Arsip untuk ‘Kampung Bersejarah’ Kategori

Rawa Bangke dan Jaga Monyet yang Hilang dari Peta Jakarta

Mei 11, 2007

Oleh: Mulyawan Karim

Sampai dengan tahun 1960-an, di Jatinegara, Jakarta Timur, ada kampung bernama Rawa Bangke. Tetapi, coba cari tempat itu di peta sekarang. Hasilnya pasti nihil.

Nama Rawa Bangke yang terkesan seram tak ada lagi. Mungkin supaya terdengar lebih manis, nama kampung itu telah berganti menjadi Rawa Bunga. Sebutannya pun bukan lagi kampung, tetapi kelurahan.

Padahal nama Rawa Bangke ada ceritanya. Menurut cerita rakyat Betawi, nama itu berasal dari zaman penjajahan Inggris, waktu pasukan Inggris berusaha merebut Jakarta atau Batavia dari tangan Belanda, awal tahun 1811. Dalam pertempuran sengit di daerah Jatinegara, yang waktu itu masih bernama Meester Cornelis, banyak tentara Inggris meninggal. Mayat-mayat atau bangkai mereka terlihat bergelimpangan di rawa. Warga sekitar lantas menyebut rawa itu dengan nama Rawa Bangke.

Versi lain menyebut, nama Rawa Bangke berasal dari masa abad ke-18 Masehi. Daerah rawa itu diberi nama demikian setelah di sana banyak ditemukan mayat orang China pemberontak yang jadi korban pembantaian pasukan Belanda. Catatan sejarah menyebutkan, sekitar 10.000 warga Batavia keturunan China tewas dalam aksi pembunuhan besar-besaran yang terjadi pada Oktober 1740 itu.

Legenda Jaga Monyet
Nasib Kampung Jaga Monyet sama saja. Kampung dengan nama itu, yang pernah ada di daerah Petojo, Jakarta Pusat, tak jauh dari Harmoni, kini juga sudah raib dari peta Jakarta. Jalan yang dulu bernama Jalan Jaga Monyet pun sudah berganti menjadi Jalan Suryopranoto.

Nama tempat atau toponim Kampung Jaga Monyet muncul pada zaman VOC, antara abad ke-17 dan 18 Masehi. Pada masa itu, di sana terdapat benteng yang dibangun Belanda dengan tujuan untuk menangkal serangan pasukan Kesultanan Banten dari arah Grogol dan Tangerang.

Kabarnya, kalau sedang tak ada serangan musuh, para serdadu di sana lebih banyak menganggur. Karena kurang kerjaan, sehari-hari mereka lebih sering cuma mengawasi kawanan monyet yang banyak berkeliaran di dalam benteng, yang pada masa itu masih dikelilingi hutan belantara. Dari kondisi itulah nama Kampung Jaga Monyet kemudian muncul.

Kampung pasukan JP Coen
Tentu saja tidak semua kampung purba di Jakarta raib atau berganti nama. Kampung Ambon di Rawamangun, yang sudah berdiri sejak awal abad ke-17 Masehi, misalnya, masih bertahan sampai sekarang dengan nama sama.

Menurut catatan sejarah, Kampung Ambon mulai dibangun pada tahun 1619. Ketika itu, panglima pasukan Belanda Jan Pieterszoon (JP) Coen baru tiba kembali di Jakarta—yang saat itu masih bernama Jayakarta—dari Maluku untuk merebut wilayah Jayakarta dari kekuasaan Kesultanan Banten. Setelah memenangi perang, JP Coen mengganti nama kota pelabuhan internasional itu, dan ia sendiri diangkat menjadi Gubernur Jenderal VOC keempat.

Kemenangan JP Coen tak lepas dari dukungan pasukan pribumi yang khusus ia bawa dari Ambon. Konon jumlahnya mencapai 17 kapal. Namun setelah kemenangannya, ia tak memulangkan bala tentara bantuan ini ke daerah asalnya. Sebaliknya, ia memukimkan mereka di kawasan hutan rawa di tenggara Batavia, yang wilayahnya ketika itu baru sebatas daerah Pelabuhan Sunda Kelapa dan Jakarta Kota. Permukiman tentara asal Maluku itulah yang disebut Kampung Ambon, hingga hari ini.

Meski di Kampung Ambon kini tak ada komunitas warga keturunan Ambon, di sana pernah ditemukan berbagai benda peninggalan sejarah dari zaman VOC. Di antaranya berupa pal atau patok batas wilayah setinggi satu meter dari batu cor.

Mengganti nama daerah, kampung, atau jalan, tidak dilarang, asal saja tak dilakukan dengan serampangan dan asal enak didengar. Banyak toponim lama yang juga pantas dihargai, terutama yang punya makna sejarah, baik sejarah politik, sosial, budaya, maupun sejarah lingkungan alam.

Penggantian nama secara semena-mena bukan cuma sering membuat masyarakat bingung, tetapi juga bisa mengaburkan sejarah.

Sumber: Kompas, 11 Mei 2007

Braga, Turis Pun Kini Meringis

Februari 27, 2006

Braga yang dikenal turis mancanegara kini berubah menjadi wajah perkampungan kumuh. Jerit anak berebut tempat bermain di lapangan adalah sambutan hangat di Kampung Braga, Kelurahan Braga, Kota Bandung. Anak balita berlarian di antara gerobak, ember penampung air, dan jemuran kini menjadi pemandangan keseharian di Braga.

Begitu padatnya Braga sehingga anak-anak tak punya lagi tempat bermain. Padahal, Haryoto Kunto dalam bukunya Semerbak Bunga di Bandung Raya menceritakan, pada tahun 1800 Braga hanyalah sebuah kebun karet dan lahan pemakaman.

Tahun 1911 Jalan Braga yang pernah bernama Jalan Pedati alias Pedatieweg atau Karrenweg menjadi asri oleh pohon kenari. Baru pada tahun 1937, Braga dipenuhi dengan toko-toko.

Di belakang pertokoan, ada sebuah kampung yang dinamakan Kampung Braga. Dari jalan besar Braga, ada gang yang menjadi pintu keluar-masuk kampung ini. Gang tersebut dibuat di antara lorong bangunan yang dibangun seperti gapura sehingga tetap menyatu dengan arsitektur Braga. Braga menjadi jalan yang kesohor. Turis-turis dari mancanegara datang ke jalan ini untuk menikmati makanan di restoran-restoran, membeli pakaian bermerek, serta memborong suvenir yang banyak dijual di toko-toko Braga.

Rumah panggung

Soleh Margareta (46) mengaku lahir dan dibesarkan di kampung itu. ”Rumah-rumah di kampung ini sebagian besar adalah rumah panggung berdinding bilik. Di mana-mana ada pohon buah-buahan. Gang pun besar-besar,” tuturnya.

Sebagian besar penghuni kampung adalah pedagang. Sepulang sekolah, bersama teman-teman sebayanya, mulai di sekolah dasar sekitar tahun 1968, Soleh pergi ke Jalan Braga untuk berjualan koran atau menyemir sepatu turis.

”Dulu, turis banyak banget. Dalam sehari, saya bisa dapat Rp 200. Uang segitu setara dengan satu kemeja bermerek,” ujarnya.

Banyak turis mampir ke kampungnya. Mereka senang memotret wajah polos anak-anak Braga. Obyek favorit lainnya adalah Sungai Cikapundung. Waktu itu sungai, yang kini pekat oleh kotoran itu, masih berbatu dan hampir tak pernah sepi dari aktivitas warga. Ada yang mencuci, mandi, bahkan menjala ikan.

Kini Sungai Cikapundung ”rajin” membawa banjir lumpur dan sampah. Tahun 2004 air menggenangi rumah sampai ketinggian satu meter.

Hingga akhir tahun 1980, warga akrab dengan turis. ”Dulu turis yang datang sudah bisa berbahasa Indonesia. Bahkan, ada yang fasih berbahasa Sunda. Tidak ada hambatan komunikasi,” ujar Soleh.

Banyak anak di Braga yang disantuni dan dibiayai pendidikannya oleh para turis, termasuk Soleh. ”Waktu SD, saya punya teman bernama Bernard dari Italia. Setiap bulan dan saat ulang tahun ia selalu mengirimi saya baju atau barang-barang lain sebagai hadiah,” ujar Soleh.

Persahabatan itu terus berlangsung hingga bertahun-tahun. Ketika sahabatnya datang, Soleh selalu dijemput untuk diajak makan di restoran terkemuka di Jalan Braga.

Makin suram

Kondisi itu memicu para orangtua menyekolahkan anaknya ke jurusan pariwisata. Namun rupanya peruntungan Braga makin suram. Para pekerja pariwisata itu akhirnya melakukan kerja kasar lagi.

Kemasyhuran Braga surut tahun 1990 dan mencapai puncaknya tahun 1997. ”Toko-toko pun bangkrut,” ujar Soleh.

Kampung Braga lalu tumbuh semakin semrawut, seiring dengan bertambahnya penduduk. Sebagian besar warga Braga tak mau pindah karena posisinya di pusat kota dan dekat dengan berbagai fasilitas publik.

Mereka rela berdesak-desakan. Gang-gang lebar kini tinggal selebar 0,5 meter—habis dipakai untuk dapur warga. Tak jarang ada rumah luasnya kira-kira 20 meter persegi, tetapi dihuni dua hingga lima keluarga!

Warga pun tidak punya toilet. Mereka mandi, mencuci pakaian, dan menampung air untuk minum dari air leding di tempat-tempat mandi-cuci-kakus (MCK) yang berada di pinggir-pinggir Sungai Cikapundung.

Kegiatan membangun

Hampir setahun lalu di muka kampung ini didirikan hotel dan apartemen 19 lantai yang disebut proyek Braga City Walk (BCW). Masyarakat mulai mengeluh. ”Air susah karena sumur kering, udara pengap, dan sinar matahari terhalang. Penyakit awet, terutama flu pada anak,” kata Elin (33), warga.

Air leding yang kuning hanya menetes pada siang hari. Biasanya baru pada malam hari aliran air cukup besar. Di tengah malam warga masih beraktivitas untuk mencuci perkakas dapur atau mencuci pakaian.

Karena hanya ada sekitar lima MCK di kampung itu, warga memanfaatkan gang sempit di muka atau di samping rumah untuk tempat mencuci piring. Karena tak semua gang dilengkapi saluran limbah rumah tangga, air pun menggenang di mana-mana dan menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti. Setiap tahun, ada saja warga yang menderita demam berdarah.

Kini, yang melintas di kampung mereka bukan lagi turis, tetapi para pekerja kasar di proyek itu. Mereka biasa berjalan-jalan di gang kampung saat hendak berangkat, pulang, atau beristirahat untuk makan.

Sebagian besar pekerja menyewa kamar sempit dengan tikar untuk tidur. Menurut Soleh, Sekretaris RW 08, ada sekitar 200 penduduk sementara yang tinggal di kampungnya sejak tahun 2005. RW 08 merupakan wilayah terdekat dengan proyek BCW. Ada lebih dari 300 keluarga atau hampir 1.200 orang tinggal di kampung ini.

Karena kedatangan penghuni baru, penduduk beramai-ramai membuka warung untuk para pekerja kasar. Sri (30) dan Tika (50) merupakan dua warga yang menyulap rumah sempitnya menjadi warung nasi. Air limbah melintasi tumpukan piring dan gelas yang belum dicuci. Membawa bau tak sedap di gang gelap. (Ynt)

Sumber: Kompas, 27 Februari 2006

Kampung Kapitan di Tepi Sungai Musi

Oktober 10, 2005

Oleh: Caesar Alexey

Sejak zaman Sriwijaya, Sungai Musi telah menjadi urat nadi pertumbuhan Kota Palembang dan sekitarnya di Sumatera Selatan. Semua bangunan dari beberapa peradaban tumbuh dan hilang di sisi kanan-kiri sungai ini. Namun jika menyusurinya, kita masih akan menemukan banyak bangunan indah yang menyimpan beribu penggalan sejarah Palembang, seperti Kampung Kapitan.

Kampung Kapitan merupakan kelompok 15 bangunan rumah panggung ala China yang terletak di Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu 1, Palembang. Kampung itu, pada awalnya, merupakan tempat tinggal seorang perwira keturunan China berpangkat kapitan (sekarang disebut kapten) yang bekerja untuk Pemerintah Kolonial Belanda.

Pada masa itu, seorang kapitan bertugas untuk memungut pajak dari masyarakat China dan masyarakat pribumi yang berada di wilayah Seberang Ulu Palembang. Kapitan juga bertugas untuk menjaga keamanan wilayah dan mengatur tata niaga candu di wilayah terbatas.

Bangunan inti di Kampung Kapitan terdiri atas tiga rumah, merupakan bangunan yang paling besar dan menghadap ke arah Sungai Musi. Rumah di tengah merupakan rumah yang lebih sering difungsikan untuk menyelenggarakan pesta dan pertemuan-pertemuan dengan banyak orang. Sementara kedua rumah di sisi timur dan barat lebih banyak difungsikan sebagai rumah tinggal.

Keluarga besar

Rumah-rumah lain dibangun oleh kapitan untuk menampung keluarga besarnya. Rumah-rumah itu membentuk persegi panjang, dengan sebuah ruang terbuka di tengahnya. Ruang terbuka dahulu kala dibentuk menjadi taman yang indah, tetapi kini dibiarkan ditumbuhi rumput dan tidak terawat.

Dari arah darat hanya ada satu jalan masuk ke Kampung Kapitan, yang berjarak sekitar 800 meter dari bawah Jembatan Ampera. Di jalan masuk terdapat dua gerbang yang daun pintunya hilang.

Menurut budayawan dan sejarawan Palembang, Djohan Hanafiah, munculnya Kampung Kapitan berkaitan dengan runtuhnya Kerajaan Sriwijaya pada abad XI dan munculnya Dinasti Ming di China pada abad XIV. Saat itu, Dinasti Ming membatasi jumlah pedagang China yang akan berdagang ke arah selatan (Kepulauan Nusantara), dengan membentuk semacam lembaga dagang negara.

Lembaga dagang itu menjadikan Palembang sebagai salah satu basis dagang yang besar. Sebagai kota perniagaan, banyak orang China yang datang dan menetap di Palembang. Sebagian dari mereka berinteraksi dan menikah dengan gadis Palembang yang beragama Islam.

Salah satu kepala kantor dagang China yang terkenal saat itu, kata Djohan, adalah Liang Taow Ming. Liang mampu mengikat persatuan yang kuat antarmasyarakat China sehingga mereka menjadi komunitas yang kuat dan cukup diperhitungkan Pemerintah Kolonial Belanda.

Ketika kekuasaan kolonial menjadi lebih kuat atas Kesultanan Palembang Darussalam, Belanda mulai mengangkat perwira China untuk mengatur wilayah 7 Ulu dan sekitarnya. Perwira tersebut semula bertugas mengatur komunitas China saja. Akan tetapi, seiring makin kuatnya Belanda, perwira China juga mulai memegang kendali atas masyarakat pribumi.

Menurut Tjoa Kok Lim alias Kohar (72), cucu kapitan terakhir, Tjoa Ham Hin, dua perwira China pertama berpangkat mayor. Mereka dikenal sebagai Mayor Tumenggung dan Mayor Putih. Nama asli keduanya sulit untuk dilacak kembali, tetapi mereka berasal dari marga Tjoa.

Kepangkatan dan wewenang itu diwariskan kepada keturunan berikutnya, tetapi pangkatnya turun menjadi kapitan. Tiga rumah inti dan perkampungan itu diwariskan kepada pemegang pangkat kapitan secara turun-temurun sehingga kampung itu disebut Kampung Kapitan.

Di Kampung Kapitan terdapat satu klenteng yang besar, sebagai pusat peribadatan masyarakat keturunan China di kawasan Seberang Ulu. Namun, klenteng itu terbakar habis dan kemudian dibangun ulang di kawasan 10 Ulu pada tahun 1733, lima tahun sebelum pembangunan Masjid Agung Palembang selesai.

Interaksi sosial

Muhammad Saleh alias Ujang (74), tetua di Kampung Kapitan, menuturkan, interaksi antara masyarakat keturunan China dan masyarakat pribumi berlangsung dengan baik. Banyak warga keturunan China, terutama dari keluarga besar kapitan, yang menikah dengan pribumi.

Dalam melaksanakan tugasnya untuk menarik pajak dan menjaga keamanan, kapitan juga bekerja sama dengan para demang (setingkat lurah) yang merupakan penduduk pribumi. Mayoritas pegawai kapitan juga berasal dari masyarakat pribumi dan mereka membangun rumah kecil yang menempel di sisi rumah utama.

Meskipun hubungan kapitan dan pegawainya adalah atasan dan bawahan, kata Ujang, Kapitan Tjoa Ham Hin sering berlaku seperti tetangga kepada para pegawainya. Mereka saling membantu. Kerukunan antara masyarakat pribumi dan keluarga kapitan terlihat dalam berbagai upacara hari besar keagamaan.

Berdasarkan pengalamannya semasa kecil dan penuturan orangtuanya, kata Ujang, kapitan Tjoa Ham Hin pernah mengadakan pesta untuk merayakan peringatan hari besar seperti Idul Fitri dan peringatan hari raya masyarakat China. Pesta yang diselenggarakan di rumah bagian tengah itu menggunakan alat musik campuran, antara alat musik Eropa, China, dan Palembang.

Dalam pesta itu, peralatan makan dan memasak yang digunakan untuk orang keturunan China dan pribumi dibedakan. Pembedaan dilakukan karena banyak masakan China yang mengandung daging babi dan arak, jenis makanan dan minuman yang diharamkan masyarakat Muslim.

Masa kini

Kini, keanggunan Kampung Kapitan sudah nyaris hilang. Hanya bangunan-bangunan kuno yang masih tegak berdiri, meskipun banyak kerusakan kecil di berbagai sudut.

Selain itu, bagian bangunan yang terbuat dari kayu juga tampak kusam dimakan usia. Namun, dinding kayu tidak rusak karena terbuat dari kayu unglen yang mampu bertahan selama ratusan tahun.

Di dalam rumah, meja abu dan altar sembahyang yang dihiasi patung beberapa dewa, juga terlihat berdebu dan dikotori sarang laba-laba. Hampir tidak ada lagi meja kursi atau lemari yang dapat menggambarkan situasi masa lalu. Hanya ada beberapa foto kapitan masih terpampang di ruang tamu rumah sebelah timur.

Taman bagian tengah kampung juga sudah berubah menjadi tanah lapang yang tidak terurus. Dua patung singa, lambang rumah perwira China, yang dulu pernah menghiasi bagian depan rumah inti juga hilang.

Menurut Tjoa Kok Lim, Kampung Kapitan menjadi tidak terurus dengan baik setelah ditinggalkan para keturunan kapitan. Tjoa Kok Lim menjaga rumah itu karena keempat saudara perempuannya mengikuti suami mereka ke luar Palembang.

Pudarnya ketenaran Kampung Kapitan juga membuat anak-anak Tjoa Kok Lim memilih bekerja di Jakarta dan Lampung. Ia kini hanya ditemani seorang anak perempuan untuk menjaga kedua rumah inti, setelah rumah ketiga dijual kepada orang lain. Rumah-rumah kecil di Kampung Kapitan juga sudah dikuasai para penghuninya, dan tidak lagi dalam kepemilikan keluarga kapitan Tjoa Ham Hin.

Tjoa Kok Lim mengatakan, mereka tidak akan menjual dua rumah yang tersisa karena ayahnya, Tjoa Hendrik, pernah berpesan agar kedua rumah itu tidak jatuh ke orang lain. Kok Lim mengharapkan, jika dia dipanggil Tuhan, kelak Pemerintah Kota Palembang menata ulang kampung itu menjadi kawasan wisata sejarah.

Sumber: Kompas, Senin, 10 Oktober 2005

Keakraban Arab-Tionghoa Kampung Pekojan di Jakarta Barat Menjadi Contoh

Agustus 10, 2005

Oleh: IWAN SANTOSA

Bila ingin menyaksikan komunitas Tionghoa yang bersopan-santun gaya Islam, datanglah ke Kampung Pekojan di sisi kawasan Glodok, Jakarta Barat. Masyarakat Tionghoa asli kampung Pekojan memiliki tradisi bersalaman ala Muslim sebagai dampak budaya yang dibawa warga Arab dan India selama berabad-abad.

Siang itu di warung mi ayam milik Ah Lim di sebelah Masjid Annawier Pekojan, orang yang datang Tionghoa, Arab atau Melayu silih berganti dan selalu memberi salam sebelum duduk. Ah Sen dan beberapa orang Tionghoa yang datang belakangan, selalu berjabatan kemudian menyentuhkan ujung jemari ke dada mereka bak seorang Muslim.

Cuma di kampung sini Anda ketemu orang Tionghoa yang meski bukan Muslim, tetapi selalu bersalaman setiap kali bertemu. Semua rukun di sini sejak zaman dulu. Kalau Anda melihat di sekitar sini ada rumah Tionghoa dengan pagar tinggi dan tertutup rapat pasti bukan Tionghoa Pekojan. Kalau Tionghoa asli sini sudah biasa, susah senang bersama-sama. Saya waktu kecil biasa tidur di rumah Ah Lim dan kami main bola sama-sama, kata Faisal Al Amrie warga asli Pekojan keturunan ke-19 Arab Hadramaut (Yaman Selatan).

Dia pun mengaku mengenal percakapan sederhana dalam bahasa Arab Suwayau-suwayau katanya sambil tertawa yang artinya, sedikit-sedikit paham berbahasa Arab. Sebaliknya, Faisal juga mengaku sedikit mengerti Mandarin untuk percakapan sederhana. Sehari-hari pun mereka terbiasa menggunakan kata ana (untuk menyebut dirinya) atau ente (untuk lawan bicaranya).

Demikian pula pada saat Lebaran, Faisal menjelaskan, para tetangga Tionghoa biasa bersilaturahmi ke rumahnya. Sedangkan waktu Sinjia (Tahun Baru Tionghoa dalam dialek Hokkian Red), Faisal menyampaikan Kiong Hie (Gong Xi) sebagai ucapan selamat kepada teman-teman Tionghoa.

Perkawinan

Masyarakat Kampung Pekojan tidak tahu apa itu pluralisme atau radikalisme. Yang jelas selama ini tidak pernah ada keributan atau berprasangka di antara mereka sebagai sesama manusia biasa ciptaan Sang Khalik. Di tengah perkampungan dan bangunan tua yang tercatat berasal dari abad ke-17 masih tertinggal tradisi saling menghargai yang tak lenyap di telan zaman.

Tradisi lain yang terpelihara baik adalah soal perkawinan dan kematian. Faisal mengatakan, kalau ada warga yang meninggal, semua berkumpul. Yang bertakziah tidak pandang bulu. Arab, Tionghoa, Melayu semua kumpul, kata Faisal.

Hukumnya wajib untuk membantu tetangga yang kesusahan di Kampung Pekojan. Lebih unik lagi, kalau urusan perkawinan, semua saling urun modal perkawinan.

Faisal menjelaskan, kalau ada calon mempelai pria yang kesulitan uang untuk modal perkawinan, biasanya yang bersangkutan akan bercerita kepada sahabatnya entah sesama Arab atau Tionghoa. Selanjutnya, kawan tersebut bertindak sebagai perantara dan mengutarakan kesulitan si calon mempelai seraya mengumpulkan dana dari kawan-kawannya yang lain.

Dari aksi solidaritas tersebut sesama warga Pekojan mengupayakan bagaimanapun caranya si calon mempelai pria harus bisa punya modal yang dibutuhkan untuk menikah, kata Faisal.

Berbagi hidup juga dilakukan di saat musim kemarau. Biasanya jika warga kesulitan air, mereka mengambil air di Musola Azzawiyah, Pekojan. Arab, Tionghoa, Muslim ataupun bukan Muslim antre mengambil air di tempat itu.

Petang pun beranjak malam. Suara azan terdengar dan warga Arab Pekojan pun menunaikan ibadah Shalat Magrib. Kesibukan suasana perdagangan di Pekojan pun terhenti dan hari esok akan kembali menjalin keakraban penghuninya.

Kampung Pekojan bukan hanya situs dan komunitas peninggalan sejarah. Pesan kerukunan di tengah kepastian merupakan hal nyata bagi komunitas Kampung Pekojan.

Sumber: Kompas, Rabu, 10 Agustus 2005

Komunitas Kaum Koja

Agustus 10, 2005

Di tengah hiruk-pikuk kawasan Glodok-Pancoran sebagai jantung Pecinan Jakarta, terdapat sebuah perkampungan Arab-India Muslim, yakni kampung Pekojan. Masjid berusia empat abad lebih dengan arsitektur khas, rumah tua berarsitektur Moor dengan nuansa Arab atau India, rumah beratap lengkung khas Tionghoa hingga toko-toko penjual bibit minyak wangi adalah suasana khas Kampung Pekojan.

Di salah satu sudut Pekojan di dekat Jalan Bandengan Selatan terdapat rumah bergaya Moor berwarna putih dengan aksen warna merah dan berpagar rendah milik keluarga besar Alatas yang terhitung kerabat dekat Mantan Menteri Luar Negeri Ali Alatas. Rumah tersebut tampak kontras bersebelahan dengan rumah-rumah berarsitektur Tionghoa.

Bangunan itu merupakan salah satu situs sejarah Pekojan yang tersisa. Sedangkan di beberapa bangunan lain di dekat Masjid Langgar Tinggi terdapat rumah-rumah Moor dengan arsitektur atap bersusun. Di bagian dalam beberapa rumah terdapat hiasan keramik Belanda.

Sejarawan Adolf Heuken dalam buku Historical Sites of Jakarta menyebutkan, kawasan tersebut merupakan pusat komunitas kaum Koja dari India pada abad 17-18 Masehi sehingga dinamakan Pekojan.

Selanjutnya warga Arab dari Hadramaut bermigrasi ke Jakarta juga bermukim di situ. Nama-nama besar keluarga Alaydrus, Alhabsyie, Aljufrie, Attamimi, Assegaf, Alkadrie dan para habib adalah legenda hidup yang keturunannya beranak-pinak di Indonesia.

Sedangkan kaum Moor sebutan Eropa untuk India Muslim sebagian besar berasal dari pantai Koromandel India.

Langgar Tinggi

Selain berniaga, mereka juga melakukan syiar agama Islam dan membangun masjid-masjid yang berarsitektur unik. Rahim Bekend, warga asli Pekojan yang tinggal di Jalan Pengukiran 2, menjelaskan, warga India mendirikan Masjid Jami Kampung Baru di Jalan Bandengan Selatan 34 dan Masjid Jami Al Ansor di sebuah gang di Jalan Pengukiran 2, sedangkan warga Arab mendirikan Langgar Tinggi dan Masjid Annawier di Jalan Pekojan yang masih berdiri megah. Masjid Jami’ Kampung Baru, yang menurut Heuken, didirikan tahun 1748 masih menyisakan suasana kemegahan masa lalu dengan kubah masjid berarsitektur khas, seperti Masjid India yang kita dapati di Malaysia dan Singapura.

Kurang lebih seperti Masjid Kapten Keling di Penang, Malaysia yang juga berada di tengah-tengah Chinatown kota lama George Town.

Mimbar asli Masjid Jami Kampung Baru yang berukir indah kini disimpan di Museum Sejarah Jakarta. Sedangkan interior asli yang tersisa adalah pilar utama, beberapa jendela dan ukiran Anggur.

Sayang di Masjid Jami Al Ansor tidak banyak jejak bangunan asli yang tersisa. Solihin, warga di sebelah masjid, mengakui sudah banyak renovasi yang dilakukan sehingga bentuk asli tidak tersisa.

Heuken mencatat, masjid itu didirikan warga asal Malabar, wilayah pantai timur India. Tetapi setahun sekali, keturunan komunitas India tersebut pasti datang sewaktu Lebaran ke masjid tersebut.

Lain lagi masjid warga Arab, salah satu keturunan Nabi Muhammad SAW dari pasangan Ali dan Fatimah, yakni keluarga Said yang bernama Abdullah bin Hussein Alaydrus, membangun Masjid Annawier yang megah di tahun 1760.

Tiap tahun tanggal 27 Ramadhan, seluruh keturunan Arab di Jabotabek dan daerah lain pasti berkumpul di masjid ini. (ong)

Sumber; Kompas, Rabu, 10 Agustus 2005

Kampung Arab yang Tak Lagi Jadi Kampungnya Orang Arab

Mei 17, 2004

KAMPUNG Pekojan di Kelurahan Pekojan, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, sampai sekarang masih dikenal sebagai Kampung Arab atau kampungnya orang Arab. Padahal, saat ini hanya beberapa gelintir orang keturunan Arab saja yang masih tinggal di Pekojan. Pekojan bahkan didominasi oleh etnik Tionghoa karena lokasinya yang dekat Glodok.

Yang paling menonjol dan dikenal di Kampung Arab adalah masjid-masjid kunonya yang sampai sekarang masih dimanfaatkan untuk beribadah kaum Muslim. Masjid Ar-Roudhoh yang diduga tertua, dibangun pada awal abad ke-17, sampai kini masih berdiri meski tidak sekokoh dulu.

Ada lagi Masjid Al-Anshor yang dibangun tahun 1648, lalu Masjid An-Nawir yang dibangun tahun 1760, Masjid Langgar Tinggi yang dibangun tahun 1829, dan Masjid Zawiah yang dibangun tahun 1874.

Alwi Shahab, penulis dan pemerhati sejarah yang juga keturunan Arab, mengatakan, pada tahun 1950-an sekitar 95 persen penduduk Pekojan masih keturunan Arab. Mereka berpindah tempat ke Condet, Jatinegara, Tanah Abang, Depok, hingga Bogor. “Arab yang di sini semuanya datang dari Hadramaut, provinsi di Yaman Selatan,” kata Alwi.

Ihwal datangnya orang Arab ke Pekojan, menurut Alwi, tidak lepas dari campur tangan Belanda. Waktu itu, orang Arab memang banyak yang merantau ke Indonesia untuk berdagang. Mereka datang melalui Pelabuhan Tanjung Priok. Pemerintah Belanda yang berkuasa pada waktu itu lalu memaksa orang Arab tersebut tinggal berkelompok di Pekojan. “Belanda sengaja memecah belah orang Arab dengan orang Tionghoa yang tinggal di Glodok. Padahal, sebenarnya hubungan mereka baik-baik saja,” katanya.

Prof Dr LWC van den Berg, orientalis Belanda yang meneliti Pekojan pada tahun 1884-1886, menyebutkan, Pekojan lebih dulu dihuni orang Benggali dari India. Pekojan berasal dari kata “koja”, sebutan untuk Muslim India yang datang dari Benggali.

Sejumlah gedung dan rumah di Pekojan dibangun dengan gaya Moor. Banyak pula yang bergaya Betawi, atau Portugis bercampur China. Salah satu rumah bergaya Betawi yang berusia lebih dari satu abad saat ini dilestarikan Pemerintah Provinsi DKI sebagai salah satu benda bersejarah yang dilindungi. Rumah milik Abdurrahman Alatas (70-an) ini panjangnya 60 meter dan lebarnya 20 meter. Dulu, sewaktu dia kecil, sekeliling rumahnya masih berupa semak belukar, dan di depan rumahnya terdapat kali yang saat ini menjadi Jalan Pengukiran III.

MASJID An-Nawir di Jalan Raya Pekojan boleh dikatakan paling populer. Masjid seluas 1.983 meter persegi ini disebut pula Masjid Pekojan. Pendirinya adalah Syarifah Fatimah yang meninggal tahun 1897 dan dimakamkan di kanan masjid. Ada pula beberapa makam lain di sekeliling masjid, antara lain makam Komandan Dahlan dan H Abdul Mu’thi bin H Musyaffa’. “Masjid telah beberapa kali direnovasi, terakhir tahun 2002. Namun, tiang, kubah, dan menaranya masih asli,” kata Abdullah Awab, pengurus masjid.

Masjid Langgar Tinggi seluas 385 meter persegi dibangun dengan gaya Portugis bercampur China. Menurut Ahmad Alwi Assegaf, warga RT 02 RW 01, yang juga keturunan Arab generasi keenam, selain untuk tempat ibadah, langgar juga dijadikan tempat kumpul-kumpul dan bercengkerama.

Ada satu lagi yang menjadi ciri khas Pekojan, yaitu jembatan kambing. Dulu, menurut cerita, jembatan itu selalu dilewati kambing-kambing yang didatangkan dari luar kota. Kambing-kambing itu memang khusus disediakan warga untuk dikonsumsi. “Dulu hanya ada dua penjual kambing di sini, salah satunya kakek buyut saya. Buyut saya dagang kambing berbarengan dengan masuknya orang Arab ke sini. Saat ini, ada empat penjual kambing di sini,” kata Budi, penjual daging kambing.

Ahmad, penjual daging kambing lain, mengatakan, empat penjual yang ada di Pekojan hanya meneruskan usaha nenek moyang yang sudah turun-temurun. “Langganan kami ya mulai dari tukang sate hingga ibu rumah tangga,” katanya.

Orang Arab memang gemar makan daging kambing. “Tapi tetap sehat,” kata Abu Bakar, pengurus masjid yang mengaku setiap hari makan daging kambing. (IVV)

Sumber: Harian Kompas, Senin, 17 Mei 2004.

Kampung Tugu, Menyimpan Kenangan Sejarah

April 28, 2004

DI mana sebenarnya Kampung Tugu? Tempat lahirnya Keroncong Tugu itu terletak di sebelah timur Kota atau sebelah tenggara Tanjung Priok. Dari Cakung, lebih mudah menemukan lokasi itu, susuri saja jalan Cakung-Cilincing. Di kawasan berikat nusantara Cakung, di tengah kepungan pabrik dan ratusan kontainer, di sanalah letak Kampung Tugu. Kini, jalan yang melintas di depannya bernama Jalan Raya Tugu.

MENURUT warga sekitar, Kampung Tugu dulu bisa ditempuh melalui air. Orang biasa naik dari Pasar Ikan lalu menyusur pantai Cilincing, masuk ke Marunda dan belok melalui Kali Cakung hingga sampai ke Kampung Tugu. Sekarang, bingung arah rasanya jika harus melalui jalan air itu, apalagi sampan-sampan yang memasuki Kali Cakung tak berfungsi lagi sejak tahun 1942, sejak kedatangan Jepang.

Mengapa disebut Kampung Tugu? Menurut kabar, pada tahun 1878 di suatu tempat di Tugu, pernah ditemukan sebuah batu berukir yang kemudian dikenal sebagai Prasasti Tugu. “Waktu itu, orang yang menemukannya merasa heran karena dalam batu seperti ada ceritanya, dari bahasa Sanskerta yang katanya ditulis oleh orang Hindu pada abad keempat. Karena itu, tempat ini akhirnya dinamakan Kampung Tugu,” jelas Fernando Quiko (57), seorang warga Kampung Tugu keturunan Portugis generasi ke sembilan.

M. Isa, pemandu wisata sejarah dari Museum Sejarah Jakarta, yang juga alumnus Jurusan Sejarah Universitas Indonesia, mengatakan, Prasasti Tugu sebenarnya ditemukan di Sukapura, tepatnya di sebelah timur Pelabuhan Tanjung Priok, di selatan perkampungan orang keturunan Portugis Tugu.

Dalam Buku Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta terbitan Yayasan Cipta Loka Caraka 1997 karangan Adolf Heuken SJ, disebutkan bahwa Prasasti Tugu merupakan peninggalan arkeologis paling tua, yang membuktikan pengaruh Hindu di Jawa Barat. Batu-batu besar serupa, yang bertuliskan nama Raja Purnawarman, ditemukan di tempat-tempat lain di Jawa Barat. Raja ini memerintah sebuah kerajaan yang disebut Taruma(negara). “Nama itu mungkin berkaitan dengan nama Ci-tarum, yang kini melalui Bendungan Jatiluhur dan bermuara di Laut Jawa, 20 kilometer timur laut dari Tugu,” tulis Heuken.

Di Kampung Tugu, saat ini masih tersisa orang keturunan Portugis. Beberapa rumah bergaya Betawi dengan sentuhan Portugis masih berdiri di sana, termasuk rumah yang pada tahun 1661 digunakan sebagai tempat berkumpul untuk berlatih Keroncong Tugu.

Fernando mengatakan, tahun 1661 awal mula kedatangan orang Portugis di Jakarta. “Dulu, semua orang di sini berbahasa Portugis dalam waktu cukup lama, diselingi bahasa Melayu kasar. Lalu, ada Pendeta Leideckers yang berdiam di Tugu tahun 1978. Dialah yang memperkenalkan bahasa Indonesia,” katanya.

GEREJA Tugu di Kampung Tugu saat ini masih berdiri tegak dengan bentuk bangunannya yang asli meski telah beberapa kali direnovasi. Sepintas, bentuk bangunannya memang sangat sederhana. Dinding gereja dicat putih, dengan jendela dan pintu berwarna coklat. Di depan gereja terdapat kuburan, konon, pendiri Gereja Tugu, Melchior Leydecker, dimakamkan di situ.

Gereja yang dibangun tahun 1678 tersebut awalnya terbuat dari kayu, namun lama kelamaan rusak dan lapuk. Tahun 1738, gereja diperbaiki dan disebut sebagai Gereja Tugu yang kedua. Lonceng yang dibangun di sisi gereja makin melengkapi penampilan gereja kedua ini.

Menurut Fernando, yang merujuk cerita beberapa kakek buyutnya, pembangunan Gereja Tugu yang ketiga dimulai pada tahun 1744. “Tahun 1940 ada pemberontakan China dan gereja dirusak. Waktu itu, Tugu tidak mempunyai gereja lagi. Saat itu, ada seorang Belanda bernama Yustinus Vienk yang menjadi tuan tanah di Cilincing. Di zamannyalah dibangun gereja yang ketiga,” paparnya.

Gereja ketiga dibangun tidak persis di lokasi semula, namun beberapa ratus meter dari gereja yang dirusak. Menurut beberapa warga, lonceng gereja yang ada saat ini adalah sama dengan lonceng yang dibuat bersama gereja kedua. Namun, menurut beberapa pemandu wisata sejarah dari Museum Sejarah, lonceng besar di sisi gereja saat ini bukan yang asli. “Lonceng ini sebenarnya tiruan, yang asli disimpan,” kata Ujo, seorang pemandu.

Bagi penikmat wisata sejarah, Gereja Tugu masih berdiri kokoh dan setiap hari Minggu dipenuhi nyanyian dari para jemaat warga sekitar.

Kampung Tugu menyimpan sejuta kenangan sejarah. Bahkan, di sana sempat dikenal juga beberapa makanan khas, seperti gado-gado tugu, dendeng tugu, dan pindang serani tugu. Yang paling kerap dibicarakan orang mengenai Kampung tugu, barangkali, adalah Keroncong Tugu (ejaan saat awal berdiri Keroncong Toegoe). Keroncong sendiri sebenarnya adalah alat bermain musik semacam gitar berdawai.

Fernando kembali bertutur. Menurut cerita yang dia dengar, keroncong yang pertama didatangkan ke Tugu dibuat di Portugis dengan bahan dari kayu Ahorn. Bentuknya mirip gitar, namun lebih kecil. Ada sebuah lagu sederhana yang kerap dimainkan saat terang bulan dan diberi nama Lagu-Kroncong, dalam bahasa Portugis dinamakan Moresco.

Ada lima jenis Keroncong Tugu, baik yang berdawai lima atau enam. Lambat laun, nama Keroncong Tugu dikaitkan dengan sebuah grup menyanyi. Tempat orang-orang Tugu zaman dulu bermain, kini dijadikan tempat untuk menyimpan jenis-jenis alat musik keroncong. Tempat itu ditinggali oleh seseorang yang juga masih keturunan Portugis.

Penasaran ingin melihat keroncong tugu? (Susi Ivvaty)

Sumber: Harian Kompas, Rabu, 28 April 2004

Luar Batang, Pemukiman Tertua di Jakarta

Juli 20, 2003

Oleh Alwi Shahab

Terletak di belakang Gedung Museum Bahari di jalan Pasar Ikan, sebuah kawasan kota tua di Jakarta Utara, terletak Kampung Luar Batang. Kampung yang persisnya terletak di Kelurahan Penjaringan ini merupakan pemukiman tertua di Jakarta mengingat perkiraan terbentuknya keberadaan pemukiman ini sejak tahun 1630-an. Dan kampung ini boleh dikata sudah dikenal sejak ratusan tahun lalu.

Pasalnya, di kampung ini terdapat sebuah masjid tua yang banyak didatangi pengunjung bukan hanya dari ibukota tapi juga dari berbagai daerah di Indonesia. Peyebabnya, di Masjid Luar Batang ini terdapat makam Habib Husein bin Abubakar Alaydrus. Ia dimakamkam di masjid ini pada hari Kamis 27 Ramadhan 1169 Hijriah atau 24 Juni 1756. Alaydrus dikabarkan meninggal dunia saat masih bujangan.

Alaydrus yang menjadi guru agama di masjid yang kala itu letaknya berdekatan dengan benteng (kastil) VOC merupakan imigran dari Hadramaut. Ia adalah pendatang terawal sebelum para pendatang keturunan Arab lainnya kemudian ditempatkan di Kampung Pekojan, Jakarta Barat.

Jika mendatangi masjid Luar Batang pada malam Jumat kita akan mendapati ribuan peziarah yang datang dari berbagai tempat di Jawa dan Sumatera. Ini terlihat dari nomor polisi mobil-mobil yang diparkir di pintu gerbang depan Muuseum Bahari. Banyak diantara peziarah menginap di makam itu. Sepanjang malam para peziarah membaca ayat suci di depan makam almarhum.

Karenanya tidak heran bila jamaah salat subuh di hari Jumat meluber hingga ke pekarangan masjid. Menurut seorang kuncen di sini, para peziarab juga ada yang datang dari Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Itu sebabnya kalau keberadaan makam ini menarik perhatian para wisatawan yang ingin menyaksikan tempat-tempat bersejarah di ibukota. Sebuah jaringan televisi dari Yaman pun sempat melakukan liputan di kawasan masjid ini.

Kembali ke perkampungan Luar Batang, di abad ke-17 tidak lama setelah berdirinya VOC, pemukiman ini merupakan tempat persinggahan sementara para awak (tukang perahu) pribumi yang ingin masuk ke pelabuhan Batavia (Sunda Kelapa). Ketika itu, penguasa VOC menerapkan peraturan yang tidak mengizinkan perahu-perahu pribumi masuk ke alur pelabuhan pada malam hari. Demikian juga tidak boleh keluar pelabunan di waktu yang sama.

Selain itu, seluruh perahu yang keluar masuk harus melalui pos pemeriksaan. Pos ini terletak di mulut alur pelabuhan dan di sini diletakkan batang (kayu) yang merintangi sungai guna menghadapi perahu-perahu yang keluar masuk pelabuhan sebelum diproses. Setiap perahu pribumi yang akan masuk diperiksa barang muatannya dan senjata-senjata yang dibawa harus dititipkan di pos penjagaan. Sedangkan perahu-perahu pribumi yang tidak bisa masuk pelabuhan, di luar batang (pos pemeriksaan) harus menunggu pagi hari.

Ada kalanya mereka menunggu beberapa hari sampai ada izin masuk pelabuhan. Selama menunggu, sebagian awak perahu turun ke darat. Kemudian mereka membangun pondok-pondok sementara. Lambat laun tempat ini dinamakan Kampung Luar Batang, yakni pemukiman yang berada di luar pos pemeriksaan. Sekitar 1660-an, VOC mendatangkan para nelayan dari Jawa Timur dan ditempatkan di lokasi pemukiman Luar Batang. Pemimpin dari nelayan tersebut pada 1677 dianugerahi pangkat kehormatan Luitenant (letnan). Pemimpin itu bernama Bagus Karta.

Lokasi pemukiman Luar Batang sendiri sebelumnya merupakan daerah rawa-rawa. Lama kelamaan daerah ini teruruk oleh lumpur dari kali Ciliwung, terutama setelah berdirinya Kampung Muara Baru yang kini merupakan kawasan kumuh di dekat Luar Batang. Sejak masa VOC, penguasa kolonial yang sering mendatangkan tenaga kerja guna membangun pelabuhan dan kastil Batavia menempatkan para pekerja yang berdatangan dari berbagai daerah itu di Kampung Luar Batang.

Jadi, kondisi kekumuhan pemukiman tertua di Jakarta yang luasnya 16,5 hektare ini sudah berlangsung sejak awal masa VOC. Pasar yang ada di kawasan itu sendiri yang kemudian hingga kini dikenal dengan nama Pasar Ikan baru dibangun pada tahun 1846. Lokasi Pasar Ikan ini dulunya adalah laut.

Suatu malapetaka terjadi saat pembangunan perluasan dermaga pelabuhan Batavia. Kurang lebih 16 ribu pekerja meninggal dunia akibat penyakit menular yang berjangkit di lokasi pemukiman akibat tingkat kekumuhan yang melewati ambang batas. Warga Belanda sendiri pada awal abad ke-19 telah meninggalkan kawasan Pasar Ikan karena dianggap merupakan daerah tidak sehat dan menjadi sember penyakit yang menyebabkan kematian.

Saat aktivitas utama pelabuhan Sunda Kelapa dialihkan ke Tanjung Priok (1886) akibat pengdangkalan, lokasi pemukiman Luar Batang tetap padat. Ini dikarenakan kegiatan keluar masuknya perahu dan pelabuhan Pasar Ikan (Sunda Kelapa) yang sudah telanjur hidup.

Kalau saat ini kawasan Kampung Luar Batang masih sangat padat penduduknya karena lokasinya yang berdekatan dengan berbagai kegiatan nelayan, perdagangan ikan (lelang ikan berlangsung dari sore hingga pagi hari), pelabuhan Sunda Kelapa, industri dan perdagangan, serta aktivitas perkantoran dan perbengkelan.

Faktor lain penyebab kumuhnya kawasan ini karena adanya gelombang urbanisasi yang cukup besar akibat keamanan pada 1950-an dan 1960-an, seperti pemberontakan-pemberontakan DI/TII dan Kahar Muzakar. Kenyataan ini ditambah lagi dengan banyaknya orang dari berbagai daerah yang ingin mengadu nasib di Jakarta karena perputaran uang di Indonesia sekitar 80 persen tumplek di Jakarta.

Sumber: Harian Republika Minggu, 20 Juli 2003

Berziarah ke Daerah Pecinan Tua Jakarta

Juni 1, 2003

Kalau ingin merasanan nuansa pecinan Jakarta tempo doeloe, cobalah jalan-jalan di kawasan Pecinan, Glodok, Jakarta Barat dengan mata tertutup.

Tentu saja saat berkeliling ingatan kita harus dibawa ke masa saat keemasan kawasan yang saat ini tinggal menyisakan beberapa bangunan lama bernuansa Tionghoa, dengan bantuan suara para pemandu.

Perjalanan menyusuri pecinan zaman Batavia dimulai di Museum Sejarah Jakarta yang terletak sekitar seratus meter dari Stasiun Kota. Dari halaman depan museum, rombongan yang dikoordinir Komuitas Peduli Sejarah dan Budaya Indonesia menyusuri jalan dan melewati jembatan di Jalan Kali Besar ini dulunya kanal menuju Toko Merah.

Gedung yang dibuat dari batu bata warna merah sehingga disebut Toko Merah dan di desain bergaya Tiongkok itu didirikan pada 1730 sebagai tempat kediaman Gubernur Jenderal VOC Baton Van Imhoff. Tiga belas tahun kemudian, bangunan ini menjadi Akademi Angkatan Laut hingga 1755. Setelah itu pemiliknya berganti-ganti dan kini ditempati sebagai kantor PT Dharmaniaga.

Setelah mengagumi Toko Merah rombongan melanjutkan perjalanan melewati Jembatan Intan yang dulu dikenal Jembatan Jungkit. Sesuai dengan namanya, setiap kali kapal besar hendak melintas jembatan ini diangkat dulu. Sayangnya di masa Orde Baru jembatan ini dipugar dan dibuat permanen dan tidak bisa lagi dijungkitkan. Alasannya bisa jadi karena sekarang tak ada lagi kapal besar yang bisa berlabuh.

Gedung pertama yang akan dikunjungi adalah rumah Keluarga Souw di Jalan Patekoan (sekarang Jalan Perniagaan). Rumah ini dibangun pada 1816 dan selalu menjadi rumah tinggal secara turun temurun Keluarga Souw yang dikenal sangat kaya. Menurut sejarawan Batavia Alwi Shahab, begitu kayanya keluarga Souw hingga beberapa di antara mereka diangkat sebagai Luitenant der Chineezen. Pangkat letnan dan kapitein yang kala itu hanya diberikan Kompeni bagi keluarga terkaya di suatu daerah tertentu dengan kewenangan mengatur secara administratif daerah tersebut.

Di Pecinan, pengaturan daerah secara admistratif dilakukan oleh sebuah Dewan Tionghoa (Kong Koan) yang beranggotakan kapitein dan letnan. Hanya tiga kota besar yaitu Batavia, Semarang, dan Surabaya yang memiliki Mayor Tionghoa dan mengetuai Kong Koan. “Kong Koan berwenang menyelesaikan perkara kecil di antara orang Tionghoa tapi atas nama pemerintah Hindia Belanda dan menyerahkan perkara besar kepada pemerintah,” kata Alwi

Pendapatan Kota Batavia kala itu tentu tak lepas dari keberadaan warga Tionghoa. Malah bisa dikatakan kas Kota Batavia sebagian besar diperoleh dari berbagai pajak yang dibebankan pada etnis ini. Diantaranya pajak rambut atau totang, yaitu rambut yang dikepang bagian belakang dan dicukur hingga klimis di bagian depan, seperti dalam film Mandarin yang sering kita lihat. Belum lagi pajak hiburan, judi, dan candu.

Kembali ke rumah Keluarga Souw, bangunan bersejarah itu hingga kini masih dipertahankan keaslian arsitekturnya kendati beberapa bagian sudah tak lagi ada. Dari luar pagar rumah itu terlihat angker dan kurang terawat. Pagar coklat tua yang membatasi rumah itu dari badan jalan digembok dengan kunci gembok kuno dan diperkuat rantai besar sehingga menimbulkan rasa segan untuk sekedar melongok ke dalam. Dindingnya putih kusam dan tampak jarang dicat ulang.

Keluarga Souw yang terkenal di masanya adalah kakak beradik Souw Siauw Tjong dan Souw Siauw Keng. Souw Siauw Tjong dikenal orang terkaya di Batavia pada masa itu dan memiliki tanah luas di Paroeng Koeda, Kedawoeng Oost (Wetan), dan Ketapang, Tangerang, Banten. Ia juga dikenang berjiwa sosial terhadap masyarakat sekitar, sehingga memerintahkan untuk mendirikan sekolah bagi anak bumiputera di tanah miliknya, menyantuni orang miskin, dan menyumbang makanan dan bahan bangunan ketika kebakaran terjadi.

Souw Siauw Tjong yang menjadi donatur pemugaran Klenteng Boen Tek Bio Tangerang pada 1875 dan Klenteng Kim Tek Ie Batavia pada 1890 juga rendah hati. Dia menolak kedudukan luitenant de chineezen yang ditawarkan Kompeni. Meski begitu, pada Mei 1877 dia dianugerahinya gelar luitenant titulair (letnan kehormatan). Sedangkan saudaranya, Souw Siauw Keng menjadi luitnenant der chineezen di Tangerang pada 1884.

Ada dua versi kenapa Jalan Perniagaan dulu dikenal sebagai jalan patekoan. Pertama, Patekoan berarti delapan buah poci. Seorang Kapiten Tionghoa bernama Gan Djie beristrikan orang yang sangat baik dari Bali. Tiap hari, sang istri ini menyediakan delapan poci berisi air teh di jalanan itu agar masyarakat yang melintas dapat meeguk air bila kehausan. Perlu diingat, di masa lalu, tak banyak ditemui pedagang makanan dan minuman di sepanjang jalan. Kenapa pula delapan poci? Angka ini bagi masyarakat Tionghoa merupakan angka keberuntungan. Versi lain yang berkembang, menurut seorang pemandu perjalanan kami, di kawasan jalan itu pernah hidup delapan pendekar Tionghoa dan mati di jalan itu setelah mengalami pertempuran hebat.

Di awal kedatangan orang Tionghoa ke Indonesia, mereka tidak mengikutsertakan istri. Sehingga tak aneh jika banyak masyarakat Tionghoa saat itu mengawini perempuan pribumi seperti halnya Kapiten Gan Djie. Tak jarang pula, dari warga bermata sipit dan berambut lurus ini mengambil nyai (gundik) dari para budak. Cara ini kala itu dilegalkan di Batavia. Meski banyak yang melakukan kawin campur, tradisi dan budaya Tionghoa tetap dipertahankan. Ini bisa dilihat dari bahasa Kanton yang tetap digunakan, perilaku, kepercayaan yang diwariskan turun temurun.

Dari rumah hartawan Tionghoa itu perjalanan didiarahkan ke Sekolah Tionghoa yang kini menjadi gedung SMUN 19 Jakarta. Warga Kota menyebut bangunan ini cap-kau yang berarti sembilan belas. Gedung yang berada di Jalan Perniagaan atau Patekoan ini tidak dikatahui kapan dibangun. Yang jelas di tempat ini untuk pertama kali berdiri organisasi modern di Batavia bahkan Hindia Belanda. Namanya Organisasi Tiong Hoa Hwee Koan atau Perhimpunan Tionghoa. Organisasi yang berdiri pada 17 Maret 1900 inilah yang menjadi inspirasi pendirian organisasi modern Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908.

Pada 1901, Perhimpunan Tionghoa mendirikan Sekolah Tiong Hoa Hwee Koan yang disebut Tiong Hoa Hak Tong (Sekolah Tionghoa). Pendirian sekolah ini untuk merespon ketidakpedulian pemerintah Hindia Belanda terhadap pendidikan anak Tionghoa. Sekolah yang merupakan sekolah swasta modern pertama di Hindia Belanda ini uniknya tak mengenal tingkatan-tingkatan kelas, dan semua umur bisa bercampur. Para murid yang berasal dari warga Tionghoa dan pribumi kaya ini diajarkan aljabar, aritmatika, adat istiadat dan budaya Tionghoa.

Begitu banyak murid sekolah itu hingga pada 1911 Tiong Hoa Hak Tong sudah membuka cabang hampir di seluruh Indonesia. Belanda yang begitu khawatir atas tumbuhnya sekolah Tionghoa lantas mendirikan Hollandsch Chineesche School– sekolah berbahasa Belanda bagi anak Tionghoa–sebagai tandingannya.

Ketika memasuki gedung sekolah SMUN 19 kita akan menjumpai lorong gelap dan pendek. Saat melintas di lorong itu, bau dupa menyengat. Setelah melewatinya akan dijumpai kelas-kelas yang mengingatkan saya pada sel-sel di penjara. Banyak teralis besi yang menyerupai jeruji sel dan bagian atas dinding dibiarkan terbuka tapi tetap dilindungi genting untuk menahan panas dan hujan. Tepat di tengah sekolah terlihat halaman yang di sekat besi-besi tua khas bangunan masa lalu dan diberi atap seng tua coklat.

Sekolah Tionghoa yang lebih sering disebut Pa Hua agar lebih singkat ini akhirnya ditutup pemerintah Indonesia setelah meletus G 30 S PKI dan bangunannya diambil alih oleh negara.

Keluar dari gedung sekolah ini, perjalanan dilanjutkan ke Jalan Kemenangan III (atau Jalan Toasebio). Di jalan ini, ada tiga bagunan kuno cukup penting. Yaitu Klenteng Hong San Bio (Toa Sai Bio), Gereja Santa Maria de Fatima, dan Klenteng Kim Tek Ie.

Klenteng Hong San Bio juga dikenal sebagai Klenteng Duta Besar untuk menghormati dewa yang dipuja di klenteng ini yaitu Toa Sai Kong atau Paduka Duta Besar. Tidak diketahui kapan klenteng yang awalnya dibangun oleh orang Hokkian dari Kabupaten Tiothoa (Changtai) di Privinsi Hokkian (Fujian) ini didirikan. Namun di klenteng persembahan bagi Cheng -goan Cin-kun yang merupakan dewa khusus daerah Hokkian ini dijumpai sebuah hio-louw, altar untuk menancapkan hio atau dupa lidi berangka tahun 1751. Hio-louw di Klenteng ini berangka tahun tertua kedua setelah meja sembahyang tahun 1724 du Klenteng Kim Tek Ie.

Selain altar utama, di ruang kiri klenteng ini, terdapat tempat pemujaan yang dibagi berdasarkan permintaan. Tentu saat memasuki klenteng, kita akan menjumpai lilin-lilin merah setinggi pinggang orang dewasa yang bisa menyala tanpa henti selama sebulan lebih, harum dupa wangi dan asap yang bisa membuat mata perih. Seperti halnya klenteng lain, akan dijumpai pula patung-patung para dewa dan dewi tak terkecuali patung Dewi Kwan Im (Dewi Welas Asih yang diagungkan masyarakat Tionghoa). Rombongan kami sempat memanjatkan doa mengharapkan sesuatu. Sambil memegang kaleng berisi bilahan kayu kecil-kecil, kami berdoa dalam hati. Kaleng yang dipegang kedua tangan ini, kami goyang-goyangkan hingga keluar sebuah bilahan kayu yang bernomor. Setelah itu, kayu itu kami tancapkan di hio-louw. Lantas kami mengambil sepasang yin dan yang yang terbuat dari kayu dan membuangnya ke lantai. Bila jatuhnya pasangan yin dan yang itu ini satu telungkup dan satunya terbuka, maka doa kita diterima para dewa. Itu artinya, kita bisa mengambil pasangan bilahan kayu yang kita tancapkan itu di loker ramalan (Ciam Sie) dan bila tidak mengerti bahasa ramalan itu, bisa menanyakannya kepada petugas yang menjaga klenteng tersebut.

Saat berada di dalam klenteng ini, suasana persahabatan akan terasa. Meski berbeda keyakinan, kami tetap diterima dengan ramah bahkan ditawarkan mengajukan harapan kami di depan altar kendati dengan keyakinan yang kita anut. Berada di dalam klenteng itu, kita akan disuguhi musik gambang kromong. Ternyata, musik ini menjadi musik wajib setiap merayakan ulang tahun dewa Taois Cheng-goan Cin-kun selama dua hari. Di Klenteng ini pula, tiap perayaan Cap-go Meh, hari kelima belas setelah Tahun Baru Imlek, diadakan upacara kirab keliling Pecinan yang dinamakan Gotong Toapehkong. Tradisi sempat terputus sejak 1958 dan dirintis kembali setelah era reformasi.

Sekitar lima puluh meter dari Toa Sai Bio, kita akan mendapati gereja bagi warga Tionghoa. Di depan pintu gerbang, diletakkan batu peringatan agar situs itu dilindungi dan dijaga keasliannya. Gereja ini awalnya menggunakan bahasa Tionghoa karena jemaatnya memang warga keturunan Tionghoa. Namun sekarang gereja ini melayani misa dengan dua bahasa Indonesia dan Tionghoa. Gedung bersejarah itu tidak diketahui kapan didirikannya, hanya saja disebutkan bangunan ini didirikan dalam rumah besar tempat berdiamnya Luitenant der Chineezen bermarga Tjioe. Rumah ini kemudian dijual pemiliknya setelah Tiongkok jatuh ke tangan komunis pada 1949.

Keistimewaan gedung gereja itu adalah adanya inskripsi aksara Tionghoa. Hiasan Atap gereja ini menggambarkan ian boe heng (ekor walet) yang dikawal sepasang cion sai (singa batu). Pada bagian bubungan atap tertera daerah asal pemiliknya yaitu di Kabupaten Lam-oa, Karesidenan Coan-ciu (Quanzhou), Provinsi Hokkian. Inskripsi di bubungan atap adalah hok siu khong leng yang berarti rezeki, umur panjang, kesehatan, dan ketentraman. Di depan altar gereja, terdapat beberapa patung dewa Tionghoa yang menunjukkan adaptasi yang dilakukan pastur gereja dengan tradisi masyarakat setempat. Sekitar seratus meter dari gereja berdiri Klenteng Kim Tek Ie atau Wihara Dharma Bhakti. Klenteng ini disebut sebagai klenteng tertua di Jakarta karena didirikan pada 1650 di Jalan Kemenangan III, Petak Sembilan, Pancoran, Glodok oleh Luitenant der Chineezen Kwee Hoen. Ia memberi nama klenteng ini Kaon Im Teng atau Paviliun Koan Im sebagai persembahan kepada Koan Im Hut-cou (Dewi Welas Asih).

Ironisnya klenteng untuk Dewi Welas Asih ini adalah salah satu saksi bisu peristiwa pembantaian sekitar 10 ribu etnis Tionghoa 9-12 Oktober 1740 yang dikenal sebagai Tragedi Pembantaian Angke. Klenteng ini musnah terbakar dan hanya menyisakan sebuah meja sembahyang berangka tahun 1724. Pada 1755 seorang Kapitein der Chineezen Oeij Tjhie melakukan pemugaran Klenteng Koan Im dan menamainya Kim Tek Ie yang berarti Klenteng Kebajikan Mas. (Istiqomatul Hayati)

Sumber: Tempo Interaktif, Juni 2003

Kampung Bandan, Kampung Budak

Februari 17, 2003

TAK ada yang istimewa dari Kampung Bandan di Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara. Penduduknya padat dan lingkungannya kumuh. Saluran air, got, dan kalikali kecil selalu tergenang air berwarna hitam pekat dan menebarkan aroma tak sedap. Sudah begitu, banyak anak-anak yang seenaknya buang air kecil dan besar.
Kampung Bandan dalam sejarahnya merupakan lokasi penampungan budak-budak dari Banda di Maluku pada zaman Hindia Belanda. Tahun 1621, Gubernur Jenderal J P Coen menaklukkan Pulau Banda. Di pulau tersebut J P Coen melakukan pembunuhan dan pembantaian yang luar biasa kejamnya.

Rakyat Banda yang selamat ditawan dan diangkut ke Batavia (Jakarta). Di pusat pemerintahan Hindia Belanda itu, orang-orang Banda dikurung di sebuah penjara. Karena tidak muat, banyak dari mereka dimukimkan di sekitar penjara dengan pengawasan ketat.

“Sampai tahun 1633, budakbudak itu masih dirantai,” kata Isa Ansyori, Kepala Seksi Koleksi Museum Sejarah Jakarta. Setiap bulan, Museum Sejarah Jakarta memang menggelar acara jalan-jalan yang diberi tajuk “Program Wisata Kampung Sejarah”. Akhir Januari lalu, Kampung Bandan mendapat giliran dikunjungi.
Menurut Ansyori, pada tahun 1682 budak-budak di Kampung Bandan pernah memberontak melawan VOC di Marunda. Namun, apalah artinya pemberontakan mereka melawan VOC yang saat itu sudah mempunyai persenjataan lengkap. Konsekuensi dari pemberontakan yang gagal itu, sebagian budak Kampung Bandan dikirim ke Srilangka yang juga menjadi daerah kekuasaan Belanda.

Ketika era perbudakan berakhir, para eks budak dari Bangka itu tetap tinggal di Kampung Bandan. Rumah- rumah mereka berbentuk gubuk yang terbuat dari bambu, tikar, dan jerami. Untuk hidup sehari-hari, mereka bekerja sebagai nelayan, petani, dan ada juga yang menjadi serdadu VOC.

WAKTU itu, Pelabuhan Pasar Ikan merupakan pusat perdagangan yang sangat ramai. Di sanalah budak-budak dari Kampung Bandan dipekerjakan.

Seiring dengan perkembangan perdagangan di Batavia, pemerintah Hindia Belanda membangun pelabuhan baru di Tanjung Priok. Untuk menghubungkan kedua pelabuhan yang berjarak sekitar delapan kilometer itu, Belanda membangun rel kereta api, lengkap dengan stasiunnya.

“Kampung Bandan menjadi stasiun kereta barang yang pertama di Jakarta,” kata Ansyori. Sampai sekarang Stasiun Kampung Bandan masih berfungsi sebagai stasiun kereta barang yang melayani jurusan Jakarta-Surabaya. Dari stasiun itu, setiap hari sedikitnya 50 gerbong diberangkatkan ke Surabaya.

Sekarang, tidak banyak peninggalan sejarah tua Kampung Bandan yang tersisa, selain cerita perbudakan, stasiun kereta api, dan beberapa gudang tua yang tidak terawat. Yang lain, Masjid Kampung Bandan yang didirikan akhir abad XVIII.

Kini, pihak Museum Sejarah Jakarta berusaha menggali kembali cerita-cerita lama tentang Kampung Bandan. Lewat program Wisata Kampung Tua, setidaknya masyarakat diajak kembali menengok sejarah masa lalu yang penuh warna. Dari program itu, setidaknya warga Jakarta mengenali sejarah bangsanya. Bukan saja gegap gempitanya perjuangan para pahlawan melawan penjajah, tetapi juga sejarah penderitaan masyarakat kecil yang menjadi korban rezim imperialis. (LUSIANA INDRIASARI)

Sumber: Kompas, Senin, 17 Februari 2003


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.