78 Tahun Pasar Gede Cerita Karsten, Aset Nasional dan Nikmatnya Belanja

oleh Retno Hemawati

Pasar Gede Solo dibangun dan memulai aktivitas perdagangannya sejak 1930. Pada Sabtu (12/1) pasar ini akan merayakan ulangtahun ke 78 dan ditandai dengan gelaran 78 tumpeng jajan pasar dan beberapa pergelaran seni seperti Sahita, Temperente dan Lawcoustic Music ‘n Foresta Holic di halaman pintu depan Pasar Gede. Kali ini menggagas tema be a long-live heritage, be traditional, be transborder.

Perpaduan Budaya
Pasar Gede dibangun berdasarkan rancangan arsitek berkebangsaan Belanda Ir Herman Thomas Karsten yang memulai pembangunannya pada tahun 1927. Pada 12 Januari 1930 pasar monumental itu diresmikan Paku Buwono X dengan pemotongan pita oleh GKR Emas yang menelan biaya waktu itu sekitar 650.000 gulden, yang kini setara dengan Rp 2,47 miliar. Pasar Gede merupakan simbol padu kerja harmonis antara penggagas PB X dan Ir Herman Thomas Karsten yang sangat menghargai budaya budaya lokal, hasilnya adalah arsitektur Indis yang dalam tataran filosofis arsitektural, ia memberikan rasa ruang dan rasa tempat yang khas. Sekaligus nyaris sempurna secara tipologis, di mana pembangunannya memperhatikan pendekatan rasional dan mempertimbangkan iklim budaya lokal.

Sebagai pasar tradisional, Pasar Gede pada awalnya bernama Pasar Gedhé Hardjonagoro, berasal dari nama cucu kepala Pasar Gedhé (1930 – disaat itu), seorang budayawan Jawa dari Surakarta Go Tik Swan, keturunan Tionghoa yang mendapat gelar KRT Hardjonagoro dari PB XII. Dekatnya Pasar Gede dengan komunitas Tionghoa dan area Pecinan bisa dilihat dengan keberadaan sebuah klenteng Vihara Avalokitesvara Tien Kok Sie di dekatnya yang tak jauh dari perkampungan warga keturunan Tionghoa (pecinan) yang bernama Balong yang letaknya di Kelurahan Sudiroprajan. Itulah mengapa para pedagang sekalipun sekarang tidak dominan banyak yang merupakan keturunan etnis Tionghoa. Dulu pasar ini sebagai mediator perdagangan bagi masyarakat Belanda-Cina-pribumi dengan harapan hubungan antar etnis yang semula berkonflik dapat berlangsung harmonis.

Rusak, Renovasi
Sempat pada tahun 1947, Pasar Gede mengalami kerusakan karena serangan Belanda dan kemudian direnovasi pada tahun 1949. Perbaikan atap selesai pada tahun 1981. Kemudian pada 28 April 2000 pasar ini kembali ludes dilalap api. Renovasi pun dilakukan dengan mempertahankan arsitektur asli, ketinggian aspek kultural dan historis yang berusaha dipertahankan dan akhirnya selesai di penghujung tahun 2001. Salah satu kecanggihan pasar ini adalah, turut memperhatikan keperluan penyandang cacat dengan dibangunnya prasarana khusus bagi pengguna kursi roda.
Kondisi bangunan pasar ini jauh lebih beradab dari pasar pada umumnya, Karsten sudah mempertimbangkan atap, sirkulasi udara, masuknya cahaya agar kondisi pasar tidak pengap, lembab dan juga menciptakan iklim komunikasi yang baik dengan cara membuat lorong yang dibuat lebar untuk memudahkan interaksi antar pedagang. Dengan bijak ia melakukan semacam pengamatan akan kebiasaan masyarakat pengguna dan mempelajari kebudayaan setempat. Tidak seperti kebanyakan arsitek Belanda yang justru terkesan memaksakan ide “Belanda” pada bangunan-bangunan di Indonesia.

