Archive for April, 2001

Arsitektur Neogotik Gereja Katedral Jakarta

April 29, 2001

Oleh Han Awal

GEREJA Katedral Jakarta yang diresmikan tahun 1901, kita kenal sebagai salah satu bangunan yang elegan dan cantik. Tahun ini, ia masih berdiri kokoh setelah 100 tahun. Kokoh, namun tetap elegan dan mengikuti aliran eklektis dalam arsitektur. Maka bangunan ini disebut dengan kata lain yaitu arsitektur neogotik Belanda.
Walaupun di prasasti depan disebut hanya Cuypers-Hulswit sebagai arsiteknya, cukup bukti bahwa Dijkmans-lah yang membuat sketsa-sketsa pertamanya. Pastor Kurris, Sj menemukan di arsip Jesuit di Nijmegen beberapa data dan gambar yang ditandatangani Dijkmans. Juga denah dasar satu-satunya yang ditemukan di sini, ditandatangani Dijkmans. Ketika Dijkmans sakit dan kembali ke Belanda, pekerjaan diserahkan kepada Hulswit. Hulswit menjadi arsitek proyek itu sampai bangunan selesai. Gedung ini merupakan pengganti Gedung Katedral yang sempat roboh pada tahun 1890.

Gaya arsitektur itu disebut Neogotik karena merupakan “tiruan gaya Gotik”. Pada arsitektur gaya Gotik yang asli, langit-langit bangunan dibuat dari batu alam dan merupakan kesatuan konstruksi sebagai penyangga atap.
Berbeda dengan gereja Gotik abad pertengahan yang hampir seluruhnya dibuat dari batu alam, maka ciri khasnya adalah lengkungan yang bertemu melancip ke atas dan memberikan ekspresi ke atas yang sangat sesuai dengan bangunan ibadah. Ditambah melangsingkan batu alam tersebut dengan bentuk alur menjulang tinggi, maka kesannya lebih mengarah pada ketinggian bangunan.

Katedral di Jakarta ditulari dengan menggunakan langit-langit kayu jati dengan bentuk seolah-olah “Gotik”. Tetapi, pada akhir abad ke-19 mengejar bentuk adalah lazim, tidak lahir dari konstruksi murni.
Menara yang dalam arsitektur asli Gotik dibuat dari susunan batu alam pula secara filigran (rajutan halus), pada Gereja Katedral sudah diganti dengan bahan modern waktu itu, yaitu baja. Pada waktu itu di Eropa digunakan konstruksi baja, dengan hiasan seolah-olah pahatan batu. Gaya ini merupakan pengaruh guru besar arsitek Violet le Duc, yang banyak pengikutnya, termasuk Dijkmans. Cuypers di Belanda menerapkan arsitektur Neogotik ini di mana-mana.

Katedral berukuran cukup besar, berkapasitas waktu itu 900 orang dengan bangku-bangku cukup kokoh, ketinggian ruang yang sangat mengagumkan, dan merupakan salah satu simbol gereja Kristen-Katolik.
Dalam garis besarnya, Katedral merupakan jenis gereja salib yaitu ruangannya berbentuk salib. Ruang altar menempati bagian atas batang salibnya. Arah bangunan dari segi panjang diletakkan pada sumbu timur-barat yang mengurangi terik Matahari langsung.

Namun, sistem pembangunan sangat mengacu pada arsitektur Barat, dengan teritis atap yang kecil, jendela tinggi lebar, sehingga suasana khas gereja Eropa terdapat di sini. Apalagi ditambah hiasan kaca patri yang indah. Pada bagian barat Katedral, terdapat jendela rosetta yang besar dihiasi kaca patri yang indah.
Hiasan dinding berupa lukisan keramik karya Th Molkeboer dikerjakan di Belanda dan ditambahkan pada tahun 1911 dan gayanya sudah mendekati gaya Jugendstil/Amsterdamsche School yang lebih modern. Dalam pemilihan hiasan dinding ini pun, menurut data yang ada (ditemukan pastor Kurris) Pastor Dijkmans masih ikut menentukan.

Penanda Jakarta

Gedung Katedral dilabur putih dan merupakan penanda (landmark) megah di Weltevreden, Jakarta, di depan halaman yang luas, yang sekarang lebih dikenal dengan lapangan Banteng-dulu disebut Taman Waterloo setelah Daendels berkuasa.

Di sekeliling Katedral terdapat Istana Daendels (sekarang Departemen Keuangan) dan di sisi-sisi lain taman terdapat pintu air dan benteng citadel (sekarang berdiri Masjid Istiqlal), terdapat juga garnisun tentara Belanda. Ada pula patung Jan Pieterszoon Coen yang pada zaman Jepang ditumbangkan.

Menjelang zaman Jepang, gereja ini sempat dicat hijau untuk perlindungan dari pengeboman pada malam hari. Warna ini setelah kemerdekaan masih tetap hijau sampai pemugaran tahun 1988. Gereja kemudian dicat warna semen sehingga lebih terasa sebagai batu alam.

Sebenarnya konstruksi Katedral terdiri dari dinding batu bata tebal memikul yang kemudian diplester dan diberi pola seperti susunan batu alam. Kuda-kuda kayu jati berbentang lebar, dikerjakan tukang-tukang Kwongfu. Sadar akan harga diri profesinya, mereka dengan bangga membuat inskripsi tanda namanya memakai huruf Mandarin. Benar-benar mengagumkan.

Atap ditutup dengan sirap, dan pada waktu pemugaran, sudah terdapat banyak bocoran. Dapat diperkirakan hal ini terjadi pada sambungan-sambungan peralihan dengan menara kecil baja dan sebagainya. Rupanya agak dipaksakan dalam pembuatannya demi mengejar bentuk dan bahan, tetapi tidak terselesaikan walaupun sudah ada pemugaran besar-besaran pada tahun 1925. Kemungkinan karena kebocoran sudah sangat mengganggu.
Telah diputuskan pula untuk mengikuti usulan kami selaku arsitek yang terlibat pemugaran tahun 1988 untuk mengganti seluruh atap dengan lapisan tembaga, seperti lazim dilakukan pada bangunan besar di Eropa dengan hasil cukup memuaskan hingga sekarang. Oksidasi pada awalnya akan membuat warna kecoklatan dan akan hijau pupus kelak. Lapisan ini selanjutnya merupakan perlindungan permanen terhadap bahan itu sendiri.
Untuk merancang bentuk pagar yang disebut sekarang “kontekstual” berikut berbagai alternatifnya, perlu waktu enam bulan tersendiri. Demikian hormat kami pada pencipta bangunan Gereja Katedral.

Cagar budaya

Gereja ini dilindungi hukum, merupakan cagar budaya dan penanda penting dalam tatanan Kota Jakarta. Tidaklah heran gedung Gereja Katedral ini memiliki karismanya tersendiri, dan merupakan simbol yang tidak dapat dipisahkan dari kerukunan antar-agama.

Dari segi perkembangan arsitektur di Indonesia, Katedral merupakan contoh bangunan gaya Eropa yang tidak terlalu disesuaikan dengan kondisi tropis-budaya. Dalam perkembangan selanjutnya, gereja-gereja bergaya Neogotik seperti Gereja Pohsarang dari arsitek Maclaine Pont sungguh-sungguh mencoba mengintegrasikan diri dengan kebudayaan setempat, dan selanjutnya beberapa eksperimen lainnya yang mencoba mencari jawaban yang lebih mengintegrasikan diri dengan kebudayaan setempat yang ada dengan kondisi teknologi yang dimungkinkan.

Sebagai penanda yang semula sangat dominan di kawasan tersebut dan dengan adanya bangunan yang lain pula ia tetap merupakan permata yang tidak dapat dilepaskan dari sejarah pembangunan Kota Jakarta.
Pada usia ke-100, otomatis bangunan ini merupakan aset pelestarian yang kita miliki bersama yang cukup indah dan terawat di Asia Tenggara.

* Han Awal, IAI, arsitek di Jakarta, pemerhati bangunan tua.

Sumber: Kompas, Minggu, 29 April 2001

Iklan

Hampir Semua Bangunan Tua Ditelantarkan

April 28, 2001

Hampir seluruh bangunan tua peninggalan kolonial Belanda di Kota Malang ditelantarkan karena berbagai alasan. Beberapa bangunan bahkan menyerupai rumah hantu karena tak berpenghuni selama bertahun-tahun.

