Deco selain menerima ornamen-ornamen historis, langgam ini juga menerima pengaruh aliran arsitektur yang sedang berkembang saat itu. Gerakan arsitektur modern yang sedang berkembang pada saat itu bauhaus, De Stijl, Dutch Expressionism, International Style, Rationalism, Scandinavian Romanticism dan Neoclassicism, Arts and Crafts Movement, Art Nouveau, Jugendstil dan Viennese Secession. Mereka ikut mempengaruhi bentukan-bentukan arsitektur Art Deco serta memberikan sentuhan-sentuhan modern. Modern pada saat itu diartikan dengan “berani tampil beda dan baru, tampil lebih menarik dari yang lain dan tidak kuno” kesemuanya itu dimanifestasikan dengan pemilihan warna yang mencolok, proporsi yang tidak biasa, material yang baru dan dekorasi.

Menentukan Gaya Suatu Bangunan
Menentukan gaya sebuah bangunan tidaklah mudah, kita tidak bisa hanya berpedoman pada tahun berdirinya bangunan, lantas kita akan tahu gaya bangunan tersebut. Art Deco mengalami kejayaan pada tahun 1920-1930 tapi bukanlah jaminan apabila bangunan yang dirancang pada tahun 1920-1930 lantas bisa dinamai arsitektur Art Deco, bangunan yang berbentuk kubus menggunakan struktur beton dan tanpa dekorasi sering diklasifikasikan sebagai arsitektur Art Deco karena bentuknya yang geometris, tetapi karena tidak ada dekorasi sama sekali, maka bangunan itu lebih layak untuk tidak digolongkan sebagai arsitektur Art Deco, setidaknya dalam pandangan para purist.

Seni Art Deco termasuk dalam seni terapan, pada arsitektur langgam ini tidak menyuguhkan sesuatu sistem atau solusi yang baru, langgam Art Deco berbicara tentang permukaan dan bentuk. Arsitektur Art Deco merupakan arsitektur ornamen, geometri, energi, retrospeksi, optimisme, warna, tekstur, cahaya dan simbolisme.

Asal Mula Kata Art Deco
Kata Art Deco termasuk terminologi yang baru pada saat itu, diperkenalkan pertama kali pada tahun 1966 dalam sebuah katalog yang diterbitkan oleh Musée des Arts Decoratifs di Paris yang pada saat itu sedang mengadakan pameran dengan tema “Les Années 25”. Pameran itu bertujuan meninjau kembali pameran internasional “l’Expositioan Internationale des Arts Décoratifs et Industriels Modernes” yang diselenggarakan pada tahun 1925 di Paris. Sejak saat itu nama Art Deco dipakai untuk menamai seni yang saat itu sedang populer dan modern. Munculnya terminologi itu pada beberapa artikel semakin membuat nama Art Deco eksis. Art Deco semakin mendapat tempat dalam dunia seni dengan dipublikasikannya buku “Art Deco” karangan Bevis Hillier di Amerika pada tahun 1969.

Art Deco di Indonesia
Pengaruh Art Deco di Indonesia dibawa oleh arsitek-arsitek Belanda, salah satu diantara mereka adalah C.P. Wolff Schoemaker dan A.F. Aalbers. Hotel Preanger Bandung rancangan Schoemaker merupakan arsitektur berlanggam Art Deco dengan ciri khasnya elemen dekoratif geometris pada dinding eksteriornya. Selanjutnya perkembangan arsitektur Art Deco di Indonesia tampil lebih sederhana, mereka lebih mengutamakan pola garis-garis lengkung dan bentuk silinder, contoh konkret dari konsep ini adalah Vila Isola Bandung (sekarang gedung IKIP), juga rancangan Schoemaker. Kesederhanaan bentuk belumlah mewakili semua konsep arsitektur Art Deco ini karena kedinamisan ruang interior dapat dilihat dalam lay out bangunannya.

Arsitektur memang menggambarkan kehidupan jaman itu. Pengaruh aliran De Stijl dari Belanda yang menyuguhkan konsep arsitektural “kembali ke bentuk yang sederhana” dan pengkomposisian bentuk-bentuk sederhana menghasilkan pencahayaan dan bayangan yang menarik Aliran ini pula yang banyak mempengaruhi penganut arsitektur Art Deco di Indonesia

Perkembangan Art Deco akhir di Indonesia mengacu pada kedinamisan dan bentuk plastis yang kelenturan fasadenya merupakan pengejawantahan dari kemoderenan teknologi arsitektural. Contoh fasade yang dinamis salah satunya adalah fasade hotel Savoy Homann Bandung yang dirancang oleh A.F. Aalbers.

Lengkungan yang ditampilkan itu merupakan ekspresi gerak, teknologi modern dan rasa optimisme. Orang-orang sering menjuluki lengkungan itu dengan “Ocean Liner Style” hal ini mengacu pada bentuk kapal pesiar yang pada saat itu merupakan karya manusia yang patut dibanggakan, jadi bentukan kapal, bentuk lengkung dijadikan sebagai ekspresi kemoderenan.

Di Indonesia tentunya banyak bangunan berlanggam Art Deco yang masih harus dicari dan diteliti. Arsitektur ini merupakan salah kekayaan Arsitektur Indonesia.

Jakarta, 02 Oktober 2004

Pelestarian Bangunan Bersejarah

Oktober 2, 2004

Pelestarian Bangunan Bersejarah
Bangunan Arsip Nasional mendapatkan penghargaan Award of Excellence 2001 dari UNESCO

Oleh Tanti Johana

Guna mendukung pelestarian bangunan bersejarah, setiap tahun UNESCO Asia-Pacific menyelenggarakan lomba tentang pelestarian bangunan-bangunan bersejarah, Indonesia sebagai salah satu negara yang mempunyai banyak sekali bangunan bersejarah yang tersebar diseluruh nusantara ikut ambil bagian. Tetapi bagaimanakah kisahnya ? Siapakah yang menjadi pencetusnya ?

Mungkin ia tak akan mengira jika perwujudan idenya akan mendapatkan penghargaan bertaraf internasional, tetapi usaha yang panjang ini memang sudah sepantasnya mendapatkan penghargaan sebagai apresiasi terhadap usaha yang telah dilakukannya.

Adalah seorang warga negara Belanda yang mempunyai ide untuk mengkonservasi bangunan bersejarah sebagai hadiah ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang ke 50 pada tahun 1995, dengan dibantu oleh sebuah tim ia berusaha merealisasikan ide tersebut.

Pada tahun 1993, Erick Hemerstein, seorang ahli hukum Belanda yang sedang bekerja di Jakarta, dengan bantuan Christine Paauwe-Meyer, mendirikan Stichting National Cadeau di Jakarta dan Belanda untuk mengumpulkan dana. Yayasan tersebut berhasil mengumpulkan dana sebanyak 5 juta gulden.

Kemudian mereka meminta Ibu Pia Alisyahbana untuk bisa membantu mewujudkan ide tersebut. Perlahan mereka membentuk partner di Indonesia untuk diajak bekerja sama antara lain Han Awal & Partners, Budi Lim Architects, setelah tim terbentuk mulailah mereka bekerja dengan memilih bangunan mana yang pantas untuk dikonservasi, hal ini tentunya bukan pekerjaan yang mudah mengingat banyak sekali bangunan bersejarah di Indonesia. Akhirnya terpilih Bangunan Arsip Nasional.

Fokus Perbaikan
Pada awalnya perbaikan akan dilakukan pada dinding dan memecahkan masalah banjir yang sering melanda bangunan Arsip Nasional.

Tim ini kemudian bekerja sama dengan Decorient and Ballast Indonesia untuk melaksanakan pekerjaan restorasi, pekerjaan dimulai pada bulan Agustus 1997 dan selesai pada bulan Oktober 1998.

Sejarah Bangunan
Bangunan Arsip Nasional ini dibangun pada tahun 1760 oleh Reiner de Klerk (1710-1750), selain sebagai arsitek gedung ini Reiner de Klerk juga tercatat sebagai gubernur jendral VOC pada tahun 1777. Saat itu kawasan ini masih hijau dan lebih sehat, dibandingkan pusat kota Batavia yang waktu itu sedang terkena wabah malaria.

Seperti halnya bangunan Arsip Nasional bangunan-bangunan lain di kawasan ini juga mempunyai area yang luas, dengan halaman depan yang luas, bangunan yang ada di kawasan tersebut juga besar dan luas dilengkapi dengan courtyard atau kebun di halaman belakang. Luas tanah Arsip Nasional sekarang ini mempunyai lebar 57 M dan panjang 164 M, tetapi dulu tanah yang dimilikinya lebih luas batasnya sampai ke sungai Krukut.

Bangunan Arsip Nasional berbentuk U dengan bangunan tambahan di bagian belakangnya. Bangunan utama berlantai 2, dibangun dengan bata merah dengan atap yang tinggi. Denah bangunannya mencerminkan denah rumah yang besar dan klasik dengan aksis utama barat-timur dan aksis kedua utara-selatan. Lantai dasarnya luas. Pintu utamanya tinggi dihiasi lubang ventilasi yang indah di atasnya. Di lantai inilah gubernur jendral biasa menerima tamu-tamunya. Di lantai ini terdapatsatu tangga kecil yang menuju ke lantai pertama, yaitu tempat yang lebih privat.

Bangunan di samping bangunan utama digunakan sebagai kantor administrasi yang mengelola bisnis pribadi gubernur jendral. Sementara ada bangunan tambahan yang lebih tinggi yang dulu digunakan sebagai rumah budak dan sebagai tempat penyimpanan barang.

Dalam catatan sejarah bangunan Arsip Nasional terlah berpindah tangan berkali-kali, dulu bangunan ini pernah terbengkalai kemudian diperbaiki, oleh pemerintah Belanda digunakan sebagai kantor departemen pertambangan.

