Kho Haw Haw, Pelestari Budaya Banten

Liputan6.com, Banten: Muhammad Iwan Nitnet alias Kho Haw Haw mencoba melestarikan budaya Banten dengan caranya sendiri. Sejak 2000, dia bekeras mengumpulkan ribuan koleksi foto kegiatan budaya di Banten. Iwan kerap jalan sendirian untuk memotret benda cagar budaya atau kegiatan masyarakat. Mulai dari pedalaman Suku Badui hingga daerah pesisir di Pontang, Serang.

Kunjungan Iwan ke suatu objek bisa berkali-kali. Ini untuk melihat perubahan dari situs atau cagar yang dia amati. Iwan prihatin dengan kerusakan atau pengrusakan cagar budaya di Banten. Sejumlah cagar budaya sudah berubah bentuk atau fungsi.

Seperti Benteng Speelwijk di kawasan Banten Lama, Serang. Tempat itu kerap dipakai pementasan hiburan. Sementara di bagian dinding Benteng banyak terdapat paku. Karena itu, Iwan menentang komersialisasi benda cagar budaya atau situs Banten Lama.

Iwan melihat, kesadaran menjaga cagar budaya oleh pemerintahan masih setengah hati. Ini bisa jadi karena pemerintah daerah menghadapi dilema. Di satu sisi harus menjaga cagar budaya, sedangkan di sisi lainnya dana terbatas. Karena itu, Iwan mengajak masyarakat sekitar untuk peduli terhadap pelestarian.

Selain memotret dan menulis, Iwan juga melukis serta membuat suvenir yang terkait dengan budaya Banten. Lukisan orang-orang Badui, misalnya, Iwan ambil dari koleksi fotonya. Bagi Iwan, melukis merupakan kegiatan lain dari pelestarian budaya.

Untuk membiayai seluruh kegiatannya, Iwan merogoh koceknya sendiri. Dia menyisihkan keuntungan dari usaha sanggar lukis yang dikelolanya bersama sejumlah seniman jalanan. Ini dilakukan demi menggali budaya Banten, terutama sejarahnya. Sebab, sampai saat ini ungkap Iwan, masih terjadi simpang siur tentang budaya serta sejarah Banten. “Karena itu, kita ingin cari jalan tengahnya sebagai klarifikasi sehingga bisa menjadi satu paparan yang jelas,” kata Iwan, belum lama ini.

Saat ini, Iwan menjalani hidup bersama Lia Muliasih, sang istri, dan putri semata wayang mereka, Imosa Budika. Bagi Iwan, keluarga menjadi pendorong hidup serta penyemangat kerja sehingga dapat bermanfaat untuk orang lain. Sebagai warga keturunan Tionghoa, Iwan berprinsip, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. “Di mana saya berada, di situ saya akan membela mati-matian tanah yang saya pijak,” tegas Iwan.

Bagi Iwan, budaya adalah akar dari segalanya. Dia menjadi kolektor benda-benda kuno peninggalan zaman kesultanan Banten, seperti uang koin, keramik, dan keris. Dia sengaja membeli benda-benda kuno tersebut agar tidak hilang atau diburu oleh kolektor dari luar Banten.

Jika suatu saat Provinsi Banten memiliki museum sendiri, Iwan akan menyerahkan seluruh koleksinya agar dapat disaksikan dan dipelajari oleh masyarakat. Melalui budaya, Iwan akan tunjukkan dirinya bangga menjadi warga Banten.(BOG/Agus Faisal dan Ariel Maranoes)

Sumber: Liputan6, 2 September 2007


%d blogger menyukai ini: