Archive for Agustus, 2006

Revitalisasi Kota Tua Diresmikan Desember

Agustus 26, 2006

Oleh: Andreas Piatu

Jakarta – Revitalisasi Kota Tua seluas 800 hektare akan diresmikan Desember 2006. Saat ini setiap unit yang terlibat dalam penataan kembali Kota Tua mulai melaksanakan pekerjaan masing-masing.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman, Aurora Tambunan, menegaskan hal ini kepada SH, Jumat (25/8), seusai pemaparan penataan Kota Tua kepada Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso.
Menurut Aurora, pihaknya hanya sebagai perencana penataan Kota Tua, sedangkan pelaksanaannya dilakukan unit-unit terkait. Saat ini, unit-unit mulai melaksanakan pekerjaan dan Desember 2006 akan diresmikan walaupun baru tahap pertama selesai.

Pada saat itu, mulai dari Pintu Besar Utara sampai Cafe Batavia sudah selesai dikerjakan. Di kawasan ini, lanjut Lola, tidak ada lagi kabel listrik bergelantungan. Semua kabel di jalur ini berada dalam tanah. Lola menambahkan, bila revitalisasi sudah selesai, tidak ada lagi kendaraan umum beroperasi di kawasan itu. Orang yang turun dari busway bila masuk ke kawasan Kota Tua akan disediakan angkutan khusus.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta, Nurachman kepada SH mengatakan, akan disediakan bus feeder untuk masuk areal Kota Tua. Selain itu, bagi kendaraan pribadi boleh masuk hanya akan diatur sehingga Kota Tua tetap nyaman bagi masyarakat pengunjung.

Kepala Dinas Penerangan Jalan Umum (PJU) DKI Jakarta, Pinontang Simanjuntak secara terpisah kepada SH mengatakan, dalam tahun 2006, pihaknya akan menyelesaikan pencahayaan di Gedung Fatahillah dengan anggaran yang tersedia Rp 2 miliar. Tahun 2007, lanjut Pinontang, akan dilanjutkan dengan pencahayaan di Gedung Museum Bahari, Museum Keramik, serta lampu-lampu pedestrian, antara lain sepanjang Pancoran Glodok dan Jembatan Kota Intan.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) DKI Jakarta, Wishnu Soebagio mengemukakan, pekerjaan DPU sudah dimulai, baik menyangkut jalan di kawasan Kota Tua maupun trotoar dan drainase dengan dana Rp 14,7 miliar. Kepala Dinas Pertamanan DKI Jakarta, Sarwo Handayani mengatakan, dengan anggaran Rp 800 juta, pihaknya akan menata pertamanan di areal Kota Tua.

“Tugas kami menata taman agar sejuk dan nyaman bagi pengunjung. Karena urusan taman biasanya menyusul belakangan setelah proyek fisik lainnya selesai,” ujar Sarwo Handayani.
Revitalisasi Kota Tua merupakan upaya meningkatkan wisata budaya sekaligus melestarikan wisata budaya yang memiliki manfaat ekonomi yang tinggi.

Sumber: Sinar Harapan, 26 Agustus 2006

Iklan

Dari Pasar Baroe, Dunia Mendengar Proklamasi

Agustus 18, 2006

Pasar Baroe tidak sekadar menjadi pusat belanja sepanjang masa. Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pun disebarluaskan dari kawasan ini, tepatnya oleh para wartawan Kantor Berita Antara—kala itu di bawah pendudukan Jepang yang dinamai Domei, di salah satu sudut Pasar Baru.

Tempat bersejarah itu kini menjadi Galeri Foto Antara dan Museum di Jalan Antara Nomor 57, 59, dan 61. Tepat di lantai dua Gedung Antara, perangkat morse untuk mengirim berita proklamasi beserta meja dan kursi antik masih berada di sudut asli sebagai saksi perjuangan pekerja pers pada tanggal 17 Agustus 1945.

Kepala Biro Foto dan Kepala Galeri dan Museum Antara Oscar Motuloh mengatakan, perangkat morse dan mesin tik sengaja tidak diubah untuk menjaga kenangan sejarah kelahiran Republik Indonesia. Namun sayang, hanya sedikit orang yang mengetahui fakta betapa proklamasi disebarluaskan ke seluruh dunia dari ruang kecil sebuah gedung tua di Pasar Baru.

“Kabar kemerdekaan disebarluaskan dari kantor Antara selang beberapa saat proklamasi dibacakan Bung Karno dan Bung Hatta di Pegangsaan Timur. Kabarnya Adam Malik membacakan teks proklamasi yang diterima seorang wartawan Antara. Selanjutnya informasi tersebut diselipkan dalam kawat berita oleh dua markonis, yakni Wua dan diawasi markonis Sugirun, agar tidak diketahui Jepang yang masih ketat mengawasi mereka. Pasalnya, Jepang sudah mewaspadai informasi kemungkinan bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan dan menyebarluaskan informasi proklamasi,” kata Oscar.

Siang itu juga berita proklamasi, lanjut Oscar, ditangkap di pelbagai benua. Pelbagai kapal asing yang berlayar di Samudra Pasifik turut menangkap kabar kemerdekaan Indonesia.

Belanda kabur

Riwayat keberadaan Gedung Antara pun unik karena pernah juga digunakan oleh kantor berita Belanda, Aneta. Semasa pendudukan Jepang berganti nama menjadi Domei.

Perjalanan panjang para jurnalis Antara bermula pada 13 Desember 1937 ketika Soemanang sebagai Hoofd Redacteur bersama AM Sipahoetar dan sejumlah rekan membuka kantor berita di Buiten Tijger Straat Nomor 30 (kini kawasan Pinangsia) menumpang kantor perusahaan ekspedisi Pengharapan. Kebetulan di tempat itu indekos pemuda Adam Malik yang kemudian bergabung di Antara.

Disambut sinisme

Masa awal pers perjuangan seperti Antara tidaklah mudah. Kehadiran mereka disambut sinisme sejumlah pihak, terutama kalangan yang dekat Belanda.

Waktu berjalan, bisnis Antara pun berkembang. Oscar mengatakan, warta Tionghoa Melayu terkemuka seperti Sin Tit Po di Surabaya dan Keng Po pun menjadi pelanggan berita Antara.

Kala itu hubungan pergerakan nasionalis Indonesia mendapat sambutan hangat di kalangan media Tionghoa Melayu. Tokoh pergerakan pun turut bekerja di media Tionghoa Melayu seperti Wage Rudolf Supratman. Bahkan, syair Indonesia Raya pun pertama kali dimuat dalam warta Tionghoa Melayu.

Seiring perkembangan Antara, kantor pun berpindah ke Tanah Abang Nomor 90 (kini dekat Jalan Budi Kemuliaan) sebelum berpindah ke Pasar Baru dan terlibat dalam proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Setelah proklamasi, gedung itu pun menjadi bagian perjalanan bangsa Indonesia.

Pada September 1954 Dewan Redaksi Antara meminta Wali Kota Djakarta Raja untuk menggunakan gedung di Jalan Pos Utara (ketika itu) nomor 57, 59, dan 61.

Pemerintah melalui Pengoeasa Daroerat Perang Djakarta Raja memaklumatkan tempat tersebut sebagai gedung bersejarah. Pada tahun 1993 SK Gubernur DKI semasa Soerjadi Soedirja menetapkan sebagai bangunan dilindungi. (Iwan Santosa)

Sumber: Kompas, Jumat, 18 Agustus 2006

Menyusuri Jalur KA Pertama di Indonesia (1) – Jalur Kuno Itu Jadi Tumpuan Utama

Agustus 12, 2006

Jalur kereta api (KA) Semarang-Tanggung Kabupaten Grobogan ternyata merupakan jalur pertama yang dibuat Belanda, 139 tahun lalu. Dalam rangka memperingati jalur bersejarah itu, Kamis (10/8) PT KA Daop IV Semarang menyelenggarakan acara peringatan berupa napak tilas. Pada hari yang sama, Biro Perekonomian Setda Jateng juga menyelenggarakan rapat koordinasi (rakor) dalam rangka pengembangan perkeretaapian di Jateng. Wartawan Suara Merdeka, Purwoko Adi Seno, yang mengikuti kedua kegiatan itu melaporkan dalam dua seri tulisan.

MATAHARI sudah berada di atas ubun-ubun, saat kereta luar biasa (KLB) yang membawa rombongan napak tilas mulai meninggalkan Stasiun Tawang Semarang. Tak lama berselang, kereta itu pun mulai memasuki wilayah Kemijen, Kecamatan Semarang Timur. Di kejauhan terlihat sebuah bangunan gudang, dan di sekitarnya ada beberapa gerbong barang.

Ya…., itulah Stasiun Semarang Gudang yang dulu bernama Stasiun Tambaksari. Bangunan itu semula adalah stasiun ujung atau dalam bahasa Belanda disebut kopstation. Dari stasiun itu pula, kisah sejarah perkeretaapian Indonesia dimulai.

Kebutuhan angkutan KA sebenarnya sudah mulai dirasakan setelah masa tanam paksa (1830-1850). Kala itu hasil bumi di Jawa tak lagi hanya untuk memenuhi kebutuhan lokal, tetapi sudah jadi komoditi ekspor. Namun, upaya mewujudkan harapan itu ternyata tidak mudah.

Pemerintah Belanda pun kemudian merencanakan untuk membuat jalur transportasi KA. Dalam buku 139 Tahun Perkeretaapian Indonesia, pengajar trasnportasi Unika Soegijapranata Semarang, Tjahjono Rahardjo menggambarkan, rencana itu ternyata menimbulkan pro dan kontra.

Kala itu beberapa pihak menilai, angkutan KA untuk Hindia Belanda tidak efisien lantaran jumlah penumpangnya sedikit.

“Muncul pula perdebatan tentang peran yang sebaiknya dimainkan pemerintah dalam mengembangkan perkeretaapian di Hindia Belanda,” kata Tjahjono.

Menentang

Pihak yang menentang keterlibatan pemerintah berpendapat, dana pembangunan jalan rel sebaiknya digunakan untuk hal-hal lain yang lebih mendesak. Adapun pihak yang menentang keterlibatan swasta berpendapat, jalur KA memiliki fungsi strategis, sehingga risikonya terlalu besar jika diserahkan kepada swasta.

Pro-kontra itu pun terus berlangsung hingga 1862, saat rencana pembangunan jalur KA Semarang-Solo -Yogyakarta (vorstenlanden) disetujui. Pada 1864, sebuah perusahaan swasta bernama Nederlandsch Indische Spoorweeg Maatschappij (NIS) memulai pembangunan jalur yang menghubungkan Kemijen dan Tanggung sepanjang 25 km. Namun, proses itu pun ternyata menghadapi berbagai kendala, termasuk sulitnya medan dan kondisi ekonomi.

Tapi, kerja keras itu toh membuahkan hasil. Pada 10 Agustus 1867, jalur pertama di Indonesia itu dari Kemijen ke Tanggung, pun diresmikan. Bangunan Stasiun Tanggung yang terbuat dari kayu, hingga kini juga masih dipelihara. Peralatan-peralatan yang digunakan pun sama tuanya. Untuk mengatur wesel, misalnya, masih digunakan tuas-tuas kuno. Demikan pula dengan peralatan komunikasi, masih menggunakan telepon onthel.

Kepala PT KA Daop IV Semarang, Rono Pradipto mengatakan, hingga kini jalur itu masih merupakan lintas utama. Setiap hari jalur itu dilalui KA Argo Muria, KA Kamandanu, KA Senja/Fajar Utama, KA Harina, KA Matarmaja, dan KA Rajawali.

Persoalannya, jalur antara Stasiun Brumbung dan Stasiun Tanggung kini sudah saatnya diganti. Selama ini, di jalur tersebut menggunakan rel berukuran R 33 dan bantalannya masih terbuat dari kayu. Akibatnya, kecepatan setiap kereta yang melalui jalur itu maksimal hanya 40 km per jam.

Agar kecepatan kereta bisa ditingkatkan hingga 70 km per jam, rel di jalur tersebut mestinya diganti menjadi R 45 atau R 54.

”Bantalannya pun mestinya diganti beton,” kata dia. (16a)

Sumber: Suara Merdeka, 12 Agustus 2006