Kawasan Kota Tua

Setelah menjalani beberapa tahap renovasi, menurut rencana, Rabu (20/2) mendatang, Gubernur DKI Fauzi Bowo akan resmi meluncurkan Kota Tua sebagai kawasan wisata sejarah. Sebelumnya, dana Rp 20 miliar dikucurkan untuk peremajaan Kota zaman Belanda di Barat Jakarta ini diharapkan bisa menjadi tempat bersejarah kebanggaan DKI.

Menurut rencana Foke-sapaan akrab Fauzi Bowo, secara simbolik akan meresmikan Jembatan Kota Intan sebagai maskot kota kebanggaan semasa zaman penjajahan Belanda. Bersamaan dengan ini Foke direncanakan juga sekaligus meresmikan pengoperasian Terowongan Penyeberangan Orang (TPO) Beos yang sedang tahap pengerjaan akhir. “Biar nggak dua kali kerja peresmian sekalian akan digabung,” kata Kepala Subdit Lalu Lintas Jalan Dinas Perhubungan M Akbar.

Namun, dikonfirmasi terpisah terkait rencana ini, Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta Aurora Tambunan meluruskan, bahwa rencana kedatangan gubernur ke dua lokasi di Kota tua tersebut hanyalah kunjungan kerja biasa. Menurutnya Rabu besok gubernur berkeinginan melihat secara langsung perubahan penampilan Kota tua pasca peremajaan. “Rencana beliau melihat-lihat pukul 17.00,” paparnya.

Dari pantauan Indo Pos, beberapa fisik gedung tua di areal seluas 846 hektar itu memang sudah terlihat lebih cantik dari sebelumnya. Selain nuansa cat tembok baru, sebagian gedung yang dulunya terkesan angker karena tidak dihuni, kemarin juga sudah nampak ramai dengan aktifitas.

Lebih lagi dengan jembatan tua di sisi barat kawasan Kota tua yang lebih dikenal Jembatan kota Intan. Kemarin setidaknya nampak lebih muda dengan hiasan lampu penerang disisi kiri-kanannya.

Namun, secara umum, penataan areal publik seperti pedestrian, taman bermain, dan foodcourt, nampaknya masih belum benar-benar rapi. Jalan arteri Museum Sejarah Jakarta yang sudah disulap menjadi pedestrian khusus pejalan kaki misalnya, kemarin masih nampak lalu lalang dilewati pengendara kendaraan roda dua. Belum teraturnya areal perparkiran menyebabkan rasa sedikit kurang nyaman kebanyakan pengunjung. Beberapa pejalan kaki yang kebetulan melenggang di pedestrian Kota tua setidaknya mengakui hal ini.

Pemandangan lain yang kurang sedap dilihat adalah banyaknya pedagang kaki lima yang menjual barang dagangan semaunya. Tempat parkir untuk kendaraan roda empat dan kendaraan roda dua juga belum dikelola secara rapi. Akibatnya, beberapa pemilik mobil juga memilih memarkir kendaraan mereka sekenanya.

Aurora mengatakan, sebagai petanda peluncuran Kota Tua sebagai pusat wisata sejarah, Rabu malam, gubernur Foke juga akan melakukan penyalaan lampu kawasan taman Fatahillah. Menurutnya, Setelah ini Kota Tua akan di kelola oleh sebuah lembaga di bawah Dinas Kebudayaan dan Permuseuman bernama Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kota Tua.

Sebagaimana diberitakan, renovasi yang digelar di Kota Tua merupakan bentuk kelanjutan renovasi yang pernah digelar sebelumnya. Disamping alasan wisata, renovasi juga sebagai upaya menanggulangi banjir beberapa waktu lalu yang sempat memakan sejumlah kayu penyangga gedung-gedung tua. Akibat banjir tersebut selain kayu yang keropos beberapa dinding juga terjadi kerusakan.

Selama perbaikan, selain dana dari unit terkait, seperti Dinas Pekerjaan Umum, Penerangan Jalan Umum serta Tata Kota, dana anggaran juga telah dialokasikan dalam RAPBD 2008 sejumlah Rp 4,1 miliar.

Untuk perbaikan secara total tersebut, studi hidrologi juga dilakukan. Sehingga, pendataan serta detail analisis penanganan bisa dilakukan secara menyeluruh. Hal ini mengingat struktur tanah di Kota Tua sangat rentan terhadap air. Bahkan, jika dilakukan penggalian sedalam 50 cm, tanah di Kota Tua sudah mengeluarkan air. Tak heran, jika dinding-dinding bangunan di Kota Tua basah oleh rembesan air tanah. (did)

Sumber: Indo Pos, 18 Februari 2008


%d blogger menyukai ini: