Museum Bahari Ambrol, Samudra Indonesia Rata dengan Tanah

Gedung-gedung di kawasan Kota Tua yang dilindungi terus-menerus digerus banjir. Hanya berselang sekitar 12 jam, dua gedung yang masuk dalam daftar bangunan cagar budaya (BCB), yakni Museum Bahari dan Gedung Samudra Indonesia, ambruk.

Yang teparah dialami Gedung Samudra Indonesia, yang ambruk total Jumat (1/2). Sementara itu, gedung Meseum Bahari masih berdiri tapi sejumlah gelagar penyangga lantai dua sudah ambrol pula. Temboknya pun retak-retak.

Gedung Samudra Indonesia yang terletak di Jalan Kali Besar Barat, Jakarta Barat, ambruk pada Jumat pukul 14.00. sedangkan Museum Bahari di Jalan Pasar Ikan, Jakarta Utara, ambrol pada Sabtu pukul 02.00.

Seorang saksi mata, Sugoro, mengatakan, sebelum gedung ambruk dia sempat mendengar bunyi kerikil berjatuhan. “Cuma begitu awalnya, kerikil-kerikil berjatuhan. Tiba-tiba itu gedung jatoh ke depan. Abis itu bunyinya kayak ada bom, gitu, kata pedagang. Pedagang lain menimpali, kaget aja kita tiba-tiba ada dentuman. Trus debunya lari ke kita.”

Sebelum, kawasan Kota Tua diterjang banjir. Gedung itupun yang ikut terendam. “Belum lagi tiap kali ada mobil lewat, air kan mendesak ke gedung itu. Barang kali karena itu juga gedung tersebut jadi nggak kuat lagi nahan,”tambah Sugoro.

Sekedar informasi, Samudra Indonesia Tbk merupakan perusahaan publik yang bergerak dalam bidang pelayaran, transportasi, dan logistik. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1964 oleh Soedarpo Sastrosatomo. Gedung itu dirancang dan dibangun oleh arsitek yang juga merancang stasiun Beos, Ir Frans Johan Louwrens Ghijsels, pada tahun 1910-1921. Gedung ini dulu diperuntukan perusahaan dagang dan Arkade (lorong untuk pejalan kaki) pada gedung ini merupakan ciri khas bangunan awal abad 20 di sepanjang Kali Besar Utara.

Pemilik gedung, Shanti Poesposoetjipto, putri almarhum Sastrosatomo, menjelaskan bahwa pihaknya sudah mengosongkan gedung itu setelah melihat adanya keretakan dibeberapa lokasi. “Sudah sekitar satu tahun dikosongkan. Gedung itu sudah diperiksa oleh ahli gedung tua dan menurut merekan masih ok, hanya perlu diperkuat. Tapi keburu roboh.”kata Shanti.

Dia menambahkan, rencana awal gedung itu akan digunakan untuk tempat pendidikan dan latihan. “Kita akan segera selidiki lebih lanjut kenapa bisa runtuh,” tandasnya

Museum Bahari
Sementara Museum Bahari kondisinya tak jauh berbeda. Untungnya gedung yang dibangun pada zaman VOC itu ambruknya tidak separah gedung Samudra indonesia. Namun balok penyangga gedung C Museum yang bernilai sejarah itu sudah pada ambrol. “Kan setiap hari tergenang air, apalagi berkali-kali terendam banjir sehingga penyangga lantai atas roboh. Ada satu lagi balok penyangga yang sudah retak, tinggal tunggu tanah bergerak, roboh. Kalau balok penyangga sudah ambruk, kan sama aja gedung itu ambruk,” kata Kepala Museum Bahari Dewi Rudiati.
Menurut Dewi, jika bangunan blok C roboh, maka bangunan lain yang terkait blok itu akan ikut roboh pula. Demikian pula dengan kondisi blok B. “Kalau lantai sudah retak memanjang dan makin menganga, apa enggak tinggal roboh. Balok tiang penyangga yang bagian bawah juga udah ikut retak. Jadi tinggal menunggu waktu,”lanjut Dewi.

Bangunan Museum Bahari ini terdiri atas dua dua bagian, sisi barat disebut Gudang Barat (Westzijdsch pakhueizen) di Jalan Pasar Ikan yang berdiri persis di samping muara Sungai Ciliwung serta Gudang Timur (Oosjzijdsch Pakhuizen) di Jalan Tongkol. Museum Bahari yang usianya lebih dari 3,5 abad. Tembok yang mengelilingi museum itu tak lain adalah pembatas kota Batavia (city wall) di zaman Belanda.

Pada masa penduduk Belanda, bangunan yang saat ini dipergunakan untuk museum dipakai gudang yang berfungsi untuk menyimpan hasil bumi, seperti rempah-rempah.

Museum ini menyimpan koleksi yang berhubungan dengan kebaharian dan kenelayanan bangsa Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Koleksi-koleksi yang terdiri atas berbagai jenis perahu tradisional dengan aneka bentuk, gaya dan ragam hias, hingga kapal zaman VOC. Disajikan pula berbagai model dan miniatur kapal modern dan perlengkapan penunjang kegiatan pelayaran. Di sisi lain ditampilkan pula koleksi biota laut. Museum tersebut menyimpan 1.500 koleksi.

Kepala Subdinas (Kasubdis) Pengawasan Dinas Kebudayaan dan Permuseuman (Disbudmus) DKI sekaligus Plh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kota Tua Candrian Atthiyat, Sabtu (2/2) mengatakan, kondisi Museum Bahari sudah rusak parah. “Tidak bisa lagi menunggu terlalu lama harus segera diperbaiki,” katanya.

Candrian Attahiyat yang di temui Warta Kota di bakal UPT KotaTua di bekas Kafe Museum, belum bisa berkomentar banyak. “Besok pagi (hari ini-Red) kita akan bicarakan dengan TSP (Tim Sidang Pemugaran-Red). Perlu di selidiki apakah karena ada penurunan tanah karena adanya pemancang tiang sekian puluh tahun lalu, atau karena banjir kemudian tanah menjadi lembek,” katanya. (pra)

Sumber: Jakarta Culture and Heritage, 1 Februari 2008


%d blogger menyukai ini: