Museum Bahari Ambrol, Samudra Indonesia Rata dengan Tanah

Februari 1, 2008

Gedung-gedung di kawasan Kota Tua yang dilindungi terus-menerus digerus banjir. Hanya berselang sekitar 12 jam, dua gedung yang masuk dalam daftar bangunan cagar budaya (BCB), yakni Museum Bahari dan Gedung Samudra Indonesia, ambruk.

Yang teparah dialami Gedung Samudra Indonesia, yang ambruk total Jumat (1/2). Sementara itu, gedung Meseum Bahari masih berdiri tapi sejumlah gelagar penyangga lantai dua sudah ambrol pula. Temboknya pun retak-retak.

Gedung Samudra Indonesia yang terletak di Jalan Kali Besar Barat, Jakarta Barat, ambruk pada Jumat pukul 14.00. sedangkan Museum Bahari di Jalan Pasar Ikan, Jakarta Utara, ambrol pada Sabtu pukul 02.00.

Seorang saksi mata, Sugoro, mengatakan, sebelum gedung ambruk dia sempat mendengar bunyi kerikil berjatuhan. “Cuma begitu awalnya, kerikil-kerikil berjatuhan. Tiba-tiba itu gedung jatoh ke depan. Abis itu bunyinya kayak ada bom, gitu, kata pedagang. Pedagang lain menimpali, kaget aja kita tiba-tiba ada dentuman. Trus debunya lari ke kita.”

Sebelum, kawasan Kota Tua diterjang banjir. Gedung itupun yang ikut terendam. “Belum lagi tiap kali ada mobil lewat, air kan mendesak ke gedung itu. Barang kali karena itu juga gedung tersebut jadi nggak kuat lagi nahan,”tambah Sugoro.

Sekedar informasi, Samudra Indonesia Tbk merupakan perusahaan publik yang bergerak dalam bidang pelayaran, transportasi, dan logistik. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1964 oleh Soedarpo Sastrosatomo. Gedung itu dirancang dan dibangun oleh arsitek yang juga merancang stasiun Beos, Ir Frans Johan Louwrens Ghijsels, pada tahun 1910-1921. Gedung ini dulu diperuntukan perusahaan dagang dan Arkade (lorong untuk pejalan kaki) pada gedung ini merupakan ciri khas bangunan awal abad 20 di sepanjang Kali Besar Utara.

Pemilik gedung, Shanti Poesposoetjipto, putri almarhum Sastrosatomo, menjelaskan bahwa pihaknya sudah mengosongkan gedung itu setelah melihat adanya keretakan dibeberapa lokasi. “Sudah sekitar satu tahun dikosongkan. Gedung itu sudah diperiksa oleh ahli gedung tua dan menurut merekan masih ok, hanya perlu diperkuat. Tapi keburu roboh.”kata Shanti.

Dia menambahkan, rencana awal gedung itu akan digunakan untuk tempat pendidikan dan latihan. “Kita akan segera selidiki lebih lanjut kenapa bisa runtuh,” tandasnya

Museum Bahari
Sementara Museum Bahari kondisinya tak jauh berbeda. Untungnya gedung yang dibangun pada zaman VOC itu ambruknya tidak separah gedung Samudra indonesia. Namun balok penyangga gedung C Museum yang bernilai sejarah itu sudah pada ambrol. “Kan setiap hari tergenang air, apalagi berkali-kali terendam banjir sehingga penyangga lantai atas roboh. Ada satu lagi balok penyangga yang sudah retak, tinggal tunggu tanah bergerak, roboh. Kalau balok penyangga sudah ambruk, kan sama aja gedung itu ambruk,” kata Kepala Museum Bahari Dewi Rudiati.
Menurut Dewi, jika bangunan blok C roboh, maka bangunan lain yang terkait blok itu akan ikut roboh pula. Demikian pula dengan kondisi blok B. “Kalau lantai sudah retak memanjang dan makin menganga, apa enggak tinggal roboh. Balok tiang penyangga yang bagian bawah juga udah ikut retak. Jadi tinggal menunggu waktu,”lanjut Dewi.

Bangunan Museum Bahari ini terdiri atas dua dua bagian, sisi barat disebut Gudang Barat (Westzijdsch pakhueizen) di Jalan Pasar Ikan yang berdiri persis di samping muara Sungai Ciliwung serta Gudang Timur (Oosjzijdsch Pakhuizen) di Jalan Tongkol. Museum Bahari yang usianya lebih dari 3,5 abad. Tembok yang mengelilingi museum itu tak lain adalah pembatas kota Batavia (city wall) di zaman Belanda.

Pada masa penduduk Belanda, bangunan yang saat ini dipergunakan untuk museum dipakai gudang yang berfungsi untuk menyimpan hasil bumi, seperti rempah-rempah.

Museum ini menyimpan koleksi yang berhubungan dengan kebaharian dan kenelayanan bangsa Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Koleksi-koleksi yang terdiri atas berbagai jenis perahu tradisional dengan aneka bentuk, gaya dan ragam hias, hingga kapal zaman VOC. Disajikan pula berbagai model dan miniatur kapal modern dan perlengkapan penunjang kegiatan pelayaran. Di sisi lain ditampilkan pula koleksi biota laut. Museum tersebut menyimpan 1.500 koleksi.

Kepala Subdinas (Kasubdis) Pengawasan Dinas Kebudayaan dan Permuseuman (Disbudmus) DKI sekaligus Plh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kota Tua Candrian Atthiyat, Sabtu (2/2) mengatakan, kondisi Museum Bahari sudah rusak parah. “Tidak bisa lagi menunggu terlalu lama harus segera diperbaiki,” katanya.

Candrian Attahiyat yang di temui Warta Kota di bakal UPT KotaTua di bekas Kafe Museum, belum bisa berkomentar banyak. “Besok pagi (hari ini-Red) kita akan bicarakan dengan TSP (Tim Sidang Pemugaran-Red). Perlu di selidiki apakah karena ada penurunan tanah karena adanya pemancang tiang sekian puluh tahun lalu, atau karena banjir kemudian tanah menjadi lembek,” katanya. (pra)

Sumber: Jakarta Culture and Heritage, 1 Februari 2008

78 Tahun Pasar Gede Cerita Karsten, Aset Nasional dan Nikmatnya Belanja

Januari 11, 2008

oleh Retno Hemawati

Pasar Gede Solo dibangun dan memulai aktivitas perdagangannya sejak 1930. Pada Sabtu (12/1) pasar ini akan merayakan ulangtahun ke 78 dan ditandai dengan gelaran 78 tumpeng jajan pasar dan beberapa pergelaran seni seperti Sahita, Temperente dan Lawcoustic Music ‘n Foresta Holic di halaman pintu depan Pasar Gede. Kali ini menggagas tema be a long-live heritage, be traditional, be transborder.

Perpaduan Budaya
Pasar Gede dibangun berdasarkan rancangan arsitek berkebangsaan Belanda Ir Herman Thomas Karsten yang memulai pembangunannya pada tahun 1927. Pada 12 Januari 1930 pasar monumental itu diresmikan Paku Buwono X dengan pemotongan pita oleh GKR Emas yang menelan biaya waktu itu sekitar 650.000 gulden, yang kini setara dengan Rp 2,47 miliar. Pasar Gede merupakan simbol padu kerja harmonis antara penggagas PB X dan Ir Herman Thomas Karsten yang sangat menghargai budaya budaya lokal, hasilnya adalah arsitektur Indis yang dalam tataran filosofis arsitektural, ia memberikan rasa ruang dan rasa tempat yang khas. Sekaligus nyaris sempurna secara tipologis, di mana pembangunannya memperhatikan pendekatan rasional dan mempertimbangkan iklim budaya lokal.

Sebagai pasar tradisional, Pasar Gede pada awalnya bernama Pasar Gedhé Hardjonagoro, berasal dari nama cucu kepala Pasar Gedhé (1930 – disaat itu), seorang budayawan Jawa dari Surakarta Go Tik Swan, keturunan Tionghoa yang mendapat gelar KRT Hardjonagoro dari PB XII. Dekatnya Pasar Gede dengan komunitas Tionghoa dan area Pecinan bisa dilihat dengan keberadaan sebuah klenteng Vihara Avalokitesvara Tien Kok Sie di dekatnya yang tak jauh dari perkampungan warga keturunan Tionghoa (pecinan) yang bernama Balong yang letaknya di Kelurahan Sudiroprajan. Itulah mengapa para pedagang sekalipun sekarang tidak dominan banyak yang merupakan keturunan etnis Tionghoa. Dulu pasar ini sebagai mediator perdagangan bagi masyarakat Belanda-Cina-pribumi dengan harapan hubungan antar etnis yang semula berkonflik dapat berlangsung harmonis.

Rusak, Renovasi
Sempat pada tahun 1947, Pasar Gede mengalami kerusakan karena serangan Belanda dan kemudian direnovasi pada tahun 1949. Perbaikan atap selesai pada tahun 1981. Kemudian pada 28 April 2000 pasar ini kembali ludes dilalap api. Renovasi pun dilakukan dengan mempertahankan arsitektur asli, ketinggian aspek kultural dan historis yang berusaha dipertahankan dan akhirnya selesai di penghujung tahun 2001. Salah satu kecanggihan pasar ini adalah, turut memperhatikan keperluan penyandang cacat dengan dibangunnya prasarana khusus bagi pengguna kursi roda.
Kondisi bangunan pasar ini jauh lebih beradab dari pasar pada umumnya, Karsten sudah mempertimbangkan atap, sirkulasi udara, masuknya cahaya agar kondisi pasar tidak pengap, lembab dan juga menciptakan iklim komunikasi yang baik dengan cara membuat lorong yang dibuat lebar untuk memudahkan interaksi antar pedagang. Dengan bijak ia melakukan semacam pengamatan akan kebiasaan masyarakat pengguna dan mempelajari kebudayaan setempat. Tidak seperti kebanyakan arsitek Belanda yang justru terkesan memaksakan ide “Belanda” pada bangunan-bangunan di Indonesia.

Sebagai pasar tradisional peninggalan masa lalu, pasar ini merupakan aset budaya Masyarakat Solo. Lebih dari itu, mengingat kesejarahan yang terkandung, pasar ini juga menjadi aset nasional yang harus dilindungi dan dilestarikan. Secara historis, pasar ini muncul dari embrio pasar candi yang berkarakter Candi Padurasa. Proses perubahan Pasar Candi berubah menjadi pasar ekonomi yang disebut “Pasar Gede Oprokan” yang digambarkan dengan payung-payung peneduh untuk kegiatan pasar.

Saatnya Belanja!
“Biasanya, para pedagang membawa dagangannya ke pasar dengan gendhongan dengan beban punggung, hingga membutuhkan ketinggian tertentu untuk meletakkan tanpa membuat punggung sakit, ini baru contoh kecil, Karsten membuatnya dengan penuh perhitungan, tapi sekarang banyak yang kemudian direndahkan sekedar untuk mengakomodasi kepentingan bisnis. Alasannya akan semakin banyak ruang untuk mendisplay barang dagangan,” kata Heru Mataya salah satu penggagas acara 78 Tahun Pasar Gede. Faktor kebersihan pun termasuk yang diperhatikan, los penjual daging justru diletakkan di lantai atas. “Maksudnya karena lalat tidak bisa naik ke atas, maka daging tetap higienis dan bisa bertahan lama. Selain itu kami juga butuh panas untuk pengeringan usus sebagai bakal sosis,” kata Sutikno salah satu pedagang daging babi.

Anda sudah memasuki Pasar Gede ketika sudah melalui salah satu pintu masuk utama (main entrance) berkanopi lebar bertuliskan Pasar Gede dengan gaya tulisan Art Nouveau. Lantai untuk masuk berujud ramp. Setelah hall masuk, terdapat ruang terbuka, kemudian ruang-ruang los pasar membujur ke utara dan timur. Selain penjual daging, tentu saja tak beda jauh dengan pasar tradisional lainnya, ragam “jualan” Pasar Gede terdiri dari berbagai macam jenis dari kebutuhan pangan, sandang hingga kebutuhan pelengkap yang lain. Berniat belanja? Coba saja datang, khusus penggemar kuliner, tak akan kecewa. Apalagi jika datang di saat terik menyengat selepas perjalanan, es dawet telasih Bu Dermi pilihan tepat. Letaknya di tengah Pasar Gede. Ada tempat duduk terbatas yang disediakan, sambil menikmati aura khas pasar, di tengah keramaian dan diantara hilir mudik pedagang dan pembeli.

Tak jauh dari Bu Dermi, coba juga ayam goreng dengan bumbu khas pasar yang ditata apik dan menggoda selera. Ayam ini disarakan untuk oleh-oleh dan dibawa pulang, karena tidak disediakan tempat untuk menyantapnya. Selain ayam, coba juga berbagai macam abon dan cabuk kering. Ingin yang sedikit manis? Tak rugi jika mencoba jajanan pasar : cenil, klepon, grontol yang terbuat dari jagung, tiwul khas Wonogiri, sawut, utri, gatot dan lopis. Semua bisa divariasikan dengan pilihan parutan kelapa, gula merah atau gula pasir dan gula merah yang dicairkan. Harga rata-rata Rp 1.000 per bungkus.

Jika masih belum puas juga dan ingin membawa oleh-oleh lebih banyak, bisa juga membeli kripik cakar ayam, karak, rambak dari kulit sapi, brem, atau belut goreng. Semua sudah dikemas rapi di kios-kios dengan harga satuan per kilogram rata-rata Rp 10.000 hingga Rp 20.000 untuk masing-masing pilihan. (RH dari berbagai sumber)

Sumber: Harian Joglo Semar, 11 Januari 2008

Istana Surosowan, Banten; Menelusuri Jejak Sejarah

Oktober 10, 2007

Banten Lama banyak menarik perhatian. Pesonanya dipicu cerita kejayaan dan kemakmuran rakyat Banten pada masa lalu. Apalagi sisa kemajuan tadi masih bisa dijumpai di beberapa tempat. Alih-alih membangkitkan nostalgia, situs-situs itu justru menuai kritik dari sana-sini. Ini terjadi akibat benda-benda cagar budaya itu tampak dibiarkan kumuh dan tak terurus. Padahal, bila digarap serius situs Banten Lama berpotensi sebagai daerah tujuan wisata arkeologis.

Cuaca siang itu terlihat begitu cerah. Hawa panas yang ada sudah cukup membuat keringat bercucuran. Tapi itu tak menyurutkan langkah Endjat Djaenuderadjat. Dengan semangat menggebu. Kepala Dinas Suaka Purbakala Banten ini asyik menerangkan sejarah kejayaan Banten kepada rombongan wisatawan. Datang dari Jakarta, para wisatawan itu sengaja diajak keliling beberapa situs oleh Direktorat Purbakala dan Permuseuman dan Balai Pelestarian dan Peninggalan Purbakala Serang.

Kali ini, lokasi yang dipilih reruntuhan Istana Surosowan. Istana ini dibangun ketika pasukan gabungan di bawah pimpinan Maulana Hasanuddin dan Pangeran Fatahillah berhasil mengalahkan Kerajaan Pajajaran dan merebut ibukota mereka, Banten Girang. Di sekitar istana dibangun tembok atau benteng keliling. Areal benteng ini sekitar tiga hektar. Berbeda dengan benteng-benteng Eropa, di atas benteng tidak ada kupel atau bastion. Tetapi justru dibuat tiang-tiang tinggi tempat prajurit mengamati keadaan di luar benteng.

Melihat reruntuhan bangunan di dalam Keraton Surosowan, siapa nyana jika istana itu dibangun pada tahun 1526, ketika Sultan Maulana Hasanudin, sultan kedua dalam silsilah Kasultanan Banten, memerintah. Bangunan yang nyaris rata dengan tanah itu masih sangat kuat, meski telah ditumbuhi lumut.

Banten Lama atau Surosowan adalah situs yang berkelanjutan. Di sana ada peradaban prasejarah dan berlanjut ke zaman klasik (Hindu-Budha), lalu beralih ke kebudayaan Islam pada abad ke-16. Pancuran mas adalah satu bagian di dalam keraton yang menarik perhatian. Pancuran yang sebenarnya terbuat dari tembaga dan bukan emas itu dahulu biasa digunakan untuk mandi para pejabat dan juga abdi kerajaan. Begitu kondangnya nama Pancuran Mas sehingga orang-orang yakin bahwa pancuran itu memang terbuat dari emas.

Kolam Roro Denok adalah bagian lain yang juga masih terjaga. Di tengah kolam, terdapat tempat istirahat bernama Bale Kambang. Air untuk mengairi kolam diambil dari Tasik Ardi, semacam danau buatan yang terletak tiga kilometer dari keraton. Air di danau disodet antara lain dari Kali Kronjen dan Pelamunan. Keraton Surosowan telah tiga kali dibangun akibat hancur karena perang. Terakhir, keraton dihancurkan oleh Daendels pada tahun 1808.

Sultan Ageng Tirtayasa mempercantik istana Surosowan dengan menyewa tenaga ahli dari Portugal dan Belanda, di antaranya Hendrik Lucasz Cardeel. Benteng istana diperkuat dan dipojok-pojoknya dibangun bastion, bangunan setengah lingkaran dengan lubang-lubang tembak prajurit mengintai dan menembak musuh. Endjat pun menunjukkan kepada kami ciri bangunan hasil rehabilitasi oleh Sultan Ageng Tirtayasa dengan pembangunan pada masa Sultan Maulana Yusuf.

Endjat juga menunjukkan karya seni dekor tinggi pada masa itu. Bukti ini masih bisa dijumpai pada sisa ubin merah yang dipasang dengan komposisi belah ketupat. Belum lagi sistem parit dan saluran air bawah tanah ke dalam kompleks istana. Menurut Paulus Van Solt, pada 1605 dan 1607 benteng istana sempat mengalami kebakaran. Namun nasib istana Surosowan luluh lantak setelah Daendels memimpin pasukan Kompeni untuk menghancurkannya pada 21 November 1808.

Walau hanya tersisa reruntuhan, situs Surosowan sebetulnya masih cukup menarik sebagai salah satu obyek wisata arkeologis. Namun bila melihat kondisi sekarang ini, kami hanya bisa mengelus dada. Di sekeliling kompleks situs dipenubi pedagang kaki lima. Para pedagang ini membuka kios-kios sempit, menjajakan aneka barang bagi pengunjung Masjid Agung Banten Lama. Sampah pun berceceran di mana-mana.

Situs Istana Surosowan juga tak mendapat penjagaan yang layak, walau di sekelilingnya telah dipagari. Setiap orang bisa bebas berkeliaran ke dalam dengan beragam tujuan. Dari sekadar melihat-lihat, berwisata sampai bertapa di salah satu sudut. Lebih miris lagi, pada halaman depan dan bagian dalam istana kawanan ternak ikut ambil bagian. Kerbau, domba dan kambing asyik menikmati rumput yang manis. Melihat semua kenyataan tadi, Endjat hanya tersenyum getir. (rn)

Sumber: perempuan.com, 10 Oktober 2007

Kho Haw Haw, Pelestari Budaya Banten

September 2, 2007

Liputan6.com, Banten: Muhammad Iwan Nitnet alias Kho Haw Haw mencoba melestarikan budaya Banten dengan caranya sendiri. Sejak 2000, dia bekeras mengumpulkan ribuan koleksi foto kegiatan budaya di Banten. Iwan kerap jalan sendirian untuk memotret benda cagar budaya atau kegiatan masyarakat. Mulai dari pedalaman Suku Badui hingga daerah pesisir di Pontang, Serang.

Kunjungan Iwan ke suatu objek bisa berkali-kali. Ini untuk melihat perubahan dari situs atau cagar yang dia amati. Iwan prihatin dengan kerusakan atau pengrusakan cagar budaya di Banten. Sejumlah cagar budaya sudah berubah bentuk atau fungsi.

Seperti Benteng Speelwijk di kawasan Banten Lama, Serang. Tempat itu kerap dipakai pementasan hiburan. Sementara di bagian dinding Benteng banyak terdapat paku. Karena itu, Iwan menentang komersialisasi benda cagar budaya atau situs Banten Lama.

Iwan melihat, kesadaran menjaga cagar budaya oleh pemerintahan masih setengah hati. Ini bisa jadi karena pemerintah daerah menghadapi dilema. Di satu sisi harus menjaga cagar budaya, sedangkan di sisi lainnya dana terbatas. Karena itu, Iwan mengajak masyarakat sekitar untuk peduli terhadap pelestarian.

Selain memotret dan menulis, Iwan juga melukis serta membuat suvenir yang terkait dengan budaya Banten. Lukisan orang-orang Badui, misalnya, Iwan ambil dari koleksi fotonya. Bagi Iwan, melukis merupakan kegiatan lain dari pelestarian budaya.

Untuk membiayai seluruh kegiatannya, Iwan merogoh koceknya sendiri. Dia menyisihkan keuntungan dari usaha sanggar lukis yang dikelolanya bersama sejumlah seniman jalanan. Ini dilakukan demi menggali budaya Banten, terutama sejarahnya. Sebab, sampai saat ini ungkap Iwan, masih terjadi simpang siur tentang budaya serta sejarah Banten. “Karena itu, kita ingin cari jalan tengahnya sebagai klarifikasi sehingga bisa menjadi satu paparan yang jelas,” kata Iwan, belum lama ini.

Saat ini, Iwan menjalani hidup bersama Lia Muliasih, sang istri, dan putri semata wayang mereka, Imosa Budika. Bagi Iwan, keluarga menjadi pendorong hidup serta penyemangat kerja sehingga dapat bermanfaat untuk orang lain. Sebagai warga keturunan Tionghoa, Iwan berprinsip, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. “Di mana saya berada, di situ saya akan membela mati-matian tanah yang saya pijak,” tegas Iwan.

Bagi Iwan, budaya adalah akar dari segalanya. Dia menjadi kolektor benda-benda kuno peninggalan zaman kesultanan Banten, seperti uang koin, keramik, dan keris. Dia sengaja membeli benda-benda kuno tersebut agar tidak hilang atau diburu oleh kolektor dari luar Banten.

Jika suatu saat Provinsi Banten memiliki museum sendiri, Iwan akan menyerahkan seluruh koleksinya agar dapat disaksikan dan dipelajari oleh masyarakat. Melalui budaya, Iwan akan tunjukkan dirinya bangga menjadi warga Banten.(BOG/Agus Faisal dan Ariel Maranoes)

Sumber: Liputan6, 2 September 2007

Bandung Lestarikan 637 Bangunan Cagar Budaya

Juni 29, 2007

BANDUNG, SELASA – Sebanyak 637 bangunan tua di Kota Bandung dipertahankan keberadaanya sebagai cagar budaya yang menjadi salah satu daya tarik wisata di Kota Kembang. “Ke depan tidak akan ada lagi pembongkaran atau perubahan fungsi bangunan cagar budaya di Kota Bandung sehingga keaslian Bandung tempo dulu masih bisa dinikmati,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kota Bandung, HM Askari di Bandung, Selasa (5/12).

Dari sejumlah bangunan tua itu, sebanyak 140 bangunan diantaranya termasuk bangunan yang paling wajib dilestarikan. Pemkot Bandung, lanjut Askari, saat ini tengah mempersiapkan Perda khusus untuk perlindungan bangunan-bangunan tua yang bersejarah di kota itu agar tidak terusik oleh proyek pembongkaran dan perubahan fungsi bangunan. “Kota Bandung akan menjadi kota ketiga di Indonesia yang punya Perda untuk bangunan tua dan bersejarah,” kata Askari.

Dua kota lainnya yang sudah memiliki Perda tentang bangunan bersejarah adalah DKI Jakarta dan Surabaya. Ia menyebutkan, kriteria bangunan cagar budaya itu salah satunya adalah peninggalan Belanda atau bangunan-bangunan yang punya nilai sejarah. “Banyak bangunan-bangunan yang punya sejarah atau pernah didiami oleh pelaku sejarah tempo dulu. Sebagian menjadi milik perorangan meski sebagian milik pemerintah,” kata Askari.

Pelestarian bangunan tua dan bersejarah di Kota Bandung saat ini ditangani oleh Bandung Harritage yang saat ini cukup aktif melakukan sosialisasi dan langkah-langkah untuk mempertahankan bangunan Bandung tempo dulu.

Beberapa kompleks bangunan Bandung Tempo dulu antara lain di bangunan Art Deco di sepanjang Jalan Braga, Museum Mandala Wangsit, Museum Geologi, Gedung Sate, Balaikota Bandung, Pendopo Kota Bandung, dan Gedung Merdeka. “Kesadaran masyarakat yang memiliki atau menguasai bangunan tua itu semakin baik dan cukup mendukung program pemerintah,” katanya.

Sementara ketika ditanya pengaruhnya terhadap kunjungan wisata mancanegara, menurut Askari pengaruhnya cukup besar terutama bagi wisatawan asal Belanda yang cukup banyak datang ke Bandung untuk melihat bangunan-bangunan yang dibuat oleh leluhurnya.

Sumber: Antara
Penulis: Ima

Sumber: Kompas, 29 Juni 2007

Rawa Bangke dan Jaga Monyet yang Hilang dari Peta Jakarta

Mei 11, 2007

Oleh: Mulyawan Karim

Sampai dengan tahun 1960-an, di Jatinegara, Jakarta Timur, ada kampung bernama Rawa Bangke. Tetapi, coba cari tempat itu di peta sekarang. Hasilnya pasti nihil.

Nama Rawa Bangke yang terkesan seram tak ada lagi. Mungkin supaya terdengar lebih manis, nama kampung itu telah berganti menjadi Rawa Bunga. Sebutannya pun bukan lagi kampung, tetapi kelurahan.

Padahal nama Rawa Bangke ada ceritanya. Menurut cerita rakyat Betawi, nama itu berasal dari zaman penjajahan Inggris, waktu pasukan Inggris berusaha merebut Jakarta atau Batavia dari tangan Belanda, awal tahun 1811. Dalam pertempuran sengit di daerah Jatinegara, yang waktu itu masih bernama Meester Cornelis, banyak tentara Inggris meninggal. Mayat-mayat atau bangkai mereka terlihat bergelimpangan di rawa. Warga sekitar lantas menyebut rawa itu dengan nama Rawa Bangke.

Versi lain menyebut, nama Rawa Bangke berasal dari masa abad ke-18 Masehi. Daerah rawa itu diberi nama demikian setelah di sana banyak ditemukan mayat orang China pemberontak yang jadi korban pembantaian pasukan Belanda. Catatan sejarah menyebutkan, sekitar 10.000 warga Batavia keturunan China tewas dalam aksi pembunuhan besar-besaran yang terjadi pada Oktober 1740 itu.

Legenda Jaga Monyet
Nasib Kampung Jaga Monyet sama saja. Kampung dengan nama itu, yang pernah ada di daerah Petojo, Jakarta Pusat, tak jauh dari Harmoni, kini juga sudah raib dari peta Jakarta. Jalan yang dulu bernama Jalan Jaga Monyet pun sudah berganti menjadi Jalan Suryopranoto.

Nama tempat atau toponim Kampung Jaga Monyet muncul pada zaman VOC, antara abad ke-17 dan 18 Masehi. Pada masa itu, di sana terdapat benteng yang dibangun Belanda dengan tujuan untuk menangkal serangan pasukan Kesultanan Banten dari arah Grogol dan Tangerang.

Kabarnya, kalau sedang tak ada serangan musuh, para serdadu di sana lebih banyak menganggur. Karena kurang kerjaan, sehari-hari mereka lebih sering cuma mengawasi kawanan monyet yang banyak berkeliaran di dalam benteng, yang pada masa itu masih dikelilingi hutan belantara. Dari kondisi itulah nama Kampung Jaga Monyet kemudian muncul.

Kampung pasukan JP Coen
Tentu saja tidak semua kampung purba di Jakarta raib atau berganti nama. Kampung Ambon di Rawamangun, yang sudah berdiri sejak awal abad ke-17 Masehi, misalnya, masih bertahan sampai sekarang dengan nama sama.

Menurut catatan sejarah, Kampung Ambon mulai dibangun pada tahun 1619. Ketika itu, panglima pasukan Belanda Jan Pieterszoon (JP) Coen baru tiba kembali di Jakarta—yang saat itu masih bernama Jayakarta—dari Maluku untuk merebut wilayah Jayakarta dari kekuasaan Kesultanan Banten. Setelah memenangi perang, JP Coen mengganti nama kota pelabuhan internasional itu, dan ia sendiri diangkat menjadi Gubernur Jenderal VOC keempat.

Kemenangan JP Coen tak lepas dari dukungan pasukan pribumi yang khusus ia bawa dari Ambon. Konon jumlahnya mencapai 17 kapal. Namun setelah kemenangannya, ia tak memulangkan bala tentara bantuan ini ke daerah asalnya. Sebaliknya, ia memukimkan mereka di kawasan hutan rawa di tenggara Batavia, yang wilayahnya ketika itu baru sebatas daerah Pelabuhan Sunda Kelapa dan Jakarta Kota. Permukiman tentara asal Maluku itulah yang disebut Kampung Ambon, hingga hari ini.

Meski di Kampung Ambon kini tak ada komunitas warga keturunan Ambon, di sana pernah ditemukan berbagai benda peninggalan sejarah dari zaman VOC. Di antaranya berupa pal atau patok batas wilayah setinggi satu meter dari batu cor.

Mengganti nama daerah, kampung, atau jalan, tidak dilarang, asal saja tak dilakukan dengan serampangan dan asal enak didengar. Banyak toponim lama yang juga pantas dihargai, terutama yang punya makna sejarah, baik sejarah politik, sosial, budaya, maupun sejarah lingkungan alam.

Penggantian nama secara semena-mena bukan cuma sering membuat masyarakat bingung, tetapi juga bisa mengaburkan sejarah.

Sumber: Kompas, 11 Mei 2007

Nonton Perbankan Tempo Doeloe di Museum Mandiri

Mei 9, 2007

Oleh: Iwan Santosa

Wisata di museum tidak sekadar menonton benda dan bangunan bersejarah. Malam minggu (5/5), akhir pekan lalu, sejarah disuguhi rekonstruksi perbankan tempo doeloe berlatar tahun 1930-an di Museum Bank Mandiri di depan Stasiun BEOS (Jakarta Kota) di Kota Tua Jakarta yang bersejarah.

Tema yang diusung Komunitas Jelajah Budaya adalah Kasir China, salah satu ikon perbankan pada masa Kolonial. Kala itu para pegawai Tionghoa sebagian besar menjadi tenaga kasir di bank.

Para tuan besar Belanda sebagai nasabah, kasir Tionghoa, dan kerani Bumiputera, tampil di salah satu sudut bank yang memang pernah menjadi ruang kasir pada masa silam. Topi bambu bulat, seragam putih-putih, celana model Bermuda, hingga baju cheongsam yang digunakan para Nona Tionghoa pegawai bank ditampilkan pada malam itu.

Para wisatawan pun disuguhi rekonstruksi yang mirip tonil lengkap dengan kelakar. Sayang, tak banyak istilah Melayu Pasar yang lazim digunakan, tak muncul dalam pertunjukan pada malam itu, seperti sebutan babah, nona, encek, dan sebagainya.

Namun, upaya membangun keaslian penampilan agak terganggu pada sejumlah detail, seperti keberadaan tauchang (kepang rambut alias pig tail pria Tionghoa). Pada tahun 1930-an, tauchang sudah tidak lagi dipakai seiring revolusi Tiongkok pada awal abad ke-20 yang melahirkan gerakan kwa tauchang (memotong kepang rambut).

Meski demikian, para penonton antusias melihat pertunjukan tersebut. Calvin Barus yang datang bersama istrinya Ruth dari Depok, mengaku menikmati acara tersebut.

“Cara berpakaian yang dipakai mirip waktu saya kecil di perkebunan di Sumatera Utara. Saya ingat bapak saya biasa berbusana seperti para tuan besar lengkap dengan topi. Bapak saya memang kerja di perkebunan pemerintah yang diambil alih dari Belanda akhir tahun 1950-an,” tutur Calvin.

Selepas rekonstruksi, para pengunjung diberi kesempata lagi untuk kembali ke masa lalu. Nuansa tersebut dibangun dalam acara makan lengkap berupa rijztaffel (harfiah meja nasi), yakni hidangan khas zaman Kolonial yang merupakan pertemuan selera Belanda dan Indonesia. Rijsttaffel disajikan belasa pelayan berjas ala tempo dulu, menghidangkan nasi ditemani belasan penganan dan tentu saja kerupuk yang merupakan makanan mewa di masa lalu.

Sambil santap malam, pengunjung juga menyaksikan film hitam putih tentang Insulinde (sebutan Indonesia awal abad ke-20) ketika ekonomi sedang bangkit dan pembangunan serta keindahan negeri ini sangat memukau dinia Barat.

Setelah itu, pengunjung dibawa berkeliling museum yang selesai dibangun tahun 1933 sebagai kantor Nederlandsche Handel – Maatschappij (NHM). Ruang bawah tanah, brankas antik, kaca patri yang menggambarkan sejarah Nusantara sejak kedatangan Belanda, dan perangkat perbankan tempo dulu.

Titi, pengunjung lain, mengaku bahwa menonton pertunjukan sekaligus mengelilingi museum memberikan wawasan baru tentang kebesaran Nusantara di masa silam. “Ternyata banyak hal yang bisa dikagumi dari masa lalu,” ujar Titi.

Kartum, ketua Komunitas Jelajah Budaya, mengatakan kemasan rekonstruksi sejarah sengaja dibuat agar menggugah kepedulian masyarakat terhadap kebesaran di masa lalu sekaligus membangun rasa percaya diri. “Kalau tidak dimulai dari sekarang tentu bangunan cagar budaya berikut cerita yang menyertainya akan dilupakan,” ungkap Kartum.

Sumber: Kompas, 9 Mei 2007

Bersepeda, Menyusuri Kota Tua di Jakarta

Maret 6, 2007

Liputan6.com, Jakarta: Bosan berwisata ke luar kota? Bila Anda penduduk Jakarta, mungkin jalan bareng dengan suatu komunitas dapat menjadi pilihan. Tim Melancong Yuk bersama Komunitas Jelajah Budaya, belum lama ini menyusuri keindahan kawasan tua di Ibu Kota. Serunya, perjalanan wisata sejarah ini hanya mengandalkan sepeda. Asyik memang, terlebih bila sepeda model kuno atau Onthel yang dipakai.

Rute favorit adalah menuju kawasan Kota Tua. Kawasan ini seluas sekitar 139 hektare. Wilayah yang banyak terdapat bangunan tua bernilai historis ini sebagian terletak di Jakarta Barat, yakni seluas 88 hektare. Bagian lainnya ada di Jakarta Utara dengan luas kira-kira 51 hektare.

Kini, para pencinta bangunan bersejarah maupun wisatawan dimanjakan dengan adanya jalur pedestrian. Jalur khusus bagi pejalan kaki maupun pengayuh sepeda itu berada di sepanjang Jalan Pintu Besar Utara, Jakarta Barat.

Banyak memang pilihan bangunan atau peninggalan bersejarah era Kolonial Hindia Belanda atau penjajahan bangsa asing di Jakarta yang tentunya sayang bila dilewatkan. Satu di antaranya adalah Jembatan Kota Intan. Jembatan kayu berwarna cokelat kemerahan ini dibangun pada tahun 1628. Keistimewaan jembatan tersebut adalah dilengkapi dengan semacam pengungkit untuk menaikkan sisi bawah jembatan bila ada kapal yang akan melewati jembatan menuju kota. Sayangnya, saat ini, jembatan itu tak bisa dinaik-turunkan lagi.

Dari Jembatan Kota Intan, para wisatawan dapat mengunjungi Museum Bahari di Jalan Pasar Ikan Nomor 1, Jakarta Barat. Dahulu kala, gedung tersebut adalah gudang rempah-rempah milik Verenigde Oostindische Compagnie (VOC) alias Kompeni. Tak tertinggal, tentunya, Museum Fatahillah di Jalan Taman Fatahillah No. 2, Jakarta Barat dengan luas lebih dari 1.300 meter persegi. Gedung tersebut dulu adalah Stadhuis atau Balai Kota, yang dibangun pada tahun 1707-1710.

Dan masih banyak lagi bangunan maupun tempat yang bisa dikunjungi atau tepatnya ditelusuri. Baik berjalan kaki maupun bersepeda. Bila tertarik, Anda dapat mencobanya, bersama keluarga, teman maupun komunitas.(ANS/Tim Melancong Yuk)

Sumber: Liputan6, 6 Maret 2007

Revitalisasi Kota Tua Akan Selesai Pertengahan 2007

Februari 1, 2007

JAKARTA–MIOL: Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Provinsi DKI Jakarta memperkirakan revitalisasi Kota Tua, Jakarta Pusat, yang saat ini masih digarap diperkirakan baru akan selesai pada pertengahan 2007.

“Rencananya ‘launching’ Kota Tua baru akan dilaksanakan pertengahan tahun, sekitar bulan Juni 2007,” kata Kepala Subdinas Pengawasan Cagar Budaya Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Provinsi DKI Jakarta, Candrian Attahiyyat, setelah pembukaan Pameran 1.000 Foto di Museum Bank Mandiri, Jakarta, Selasa.

Dia mengatakan ada lima tempat di daerah Kota yang menjadi fokus utama dalam revitalisasi Kota Tua saat ini. Lima tempat tersebut adalah Taman Fatahillah, Jalan Kunir, Pintu Besar Utara, Jalan Pos Kota, dan Kali Besar.

Menurut Candrian, ke depan pelestarian daerah Kota Tua akan mengikutsertakan masyarakat dan pihak swasta. Keikutsertaan pihak swasta untuk pelestarian Kota Tua ini tidak dilakukan dalam bentuk uang, tetapi dalam bentuk barang seperti menyumbang tanaman atau lampu hias. “Pihak swasta dapat melakukan investasi di daerah Kota Tua ini,” ujar Candrian.

Mengenai dana revitalisasi Kota Tua untuk 2007, dia mengatakan, hingga saat ini belum diketahui besaran anggaran yang akan dikeluarkan oleh Pemprov DKI Jakarta. Selain itu, Candrian juga mengatakan, saat ini sudah ada “Green Map” Kota Tua. Namun, menurut dia, belum ada “Herittage Map” yang menggambarkan warisan bersejarah secara lengkap yang ada di Kota Tua.

“Sudah ada rencana untuk membuat ‘Herittage Map’ dalam waktu dekat ini.Namun, masih menunggu hasil dari ‘scanning’ lokasi yang dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa asing bekerjasama dengan mahasiswa Indonesia.

Dia mengatakan “scanning” itu akan memperlihatkan bangunan atau benda mana saja di daerah Kota Tua ini yang memiliki nilai sejarah, dan mana yang tidak, sehingga dapat diketahui peninggalan mana saja harus segera direvitalisasi. (ANT/OL-03)

Sumber: Media Indonesia, 1 Februari 2007

Mengembalikan Pasar Senen sebagai Ratu dari Timur

Oktober 20, 2006

Oleh: Pingkan Elita Dundu

Bau busuk, pesing, dan kotoran ayam menyengat tercium ketika kaki melangkah memasuki Blok III, Pasar Senen, Jakarta Pusat. Di pasar basah itu, para pedagang memotong ternak ayam untuk dijual kepada konsumen. Kotoran, kulit, dan bulu ayam terserak di mana-mana di pasar daging itu.

Tumpukan sampah, genangan air kotor dan berbau, serta lalat yang beterbangan mengerubuti hampir setiap tempat di seputar lokasi itu.

Kesan kumuh, bau, kotor, sumpek, panas, tidak terurus, atau tidak terawat bukan hanya di Blok III. Kondisi semua blok, mulai dari I sampai VI, tidak berbeda jauh. Bahkan sewaktu mendekati tangga di Blok V ke arah pasar onderdil, tercium pula bau pesing. Begitulah kondisi Pasar Senen di Jakarta Pusat saat ini.

Kejahatan dan premanisme

Kondisi seperti itu sangatlah jauh berbeda dengan kawasan Senen saat zaman penjajahan. Pada awal abad lalu Pasar Senen sangat terkenal, malah sempat pula dijuluki Queen of the East (Ratu dari Timur) yang jauh lebih tersohor dari Singapura.

Tidak hanya vila indah menghiasi kawasan tersebut, tetapi juga banyak pertokoan Tionghoa dan tangsi tentara. Kawasan itu menjadi tempat wandelen alias “makan angin”.

Sampai dengan zaman Ali Sadikin memimpin Jakarta, kawasan Senen masih tertib dan menjadi tempat elite berbelanja. Setelah itu, lambat laun mulai terjadi pergeseran, baik itu tata guna, tata ruang, maupun tata kuasa. Berbagai kepentingan masuk sehingga kawasan itu tidak terpelihara dan menjadi kumuh.

Pedagang kaki lima tumbuh seperti jamur. Kawasan yang dulunya tertata dengan baik menjadi semrawut. Tidak salah kalau kemudian orang selalu mengidentikkan Pasar Senen dengan kesemrawutan, kejahatan, dan premanisme. Citra itu terus melekat dan sulit dihapus.

“Saya baru sekali datang ke Pasar Senen, tetapi tidak mau lagi ke sana. Kayak ’Sodom dan Gomora’ (istilah untuk sarang berbagai kejahatan),” kata Yoan, mahasiswi S-2 Universitas Indonesia, Jakarta.

Kondisi Pasar Senen sangat memprihatinkan. Tidak memberikan rasa aman dan jauh dari rasa nyaman.

Perusahaan Daerah (PD) Pasar Jaya mencatat, kondisi eksisting Blok I sampai VI memiliki 4.982 pedagang (resmi) dengan jenis dagangan lebih dominan arloji, emas, perlengkapan TNI, tekstil, dan garmen. Selain itu, juga elektronik, toko buku, alat tulis kantor, pasar tradisional, dan pasar kue subuh.

Para pedagang menempati 6.677 kios (artinya ada satu pedagang memiliki lebih dari satu kios) dengan luasan 41.922 meter persegi.

Direktur Utama PD Pasar Jaya Prabowo Soenirman selaku pengelola Pasar Senen mengatakan, kondisi yang tidak aman dan nyaman itulah yang mengharuskan kawasan itu harus ditata kembali.

Ke depan, katanya, Pasar Senen akan menjadi pasar modern yang bersatu dengan stasiun kereta api dan terminal bus kota serta pusat perbelanjaan Atrium Senen.

“Pembangunannya dengan konsep transit oriented development, yakni memanfaatkan sistem dan sirkulasi transportasi umum (kereta api, busway, dan angkutan umum lainnya),” ujar Prabowo. Kawasan itu nantinya tidak hanya difungsikan untuk pusat belanja semata, tetapi juga ada hunian (apartemen). Harapannya, aktivitas di kawasan itu akan hidup sepanjang hari.

Dalam konsep itu, akan dilakukan pemisahan antara akses pejalan kaki dan jaringan lalu lintas yang ada. Caranya, dengan membangun ruang pejalan kaki seperti area pedestrian dan jalan layang (skywalk) pada posisi level 2-3 bangunan.

Kepala Humas PD Pasar Jaya Nurman Adhi mengatakan, kawasan itu akan diberi nama Senen Jaya. Pembangunannya akan melibatkan PD Pasar Jaya sendiri, PT Pembangunan Jaya, dan PT Real Propertindo.

Gagasan menata kembali kawasan Senen mulai mengemuka pada Mei 2004, berkaitan dengan rencana PD Pasar Jaya menata kembali pasar-pasar tradisionalnya. Rencana itu diawali dengan sayembara oleh Pemerintah Kota Jakarta Pusat, dan pembangunannya dilakukan tahun 2005. Namun, sayang, selain pelaksanaannya mundur, hasil sayembara ternyata juga tidak teradopsi.

Rampung dalam 18 bulan

Setelah tertunda hampir satu tahun, proyek tersebut akhirnya mendapat titik terang. Prabowo mengatakan, bulan November 2006 renovasi akan segera dimulai, dan diperkirakan selesai dalam 18 bulan atau tahun 2008 dengan nilai proyek Rp 3 triliun.

“Renovasi akan tetap jalan meskipun pembangunan lokasi binaan bagi pedagang kaki lima tertunda,” kata Prabowo.

Selama pelaksanaan pembangunan kembali Blok I, II, dan III, para pedagang akan ditempatkan sementara di Blok IV, V, dan VI. Setelah selesai tahap I, lanjutan proyek itu untuk membangun tahap II, yaitu Blok IV, V, dan VI.

Menelaah konsep penataan Pasar Senen, terbayang kawasan itu akan hidup kembali dan menjadi Queen of the East. Keseriusan membenahi kawasan itu harus sejalan dengan pengawasan dan penertiban dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan pengelola pasar. Jangan sampai setelah ditata, kawasan itu akan kembali kumuh dan penuh preman.

Sumber: Kompas, 20 Oktober 2006