Pada tahun 1925 bangunan tersebut kembali direstorasi dan digunakan sebagai kantor Landsarchief Building. Ketika Indonesia merdeka bangunan ini tetap digunakan sebagai Kantor Arsip Nasional. Bangunan Arsip Nasional yang berbentuk U dengan ketinggian dua lantai dihubungkan dengan bangunan tambahan di belakangnya, dan balkon dengan ketinggian dua lantai ditutup dengan dinding dan jendela. Sejak saat itu bangunan tersebut dinamakan Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia (the National Archive Building of Republic Indonesia). Pertengahan tahun 1980 semua arsip dipindahkan ke bangunan yang lebih baru di selatan kota Jakarta.

Pendekatan dan Proses Restorasi
Diperlukan waktu yang panjang oleh tim konservasi bangunan Arsip Nasional untuk mendapatkan ijin dari pemerintah melaksanakan rencana mereka.

Pedoman restorasi:
1. Sebaiknya tidak ada penggantian material baru kecuali material lama sudah tidak tersedia lagi tetapi material baru itupun harus lebih dahulu dipelajari apakah sudah sesuai menggantikan material lama.

2. Hanya menggunakan material bangunan lama untuk mengganti bagian yang lain. Misalnya atap yang rusak diganti dengan atap lama bagian bangunan yang lama.

3. Memperbaiki kerusakan lokal dan tidak merubah seluruh komponen, misalnya memperbaiki kayu yang rusak karena dimakan rayap daripada menggantinya secara keseluruhan.

4. Memperbaiki bagian yang rusak daripada menggantinya dengan yang sama sekali baru.

5. Menggunakan material lokal, dibuat oleh pegawai lokal dan menggunakan teknik konstruksi ketika diperlukan, misalnya meminta pelukis Bali untuk memperbaiki lukisan lama.

6. Tim arkeologi terlibat sejak awal perencanaan proyek. Mereka mengambil sampel bahan bangunan kemudian memeriksanya dan membuat rekomendasi yang diperlukan. Mereka menolong tim konservasi menemukan jenis cat tahan hujan yang cocok digunakan. Adapun cat yang diperlukan yang mempunyai karakter seperti kulit manusia, yang berfungsi melindungi dinding dari hujan dan dalam waktu yang sama tetap memungkinkan dinding untuk bernapas.

Sumbangan tim konservasi terhadap pelestarian bangunan bersejarah di Indonesia sangat besar, mereka menumbuhkan kepercayaan diri masyarakat dan pemerintah dalam hal pelestarian bangunan bersejarah dengan menghadirkan suatu karya konservasi yang patut menerima penghargaan.

Sekarang gedung Arsip Nasional dikelola oleh sebuah organisasi yang terdiri dari orang indonesia dan orang asing dan memelihara serta mengelola bangunan tersebut untuk kegiatan sosial dan kultural.

Bangunan lama yang banyak menyimpan sejarah bangsa pantas dilestarikan dan dirawat, agar bukti sejarah ini dapat dinikmati dan bermanfaat bagi masyarakat Indonesia.

Pada tahun 2001 bangunan Arsip Nasional yang telah selesai dikonservasi diikutsertakan dalam lomba dan memenangkan Award of Excellence 2001. Penghargaan yang pantas diterima oleh orang-orang yang telah berusaha dengan tak mengenal lelah.

Jakarta, 02 Oktober 2004

Warisan Kolonial dan Studi Kolonialisme

April 6, 2004

Oleh: Tanti Johana

Semua pasti setuju dengan pernyataan ini bahwa, tidak ada bangsa yang mau dijajah. Dicopet mungkin hal kecil yang bisa dianalogikan dengan dijajah. Tidak ada yang bisa disalahkan jika seseorang kecopetan, kalau menyalahkan satu hal, pasti akan diikuti dengan menyalahkan yang lainnya. Jadi tidak akan tercapai sebuah titik temu.

Dijajah meskipun hal itu tidak mengenakkan tetapi itulah yang dialami oleh bangsa Indonesia. Diakui atau tidak, dibenci atau dicintai, telah terjadi inkulturasi antar budaya-budaya yang ada, pendokumentasian, pelestarian dan peninggalan produk-produk kolonial bisa ditemukan di berbagai daerah dan dalam berbagai segi kehidupan manusia.

Kegunaan warisan kolonial
Setelah penjajah pergi dari tanah air, bukan berarti bahwa tindakan penggusuran, penghapusan, penggantian nama elemen-elemen pembentuk budaya kolonial dapat sepenuhnya dibenarkan. Karena representasi kolonial yang berupa karya sastra, kesenian, arsitektur, gaya hidup dan lain lain, selain dapat dipelajari sebagai budaya kolonial yang berdiri sendiri juga dapat dianalisa untuk mempelajari ideologi Kolonialisme yang diterapkan di Indonesia.

Studi kolonialisme adalah sebuah studi baru yang mempelajari bagaimana kolonialisme diterapkan pada suatu bangsa, studi yang mempunyai tiga tokoh sentral, Edward Said, Homi K. Bhaba, dan Gayatri Chakravorty Spivak hadir untuk menandingi pandangan barat yang selama ini telah menguasai “masyarakat timur”. Kajian-kajian budaya tentang kolonialisme telah banyak hadir dalam wacana dunia membuka mata para peneliti untuk menganalisis strategi yang diterapkan oleh pemerintah kolonial dan fenomena kolonialisme yang hadir, meskipun banyak negara bekas jajahan negara lain, tapi tidak dapat dikatakan bahwa metode yang dipakai satu negara penjajah sama dengan negara penjajah lain.

Berbesar Hati dan Berpikir Panjang
Kebesaran hati dan berpikir panjang adalah sikap yang diperlukan untuk bisa menerima sesuatu yang telah ada meskipun pada awalnya tidak setuju, tapi bukan berarti apatis, tidak melakukan apa apa, melainkan kebesaran hati dengan kesadaran bahwa peninggalan sejarah harus dilestarikan. Tidak semua karya-karya individu yang hadir dalam masa pemerintahan kolonial dapat dikategorikan sebagai “karya yang salah” atau “tidak sesuai dengan budaya Indonesia”, karena sampai saat ini masih berdiri karya-karya yang “ternyata” sesuai dengan lingkungan Indonesia.

Dengan tetap dijaga dan dilestarikannya warisan budaya kolonial yang ada otomatis kemudahan perolehan data-data fisik tentang proses kolonisasi di Indonesia masih terbuka lebar.

Jakarta 06 April 2004

Sastra Indis

Maret 21, 2004

Oleh Tanti Johana

Jika anda masih ingat Paul Bettany yang memerankan dokter Stephen Maturin dalam film Master and Commander: The Far Side of the World tentu tidaklah sulit membayangkan bagaimana sebuah kekayaan alam jaman dulu didokumentasikan. Sesampainya kapal HMS Surprise pimpinan Kapten Jack Aubrey di kepulauan Galapagos, dokter Stephen Maturin dengan sangat antusias mengumpulkan berbagai jenis binatang dan tumbuh-tumbuhan, memasukkannya ke dalam keranjang dan bermaksud membawanya untuk diteliti dan digambar. Gambaran tindakan dokter Stephen Maturin membantu kita memahami bagaimana kekayaan alam abad lampau didokumentasikan.

Mungkin dengan metode yang serupa pula flora dan fauna kepulauan Maluku didokumentasikan oleh Georg Rumphuis. Menurut catatan sejarah tidak hanya flora dan fauna saja yang didokumentasikan oleh para ahli pada jaman itu, tetapi juga lingkungan sosial budaya dan situasi Nusantara, seperti yang dikerjakan oleh François Valentijn dan Rijklof van Goens. Indahnya pemandangan tak disia-siakan untuk dilukis oleh Nicolaus de Graaff dan Cornelis de Bruijn.

Novel Indis
Munculnya bacaan, selain berhubungan dengan teknologi percetakan juga berkaitan erat dengan kemampuan dan minat baca masyarakat pada saat itu.

Teks-teks pertama yang beredar untuk masyarakat Hindia Belanda terbit pada tahun 1617 berbahasa Melayu berhuruf latin dan dicetak di Belanda. Kemudian East Indies Company mendirikan percetakan di Batavia yang menghasilkan teks-teks sastra, ilmu pengetahuan dan religi dalam bahasa Belanda, Portugis dan Melayu, tiga bahasa yang paling populer pada masa itu.

Novel Indis dapat disebut “masih muda” jika dibanding dengan lamanya orang Belanda berada di Indonesia. Novel Indis lahir pada akhir abad ke-19 seiring dengan berkembangnya jumlah wanita Belanda yang semakin meningkat, selain dipublikasikan dalam bentuk buku, novel Indis juga ditampilkan berserial dalam koran-koran Hindia Belanda berbahasa Belanda, bahkan ada yang dipublikasikan di Belanda pula lalu dicetak ulang di Jawa.

Banyak sekali kemungkinannya kenapa novel Indis baru muncul pada akhir abad ke-19, antara lain karena sebelum abad ke sembilan belas tidak banyak wanita Belanda yang ada di Indonesia, dalam sejarah, membaca selalu dikaitkan dengan suatu kesenangan milik perempuan kalangan terpelajar, meskipun begitu di Indonesia penulis perempuan baru muncul pada kisaran tahun 1890-an. Konon kabarnya budaya membaca telah ada di Belanda sejak bertahun-tahun yang lalu, mungkin para wanita Belanda itu yang membawa budaya membaca novel di Indonesia ? Masih terbuka penelitian dalam hal ini.

Meskipun novel Indis ditujukan hanya untuk kalangan yang bisa berbahasa Belanda saja takdapat dipungkiri bahwa karya sastra ini merupakan salah satu wujud kebudayaan Indis yang mengisahkan kehidupan di Hindia Belanda pada jamannya. Darinya dapat diambil gambaran kehidupan pada jaman lampau dalam hal ini semasa Kolonial.

Jakarta, akhir Maret 2004

Spektrum Art Deco

April 1, 2003

Oleh Tanti Johana

Art Deco adalah gaya hias yang lahir setelah Perang Dunia I dan berakhir sebelum Perang Dunia II yang banyak diterapkan dalam berbagai bidang, misalnya eksterior, interior, mebel, patung, poster, pakaian, perhiasan dan lain-lain. Dalam perjalanannya Art Deco dipengaruhi oleh berbagai macam aliran modern, antara lain Kubisme, Futurisme dan Konstruktivisme serta juga mengambil ide-ide desain kuno misalnya dari Mesir, Siria dan Persia. Seniman Art Deco banyak bereksperimen dengan memakai teknik baru dan material baru, misalnya metal, kaca, bakelit serta plastik dan menggabungkannya dengan penemuan-penemuan baru saat itu, lampu misalnya, karya-karya mereka memakai warna-warna yang kuat serta bentuk-bentuk abstrak dan geometris misalnya bentuk tangga, segitiga dan lingkaran terbuka, tetapi mereka kadang masih menggunakan motif-motif tumbuhan dan figur, tetapi motif-motif tersebut cenderung mempunyai bentuk yang geometris. Komposisi elemen-elemennya mayoritas dalam format yang sederhana.

Asal usul Nama Art Deco

Ungkapan Art Deco diperkenalkan pertama kali pada tahun 1966 dalam katalog yang diterbitkan oleh Musée des Arts Décoratifs di Paris yang pada saat itu sedang mengadakan pameran dengan tema „Les Années 25“ yang bertujuan untuk meninjau kembali pameran internasional „Exposition Internationale des Arts Décoratifs et Industriels Modernes“ yang diselenggarakan pada tahun 1925 di Paris. Sejak saat itu nama Art Deco menjadi dikenal dan semakin populer dengan munculnya beberapa artikel dalam media cetak. Pada tanggal 2 November 1966 artikel yang berjudul „Art Deco“ dimuat di The Times, setahun kemudian artikel „Les Arts Déco“ dari Van Dongen, Chanel dan André Groult furniture dimuat dalam majalah Elle. Ungkapan Art Deco semakin mendapat tempat dalam dunia seni dengan dipublikasikannya buku „Art Deco“ karangan Bevis Hillier di Amerika pada tahun 1969. Jadi sebelum tahun 1966, masyarakat belum mengenal nama Art Deco dan menamai seni yang populer di antara kedua perang dunia itu sebagai seni „modern“.

Latar Belakang Munculnya Art Deco

Revolusi Industri
Pada akhir abad ke-19 sampai awal abad ke-20, adalah kurun waktu di saat masyarakat dunia diliputi oleh berbagai macam konflik. Konflik-konflik ini muncul sebagai akibat dari Revolusi Industri yang menciptakan pergeseran sosial, berbagai macam pengetahuan dan teknologi baru membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Keadaan sosial masyarakat berubah, dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industrial. Kekuatan mesin menggantikan tenaga manusia yang sangat terbatas. Apa yang masyarakat lihat dan dengar berubah secara cepat. Barang-barang untuk keperluan hidup sehari-hari mulai banyak diproduksi oleh mesin dan secara massal. Meskipun demikian tidak semua masyarakat menerima dan menyukai barang-barang yang diproduksi oleh mesin, banyak yang masih menyukai hasil kerajinan tangan dengan seni tradisional. Barang-barang produksi mesin tidak seindah hasil kerajinan tangan meskipun harganya tidak mahal tapi tidak banyak peminatnya, sebaliknya barang-barang kerajinan tangan sangat tinggi mutunya, indah dan personal tapi mahal harganya. Revolusi Industri juga membawa perubahan pada Arsitektur. Selama berabad-abad arsitek hanya mengkonsentrasikan karyanya pada bangunan-bangunan ibadah, kastil, istana dan rumah para bangsawan. Setelah adanya Revolusi Industri diperlukan suatu tipologi bangunan yang berbeda dari abad sebelumnya, misalnya, pabrik, stasiun, bangunan perdagangan, bangunan perkantoran, perumahan dan lain lain. Seiring dengan meningkatnya jumlah produksi meningkat pula jumlah pabrik, agar distribusi menjadi lancar, dibuat jalan-jalan raya penghubung antarkota dan negara, diciptakan pula alat transportasi modern, misalnya mobil, kereta, kapal dan pesawat. Sehingga pada jaman itu muncul konsepsi-konsepsi baru tentang iklan, fotografi, produksi massal dan kecepatan/laju.

Perang Dunia I
Perang Dunia I yang berlangsung di Eropa pada tahun 1914-1918 menyebabkan kerugian jiwa dan materi yang besar. Setelah perang berakhir, masyarakat sibuk menata kembali lingkungannya, membangun kembali tempat tinggalnya dan mereka memerlukan berbagai macam peralatan rumah tangga, perhiasan, pakaian, keramik dan lain-lain, hal ini memberikan kesempatan kepada para seniman untuk bereksperimen dan memberikan semangat kepada mereka untuk menghasilkan inovasi-inovasi baru. Barang-barang yang diperlukan masyarakat adalah yang modern dan fungsional. Art Nouveau suatu gerakan seni yang popular pada tahun 1894-1914 tidak lagi bisa bertahan lama karena hasil karya mereka kurang fungsional, penuh dekorasi dan harganya sangat mahal.

Usaha-usaha Mencari Solusi Permasalahan
Seni modern yang muncul pada awal abad ke 20 ini merefleksikan sensasi yang dialami pada waktu itu. Para seniman mencari pemecahan atas konflik yang timbul dengan menciptakan suatu gaya yang dapat merangkul selera semua lapisan masyarakat. Sekolah-sekolah seni dan pameran pameran seni adalah tempat yang dipakai oleh para seniman untuk bertukar pikiran dan menciptakan ide-ide baru. Pengenalan terhadap material baru seperti plastik, bakelit, kaca dan krom mengharuskan para seniman mencari cara dan gaya sehingga material tersebut dapat diolah dan diproduksi secara massal. Adapula yang meniru rancangan-rancangan lama yang disukai dan terbilang mewah karena berasal dari material yang langka dan biasanya dikerjakan oleh pengrajin, tujuan meniru tersebut agar hasil karya itu bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat. Pengertian bahwa dengan desain yang bagus dapat menaikkan omset penjualan sudah dikenal oleh para seniman dan pengusaha, hal ini membuat mereka berpikir bagaimana menghasilkan barang dengan desain yang bagus, artinya sesuai dengan selera pasar dan dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat. Usaha-usaha pencarian desain yang sesuai dengan selera masyarakat dapat dilihat dalam keragaman hasil rancangan para seniman tersebut.

Spektrum Art Deco, Sekilas Kapal Normandie
Pengaruh Art Deco meresap ke segala bidang, hal ini dapat dilihat pada karya kapal Normandie. Dengan adanya penelitian dan pengembangan teknologi dalam bidang perkapalan, transportasi laut pada saat itu maju dengan pesat, terbukti dengan selesai dirakitnya kapal layar Normandie pada tahun 1935, yang mempunyai panjang 313 M. Kapal layar Normandie yang pada saat itu adalah kapal terbesar dan tercepat dengan interiornya yang mewah merupakan lambang kebanggaan rakyat Perancis, karena data-data teknis yang dipunyai, kapal layar tersebut berhak memakai tanda “Blue Band” yaitu sebuah simbol yang melambangkan kapal layar tercepat di Atlantik utara. Dalam interior kapal layar Normandie banyak dijumpai karya-karya seniman Art Deco Perancis, seperti misalnya Perusahaan Daum (di kota Nancy), Sabino dan René Lalique yang merancang barang-barang dengan bahan dari kaca, mereka merancang cawan sampanye, pemanas ruangan, lampu di ruang makan sampai kolam kaca dengan air terjunnya. Perusahaan Jules Leleu, Ala-voine dan perusahaan interior Dominique merancang tata letak dan mebelnya. Christofle merancang semua barang-barang yang dibuat dari bahan dasar emas dan perak, Roger dan Gallet merancang parfum, Raymond Subes merancang barang-barang dari logam, Jean Puiforcat merancang peralatan makan, sedangkan hiasan-hiasan tambahan seperti patung, relief-relief dirancang oleh Léon Drivier, Pierre Poisson, Saupique, Pommier, Delamarre, Bouchard, Baudry dan Dejean. Meskipun banyak ahli interior dan dekorator yang ikut berperan dalam penataan ruang dan dekorasinya, misalnya Leleu, Montagnac, Dominique, Follot, Simon, Laprade, Pascaud, Süe, Prou, Domin, hasilnya tidak bertabrakan satu sama lain karena semuanya sudah direncanakan dengan seksama. Oleh karena itu tidak berlebihan bila kapal layar Normandie dinamai dengan pameran berjalan, karena banyaknya seniman Art Deco yang ikut andil serta beragamnya barang-barang yang dirancang. Dari gambaran ini terlihat bahwa spektrum Art Deco mencapai berbagai macam bidang.

Para Seniman Art Deco
Telah kita ketahui bahwa Art Deco berkembang dengan baik pada tahun-tahun setelah terjadinya perang dunia pertama dan sebelum meletusnya perang dunia kedua. Tetapi dapat dikatakan bahwa Art Deco yang orisinal lahir pada awal tahun-tahun setelah berakhirnya perang dunia pertama, saat para seniman sedang bereksperimen mencari perspektif baru dengan menolak menggunakan ornamen yang identik dengan Art Nouveau, mereka seolah-olah ingin memutuskan diri dengan gaya Art Nouveau. Di samping menggunakan lagi ornamen-ornamen historis, mereka saling bertukar pikiran untuk berbagi inspirasi. Untuk menggabungkan kesemuanya itu, mereka menggunakan pendekatan eklektik. Para seniman dari berbagai media dengan cepat mengadopsi gaya yang spektakuler ini. Poster, perhiasan, mebel, keramik, patung, lukisan, pekerjaan dari metal bahkan pakaian ikut memeriahkan seni modern yang sedang populer pada saat itu.

Beberapa desainer sangat identik dengan Art Deco, misalnya Jaques-Emile Ruhlmann yang dikenal sebagai master Art Deco melalui karya mebelnya yang hampir selalu memakai material mahal. Desainer mebel lain misalnya Paul Follot, Pierre Chareau, Clement Rousseau, tim desain Süe et Mare (Louis Süe and André Mare) serta Eileen Gray. Rene Lalique dikenal dengan hiasan dari kaca dan desain perhiasannya, Susie Cooper dan Clarice Cliff terkenal dengan keramiknya, Jean Puiforcat dengan perak dan pekerjaan metalnya, Paul Poiret terkenal dengan motif tekstilnya, dan A.M Cassandre dikenal dengan poster-posternya.

Desainer Art Deco terbagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama adalah desainer yang mengkonsentrasikan diri pada desain yang individual dan dikerjakan dengan kemampuan pekerjaan tangan yang tinggi, rancangan tersebut hanya dapat dibeli oleh kalangan atas, sedangkan kelompok lainnya adalah kelompok desainer yang mengutamakan desain berbentuk geometri dengan berdasarkan pada pertimbangan fungsional.

Beberapa desainer Art Deco yang menciptakan barang-barang untuk masyarakat banyak misalnya Susie (Susan Vera) Cooper (1902-1995) yang terkenal tidak saja sebagai desainer tetapi juga sebagai produser keramik. Ketertarikannya pada keramik ditekuninya sejak tahun 1922. Pada awalnya ia bekerja pada A. E. Gray & Co. Tujuh tahun kemudian ia mendirikan studio serta pabriknya yang memproduksi peralatan makan dan peralatan minum teh untuk masyarakat kelas menengah. Desainer Art Deco lainnya yang berusaha memproduksi barang-barang untuk masyarakat luas adalah René Lalique (1860-1945). René Lalique selain dikenal sebagai desainer perhiasan dikenal juga sebagai desainer glass/kaca. Ia mengawali karirnya sebagai desainer perhiasan Art Nouveau yang sangat inovatif. Pada awal abad ke 20 ia mengalihkan perhatiannya pada material glass/kaca, ia merintis teknik-teknik memproduksi glass/kaca secara massal dalam pabriknya. Ia mendesain berbagai macam jenis barang, misalnya botol parfum, lampu, vas, peralatan makan, patung dan perhiasan dari kaca.

Dari pakaian, perhiasan, poster sampai perabot dan peralatan rumah tangga, semua karya-karya ini memeriahkan dunia Art Deco, para seniman yang menghasilkannya berasal dari berbagai latar belakang. Mereka mencoba menghadirkan karya-karya yang dapat memenuhi kebutuhan manusia saat itu ditengah perubahan jaman. Partisipasi masyarakat luaslah yang membuat seni ini menjadi spektakuler.

Tanti Johana, Arsitek, sedang menempuh studi lanjut di Fakultas Arsitektur Bergische Universität-Gesamthochschule Wuppertal – NRW, Jerman.
01 April 2003.

Masyarakat Indis

Januari 5, 2003

Oleh Tanti Johana

Kehadiran orang-orang Belanda di Nusantara sudah berlangsung sebelum berdirinya VOC (Verenigde Oost-Indische Compagnie, serikat dagang Indis Timur) di Banten tahun 1602. Mereka berdagang serta mempertahankan hubungan dagang dengan penguasa-penguasa daerah, karena selain VOC, terdapat pula serikat dagang bangsa-bangsa lain yang mencoba membina hubungan dagang dengan para penguasa Nusantara. Tahun 1780 meletus perang antara Belanda dengan Inggris. Mereka mengirimkan pasukan tambahan ke tanah Jawa. Tiga tahun setelah perang terjadi, VOC jatuh bangkrut. Sebelum VOC membubarkan diri, mereka meminta bantuan keuangan dari kerajaan Belanda untuk menutup hutang-hutangnya, sambil menyerahkan wilayah Indonesia ke bawah kekuasaan Kerajaan Belanda.

Eropanisasi

Pada umumnya orang-orang Belanda datang ke Nusantara / Hindia Belanda sebagai pedagang atau tentara, mereka yang mempunyai jabatan tinggi di kota mempunyai beberapa pembantu, seperti koki untuk memasak, jongos sebagai pelayan rumah, jagar sebagai penjaga malam, kebon sebagai tukang kebun dan kusir. Orang-orang pribumi inilah yang membuat hidup para totok menjadi lebih enak dan nyaman.

Kehidupan bersama (samenleving) antara wanita pribumi dengan pria Eropa sudah berlangsung sejak lama. Hal ini disebabkan karena pria-pria VOC dilarang membawa istrinya ikut serta ke Nusantara. Dari mereka lahir anak-anak yang disebut Indo / Indo-Eropa. Lebih dari separuh orang-orang Belanda itu hidup bersama dengan wanita pribumi ( nyai ). Dilihat secara sosial kelompok Indis ini merupakan kelompok menengah, yaitu terletak di antara strata Pribumi dan Eropa. Lingkungan di mana mereka tinggal sangat mempengaruhi gaya hidup mereka, maka tak heran jika mereka berkepribadian pribumi dan bukan indo. Hingga tiba pada suatu keadaan Hindia Belanda berada di bawah otonomi pemerintah Inggris (1811-1816), mereka tidak suka melihat keadaan ini, maka dibuat peraturan gaya hidup yang mengharuskan para wanita dan pria Indo memakai pakaian Eropa, wanita Indo tidak boleh lagi memakai kebaya dan jarik dan pria Indo harus memakai kemeja, bersepatu dan menganut monogami. Semakin mirip tingkah laku mereka menyerupai orang Eropa, semakin tinggi pula derajat mereka. Mendekati abad XX, banyak wanita Eropa datang ke Hindia Belanda, kedatangan mereka ini membawa pengaruh besar bagi kelompok tersebut.

Pendudukan oleh Jepang

Pada tahun 1942 Jepang menguasai Hindia Belanda, karena luasnya wilayah yang telah dikuasai, mereka memerlukan tentara tambahan yang kemudian direkrut dari orang-orang Indonesia tak terkecuali orang-orang Eropa totok dan Indo. Ketika Jepang kalah dalam Perang Dunia II, terjadi chaos, muncul keadaan yang disebut periode bersiap (bahasa Belanda Bersiapperiode). Suatu keadaan dimana rakyat Indonesia berjuang melawan Belanda yang ingin menguasai Indonesia lagi. Pada saat itu tidak sedikit orang Eropa dan Indo yang memutuskan untuk kembali ke negara asalnya ( repatriasi ).

Diaspora Indis

Setelah Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada tahun 1949. Mayoritas orang-orang Belanda yang masih di Indonesia memilih untuk kembali ke Belanda, sebagian lagi menyebar ke Papua New Guinea, Amerika Serikat dan Kanada.

Generasi Indis

Generasi Indis pertama adalah orang-orang Indo yang lahir pada jaman Hindia Belanda termasuk mereka yang ikut mengalami penjajahan Jepang serta ikut berperang melawan sekutu. Generasi kedua lahir pada saat Perang Dunia II, sebagian lahir di Hindia Belanda, sebagian lagi di Belanda. Biasanya salah satu dari orang tua mereka pernah tinggal di Hindia Belanda dan ikut perang. Orang-orang dari generasi ini masih merasa ada keterikatan dengan Hindia Belanda / Indonesia, mereka meluangkan waktu pergi ke Indonesia, membaca literatur Indis dan meneliti sejarah Hindia Belanda. Tetapi sebagian dari generasi ini sudah acuh tak acuh dengan latar belakang mereka. Generasi ketiga adalah generasi yang mengetahui bahwa mereka keturunan Indis hanya dari cerita saja, sebagai akibatnya karakter Indis hanya mereka peroleh dari proses penceritaan sejarah keluarga dan etnisitas. Jika generasi pertama dan kedua sangat sadar bahwa mereka orang Indis tetapi tidak begitu dengan generasi ketiga. Penampilan generasi ketiga ini sudah seperti orang Belanda, tetapi mereka masih sedikit memiliki rasa sebagai orang timur.

Totok

Identitas Indis tidak hanya dimiliki oleh orang orang Indo saja, tetapi juga oleh orang Eropa totok yang tumbuh di lingkungan Hindia Belanda, kemudian kembali ke Belanda. Mereka yang pernah tinggal lama di Hindia Belanda mempunyai karakter Indis.

Di Belanda ada masyarakat Indis, mereka sering mengadakan pertemuan-pertemuan dan aktivitas lain untuk melestarikan budayanya. Misalnya Pasar Malam Besar Tong Tong (http://www.pasarmalambesar.nl/) yang diadakan setiap setahun sekali di Den Haag, majalah Moesson (http://www.moesson.com/) yang terbit setiap tiga kali dalam setahun, pameran-pameran dan lain sebagainya. Bahkan di Den Haag ada lembaga penelitian Indis / Indisch Wetenschappelijk Instituut (http://come.to/iwi) yang melestarikan, menginventarisasi dan mengadakan pameran budaya Indis, sehingga budaya Indis ini tidak cepat punah karena orang-orang dari generasi pertama sudah banyak yang meninggal.

Daftar istilah
‘Nusantara’ = wilayah di antara samudra Hindia dan samudra Pasifik.
‘Hindia Belanda’ = adalah negara Indonesia sebelum merdeka 1800-1945.
‘Indonesia’ = terdiri dari kata Indos dan Nesos, yang berarti kepulauan India, nama yang diberikan oleh ahli Geografi Jerman pada tahun 1884.
‘Kebon’ = pak bon (bapak tukang kebun)
‘Totok’ = orang Eropa asli (tidak ada darah campuran dari timur), atau orang Eropa yang lahir atau pernah hidup di Hindia Belanda.
‘Jarik’ (dari bahasa Jawa) = kain yang dipakai dengan cara dililitkan, untuk wanita.
‘Nyai’ = wanita pribumi yang beristri orang Eropa totok, tanpa ikatan pernikahan.

Leuven, 5 januari 2003