Selain itu, banyak pula di antaranya yang telah direnovasi, bahkan disulap menjadi bangunan baru tanpa mengindahkan nilai kulturalnya.Pemantauan hari Selasa menunjukkan, lebih dari dua bangunan tua di wilayah Kelurahan Kota Lama ditelantarkan begitu saja. Di depan bangunan terlihat tumpukan sampah sisa pasar yang menggunung berhari-hari. Lain lagi bangunan tua di Jalan Jaksa Agung Suprapto. Pemiliknya telah memasang tulisan “dijual” di pagar depan. Sementara, sudah sejak bertahun-tahun bangunan tersebut tidak berpenghuni.

Kabag Humas Pemerintah Kota Malang Suprijadi mengakui, memang belum pernah dilakukan identifikasi secara menyeluruh terhadap peninggalan-peninggalan Pemerintah Kolonial Belanda di Kota Malang. Namun ia meyakini, di Kota Malang terdapat lebih dari seratus bangunan tua yang kini tidak terurus.

“Tetapi kita memiliki apa yang disebut dengan SIP, surat izin perumahan. Jadi, bagi mereka yang memanfaatkan bangunan-bangunan tua itu, kecuali sudah menjadi milik pribadi, harus mendapatkan SIP dari kita,” katanya.

Tak bergigi

Suprijadi mengungkapkan Pemerintah Kota Malang sebenarnya pernah menerbitkan SK Wali Kota Nomor SK/104/U/ II/80 yang ditandatangani Wali Kota Malang Sugiyono. SK itu sendiri mengharuskan kepada para pemilik, penyewa, pemakai, dan perencana bangunan untuk tidak mengubah bentuk, baik sebagian maupun seluruh bangunan, hingga menghilangkan kesan aslinya.

Perda menyebutkan bangunan-bangunan yang tidak boleh diubah secara total berlokasi pada 42 ruas jalan di antaranya Jalan Ijen, Jalan Semeru, Jalan Bromo, Jalan Arjuna, serta ruas-ruas jalan di sekitarnya.

Namun, Suprijadi tidak mengetahui secara pasti apakah Pemerintah Kota Malang telah memiliki Perda yang mengatur tentang pemanfaatan bangunan-bangunan tua peninggalan Belanda itu. “Kita belum tahu, nanti saya cek,” katanya.

Arkeolog Universitas Negeri Malang (UM) Dwi Cahyono mendesak agar wakil rakyat dan pemerintah kota segera membentuk Perda konservasi budaya. Konservasi tidak saja harus dilakukan terhadap peninggalan-peninggalan arkeologis dari kerajaan, tetapi juga bangunan-bangunan tua peninggalan Belanda.

Ia menilai SK Wali Kota tersebut sama sekali tidak memiliki gigi. Ia mencontohkan Jalan Ijen yang terkenal itu, bangunan-bangunannya sudah mulai diubah tanpa mengindahkan Perda.

“Sebab, selain amat bermanfaat bagi pengembangan pariwisata, bangunan itu sebagai bukti sejarah bahwa di Kota Malang sendiri dahulu pernah menjadi pusat karesidenan. Bahwa selain pernah dijajah, Belanda juga meninggalkan arsitektur bergaya kolonial yang berbeda dengan arsitektur di Eropa sana,” kata Dwi Cahyono.
Menurutnya, sebelum pembentukan Perda tersebut, pemerintah kota harus segera melakukan inventarisir, serta identifikasi terhadap seluruh bangunan yang dikategorikan sebagai peninggalan Belanda. “Hal ini perlu, karena selama ini kita lihat bangunan-bangunan tua itu telantar, lama-lama dicap jadi rumah hantu. Padahal, itu salah satu kekayaan Kota Malang,” katanya.

Dwi Cahyono menolak jika dikatakan korservasi terhadap budaya menjadi prioritas kedua, setelah pembangunan lainnya. Hal ini justru mendesak dilakukan untuk menyelamatkan punahnya sejarah peradaban di Kota Malang. (can)

Sumber: Kompas, Sabtu, 28 April 2001