Sebagai pasar tradisional peninggalan masa lalu, pasar ini merupakan aset budaya Masyarakat Solo. Lebih dari itu, mengingat kesejarahan yang terkandung, pasar ini juga menjadi aset nasional yang harus dilindungi dan dilestarikan. Secara historis, pasar ini muncul dari embrio pasar candi yang berkarakter Candi Padurasa. Proses perubahan Pasar Candi berubah menjadi pasar ekonomi yang disebut “Pasar Gede Oprokan” yang digambarkan dengan payung-payung peneduh untuk kegiatan pasar.

Saatnya Belanja!
“Biasanya, para pedagang membawa dagangannya ke pasar dengan gendhongan dengan beban punggung, hingga membutuhkan ketinggian tertentu untuk meletakkan tanpa membuat punggung sakit, ini baru contoh kecil, Karsten membuatnya dengan penuh perhitungan, tapi sekarang banyak yang kemudian direndahkan sekedar untuk mengakomodasi kepentingan bisnis. Alasannya akan semakin banyak ruang untuk mendisplay barang dagangan,” kata Heru Mataya salah satu penggagas acara 78 Tahun Pasar Gede. Faktor kebersihan pun termasuk yang diperhatikan, los penjual daging justru diletakkan di lantai atas. “Maksudnya karena lalat tidak bisa naik ke atas, maka daging tetap higienis dan bisa bertahan lama. Selain itu kami juga butuh panas untuk pengeringan usus sebagai bakal sosis,” kata Sutikno salah satu pedagang daging babi.

Anda sudah memasuki Pasar Gede ketika sudah melalui salah satu pintu masuk utama (main entrance) berkanopi lebar bertuliskan Pasar Gede dengan gaya tulisan Art Nouveau. Lantai untuk masuk berujud ramp. Setelah hall masuk, terdapat ruang terbuka, kemudian ruang-ruang los pasar membujur ke utara dan timur. Selain penjual daging, tentu saja tak beda jauh dengan pasar tradisional lainnya, ragam “jualan” Pasar Gede terdiri dari berbagai macam jenis dari kebutuhan pangan, sandang hingga kebutuhan pelengkap yang lain. Berniat belanja? Coba saja datang, khusus penggemar kuliner, tak akan kecewa. Apalagi jika datang di saat terik menyengat selepas perjalanan, es dawet telasih Bu Dermi pilihan tepat. Letaknya di tengah Pasar Gede. Ada tempat duduk terbatas yang disediakan, sambil menikmati aura khas pasar, di tengah keramaian dan diantara hilir mudik pedagang dan pembeli.

Tak jauh dari Bu Dermi, coba juga ayam goreng dengan bumbu khas pasar yang ditata apik dan menggoda selera. Ayam ini disarakan untuk oleh-oleh dan dibawa pulang, karena tidak disediakan tempat untuk menyantapnya. Selain ayam, coba juga berbagai macam abon dan cabuk kering. Ingin yang sedikit manis? Tak rugi jika mencoba jajanan pasar : cenil, klepon, grontol yang terbuat dari jagung, tiwul khas Wonogiri, sawut, utri, gatot dan lopis. Semua bisa divariasikan dengan pilihan parutan kelapa, gula merah atau gula pasir dan gula merah yang dicairkan. Harga rata-rata Rp 1.000 per bungkus.

Jika masih belum puas juga dan ingin membawa oleh-oleh lebih banyak, bisa juga membeli kripik cakar ayam, karak, rambak dari kulit sapi, brem, atau belut goreng. Semua sudah dikemas rapi di kios-kios dengan harga satuan per kilogram rata-rata Rp 10.000 hingga Rp 20.000 untuk masing-masing pilihan. (RH dari berbagai sumber)

Sumber: Harian Joglo Semar, 11 Januari 2008

Iklan

%d blogger menyukai ini: